BLINDING DALAM BIDANG FARMASI - ElrinAlria
BLINDING DALAM BIDANG FARMASI

A. Pengertian Epidemologi

Epidemologi merupakan salah satu metode penelitian yang salah satu cirinya adalah direncanakan dan dilaksanakan oleh manusia yang mempunyai sifat ingin tahu atau secara garis besar arti dari epidemologi adalah mempelajari populasi. Farmakoepidemologi merupakan ilmu yang berasal dari dua disiplin ilmu Farmasi dan Epidemiologi dimana bertujuan membantu pelajari tentang penggunaan obat dan efeknya pada sejumlah besar manusia.

Penelitian dalam epidemiologi terbagi menjadi dua grup besar yaitu penelitian eksperimen/uji klinis dan penelitian observasional. Penelitian eksperimen/uji klinis atau intervensi (intervention trial) tujuannya adalah untuk mengukur efek dari suatu intervensi terhadap hasil tertentu yang diprediksi sebelumnya. Desain ini merupakan metode utama untuk menginvestigasi terapi baru. Misal, efek dari obat X dan obat Y terhadap kesembuhan penyakit Z atau efektivitas suatu program kesehatan terhadap peningkatan kesehatan masyarakat. Penelitian eksperimen/uji klinis dengan teknik randomisasi akan lebih besar kualitasnya jika dalam pengukurannya dilakukan penyamaran (blinding).

B. Pengertian Blinding

Pembutaan atau blinding adalah metode untuk melakukan uji klinis di mana peserta tidak tahu siapa yang mengambil pengobatan eksperimental, pengobatan standar (kontrol), atau plasebo. Dalam studi buta, para relawan tidak tahu apa pengobatan (jika ada) yang mereka terima. Yang dimaksud dengan penyamaran (blinding) di sini adalah merahasiakan bentuk terapi yang diberikan. Dengan penyamaran, maka pasien dan/atau pemeriksa tidak mengetahui yang mana obat yang diuji dan yang mana pembandingnya. Biasanya bentuk obat yang diuji dan pembandingnya dibuat sama. Tujuan utama penyamaran ini adalah untuk menghindari ‘bias’ (pracondong) pada penilaian respons terhadap obat yang diujikan baik yang berasal dari peneliti, subyek, maupun evaluator penelitian karena sangat penting di mana hasilnya adalah sama sekali subjektif. Oleh karena bias dapat terjadi diberbagai bagian uji klinis, maka ketersamaran juga harus diupayakan pada berbagai bagian uji klinis, seperti pada saat randomisasi, alokasi subyek, pelaksanaan uji klinis, pengukuran, dan evaluasi hasil.

Salah satu tekhnik ketersamaran yang banyak dipakai dalam fase intervensi, baik pada desain pararel ataupun desain menyilang, adalah penggunaan placebo, yang diberikan pada kelompok kontrol. 

Apabila dipergunakan placebo maka perlu diperhatikan hal-hal dibawah ini :
  1. Placebo dapat dipergunakan apabila belum ada pengobatan untuk penyakit yang diteliti. Apabila pengobatan yang diteliti merupakan tambahan pada regimen standar yang sudah ada, maka placebo juga dapat digunakan. 
  2. Placebo diperlukan terutama apabila hasil pengobatan bersifat subyektif, misalnya berkurangnya rasa sakit, perubahan gambaran radiologis dan lain sebagainya. Apabila efek yang dinilai bersifat obyektif, misalnya kadar kimia darah, maka kepentingan placebo tidak terlalu penting. 
  3. Placebo lebih aman dipergunakan untuk penyakit yang tidak berat. Pada penyakit berat, lebih-lebih bila sudah terdapat indikasi sebelumnya bahwa obat yang diteliti bermanfaat, penggunaan placebo harus dipertanyakan. 

Maksud penggunaan placebo adalah untuk mengurangi atau menyingkirkan bias, baik dari sisi peneliti maupun dari sisi subyek penelitian. Dari sisi peneliti, apabila ia mengetahui jenis obat yang digunakan, mungkin ia cenderung untuk melakukan penilaian atatu tindakan yang menguntungkan subyek yang diberi obat yang diteliti. Dari sisi subyek, ketersamaan dengan menggunakan placebo akan mengurangi atau meniadakan pengaruh efek placebo, yakni perasaan mengalami suatu efek padahal efek tersebut itu tidak ada.

C. Jenis-Jenis Blinding

Penelitian eksperimen/uji klinis dengan teknik randomisasi akan lebih besar kualitasnya jika dalam pengukurannya dilakukan penyamaran (blinding). Terdapat tiga jenis penyamaran yaitu single blind, double blind, dan triple blind (satu, dua dan tiga penyamaran).

a. Single blind
Teknik single blind yaitu hanya penderita saja yang tidak mengetahui obat apa yang diminumnya. Sedangkan peneliti sendiri boleh mengetahui obat apa yang diberikan kepada penderita. single blinding (pembutaan tunggal) merupakan tekhnik untuk menyembunyikan status penunjukkan kelompok kepada subyek-subyek penelitian, sampai studi berakhir. Single blinding (pembutaan tunggal) merupakan tekhnik untuk menyembunyikan status penunjukkan kelompok kepada subyek-subyek penelitian, sampai studi berakhir Untuk penelitian klinik yang tidak mempunyai concurent control, sudah barang tentu tidak mempunyai teknik blind ini, dan biasanya menggunakan istilah open trial , yang dilakukan pada tahap 1 dan 2 pada clinikal trial tersebut.

b. Double blind
Double blinding adalah tekhnik untuk menyembunyikan status peninjukkan kelompok kepada subyek penelitian maupun pengamat, maupun analisis dan statistic, sampai studi berakhir. Dengan teknik double blind dimaksudkan, baik peneliti maupun penderita sama-sama tidak mengetahui, atau tidak dapat membedakan obat apa yang diterima dan diselidiki pada kedua kelompok tersebut. Sedangkan pelaksanaan pemberian obat (pelaksana trial) adalah dokter klinis yang tidak terlibat dalam penelitia tersebut.

Dengan cara ini akan diperoleh :
  1. Peneliti terbebas dari beban moral untuk membagika penderita pada suatu trial untuk penyakit yang selama ini belum ada pengobatan yang efektif, sedangkan obat yang diteliti diduga lebih efektif, sedangkan obat yang diteliti diduga lebih efektif. 
  2. Penyakit terhindar dari “bias” selama observasi hasil pengobatan. Obyektifitas pengukuran akan lebih baik lagi bila penderita juga mengetahui tentang obat yang diterima, seandainya penilaian terhadap hasil pegobatan memerlukan keterangan dari penderita, terutama mengenai kejadian efek samping 

c. Triple blind
Triple blinding adalah tekhnik untuk menyembunyikan status penunjukkan kelompok kepada subyek penelitian, pengamat, maupun analisis data statistic, sampai studi berakhir. Tujuan triple Blinding adalah mencegah bias informasi pada semua tahap studi. Jika pasien, dokter pemeriksa maupun individu yang melakukan analisis tidak diberitahu identitas obat yang diuji dan pembandingnya. Pada desain ini baik subyek, peneliti, maupun evaluator tidak tahu obat apa yang diberikan. Statistik lebih efektif (pemilihan subyek secara random) Sebagian ahli tidak mempergunakan istilah ini, meski terdapat tiga komponen ketersamaran, cukup disebut sebagai tersamar ganda saja.

D. Kelebihan Dan Kekurangan Blinding

Kelebihan dari teknik penyamaran/pembutaan ini dimana peneliti maupun responden tidak mengetahui status responden dan dapat meminimalisir faktor perancu yang dapat menyebabkan bias. Kesehatan dan keselamatan pasien tetap dipantau sepenuhnya oleh penanggung jawab medik, sehingga sewaktu-waktu terjadi hal-hal yang tidak diharapkan (adverse effects) dapat segera dilakukan penanganan secara medik. 

Kekurangan dari cara ini adalah masalah etika memberikan perlakuan yang dihipotesiskan merugikan, atau tidak memberikan perlakuan yang bermanfaat, jika ukuran sampel terlalu kecil, randomisasi gagal mengontrol faktor perancu, dan presisi estimasi rendah, tujuan randomisasi tak tercapai jika hanya dilakukan pada subjek yang memenuhi syarat eligibilitas atau memberikan respons baik, jika waktu perlakuan terlalu pendek, RCT tidak mampu menunjukan efek perlakuan yang sesungguhnya situasi sangat terkontrol, khususnya jika dilakukan restriksi sampel, membatasi generalisasi hasil penelitian.

E. Contoh Desain

Contoh kasus desain studi eksperimental misalnya penelitian mengenai efek suplementasi Fe, asam folat dan vitamin B12 terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada wanita. Desain penelitian ini adalah Randomized Control Group pretest posttest dengan double blind artinya pada desain penelitian ini digunakan teknik randomisasi untuk mengontol dan melengkapinya dengan teknik double blind yaitu Teknik untuk membuat subjek (single blinding), pengamat (double blinding), atau penganalis data (triple blinding) tidak mengetahui (“buta”) tentang status intervensi dari subjek penelitian. Semua hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya bias. Selain itu, pada penelitian ini dilakukan pretest untuk mengukur kadar Hb awal dan posttest untuk mengukur kadar Hb akhir. Responden dengan kadar hemoglobin 8-11,5 mg/dl pada saat pretest diikutsertakan dalam penelitian. Kemudian penelitian ini dibagi menjadi 3 kelompok perlakuan secara random yaitu kelompok A diberi suplemen Fe dan vitamin B12, Kelompok B diberi suplemen Fe, asam folat dan vitamin B12 dan kelompok C diberi suplemen Fe dan asam folat 2 kali seminggu selama 12 minggu. Seminggu sebelum suplementasi diberi vitamin A dan obat cacing Albendanzole. Setelah itu, Responden yang telah mendapatkan perlakuan dilakukan posttest untuk melihat kadar HB setelah perlakuan.

DAFTAR PUSTAKA
Dallas E. Study Design in Epidemiology. Melbourne; 2008 Contract No.: Document Number.

Elwood M. Critical Appraisal of Epidemiological Studies and Clinical Trials. New York: Oxford University Press; 2007. p. 19-44

Najmah, L. Gurrin, M.Henry, J.Pasco. Hip Structure Associated With Hip Fracture in Women: Data from the Geelong Osteoporosis Study (Gos) Data Analysis-Geelong,Australia. International Journal of Public Health Research 2011. 2011(Special Issue):185-92.

Najmah, Nuralam Fajar, RIco Januar Sitorus. The Effect of Needle and Syringe Program on Injecting Drug Users’ Use of Non-Sterile Syringe and Needle Behaviour in Palembang, South Sumatera Province, Indonesia International Journal of Public Health Research 2011; (Spesial Issue):193-9.

Rothman KJ. Epidemiology, An Introduction. New York: Oxford University Press; 2002. p.57-93

Sacher PM, Maria Kolotourou, Paul M. Chadwick, Tim J. Cole, Margaret S. Lawson, Alan Lucas, et al. Randomized Controlled Trial of the MEND Program: A Family-based Community Intervention for Childhood Obesity. Obesity. 2010;18(1):S62-S8.

Webb P, Bain C, Pirozzo S. Essential Epidemiology, An Introduction for Students and Health Professionals. New York: Cambridge University Press; 2005. p. 118-145

BLINDING DALAM BIDANG FARMASI

BLINDING DALAM BIDANG FARMASI

A. Pengertian Epidemologi

Epidemologi merupakan salah satu metode penelitian yang salah satu cirinya adalah direncanakan dan dilaksanakan oleh manusia yang mempunyai sifat ingin tahu atau secara garis besar arti dari epidemologi adalah mempelajari populasi. Farmakoepidemologi merupakan ilmu yang berasal dari dua disiplin ilmu Farmasi dan Epidemiologi dimana bertujuan membantu pelajari tentang penggunaan obat dan efeknya pada sejumlah besar manusia.

Penelitian dalam epidemiologi terbagi menjadi dua grup besar yaitu penelitian eksperimen/uji klinis dan penelitian observasional. Penelitian eksperimen/uji klinis atau intervensi (intervention trial) tujuannya adalah untuk mengukur efek dari suatu intervensi terhadap hasil tertentu yang diprediksi sebelumnya. Desain ini merupakan metode utama untuk menginvestigasi terapi baru. Misal, efek dari obat X dan obat Y terhadap kesembuhan penyakit Z atau efektivitas suatu program kesehatan terhadap peningkatan kesehatan masyarakat. Penelitian eksperimen/uji klinis dengan teknik randomisasi akan lebih besar kualitasnya jika dalam pengukurannya dilakukan penyamaran (blinding).

B. Pengertian Blinding

Pembutaan atau blinding adalah metode untuk melakukan uji klinis di mana peserta tidak tahu siapa yang mengambil pengobatan eksperimental, pengobatan standar (kontrol), atau plasebo. Dalam studi buta, para relawan tidak tahu apa pengobatan (jika ada) yang mereka terima. Yang dimaksud dengan penyamaran (blinding) di sini adalah merahasiakan bentuk terapi yang diberikan. Dengan penyamaran, maka pasien dan/atau pemeriksa tidak mengetahui yang mana obat yang diuji dan yang mana pembandingnya. Biasanya bentuk obat yang diuji dan pembandingnya dibuat sama. Tujuan utama penyamaran ini adalah untuk menghindari ‘bias’ (pracondong) pada penilaian respons terhadap obat yang diujikan baik yang berasal dari peneliti, subyek, maupun evaluator penelitian karena sangat penting di mana hasilnya adalah sama sekali subjektif. Oleh karena bias dapat terjadi diberbagai bagian uji klinis, maka ketersamaran juga harus diupayakan pada berbagai bagian uji klinis, seperti pada saat randomisasi, alokasi subyek, pelaksanaan uji klinis, pengukuran, dan evaluasi hasil.

Salah satu tekhnik ketersamaran yang banyak dipakai dalam fase intervensi, baik pada desain pararel ataupun desain menyilang, adalah penggunaan placebo, yang diberikan pada kelompok kontrol. 

Apabila dipergunakan placebo maka perlu diperhatikan hal-hal dibawah ini :
  1. Placebo dapat dipergunakan apabila belum ada pengobatan untuk penyakit yang diteliti. Apabila pengobatan yang diteliti merupakan tambahan pada regimen standar yang sudah ada, maka placebo juga dapat digunakan. 
  2. Placebo diperlukan terutama apabila hasil pengobatan bersifat subyektif, misalnya berkurangnya rasa sakit, perubahan gambaran radiologis dan lain sebagainya. Apabila efek yang dinilai bersifat obyektif, misalnya kadar kimia darah, maka kepentingan placebo tidak terlalu penting. 
  3. Placebo lebih aman dipergunakan untuk penyakit yang tidak berat. Pada penyakit berat, lebih-lebih bila sudah terdapat indikasi sebelumnya bahwa obat yang diteliti bermanfaat, penggunaan placebo harus dipertanyakan. 

Maksud penggunaan placebo adalah untuk mengurangi atau menyingkirkan bias, baik dari sisi peneliti maupun dari sisi subyek penelitian. Dari sisi peneliti, apabila ia mengetahui jenis obat yang digunakan, mungkin ia cenderung untuk melakukan penilaian atatu tindakan yang menguntungkan subyek yang diberi obat yang diteliti. Dari sisi subyek, ketersamaan dengan menggunakan placebo akan mengurangi atau meniadakan pengaruh efek placebo, yakni perasaan mengalami suatu efek padahal efek tersebut itu tidak ada.

C. Jenis-Jenis Blinding

Penelitian eksperimen/uji klinis dengan teknik randomisasi akan lebih besar kualitasnya jika dalam pengukurannya dilakukan penyamaran (blinding). Terdapat tiga jenis penyamaran yaitu single blind, double blind, dan triple blind (satu, dua dan tiga penyamaran).

a. Single blind
Teknik single blind yaitu hanya penderita saja yang tidak mengetahui obat apa yang diminumnya. Sedangkan peneliti sendiri boleh mengetahui obat apa yang diberikan kepada penderita. single blinding (pembutaan tunggal) merupakan tekhnik untuk menyembunyikan status penunjukkan kelompok kepada subyek-subyek penelitian, sampai studi berakhir. Single blinding (pembutaan tunggal) merupakan tekhnik untuk menyembunyikan status penunjukkan kelompok kepada subyek-subyek penelitian, sampai studi berakhir Untuk penelitian klinik yang tidak mempunyai concurent control, sudah barang tentu tidak mempunyai teknik blind ini, dan biasanya menggunakan istilah open trial , yang dilakukan pada tahap 1 dan 2 pada clinikal trial tersebut.

b. Double blind
Double blinding adalah tekhnik untuk menyembunyikan status peninjukkan kelompok kepada subyek penelitian maupun pengamat, maupun analisis dan statistic, sampai studi berakhir. Dengan teknik double blind dimaksudkan, baik peneliti maupun penderita sama-sama tidak mengetahui, atau tidak dapat membedakan obat apa yang diterima dan diselidiki pada kedua kelompok tersebut. Sedangkan pelaksanaan pemberian obat (pelaksana trial) adalah dokter klinis yang tidak terlibat dalam penelitia tersebut.

Dengan cara ini akan diperoleh :
  1. Peneliti terbebas dari beban moral untuk membagika penderita pada suatu trial untuk penyakit yang selama ini belum ada pengobatan yang efektif, sedangkan obat yang diteliti diduga lebih efektif, sedangkan obat yang diteliti diduga lebih efektif. 
  2. Penyakit terhindar dari “bias” selama observasi hasil pengobatan. Obyektifitas pengukuran akan lebih baik lagi bila penderita juga mengetahui tentang obat yang diterima, seandainya penilaian terhadap hasil pegobatan memerlukan keterangan dari penderita, terutama mengenai kejadian efek samping 

c. Triple blind
Triple blinding adalah tekhnik untuk menyembunyikan status penunjukkan kelompok kepada subyek penelitian, pengamat, maupun analisis data statistic, sampai studi berakhir. Tujuan triple Blinding adalah mencegah bias informasi pada semua tahap studi. Jika pasien, dokter pemeriksa maupun individu yang melakukan analisis tidak diberitahu identitas obat yang diuji dan pembandingnya. Pada desain ini baik subyek, peneliti, maupun evaluator tidak tahu obat apa yang diberikan. Statistik lebih efektif (pemilihan subyek secara random) Sebagian ahli tidak mempergunakan istilah ini, meski terdapat tiga komponen ketersamaran, cukup disebut sebagai tersamar ganda saja.

D. Kelebihan Dan Kekurangan Blinding

Kelebihan dari teknik penyamaran/pembutaan ini dimana peneliti maupun responden tidak mengetahui status responden dan dapat meminimalisir faktor perancu yang dapat menyebabkan bias. Kesehatan dan keselamatan pasien tetap dipantau sepenuhnya oleh penanggung jawab medik, sehingga sewaktu-waktu terjadi hal-hal yang tidak diharapkan (adverse effects) dapat segera dilakukan penanganan secara medik. 

Kekurangan dari cara ini adalah masalah etika memberikan perlakuan yang dihipotesiskan merugikan, atau tidak memberikan perlakuan yang bermanfaat, jika ukuran sampel terlalu kecil, randomisasi gagal mengontrol faktor perancu, dan presisi estimasi rendah, tujuan randomisasi tak tercapai jika hanya dilakukan pada subjek yang memenuhi syarat eligibilitas atau memberikan respons baik, jika waktu perlakuan terlalu pendek, RCT tidak mampu menunjukan efek perlakuan yang sesungguhnya situasi sangat terkontrol, khususnya jika dilakukan restriksi sampel, membatasi generalisasi hasil penelitian.

E. Contoh Desain

Contoh kasus desain studi eksperimental misalnya penelitian mengenai efek suplementasi Fe, asam folat dan vitamin B12 terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada wanita. Desain penelitian ini adalah Randomized Control Group pretest posttest dengan double blind artinya pada desain penelitian ini digunakan teknik randomisasi untuk mengontol dan melengkapinya dengan teknik double blind yaitu Teknik untuk membuat subjek (single blinding), pengamat (double blinding), atau penganalis data (triple blinding) tidak mengetahui (“buta”) tentang status intervensi dari subjek penelitian. Semua hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya bias. Selain itu, pada penelitian ini dilakukan pretest untuk mengukur kadar Hb awal dan posttest untuk mengukur kadar Hb akhir. Responden dengan kadar hemoglobin 8-11,5 mg/dl pada saat pretest diikutsertakan dalam penelitian. Kemudian penelitian ini dibagi menjadi 3 kelompok perlakuan secara random yaitu kelompok A diberi suplemen Fe dan vitamin B12, Kelompok B diberi suplemen Fe, asam folat dan vitamin B12 dan kelompok C diberi suplemen Fe dan asam folat 2 kali seminggu selama 12 minggu. Seminggu sebelum suplementasi diberi vitamin A dan obat cacing Albendanzole. Setelah itu, Responden yang telah mendapatkan perlakuan dilakukan posttest untuk melihat kadar HB setelah perlakuan.

DAFTAR PUSTAKA
Dallas E. Study Design in Epidemiology. Melbourne; 2008 Contract No.: Document Number.

Elwood M. Critical Appraisal of Epidemiological Studies and Clinical Trials. New York: Oxford University Press; 2007. p. 19-44

Najmah, L. Gurrin, M.Henry, J.Pasco. Hip Structure Associated With Hip Fracture in Women: Data from the Geelong Osteoporosis Study (Gos) Data Analysis-Geelong,Australia. International Journal of Public Health Research 2011. 2011(Special Issue):185-92.

Najmah, Nuralam Fajar, RIco Januar Sitorus. The Effect of Needle and Syringe Program on Injecting Drug Users’ Use of Non-Sterile Syringe and Needle Behaviour in Palembang, South Sumatera Province, Indonesia International Journal of Public Health Research 2011; (Spesial Issue):193-9.

Rothman KJ. Epidemiology, An Introduction. New York: Oxford University Press; 2002. p.57-93

Sacher PM, Maria Kolotourou, Paul M. Chadwick, Tim J. Cole, Margaret S. Lawson, Alan Lucas, et al. Randomized Controlled Trial of the MEND Program: A Family-based Community Intervention for Childhood Obesity. Obesity. 2010;18(1):S62-S8.

Webb P, Bain C, Pirozzo S. Essential Epidemiology, An Introduction for Students and Health Professionals. New York: Cambridge University Press; 2005. p. 118-145