DESKRIPSI TANAMAN KUMIS KUCING - ElrinAlria
Orthosiphon stamineus atau misai kucing telah menarik banyak perhatian untuk dijadikan sebagai objek penelitian. Othosiphon stamineus terkenal sebagai misai kucing di Malaysia. Tanaman ini dapat pula ditemukan di negara-negara lain seperti Thailand, Indonesia, dan Eropa
DESKRIPSI TANAMAN KUMIS KUCING


A. Kumis Kucing

Salah satu obat tradisional yang terus dikembangkan kearah fitofarmaka adalah obat antidiabetes. Salah satu tanaman herbal yang sering disebut Orthosiphon stamineus atau misai kucing telah menarik banyak perhatian untuk dijadikan sebagai objek penelitian. Othosiphon stamineus terkenal sebagai misai kucing di Malaysia. Tanaman ini dapat pula ditemukan di negara-negara lain seperti Thailand, Indonesia, dan Eropa. Di negara-negara ini, misai kucing disebut juga sebagai yaa nuat maeo, rau meo, atau cay bac (Thailand); kumis kucing atau remujung (Indonesia); moustaches de chat (Perancis); dan Java tea (Eropa). Pada artikel ini akan dibahas lebih lanjut mengenai manfaat Orthosiphon stamineus sebagai terapi alternatif untuk pencegahan dan pengobatan penyakit diabetes melitus.

1. Klasifikasi 
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Bangsa : Lamiales
Suku : Lamiaceae (Labiatae)
Marga : Orthosiphon
Jenis : Orthosiphon spicatus B.B.S.
Nama umum : Kumis kucing
Nama daerah : Kumis kucing (Melayu); Kumis ucing (Sunda); Remujung (Jawa Tengah).
DESKRIPSI TANAMAN KUMIS KUCING2

2. Deskripsi Tanaman

Habitus berupa semak, tahunan, tinggi 50-150 cm. Batang berkayu, segi empat, beruas, bercabang, coklat kehijauan. Daun tunggal, bulat telur, panjang 7-10 cm, lebar 8-50 cm, tepi bergerigi, ujung dan pangkal runcing, tipis, hijau.. Bunga majemuk, bentuk malai, di ujung ranting dan cabang, kelopak berlekatan, ujung terbagi empat, hijau, benang sari empat, kepala sari ungu, putik satu, putih, mahkota bentuk bibir, putih. Buah kotak, bulat telur, masih muda hijau setelah tua coklat. Biji kecil, masih muda hijau setelah tua hitam. Akar tunggang, putih kotor.

3. Kegunaan : Mengobati diabetes melitus, batu ginjal, radang ginjal, infeksi saluran kemih, bengkak dan asam urat tinggi

4. Kandungan kimia
Daun O. stamineus mengandung orthosiphon glukosa, minyak atsiri, saponin, polifenol, flavonoid, sapofonin, garam kalium dan myonositol. Beberapa zat ini di dalam tanaman lain memiliki kemampuan dalam menurunkan kadar glukosa darah.

5. Penggunaan empiris
Bahan: lembar daun kumis kucing

6. Dosis Fitoterapi
30 – 60 gram daun kumis kucing direbus airnya diminum.
Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya dilaporkan bahwa ekstrak dari tanaman O. stamineus memiliki aktivitas hipoglikemik atau antihiperglikemik yang signifikan terhadap tikus normal dan tikus diabetes. Penelitian sebelumnya oleh Sriplang dkk. dilakukan untuk mengivestigasi efek dari O. stamineus terhadap konsentrasi glukosa plasma dan profil lipid pada tikus normal dan tikus diabetes yang diinduksi streptozosin. Pada tes toleransi glukosa oral, ekstrak O. stamineus secara signifikan menurunkan konsentrasi glukosa plasma dari tikus dengan kadar glukosa darah normal maupun tikus diabetes tergantung pada dosis yang diberikan. Jumlah pemberian ekstrak O. stamineus sebanyak 1.0 g/kg paling efektif menurunkan konsentrasi glukosa plasma dan respon ini memiliki efektivitas yang mendekati efek terapi glibenklamid (5 mg/kg).

Penelitian yang sama juga pernah dilakukan oleh Mariam dkk. dengan konsentrasi pemberian ekstrak O. stamineus 200-1000 mg/kg. Setelah dilakukan pengulangan pemberian ekstrak secara oral setiap hari selama 14 hari, terjadi penurunan konsentrasi glukosa plasma secara signifikan dari tikus diabetes pada hari ke-7 dan ke-14. Selain itu, tikus diabetes yang diberikan ekstrak memiliki konsentrasi trigliserida yang lebih rendah, serta terjadi peningkatan konsentrasi kolesterol HDL secara signifikan dibandingkan dengan tikus yang tidak diberi ekstrak.

7. Mekanisme kerja
Mekanisme kerja dari ekstrak O. stamineus yaitu dengan mempercepat keluarnya glukosa dari sirkulasi melalui peningkatan kerja jantung, filtrasi, dan ekskresi ginjal sehingga produksi urin meningkat yang kemudian meningkatkan laju ekskresi glukosa melalui ginjal sehingga kadar glukosa dalam darah menurun.

Salah satu pendekatan terapi untuk mengobati diabetes adalah untuk menurunkan hiperglikemia postprandial dengan cara menghambat penyerapan glukosa melalui penghambatan enzim penghidrolisis karbohidrat, α-amilase dan α-glukosidase, dalam saluran pencernaan.(4-5) Beberapa penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa senyawa-senyawa yang ditemukan dalam ekstrak O. stamineus (sinensetin, fenolat, flavonoid dan glikosidanya) berperan sebagai inhibitor α-glukosidase dan α-amilase yang efektif. Selanjutnya, penelitian oleh Mohamed dkk. menyimpulkan bahwa ekstrak etanol 50% dari O. stamineus memberikan efek penghambatan pada α-glukosidase dan α-amilase.

DESKRIPSI TANAMAN KUMIS KUCING

Orthosiphon stamineus atau misai kucing telah menarik banyak perhatian untuk dijadikan sebagai objek penelitian. Othosiphon stamineus terkenal sebagai misai kucing di Malaysia. Tanaman ini dapat pula ditemukan di negara-negara lain seperti Thailand, Indonesia, dan Eropa
DESKRIPSI TANAMAN KUMIS KUCING


A. Kumis Kucing

Salah satu obat tradisional yang terus dikembangkan kearah fitofarmaka adalah obat antidiabetes. Salah satu tanaman herbal yang sering disebut Orthosiphon stamineus atau misai kucing telah menarik banyak perhatian untuk dijadikan sebagai objek penelitian. Othosiphon stamineus terkenal sebagai misai kucing di Malaysia. Tanaman ini dapat pula ditemukan di negara-negara lain seperti Thailand, Indonesia, dan Eropa. Di negara-negara ini, misai kucing disebut juga sebagai yaa nuat maeo, rau meo, atau cay bac (Thailand); kumis kucing atau remujung (Indonesia); moustaches de chat (Perancis); dan Java tea (Eropa). Pada artikel ini akan dibahas lebih lanjut mengenai manfaat Orthosiphon stamineus sebagai terapi alternatif untuk pencegahan dan pengobatan penyakit diabetes melitus.

1. Klasifikasi 
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Bangsa : Lamiales
Suku : Lamiaceae (Labiatae)
Marga : Orthosiphon
Jenis : Orthosiphon spicatus B.B.S.
Nama umum : Kumis kucing
Nama daerah : Kumis kucing (Melayu); Kumis ucing (Sunda); Remujung (Jawa Tengah).
DESKRIPSI TANAMAN KUMIS KUCING2

2. Deskripsi Tanaman

Habitus berupa semak, tahunan, tinggi 50-150 cm. Batang berkayu, segi empat, beruas, bercabang, coklat kehijauan. Daun tunggal, bulat telur, panjang 7-10 cm, lebar 8-50 cm, tepi bergerigi, ujung dan pangkal runcing, tipis, hijau.. Bunga majemuk, bentuk malai, di ujung ranting dan cabang, kelopak berlekatan, ujung terbagi empat, hijau, benang sari empat, kepala sari ungu, putik satu, putih, mahkota bentuk bibir, putih. Buah kotak, bulat telur, masih muda hijau setelah tua coklat. Biji kecil, masih muda hijau setelah tua hitam. Akar tunggang, putih kotor.

3. Kegunaan : Mengobati diabetes melitus, batu ginjal, radang ginjal, infeksi saluran kemih, bengkak dan asam urat tinggi

4. Kandungan kimia
Daun O. stamineus mengandung orthosiphon glukosa, minyak atsiri, saponin, polifenol, flavonoid, sapofonin, garam kalium dan myonositol. Beberapa zat ini di dalam tanaman lain memiliki kemampuan dalam menurunkan kadar glukosa darah.

5. Penggunaan empiris
Bahan: lembar daun kumis kucing

6. Dosis Fitoterapi
30 – 60 gram daun kumis kucing direbus airnya diminum.
Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya dilaporkan bahwa ekstrak dari tanaman O. stamineus memiliki aktivitas hipoglikemik atau antihiperglikemik yang signifikan terhadap tikus normal dan tikus diabetes. Penelitian sebelumnya oleh Sriplang dkk. dilakukan untuk mengivestigasi efek dari O. stamineus terhadap konsentrasi glukosa plasma dan profil lipid pada tikus normal dan tikus diabetes yang diinduksi streptozosin. Pada tes toleransi glukosa oral, ekstrak O. stamineus secara signifikan menurunkan konsentrasi glukosa plasma dari tikus dengan kadar glukosa darah normal maupun tikus diabetes tergantung pada dosis yang diberikan. Jumlah pemberian ekstrak O. stamineus sebanyak 1.0 g/kg paling efektif menurunkan konsentrasi glukosa plasma dan respon ini memiliki efektivitas yang mendekati efek terapi glibenklamid (5 mg/kg).

Penelitian yang sama juga pernah dilakukan oleh Mariam dkk. dengan konsentrasi pemberian ekstrak O. stamineus 200-1000 mg/kg. Setelah dilakukan pengulangan pemberian ekstrak secara oral setiap hari selama 14 hari, terjadi penurunan konsentrasi glukosa plasma secara signifikan dari tikus diabetes pada hari ke-7 dan ke-14. Selain itu, tikus diabetes yang diberikan ekstrak memiliki konsentrasi trigliserida yang lebih rendah, serta terjadi peningkatan konsentrasi kolesterol HDL secara signifikan dibandingkan dengan tikus yang tidak diberi ekstrak.

7. Mekanisme kerja
Mekanisme kerja dari ekstrak O. stamineus yaitu dengan mempercepat keluarnya glukosa dari sirkulasi melalui peningkatan kerja jantung, filtrasi, dan ekskresi ginjal sehingga produksi urin meningkat yang kemudian meningkatkan laju ekskresi glukosa melalui ginjal sehingga kadar glukosa dalam darah menurun.

Salah satu pendekatan terapi untuk mengobati diabetes adalah untuk menurunkan hiperglikemia postprandial dengan cara menghambat penyerapan glukosa melalui penghambatan enzim penghidrolisis karbohidrat, α-amilase dan α-glukosidase, dalam saluran pencernaan.(4-5) Beberapa penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa senyawa-senyawa yang ditemukan dalam ekstrak O. stamineus (sinensetin, fenolat, flavonoid dan glikosidanya) berperan sebagai inhibitor α-glukosidase dan α-amilase yang efektif. Selanjutnya, penelitian oleh Mohamed dkk. menyimpulkan bahwa ekstrak etanol 50% dari O. stamineus memberikan efek penghambatan pada α-glukosidase dan α-amilase.