MAKALAH EFEK ZAT TOKSIK PADA INTRA SELULER DAN EKSTRA SELULER - ElrinAlria
MAKALAH EFEK ZAT TOKSIK PADA INTRA SELULER DAN EKSTRA SELULER

MAKALAH TOKSIKOLOGI
EFEK ZAT TOKSIK PADA INTRA SELULER DAN EKSTRA SELULER
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Toksikologi merupakan ilmu antarbidan yang ruang lingkup pokok kajiannya digolongkan menjadi toksikologi lingkungan, ekonomi, dan kehakiman (forensik). Untuk memahami permasalahan toksikologi, diperlukan pengetahuan tentang pemahaman terhadap asas umum toksikologi, aneka kondisi atau faktor-faktor yang mempengaruhi ketoksikan racun, mekanisme wujud sifat efek toksik racun, tolok ukur toksikologi, dan asa umum uji toksikologi. Pada dasarnya keracunan suatu senyawa diawali oleh masuknya senyawa tersebut ke dalam tubuh, yang kemudian terdistribusi sampai ke sel sasaran tertentu. Selanjutnya akibat interaksi antara senyawa dengan sel sasaran, menyebabkan terjadinya gangguan fungsi, biokimia, perubahan struktur sel akibat dari wujud efek toksik senyawa itu, missal teratogenik, mutagenik, karsinogenik, penyimpangan metabolik, ketidaknormalan perilaku, dan lain sebagainya.

Efek toksik suatu racun terjadi akibat interaksi antar racun, dan tempat aksinya secara langsung atau tidak langsung. Tingkat toksik atau ketoksikan racun tersebut ditentukan oleh keberadaannya di tempat aksi dan keefektifan antaraksinya dengan tempat aksi itu. Keberadaan racun di tempat aksi tertentu, ditentukan oleh keefektifan translokasi (absorpsi, distribusi, eliminasi) nya di dalam tubuh. Dengan demikian, ketoksikan racun ditentukan oleh keefektifan translokasi dan keefektifan antaraksinya dengan tempat aksi tertentu. Karena itu, factor apa pun yang dapat mempengaruhi kedua penentu tersebut, akan mempengaruhi ketoksikan racun. Respon makhluk hidup terhadap ketoksikan suatu senyawa atau racun beraneka ragam, bergantung pada aneka factor, Antara lain faktor biologi, kimia dan genetika, disamping kondisi pemejanan dan kondisi makhluk hidup.

B. Tujuan
Tujuan dalam penyusunan makalah ini adalah :
  1. Untuk memahami tentang toksikologi.
  2. Untuk mengetahui mekanisme zat toksik menimbulkaan efek toksik.
  3. Untuk mengetahui bentuk-bentuk zat toksik.

C. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
  1. Apa yang dimaksud dengan toksikologi?
  2. Bagaimana mekanisme zat toksik menimbulkan efek toksik?
  3. Bagaimana bentuk-bentuk zat toksik?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Toksikologi
Toksikologi dapat didefinisikan sebagai kajian tentang hakikat dan mekanisme efek berbahaya (efek toksik) berbagai bahan kimia terhadap makhluk hidup dan sistem biologik lainnya. Apabila zat kimia dikatakan berracun (toksik), maka kebanyakan diartikan sebagai zat yang berpotensial memberikan efek berbahaya terhadap mekanisme biologi tertentu pada suatu organisme. Sifat toksik dari suatu senyawa ditentukan oleh: dosis, konsentrasi racun di reseptor “tempat kerja”, sifat zat tersebut, kondisi bioorganisme atau sistem bioorganisme, paparan terhadap organisme dan bentuk efek yang itimbulkan. Sehingga apabila menggunakan istilah toksik atau toksisitas, maka perlu untuk mengidentifikasi mekanisme biologi di mana efek berbahaya itu timbul. Sedangkan toksisitas merupakan sifat relatif dari suatu zat kimia, dalam kemampuannya menimbulkan efek berbahaya atau penyimpangan mekanisme biologi pada suatu organisme.

Toksisitas merupakan istilah relatif yang bias dipergunakan dalam memperbandingkan satu zat kimia dengan lainnya. Adalah biasa untuk mengatakan bahwa satu zat kimia lebih toksik daripada zat kimia lain. Perbandingan sangat kurang informatif, kecuali jika pernyataan tersebut melibatkan informasi tentang mekanisme biologi yang sedang dipermasalahkan dan juga dalam kondisi bagaimana zat kimia tersebut berbahaya. Oleh sebab itu, pendekatan toksikologi seharusnya dari sudut telaah tentang berbagai efek zat kimia atas berbagai sistem biologi, dengan penekanan pada mekanisme efek berbahaya zat kimia itu dan berbagai kondisi di mana efek berbahaya itu terjadi. Pada umumnya efek berbahaya / efek farmakologik timbul apabila terjadi interaksi antarazat kimia (tokson atau zat aktif biologis) denganreseptor. Terdapat dua aspek yang harus diperhatikan dalam mempelajari interakasi antara zat kimia dengan organisme hidup, yaitu kerja farmakon pada suatu organisme (aspek farmakodinamik/toksodinamik) dan pengaruh organisme terhadap zat aktif (aspekfarmakokinetik / toksokinetik).

B. Kerja dan Efek Toksik Dalam Tubuh
Suatu objek biologik terpapar oleh sesuatu xenobiotika, maka, kecuali senyawa radioaktif, efek biologik atau toksik akan muncul, jika xenobiotika tersebut telah terabsorpsi menuju sistem sistemik. Umumnya hanya xenobiotika yang terlarut, terdistribusi molekular, yang dapat diabsorpsi. Dalam hal ini akan terjadi pelepasan xenobiotika dari bentuk farmaseutikanya. Misalnya paparan xenobiotika melalui oral (missal sediaan dalam bentuk padat: tablet, kapsul, atau serbuk), maka terlebih dahulu kapsul/tablet akan terdistegrasi (hancur), sehingga xenobiotika akan telarut di dalam cairan saluran pencernaan. Xenobiotika yang terlarut akan siap terabsorpsi secara normal dalam duodenal dari usus halus dan ditranspor melalui pembuluh kapiler mesenterika menuju vena porta hepatika menuju hati sebelum ke sirkulasi sistemik.

Penyerapan xenobiotika sangat tergantung pada konsentrasi dan lamanya kontak antara xenobiotika dengan permukaan organisme yang berkemampuan untuk mengaborpsi xenobiotika tersebut. Dalam hal ini laju absorpsi dan jumlah xenobitika yang terabsorpsi akan menentukan potensi efek biologik/toksik. Pada pemakaian obat,fase ini dikenal dengan fase farmaseutika, yaitu semua proses yang berkaitan dengan pelepasan senyawa obat dari bentuk farmasetikanya (tablet, kapsul, salep, dll). alur utama bagi penyerapan xenobiotika adalah saluran cerna, paru-paru, dan kulit. Namun pada keracunan aksidential, atau penelitian toksikologi, paparan xenobiotika dapat terjadi melalui jalur injeksi, seperti injeksi intravena, intramuskular, subkutan, intraperitoneal, dan jalur injeksi lainnya.

1. Pemejanan pada Kulit
Pemejanan yang palung mudah dan paling lazim terhadap manusia atau hewadengan segala xenobiotika, seperti misalnykosmetik, produk rumah tangga, obat topikalcemaran lingkungan, atau cemaran industri dtempat kerja, ialah pemejanan sengaja atau tidasengaja pada kulit. Kulit terdiri atas epidermis (bagian paling luar) dan dermis, yang terletak di atas jaringansubkutan. Tebal lapisan epidermis adalah relatitipis, yaitu rata-rata sekitar 0,1-0,2 mm,sedangkan dermis sekitar 2 mm. Dua lapisan ini dipisahkan oleh suatu membran basal. 

Lapisan epidermis terdiri atas lapisan sel basa(stratum germinativum), yang memberikan sebaru bagi lapisan yang lebih luar. Sel baru inmenjadi sel duri (stratum spinosum) dan, natinymenjadi sel granuler (stratum granulosum). Selain itu sel ini juga menghasilkan keratohidrin yangnantinya menjadi keratin dalam stratum corneumterluar, yakni lapisan tanduk. Epidermis juga mengandung melanosit yang mengasilkan pigmen dan juga sel langerhans yang bertindasebagai makrofag dan limfosit. Dua se inbelakangan diketahui yang terlibat dalamberbagai respon imun. Dermis terutama terdiri atas kolagen dan elastin yang merupakan struktur penting untuk mengokong kulit. Dalam lapisan ini ada beberapa jenis sel, yang paling banyak adalah fibroblast, yang terlibat dalam biosintesis protein berserat, dan zat-zat dasar, misalnya asam hialuronat, kondroitin sulfat, dan mukopolisakarida. Disamping sel-sel tersebut, terdapat juga sel lainnya antara lain sel lemak, makrofag, histosit, dan mastosit. Di bawah dermis terdapat jaringan subkutan. Selain itu, ada beberapa struktur lain misalnya folikel rambut, kelenjar keringan, kelenjar sebasea, kapiler pembuluh darah dan unsur syaraf. Pejanan kulit terhadap tokson sering mengakibatkan berbagai lesi (luka), namun tidak jarang tokson dapat juga terabsorpsi dari permukaan kulit menuju sistem sistemik. 

2. Pemejanan Melalui Inhalasi
Pemejanan xenobiotika yang berada di udara dapat terjadi melalui penghirupan xenobiotika tersebut. Tokson yang terdapat di udara berada dalam bentuk gas, uap, butiran cair, dan partikel padat dengan ukuran yang berbeda-beda. Disamping itu perlu diingat, bahwa saluran pernafasan merupakan sistem yang komplek, yang secara alami dapat menseleksi partikel berdasarkan ukurannya. Oleh sebab itu ambilan dan efek toksik dari tokson yang dihirup tidak saja tergantung pada sifat toksisitasnya tetapi juga pada sifat fisiknya. Saluran pernafasan terdiri atas nasofaring, saluran trakea dan bronkus, serta acini paru-paru, yang terdiri atas bronkiol pernafasan, saluran alveolar, dan alveoli (lihat gambar 2.4). Nasofaring berfungsi membuang partikel besar dari udara yang dihirup, menambahkan uap air, dan mengatur suhu.

Umumnya partikel besar ( > 10 µm) tidak memasuki saluran napas, kalua masuk akan diendapkan di hidung dan dienyahkan dengan diusap, dihembuskan danberbangkis. Saluran trakea dan bronkus berfungsi sebagai saluran udara yang menuju alveoli. Trakea dan bronki dibatasi oleh epiel bersilia dan dilapisi oleh lapisan tipis lendir yang disekresi dari sel tertentu dalam lapisan epitel. Dengan silia dan lendirnya, lapisan ini dapat mendorong naik partikel yang mengendap pada permukaan menuju mulut. Partikel yang mengandung lender tersebut kemudian dibuang dari saluran pernafasan dengan diludahkan atau ditelan.Namun, butiran cairan dan partikel padat yangkecil juga dapat diserap lewat difusi danfagositosis. Fagosit yang berisi partikel-partikelakan diserap ke dalam sistem limfatik. Beberapapartikel bebas dapat juga masuk ke saluranlimfatik. Partikel-partikel yang dapat terlarut mungkin diserap lewat epitel ke dalam darah. Alveoli merupakan tempat utama terjadinya absorpsi xenobiotika yang berbentuk gas, seperticarbon monoksida, oksida nitrogen, belerangdioksida atau uap cairan, seperti bensen dankarbontetraklorida. Kemudahan absorpsi ini berkaitan dengan luasnya permukaan alveoli,cepatnya aliran darah, dan dekatnya darah dengan udara alveoli. Laju absorpsi bergantung pada daya larut gas dalam darah. Semakinmudah larut akan semakin cepat diabsorpsi. 

3. Pemejanan Melalui Saluran Cerna
Pemejanan tokson melalui saluran cerna dapat terjadi bersama makanan, minuman, atau secara sendiri baik sebagai obat maupun zat kimia murni. Pada jalur ini mungkin tokson terserap dari rongga mulut (sub lingual), dari lambung sampai usus halus, atau eksposisi tokson dengan sengaja melalui jalur rektal. Kecuali zat yang bersifat basa atau asam kuat , atau zat yang dapat merangsang mukosa, pada umumnya tidak akan memberikan efek toksik kalau tidak diserap.

Cairan getah lambung bersifat sangat asam, sehingga senyawa asam-asam lemah akan berada dalam bentuk non-ion yang lebih mudah larut dalam lipid dan mudah terdifusi, sehingga senyawa-senyawa tersebut akan mudah terserap di dalam lambung. Berbeda dengan senyawa basa lemah, pada cairan getah lambung akan terionkan oleh sebab itu akan lebih mudah larut dalam cairan lambung. Senyawa basa lemah, karena cairan usus yang bersifat basa, akan berada dalam bentuk non-ioniknya, sehingga senyawa basa lemah akan lebih mudah terserap melalui usus ketimbang lambung. Pada umumnya tokson melintasi membrane saluran pencernaan menuju sistem sistemik dengan difusi pasif, yaitu transpor dengan perbedaan konsentrasi sebagai daya dorongnya. Namun disamping difusi pasif, juga dalam usus, terdapat juga transpor aktif, seperti tranpor yang tervasilitasi dengan zat pembawa (carrier), atau pinositosis.

C. Contoh Zat Toksik
1. Pestisida
Pstisida adalah zat untuk membunuh atau mengendalikan hama. Beberapa jenis hama yang paling sering ditemukan adalah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan setiap tahun terjadi sekitar 25 juta kasus keracunan pestisida atau sekitar 68.493 kasus setiap hari. Pestisida dapat masuk ke dalam tubuh melalui kulit (dermal), pernafasan (inhalasi) atau mulut (oral). Pestisida akan segera diabsorpsi jika kontak melalui kulit atau mata. Absorpsi ini akan terus berlangsung selama pestisida masih ada pada kulit. Kecepatan absorpsi berbeda pada tiap bagian tubuh. Perpindahan residu pestisida dan suatu bagian tubuh ke bagian lain sangat mudah. Jika hal ini terjadi maka akan menambah potensi keracunan. Residu dapat pindah dari tangan ke dahi yang berkeringat atau daerah genital. Pada daerah ini kecepatan absorpsi sangat tinggi sehingga dapat lebih berbahaya dari pada tertelan. Paparan melalui oral dapat berakibat serius, luka berat atau bahkan kematian jika tertelan. Pestisida dapat tertelan karena kecelakaan, kelalaian atau dengan sengaja.

D. Tiga Jenis Obat Yang Bersifat Toksik
1. Hepatotoksik
  • a. Ibu profen
  • b. Paracetamol
  • c. Ranitidine 

2. Nefrotoksin 
  • a. Gentamisin
  • b. Datrobicin 
  • c. Tenovofir

3. Neurotoksik
  • a. Tobramycin 
  • b. Meperidine
  • c. Elegasobin

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari uraian makalah ini dapat disimpulkan bahwa Toksikologi dapat didefinisikan sebagai kajian tentang hakikat dan mekanisme efek berbahaya (efek toksik) berbagai bahan kimia terhadap makhluk hidup dan sistem biologik lainnya. Apabila zat kimia dikatakan berracun (toksik), maka kebanyakan diartikan sebagai zat yang berpotensial memberikan efek berbahaya terhadap mekanisme biologi tertentu pada suatu organisme.

DAFTAR PUSTAKA
Bandung, Hasan, Sadikin., 2015, Studi Interaksi Obat Dan Reaksi Obat Merugikan Pada Pasien Hiv/Aids Dengan Koinfeksi Tuberkulosis Di Rsup, Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia, Vol. 13 (1)

Jurnalis, Yusri, Dianne., Yorva, Sayoeti, Marlia, Moriska, 2015, Kelainan Hati Akibat Penggunaan Antipiretik, Jurnal Kesehatan Andalas. Vol.4 (3)

Lintong, Poppy M., Carla F. Kairupan., Priska L. N. Sondakh., 2012, Gambaran Mikroskopik Ginjal Tikus Wistar (Rattus Norvegicus) Setelah Diinduksi Dengan Gentamisin Jurnal Biomedik, Vol. 4 (3).

Wirasuta, I, Made, Agus, Gelgel., Rasmaya, Niruri., 2007 Buku Ajar Toksikologi Umum, Jurusan Farmasi Udayan.

MAKALAH EFEK ZAT TOKSIK PADA INTRA SELULER DAN EKSTRA SELULER

MAKALAH EFEK ZAT TOKSIK PADA INTRA SELULER DAN EKSTRA SELULER

MAKALAH TOKSIKOLOGI
EFEK ZAT TOKSIK PADA INTRA SELULER DAN EKSTRA SELULER
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Toksikologi merupakan ilmu antarbidan yang ruang lingkup pokok kajiannya digolongkan menjadi toksikologi lingkungan, ekonomi, dan kehakiman (forensik). Untuk memahami permasalahan toksikologi, diperlukan pengetahuan tentang pemahaman terhadap asas umum toksikologi, aneka kondisi atau faktor-faktor yang mempengaruhi ketoksikan racun, mekanisme wujud sifat efek toksik racun, tolok ukur toksikologi, dan asa umum uji toksikologi. Pada dasarnya keracunan suatu senyawa diawali oleh masuknya senyawa tersebut ke dalam tubuh, yang kemudian terdistribusi sampai ke sel sasaran tertentu. Selanjutnya akibat interaksi antara senyawa dengan sel sasaran, menyebabkan terjadinya gangguan fungsi, biokimia, perubahan struktur sel akibat dari wujud efek toksik senyawa itu, missal teratogenik, mutagenik, karsinogenik, penyimpangan metabolik, ketidaknormalan perilaku, dan lain sebagainya.

Efek toksik suatu racun terjadi akibat interaksi antar racun, dan tempat aksinya secara langsung atau tidak langsung. Tingkat toksik atau ketoksikan racun tersebut ditentukan oleh keberadaannya di tempat aksi dan keefektifan antaraksinya dengan tempat aksi itu. Keberadaan racun di tempat aksi tertentu, ditentukan oleh keefektifan translokasi (absorpsi, distribusi, eliminasi) nya di dalam tubuh. Dengan demikian, ketoksikan racun ditentukan oleh keefektifan translokasi dan keefektifan antaraksinya dengan tempat aksi tertentu. Karena itu, factor apa pun yang dapat mempengaruhi kedua penentu tersebut, akan mempengaruhi ketoksikan racun. Respon makhluk hidup terhadap ketoksikan suatu senyawa atau racun beraneka ragam, bergantung pada aneka factor, Antara lain faktor biologi, kimia dan genetika, disamping kondisi pemejanan dan kondisi makhluk hidup.

B. Tujuan
Tujuan dalam penyusunan makalah ini adalah :
  1. Untuk memahami tentang toksikologi.
  2. Untuk mengetahui mekanisme zat toksik menimbulkaan efek toksik.
  3. Untuk mengetahui bentuk-bentuk zat toksik.

C. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
  1. Apa yang dimaksud dengan toksikologi?
  2. Bagaimana mekanisme zat toksik menimbulkan efek toksik?
  3. Bagaimana bentuk-bentuk zat toksik?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Toksikologi
Toksikologi dapat didefinisikan sebagai kajian tentang hakikat dan mekanisme efek berbahaya (efek toksik) berbagai bahan kimia terhadap makhluk hidup dan sistem biologik lainnya. Apabila zat kimia dikatakan berracun (toksik), maka kebanyakan diartikan sebagai zat yang berpotensial memberikan efek berbahaya terhadap mekanisme biologi tertentu pada suatu organisme. Sifat toksik dari suatu senyawa ditentukan oleh: dosis, konsentrasi racun di reseptor “tempat kerja”, sifat zat tersebut, kondisi bioorganisme atau sistem bioorganisme, paparan terhadap organisme dan bentuk efek yang itimbulkan. Sehingga apabila menggunakan istilah toksik atau toksisitas, maka perlu untuk mengidentifikasi mekanisme biologi di mana efek berbahaya itu timbul. Sedangkan toksisitas merupakan sifat relatif dari suatu zat kimia, dalam kemampuannya menimbulkan efek berbahaya atau penyimpangan mekanisme biologi pada suatu organisme.

Toksisitas merupakan istilah relatif yang bias dipergunakan dalam memperbandingkan satu zat kimia dengan lainnya. Adalah biasa untuk mengatakan bahwa satu zat kimia lebih toksik daripada zat kimia lain. Perbandingan sangat kurang informatif, kecuali jika pernyataan tersebut melibatkan informasi tentang mekanisme biologi yang sedang dipermasalahkan dan juga dalam kondisi bagaimana zat kimia tersebut berbahaya. Oleh sebab itu, pendekatan toksikologi seharusnya dari sudut telaah tentang berbagai efek zat kimia atas berbagai sistem biologi, dengan penekanan pada mekanisme efek berbahaya zat kimia itu dan berbagai kondisi di mana efek berbahaya itu terjadi. Pada umumnya efek berbahaya / efek farmakologik timbul apabila terjadi interaksi antarazat kimia (tokson atau zat aktif biologis) denganreseptor. Terdapat dua aspek yang harus diperhatikan dalam mempelajari interakasi antara zat kimia dengan organisme hidup, yaitu kerja farmakon pada suatu organisme (aspek farmakodinamik/toksodinamik) dan pengaruh organisme terhadap zat aktif (aspekfarmakokinetik / toksokinetik).

B. Kerja dan Efek Toksik Dalam Tubuh
Suatu objek biologik terpapar oleh sesuatu xenobiotika, maka, kecuali senyawa radioaktif, efek biologik atau toksik akan muncul, jika xenobiotika tersebut telah terabsorpsi menuju sistem sistemik. Umumnya hanya xenobiotika yang terlarut, terdistribusi molekular, yang dapat diabsorpsi. Dalam hal ini akan terjadi pelepasan xenobiotika dari bentuk farmaseutikanya. Misalnya paparan xenobiotika melalui oral (missal sediaan dalam bentuk padat: tablet, kapsul, atau serbuk), maka terlebih dahulu kapsul/tablet akan terdistegrasi (hancur), sehingga xenobiotika akan telarut di dalam cairan saluran pencernaan. Xenobiotika yang terlarut akan siap terabsorpsi secara normal dalam duodenal dari usus halus dan ditranspor melalui pembuluh kapiler mesenterika menuju vena porta hepatika menuju hati sebelum ke sirkulasi sistemik.

Penyerapan xenobiotika sangat tergantung pada konsentrasi dan lamanya kontak antara xenobiotika dengan permukaan organisme yang berkemampuan untuk mengaborpsi xenobiotika tersebut. Dalam hal ini laju absorpsi dan jumlah xenobitika yang terabsorpsi akan menentukan potensi efek biologik/toksik. Pada pemakaian obat,fase ini dikenal dengan fase farmaseutika, yaitu semua proses yang berkaitan dengan pelepasan senyawa obat dari bentuk farmasetikanya (tablet, kapsul, salep, dll). alur utama bagi penyerapan xenobiotika adalah saluran cerna, paru-paru, dan kulit. Namun pada keracunan aksidential, atau penelitian toksikologi, paparan xenobiotika dapat terjadi melalui jalur injeksi, seperti injeksi intravena, intramuskular, subkutan, intraperitoneal, dan jalur injeksi lainnya.

1. Pemejanan pada Kulit
Pemejanan yang palung mudah dan paling lazim terhadap manusia atau hewadengan segala xenobiotika, seperti misalnykosmetik, produk rumah tangga, obat topikalcemaran lingkungan, atau cemaran industri dtempat kerja, ialah pemejanan sengaja atau tidasengaja pada kulit. Kulit terdiri atas epidermis (bagian paling luar) dan dermis, yang terletak di atas jaringansubkutan. Tebal lapisan epidermis adalah relatitipis, yaitu rata-rata sekitar 0,1-0,2 mm,sedangkan dermis sekitar 2 mm. Dua lapisan ini dipisahkan oleh suatu membran basal. 

Lapisan epidermis terdiri atas lapisan sel basa(stratum germinativum), yang memberikan sebaru bagi lapisan yang lebih luar. Sel baru inmenjadi sel duri (stratum spinosum) dan, natinymenjadi sel granuler (stratum granulosum). Selain itu sel ini juga menghasilkan keratohidrin yangnantinya menjadi keratin dalam stratum corneumterluar, yakni lapisan tanduk. Epidermis juga mengandung melanosit yang mengasilkan pigmen dan juga sel langerhans yang bertindasebagai makrofag dan limfosit. Dua se inbelakangan diketahui yang terlibat dalamberbagai respon imun. Dermis terutama terdiri atas kolagen dan elastin yang merupakan struktur penting untuk mengokong kulit. Dalam lapisan ini ada beberapa jenis sel, yang paling banyak adalah fibroblast, yang terlibat dalam biosintesis protein berserat, dan zat-zat dasar, misalnya asam hialuronat, kondroitin sulfat, dan mukopolisakarida. Disamping sel-sel tersebut, terdapat juga sel lainnya antara lain sel lemak, makrofag, histosit, dan mastosit. Di bawah dermis terdapat jaringan subkutan. Selain itu, ada beberapa struktur lain misalnya folikel rambut, kelenjar keringan, kelenjar sebasea, kapiler pembuluh darah dan unsur syaraf. Pejanan kulit terhadap tokson sering mengakibatkan berbagai lesi (luka), namun tidak jarang tokson dapat juga terabsorpsi dari permukaan kulit menuju sistem sistemik. 

2. Pemejanan Melalui Inhalasi
Pemejanan xenobiotika yang berada di udara dapat terjadi melalui penghirupan xenobiotika tersebut. Tokson yang terdapat di udara berada dalam bentuk gas, uap, butiran cair, dan partikel padat dengan ukuran yang berbeda-beda. Disamping itu perlu diingat, bahwa saluran pernafasan merupakan sistem yang komplek, yang secara alami dapat menseleksi partikel berdasarkan ukurannya. Oleh sebab itu ambilan dan efek toksik dari tokson yang dihirup tidak saja tergantung pada sifat toksisitasnya tetapi juga pada sifat fisiknya. Saluran pernafasan terdiri atas nasofaring, saluran trakea dan bronkus, serta acini paru-paru, yang terdiri atas bronkiol pernafasan, saluran alveolar, dan alveoli (lihat gambar 2.4). Nasofaring berfungsi membuang partikel besar dari udara yang dihirup, menambahkan uap air, dan mengatur suhu.

Umumnya partikel besar ( > 10 µm) tidak memasuki saluran napas, kalua masuk akan diendapkan di hidung dan dienyahkan dengan diusap, dihembuskan danberbangkis. Saluran trakea dan bronkus berfungsi sebagai saluran udara yang menuju alveoli. Trakea dan bronki dibatasi oleh epiel bersilia dan dilapisi oleh lapisan tipis lendir yang disekresi dari sel tertentu dalam lapisan epitel. Dengan silia dan lendirnya, lapisan ini dapat mendorong naik partikel yang mengendap pada permukaan menuju mulut. Partikel yang mengandung lender tersebut kemudian dibuang dari saluran pernafasan dengan diludahkan atau ditelan.Namun, butiran cairan dan partikel padat yangkecil juga dapat diserap lewat difusi danfagositosis. Fagosit yang berisi partikel-partikelakan diserap ke dalam sistem limfatik. Beberapapartikel bebas dapat juga masuk ke saluranlimfatik. Partikel-partikel yang dapat terlarut mungkin diserap lewat epitel ke dalam darah. Alveoli merupakan tempat utama terjadinya absorpsi xenobiotika yang berbentuk gas, seperticarbon monoksida, oksida nitrogen, belerangdioksida atau uap cairan, seperti bensen dankarbontetraklorida. Kemudahan absorpsi ini berkaitan dengan luasnya permukaan alveoli,cepatnya aliran darah, dan dekatnya darah dengan udara alveoli. Laju absorpsi bergantung pada daya larut gas dalam darah. Semakinmudah larut akan semakin cepat diabsorpsi. 

3. Pemejanan Melalui Saluran Cerna
Pemejanan tokson melalui saluran cerna dapat terjadi bersama makanan, minuman, atau secara sendiri baik sebagai obat maupun zat kimia murni. Pada jalur ini mungkin tokson terserap dari rongga mulut (sub lingual), dari lambung sampai usus halus, atau eksposisi tokson dengan sengaja melalui jalur rektal. Kecuali zat yang bersifat basa atau asam kuat , atau zat yang dapat merangsang mukosa, pada umumnya tidak akan memberikan efek toksik kalau tidak diserap.

Cairan getah lambung bersifat sangat asam, sehingga senyawa asam-asam lemah akan berada dalam bentuk non-ion yang lebih mudah larut dalam lipid dan mudah terdifusi, sehingga senyawa-senyawa tersebut akan mudah terserap di dalam lambung. Berbeda dengan senyawa basa lemah, pada cairan getah lambung akan terionkan oleh sebab itu akan lebih mudah larut dalam cairan lambung. Senyawa basa lemah, karena cairan usus yang bersifat basa, akan berada dalam bentuk non-ioniknya, sehingga senyawa basa lemah akan lebih mudah terserap melalui usus ketimbang lambung. Pada umumnya tokson melintasi membrane saluran pencernaan menuju sistem sistemik dengan difusi pasif, yaitu transpor dengan perbedaan konsentrasi sebagai daya dorongnya. Namun disamping difusi pasif, juga dalam usus, terdapat juga transpor aktif, seperti tranpor yang tervasilitasi dengan zat pembawa (carrier), atau pinositosis.

C. Contoh Zat Toksik
1. Pestisida
Pstisida adalah zat untuk membunuh atau mengendalikan hama. Beberapa jenis hama yang paling sering ditemukan adalah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan setiap tahun terjadi sekitar 25 juta kasus keracunan pestisida atau sekitar 68.493 kasus setiap hari. Pestisida dapat masuk ke dalam tubuh melalui kulit (dermal), pernafasan (inhalasi) atau mulut (oral). Pestisida akan segera diabsorpsi jika kontak melalui kulit atau mata. Absorpsi ini akan terus berlangsung selama pestisida masih ada pada kulit. Kecepatan absorpsi berbeda pada tiap bagian tubuh. Perpindahan residu pestisida dan suatu bagian tubuh ke bagian lain sangat mudah. Jika hal ini terjadi maka akan menambah potensi keracunan. Residu dapat pindah dari tangan ke dahi yang berkeringat atau daerah genital. Pada daerah ini kecepatan absorpsi sangat tinggi sehingga dapat lebih berbahaya dari pada tertelan. Paparan melalui oral dapat berakibat serius, luka berat atau bahkan kematian jika tertelan. Pestisida dapat tertelan karena kecelakaan, kelalaian atau dengan sengaja.

D. Tiga Jenis Obat Yang Bersifat Toksik
1. Hepatotoksik
  • a. Ibu profen
  • b. Paracetamol
  • c. Ranitidine 

2. Nefrotoksin 
  • a. Gentamisin
  • b. Datrobicin 
  • c. Tenovofir

3. Neurotoksik
  • a. Tobramycin 
  • b. Meperidine
  • c. Elegasobin

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari uraian makalah ini dapat disimpulkan bahwa Toksikologi dapat didefinisikan sebagai kajian tentang hakikat dan mekanisme efek berbahaya (efek toksik) berbagai bahan kimia terhadap makhluk hidup dan sistem biologik lainnya. Apabila zat kimia dikatakan berracun (toksik), maka kebanyakan diartikan sebagai zat yang berpotensial memberikan efek berbahaya terhadap mekanisme biologi tertentu pada suatu organisme.

DAFTAR PUSTAKA
Bandung, Hasan, Sadikin., 2015, Studi Interaksi Obat Dan Reaksi Obat Merugikan Pada Pasien Hiv/Aids Dengan Koinfeksi Tuberkulosis Di Rsup, Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia, Vol. 13 (1)

Jurnalis, Yusri, Dianne., Yorva, Sayoeti, Marlia, Moriska, 2015, Kelainan Hati Akibat Penggunaan Antipiretik, Jurnal Kesehatan Andalas. Vol.4 (3)

Lintong, Poppy M., Carla F. Kairupan., Priska L. N. Sondakh., 2012, Gambaran Mikroskopik Ginjal Tikus Wistar (Rattus Norvegicus) Setelah Diinduksi Dengan Gentamisin Jurnal Biomedik, Vol. 4 (3).

Wirasuta, I, Made, Agus, Gelgel., Rasmaya, Niruri., 2007 Buku Ajar Toksikologi Umum, Jurusan Farmasi Udayan.