MAKALAH INTERAKSI OBAT PADA FASE DISTRIBUSI - ElrinAlria
MAKALAH INTERAKSI OBAT PADA FASE DISTRIBUSI
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG 
Pada dasarnya interaksi obat dan efek samping obat perlu mendapat perhatian. Sebuah studi di Amerika menunjukkan bahwa setiap tahun hampir 100.000 orang harus masuk rumah sakit atau harus tinggal di rumah sakit lebih lama dari pada seharusnya. Pasien yang dirawat di rumah sakit sering mendapat terapi dengan polifarmasi (6-10 macam obat) karena sebagai subjek untuk lebih dari satu dokter, sehingga sangat mungkin terjadi interaksi obat terutama yang dipengaruhi tingkat keparahan penyakit atau usia.

MAKALAH INTERAKSI OBAT PADA FASE DISTRIBUSI

Interaksi obat secara klinis penting bila berakibat peningkatan toksisitas dan/atau pengurangan efektivitas obat. Jadi perlu diperhatikan terutama bila menyangkut obat dengan batas keamanan yang sempit (indeks terapi yang rendah), misalnya glikosida jantung, antikoagulan dan obat-obat sitostatik. Selain itu, juga perlu diperhatikan obat-obat yang biasa digunakan bersama-sama.

Interaksi obat merupakan bagian dari Interaksi Farmakokinetik yang dapat diakibatkan oleh perubahan laju atau tingkat absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi. Salah satu yang dapat mempengaruhi adalah fase distribusi yaitu setelah obat diabsorpsi ke dalam sistem sirkulasi, obat di bawa ke tempat kerja di mana obat akan bereaksi dengan berbagai jaringan tubuh dan atau reseptor. Oleh karena itu, makalah ini akan menjelaskan bagaimana interaksi obat yang terjadi pada fase distribusi. 

B. RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah pada makalah ini adalah sebagai berikut :
  1. Apa yang dimaksud dengan interkasi obat ! 
  2. Apa saja tahapan interaksi obat pada fase distribusi ! 
  3. Bagaimana proses interaksi obat pada fase distribusi ? 
  4. Apa saja contoh obat yang berintraksi pada fase distribusi ! 

C. TUJUAN
Tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut :
  1. Untuk mengetahui tentang interkasi obat. 
  2. Untuk mengetahui apa saja tahapan interaksi obat pada fase distribusi 
  3. Untuk mengetahui bagaimana proses interaksi obat pada fase distribusi 
  4. Untuk mengetahui contoh obat yang berintraksi pada fase distribusi 

D. MANFAAT
Manfaat dari makalah ini adalah sebagai berikut :
  1. Kita dapat mengetahui tentang interkasi obat. 
  2. Kita dapat mengetahui tahapan interaksi obat pada fase distribusi 
  3. Kita dapat mengetahui bagaimana proses interaksi obat pada fase distribusi 
  4. Kita dapat mengetahui contoh obat yang berintraksi pada fase distribusi . 

BAB II
PEMBAHASAN
1. DEFINISI INTERAKSI OBAT
Interaksi obat adalah perubahan efek suatu obat akibat pemakaian obat lain (interaksi obat-obat) atau oleh makanan, obat tradisional dan senyawa kimia lain. Interaksi obat yang signifikan dapat terjadi jika dua atau lebih obat digunakan bersama-sama. Dua atau lebih obat yang diberikan pada waktu yang sama dapat berubah efeknya secara tidak langsung atau dapat berinteraksi. Interaksi bisa bersifat potensiasi atau antagonis antara efek satu obat oleh obat lainnya, atau adakalanya beberapa efek lainnya. 

Interaksi obat merupakan satu dari delapan kategori masalah terkait obat (drug-related problem) yang diidentifikasi sebagai kejadian atau keadaan terapi obat yang dapat mempengaruhi outcome klinis pasien. Sebuah interaksi obat terjadi ketika farmakokinetika atau farmakodinamika obat dalam tubuh diubah oleh kehadiran satu atau lebih zat yang berinteraksi.

Mekanisme interaksi obat dapat melalui beberapa cara, yakni:
(1) Interaksi Farmasetik
Interaksi farmasetik atau yang disebut juga inkompatibilitas farmasetik bersifat langsung dan dapat secara fisik atau kimiawi, misalnya terjadinya pesipitasi, perubahan warna, tidak terdeteksi (invisible), yang selanjutnya menyebabkan obat menjadi tidak aktif. Misalnya interaksi antara karbenisilin dan gentamisin akan terjadi inaktiasi, fenitoin dan larutan dekstrosa 5% akan mengakibatkan presipitasi, amfoterisin B dengan larutan NaCl fisiologi akan mengakibatkan terjadinya presipitasi.

(2) Interaksi Farmakokinetik
Interaksi dalam proses farmakokinetik yaitu absorpsi, distriusi, metabolism, dan eksresi (ADME) dapat meningkatkan ataupun menurunkan kadar plasma obat. Interaksi obat pada farmakokinetik yang terjadi pada suatu obat tidak dapat diekstrapolasikan (tidak berlaku) untuk obat lainnya meskipun masih dalam satu kelas terapi, disebabkan karena adanya perbedaan sifat fisikokimia, yang menghasilkan sifat farmakokinetik yang berbeda.

(3) Interaksi Farmakodinamik
Interaksi farmakodinamik adalah interaksi antara obat yang bekerja pada system reseptor, tempat kerja atau system fisiologik yang sama sehingga terjadi efek aditif, sinergistik atau antagonistic, tanpa ada perubahan kadar plasma ataupun profil farmakokinetik lainnya. Interaksi farmakodinamik umumnya dapat diekstrapolasikan ke obat lain yang segolongan dengan obat yang berinteraksi, karena klasifikasi obat adalah berdasarkan efek farmakodinamiknya. Selain itu, umumnya terjadi interaksi farmakodinamik yang dapat diramalkan sehingga dapat dihindari sebelumnya jika diketahui mekanisme kerja obat. 

Jenis interaksi obat diklasifikasikan berdasarkan keterlibatan dalam proses farmakokinetik maupun farmakodinamik. Interaksi farmakokinetik ditandai dengan perubahan kadar plasma obat, area di bawah kurva (AUC), onset aksi, waktu paruh, dsb. Interaksi farmakokinetik diakibatkan oleh perubahan laju atau tingkat absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi. Interaksi farmakodinamik biasanya dihubungkan dengan kemampuan suatu obat untuk mengubah efek obat lain tanpa mengubah sifat-sifat farmakokinetiknya. Interaksi farmakodinamik meliputi aditif (efek obat A =1, efek obat B = 1, efek kombinasi keduanya = 2), potensiasi (efek A = 0, efek B = 1, efek kombinasi A+B = 2), sinergisme (efek A = 1, efek B = 1, efek kombinasi A+B = 3) dan antagonisme (efek A = 1, efek B = 1, efek kombinasi A+B = 0). Mekanisme yang terlibat dalam interaksi farmakodinamik adalah perubahan efek pada jaringan atau reseptor. 

Interaksi obat secara klinis penting bila berakibat peningkatan toksisitas dan/atau pengurangan efektivitas obat. Jadi perlu diperhatikan terutama bila menyangkut obat dengan batas keamanan yang sempit (indeks terapi yang rendah), misalnya glikosida jantung, antikoagulan dan obat-obat sitostatik. Selain itu juga perlu diperhatikan obat-obat yang biasa digunakan bersama-sama.

2. TAHAP-TAHAP INTRAKSI OBAT DALAM DISTRIBUSI
Interaksi obat dalam fase distribusi secara umum diantaranya :
a. Interaksi ikatan protein 
Setelah absorpsi, obat dengan cepat didistribusikan ke seluruh tubuh oleh sirkulasi. Beberapa obat secara total terlarut dalam cairan plasma, banyak yang lainnya diangkut oleh beberapa proporsi molekul dalam larutan dan sisanya terikat dengan protein plasma, terutama albumin. Ikatan obat dengan protein plasma bersifat reversibel, kesetimbangan dibentuk antara molekul-molekul yang terikat dan yang tidak. Hanya molekul tidak terikat yang tetap bebas dan aktif secara farmakologi.

b. Induksi dan inhibisi protein transport obat 
Distribusi obat ke otak, dan beberapa organ lain seperti testis, dibatasi oleh aksi protein transporter obat seperti P-glikoprotein. Protein ini secara aktif membawa obat keluar dari sel-sel ketika obat berdifusi secara pasif. Obat yang termasuk inhibitor transporter dapat meningkatkan penyerapan substrat obat ke dalam otak, yang dapat meningkatkan efek samping CNS.

3. PROSES INTERAKASI OBAT FASE DISTRIBUSI
Distribusi obat adalah distribusi obat dari darah dan beberapa jaringan tubuh ( misalnya lemak, otot, dan aringan otak) dan proporsi relative obat di dalam jaringan. Setelah suatu obat diabsorbsi ke dalam aliran darah maka obat akan bersirkulasi dengan cepat ke seluruh tubuh, waktu sirkulasi darah rata-rata adalah 1 menit. Saat darah bersirkulasi obat bergerak dari aliran darah dan masuk ke jaringan-jaringan tubuh. Sebagian terlarut sempurna di dalam cairan plasma, sebagian diangkut dalam bentuk molekul terlarut dan dalam bentuk terikat protein plasma (albumin). Ikatan protein sangat bervariasi dan sebagian terikat dengan sangat kuat.

Mekanisme interaksi yang melibatkan proses distribusi terjadi pergeseran ikatan protein plasma. Interaksi obat yang melibatkan proses distribusi akan bermakna klinik jika: 
  1. obat ndeks memiliki ikatan protein sebesar ≥85%, volume distribusi (Vd) obat ≤0,15 l/kg dan memiliki batas keamanan sempit
  2. obat presipitan berikatan dengan albumin pada tempat ikatan (binding site) yang sama dengan obat indeks, serta kadarnya cukup tinggi untuk menempati dan menjenuhkan binding site¬-nya.

Di dalam darah senyawa obat berinteraksi dengan protein plasma. Seyawa yang asam akan berikatan dengan albumin dan yang basa akan berikatan dengan α1-glikoprotein. Jika 2 obat atau lebih diberikan maka dalam darah akan terjadi persaingan untuk berikatan dengan protein plasma yang sama, tapi tergantung dari kadar obat dan afinitasnya terhadap protein. Obat yang terikat albumin secara farmakologi tidak aktif, sedangkan obat yang tidak terikat, biasa disebut fraksi bebas, aktif secara farmakologi. Bila dua atau lebih obat yang sangat terikat protein digunakan bersama-sama, terjadi kompetisi pengikatan pada tempat yang sama, yang mengakibatkan terjadi penggeseran salah satu obat dari ikatan dengan protein, dan akhirnya terjadi peningkatan kadar obat bebas dalam darah. Bila satu obat tergeser dari ikatannya dengan protein oleh obat lain, akan terjadi peningkatan kadar obat bebas yang terdistribusi melewati berbagai jaringan. Akan tetapi keadaan ini hanya berlangsung sementara karena peningkatan kadar obat bebas juga meningkatkan eliminasinya sehingga akhirnya tercapai keadaan yang baik dan baru dimana kadar obat total menurun tetapi kadar obat bebas kembali seperti sebelumnya (mekanisme konpensasi). 

Obat-obat yang cenderung berinteraksi pada proses distribusi adalah obat-obat yang : 
  1. Persen terikat protein tinggi ( lebih dari 90%) 
  2. Terikat pada jaringan 
  3. Mempunyai volume distribusi yang kecil 
  4. Mempunyai rasio eksresi hepatic yang rendah 
  5. Mempunyai rentang terapetik yang sempit 
  6. Mempunyai onset aksi yang cepat 
  7. Digunakan secara intravena. 

Obat-obat yang mempunyai kemampuan tinggi untuk menggeser obat lain dari ikatan dengan protein adalah asam salisilat, fenilbutazon, sulfonamid dan anti-inflamasi nonsteroid.

MAKALAH INTERAKSI OBAT PADA FASE DISTRIBUSI


4. CONTOH OBAT YANG BERINTERAKSI DALAM PROSES DISTRIBUSI
Beberapa contoh obat yang berinteraksi di dalam proses distribusi yang memperebutkan ikatan protein adalah sebagai berikut :

1. Warfarin – Fenilbutazon
Kedua obat ini terikat kuat pada protein plasma, tetapi fenilbutazon memiliki afinitas yang lebih besar, sehingga mampu menggeser warfarin dan jumlah/kadar warfarin bebas meningkat. Aktivitas antikoagulan meningkat terjadi resiko pendarahan. 

2. Warfarin – Kloralhidrat
Metabolit utama dari kloralhidrat adalah asam trikloroasetat yang sangat kuat terikat pada protein plasma. Kloralhidrat mendesak wafrarin dari ikatan protein sehingga meningkatkan respon antikoagulan.

Pemberian klorpropamid dengan fenilbutazon, akan meningkatkan distribusi klorpropamid. Mekanisme interaksi yang melibatkan proses distribusi terjadi karena pergeseran ikatan protein plasma. Interaksi obat yang melibatkan proses distribusi akan bermakna klinik jika: 
  1. Obat indeks memiliki ikatan protein sebesar > 85%, volume distribusi (Vd) obat < 0,15 I/kg dan memiliki batas keamanan sempit. 
  2. Obat presipitan berikatan dengan albumin pada tempat ikatan (finding site) yang sama dengan obat indeks, serta kadarnya cukup tinggi untuk menempati dan menjenuhkan binding-site nya. Contohnya, fenilbutazon dapat menggeser warfarin (ikatan protein 99%; Vd = 0,14 I/kg) dan tolbutamid (ikatan protein 96%, Vd = 0,12 I/kg) sehingga kadar plasma warfarin dan tolbutamid bebas meningkat. Selain itu, fenilbutazon juga menghambat metabolisme warfarin dan tolbutamid. 

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut :
  1. Interaksi Obat adalah perubahan efek suatu obat akibat pemakaian obat lain (interaksi obatobat) atau oleh makanan, obat tradisional dan senyawa kimia lain. Interaksi obat yang signifikan dapat terjadi jika dua atau lebih obat digunakan bersama-sama. 
  2. Tahapan interaksi obat pada fase distribusi secara umum yaitu interaksi ikatan protein dan Induksi dan inhibisi protein transport obat 
  3. Proses interaksi obat pada fase distribusi secara seingkat yaitu dalam darah senyawa obat berinteraksi dengan protein plasma. Seyawa yang asam akan berikatan dengan albumin dan yang basa akan berikatan dengan α1-glikoprotein. Jika 2 obat atau lebih diberikan maka dalam darah akan bersaing untuk berikatan dengan protein plasma,sehingga proses distribusi terganggu (terjadi peingkatan salah satu distribusi obat kejaringan). 
  4. contoh obat yang berintraksi pada fase distribusi pada pemberian klorpropamid dengan fenilbutazon.

MAKALAH INTERAKSI OBAT PADA FASE DISTRIBUSI

MAKALAH INTERAKSI OBAT PADA FASE DISTRIBUSI
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG 
Pada dasarnya interaksi obat dan efek samping obat perlu mendapat perhatian. Sebuah studi di Amerika menunjukkan bahwa setiap tahun hampir 100.000 orang harus masuk rumah sakit atau harus tinggal di rumah sakit lebih lama dari pada seharusnya. Pasien yang dirawat di rumah sakit sering mendapat terapi dengan polifarmasi (6-10 macam obat) karena sebagai subjek untuk lebih dari satu dokter, sehingga sangat mungkin terjadi interaksi obat terutama yang dipengaruhi tingkat keparahan penyakit atau usia.

MAKALAH INTERAKSI OBAT PADA FASE DISTRIBUSI

Interaksi obat secara klinis penting bila berakibat peningkatan toksisitas dan/atau pengurangan efektivitas obat. Jadi perlu diperhatikan terutama bila menyangkut obat dengan batas keamanan yang sempit (indeks terapi yang rendah), misalnya glikosida jantung, antikoagulan dan obat-obat sitostatik. Selain itu, juga perlu diperhatikan obat-obat yang biasa digunakan bersama-sama.

Interaksi obat merupakan bagian dari Interaksi Farmakokinetik yang dapat diakibatkan oleh perubahan laju atau tingkat absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi. Salah satu yang dapat mempengaruhi adalah fase distribusi yaitu setelah obat diabsorpsi ke dalam sistem sirkulasi, obat di bawa ke tempat kerja di mana obat akan bereaksi dengan berbagai jaringan tubuh dan atau reseptor. Oleh karena itu, makalah ini akan menjelaskan bagaimana interaksi obat yang terjadi pada fase distribusi. 

B. RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah pada makalah ini adalah sebagai berikut :
  1. Apa yang dimaksud dengan interkasi obat ! 
  2. Apa saja tahapan interaksi obat pada fase distribusi ! 
  3. Bagaimana proses interaksi obat pada fase distribusi ? 
  4. Apa saja contoh obat yang berintraksi pada fase distribusi ! 

C. TUJUAN
Tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut :
  1. Untuk mengetahui tentang interkasi obat. 
  2. Untuk mengetahui apa saja tahapan interaksi obat pada fase distribusi 
  3. Untuk mengetahui bagaimana proses interaksi obat pada fase distribusi 
  4. Untuk mengetahui contoh obat yang berintraksi pada fase distribusi 

D. MANFAAT
Manfaat dari makalah ini adalah sebagai berikut :
  1. Kita dapat mengetahui tentang interkasi obat. 
  2. Kita dapat mengetahui tahapan interaksi obat pada fase distribusi 
  3. Kita dapat mengetahui bagaimana proses interaksi obat pada fase distribusi 
  4. Kita dapat mengetahui contoh obat yang berintraksi pada fase distribusi . 

BAB II
PEMBAHASAN
1. DEFINISI INTERAKSI OBAT
Interaksi obat adalah perubahan efek suatu obat akibat pemakaian obat lain (interaksi obat-obat) atau oleh makanan, obat tradisional dan senyawa kimia lain. Interaksi obat yang signifikan dapat terjadi jika dua atau lebih obat digunakan bersama-sama. Dua atau lebih obat yang diberikan pada waktu yang sama dapat berubah efeknya secara tidak langsung atau dapat berinteraksi. Interaksi bisa bersifat potensiasi atau antagonis antara efek satu obat oleh obat lainnya, atau adakalanya beberapa efek lainnya. 

Interaksi obat merupakan satu dari delapan kategori masalah terkait obat (drug-related problem) yang diidentifikasi sebagai kejadian atau keadaan terapi obat yang dapat mempengaruhi outcome klinis pasien. Sebuah interaksi obat terjadi ketika farmakokinetika atau farmakodinamika obat dalam tubuh diubah oleh kehadiran satu atau lebih zat yang berinteraksi.

Mekanisme interaksi obat dapat melalui beberapa cara, yakni:
(1) Interaksi Farmasetik
Interaksi farmasetik atau yang disebut juga inkompatibilitas farmasetik bersifat langsung dan dapat secara fisik atau kimiawi, misalnya terjadinya pesipitasi, perubahan warna, tidak terdeteksi (invisible), yang selanjutnya menyebabkan obat menjadi tidak aktif. Misalnya interaksi antara karbenisilin dan gentamisin akan terjadi inaktiasi, fenitoin dan larutan dekstrosa 5% akan mengakibatkan presipitasi, amfoterisin B dengan larutan NaCl fisiologi akan mengakibatkan terjadinya presipitasi.

(2) Interaksi Farmakokinetik
Interaksi dalam proses farmakokinetik yaitu absorpsi, distriusi, metabolism, dan eksresi (ADME) dapat meningkatkan ataupun menurunkan kadar plasma obat. Interaksi obat pada farmakokinetik yang terjadi pada suatu obat tidak dapat diekstrapolasikan (tidak berlaku) untuk obat lainnya meskipun masih dalam satu kelas terapi, disebabkan karena adanya perbedaan sifat fisikokimia, yang menghasilkan sifat farmakokinetik yang berbeda.

(3) Interaksi Farmakodinamik
Interaksi farmakodinamik adalah interaksi antara obat yang bekerja pada system reseptor, tempat kerja atau system fisiologik yang sama sehingga terjadi efek aditif, sinergistik atau antagonistic, tanpa ada perubahan kadar plasma ataupun profil farmakokinetik lainnya. Interaksi farmakodinamik umumnya dapat diekstrapolasikan ke obat lain yang segolongan dengan obat yang berinteraksi, karena klasifikasi obat adalah berdasarkan efek farmakodinamiknya. Selain itu, umumnya terjadi interaksi farmakodinamik yang dapat diramalkan sehingga dapat dihindari sebelumnya jika diketahui mekanisme kerja obat. 

Jenis interaksi obat diklasifikasikan berdasarkan keterlibatan dalam proses farmakokinetik maupun farmakodinamik. Interaksi farmakokinetik ditandai dengan perubahan kadar plasma obat, area di bawah kurva (AUC), onset aksi, waktu paruh, dsb. Interaksi farmakokinetik diakibatkan oleh perubahan laju atau tingkat absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi. Interaksi farmakodinamik biasanya dihubungkan dengan kemampuan suatu obat untuk mengubah efek obat lain tanpa mengubah sifat-sifat farmakokinetiknya. Interaksi farmakodinamik meliputi aditif (efek obat A =1, efek obat B = 1, efek kombinasi keduanya = 2), potensiasi (efek A = 0, efek B = 1, efek kombinasi A+B = 2), sinergisme (efek A = 1, efek B = 1, efek kombinasi A+B = 3) dan antagonisme (efek A = 1, efek B = 1, efek kombinasi A+B = 0). Mekanisme yang terlibat dalam interaksi farmakodinamik adalah perubahan efek pada jaringan atau reseptor. 

Interaksi obat secara klinis penting bila berakibat peningkatan toksisitas dan/atau pengurangan efektivitas obat. Jadi perlu diperhatikan terutama bila menyangkut obat dengan batas keamanan yang sempit (indeks terapi yang rendah), misalnya glikosida jantung, antikoagulan dan obat-obat sitostatik. Selain itu juga perlu diperhatikan obat-obat yang biasa digunakan bersama-sama.

2. TAHAP-TAHAP INTRAKSI OBAT DALAM DISTRIBUSI
Interaksi obat dalam fase distribusi secara umum diantaranya :
a. Interaksi ikatan protein 
Setelah absorpsi, obat dengan cepat didistribusikan ke seluruh tubuh oleh sirkulasi. Beberapa obat secara total terlarut dalam cairan plasma, banyak yang lainnya diangkut oleh beberapa proporsi molekul dalam larutan dan sisanya terikat dengan protein plasma, terutama albumin. Ikatan obat dengan protein plasma bersifat reversibel, kesetimbangan dibentuk antara molekul-molekul yang terikat dan yang tidak. Hanya molekul tidak terikat yang tetap bebas dan aktif secara farmakologi.

b. Induksi dan inhibisi protein transport obat 
Distribusi obat ke otak, dan beberapa organ lain seperti testis, dibatasi oleh aksi protein transporter obat seperti P-glikoprotein. Protein ini secara aktif membawa obat keluar dari sel-sel ketika obat berdifusi secara pasif. Obat yang termasuk inhibitor transporter dapat meningkatkan penyerapan substrat obat ke dalam otak, yang dapat meningkatkan efek samping CNS.

3. PROSES INTERAKASI OBAT FASE DISTRIBUSI
Distribusi obat adalah distribusi obat dari darah dan beberapa jaringan tubuh ( misalnya lemak, otot, dan aringan otak) dan proporsi relative obat di dalam jaringan. Setelah suatu obat diabsorbsi ke dalam aliran darah maka obat akan bersirkulasi dengan cepat ke seluruh tubuh, waktu sirkulasi darah rata-rata adalah 1 menit. Saat darah bersirkulasi obat bergerak dari aliran darah dan masuk ke jaringan-jaringan tubuh. Sebagian terlarut sempurna di dalam cairan plasma, sebagian diangkut dalam bentuk molekul terlarut dan dalam bentuk terikat protein plasma (albumin). Ikatan protein sangat bervariasi dan sebagian terikat dengan sangat kuat.

Mekanisme interaksi yang melibatkan proses distribusi terjadi pergeseran ikatan protein plasma. Interaksi obat yang melibatkan proses distribusi akan bermakna klinik jika: 
  1. obat ndeks memiliki ikatan protein sebesar ≥85%, volume distribusi (Vd) obat ≤0,15 l/kg dan memiliki batas keamanan sempit
  2. obat presipitan berikatan dengan albumin pada tempat ikatan (binding site) yang sama dengan obat indeks, serta kadarnya cukup tinggi untuk menempati dan menjenuhkan binding site¬-nya.

Di dalam darah senyawa obat berinteraksi dengan protein plasma. Seyawa yang asam akan berikatan dengan albumin dan yang basa akan berikatan dengan α1-glikoprotein. Jika 2 obat atau lebih diberikan maka dalam darah akan terjadi persaingan untuk berikatan dengan protein plasma yang sama, tapi tergantung dari kadar obat dan afinitasnya terhadap protein. Obat yang terikat albumin secara farmakologi tidak aktif, sedangkan obat yang tidak terikat, biasa disebut fraksi bebas, aktif secara farmakologi. Bila dua atau lebih obat yang sangat terikat protein digunakan bersama-sama, terjadi kompetisi pengikatan pada tempat yang sama, yang mengakibatkan terjadi penggeseran salah satu obat dari ikatan dengan protein, dan akhirnya terjadi peningkatan kadar obat bebas dalam darah. Bila satu obat tergeser dari ikatannya dengan protein oleh obat lain, akan terjadi peningkatan kadar obat bebas yang terdistribusi melewati berbagai jaringan. Akan tetapi keadaan ini hanya berlangsung sementara karena peningkatan kadar obat bebas juga meningkatkan eliminasinya sehingga akhirnya tercapai keadaan yang baik dan baru dimana kadar obat total menurun tetapi kadar obat bebas kembali seperti sebelumnya (mekanisme konpensasi). 

Obat-obat yang cenderung berinteraksi pada proses distribusi adalah obat-obat yang : 
  1. Persen terikat protein tinggi ( lebih dari 90%) 
  2. Terikat pada jaringan 
  3. Mempunyai volume distribusi yang kecil 
  4. Mempunyai rasio eksresi hepatic yang rendah 
  5. Mempunyai rentang terapetik yang sempit 
  6. Mempunyai onset aksi yang cepat 
  7. Digunakan secara intravena. 

Obat-obat yang mempunyai kemampuan tinggi untuk menggeser obat lain dari ikatan dengan protein adalah asam salisilat, fenilbutazon, sulfonamid dan anti-inflamasi nonsteroid.

MAKALAH INTERAKSI OBAT PADA FASE DISTRIBUSI


4. CONTOH OBAT YANG BERINTERAKSI DALAM PROSES DISTRIBUSI
Beberapa contoh obat yang berinteraksi di dalam proses distribusi yang memperebutkan ikatan protein adalah sebagai berikut :

1. Warfarin – Fenilbutazon
Kedua obat ini terikat kuat pada protein plasma, tetapi fenilbutazon memiliki afinitas yang lebih besar, sehingga mampu menggeser warfarin dan jumlah/kadar warfarin bebas meningkat. Aktivitas antikoagulan meningkat terjadi resiko pendarahan. 

2. Warfarin – Kloralhidrat
Metabolit utama dari kloralhidrat adalah asam trikloroasetat yang sangat kuat terikat pada protein plasma. Kloralhidrat mendesak wafrarin dari ikatan protein sehingga meningkatkan respon antikoagulan.

Pemberian klorpropamid dengan fenilbutazon, akan meningkatkan distribusi klorpropamid. Mekanisme interaksi yang melibatkan proses distribusi terjadi karena pergeseran ikatan protein plasma. Interaksi obat yang melibatkan proses distribusi akan bermakna klinik jika: 
  1. Obat indeks memiliki ikatan protein sebesar > 85%, volume distribusi (Vd) obat < 0,15 I/kg dan memiliki batas keamanan sempit. 
  2. Obat presipitan berikatan dengan albumin pada tempat ikatan (finding site) yang sama dengan obat indeks, serta kadarnya cukup tinggi untuk menempati dan menjenuhkan binding-site nya. Contohnya, fenilbutazon dapat menggeser warfarin (ikatan protein 99%; Vd = 0,14 I/kg) dan tolbutamid (ikatan protein 96%, Vd = 0,12 I/kg) sehingga kadar plasma warfarin dan tolbutamid bebas meningkat. Selain itu, fenilbutazon juga menghambat metabolisme warfarin dan tolbutamid. 

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut :
  1. Interaksi Obat adalah perubahan efek suatu obat akibat pemakaian obat lain (interaksi obatobat) atau oleh makanan, obat tradisional dan senyawa kimia lain. Interaksi obat yang signifikan dapat terjadi jika dua atau lebih obat digunakan bersama-sama. 
  2. Tahapan interaksi obat pada fase distribusi secara umum yaitu interaksi ikatan protein dan Induksi dan inhibisi protein transport obat 
  3. Proses interaksi obat pada fase distribusi secara seingkat yaitu dalam darah senyawa obat berinteraksi dengan protein plasma. Seyawa yang asam akan berikatan dengan albumin dan yang basa akan berikatan dengan α1-glikoprotein. Jika 2 obat atau lebih diberikan maka dalam darah akan bersaing untuk berikatan dengan protein plasma,sehingga proses distribusi terganggu (terjadi peingkatan salah satu distribusi obat kejaringan). 
  4. contoh obat yang berintraksi pada fase distribusi pada pemberian klorpropamid dengan fenilbutazon.