KANDUNGAN EMPIRIS BAWANG PUTIH - ElrinAlria
Umbi bawang putih dipercaya dapat menurunkan kadar glukosa darah pada penderita diabetes. Di Asia, Eropa, dan Timur Tengah, bawang putih dikonsumsi sebagai obat tradisional untuk penderita diabetes
KANDUNGAN EMPIRIS BAWANG PUTIH

Bawang Putih
The World Health Organization Expert Committee on Diabetes telah merekomendasikan bahwa ramuan obat tradisional dapat diteliti lebih lanjut untuk pengobatan diabetes. Umbi bawang putih dipercaya dapat menurunkan kadar glukosa darah pada penderita diabetes. Di Asia, Eropa, dan Timur Tengah, bawang putih dikonsumsi sebagai obat tradisional untuk penderita diabetes (Cahya dkk., 2015).

a. Kandungan kimia bawang putih

Sebagaimana kebanyakan tumbuhan lain, bawang putih mengandung lebih dari 100 metabolit sekunder yang secara biologi sangat berguna (Challem, 1995). Senyawa ini kebanyakan mengandung belerang yang bertanggungjawab atas rasa, aroma, dan sifat-sifat farmakologi bawang putih (Ellmore dan Fekldberg, 1994). Dua senyawa organosulfur paling penting dalam umbi bawang putih, yaitu asam amino non-volatil γ-glutamil – S – alk(en)il – L – sistein dan minyak atsiri S - alk(en)il - sistein sulfoksida atau alliin. Dua senyawa di atas menjadi prekursor sebagian besar senyawa organosulfur lainnya. Kadarnya dapat mencapai 82% dari keseluruhan senyawa organosulfur di dalam umbi (Cahya dkk., 2015).
KANDUNGAN EMPIRIS BAWANG PUTIH

Kandungan kimia pada ekstrak umbi bawang putih yang berperan dalam menurunkan kadar glukosa darah yaitu allisin dan allin. Allisin dan allin dapat merangsang pankreas untuk mengeluarkan lebih banyak insulin. Allisin juga berperan sebagai antioksidan yang dapat menghambat aktifitas reactive oxygen species (ROS) yang terbentuk karena induksi aloksan (Hernawan dan Ahmad, 2003).

b. Penggunaan empiris bawang putih

Umbi bawang putih dipercaya dapat menurunkan kadar glukosa darah pada penderita diabetes. Di Asia, Eropa, dan Timur Tengah, bawang putih dikonsumsi sebagai obat tradisional untuk penderita diabetes (Cahya dkk., 2015). Umbi bawang putih dapat dimanfaatkan secara tradisional untuk mengobati tekanan darah tinggi, gangguan pernafasan, sakit kepala, ambeien, sembelit, luka memar atau sayat, cacingan, insomnia, kolesterol, flu, gangguan saluran kencing, dan lain-lain (Hernawan dan Ahmad, 2003). 

c. Pengujian praklinik dan klinik

Pengujian Praklinik sebagaimana telah dilakukan oleh Ohaeri (2001) dengan menggunakan ekstrak minyak atsiri bawang putih pada tikus diabetes menunjukkan aktivitas yang dapat menurunkan kadar enzim fosfatase dalam sel darah merah, fosfatase asam dan alkali, transferase alanin, transferase aspartat, dan amilase dalam serum darah. Dimana enzim-enzim tersebut berperan dalam metabolisme glukosa. Zang dkk. (2001) melakukan uji klinik menggunakan perlakuan dengan ekstrak yang sama pada manusia normal juga menunjukkan adanya aktivitas hipoglikemik pada serum darah. Kadar glukosa darah para sukarelawan mengalami penurunan setelah diberi perlakuan selama 11 minggu 

d. Dosis terapi

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Cahya dkk. (2015) maka dapat disimpulkan bahwa ekstrak umbi bawang putih dengan dosis 6 mg/200 gBB tikus dan 12 mg/200 gBB tikus mempunyai efek menurunkan kadar glukosa darah tikus Wistar. Adapun dosis ekstrak umbi bawang putih yang digunakan untuk manusia dewasa dengan berat badan 50 kg yaitu 7,2 gram/hari. 

Daftar Pustaka
Cahya, B. P., Christi Mambo dan Mona P. W., 2015, Uji Efek Ekstrak Umbi Bawang Putih (Allium sativum L.) Terhadap Kadar Glukosa Darah Tikus Wistar (Rattus norvegicus) Yang Diinduksi Aloksan, Jurnal e-Biomedik (eBm), Vol. 3 (1).

Ellmore, G., dan R. Feldberg, 1994, Alliin lyase localization in bundle sheaths of garlic clove (Allium sativum), American Journal of Botany, 81: 89-95.

Hernawan, U. E., Ahmad Dwi S., 2003, REVIEW: Senyawa Organosulfur Bawang Putih (Allium sativum L.) dan Aktivitas Biologinya, Biofarmasi, Vol. 1 (2).

Ohaeri, O.C., 2001, Effect of garlic oil on the levels of various enzymes in the serum and tissue of streptozotocin diabetic rats, Bioscience Report, 21 (1): 19 –24.

Zhang, X.H., D. Lowe, P. Giles, S. Fell, M. J. Connock, dan D. J. Maslin, 2001, Gender may affect the action of garlic oil on plasma cholesterol and glucose levels of normal subjects, Journal of Nutrition, 131: 1471–1478.

KANDUNGAN EMPIRIS BAWANG PUTIH

Umbi bawang putih dipercaya dapat menurunkan kadar glukosa darah pada penderita diabetes. Di Asia, Eropa, dan Timur Tengah, bawang putih dikonsumsi sebagai obat tradisional untuk penderita diabetes
KANDUNGAN EMPIRIS BAWANG PUTIH

Bawang Putih
The World Health Organization Expert Committee on Diabetes telah merekomendasikan bahwa ramuan obat tradisional dapat diteliti lebih lanjut untuk pengobatan diabetes. Umbi bawang putih dipercaya dapat menurunkan kadar glukosa darah pada penderita diabetes. Di Asia, Eropa, dan Timur Tengah, bawang putih dikonsumsi sebagai obat tradisional untuk penderita diabetes (Cahya dkk., 2015).

a. Kandungan kimia bawang putih

Sebagaimana kebanyakan tumbuhan lain, bawang putih mengandung lebih dari 100 metabolit sekunder yang secara biologi sangat berguna (Challem, 1995). Senyawa ini kebanyakan mengandung belerang yang bertanggungjawab atas rasa, aroma, dan sifat-sifat farmakologi bawang putih (Ellmore dan Fekldberg, 1994). Dua senyawa organosulfur paling penting dalam umbi bawang putih, yaitu asam amino non-volatil γ-glutamil – S – alk(en)il – L – sistein dan minyak atsiri S - alk(en)il - sistein sulfoksida atau alliin. Dua senyawa di atas menjadi prekursor sebagian besar senyawa organosulfur lainnya. Kadarnya dapat mencapai 82% dari keseluruhan senyawa organosulfur di dalam umbi (Cahya dkk., 2015).
KANDUNGAN EMPIRIS BAWANG PUTIH

Kandungan kimia pada ekstrak umbi bawang putih yang berperan dalam menurunkan kadar glukosa darah yaitu allisin dan allin. Allisin dan allin dapat merangsang pankreas untuk mengeluarkan lebih banyak insulin. Allisin juga berperan sebagai antioksidan yang dapat menghambat aktifitas reactive oxygen species (ROS) yang terbentuk karena induksi aloksan (Hernawan dan Ahmad, 2003).

b. Penggunaan empiris bawang putih

Umbi bawang putih dipercaya dapat menurunkan kadar glukosa darah pada penderita diabetes. Di Asia, Eropa, dan Timur Tengah, bawang putih dikonsumsi sebagai obat tradisional untuk penderita diabetes (Cahya dkk., 2015). Umbi bawang putih dapat dimanfaatkan secara tradisional untuk mengobati tekanan darah tinggi, gangguan pernafasan, sakit kepala, ambeien, sembelit, luka memar atau sayat, cacingan, insomnia, kolesterol, flu, gangguan saluran kencing, dan lain-lain (Hernawan dan Ahmad, 2003). 

c. Pengujian praklinik dan klinik

Pengujian Praklinik sebagaimana telah dilakukan oleh Ohaeri (2001) dengan menggunakan ekstrak minyak atsiri bawang putih pada tikus diabetes menunjukkan aktivitas yang dapat menurunkan kadar enzim fosfatase dalam sel darah merah, fosfatase asam dan alkali, transferase alanin, transferase aspartat, dan amilase dalam serum darah. Dimana enzim-enzim tersebut berperan dalam metabolisme glukosa. Zang dkk. (2001) melakukan uji klinik menggunakan perlakuan dengan ekstrak yang sama pada manusia normal juga menunjukkan adanya aktivitas hipoglikemik pada serum darah. Kadar glukosa darah para sukarelawan mengalami penurunan setelah diberi perlakuan selama 11 minggu 

d. Dosis terapi

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Cahya dkk. (2015) maka dapat disimpulkan bahwa ekstrak umbi bawang putih dengan dosis 6 mg/200 gBB tikus dan 12 mg/200 gBB tikus mempunyai efek menurunkan kadar glukosa darah tikus Wistar. Adapun dosis ekstrak umbi bawang putih yang digunakan untuk manusia dewasa dengan berat badan 50 kg yaitu 7,2 gram/hari. 

Daftar Pustaka
Cahya, B. P., Christi Mambo dan Mona P. W., 2015, Uji Efek Ekstrak Umbi Bawang Putih (Allium sativum L.) Terhadap Kadar Glukosa Darah Tikus Wistar (Rattus norvegicus) Yang Diinduksi Aloksan, Jurnal e-Biomedik (eBm), Vol. 3 (1).

Ellmore, G., dan R. Feldberg, 1994, Alliin lyase localization in bundle sheaths of garlic clove (Allium sativum), American Journal of Botany, 81: 89-95.

Hernawan, U. E., Ahmad Dwi S., 2003, REVIEW: Senyawa Organosulfur Bawang Putih (Allium sativum L.) dan Aktivitas Biologinya, Biofarmasi, Vol. 1 (2).

Ohaeri, O.C., 2001, Effect of garlic oil on the levels of various enzymes in the serum and tissue of streptozotocin diabetic rats, Bioscience Report, 21 (1): 19 –24.

Zhang, X.H., D. Lowe, P. Giles, S. Fell, M. J. Connock, dan D. J. Maslin, 2001, Gender may affect the action of garlic oil on plasma cholesterol and glucose levels of normal subjects, Journal of Nutrition, 131: 1471–1478.