KOMUNIKASI PADA PASIEN AIDS - ElrinAlria
KOMUNIKASI PADA PASIEN AIDS

KOMUNIKASI DAN KONSELING FARMASI KOMUNIKASI PADA PASIEN AIDS

A. Pengertian Komunikasi 

Komunikasi merupakan suatu hubungan atau kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan masalah hubungan atau dapat diartikan sebagai saling tukar-menukar pendapat serta dapat diartikan hubungan kontak antara manusia baik individu maupun kelompok. Komunikasi adalah elemen dasar dari interaksi antar manusia yang memungkinkan seseorang untuk menetapkan, mempertahankan, dan meningkatkan kontak dengan orang lain. 

B. Pengertian Penyakit AIDS

AIDS adalah kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV). Virus HIV ditemukan dalam cairan tubuh terutama pada darah, cairan sperma, cairan vagina, air susu ibu. Virus tersebut merusak sistem kekebalan tubuh manusia dan mengakibatkan turunnya atau hilangnya daya tahan tubuh sehingga mudah terjangkit penyakit infeksi.

C. Etiologi Penyakit AIDS

Penyebab penyakit HIV/AIDS adalah Human Immunodeficiency Virus, yaitu virus yang menyebabkan penurunan daya kekebalan tubuh.HIV termasuk genus retrovirus dan tergolong ke dalam family lentivirus. Infeksi dari family lentivirus ini khas ditandai dengan sifat latennya yang lama, masa inkubasi yang lama, replikasi virus yang persisten dan keterlibatan dari susunan saraf pusat (SSP). Sedangkan ciri khas untuk jenis retrovirus yaitu : dikelilingi oleh membran lipid, mempunyai kemampuan variasi genetik yang tinggi, mempunyai cara yang unik untuk replikasi serta dapat menginfeksi seluruh jenis vertebra.

Perjalanan infeksi HIV ditandai dalam tiga tahap: penyakit primer akut, penyakit kronis asimtomatis dan penyakit kronis simtomatis. 

Infeksi Primer (sindrom retroviral akut)
Setelah terjadi infeksi HIV mula-mula bereplikasi dalam kelenjar limfe regional. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya peningkatan jumlah virus secara cepat di dalam plasma, biasanya lebih dari 1 juta copy/µl. Tahap ini disertai dengan penyebaran HIV ke organ limfoid, saluran cerna dan saluran genital. Setelah mencapai puncak viremia, jumlah virus atau viral load menurun bersamaan dengan berkembangnya respon imunitas seluler. Puncak viral load dan perkembangan respon imunitas seluler berhubungan dengan kondisi penyakit yang simptomatik pada 60 hingga 90% pasien. Penyakit ini muncul dalam kurun waktu 3 bulan setelah infeksi. Penyakit ini menyerupai ‘glandular fever’ like illness dengan ruam, demam, nyeri kepala, malaise dan limfadenopati luas. Sementara itu tingginya puncak viral load selama infeksi primer tidak menggambarkan perkembangan penyakit tapi terkait dengan beratnya keluhan yang menandakan prognosis yang jelek. Fase ini mereda secara spontan dalam 14 hari. 

Infeksi HIV Asimptomatis/ dini 
Dengan menurunnya penyakit primer, pada kebanyakan pasien diikuti dengan masa asimtomatis yang lama, namun selama masa tersebut replikasi HIV terus berlanjut dan terjadi kerusakan sistem imun. Beberapa pasien mengalami limfadenopati generalisata persisten sejak terjadinya serokonversi (perubahan tes antibodi HIV yang semula negatif menjadi positif) perubahan akut (dikenal dengan limfadenopati pada dua lokasi non-contiguous dengan sering melibatkan rangkaian kelenjar ketiak, servikal, dan inguinal). Komplikasi kelainan kulit dapat terjadi seperti dermatitis seboroik terutama pada garis rambut atau lipatan nasolabial, dan munculnya atau memburuknya psoriasis. Kondisi yang berhubungan dengan aktivasi imunitas, seperti purpura trombositopeni idiopatik, polimiositis, sindrom Guillain-Barre dan Bell’s palsy dapat juga muncul pada stadium ini.

Infeksi Simptomatik/ antara
Komplikasi kelainan kulit, selaput lendir mulut dan gejala konstitusional lebih sering terjadi pada tahap ini. Meskipun dalam perjalanannya jarang berat atau serius, komplikasi ini dapat menyulitkan pasien. Penyakit kulit seperti herpes zoster, folikulitis bakterial, folikulitis eosinofilik, moluskum kontagiosum, dermatitis seboroik, psoriasis dan ruam yang tidak diketahui sebabnya, sering dan mungkin resisten terhadap pengobatan standar. Kutil sering muncul baik pada kulit maupun pada daerah anogenital dan mungkin resisten terhadap terapi. Sariawan sering juga muncul pada stadium ini. Seperti juga halnya kandidiasis oral, oral hairy leukoplakia, dan eritema ginggivalis (gusi) linier. Gingivitis ulesartif nekrotik akut, merupakan komplikasi oral yang sulit diobati. Gejala konstitusional yang mungkin berkembang seperti demam, berkurangnya berat badan, kelelahan, nyeri otot, nyeri sendi dan nyeri kepala. Diare berulang dapat terjadi dan dapat menjadi masalah. Sinusitis bakterial merupakan manifestasi yang sering terjadi. Nefropati (kelainan ginjal) HIV dapat juga terjadi pada stadium ini.

Stadium Lanjut
Penyakit stadium lanjut ditandai oleh suatu penyakit yang berhubungan dengan penurunan imunitas yang serius. Keadaan tersebut disebut sebagai infeksi oportunistik. 

D. Perkembangan Infeksi AIDS

Kecepatan perkembangan penyakit bervariasi antar individu, berkisar antara 6 bulan hingga lebih 20 tahun. Waktu yang diperlukan untuk berkembang menjadi AIDS adalah sekitar 10 tahun, bila tanpa terapi antiretroviral. Dalam 5 tahun, sekitar 30% ODHA dewasa akan berkembang menjadi AIDS kecuali bila diobati dengan ARV. 

Tanda Perkembangan HIV 
- Jumlah CD4
Kecepatan penurunan CD4 (baik jumlah absolut maupun persentase CD4) telah terbukti dapat dipakai sebagai petunjuk perkembangan penyakit AIDS. Jumlah CD4 menurun secara bertahap selama perjalanan penyakit. Kecepatan penurunannya dari waktu ke waktu rata-rata 100 sel/tahun. Jumlah CD4 lebih menggambarkan progresifitas AIDS dibandingkan dengan tingkat viral load, meskipun nilai prediktif dari viral load akan meningkat seiring dengan lama infeksi. 

- Viral Load Plasma
Kecepatan peningkatan Viral load (bukan jumlah absolut virus) dapat dipakai untuk memperkirakan perkembangan infeksi HIV. Viral load meningkat secara bertahap dari waktu ke waktu. Pada 3 tahun pertama setelah terjadi serokonversi, viral load berubah seolah hanya pada pasien yang berkembang ke arah AIDS pada masa tersebut. Setelah masa tersebut, perubahan viral load dapat dideteksi, baik akselerasinya maupun jumlah absolutnya, baru keduanya dapat dipakai sebagai petanda progresivitas penyakit.


E. Diagnosis Penyakit AIDS

Diagnosis infeksi HIV biasanya dilakukan secara tidak langsung, yaitu dengan menunjukkan adanya antibodi spesifik. Berbeda dengan virus lain, antibodi tersebut tidak mempunyai efek perlindungan. Pemeriksaan secara langsung juga dapat dilakukan, yaitu antara lain dengan melakukan biakan virus, antigen virus (p24), asam nukleat virus.

Pemeriksaan adanya antibodi spesifik dapat dilakukan dengan Rapid Test, Enzime Linked Sorbent Assay (ELISA) dan Western Blot. Sesuai dengan pedoman nasional, diagnosis HIV dapat ditegakkan dengan 3 jenis pemeriksaan Rapid Test yang berbeda atau 2 jenis pemeriksaan Rapid Test yang berbeda dan 1 pemeriksaan ELISA.

Setelah mendapat infeksi HIV, biasanya antibodi baru terdeteksi setelah 3 – 12 minggu, dan masa sebelum terdeteksinya antibodi tersebut dikenal sebagai “periode jendela”. Tes penyaring (antibodi) yang digunakan saat ini dapat mengenal infeksi HIV 6 minggu setelah infeksi primer pada sekitar 80% kasus, dan setelah 12 minggu pada hampir 100% kasus. Sehingga untuk mendiagnosis HIV pada periode jendela dapat dilakukan dengan pemeriksaan antigen p24 maupun Polymerase Chain Reaction (PCR). 

F. Stadium Klinis HIV/AIDS

WHO telah menetapkan Stadium Klinis HIV/AIDS untuk dewasa maupun anak yang sedang direvisi. Untuk dewasa maupun anak, stadium klinis HIV/AIDS masing-masing terdiri dari 4 stadium. Jika dilihat dari gejala yang terjadi pembagian stadium klinis HIV/AIDS adalah sebagai berikut :
KOMUNIKASI PADA PASIEN AIDS


a. Stadium Klinis HIV/AIDS Untuk Dewasa dan Remaja
Stadium klinis HIV/AIDS untuk dewasa dan remaja yaitu:

1. Infeksi primer HIV
  • Asimptomatik
  • Sindroma retroviral akut

2. Stadium klinis 1
  • Asimptomatik
  • Limfadenopati meluas persisten

3. Stadium klinis 2
  • Berat badan menurun yang sebabnya tidak dapat dijelaskan
  • Infeksi saluran napas berulang (sinusitis, tonsillitis, bronchitis, otitis media, faringitis)
  • Herpes zoster
  • Cheilits angularis
  • Ulkus mulut berulang
  • Pruritic papular eruption (PPE)
  • Dermatitis seboroika
  • Infeksi jamur kuku

4. Stadium klinis 3
  • Berat badan menurun yang tidak dapat dijelaskan sebabnya (>10%)
  • Diare kronis yang tidak dapat dijelaskan sebabnya lebih dari 1 bulan
  • Demam yang tidak diketahui sebabnya (intermiten meupun tetap selama lebih dari 1 bulan)
  • Kandidiasis oral persisten
  • Oral hairy leukoplakia
  • Tuberkolosis (TB) paru
  • Infeksi bakteri yang berat (empiema, piomiositis, infeksi tulang atau sendi, meningitis, bakteriemi selain pneumonia)
  • Stomatitis, gingivitis atau periodontitis ulseratif nekrotikans yang akut
  • Anemia (Hb < 8 g/dL), netropeni (<500/mm3), dan/atau trombositopeni kronis (<50.000/mm3) yang tidak dapat diterangkan penyebabnya

5. Stadium klinis 4
  • HIV wasting syndrome (berat badan berkurang >10% dari BB semula, disertai salah satu dari diare kronik tanpa penyebab yang jelas (>1 bulan) atau kelemahan kronik dan demam berkepanjangan tanpa penyebab yang jelas). 
  • Pneumonia pneumocystis
  • Pneumonia bakteri berat yang berulang
  • Infeksi herpes simpleks kronis (orolabial, anorektal atau genital lebih dari sebulan atau viseral dimanapun) 
  • Kandidiasis esofagus (atau di trakea, bronkus atau paru)
  • Tuberkulosis ekstra paru
  • Sarkoma Kaposi
  • Infeksi Cytomegalovirus (retinistis atau infeksi organ lain)
  • Toksoplasmosis susunan saraf pusat
  • Ensefalopati HIV 
  • Kriptokokus ekstra paru termasuk meningitis 
  • Infeksi mikobakterium non-tuberkulosis yang luas (diseminata)
  • Progressive multifocal leucoencephalopathy
  • Kriptosporidiosis kronis
  • Isosporiosis kronis
  • Mikosis diseminata (histoplasmosis, koksidioidomikosis, penisiliosis ekstra paru)
  • Septikemi berulang (termasuk salmonella non-tifoid)
  • Limfoma (otak atau non-Hodgkin sel B)
  • Karsinoma serviks invasif
  • Leishmaniasis diseminata atipikal

b. Stadium Klinis HIV/AIDS Untuk Bayi Dan Anak 
Stadium Klinis HIV/AIDS untuk bayi dan anak adalah sebagai berikut :

1. Infeksi primer HIV 
  • Asimptomatik (intra, peri atau post partum) 
  • Sindroma retroviral akut

2. Stadium Klinis 1
  • Asimptomatik
  • Limfadenopati meluas persisten 

3. Stadium Klinis 2 
  • Hepatomegali persisten yang tidak dapat dijelaskan sebabnya
  • Pruritic papular eruption (PPE)
  • Infeksi virus (wart) yang ekstensif
  • Moluscum contagiosum yang ekstensif
  • Ulkus mulut berulang
  • Pembesaran parotis persisten yang tidak dapat dijelaskan sebabnya
  • Eritema gingiva lineal
  • Herpes zoster 
  • Infeksi saluran napas atas kronis atau berulang (otitis media, otorrhoe, sinusitis, tonsilitis) 
  • Infeksi jamur kuku

4. Stadium Klinis 3
  • Malnutrisi sedang yang tidak dapat dijelaskan sebabnya dan tidak respons terhadap terapi standar 
  • Diare persisten yang tidak dapat dijelaskan sebabnya lebih dari 14 hari
  • Demam persisten yang tidak diketahui sebabnya (> 37,5oC intermiten maupun tetap selama lebih dari 1 bulan) 
  • Kandidiasis oral persisten (setelah umur 6 – 8 minggu)
  • Oral hairy leukoplakia
  • Gingivitis atau periodontitis ulseratif nekrotikans yang akut
  • TB kelenjar
  • Tuberkulosis (TB) paru
  • Pneumonia bakteri berulang yang berat
  • Pneumonitis interstitial limfoid simptomatik
  • Penyakit paru kronis yang terkait HIV, termasuk bronkiektasis
  • Anemi (Hb < 8 g/dL), netropeni (< 500/mm3), dan/atau trombositopeni kronis (< 50.000/mm3) yang tak dapat diterangkan sebabnya m) Kardiomiopati atau nefropati terkait HIV 

5. Stadium Klinis 4
  • Gangguan tumbuh kembang yang berat yang tidak dapat dijelaskan sebabnya atau wasting yang tidak respons terhadap terapi standar.
  • Pneumonia pneumocystis
  • Infeksi bakteri berat yang berulang (empiema, piomiositis, infeksi tulang atau sendi, meningitis selain pneumonia)
  • Infeksi herpes simpleks kronis (orolabial, anorektal atau genital lebih dari 1 bulan atau viseral dimanapun)
  • Tuberkulosis ekstra paru
  • Sarkoma Kaposi
  • Kandidiasis esofagus (atau di trakea, bronkus atau paru)
  • Toksoplasmosis susunan saraf pusat (setelah usia 1 bulan)
  • Ensefalopati HIV
  • Infeksi Cytomegalovirus (retinitis atau infeksi organ lain) (setelah usia 1 bulan)
  • Kriptokokus ekstra paru termasuk meningitis 
  • Mikosis endemik diseminata (histoplasmosis, koksidioidomikosis, penisiliosis ekstra paru) 
  • Kriptosporidiosis kronis
  • Isosporiosis kronis
  • Infeksi mikobakterium non-tuberkulosis yang luas (diseminata)
  • Fistula rektum yang terkait HIV 
  • Tumor terkait HIV termasuk limfoma otak atau non-Hodgkin sel B 
  • Progressive multifocal leucoencephalopathy


G. Peran Apoteker dalam Penanggulangan HIV/AIDS

Penggunaan obat antiretroviral menunjukkan keberhasilan dalam menekan jumlah virus yang ada pada penderita infeksi HIV/AIDS. Untuk mendapatkan keberhasilan terapi antiretroviral membutuhkan penanganan secara terpadu, dimana apoteker sebagai tenaga kesehatan memegang peranan yang cukup penting untuk keberhasilan pelaksanaan terapi antiretroviral. Di dalam POKJA HIV/AIDS di rumah sakit, apoteker berperan dalam :
  • Pengelolaan persediaan obat antiretroviral dan obat pendukung lainnya
  • Pemberian informasi obat
  • Konseling obat

KOMUNIKASI PADA PASIEN AIDS

KOMUNIKASI PADA PASIEN AIDS

KOMUNIKASI DAN KONSELING FARMASI KOMUNIKASI PADA PASIEN AIDS

A. Pengertian Komunikasi 

Komunikasi merupakan suatu hubungan atau kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan masalah hubungan atau dapat diartikan sebagai saling tukar-menukar pendapat serta dapat diartikan hubungan kontak antara manusia baik individu maupun kelompok. Komunikasi adalah elemen dasar dari interaksi antar manusia yang memungkinkan seseorang untuk menetapkan, mempertahankan, dan meningkatkan kontak dengan orang lain. 

B. Pengertian Penyakit AIDS

AIDS adalah kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV). Virus HIV ditemukan dalam cairan tubuh terutama pada darah, cairan sperma, cairan vagina, air susu ibu. Virus tersebut merusak sistem kekebalan tubuh manusia dan mengakibatkan turunnya atau hilangnya daya tahan tubuh sehingga mudah terjangkit penyakit infeksi.

C. Etiologi Penyakit AIDS

Penyebab penyakit HIV/AIDS adalah Human Immunodeficiency Virus, yaitu virus yang menyebabkan penurunan daya kekebalan tubuh.HIV termasuk genus retrovirus dan tergolong ke dalam family lentivirus. Infeksi dari family lentivirus ini khas ditandai dengan sifat latennya yang lama, masa inkubasi yang lama, replikasi virus yang persisten dan keterlibatan dari susunan saraf pusat (SSP). Sedangkan ciri khas untuk jenis retrovirus yaitu : dikelilingi oleh membran lipid, mempunyai kemampuan variasi genetik yang tinggi, mempunyai cara yang unik untuk replikasi serta dapat menginfeksi seluruh jenis vertebra.

Perjalanan infeksi HIV ditandai dalam tiga tahap: penyakit primer akut, penyakit kronis asimtomatis dan penyakit kronis simtomatis. 

Infeksi Primer (sindrom retroviral akut)
Setelah terjadi infeksi HIV mula-mula bereplikasi dalam kelenjar limfe regional. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya peningkatan jumlah virus secara cepat di dalam plasma, biasanya lebih dari 1 juta copy/µl. Tahap ini disertai dengan penyebaran HIV ke organ limfoid, saluran cerna dan saluran genital. Setelah mencapai puncak viremia, jumlah virus atau viral load menurun bersamaan dengan berkembangnya respon imunitas seluler. Puncak viral load dan perkembangan respon imunitas seluler berhubungan dengan kondisi penyakit yang simptomatik pada 60 hingga 90% pasien. Penyakit ini muncul dalam kurun waktu 3 bulan setelah infeksi. Penyakit ini menyerupai ‘glandular fever’ like illness dengan ruam, demam, nyeri kepala, malaise dan limfadenopati luas. Sementara itu tingginya puncak viral load selama infeksi primer tidak menggambarkan perkembangan penyakit tapi terkait dengan beratnya keluhan yang menandakan prognosis yang jelek. Fase ini mereda secara spontan dalam 14 hari. 

Infeksi HIV Asimptomatis/ dini 
Dengan menurunnya penyakit primer, pada kebanyakan pasien diikuti dengan masa asimtomatis yang lama, namun selama masa tersebut replikasi HIV terus berlanjut dan terjadi kerusakan sistem imun. Beberapa pasien mengalami limfadenopati generalisata persisten sejak terjadinya serokonversi (perubahan tes antibodi HIV yang semula negatif menjadi positif) perubahan akut (dikenal dengan limfadenopati pada dua lokasi non-contiguous dengan sering melibatkan rangkaian kelenjar ketiak, servikal, dan inguinal). Komplikasi kelainan kulit dapat terjadi seperti dermatitis seboroik terutama pada garis rambut atau lipatan nasolabial, dan munculnya atau memburuknya psoriasis. Kondisi yang berhubungan dengan aktivasi imunitas, seperti purpura trombositopeni idiopatik, polimiositis, sindrom Guillain-Barre dan Bell’s palsy dapat juga muncul pada stadium ini.

Infeksi Simptomatik/ antara
Komplikasi kelainan kulit, selaput lendir mulut dan gejala konstitusional lebih sering terjadi pada tahap ini. Meskipun dalam perjalanannya jarang berat atau serius, komplikasi ini dapat menyulitkan pasien. Penyakit kulit seperti herpes zoster, folikulitis bakterial, folikulitis eosinofilik, moluskum kontagiosum, dermatitis seboroik, psoriasis dan ruam yang tidak diketahui sebabnya, sering dan mungkin resisten terhadap pengobatan standar. Kutil sering muncul baik pada kulit maupun pada daerah anogenital dan mungkin resisten terhadap terapi. Sariawan sering juga muncul pada stadium ini. Seperti juga halnya kandidiasis oral, oral hairy leukoplakia, dan eritema ginggivalis (gusi) linier. Gingivitis ulesartif nekrotik akut, merupakan komplikasi oral yang sulit diobati. Gejala konstitusional yang mungkin berkembang seperti demam, berkurangnya berat badan, kelelahan, nyeri otot, nyeri sendi dan nyeri kepala. Diare berulang dapat terjadi dan dapat menjadi masalah. Sinusitis bakterial merupakan manifestasi yang sering terjadi. Nefropati (kelainan ginjal) HIV dapat juga terjadi pada stadium ini.

Stadium Lanjut
Penyakit stadium lanjut ditandai oleh suatu penyakit yang berhubungan dengan penurunan imunitas yang serius. Keadaan tersebut disebut sebagai infeksi oportunistik. 

D. Perkembangan Infeksi AIDS

Kecepatan perkembangan penyakit bervariasi antar individu, berkisar antara 6 bulan hingga lebih 20 tahun. Waktu yang diperlukan untuk berkembang menjadi AIDS adalah sekitar 10 tahun, bila tanpa terapi antiretroviral. Dalam 5 tahun, sekitar 30% ODHA dewasa akan berkembang menjadi AIDS kecuali bila diobati dengan ARV. 

Tanda Perkembangan HIV 
- Jumlah CD4
Kecepatan penurunan CD4 (baik jumlah absolut maupun persentase CD4) telah terbukti dapat dipakai sebagai petunjuk perkembangan penyakit AIDS. Jumlah CD4 menurun secara bertahap selama perjalanan penyakit. Kecepatan penurunannya dari waktu ke waktu rata-rata 100 sel/tahun. Jumlah CD4 lebih menggambarkan progresifitas AIDS dibandingkan dengan tingkat viral load, meskipun nilai prediktif dari viral load akan meningkat seiring dengan lama infeksi. 

- Viral Load Plasma
Kecepatan peningkatan Viral load (bukan jumlah absolut virus) dapat dipakai untuk memperkirakan perkembangan infeksi HIV. Viral load meningkat secara bertahap dari waktu ke waktu. Pada 3 tahun pertama setelah terjadi serokonversi, viral load berubah seolah hanya pada pasien yang berkembang ke arah AIDS pada masa tersebut. Setelah masa tersebut, perubahan viral load dapat dideteksi, baik akselerasinya maupun jumlah absolutnya, baru keduanya dapat dipakai sebagai petanda progresivitas penyakit.


E. Diagnosis Penyakit AIDS

Diagnosis infeksi HIV biasanya dilakukan secara tidak langsung, yaitu dengan menunjukkan adanya antibodi spesifik. Berbeda dengan virus lain, antibodi tersebut tidak mempunyai efek perlindungan. Pemeriksaan secara langsung juga dapat dilakukan, yaitu antara lain dengan melakukan biakan virus, antigen virus (p24), asam nukleat virus.

Pemeriksaan adanya antibodi spesifik dapat dilakukan dengan Rapid Test, Enzime Linked Sorbent Assay (ELISA) dan Western Blot. Sesuai dengan pedoman nasional, diagnosis HIV dapat ditegakkan dengan 3 jenis pemeriksaan Rapid Test yang berbeda atau 2 jenis pemeriksaan Rapid Test yang berbeda dan 1 pemeriksaan ELISA.

Setelah mendapat infeksi HIV, biasanya antibodi baru terdeteksi setelah 3 – 12 minggu, dan masa sebelum terdeteksinya antibodi tersebut dikenal sebagai “periode jendela”. Tes penyaring (antibodi) yang digunakan saat ini dapat mengenal infeksi HIV 6 minggu setelah infeksi primer pada sekitar 80% kasus, dan setelah 12 minggu pada hampir 100% kasus. Sehingga untuk mendiagnosis HIV pada periode jendela dapat dilakukan dengan pemeriksaan antigen p24 maupun Polymerase Chain Reaction (PCR). 

F. Stadium Klinis HIV/AIDS

WHO telah menetapkan Stadium Klinis HIV/AIDS untuk dewasa maupun anak yang sedang direvisi. Untuk dewasa maupun anak, stadium klinis HIV/AIDS masing-masing terdiri dari 4 stadium. Jika dilihat dari gejala yang terjadi pembagian stadium klinis HIV/AIDS adalah sebagai berikut :
KOMUNIKASI PADA PASIEN AIDS


a. Stadium Klinis HIV/AIDS Untuk Dewasa dan Remaja
Stadium klinis HIV/AIDS untuk dewasa dan remaja yaitu:

1. Infeksi primer HIV
  • Asimptomatik
  • Sindroma retroviral akut

2. Stadium klinis 1
  • Asimptomatik
  • Limfadenopati meluas persisten

3. Stadium klinis 2
  • Berat badan menurun yang sebabnya tidak dapat dijelaskan
  • Infeksi saluran napas berulang (sinusitis, tonsillitis, bronchitis, otitis media, faringitis)
  • Herpes zoster
  • Cheilits angularis
  • Ulkus mulut berulang
  • Pruritic papular eruption (PPE)
  • Dermatitis seboroika
  • Infeksi jamur kuku

4. Stadium klinis 3
  • Berat badan menurun yang tidak dapat dijelaskan sebabnya (>10%)
  • Diare kronis yang tidak dapat dijelaskan sebabnya lebih dari 1 bulan
  • Demam yang tidak diketahui sebabnya (intermiten meupun tetap selama lebih dari 1 bulan)
  • Kandidiasis oral persisten
  • Oral hairy leukoplakia
  • Tuberkolosis (TB) paru
  • Infeksi bakteri yang berat (empiema, piomiositis, infeksi tulang atau sendi, meningitis, bakteriemi selain pneumonia)
  • Stomatitis, gingivitis atau periodontitis ulseratif nekrotikans yang akut
  • Anemia (Hb < 8 g/dL), netropeni (<500/mm3), dan/atau trombositopeni kronis (<50.000/mm3) yang tidak dapat diterangkan penyebabnya

5. Stadium klinis 4
  • HIV wasting syndrome (berat badan berkurang >10% dari BB semula, disertai salah satu dari diare kronik tanpa penyebab yang jelas (>1 bulan) atau kelemahan kronik dan demam berkepanjangan tanpa penyebab yang jelas). 
  • Pneumonia pneumocystis
  • Pneumonia bakteri berat yang berulang
  • Infeksi herpes simpleks kronis (orolabial, anorektal atau genital lebih dari sebulan atau viseral dimanapun) 
  • Kandidiasis esofagus (atau di trakea, bronkus atau paru)
  • Tuberkulosis ekstra paru
  • Sarkoma Kaposi
  • Infeksi Cytomegalovirus (retinistis atau infeksi organ lain)
  • Toksoplasmosis susunan saraf pusat
  • Ensefalopati HIV 
  • Kriptokokus ekstra paru termasuk meningitis 
  • Infeksi mikobakterium non-tuberkulosis yang luas (diseminata)
  • Progressive multifocal leucoencephalopathy
  • Kriptosporidiosis kronis
  • Isosporiosis kronis
  • Mikosis diseminata (histoplasmosis, koksidioidomikosis, penisiliosis ekstra paru)
  • Septikemi berulang (termasuk salmonella non-tifoid)
  • Limfoma (otak atau non-Hodgkin sel B)
  • Karsinoma serviks invasif
  • Leishmaniasis diseminata atipikal

b. Stadium Klinis HIV/AIDS Untuk Bayi Dan Anak 
Stadium Klinis HIV/AIDS untuk bayi dan anak adalah sebagai berikut :

1. Infeksi primer HIV 
  • Asimptomatik (intra, peri atau post partum) 
  • Sindroma retroviral akut

2. Stadium Klinis 1
  • Asimptomatik
  • Limfadenopati meluas persisten 

3. Stadium Klinis 2 
  • Hepatomegali persisten yang tidak dapat dijelaskan sebabnya
  • Pruritic papular eruption (PPE)
  • Infeksi virus (wart) yang ekstensif
  • Moluscum contagiosum yang ekstensif
  • Ulkus mulut berulang
  • Pembesaran parotis persisten yang tidak dapat dijelaskan sebabnya
  • Eritema gingiva lineal
  • Herpes zoster 
  • Infeksi saluran napas atas kronis atau berulang (otitis media, otorrhoe, sinusitis, tonsilitis) 
  • Infeksi jamur kuku

4. Stadium Klinis 3
  • Malnutrisi sedang yang tidak dapat dijelaskan sebabnya dan tidak respons terhadap terapi standar 
  • Diare persisten yang tidak dapat dijelaskan sebabnya lebih dari 14 hari
  • Demam persisten yang tidak diketahui sebabnya (> 37,5oC intermiten maupun tetap selama lebih dari 1 bulan) 
  • Kandidiasis oral persisten (setelah umur 6 – 8 minggu)
  • Oral hairy leukoplakia
  • Gingivitis atau periodontitis ulseratif nekrotikans yang akut
  • TB kelenjar
  • Tuberkulosis (TB) paru
  • Pneumonia bakteri berulang yang berat
  • Pneumonitis interstitial limfoid simptomatik
  • Penyakit paru kronis yang terkait HIV, termasuk bronkiektasis
  • Anemi (Hb < 8 g/dL), netropeni (< 500/mm3), dan/atau trombositopeni kronis (< 50.000/mm3) yang tak dapat diterangkan sebabnya m) Kardiomiopati atau nefropati terkait HIV 

5. Stadium Klinis 4
  • Gangguan tumbuh kembang yang berat yang tidak dapat dijelaskan sebabnya atau wasting yang tidak respons terhadap terapi standar.
  • Pneumonia pneumocystis
  • Infeksi bakteri berat yang berulang (empiema, piomiositis, infeksi tulang atau sendi, meningitis selain pneumonia)
  • Infeksi herpes simpleks kronis (orolabial, anorektal atau genital lebih dari 1 bulan atau viseral dimanapun)
  • Tuberkulosis ekstra paru
  • Sarkoma Kaposi
  • Kandidiasis esofagus (atau di trakea, bronkus atau paru)
  • Toksoplasmosis susunan saraf pusat (setelah usia 1 bulan)
  • Ensefalopati HIV
  • Infeksi Cytomegalovirus (retinitis atau infeksi organ lain) (setelah usia 1 bulan)
  • Kriptokokus ekstra paru termasuk meningitis 
  • Mikosis endemik diseminata (histoplasmosis, koksidioidomikosis, penisiliosis ekstra paru) 
  • Kriptosporidiosis kronis
  • Isosporiosis kronis
  • Infeksi mikobakterium non-tuberkulosis yang luas (diseminata)
  • Fistula rektum yang terkait HIV 
  • Tumor terkait HIV termasuk limfoma otak atau non-Hodgkin sel B 
  • Progressive multifocal leucoencephalopathy


G. Peran Apoteker dalam Penanggulangan HIV/AIDS

Penggunaan obat antiretroviral menunjukkan keberhasilan dalam menekan jumlah virus yang ada pada penderita infeksi HIV/AIDS. Untuk mendapatkan keberhasilan terapi antiretroviral membutuhkan penanganan secara terpadu, dimana apoteker sebagai tenaga kesehatan memegang peranan yang cukup penting untuk keberhasilan pelaksanaan terapi antiretroviral. Di dalam POKJA HIV/AIDS di rumah sakit, apoteker berperan dalam :
  • Pengelolaan persediaan obat antiretroviral dan obat pendukung lainnya
  • Pemberian informasi obat
  • Konseling obat