MAKALAH AMPUL - ElrinAlria
MAKALAH
FORMULASI DAN TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL
“AMPUL”
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sediaan steril adalah bentuk sediaan obat dalam bentuk terbagi-bagi yang bebas dari mikroorganisme hidup, salah satu bentuk sediaan steril adalah injeksi. Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Dimasukkan ke dalam tubuh dengan menggunakan alat suntik. 
MAKALAH AMPUL

Suatu sediaan parenteral harus steril karena sediaan ini unik yang diinjeksikan atau disuntikkan melalui kulit atau membran mukosa ke dalam kompartemen tubuh yang paling dalam. Sediaan parenteral memasuki pertahanan tubuh yang memiliki efesiensi tinggi yaitu kulit dan membran mukosa sehingga sediaan parenteral harus bebas dari kontaminasi mikroba dan bahan beracun dan juga harus memiliki kemurnian yang dapat diterima.

Steril adalah keadaan suatu zat yang bebas dari mikroba hidup, baik yang patogen (menimbulkan penyakit) maupun nonpatogen (tidak menimbulkan penyakit), baik dalam bentuk vegetatif (siap untuk berkembang biak) maupun dalam bentuk spora (dalam keadaan statis tidak dapat berkembang biak, tetapi melindungi diri dengan lapisan pelindung yang kuat), namun tidak semua mikroba dapat merugikan, misalnya mikroba yang terdapat dalam usus yang dapat membusukkan sisa makanan yang tidak terserap oleh tubuh. Mikroba patogen misalnya Salmonella thyposa yang menyebabkan penyakit tifus dan E. Coli yang menyebabkan sakit perut. Sterilisasi adalah suatu proses untuk membuat ruang atau benda menadi steril. Sanitasi adalah suatu proses untuk membuat lingkungan menjadi sehat.

1.2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini yaitu :
  1. Definisi sediaan injeksi steril? 
  2. Definisi sediaan ampul? 
  3. Komposisi sediaan dan contoh bahan-bahan yang dapat digunakan? 
  4. Syarat – syarat sediaan injeksi? 
  5. Keuntungan dan kerugian sediaan injeksi? 
  6. Metode pembuatan sediaan ampul? 
  7. Pewadahan dan cara sterilisasi sediaan ampul? 
  8. Evaluasi sediaan ampul?
  9. Cara penggunaan sediaan ampul?

1.3. Tujuan Penulisan 
Tujuan masalah dalam makalah ini yaitu : 
  1. Untuk mengetahui apa definisi sediaan injeksi steril. 
  2. Untuk mengetahui apa definisi sediaan ampul. 
  3. Untuk mengetahui apa komposisi sediaan dan contoh bahan-bahan yang dapat digunakan. 
  4. Untuk mengetahui syarat – syarat sediaan injeksi. 
  5. Untuk mengetahui keuntungan dan kerugian sediaan injeksi. 
  6. Untuk mengetahui bagaimana metode pembuatan sediaan ampul. 
  7. Untuk mengetahui bagaimana pewadahan sediaan ampul dan cara sterilisasi sediaan ampul. 
  8. Untuk mengetahui bagaimana evaluasi sediaan ampul. 
  9. Untuk mengetahui bagaimana cara penggunaan sediaan ampul. 

1.4. Manfaat
Manfaat dari penyusunan makalah ini adalah :
  1. Dapat mengetahui apa definisi sediaan injeksi steril. 
  2. Dapat mengetahui apa definisi sediaan ampul. 
  3. Dapat mengetahui apa komposisi sediaan dan contoh bahan-bahan yang dapat digunakan. 
  4. Dapat mengetahui syarat – syarat sediaan injeksi. 
  5. Dapat mengetahui keuntungan dan kerugian sediaan injeksi. 
  6. Dapat mengetahui bagaimana metode pembuatan sediaan ampul. 
  7. Dapat mengetahui bagaimana pewadahan sediaan ampul dan cara sterilisasi sediaan ampul. 
  8. Dapat mengetahui bagaimana evaluasi sediaan ampul. 
  9. Dapat mengetahui bagaimana cara penggunaan sediaan ampul. 

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Definisi Sediaan Injeksi Steril
Sediaan steril adalah bentuk sediaan obat dalam bentuk terbagi-bagi yang bebas dari mikroorganisme hidup. Pada prinsipnya, yang termasuk sediaan ini antara lain sediaan parental preparat untuk mata dan preparat irigasi (misalnya infus). Sediaan parenteral adalah jenis sediaan yang unik diantara bentuk sediaan obat terbagi-bagi, karena sediaan ini disuntikkan melalui kulit atau membrane mukosa ke bagian tubuh yang paling efisien, yaitu membrane kulit dan mukosa, maka sediaan ini harus bebas dari kontaminasi mikroba dan dari bahan-bahan toksis lainnya, serta harus memiliki tingkat kemurnian yang tinggi. Semua bahan dan proses yang terlibat dalam pembuatan produk ini harus dipilih dan dirancang untuk menghilangkan semua jenis kontaminasi, apakah kontaminasi fisik, kimia, atau mikrobiologis (Priyambodo, 2007).

Menurut Farmakope Indonesia Edisi III, injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau melalui selaput lendir (Ditjen POM, 1979). Sedangkan menurut Farmakope Indonesia Edisi IV, injeksi adalah injeksi yang dikemas dalam wadah 100 mL atau kurang. Umumnya hanya larutan obat dalam air yang bisa diberikan secara intravena. Suspensi tidak bisa diberikan karena berbahaya yang dapat menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah kapiler (Ditjen POM, 1995).

2.2. Definisi Sediaan Ampul
Ampul adalah wadah berbentuk silindris yang terbuat dari gelas yang memiliki ujung runcing (leher) dan bidang dasar datar. Ukuran nominalnya adalah 1, 2, 5, 10, 20 kadang-kadang juga 25 atau 30 ml. Ampul adalah wadah takaran tunggal, oleh karena total jumlah cairannya ditentukan pemakaian dalam satu kali pemakaiannya untuk satu kali injeksi. Menurut peraturan ampul dibuat dari gelas tidak berwarna, akan tetapi untuk bahan obat peka cahaya dapat dibuat dari bahangelas berwarna coklat tua. Ampul gelas berleher dua ini sangat berkembang pesatsebagai ampul minum untuk pemakaian peroralia (Voigt hal. 464).

Ampul adalah wadah takaran tunggal sehingga penggunaannya untuk satu kali injeksi. Ampul dibuat dari bahan gelas yang tidak berwarna tetapi untuk bahan obat yang peka terhadap cahaya, dapat digunakan dari ampul yang terbuat dari bahan gelas berwarna coklat tua. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam sediaan ampul :
  1. Tidak perlu pengawet karena merupakan takaran tunggal. 
  2. Tidak perlu isotonis3. 
  3. Diisi melalui buret yang ujungnya disterilkan terlebih dahulu dengan alkohol 70 %. 
  4. Buret dibilas dengan larutan obat sebelum diisi 

2.3.Komposisi Sediaan Ampul dan Contoh Bahan-Bahan yang dapat Digunakan
Komposisi dalam produk parenteral dapat termasuk pelarut, pembawa, kosolven, buffer, pengawet, antioksidan, surfaktan, agen kompleks, dan agen pengkhelat. Ampuls digunakan untuk dosis tunggal dan dengan demikian tidak memerlukan pengawet (Swarbrick, 2009). 
1. Zat aktif
Evaluasi menyeluruh dari sifat-sifat zat aktif penting dalam pengembangan bentuk sediaan parenteral yang stabil dan aman. Sifat-sifat tersebut antara lain kecepatan kelarutan obat, sifat fisika obat, ukuran partikel dan pH.

2. Zat tambahan
a. Antioksidan
Garam sulfur dioksi termasuk trisulfit, metabisulfit dan sulfit merupakan antioksidan yang paling umum digunakan pada sediaan parenteral. Antioksidan ini menjaga stabilitas produk dengan lebih dulu teroksidasi dan terjadi secara berangsur-angsur selama masa penyimpanan.

b. Buffer
Produk parenteral harus memiliki kapasitas buffer yang cukup untuk mempertahankan pH. Sistem buffer terdiri dari basa lemah dan garamnya atau asam lemah dan garamnya. Contoh buffer antara lain buffer asetat 1-2 %, sitrat 1-3 %, dan phospate 0,8-2 %.

c. Agen pengkhelat
Agen ini ditambahkan ke kompleks sehingga menonaktifkan logam seperti tembaga, besi dan seng yang umumnya mengkatalisis degradasi oksidatif dari molekul obat. Contohnya antara lain asam sitrat, asam tartrat, dan disodium EDTA 0,01-0,05%.

d. Agen pelarut
Kelarutan obat dapat ditingkatkan dengan penggunaan pelarut seperti etil alkohol, gliserin, propilen glikol.

e. Surfaktan
Surfaktan adalah agen aktif permukaan yang digunakan untuk mendispersikan obat yang tidak larut dalam air sebagai dispersi koloid. Surfaktan digunakan secara ekstensif dalam suspensi parenteral untuk membasahkan serbuk dan memberi kemudahan saat penyuntikan. Contohnya antara lain polyoxyethylene dan sorbitan monooleate.

f. Agen tonisitas
Tonisitas penting untuk larutan injeksi yang akan diberikan secara intravena karena jika larutan tidak isotonik menyebabkan perubahan tekanan osmotik dan pertukaran ion melintasi membran sel darah merah sehingga dapat menyebabkan hemolisis. Contohnya antara lain dextros 4,3% dan sodium klorida 0,5-0,9%.

g. Pembawa
Pembawa air contohnya air untuk injeksi yang merupakan pembawa secara luas digunakan untuk pelarut sediaan parenteral. Pembawa bukan air/campuran pembawa mungkin dibutuhkan untuk stabilitas obat seperti barbiturat yang terhidrolisasi oleh air atau untuk meningkatkan kelarutan obat seperti digoksin.

2.4. Syarat-Syarat Sediaan Injeksi
Syarat – syarat sediaan injeksi yaitu (Agoes, 2013) : 
  1. Secara farmakologi aman 
  2. Steril 
  3. Bebas dari kontaminasi bahan pirogenik 
  4. Bebas dari partikulat asing 
  5. Stabil secara fisika kimi dan mikrobiologi 
  6. Kompatibel dengan obat lain 
  7. Isotonis 

2.5. Keuntungan dan Kerugian Sediaan Injeksi
Keuntungan dan kerugian sediaan injeksi (Syamsuni, 2007 : 228): 
1. Keuntungan
  • Bekerja cepat, misalnya injeksi adrenalin pada syok anafilaktik. 
  • Dapat digunakan untuk obat yang rusak jika terkena cairan lambung, merangsang jika masuk ke cairan lambung atau tidak diabsorpsi baik oleh cairan lambung. 
  • Kemurnian dan takaran zat khasiat lebih terjamin. 
  • Daat digunakan sebagai depo terapi 

2. Kerugian 
  • Karena bekerja cepat, jika teadi kekeliruan sukar dilakukan pencegahan. 
  • Cara pemberian lebih sukar, harus memakai tenaga khusus. 
  • Kemungkinan terjadinya infeksi pada bekas suntikan. 
  • Secara ekonomis lebih mahal dibandingkan dengan sediaan yang digunakan per oral. 

2.6. Metode Pembuatan Sediaan Ampul
Sediaan ampul dibuat dengan proses sebagai berikut :
1. Pembersihan
Pada umumnya, ampul kosong yang dipasarkan dalam keadaan terbuka memiliki leher yang lebar untuk memudahkan pembersihan dan pengisian. Dengan cara pengisian ampul berulang kali dengan cairan pencuci dan akhirnya dikosongkan dapat diperoleh ampul yang bersih dan menjamin bahwa seluruh partikel pengotor dan serpihan gelas telah dihilangkan, Dalam industri kecil, digunakan beberapa alat pencuci dimana ampul-ampul dipasang pada kanula dan air ditekan mengalir kedalam ampul melaui kanula bermantel. Suplai air dihentikan digantikan dengan aliran udara bertekanan yang menekan keluar sisa-sisa air sampai ampul mongering, Dalam industri besar, tersedia mesin-mesin pembersih ampul semiotomatis dan otomatis. Pada mesin pencuci otomatis pembersihan dilakuakan dengan cairan pencuci panas bersuhu 80C bertekanan tinggi (0,4 Mpa, 4 at) dimana serpihan gelas yang melekat erat pada dinding-dinding dan umumnya baru dapat dihilangkan pada saat sterilisasi melalui kerja panas, juga turut tercuci, Setelah dilakukan penyemprotan dengan cairan pencuci umumnya masih diikuti 2xpencucian dengan air pada tekanan yang sama dan diakhiri dengan air suling (0,05 Mpa, 0,5 at) (Voight, 1995).

2. Pengisian
Pengisian ampul dengan larutan obat dilakuakn pada sebuah alat khusus untuk pabrik kecil atau menengah pengisian dilakukan dengan alat torak pengisi yang bekerja secara manual atau elektris. Melalui gerak lengannya larutan yangakan diisikan dihisap oleh sebuah torak kedalam penyemprot penakar dan melalui kebalikan gerak lengan dilakukan pengisiannya (Voight, 1995).

3. Penutupan
Penutupan ampul dapat dilakukan dengan 2 cara. Pertama cara peleburan, dimana semburan nyala api diarahkan pada leher ampul yang terbuka dan ampul ditutup dengan membakar disatu lokasi lehernya sambil diputar kontinyu. Kedua cara tarikan, dimana seluruh alat penutup ampul otomat yang digunakan dalam industri bekerja menurut prinsip ini, Pada alat ini sebuah (atau juga 2 buah) semburan api diarahkan pada bagian tengah leher ampul. Setelah gelas melunak bagian atas leher dijepit dengan sebuah pinset (pada kerja manual), atau dilakukan oleh alat khusus (masinel) kemudian ditarik keatas kemudian ampul dapat ditutup.

2.7. Pewadahan Sediaan Ampul dan Cara Sterilisasi Sediaan Ampul
Produk parenteral dibuat mengikuti prosedur steril mulai dari pemilihan pelarut hingga pengemasan. Bahan pengemas yang biasa digunakan sebagai sediaan steril yaitu gelas, plastik, elastik (karet), metal. Pengemasan sediaan suntik harus mengikuti prosedur aseptis dan steril karena pengemas ini langsung berinteraksi dengan sediaan yang dibuat, termasuk dalam hal ini wadah. Wadah merupakan bagian yang menampung dan melindungi bahan yang telah dibuat (Ansel, 1989).

Wadah obat suntik (termasuk tutupnya) harus tidak berinteraksi dengan sediaan, baik secara fisik maupun kimia karena akan mengubah kekuatan dan efektifitasnya. Bila wadah dibuat dari gelas, maka gelas harus jernih dan tidak berwarna atau berwarna kekuningan, untuk memungkinkan pemeriksaan isinya. Jenis gelas yang sesuai dan dipilih untuk tiap sediaan parenteral biasanya dinyatakan dalam masing-masing monograf. Obat suntik ditempatkan dalam wadah dosis tunggal atau wadah dosis berganda (Ansel, 1989).

Ampul biasanya terbuat dari bahan gelas, tertutup rapat dengan melebur wadah gelas dalam kondisi aseptis. Wadah gelas dibuat mempunyai leher agar dapat dengan mudah dipisahkan dari bagian badan wadah tanpa terjadi serpihan-serpihan gelas. Sebagian besar bagian leher ampul mempunyai tanda berwarna melingkar yang dapat dipatahkan. Bila bagian leher tidak mempunyai tanda berarti bagian pangkal leher harus digergaji dengan gergaji ampul sebelum dipatahkan. Sekali dibuka, ampul tidak dapat ditutup dan digunakan lagi untuk waktu kemudian, karena sterilitas isinya tidak dapat dipertanggungjawabkan lagi.

Tipe wadah yang digunakan untuk kemasan sediaan injeksi antara lain :
1. Gelas
Gelas digunakan untuk sediaan parenteral dikelompokkan dalam tipe I, Tipe II, dan Tipe III (tabel 8). Tipe I adalah mempunyai derajatyang paling tinggi, disusun hampir ekslusif dan barosilikat (silikondioksida), membuatnya resisten secara kimia terhadap kondisi asam dan basa yang ekstrim.

Gelas tipe I, meskipun paling mahal, ini lebih disukai untuk produk terbanyak yang digunakan untuk pengemasan beberapa parenteral. Gelas tipe II adalah gelas soda lime (dibuat dengan natrium sulfit atau sulfida untuk menetralisasi permukaan alkalinoksida), sebaliknya gelas tipe III tidak dibuat dari gelas soda lime. Gelas tipe II danIII digunakan untuk serbuk kering dan sediaan parenteral larutan berminyak. Tipe II dapat digunakan untuk produk dengan pH di bawah 7,0sebaik sediaan asam dan netral. USP XXII memberikan uji untuk tipe-tipegelas berbeda (Martindale, 1982).

2.8. Evaluasi Sediaan Ampul
1. IPC (In Process Control)
1) Uji pH (Ditjen POM, 1995: 1039 – 1040)
Cek pH larutan dengan menggunakan pH meter atau kertas indikator universal. Dengan pH meter : Sebelum digunakan, periksa elektroda dan jembatan garam. Kalibrasi pH meter. Pembakuan pH meter : Bilas elektroda dan sel beberapa kali dengan larutan uji dan isi sel dengan sedikit larutan uji. Baca harga pH. Gunakan air bebas CO2 untuk pelarutan dengan pengenceran larutan uji.

2) Uji Kejernihan (Lachman Edisi III hal. 1355)
Pemeriksaan dilakukan secara visual biasanya dilakukan oleh seseorang yang memeriksa wadah bersih dari luar di bawah penerangan cahay yang baik, terhalang terhadap refleksi ke dalam matanya, dan berlatar belakang hitam dan putih, dengan rangkaian isi dijalankan dengan suatu aksi memutar, harus benar-benar bebas dari partikel kecil yang dapat dilihat dengan mata.

2. QC (Quality Control)
1) Uji pH (Ditjen POM, 1995: 1039 – 1040)
Cek pH larutan dengan menggunakan pH meter atau kertas indikator universal. Dengan pH meter : Sebelum digunakan, periksa elektroda dan jembatan garam. Kalibrasi pH meter. Pembakuan pH meter : Bilas elektroda dan sel beberapa kali dengan larutan uji dan isi sel dengan sedikit larutan uji. Baca harga pH. Gunakan air bebas CO2 untuk pelarutan dengan pengenceran larutan uji.

2) Uji Kejernihan (Lachman Edisi III hal. 1355 )
Pemeriksaan dilakukan secara visual biasanya dilakukan oleh seseorang yang memeriksa wadah bersih dari luar di bawah penerangan cahaya yang baik, terhalang terhadap refleksi ke dalam matanya, dan berlatar belakang hitam dan putih, dengan rangkaian isi dijalankan dengan suatu aksi memutar, harus benar-benar bebas dari partikel kecil yang dapat dilihat dengan mata.


3) Uji Keseragaman Volume (Ditjen POM, 1995: 1044 )
Diletakkan pada permukaan yang rata secara sejajar lalu dilihat keseragaman volume secara visual.

4) Uji Kebocoran (Lachman Edisi III hal 1354)
Tidak dilakukan untuk vial dan botol karena tutup karetnya tidak kaku. Uji kebocoran; Letakkan ampul di dalam zat warna (biru metilen 0,5 – 1%) dalam ruangan vakum. Tekanan atmosfer berikutnya kemudian menyebabkan zat warna berpenetrasi ke dalam lubang, dapt dilihat setelah bagian luar ampul dicuci untuk membersihkan zat warnanya. Catatan penting : jangan ditulis di proposal ujian, uji kebocoran hanya untuk ampul

5) Uji Sterilitas (Ditjen POM, 1995: 855)
Asas : larutan uji + media perbenihan, inkubasi pada 20o – 25oC Kekeruhan / pertumbuhan mikroorganisme (tidak steril)

Metode uji : Teknik penyaringan dengan filter membran (dibagi menjadi 2 bagian) lalu diinkubasi

Prosedur uji: Inokulasi langsung ke dalam media perbenihan. Volume tertentu spesimen ditambah volume tertentu media uji, inkubasi selama tidak kurang dari 14 hari, kemudian amati pertumbuhan secara visual sesering mungkin sekurang-kurangnya pada hari ke-3 atau ke-4 atau ke-5, pada hari ke-7 atau hari ke-8 dan pada hari terakhir dari masa uji.

3. Penetapan Kadar
1) Uji Pirogenitas
Secara biologik (Metode Seibert 1920: USP XII 1942)
Asas : Berdasarkan peningkatan suhu badan kelinci yang telah disuntikkan dengan larutan ≤ 10 mg/Kg BB dalam vena auricularis.

Cara : 
  • a. Setiap penurunan suhu dianggap nol 
  • b. Memenuhi syarat : tak seekor kelinci pun menunjukkan kenaikan suhu 0,5ºC atau lebih 
  • c. Jika ada kelinci dengan kenaikkan suhu 0,5ºC atau lebih, lanjutkan dengan kelinci tambahan 
  • d. Memenuhi syarat : tidak lebih dari 3 ekor kelinci dari 8 kelinci masing-masing menunjukkan kenaikkan suhu 0,5ºC atau lebih dan jumlah kenaikkan suhu maksimal 8 ekor kelinci tidak lebih dari 3,3ºC. 

2.9. Penggunaan Sediaan Ampul
Sediaan ampul dapat digunakan dengan cara sebagai berikut :
  1. Cuci tangan 
  2. Siapkan alat-alat 
  3. Periksa label obat dengan catatan pemberian obat atau kartu obaf sesuai prinsip 5 benar 
  4. Lakukan perhitungan dosis sesuai yang diperlukan 
  5. Pegang ampul dan turunkan cairan di atas leher ampul dengan menjentikkan leher ampul atau putarkan dengan cara merotasjikan pergelangan tangan 
  6. Usapkan kapas alkohol di sekeliling leher ampul dengan tangan dominan, tempatkan jari tangan non dominan di sekeiiling bagian bawah ampul dengan ibu jari melawan sudut. Patahkan tutup ampul dengan menjauhi diri dan orang yang ada di dekat anda. 
  7. Tempatkan tutup ampul pada kertas atau buang di tempat khusus 
  8. Buka tutup jarum 
  9. Tekan plunger hingga habis, jangan aspirasi udara ke dalam spuit 

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah ini yaitu :
  1. Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau melalui selaput lender 
  2. Ampul adalah sediaan dengan wadah takaran tunggal sehingga penggunaannya untuk satu kali injeksi. 
  3. Komposisi dalam sediaan ampul antara lain zat aktif dan zat tambahan seperti pelarut, pembawa, kosolven, buffer, antioksidan, surfaktan, agen kompleks, dan agen pengkhelat. Ampul digunakan untuk dosis tunggal dan dengan demikian tidak memerlukan pengawet. 
  4. Syarat – syarat sediaan injeksi antara lain aman secara farmakologi, steril bebas dari kontaminasi bahan pirogenik, bebas dari partikulat asing, stabil secara fisika kimi dan mikrobiologi, kompatibel dengan obat lain dan isotonis. 
  5. Sediaan injeksi memiliki beberapa keuntungan dan kerugian, seperti yang telah disebutkan pada bab pembahasan. 
  6. Sediaan ampul dibuat dengan proses pembersihan, pengisian dan penutupan. 
  7. Ampul biasanya terbuat dari bahan gelas, tertutup rapat dengan melebur wadah gelas dalam kondisi aseptis. Wadah gelas dibuat mempunyai leher agar dapat dengan mudah dipisahkan dari bagian badan wadah tanpa terjadi serpihan-serpihan gelas. Sebagian besar bagian leher ampul mempunyai tanda berwarna melingkar yang dapat dipatahkan. Bila bagian leher tidak mempunyai tanda berarti bagian pangkal leher harus digergaji dengan gergaji ampul sebelum dipatahkan. 
  8. Evaluasi sediaan ampul antara lain IPC (In Process Control), QC (Quality Control) dan penetapan kadar. 
  9. Sediaan ampul dapat digunakan dengan cara yang telah dijelaskan pada bab pembahasan. 

DAFTAR PUSTAKA
Ansel,H.C., 1989. Pengatar Bentuk sediaan Farmasi. Edisi 4. UI Press. Jakarta.

Ditjen POM, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. 

Ditjen POM, 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Lachman L., Lieberman H.A., Kanig J.L. 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri diterjemahkan oleh Suyatni S., Edisi II, UI Press, Jakarta.

Priyambodo, B. 2007. Manajemen Farmasi Industri. Yogyakarta : Global Pustaka Utama.

Swarbrick, J. 2007. Encyclopedia of Pharmaceutical Technology, 3rd Edition. USA : Pharmaceutical INC.

Syamsuni. 2006. Ilmu Resep. EGC. Jakarta. 

Voight. R. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Penerjemah Dr. Soendani Noerono. Edisi Kelima. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

MAKALAH AMPUL

MAKALAH
FORMULASI DAN TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL
“AMPUL”
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sediaan steril adalah bentuk sediaan obat dalam bentuk terbagi-bagi yang bebas dari mikroorganisme hidup, salah satu bentuk sediaan steril adalah injeksi. Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Dimasukkan ke dalam tubuh dengan menggunakan alat suntik. 
MAKALAH AMPUL

Suatu sediaan parenteral harus steril karena sediaan ini unik yang diinjeksikan atau disuntikkan melalui kulit atau membran mukosa ke dalam kompartemen tubuh yang paling dalam. Sediaan parenteral memasuki pertahanan tubuh yang memiliki efesiensi tinggi yaitu kulit dan membran mukosa sehingga sediaan parenteral harus bebas dari kontaminasi mikroba dan bahan beracun dan juga harus memiliki kemurnian yang dapat diterima.

Steril adalah keadaan suatu zat yang bebas dari mikroba hidup, baik yang patogen (menimbulkan penyakit) maupun nonpatogen (tidak menimbulkan penyakit), baik dalam bentuk vegetatif (siap untuk berkembang biak) maupun dalam bentuk spora (dalam keadaan statis tidak dapat berkembang biak, tetapi melindungi diri dengan lapisan pelindung yang kuat), namun tidak semua mikroba dapat merugikan, misalnya mikroba yang terdapat dalam usus yang dapat membusukkan sisa makanan yang tidak terserap oleh tubuh. Mikroba patogen misalnya Salmonella thyposa yang menyebabkan penyakit tifus dan E. Coli yang menyebabkan sakit perut. Sterilisasi adalah suatu proses untuk membuat ruang atau benda menadi steril. Sanitasi adalah suatu proses untuk membuat lingkungan menjadi sehat.

1.2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini yaitu :
  1. Definisi sediaan injeksi steril? 
  2. Definisi sediaan ampul? 
  3. Komposisi sediaan dan contoh bahan-bahan yang dapat digunakan? 
  4. Syarat – syarat sediaan injeksi? 
  5. Keuntungan dan kerugian sediaan injeksi? 
  6. Metode pembuatan sediaan ampul? 
  7. Pewadahan dan cara sterilisasi sediaan ampul? 
  8. Evaluasi sediaan ampul?
  9. Cara penggunaan sediaan ampul?

1.3. Tujuan Penulisan 
Tujuan masalah dalam makalah ini yaitu : 
  1. Untuk mengetahui apa definisi sediaan injeksi steril. 
  2. Untuk mengetahui apa definisi sediaan ampul. 
  3. Untuk mengetahui apa komposisi sediaan dan contoh bahan-bahan yang dapat digunakan. 
  4. Untuk mengetahui syarat – syarat sediaan injeksi. 
  5. Untuk mengetahui keuntungan dan kerugian sediaan injeksi. 
  6. Untuk mengetahui bagaimana metode pembuatan sediaan ampul. 
  7. Untuk mengetahui bagaimana pewadahan sediaan ampul dan cara sterilisasi sediaan ampul. 
  8. Untuk mengetahui bagaimana evaluasi sediaan ampul. 
  9. Untuk mengetahui bagaimana cara penggunaan sediaan ampul. 

1.4. Manfaat
Manfaat dari penyusunan makalah ini adalah :
  1. Dapat mengetahui apa definisi sediaan injeksi steril. 
  2. Dapat mengetahui apa definisi sediaan ampul. 
  3. Dapat mengetahui apa komposisi sediaan dan contoh bahan-bahan yang dapat digunakan. 
  4. Dapat mengetahui syarat – syarat sediaan injeksi. 
  5. Dapat mengetahui keuntungan dan kerugian sediaan injeksi. 
  6. Dapat mengetahui bagaimana metode pembuatan sediaan ampul. 
  7. Dapat mengetahui bagaimana pewadahan sediaan ampul dan cara sterilisasi sediaan ampul. 
  8. Dapat mengetahui bagaimana evaluasi sediaan ampul. 
  9. Dapat mengetahui bagaimana cara penggunaan sediaan ampul. 

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Definisi Sediaan Injeksi Steril
Sediaan steril adalah bentuk sediaan obat dalam bentuk terbagi-bagi yang bebas dari mikroorganisme hidup. Pada prinsipnya, yang termasuk sediaan ini antara lain sediaan parental preparat untuk mata dan preparat irigasi (misalnya infus). Sediaan parenteral adalah jenis sediaan yang unik diantara bentuk sediaan obat terbagi-bagi, karena sediaan ini disuntikkan melalui kulit atau membrane mukosa ke bagian tubuh yang paling efisien, yaitu membrane kulit dan mukosa, maka sediaan ini harus bebas dari kontaminasi mikroba dan dari bahan-bahan toksis lainnya, serta harus memiliki tingkat kemurnian yang tinggi. Semua bahan dan proses yang terlibat dalam pembuatan produk ini harus dipilih dan dirancang untuk menghilangkan semua jenis kontaminasi, apakah kontaminasi fisik, kimia, atau mikrobiologis (Priyambodo, 2007).

Menurut Farmakope Indonesia Edisi III, injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau melalui selaput lendir (Ditjen POM, 1979). Sedangkan menurut Farmakope Indonesia Edisi IV, injeksi adalah injeksi yang dikemas dalam wadah 100 mL atau kurang. Umumnya hanya larutan obat dalam air yang bisa diberikan secara intravena. Suspensi tidak bisa diberikan karena berbahaya yang dapat menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah kapiler (Ditjen POM, 1995).

2.2. Definisi Sediaan Ampul
Ampul adalah wadah berbentuk silindris yang terbuat dari gelas yang memiliki ujung runcing (leher) dan bidang dasar datar. Ukuran nominalnya adalah 1, 2, 5, 10, 20 kadang-kadang juga 25 atau 30 ml. Ampul adalah wadah takaran tunggal, oleh karena total jumlah cairannya ditentukan pemakaian dalam satu kali pemakaiannya untuk satu kali injeksi. Menurut peraturan ampul dibuat dari gelas tidak berwarna, akan tetapi untuk bahan obat peka cahaya dapat dibuat dari bahangelas berwarna coklat tua. Ampul gelas berleher dua ini sangat berkembang pesatsebagai ampul minum untuk pemakaian peroralia (Voigt hal. 464).

Ampul adalah wadah takaran tunggal sehingga penggunaannya untuk satu kali injeksi. Ampul dibuat dari bahan gelas yang tidak berwarna tetapi untuk bahan obat yang peka terhadap cahaya, dapat digunakan dari ampul yang terbuat dari bahan gelas berwarna coklat tua. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam sediaan ampul :
  1. Tidak perlu pengawet karena merupakan takaran tunggal. 
  2. Tidak perlu isotonis3. 
  3. Diisi melalui buret yang ujungnya disterilkan terlebih dahulu dengan alkohol 70 %. 
  4. Buret dibilas dengan larutan obat sebelum diisi 

2.3.Komposisi Sediaan Ampul dan Contoh Bahan-Bahan yang dapat Digunakan
Komposisi dalam produk parenteral dapat termasuk pelarut, pembawa, kosolven, buffer, pengawet, antioksidan, surfaktan, agen kompleks, dan agen pengkhelat. Ampuls digunakan untuk dosis tunggal dan dengan demikian tidak memerlukan pengawet (Swarbrick, 2009). 
1. Zat aktif
Evaluasi menyeluruh dari sifat-sifat zat aktif penting dalam pengembangan bentuk sediaan parenteral yang stabil dan aman. Sifat-sifat tersebut antara lain kecepatan kelarutan obat, sifat fisika obat, ukuran partikel dan pH.

2. Zat tambahan
a. Antioksidan
Garam sulfur dioksi termasuk trisulfit, metabisulfit dan sulfit merupakan antioksidan yang paling umum digunakan pada sediaan parenteral. Antioksidan ini menjaga stabilitas produk dengan lebih dulu teroksidasi dan terjadi secara berangsur-angsur selama masa penyimpanan.

b. Buffer
Produk parenteral harus memiliki kapasitas buffer yang cukup untuk mempertahankan pH. Sistem buffer terdiri dari basa lemah dan garamnya atau asam lemah dan garamnya. Contoh buffer antara lain buffer asetat 1-2 %, sitrat 1-3 %, dan phospate 0,8-2 %.

c. Agen pengkhelat
Agen ini ditambahkan ke kompleks sehingga menonaktifkan logam seperti tembaga, besi dan seng yang umumnya mengkatalisis degradasi oksidatif dari molekul obat. Contohnya antara lain asam sitrat, asam tartrat, dan disodium EDTA 0,01-0,05%.

d. Agen pelarut
Kelarutan obat dapat ditingkatkan dengan penggunaan pelarut seperti etil alkohol, gliserin, propilen glikol.

e. Surfaktan
Surfaktan adalah agen aktif permukaan yang digunakan untuk mendispersikan obat yang tidak larut dalam air sebagai dispersi koloid. Surfaktan digunakan secara ekstensif dalam suspensi parenteral untuk membasahkan serbuk dan memberi kemudahan saat penyuntikan. Contohnya antara lain polyoxyethylene dan sorbitan monooleate.

f. Agen tonisitas
Tonisitas penting untuk larutan injeksi yang akan diberikan secara intravena karena jika larutan tidak isotonik menyebabkan perubahan tekanan osmotik dan pertukaran ion melintasi membran sel darah merah sehingga dapat menyebabkan hemolisis. Contohnya antara lain dextros 4,3% dan sodium klorida 0,5-0,9%.

g. Pembawa
Pembawa air contohnya air untuk injeksi yang merupakan pembawa secara luas digunakan untuk pelarut sediaan parenteral. Pembawa bukan air/campuran pembawa mungkin dibutuhkan untuk stabilitas obat seperti barbiturat yang terhidrolisasi oleh air atau untuk meningkatkan kelarutan obat seperti digoksin.

2.4. Syarat-Syarat Sediaan Injeksi
Syarat – syarat sediaan injeksi yaitu (Agoes, 2013) : 
  1. Secara farmakologi aman 
  2. Steril 
  3. Bebas dari kontaminasi bahan pirogenik 
  4. Bebas dari partikulat asing 
  5. Stabil secara fisika kimi dan mikrobiologi 
  6. Kompatibel dengan obat lain 
  7. Isotonis 

2.5. Keuntungan dan Kerugian Sediaan Injeksi
Keuntungan dan kerugian sediaan injeksi (Syamsuni, 2007 : 228): 
1. Keuntungan
  • Bekerja cepat, misalnya injeksi adrenalin pada syok anafilaktik. 
  • Dapat digunakan untuk obat yang rusak jika terkena cairan lambung, merangsang jika masuk ke cairan lambung atau tidak diabsorpsi baik oleh cairan lambung. 
  • Kemurnian dan takaran zat khasiat lebih terjamin. 
  • Daat digunakan sebagai depo terapi 

2. Kerugian 
  • Karena bekerja cepat, jika teadi kekeliruan sukar dilakukan pencegahan. 
  • Cara pemberian lebih sukar, harus memakai tenaga khusus. 
  • Kemungkinan terjadinya infeksi pada bekas suntikan. 
  • Secara ekonomis lebih mahal dibandingkan dengan sediaan yang digunakan per oral. 

2.6. Metode Pembuatan Sediaan Ampul
Sediaan ampul dibuat dengan proses sebagai berikut :
1. Pembersihan
Pada umumnya, ampul kosong yang dipasarkan dalam keadaan terbuka memiliki leher yang lebar untuk memudahkan pembersihan dan pengisian. Dengan cara pengisian ampul berulang kali dengan cairan pencuci dan akhirnya dikosongkan dapat diperoleh ampul yang bersih dan menjamin bahwa seluruh partikel pengotor dan serpihan gelas telah dihilangkan, Dalam industri kecil, digunakan beberapa alat pencuci dimana ampul-ampul dipasang pada kanula dan air ditekan mengalir kedalam ampul melaui kanula bermantel. Suplai air dihentikan digantikan dengan aliran udara bertekanan yang menekan keluar sisa-sisa air sampai ampul mongering, Dalam industri besar, tersedia mesin-mesin pembersih ampul semiotomatis dan otomatis. Pada mesin pencuci otomatis pembersihan dilakuakan dengan cairan pencuci panas bersuhu 80C bertekanan tinggi (0,4 Mpa, 4 at) dimana serpihan gelas yang melekat erat pada dinding-dinding dan umumnya baru dapat dihilangkan pada saat sterilisasi melalui kerja panas, juga turut tercuci, Setelah dilakukan penyemprotan dengan cairan pencuci umumnya masih diikuti 2xpencucian dengan air pada tekanan yang sama dan diakhiri dengan air suling (0,05 Mpa, 0,5 at) (Voight, 1995).

2. Pengisian
Pengisian ampul dengan larutan obat dilakuakn pada sebuah alat khusus untuk pabrik kecil atau menengah pengisian dilakukan dengan alat torak pengisi yang bekerja secara manual atau elektris. Melalui gerak lengannya larutan yangakan diisikan dihisap oleh sebuah torak kedalam penyemprot penakar dan melalui kebalikan gerak lengan dilakukan pengisiannya (Voight, 1995).

3. Penutupan
Penutupan ampul dapat dilakukan dengan 2 cara. Pertama cara peleburan, dimana semburan nyala api diarahkan pada leher ampul yang terbuka dan ampul ditutup dengan membakar disatu lokasi lehernya sambil diputar kontinyu. Kedua cara tarikan, dimana seluruh alat penutup ampul otomat yang digunakan dalam industri bekerja menurut prinsip ini, Pada alat ini sebuah (atau juga 2 buah) semburan api diarahkan pada bagian tengah leher ampul. Setelah gelas melunak bagian atas leher dijepit dengan sebuah pinset (pada kerja manual), atau dilakukan oleh alat khusus (masinel) kemudian ditarik keatas kemudian ampul dapat ditutup.

2.7. Pewadahan Sediaan Ampul dan Cara Sterilisasi Sediaan Ampul
Produk parenteral dibuat mengikuti prosedur steril mulai dari pemilihan pelarut hingga pengemasan. Bahan pengemas yang biasa digunakan sebagai sediaan steril yaitu gelas, plastik, elastik (karet), metal. Pengemasan sediaan suntik harus mengikuti prosedur aseptis dan steril karena pengemas ini langsung berinteraksi dengan sediaan yang dibuat, termasuk dalam hal ini wadah. Wadah merupakan bagian yang menampung dan melindungi bahan yang telah dibuat (Ansel, 1989).

Wadah obat suntik (termasuk tutupnya) harus tidak berinteraksi dengan sediaan, baik secara fisik maupun kimia karena akan mengubah kekuatan dan efektifitasnya. Bila wadah dibuat dari gelas, maka gelas harus jernih dan tidak berwarna atau berwarna kekuningan, untuk memungkinkan pemeriksaan isinya. Jenis gelas yang sesuai dan dipilih untuk tiap sediaan parenteral biasanya dinyatakan dalam masing-masing monograf. Obat suntik ditempatkan dalam wadah dosis tunggal atau wadah dosis berganda (Ansel, 1989).

Ampul biasanya terbuat dari bahan gelas, tertutup rapat dengan melebur wadah gelas dalam kondisi aseptis. Wadah gelas dibuat mempunyai leher agar dapat dengan mudah dipisahkan dari bagian badan wadah tanpa terjadi serpihan-serpihan gelas. Sebagian besar bagian leher ampul mempunyai tanda berwarna melingkar yang dapat dipatahkan. Bila bagian leher tidak mempunyai tanda berarti bagian pangkal leher harus digergaji dengan gergaji ampul sebelum dipatahkan. Sekali dibuka, ampul tidak dapat ditutup dan digunakan lagi untuk waktu kemudian, karena sterilitas isinya tidak dapat dipertanggungjawabkan lagi.

Tipe wadah yang digunakan untuk kemasan sediaan injeksi antara lain :
1. Gelas
Gelas digunakan untuk sediaan parenteral dikelompokkan dalam tipe I, Tipe II, dan Tipe III (tabel 8). Tipe I adalah mempunyai derajatyang paling tinggi, disusun hampir ekslusif dan barosilikat (silikondioksida), membuatnya resisten secara kimia terhadap kondisi asam dan basa yang ekstrim.

Gelas tipe I, meskipun paling mahal, ini lebih disukai untuk produk terbanyak yang digunakan untuk pengemasan beberapa parenteral. Gelas tipe II adalah gelas soda lime (dibuat dengan natrium sulfit atau sulfida untuk menetralisasi permukaan alkalinoksida), sebaliknya gelas tipe III tidak dibuat dari gelas soda lime. Gelas tipe II danIII digunakan untuk serbuk kering dan sediaan parenteral larutan berminyak. Tipe II dapat digunakan untuk produk dengan pH di bawah 7,0sebaik sediaan asam dan netral. USP XXII memberikan uji untuk tipe-tipegelas berbeda (Martindale, 1982).

2.8. Evaluasi Sediaan Ampul
1. IPC (In Process Control)
1) Uji pH (Ditjen POM, 1995: 1039 – 1040)
Cek pH larutan dengan menggunakan pH meter atau kertas indikator universal. Dengan pH meter : Sebelum digunakan, periksa elektroda dan jembatan garam. Kalibrasi pH meter. Pembakuan pH meter : Bilas elektroda dan sel beberapa kali dengan larutan uji dan isi sel dengan sedikit larutan uji. Baca harga pH. Gunakan air bebas CO2 untuk pelarutan dengan pengenceran larutan uji.

2) Uji Kejernihan (Lachman Edisi III hal. 1355)
Pemeriksaan dilakukan secara visual biasanya dilakukan oleh seseorang yang memeriksa wadah bersih dari luar di bawah penerangan cahay yang baik, terhalang terhadap refleksi ke dalam matanya, dan berlatar belakang hitam dan putih, dengan rangkaian isi dijalankan dengan suatu aksi memutar, harus benar-benar bebas dari partikel kecil yang dapat dilihat dengan mata.

2. QC (Quality Control)
1) Uji pH (Ditjen POM, 1995: 1039 – 1040)
Cek pH larutan dengan menggunakan pH meter atau kertas indikator universal. Dengan pH meter : Sebelum digunakan, periksa elektroda dan jembatan garam. Kalibrasi pH meter. Pembakuan pH meter : Bilas elektroda dan sel beberapa kali dengan larutan uji dan isi sel dengan sedikit larutan uji. Baca harga pH. Gunakan air bebas CO2 untuk pelarutan dengan pengenceran larutan uji.

2) Uji Kejernihan (Lachman Edisi III hal. 1355 )
Pemeriksaan dilakukan secara visual biasanya dilakukan oleh seseorang yang memeriksa wadah bersih dari luar di bawah penerangan cahaya yang baik, terhalang terhadap refleksi ke dalam matanya, dan berlatar belakang hitam dan putih, dengan rangkaian isi dijalankan dengan suatu aksi memutar, harus benar-benar bebas dari partikel kecil yang dapat dilihat dengan mata.


3) Uji Keseragaman Volume (Ditjen POM, 1995: 1044 )
Diletakkan pada permukaan yang rata secara sejajar lalu dilihat keseragaman volume secara visual.

4) Uji Kebocoran (Lachman Edisi III hal 1354)
Tidak dilakukan untuk vial dan botol karena tutup karetnya tidak kaku. Uji kebocoran; Letakkan ampul di dalam zat warna (biru metilen 0,5 – 1%) dalam ruangan vakum. Tekanan atmosfer berikutnya kemudian menyebabkan zat warna berpenetrasi ke dalam lubang, dapt dilihat setelah bagian luar ampul dicuci untuk membersihkan zat warnanya. Catatan penting : jangan ditulis di proposal ujian, uji kebocoran hanya untuk ampul

5) Uji Sterilitas (Ditjen POM, 1995: 855)
Asas : larutan uji + media perbenihan, inkubasi pada 20o – 25oC Kekeruhan / pertumbuhan mikroorganisme (tidak steril)

Metode uji : Teknik penyaringan dengan filter membran (dibagi menjadi 2 bagian) lalu diinkubasi

Prosedur uji: Inokulasi langsung ke dalam media perbenihan. Volume tertentu spesimen ditambah volume tertentu media uji, inkubasi selama tidak kurang dari 14 hari, kemudian amati pertumbuhan secara visual sesering mungkin sekurang-kurangnya pada hari ke-3 atau ke-4 atau ke-5, pada hari ke-7 atau hari ke-8 dan pada hari terakhir dari masa uji.

3. Penetapan Kadar
1) Uji Pirogenitas
Secara biologik (Metode Seibert 1920: USP XII 1942)
Asas : Berdasarkan peningkatan suhu badan kelinci yang telah disuntikkan dengan larutan ≤ 10 mg/Kg BB dalam vena auricularis.

Cara : 
  • a. Setiap penurunan suhu dianggap nol 
  • b. Memenuhi syarat : tak seekor kelinci pun menunjukkan kenaikan suhu 0,5ºC atau lebih 
  • c. Jika ada kelinci dengan kenaikkan suhu 0,5ºC atau lebih, lanjutkan dengan kelinci tambahan 
  • d. Memenuhi syarat : tidak lebih dari 3 ekor kelinci dari 8 kelinci masing-masing menunjukkan kenaikkan suhu 0,5ºC atau lebih dan jumlah kenaikkan suhu maksimal 8 ekor kelinci tidak lebih dari 3,3ºC. 

2.9. Penggunaan Sediaan Ampul
Sediaan ampul dapat digunakan dengan cara sebagai berikut :
  1. Cuci tangan 
  2. Siapkan alat-alat 
  3. Periksa label obat dengan catatan pemberian obat atau kartu obaf sesuai prinsip 5 benar 
  4. Lakukan perhitungan dosis sesuai yang diperlukan 
  5. Pegang ampul dan turunkan cairan di atas leher ampul dengan menjentikkan leher ampul atau putarkan dengan cara merotasjikan pergelangan tangan 
  6. Usapkan kapas alkohol di sekeliling leher ampul dengan tangan dominan, tempatkan jari tangan non dominan di sekeiiling bagian bawah ampul dengan ibu jari melawan sudut. Patahkan tutup ampul dengan menjauhi diri dan orang yang ada di dekat anda. 
  7. Tempatkan tutup ampul pada kertas atau buang di tempat khusus 
  8. Buka tutup jarum 
  9. Tekan plunger hingga habis, jangan aspirasi udara ke dalam spuit 

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah ini yaitu :
  1. Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau melalui selaput lender 
  2. Ampul adalah sediaan dengan wadah takaran tunggal sehingga penggunaannya untuk satu kali injeksi. 
  3. Komposisi dalam sediaan ampul antara lain zat aktif dan zat tambahan seperti pelarut, pembawa, kosolven, buffer, antioksidan, surfaktan, agen kompleks, dan agen pengkhelat. Ampul digunakan untuk dosis tunggal dan dengan demikian tidak memerlukan pengawet. 
  4. Syarat – syarat sediaan injeksi antara lain aman secara farmakologi, steril bebas dari kontaminasi bahan pirogenik, bebas dari partikulat asing, stabil secara fisika kimi dan mikrobiologi, kompatibel dengan obat lain dan isotonis. 
  5. Sediaan injeksi memiliki beberapa keuntungan dan kerugian, seperti yang telah disebutkan pada bab pembahasan. 
  6. Sediaan ampul dibuat dengan proses pembersihan, pengisian dan penutupan. 
  7. Ampul biasanya terbuat dari bahan gelas, tertutup rapat dengan melebur wadah gelas dalam kondisi aseptis. Wadah gelas dibuat mempunyai leher agar dapat dengan mudah dipisahkan dari bagian badan wadah tanpa terjadi serpihan-serpihan gelas. Sebagian besar bagian leher ampul mempunyai tanda berwarna melingkar yang dapat dipatahkan. Bila bagian leher tidak mempunyai tanda berarti bagian pangkal leher harus digergaji dengan gergaji ampul sebelum dipatahkan. 
  8. Evaluasi sediaan ampul antara lain IPC (In Process Control), QC (Quality Control) dan penetapan kadar. 
  9. Sediaan ampul dapat digunakan dengan cara yang telah dijelaskan pada bab pembahasan. 

DAFTAR PUSTAKA
Ansel,H.C., 1989. Pengatar Bentuk sediaan Farmasi. Edisi 4. UI Press. Jakarta.

Ditjen POM, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. 

Ditjen POM, 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Lachman L., Lieberman H.A., Kanig J.L. 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri diterjemahkan oleh Suyatni S., Edisi II, UI Press, Jakarta.

Priyambodo, B. 2007. Manajemen Farmasi Industri. Yogyakarta : Global Pustaka Utama.

Swarbrick, J. 2007. Encyclopedia of Pharmaceutical Technology, 3rd Edition. USA : Pharmaceutical INC.

Syamsuni. 2006. Ilmu Resep. EGC. Jakarta. 

Voight. R. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Penerjemah Dr. Soendani Noerono. Edisi Kelima. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.