MAKALAH DAUN SIRIH MERAH (Piper crocatum Ruiz & Pav.) - ElrinAlria
MAKALAH DAUN SIRIH MERAH (Piper crocatum Ruiz & Pav.)
MAKALAH DAUN SIRIH MERAH (Piper crocatum Ruiz & Pav.)
A. Deskripsi Tanaman 
Sirih secara umum tumbuh merambat dan panjangnya bisa mencapai 15 meter. Tanaman sirih mempunyai banyak spesies dan memiliki jenis yang beragam, seperti sirih gading, sirih hijau, sirih kuning dan sirih merah. Semua jenis tanaman sirih memiliki ciri yang hampir sama yaitu tanamannya merambat dan tumbuh berselang seling. Batang berwarna coklat dan beruas-ruas di tempat keluarnya akar. Daun berbentuk jantung, bertangkai dan memiliki daun pelindung. Jika diremas daun akan mengeluarkan aroma yang sedap. Bunga berupa bulir, terdapat diujung cabang dan berhadapan dengan daun. Buah sirih berbentuk bulat dan berbulu. Untuk memperbanyak tumbuhan sirih dapat dilakukan dengan stek sulur. Sirih dapat tumbuh dengan baik di ketinggian 300 dpl. Sirih akan tumbuh subur di tanah yang banyak mengandung bahan organic dan cukup air (Atingul Ma’firah, 2012). 

Tanaman sirih merah (Piper crocatum) termasuk dalam famili Piperaceae, Tanaman ini tumbuh di berbagai daerah di Indonesia, sepert Papua, Aceh, Yogyakarta, dan Jawa Barat. Batangnya bulat berwarna hijau keunguan dan tidak berbunga. Daunnya berbentuk jantung dengan bagian ujung meruncing. Panjang daun bisa meneapai 15-20 cm. Warna ujung daun hijau bersaput putih keabu-abuan. Bagian pangkal daun berwarna merah hati. Daunnya berlendir, berasa sangat pahit, dan beraroma wangi khas sirih (Hermiati dkk., 2013). 

Tanaman sirih merah dapat beradaptasi dengan baik pada setiap jenis tanah dan tidak terlalu rumit dalam pemeliharaannya. Sirih merah dapat tumbuh tanpa pemupukan, yang pernting selama pertumbuhannya adalah pengairan yang baik dan cahaya matahari yang diterima sebesar 60-75% untuk tumbuh tanaman. Namun, sirih merah lebih cocok ditanam ditempat yang teduh, terlindung dari sinar matahari langsung, dan sangat baik bila ditanam di daerah berhawa sejuk. Tanaman akan mati jika terlalu banyak air yang diberikan karena batangnya dapat membusuk. Demikian juga apabila terlalu sering terkena panas matahari langsung, tanaman akan cepat mengering dan mati. Dengan demikian, sangat cocok bila ditanam di bawah pohon besar dan rindang, atau apabila ditanam dalam pot, sebaiknya diletakkan pada tempat yang tidak terkena sinar matahari ataupun air hujan secara langsung. Pada daerah yang sesuai, daun tanaman sirih akan tumbuh melebar, dengan warna merah maroon yang sangat segar akan terlihat bila daun dibalik. Selain itu, batangnya dapat tumbuh gemuk dan kuat (W. Indri Werdhany, 2008). 

B. Klasifikasi Daun Sirih Merah (Piper crocatum)
MAKALAH DAUN SIRIH MERAH (Piper crocatum Ruiz & Pav.)

  • Klasifikasi daun sirih merah adalah sebagai berikut: (Lina Mardiana, 2012) 
  • Kingdom : Plantae 
  • Divisi : Spermatophyta 
  • Sub Divisi : Angiospermae 
  • Class : Monochlamydeae 
  • Ordo : Piperales 
  • Famili : Piperaceae 
  • Genus : Piper 
  • Spesies : Piper crocatum 

C. Nama Lokal Daun Sirih Merah
Tanaman sirih atau yang dikenal dengan nama latin Piper betle L. ternyata memiliki beragam nama, antara lain furu kuwe, purokawo, ranub, blo, sereh, belo, atau demban. Sementara itu, masyarakat di Jawa menyebut tanaman sirih dengan nama seureuh, sedah, suruh, dan sere. Masyarakat Nusa Tenggara menyebut sirih dengan nama base, sedah, nahi, kuta, mota. Masyarakat Kalimantan menyebutnya dengan nama uwit, buyu, atau uduh sifat (Prapti Utami, 2013). 

Tanaman sirih di Sulawesi disebut dengan ganjang, gapura, baulu, buya, di Maluku disebut ani-ani, papek, raunge, dan di Irian disebut reman, manaw, nai wadok, mera. Bagian tanaman sirih yang digunakan sebagai obat adalah daun dan buahnya.Namun, bagian tanaman sirih yang paling sering digunakan sebagai obat adalah daunnya (Prapti Utami, 2013). 

D. Kandungan Kimia Daun Sirih Merah
Tanaman memproduksi berbagai macam bahan kimia untuk tujuan tertentu yang disebut dengan metabolit sekunder. Metabolit sekunder tanaman merupakan bahan yang tidak esensial untuk kepentingan hidup tanaman tersebut, tetapi mempunyai fungsi untuk berkompetisi dengan makhluk hidup lainnya. 

Daun sirih merah mengandung senyawa fitokimia yakni alkaloid, saponin, tannin dan flavonoid. Kandungan kimia lainnya yang terdapat di daun sirih merah adalah minyak atsiri, hidroksicavicol, kavicol, kavibetol, allylprokatekol, karvakrol, eugenol, p-cymene, cineole, caryofelen, kadimen estragol, terpenena, dan fenil propada (Surat Djumadal, 2010). Selain itu, daun sirih merah juga mengandung senyawa glikosida, steroid/triterpenoid, antrakuinon (Julia Reveny, 2011), polevenolad (Hermiati dkk., 2013). Daun sirih mudah umumnya kaya akan kandungan diastase, gula, dan minyak atsiri lebih banyak dibandingkan dengan daun sirih tua. Namun, memiliki kandungan tannin yang relative sama (Prapti Utami, 2013). 

Karena banyaknya kandungan zat/senyawa kimia yang bermanfaat, daun sirih merah mempunyai manfaat yang sangat baik sebagai bahan obat (Obi Andareto, 2015). 

E. Penggunaan Empiris Daun Sirih Merah
Sejak zaman dahulu, tanaman sirih merah telah diketahui memiliki berbagai khasiat obat untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit atau dianggap sebagai tanaman obat multifungsi. Air rebusannya mengandung antiseptik atau karvakrol yang bersifat desinfektan dan anti jamur, sehingga bisa digunakan sebagai obat antiseptic untuk menjaga kesehatan rongga mulut, menyembuhkan penyakit keputihan dan bau tidak sedap (W. Indri Werdhany, 2008). 

Secara empiris daun sirih merah dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit seperti hepatitis, batu ginjal, menurunkan kolesterol, mencegah stroke, asam urat, kanker, hipertensi, radang liver, radang prostat, radang mata, keputihan, maag, kelelahan, nyeri sendi dan diabetes melitus (Yesy Febnica Dewi dkk., 2014).

Selain itu, memiliki efek mencegah ejakulasi dini, antikejang, membasmi kuman, penghilang rasa nyeri, menghilangkan bengkak, mengatasi radang paru, radang tenggorokan, gusi bengkak, radang payudara, hidung mimisan, kencing manis, ambeien, jantung koroner, darah tinggi, asam urat, dan batuk berdarah (Hermiati dkk., 2013).

Sementara itu, di lingkungan Kraton Yogyakarta, terbukti secara turun temurun sirih merah telah digunakan dan dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit seperti diabetes mellitus, asam urat, hepatitis, batu ginjal, hipertensi radang liver, radang prostat, radang mata, nyeri sendi, menurunkan kadar kolesterol, mencegah stroke, memperhalus kulit (W. Indri Werdhany, 2008). 

Ekstrak daun sirih dapat digunakan untuk mengobati varises serta mencegah dan menyembuhkan radang gusi dan radang tenggorokan baik secara internal maupun secara ekstrenal.Sementara itu, buah sirih dapat diolah menjadi anggur yang memiliki daya penyembuhan, tentunya jika dikonsumsi dalam jumlah yang wajar. Buah sirih juga bermanfaat untuk menurunkan kadar kolesterol dan member efek proteksi atau perlindungan terhadap serangan penyakit jantung (Prapti Utami, 2013).

Daun tanaman sirih dalam pengobatan modern sering dipergunakan sebagai adstrigensia, diuretika dan antiinflamasi, sebagai bahan obat umumnya digunakan dalam bentuk infusa dengan dosis 6% sampai 15% (Julia Reveny, 2011). 

Ekstrak metanol daun sirih merah memiliki aktivitas antiproliferatif terhadap sel kanker payudara (T47D) dengan nilai IC50 sebesar 44,25 bpj. Fraksi ekstrak etanol daun sirih merah yang berpotensi sebagai antioksidan dengan nilai IC50 sebesar 33,44 bpj, dan sebagai antikanker terhadap sel HeLa dengan nilai IC50 sebesar 1197,43 bpj (Yustina Sri Hartini, 2013). 

Menurut Obi Andareto (2015), manfaat dan khasiat ramuan daun sirih merah antara lain: 
1. Daun sirih merah untuk penyakit jantung 
Ambil daun sirih berukuran sedang sebanyak 3-4 lembar atau ukuran kecil 6-8 lembar.Cuci bersih kemudian diiris kecil-kecil. Rebus dengan air sebanyak 4 gelas (800 ml) sampai mendidih dan tersisa 2 gelas, lalu disaring.Ramuan ini diminum selagi hangat, dua kali sehari sebelum makan. Sekali minum satu gelas 

2.Daun sirih merah untuk penyakit diabetes 
Petik daun sirih merah setengah tua dan daun keenam atau ketujuh dai pucuk. Cuci bersih semua daun, kemudian diiris kecil-kecil. Rebus dengan air sebanyak tiga gelas (600 ml) sampai mendidih dan tersisa 1,5 gelas. Minum sehari tiga kali sebelum makan, sekali minum setengah gelas. Mengonsumsi air rebusan daun sirih merah setiap hari dapat menurunkan kadar gula darah sampai pada tingkat yang normal (Lina Mardiana, 2012). 

3. Daun sirih merah untuk penyakit maag atau gastritis (Tjok Gde Kerthyasa, 2013) 
Ambil 2 lembar daun sirih merah sedang yang segar, kunyah sampai benar-benar halus, lalu ditelan. Lakukan sekali sehari sebelum makan. 

4. Daun sirih merah untuk mengobati tumor dan kanker (Syamsul Hidayat dkk) 
Rendam daun yang sudah dibersihkan dalam air selama 30 menit. Daun kemudian dipotong tipis dan dikeringkan dengan cara dianginkan selama satu jam. Setelah kering, daun dapat disimpan dalam plastic kering unuk berbagai seduhan obat. 

Rebus selembar daun segar dengan dua gelas air sampai tinggal satu gelas. Air rebusan dibagi tiga dan diminum tiga kali sehari sebelum makan untuk pengobatan tumor payudara. 

F. Aktivitas Farmakologi Daun Sirih Merah
Adanya kandungan senyawa yang triterpenoid, flavonoid dan tannin yang dimiliki oleh daun sirih merah menunjukkan bahwa daun sirih merah mempunyai aktivitas sebagai antimikroba yang mampu melawan beberapa bakteri gram positif dan gram negative (Julia Reveny, 2012).

Menurut Yustina (2013), aktivitas imunomodulasi kemungkinan diperngaruhi oleh adanya alkaloid atau terpenoid yang merupakan metabolit sekunder yang bertanggung jawab terhadap peningkatan aktivitas fagositosis makrofag. 

Daya antifungi yang dimiliki oleh daun sirih mungkin disebabkan oleh adanya senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, dan minyak atsiri.Alkaloid adalah zat aktif dari tanaman yang berfungsi sebagai obat dan aktivator kuat bagi sel imun yang dapat menghancurkan bakteri, virus, jamur, dan sel kanker.Alkaloid mempunyai aktivitas antimikroba dengan menghambat esterase, DNA, RNA polimerase, dan respirasi sel serta berperan dalam interkalasi DNA. Sedangkan sebagai antifungi, secara biologi alkaloid menyebabkan kerusakan membran sel. Alkaloid akan berikatan kuat dengan ergosterol membentuk lubang atau saluran sehingga menyebabkan membran sel bocor dan kehilangan beberapa bahan intra sel seperti elektrolit (terutama kalium) dan molekul-molekul kecil. Hal ini dapat mengakibatkan kerusakan yang tetap pada sel dan kematian sel pada jamur (Anika Candrasari, 2012). Menurut Lina Mardiana (2012), kandungan alkaloid daun sirih merah juga dapat menurunkan kadar glukosa darah, antioksidan, anti kanker, antiseptic dan antiinflamasi. 

Senyawa flavonoid dan minyak atsiri dilaporkan berperan sebagai antifungi. Selain itu, flavonoid juga dilaporkan berperan sebagai antivirus, antibakteri, antiradang, dan antialergi. Sebagai antifungi, flavonoid mempunyai senyawa genestein yang berfungsi menghambat pembelahan atau proliferasi sel. Senyawa ini mengikat protein mikrotubulus dalam sel dan mengganggu fungsi mitosis gelendong sehingga menimbulkan penghambatan pertumbuhan jamur. Flavonoid menunjukkan toksisitas rendah pada mamalia sehingga beberapa flavonoid digunakan sebagai obat bagi manusia (Anika Candrasari, 2012). Selain itu, flavonoid daun sirih merah dapat menurunkan kadar glukosa darah, antioksidan, anti kanker, antiseptic dan antiinflamasi (Lina Mardiana, 2012). Flavonoid bekerja menghambat fase penting dalam biosintesis prostaglandin, yaitu pada lintasan siklooksigenase.Flavonoid juga menghambat fosfodiesterase, aldoreduktase, monoamine oksidase, protein kinase, DNA polymerase dan lipooksigenase (Atik Fitriyani, 2011). 

Aktivitas antiinflamasi ekstrak daun sirih merah diperkirakan karena adanya senyawa golongan flavonoid saponin dan tannin. Mekanisme flavonoid dalam menghambat proses terjadinya inflamasi melalui dua cara, yaitu dengan menghambat permeabilitas kapiler dan menghambat metabolisme asam arakidonat dan sekresi enzim lisosom dari sel neutrofil dan sel endothelial (Atik Fitriyani, 2011). 

Flavonoid berperan penting dalam menjaga permeabilitas serta meningkatkan resistensi pembuluh darah kapiler. Oleh karena itu, flavonoid digunakan pada keadaan patologis seperti terjadinya gangguan permeabilitas dinding pembuluh darah. Terjadinya kerusakan pembuluh darah kapiler akibat radang menyebabkan peningkatan permeabilitas kapiler, sehingga darah (terutama plasma darah) akan keluar dari kapiler jaringan, diikuti dengan terjadinya respon inflamasi. Flavonoid terutama bekerja pada endothelium mikrovaskular untuk mengurangi terjadinya hipermeabilitas dan radang. Beberapa senyawa flavonoid dapat menghambat pelepasan asam arakhidonat dan sekresi enzim lisosom dari membrane dengan jalan memblok jalur siklooksigenase. Penghambatan jalur siklooksigenase dapat menimbulkan pengaruh lebih luas karena reaksi siklooksigenase merupakan langkah pertama pada jalur yang menuju ke hormon eikosanoid seperti prostaglandin dan tromboksan (Atik Fitriyani, 2011). 

Senyawa flavonoid juga dapat menunjukkan potensi yang dimiliki sebagai antikanker dengan cara mengahambat poliferasi melalui inhibisi proses oksidatif yang dapat menyebabkan inisiasi kanker. Mekanisme ini diperantara penurunan enzim xanthin oksidase, siklooksigenase (COX) dan lipooksigenase (LOX) yang diperlukan dalam proses prooksidasi sehingga menunda siklus sel. Aktivitas antikanker juga ditunjukkan flavonoid melalui induksi apoptosis. Flavonoid menghambat ekspresi enzim topoisomerasi I dan topoisomerase II yang berperan dalam katalisis pemutaran dan relaksasi DNA. Inhibitor enzim topoisomerase akan menstabilkan kompleks topoisomerase dan menyebabkan DNA terpotong dan mengalimi kerusakan. Kerusakan DNA dapat menyebabkan terekspresinya protein proapoptosis seperti Bax dan Bak dan menurunkan ekspresi protein-protein antiapoptosis yaitu Bcl-2 dan Bcl-XL. Dengan demikian pertumbuhan sel kanker terhambat. Sebagian besar flavonoid telah terbukti mampu meghambat proliferasi pada berbagai sel kanker pada manusia namun bersifat tidak toksik pada sel normal manusia (Evy Yuliaanti, 2010). 

Senyawa golongan flavonoid juga mampu menghambat proses karsinogenesis baik secara in viro maupun in vivo. Penghambatan terjadi pada tahap inisiasi, promosi maupun progresi melalui mekanisme molekuler antara lain inaktivasi senyawa karsinogen, antipoliferatif, penghambatan angiogenesis dan daur sel, induksi apoptosis, dan aktivitas antioksidan. Flavanoid juga meningkatkan ekspresi enzim gluthation S-transferase (GST) yang dapat mendetoksifikasi karsinogen reaktif menjadi tidak reaktif dan lebih polar sehingga cepat dieliminasi dari tubuh. Selain itu, flavonoid juga dapat mengikat senyawa karsinogen sehingga dapat mencegah ikatan dengan DNA, RNA atau proten target. Sifat aktioksidan dari senyawa flavonoid juga dapat menghibisi proses karsinogenesis. Fase inisiasi kanker seringkali diawali dengan oksidasi DNA yang menyebabkan mutasi oleh senyawa karsinogen. Karsinogen aktif seperti radikal oksigen, peroksidan dan superoksida, dapat distabilkan oleh flavonoid melalui reaksi hidrogenasi maupun pembentukan kompleks (Evy Yulianti, 2010). 

Tanin juga diduga mempunyai efektivitas dalam menghambat pertumbuhan atau membunuh Candida albicans. Tanin bersifat menciutkan dan mengendapkan protein dari larutan dengan membentuk senyawa yang tidak larut. Selain itu, tanin berperan dalam sistem pertahanan tubuh dan mempunyai aktivitas antioksidan serta antiseptic (Anika Candrasari, 2012). Selain itu, tanin diketahui mempunyai aktifitas antiinflamasi, astringen, antidiare, diuretik dan antiseptic (Atik Fitriyani, 2011). 

Tanin adalah senyawa fenol yang terdapat luas dalam tumbuhan. Menurut batasannya, tannin dapat bereaksi dengan proteinmembentuk kapolismer mantap yang tidaklarut dalam air. Tanin mampu menyambungsilang protein dan membantu membentukselaput tipis yang melindungi usus, sehingga menghambat absorpsi glukosa dan laju peningkatan glukosa darah tidak terlalu tinggi. Selain zat-zat tersebut, sirih merah juga mengandung saponin dan minyak atsiri. Saponin merupakan glikosida yang dalam kadarrendah mampu berfungsi sebagai hepatoprotektor, sedangkan minyak atsiri berperan sebagai antiradang dan antiseptic (Anak Agung Sagung Kendran, 2013). 

Pengaruh senyawa fenol yang terdapat dalam daun sirih merah terhadap Candida albicans adalah mendenaturasi ikatan protein pada membran sel sehingga membran sel lisis dan mungkin fenol dapat menembus ke dalam inti sel. Masuknya fenol ke dalam inti sel inilah yang menyebabkan jamur tidak berkembang (Anika Candrasari, 2012). 

Polifenol merupakan senyawa fenol yang memiliki gugus hidroksil (–OH). Senyawa polifenol ini adalah antioksidan yang kekuatannya 100 kali lebih efektif dibandingkan vitamin C dan 25 kali lebih efektif dibandingkan vitamin E. Penderita diabetes membutuhkan antioksidan dalam pengobatannya, karena kadar gula darah yang tinggi dalam jangka waktu yang lama akan memicu timbulnya reaksi autooksidasi yang mengakibatkan menumpuknya radikal bebas dalam tubuh penderita. Oleh karena itu diperlukan suatu senyawa yang mampu mengikat radikal bebas untuk menekan timbulnya komplikasi (Anak Agung Sagung Kendran, 2013). 

Kandungan karvakol yang dimiliki oleh daun sirih merah dapat berfungsi sebagai desinfektan dan antijamur. Eugenol sebagai obat pereda nyeri atau analgesic. Komponen minyak atsiri mempunyai aktivitas antibakteri yaitu dapat menghambat atau membunuh pertumbuhan bakteri pathogen (Soerya Dewi dkk., 2013). 

Aktivitas farmakologi saponin yang telah dilaporkan antara lain sebagai antiinflamasi, antibiotik, antifungi, antivirus, hepatoprotektor serta antiulcer. Mekanisme antiinflamasi saponin adalah dengan menghambat pembentukan eksudat dan menghambat kenaikan permeabilitas vascular (Atik Fitriyani, 2011). Saponin juga dapat berfungsi sebagai antimikroba (bakteri dan virus) (Lina Mardiana, 2012). 

G. Pengujian Toksisitas
Uji toksisitas digunakan untuk mengetahui tingkat keamanan obat bagi tubuh. Uji toksisitas ada 2 yaitu ji toksisitas akut dan uji toksisitas kronis. Uji toksisitas akut sangat penting untuk mengukur dan mengevaluasi karekteristik toksik dari suatu bahan kimia. Uji ini dapat menyediakan informasi tentang bahaya kesehatan manusia yang berasal dari bahan kimia yang terpapar dalam tubuh pada waktu pendek melalui jalur oral. Sementara uji toksisitas kronis dilakukan untuk mengetahui efek jangka panjang obat. Parameter yang sering digunakan adalah adanya perubahan pada hati dan ginjal baik secara structural maupun fungsional. Hati sebagai organ metabolism utama yang sering mengalami kerusakan karena obat itu sendiri. Sementara itu, ginjal merupakan organ ekskresi utama yang sangat penting untuk mengeluarkan sisa-sisa metabolisme tubu, seperti zat-zat toksik yang masuk ke dalam tubuh baik sengaja maupun tidak termasuk obat (Anak Agung Sagung Kendran, 2013). 

Hasil uji praklinis pada tikus dengan pemberian ekstrak hingga dosis 20 g/kg berat badan, sirih merah sangat ana di konsumsi dan tidak bersifat toksik. Pada dosis tersebut, mampu menurunkan kadar glukosa darah tikus sebesar 34,3% (W. Indri Werdany, 2008). 

Uji praklinis yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balittro) Bogor menunjukkan bahwa pemberian ekstrak sirih merah 20 g per kg bobot tikus menurunkan kadar glukosa darah tikus sebesar 34,3%. Hasil ini cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan obat antidiabetes komersial yang hanya menurunkan 27% glukosa darah.Hasil uji praklinis pada tikus ini dapat dipakai sebagai acuan panggunaan pada orang yang menderita diabetes (Lina Mardiana, 2012). 

Toksisitas ekstrak air daun sirih merah dan kemampuannya dalam menurunkan kadar glukosa darah tikus. Untuk mengetahui tingkat keamanan dan efek samping daun yang bersifat antiseptic, dilakukan uji toksisitas. Ekstrak dengan konsentrasi 0,5; 10; 20 g per kg bobot badan diberikan secara oral pada masing-masing enam ekor tikus Sparague Dawley. Setelah tujuh hari, bobot tubuh ke-24 tikus bertambah, tanpa gangguan kesehatan. Hal tersebut menunjukkan bahwa pemberian ekstrak hingga dosis 20 g per kg berat badan aman dikonsumsi dan tidak bersifat toksin (racun) (Lina Mardiana, 2012). 

Menurut Mega Safithri dkk., (2012), Pengujian toksisitas akut air rebusan daun sirih merah sebagai obat antidiabetes menunjukkan bahwa selama 24 jam pertama sampai 7 hari masa percobaan tidak ada hewan yang mati baik untuk kelompok dosis 0, 5, 10, maupun 20 g/kg BB. Dengan tidak adanya kematian tikus putih pada semua dosis yang diujikan, maka dapat dikatakan bahwa rebusan sirih merah tidak bersifat toksik. Dengan demikian dianggap semua toksisitas akut dapat diabaikan dan nilai LD50 tidak perlu ditentukan karena sampai tertinggi pada skala Hodge, yaitu dosis 20 g/kg BB tidak ada tikus yang mati. Hal ini sesuai dengan klasifikasi toksisitas akut menurut skala Hodge dan Sterner yang menyatakan bahwa zat kimia dengan nilai LD50 15 g/kg BB atau lebih bersifat praktis tidak toksik (toksis tinggi, LD50 = 1 - 50 mg/kg; toksis sedang, LD50 = 50 - 500 mg/kg; toksis ringan, LD50 = 500 - 5000 mg/kg). Pengamatan berat badan baik sebelum maupun sesudah perlakuan menunjukkan peningkatan berat badan. Peningkatan berat badan ini tidaklah berbeda nyata untuk semua dosis (p>0.05). Ini berarti perlakuan yang diberikan, yaitu pemberian rebusan sirih merah, tidak mempengaruhi pertumbuhan tikus. Pemberian rebusan daun sirih merah, dengan berbagai dosis (0, 5, 10, maupun 20 g/kgBB), yang tidak mempengaruhi pertumbuhan berat badan disebabkan dosis yang diberikan tidak membuat mati tikus atau dikatakan tidak toksik sampai dosis 20 g/kg BB sehingga tidak mengganggu metabolisme dalam tubuh tikus. 

DAFTAR PUSTAKA
Andareto, O., 2015, Apotik Herbal Di Sekitar Anda, Pustaka Ilmu Semesta, Jakarta.

Candrasari, A., M. Amin R., Masna H., dan Ovy R. A., 2012, Uji Daya Antimikroba Ekstrak Etanol Daun Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz & Pav.) Terhadap Pertumbuhan Staphylococcus aureus ATCC 6538, Eschericia coli ATCC 11229 dan Candida albicans ATCC 10231 Secara In Vitro, Biomedika, Vol. 4, No.1.

Dewi, S. M., Nestrin H., Siti N., dan Eliza N. S., Aktivitas Antibakteri Minyak Atsiri Daun Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz & Pav.), Alchemy Jurnal Penelitian Kimia, Vol. 9, No. 2.

Dewi, Y. F., Made S. A., dan A. A. Gde O. D., 2014, Efektifitas Ekstrak Daun Sirih Merah (Piper crocatum) Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah Tikus Putih Jantan (Rattus novergicus) Yang Di Induksi Aloksan, Buletin Veteriner Udayana, Vol. 6, No. 1.

Fitriyani, A., Lina W., Siti M., dan Nuri, 2011, Uji Antiinflamasi Ekstrak Metanol Daun Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz & Pav.) Pada Tikus Putih, Majalah Obat Tradisional, Vol. 16, No. 1.

Hartini, Y. S., Subagus W., Sitarina W., Agustinus Y., 2013, Uji Aktivitas Fagositosis Makrofag Dari Ekstrak Metanol Daun Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz &Pav.) Secara In Vitro, Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia, Vol. 11, No. 2.

Hermiati, Rusli, Naomi Y. M., dan Mersi S. S., 2013, Ekstrak Daun Sirih Hijau dan Merah Sebagai Antioksidan Pada Minyak Kepala, Jurnal Teknik Kimia USU, Vol. 2, No. 1.

Kendran, A. A. S., Ketut T. P. G., Ni Wayan L. P., Made S. A., Anak Agung G. O. D., dan Luh D. A., 2013, Toksisitas Ekstrak Daun Sirih Merah pada Tikus Putih Penderita Diabetes Mellitus, Jurnal Veteriner, Vol. 14, No. 4.

Kerthyasa, T. G., dan Indri Y., 2013, Sehat Holistik Secara Alam: Gaya Hidup Selaras Dengan Alam, PT Mizan Pustaka, Bandung. 

Ma’rifah, A., 2012, Efek Ekstrak Daun Sirih Merah (Piper crocatum) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus, Skripsi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta. 

Mardiana, L., 2012, Daun Ajaib, Penerbit Swadaya, Jakarta. 

Reveny, J., 2011, Daya Antimikroba Ekstrak dan Fraksi Daun Sirih Merah (Piper betle Linn.), Jurnal Ilmu Dasar, Vol. 12, No. 1. 

Safithri, M., Farah F., Dan Paramitha W. N. M., 2012, Analisis Proksimat dan Toksisitas Akut Ekstrak Daun Sirih Merah Yang Berpotensi Sebagai Antidiabetes, Jurnal Gizi dan Pangan, Vol. 7, No. 1. 

Utami, P., 2013, Diet Aman & Sehat Dengan Herbal, Fmedia, Jakarta. 

Yulianti, E., Tutiek R., dan Ixora S. M., 2010, Potensi Ekstrak Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz & Pav.) Sebagai Antikanker, Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pemerintah Provinsi DIY, Vol. 11, No. 2.

MAKALAH DAUN SIRIH MERAH (Piper crocatum Ruiz & Pav.)

MAKALAH DAUN SIRIH MERAH (Piper crocatum Ruiz & Pav.)
MAKALAH DAUN SIRIH MERAH (Piper crocatum Ruiz & Pav.)
A. Deskripsi Tanaman 
Sirih secara umum tumbuh merambat dan panjangnya bisa mencapai 15 meter. Tanaman sirih mempunyai banyak spesies dan memiliki jenis yang beragam, seperti sirih gading, sirih hijau, sirih kuning dan sirih merah. Semua jenis tanaman sirih memiliki ciri yang hampir sama yaitu tanamannya merambat dan tumbuh berselang seling. Batang berwarna coklat dan beruas-ruas di tempat keluarnya akar. Daun berbentuk jantung, bertangkai dan memiliki daun pelindung. Jika diremas daun akan mengeluarkan aroma yang sedap. Bunga berupa bulir, terdapat diujung cabang dan berhadapan dengan daun. Buah sirih berbentuk bulat dan berbulu. Untuk memperbanyak tumbuhan sirih dapat dilakukan dengan stek sulur. Sirih dapat tumbuh dengan baik di ketinggian 300 dpl. Sirih akan tumbuh subur di tanah yang banyak mengandung bahan organic dan cukup air (Atingul Ma’firah, 2012). 

Tanaman sirih merah (Piper crocatum) termasuk dalam famili Piperaceae, Tanaman ini tumbuh di berbagai daerah di Indonesia, sepert Papua, Aceh, Yogyakarta, dan Jawa Barat. Batangnya bulat berwarna hijau keunguan dan tidak berbunga. Daunnya berbentuk jantung dengan bagian ujung meruncing. Panjang daun bisa meneapai 15-20 cm. Warna ujung daun hijau bersaput putih keabu-abuan. Bagian pangkal daun berwarna merah hati. Daunnya berlendir, berasa sangat pahit, dan beraroma wangi khas sirih (Hermiati dkk., 2013). 

Tanaman sirih merah dapat beradaptasi dengan baik pada setiap jenis tanah dan tidak terlalu rumit dalam pemeliharaannya. Sirih merah dapat tumbuh tanpa pemupukan, yang pernting selama pertumbuhannya adalah pengairan yang baik dan cahaya matahari yang diterima sebesar 60-75% untuk tumbuh tanaman. Namun, sirih merah lebih cocok ditanam ditempat yang teduh, terlindung dari sinar matahari langsung, dan sangat baik bila ditanam di daerah berhawa sejuk. Tanaman akan mati jika terlalu banyak air yang diberikan karena batangnya dapat membusuk. Demikian juga apabila terlalu sering terkena panas matahari langsung, tanaman akan cepat mengering dan mati. Dengan demikian, sangat cocok bila ditanam di bawah pohon besar dan rindang, atau apabila ditanam dalam pot, sebaiknya diletakkan pada tempat yang tidak terkena sinar matahari ataupun air hujan secara langsung. Pada daerah yang sesuai, daun tanaman sirih akan tumbuh melebar, dengan warna merah maroon yang sangat segar akan terlihat bila daun dibalik. Selain itu, batangnya dapat tumbuh gemuk dan kuat (W. Indri Werdhany, 2008). 

B. Klasifikasi Daun Sirih Merah (Piper crocatum)
MAKALAH DAUN SIRIH MERAH (Piper crocatum Ruiz & Pav.)

  • Klasifikasi daun sirih merah adalah sebagai berikut: (Lina Mardiana, 2012) 
  • Kingdom : Plantae 
  • Divisi : Spermatophyta 
  • Sub Divisi : Angiospermae 
  • Class : Monochlamydeae 
  • Ordo : Piperales 
  • Famili : Piperaceae 
  • Genus : Piper 
  • Spesies : Piper crocatum 

C. Nama Lokal Daun Sirih Merah
Tanaman sirih atau yang dikenal dengan nama latin Piper betle L. ternyata memiliki beragam nama, antara lain furu kuwe, purokawo, ranub, blo, sereh, belo, atau demban. Sementara itu, masyarakat di Jawa menyebut tanaman sirih dengan nama seureuh, sedah, suruh, dan sere. Masyarakat Nusa Tenggara menyebut sirih dengan nama base, sedah, nahi, kuta, mota. Masyarakat Kalimantan menyebutnya dengan nama uwit, buyu, atau uduh sifat (Prapti Utami, 2013). 

Tanaman sirih di Sulawesi disebut dengan ganjang, gapura, baulu, buya, di Maluku disebut ani-ani, papek, raunge, dan di Irian disebut reman, manaw, nai wadok, mera. Bagian tanaman sirih yang digunakan sebagai obat adalah daun dan buahnya.Namun, bagian tanaman sirih yang paling sering digunakan sebagai obat adalah daunnya (Prapti Utami, 2013). 

D. Kandungan Kimia Daun Sirih Merah
Tanaman memproduksi berbagai macam bahan kimia untuk tujuan tertentu yang disebut dengan metabolit sekunder. Metabolit sekunder tanaman merupakan bahan yang tidak esensial untuk kepentingan hidup tanaman tersebut, tetapi mempunyai fungsi untuk berkompetisi dengan makhluk hidup lainnya. 

Daun sirih merah mengandung senyawa fitokimia yakni alkaloid, saponin, tannin dan flavonoid. Kandungan kimia lainnya yang terdapat di daun sirih merah adalah minyak atsiri, hidroksicavicol, kavicol, kavibetol, allylprokatekol, karvakrol, eugenol, p-cymene, cineole, caryofelen, kadimen estragol, terpenena, dan fenil propada (Surat Djumadal, 2010). Selain itu, daun sirih merah juga mengandung senyawa glikosida, steroid/triterpenoid, antrakuinon (Julia Reveny, 2011), polevenolad (Hermiati dkk., 2013). Daun sirih mudah umumnya kaya akan kandungan diastase, gula, dan minyak atsiri lebih banyak dibandingkan dengan daun sirih tua. Namun, memiliki kandungan tannin yang relative sama (Prapti Utami, 2013). 

Karena banyaknya kandungan zat/senyawa kimia yang bermanfaat, daun sirih merah mempunyai manfaat yang sangat baik sebagai bahan obat (Obi Andareto, 2015). 

E. Penggunaan Empiris Daun Sirih Merah
Sejak zaman dahulu, tanaman sirih merah telah diketahui memiliki berbagai khasiat obat untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit atau dianggap sebagai tanaman obat multifungsi. Air rebusannya mengandung antiseptik atau karvakrol yang bersifat desinfektan dan anti jamur, sehingga bisa digunakan sebagai obat antiseptic untuk menjaga kesehatan rongga mulut, menyembuhkan penyakit keputihan dan bau tidak sedap (W. Indri Werdhany, 2008). 

Secara empiris daun sirih merah dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit seperti hepatitis, batu ginjal, menurunkan kolesterol, mencegah stroke, asam urat, kanker, hipertensi, radang liver, radang prostat, radang mata, keputihan, maag, kelelahan, nyeri sendi dan diabetes melitus (Yesy Febnica Dewi dkk., 2014).

Selain itu, memiliki efek mencegah ejakulasi dini, antikejang, membasmi kuman, penghilang rasa nyeri, menghilangkan bengkak, mengatasi radang paru, radang tenggorokan, gusi bengkak, radang payudara, hidung mimisan, kencing manis, ambeien, jantung koroner, darah tinggi, asam urat, dan batuk berdarah (Hermiati dkk., 2013).

Sementara itu, di lingkungan Kraton Yogyakarta, terbukti secara turun temurun sirih merah telah digunakan dan dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit seperti diabetes mellitus, asam urat, hepatitis, batu ginjal, hipertensi radang liver, radang prostat, radang mata, nyeri sendi, menurunkan kadar kolesterol, mencegah stroke, memperhalus kulit (W. Indri Werdhany, 2008). 

Ekstrak daun sirih dapat digunakan untuk mengobati varises serta mencegah dan menyembuhkan radang gusi dan radang tenggorokan baik secara internal maupun secara ekstrenal.Sementara itu, buah sirih dapat diolah menjadi anggur yang memiliki daya penyembuhan, tentunya jika dikonsumsi dalam jumlah yang wajar. Buah sirih juga bermanfaat untuk menurunkan kadar kolesterol dan member efek proteksi atau perlindungan terhadap serangan penyakit jantung (Prapti Utami, 2013).

Daun tanaman sirih dalam pengobatan modern sering dipergunakan sebagai adstrigensia, diuretika dan antiinflamasi, sebagai bahan obat umumnya digunakan dalam bentuk infusa dengan dosis 6% sampai 15% (Julia Reveny, 2011). 

Ekstrak metanol daun sirih merah memiliki aktivitas antiproliferatif terhadap sel kanker payudara (T47D) dengan nilai IC50 sebesar 44,25 bpj. Fraksi ekstrak etanol daun sirih merah yang berpotensi sebagai antioksidan dengan nilai IC50 sebesar 33,44 bpj, dan sebagai antikanker terhadap sel HeLa dengan nilai IC50 sebesar 1197,43 bpj (Yustina Sri Hartini, 2013). 

Menurut Obi Andareto (2015), manfaat dan khasiat ramuan daun sirih merah antara lain: 
1. Daun sirih merah untuk penyakit jantung 
Ambil daun sirih berukuran sedang sebanyak 3-4 lembar atau ukuran kecil 6-8 lembar.Cuci bersih kemudian diiris kecil-kecil. Rebus dengan air sebanyak 4 gelas (800 ml) sampai mendidih dan tersisa 2 gelas, lalu disaring.Ramuan ini diminum selagi hangat, dua kali sehari sebelum makan. Sekali minum satu gelas 

2.Daun sirih merah untuk penyakit diabetes 
Petik daun sirih merah setengah tua dan daun keenam atau ketujuh dai pucuk. Cuci bersih semua daun, kemudian diiris kecil-kecil. Rebus dengan air sebanyak tiga gelas (600 ml) sampai mendidih dan tersisa 1,5 gelas. Minum sehari tiga kali sebelum makan, sekali minum setengah gelas. Mengonsumsi air rebusan daun sirih merah setiap hari dapat menurunkan kadar gula darah sampai pada tingkat yang normal (Lina Mardiana, 2012). 

3. Daun sirih merah untuk penyakit maag atau gastritis (Tjok Gde Kerthyasa, 2013) 
Ambil 2 lembar daun sirih merah sedang yang segar, kunyah sampai benar-benar halus, lalu ditelan. Lakukan sekali sehari sebelum makan. 

4. Daun sirih merah untuk mengobati tumor dan kanker (Syamsul Hidayat dkk) 
Rendam daun yang sudah dibersihkan dalam air selama 30 menit. Daun kemudian dipotong tipis dan dikeringkan dengan cara dianginkan selama satu jam. Setelah kering, daun dapat disimpan dalam plastic kering unuk berbagai seduhan obat. 

Rebus selembar daun segar dengan dua gelas air sampai tinggal satu gelas. Air rebusan dibagi tiga dan diminum tiga kali sehari sebelum makan untuk pengobatan tumor payudara. 

F. Aktivitas Farmakologi Daun Sirih Merah
Adanya kandungan senyawa yang triterpenoid, flavonoid dan tannin yang dimiliki oleh daun sirih merah menunjukkan bahwa daun sirih merah mempunyai aktivitas sebagai antimikroba yang mampu melawan beberapa bakteri gram positif dan gram negative (Julia Reveny, 2012).

Menurut Yustina (2013), aktivitas imunomodulasi kemungkinan diperngaruhi oleh adanya alkaloid atau terpenoid yang merupakan metabolit sekunder yang bertanggung jawab terhadap peningkatan aktivitas fagositosis makrofag. 

Daya antifungi yang dimiliki oleh daun sirih mungkin disebabkan oleh adanya senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, dan minyak atsiri.Alkaloid adalah zat aktif dari tanaman yang berfungsi sebagai obat dan aktivator kuat bagi sel imun yang dapat menghancurkan bakteri, virus, jamur, dan sel kanker.Alkaloid mempunyai aktivitas antimikroba dengan menghambat esterase, DNA, RNA polimerase, dan respirasi sel serta berperan dalam interkalasi DNA. Sedangkan sebagai antifungi, secara biologi alkaloid menyebabkan kerusakan membran sel. Alkaloid akan berikatan kuat dengan ergosterol membentuk lubang atau saluran sehingga menyebabkan membran sel bocor dan kehilangan beberapa bahan intra sel seperti elektrolit (terutama kalium) dan molekul-molekul kecil. Hal ini dapat mengakibatkan kerusakan yang tetap pada sel dan kematian sel pada jamur (Anika Candrasari, 2012). Menurut Lina Mardiana (2012), kandungan alkaloid daun sirih merah juga dapat menurunkan kadar glukosa darah, antioksidan, anti kanker, antiseptic dan antiinflamasi. 

Senyawa flavonoid dan minyak atsiri dilaporkan berperan sebagai antifungi. Selain itu, flavonoid juga dilaporkan berperan sebagai antivirus, antibakteri, antiradang, dan antialergi. Sebagai antifungi, flavonoid mempunyai senyawa genestein yang berfungsi menghambat pembelahan atau proliferasi sel. Senyawa ini mengikat protein mikrotubulus dalam sel dan mengganggu fungsi mitosis gelendong sehingga menimbulkan penghambatan pertumbuhan jamur. Flavonoid menunjukkan toksisitas rendah pada mamalia sehingga beberapa flavonoid digunakan sebagai obat bagi manusia (Anika Candrasari, 2012). Selain itu, flavonoid daun sirih merah dapat menurunkan kadar glukosa darah, antioksidan, anti kanker, antiseptic dan antiinflamasi (Lina Mardiana, 2012). Flavonoid bekerja menghambat fase penting dalam biosintesis prostaglandin, yaitu pada lintasan siklooksigenase.Flavonoid juga menghambat fosfodiesterase, aldoreduktase, monoamine oksidase, protein kinase, DNA polymerase dan lipooksigenase (Atik Fitriyani, 2011). 

Aktivitas antiinflamasi ekstrak daun sirih merah diperkirakan karena adanya senyawa golongan flavonoid saponin dan tannin. Mekanisme flavonoid dalam menghambat proses terjadinya inflamasi melalui dua cara, yaitu dengan menghambat permeabilitas kapiler dan menghambat metabolisme asam arakidonat dan sekresi enzim lisosom dari sel neutrofil dan sel endothelial (Atik Fitriyani, 2011). 

Flavonoid berperan penting dalam menjaga permeabilitas serta meningkatkan resistensi pembuluh darah kapiler. Oleh karena itu, flavonoid digunakan pada keadaan patologis seperti terjadinya gangguan permeabilitas dinding pembuluh darah. Terjadinya kerusakan pembuluh darah kapiler akibat radang menyebabkan peningkatan permeabilitas kapiler, sehingga darah (terutama plasma darah) akan keluar dari kapiler jaringan, diikuti dengan terjadinya respon inflamasi. Flavonoid terutama bekerja pada endothelium mikrovaskular untuk mengurangi terjadinya hipermeabilitas dan radang. Beberapa senyawa flavonoid dapat menghambat pelepasan asam arakhidonat dan sekresi enzim lisosom dari membrane dengan jalan memblok jalur siklooksigenase. Penghambatan jalur siklooksigenase dapat menimbulkan pengaruh lebih luas karena reaksi siklooksigenase merupakan langkah pertama pada jalur yang menuju ke hormon eikosanoid seperti prostaglandin dan tromboksan (Atik Fitriyani, 2011). 

Senyawa flavonoid juga dapat menunjukkan potensi yang dimiliki sebagai antikanker dengan cara mengahambat poliferasi melalui inhibisi proses oksidatif yang dapat menyebabkan inisiasi kanker. Mekanisme ini diperantara penurunan enzim xanthin oksidase, siklooksigenase (COX) dan lipooksigenase (LOX) yang diperlukan dalam proses prooksidasi sehingga menunda siklus sel. Aktivitas antikanker juga ditunjukkan flavonoid melalui induksi apoptosis. Flavonoid menghambat ekspresi enzim topoisomerasi I dan topoisomerase II yang berperan dalam katalisis pemutaran dan relaksasi DNA. Inhibitor enzim topoisomerase akan menstabilkan kompleks topoisomerase dan menyebabkan DNA terpotong dan mengalimi kerusakan. Kerusakan DNA dapat menyebabkan terekspresinya protein proapoptosis seperti Bax dan Bak dan menurunkan ekspresi protein-protein antiapoptosis yaitu Bcl-2 dan Bcl-XL. Dengan demikian pertumbuhan sel kanker terhambat. Sebagian besar flavonoid telah terbukti mampu meghambat proliferasi pada berbagai sel kanker pada manusia namun bersifat tidak toksik pada sel normal manusia (Evy Yuliaanti, 2010). 

Senyawa golongan flavonoid juga mampu menghambat proses karsinogenesis baik secara in viro maupun in vivo. Penghambatan terjadi pada tahap inisiasi, promosi maupun progresi melalui mekanisme molekuler antara lain inaktivasi senyawa karsinogen, antipoliferatif, penghambatan angiogenesis dan daur sel, induksi apoptosis, dan aktivitas antioksidan. Flavanoid juga meningkatkan ekspresi enzim gluthation S-transferase (GST) yang dapat mendetoksifikasi karsinogen reaktif menjadi tidak reaktif dan lebih polar sehingga cepat dieliminasi dari tubuh. Selain itu, flavonoid juga dapat mengikat senyawa karsinogen sehingga dapat mencegah ikatan dengan DNA, RNA atau proten target. Sifat aktioksidan dari senyawa flavonoid juga dapat menghibisi proses karsinogenesis. Fase inisiasi kanker seringkali diawali dengan oksidasi DNA yang menyebabkan mutasi oleh senyawa karsinogen. Karsinogen aktif seperti radikal oksigen, peroksidan dan superoksida, dapat distabilkan oleh flavonoid melalui reaksi hidrogenasi maupun pembentukan kompleks (Evy Yulianti, 2010). 

Tanin juga diduga mempunyai efektivitas dalam menghambat pertumbuhan atau membunuh Candida albicans. Tanin bersifat menciutkan dan mengendapkan protein dari larutan dengan membentuk senyawa yang tidak larut. Selain itu, tanin berperan dalam sistem pertahanan tubuh dan mempunyai aktivitas antioksidan serta antiseptic (Anika Candrasari, 2012). Selain itu, tanin diketahui mempunyai aktifitas antiinflamasi, astringen, antidiare, diuretik dan antiseptic (Atik Fitriyani, 2011). 

Tanin adalah senyawa fenol yang terdapat luas dalam tumbuhan. Menurut batasannya, tannin dapat bereaksi dengan proteinmembentuk kapolismer mantap yang tidaklarut dalam air. Tanin mampu menyambungsilang protein dan membantu membentukselaput tipis yang melindungi usus, sehingga menghambat absorpsi glukosa dan laju peningkatan glukosa darah tidak terlalu tinggi. Selain zat-zat tersebut, sirih merah juga mengandung saponin dan minyak atsiri. Saponin merupakan glikosida yang dalam kadarrendah mampu berfungsi sebagai hepatoprotektor, sedangkan minyak atsiri berperan sebagai antiradang dan antiseptic (Anak Agung Sagung Kendran, 2013). 

Pengaruh senyawa fenol yang terdapat dalam daun sirih merah terhadap Candida albicans adalah mendenaturasi ikatan protein pada membran sel sehingga membran sel lisis dan mungkin fenol dapat menembus ke dalam inti sel. Masuknya fenol ke dalam inti sel inilah yang menyebabkan jamur tidak berkembang (Anika Candrasari, 2012). 

Polifenol merupakan senyawa fenol yang memiliki gugus hidroksil (–OH). Senyawa polifenol ini adalah antioksidan yang kekuatannya 100 kali lebih efektif dibandingkan vitamin C dan 25 kali lebih efektif dibandingkan vitamin E. Penderita diabetes membutuhkan antioksidan dalam pengobatannya, karena kadar gula darah yang tinggi dalam jangka waktu yang lama akan memicu timbulnya reaksi autooksidasi yang mengakibatkan menumpuknya radikal bebas dalam tubuh penderita. Oleh karena itu diperlukan suatu senyawa yang mampu mengikat radikal bebas untuk menekan timbulnya komplikasi (Anak Agung Sagung Kendran, 2013). 

Kandungan karvakol yang dimiliki oleh daun sirih merah dapat berfungsi sebagai desinfektan dan antijamur. Eugenol sebagai obat pereda nyeri atau analgesic. Komponen minyak atsiri mempunyai aktivitas antibakteri yaitu dapat menghambat atau membunuh pertumbuhan bakteri pathogen (Soerya Dewi dkk., 2013). 

Aktivitas farmakologi saponin yang telah dilaporkan antara lain sebagai antiinflamasi, antibiotik, antifungi, antivirus, hepatoprotektor serta antiulcer. Mekanisme antiinflamasi saponin adalah dengan menghambat pembentukan eksudat dan menghambat kenaikan permeabilitas vascular (Atik Fitriyani, 2011). Saponin juga dapat berfungsi sebagai antimikroba (bakteri dan virus) (Lina Mardiana, 2012). 

G. Pengujian Toksisitas
Uji toksisitas digunakan untuk mengetahui tingkat keamanan obat bagi tubuh. Uji toksisitas ada 2 yaitu ji toksisitas akut dan uji toksisitas kronis. Uji toksisitas akut sangat penting untuk mengukur dan mengevaluasi karekteristik toksik dari suatu bahan kimia. Uji ini dapat menyediakan informasi tentang bahaya kesehatan manusia yang berasal dari bahan kimia yang terpapar dalam tubuh pada waktu pendek melalui jalur oral. Sementara uji toksisitas kronis dilakukan untuk mengetahui efek jangka panjang obat. Parameter yang sering digunakan adalah adanya perubahan pada hati dan ginjal baik secara structural maupun fungsional. Hati sebagai organ metabolism utama yang sering mengalami kerusakan karena obat itu sendiri. Sementara itu, ginjal merupakan organ ekskresi utama yang sangat penting untuk mengeluarkan sisa-sisa metabolisme tubu, seperti zat-zat toksik yang masuk ke dalam tubuh baik sengaja maupun tidak termasuk obat (Anak Agung Sagung Kendran, 2013). 

Hasil uji praklinis pada tikus dengan pemberian ekstrak hingga dosis 20 g/kg berat badan, sirih merah sangat ana di konsumsi dan tidak bersifat toksik. Pada dosis tersebut, mampu menurunkan kadar glukosa darah tikus sebesar 34,3% (W. Indri Werdany, 2008). 

Uji praklinis yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balittro) Bogor menunjukkan bahwa pemberian ekstrak sirih merah 20 g per kg bobot tikus menurunkan kadar glukosa darah tikus sebesar 34,3%. Hasil ini cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan obat antidiabetes komersial yang hanya menurunkan 27% glukosa darah.Hasil uji praklinis pada tikus ini dapat dipakai sebagai acuan panggunaan pada orang yang menderita diabetes (Lina Mardiana, 2012). 

Toksisitas ekstrak air daun sirih merah dan kemampuannya dalam menurunkan kadar glukosa darah tikus. Untuk mengetahui tingkat keamanan dan efek samping daun yang bersifat antiseptic, dilakukan uji toksisitas. Ekstrak dengan konsentrasi 0,5; 10; 20 g per kg bobot badan diberikan secara oral pada masing-masing enam ekor tikus Sparague Dawley. Setelah tujuh hari, bobot tubuh ke-24 tikus bertambah, tanpa gangguan kesehatan. Hal tersebut menunjukkan bahwa pemberian ekstrak hingga dosis 20 g per kg berat badan aman dikonsumsi dan tidak bersifat toksin (racun) (Lina Mardiana, 2012). 

Menurut Mega Safithri dkk., (2012), Pengujian toksisitas akut air rebusan daun sirih merah sebagai obat antidiabetes menunjukkan bahwa selama 24 jam pertama sampai 7 hari masa percobaan tidak ada hewan yang mati baik untuk kelompok dosis 0, 5, 10, maupun 20 g/kg BB. Dengan tidak adanya kematian tikus putih pada semua dosis yang diujikan, maka dapat dikatakan bahwa rebusan sirih merah tidak bersifat toksik. Dengan demikian dianggap semua toksisitas akut dapat diabaikan dan nilai LD50 tidak perlu ditentukan karena sampai tertinggi pada skala Hodge, yaitu dosis 20 g/kg BB tidak ada tikus yang mati. Hal ini sesuai dengan klasifikasi toksisitas akut menurut skala Hodge dan Sterner yang menyatakan bahwa zat kimia dengan nilai LD50 15 g/kg BB atau lebih bersifat praktis tidak toksik (toksis tinggi, LD50 = 1 - 50 mg/kg; toksis sedang, LD50 = 50 - 500 mg/kg; toksis ringan, LD50 = 500 - 5000 mg/kg). Pengamatan berat badan baik sebelum maupun sesudah perlakuan menunjukkan peningkatan berat badan. Peningkatan berat badan ini tidaklah berbeda nyata untuk semua dosis (p>0.05). Ini berarti perlakuan yang diberikan, yaitu pemberian rebusan sirih merah, tidak mempengaruhi pertumbuhan tikus. Pemberian rebusan daun sirih merah, dengan berbagai dosis (0, 5, 10, maupun 20 g/kgBB), yang tidak mempengaruhi pertumbuhan berat badan disebabkan dosis yang diberikan tidak membuat mati tikus atau dikatakan tidak toksik sampai dosis 20 g/kg BB sehingga tidak mengganggu metabolisme dalam tubuh tikus. 

DAFTAR PUSTAKA
Andareto, O., 2015, Apotik Herbal Di Sekitar Anda, Pustaka Ilmu Semesta, Jakarta.

Candrasari, A., M. Amin R., Masna H., dan Ovy R. A., 2012, Uji Daya Antimikroba Ekstrak Etanol Daun Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz & Pav.) Terhadap Pertumbuhan Staphylococcus aureus ATCC 6538, Eschericia coli ATCC 11229 dan Candida albicans ATCC 10231 Secara In Vitro, Biomedika, Vol. 4, No.1.

Dewi, S. M., Nestrin H., Siti N., dan Eliza N. S., Aktivitas Antibakteri Minyak Atsiri Daun Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz & Pav.), Alchemy Jurnal Penelitian Kimia, Vol. 9, No. 2.

Dewi, Y. F., Made S. A., dan A. A. Gde O. D., 2014, Efektifitas Ekstrak Daun Sirih Merah (Piper crocatum) Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah Tikus Putih Jantan (Rattus novergicus) Yang Di Induksi Aloksan, Buletin Veteriner Udayana, Vol. 6, No. 1.

Fitriyani, A., Lina W., Siti M., dan Nuri, 2011, Uji Antiinflamasi Ekstrak Metanol Daun Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz & Pav.) Pada Tikus Putih, Majalah Obat Tradisional, Vol. 16, No. 1.

Hartini, Y. S., Subagus W., Sitarina W., Agustinus Y., 2013, Uji Aktivitas Fagositosis Makrofag Dari Ekstrak Metanol Daun Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz &Pav.) Secara In Vitro, Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia, Vol. 11, No. 2.

Hermiati, Rusli, Naomi Y. M., dan Mersi S. S., 2013, Ekstrak Daun Sirih Hijau dan Merah Sebagai Antioksidan Pada Minyak Kepala, Jurnal Teknik Kimia USU, Vol. 2, No. 1.

Kendran, A. A. S., Ketut T. P. G., Ni Wayan L. P., Made S. A., Anak Agung G. O. D., dan Luh D. A., 2013, Toksisitas Ekstrak Daun Sirih Merah pada Tikus Putih Penderita Diabetes Mellitus, Jurnal Veteriner, Vol. 14, No. 4.

Kerthyasa, T. G., dan Indri Y., 2013, Sehat Holistik Secara Alam: Gaya Hidup Selaras Dengan Alam, PT Mizan Pustaka, Bandung. 

Ma’rifah, A., 2012, Efek Ekstrak Daun Sirih Merah (Piper crocatum) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus, Skripsi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta. 

Mardiana, L., 2012, Daun Ajaib, Penerbit Swadaya, Jakarta. 

Reveny, J., 2011, Daya Antimikroba Ekstrak dan Fraksi Daun Sirih Merah (Piper betle Linn.), Jurnal Ilmu Dasar, Vol. 12, No. 1. 

Safithri, M., Farah F., Dan Paramitha W. N. M., 2012, Analisis Proksimat dan Toksisitas Akut Ekstrak Daun Sirih Merah Yang Berpotensi Sebagai Antidiabetes, Jurnal Gizi dan Pangan, Vol. 7, No. 1. 

Utami, P., 2013, Diet Aman & Sehat Dengan Herbal, Fmedia, Jakarta. 

Yulianti, E., Tutiek R., dan Ixora S. M., 2010, Potensi Ekstrak Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz & Pav.) Sebagai Antikanker, Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pemerintah Provinsi DIY, Vol. 11, No. 2.