MAKALAH DESAIN STUDI OBSERVASI - ElrinAlria
MAKALAH DESAIN STUDI OBSERVASI

MAKALAH FARMAKOEPIDEMIOLOGI
“DESAIN STUDI OBSERVASI“
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Secara umum dalam kegiatan penelitian merupakan suatu cara dalam memperoleh pengetahuan atau memecahkan permasalahan yang dihadapi, dilakukan secara ilmiah, sistematis dan logis, dalam menempuh langkah-langkah tertentu. Dalam penelitian melibatkan metode-metode penelitian untuk mendukung terlaksananya penelitian.

Metode observasi paling banyak digunakan dalam mengkaji perkembangan suatu permasalahan. Observasi langsung merupakan bagian penting dari proses penemuan, dalam pengajaran maupun penelitian.

Studi observasi merupakan metode pengumpulan data esensial dalam penelitian, apalagi penelitian dengan pendekatan kualitatif. Agar memberikan data yang akurat dan bermanfaat, observasi sebagai metode ilmiah harus dilakukan oleh peneliti yang sudah melewati latihan-latihan yang memadai, serta telah mengadakan persiapan yang teliti dan lengkap.

Studi observasi terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu studi deskriptif dan studi analitik. Studi deskriptif umumnya paling sering digunakan untuk menggambarkan pola penyakit dan untuk mengukur kejadian dari faktor risiko untuk penyakit (pajanan) pada satu populasi. Sedangkan jika kita ingin mengetahui asosiasi antara kejadian penyakit dan faktor risikonya, maka studi analitik dilakukan. Untuk itu dalam makalah ini akan menjelaskan lebih jelas apa saja yang termasuk dalam studi observasi.

1.2 RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah pada makalah ini adalah sebagai berikut :
  1. Apa yang dimaksud Studi Observasi !
  2. Jelaskan tahap-tahap studi observasi !
  3. Jelaskan macam-macam studi observasi!
  4. Jelaskan manfaat studi observasi!
  5. Jelaskan salah satu contoh jurnal tentang menggunakan studi observasi!

1.3 TUJUAN
Tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut :
  1. Untuk mengetahui Studi Observasi.
  2. Untuk mengetahui tahap-tahap studi observasi.
  3. Untuk mengetahui macam-macam studi observasi. 
  4. Untuk mengetahui manfaat studi observasi.
  5. Untuk mengetahui salah satu contoh jurnal tentang menggunakan studi observasi.

1.4 MANFAAT
Manfaat dari makalah ini adalah sebagai berikut :
  1. Kita dapat mengetahui Studi Observasi.
  2. Kita dapat mengetahui tahap-tahap studi observasi.
  3. Kita dapat mengetahui macam-macam studi observasi. 
  4. Kita dapat mengetahui manfaat studi observasi.
  5. Kita dapat mengetahui salah satu contoh jurnal tentang menggunakan studi observasi.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Studi Desain Observasi 
Pengertian observasi diberi batasan sebagai berikut: “studi yang disengaja dan sistematis tentang fenomena sosial dan gejala-gejala psikis dengan jalan pengamatan dan pencatatan”. Selanjutnya dikemukakan tujuan observasi adalah: “mengerti ciri-ciri dan luasnya signifikansi dari inter relasinya elemen-elemen tingkah laku manusia pada fenomena sosial serba kompleks dalam pola-pola kulturil tertentu”. tidak memberikan batasan tentang observasi tetapi memberikan penjelasan tentang observasi sebagai berikut: “Observasi barangkali menjadi metode yang paling dasar dan paling tua di bidang psikologi, karena dengan cara-cara tertentu kita selalu terlibat dalam proses mengamati. Semua bentuk penelitian psikologis, baik itu kualitatif maupun kuantitatif mengandung aspek observasi di dalamnya. Istilah observasi diturunkan dari bahasa Latin yang berarti “melihat” dan “memperhatikan”. Istilah observasi diarahkan pada kegiatan memperhatikan secara akurat, mencatat fenomena yang muncul, dan mempertimbangkan hubungan antar aspek dalam fenomena tersebut. Observasi selalu menjadi bagian dalam penelitian psikologis, dapat berlangsung dalam konteks laboratorium (eksperimental) maupun dalam konteks alamiah. 

Observasi merupakan metode pengumpulan data esensial dalam penelitian, apalagi penelitian dengan pendekatan kualitatif. Agar memberikan data yang akurat dan bermanfaat, observasi sebagai metode ilmiah harus dilakukan oleh peneliti yang sudah melewati latihan-latihan yang memadai, serta telah mengadakan persiapan yang teliti dan lengkap.

Pengamatan (observasi) maka dapat disimpulkan bahwa pengamatan (observasi) dalam konteks penelitian ilmiah adalah studi yang disengaja dan dilakukan secara sistematis, terencana, terarah pada suatu tujuan dengan mengamati dan mencatat fenomena atau perilaku satu atau sekelompok orang dalam konteks kehidupan sehari-hari, dan memperhatikan syarat-syarat penelitian ilmiah. Dengan demikian hasil pengamatan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Observasi merupakan salah satu teknik teknik pengumpulan data yang menggunakan pertolongan indra mata. Teknik ini bermanfaat untuk:
  1. Mengurangi jumlah pertanyaan, misalnya pertanyaan tentang kebersihan rumah tidak perlu ditanyakan, tetapi cukup dilakukan observasi oleh pewawancara. 
  2. Mengukur kbenaran jawaban pada wawancaa, misalnya pertanyaan tentang kualitas air minum yang digunakan oleh responden dapat dinilai dengan melakukan observasi langsung pada sumber air yang dimaksud; 
  3. Untuk memperoleh data yang tidak dapat diperoleh dengan cara wawancara atau angket, misalnya, pengamatan terhadap prosedur tetap dalam suatu pelayanan kesehatan. 

2.2 Tahap-Tahap Observasi
Mengenai tahap-tahap observasi, penulis seperti Adler dan Adler (dalam Basuki, 2006) menyatakan bahwa observasi memiliki 7 (tujuh) tahap, yaitu:
  1. Seleksi suatu latar (setting) yaitu dimana dan kapan proses-proses dan individu-individu yang menarik itu dapat diobservasi 
  2. Berikan definisi tentang apa yang dapat didokumentasikan dalam observasi itu dan dalam setiap kasus. 
  3. Latihan untuk pengamat supaya ada standarisasi misalnya apa yang dijadikan fokus-fokus penelitian. 
  4. Observasi deskriptif yang memberikan suatu pemaparan umum mengenai lapangan. 
  5. Observasi terfokus yang semakin terkonsentrasi pada aspek-aspek yang relevan dengan pertanyaan penelitian. 
  6. Observasi selektif yang dimaksudkan untuk secara sengaja menangkap hanya aspek-aspek pokok. 
  7. Akhir dari observasi apabila kepenuhan teori telah tercapai, yaitu apabila observasi lebih lanjut tidak memberikan pengetahuan lanjutan. 

2.3 Macam-Macam Studi Observasi
Adapun macam-macam dari desan studi observatif adalah :
1. Studi Deskriptif
Studi deskriptif adalah riset epidemiologi yang bertujuan menggambarkan pola distribusi penyakit dan determinan penyakit menurut populasi, letak geografik, dan waktu. Indikator yang digunakan mencakup faktor-faktor sosio demografik seperti umur, gender, ras, status perkawinan, pekerjaan; maupun variabel-variabel gaya hidup seperti jenis makanan, pemakaian obat-obatan, serta perilaku seksual.

Studi deskriptif memberikan beberapa manfaat. Pertama, memberikan masukan masukan tentang pengalokasian sumber daya dalam rangka perencanaan yang efisien, kepada para perencana kesehatan, administrator kesehatan, dan pemberi pelayanan kesehatan. Kedua, memberikan petunjuk awal untuk merumuskan hipotesis bahwa suatu variabel adalah faktor resiko penyakit. Hipotesis tersebut kelak diuji lebih lanjut pada studi analitik, 

2. Studi Ekologikal
Studi ekologikal atau studi korelasi populasi adalah studi epidemiologi dengan populasi sebagai unit analisis, yang bertujuan mendeskripsikan hubungan korelatif antara penyakit dan faktor-faktor yang diminati penelitian. Faktor-faktor tersebut misalnya, umur, bulan, obat-obatan, dll. Unit observasi dan unit analis pada studi ini adalah kelompok (agregat) individu, komunitas atau populasi yang lebih besar. Agregat tersebut biasanya dibatasi oleh scara geografik, misalnya penduduk provinsi, penduduk kotamaadya, penduduk negara, dan sebagainya.

Kekuatan pada studi ekologikal adalah dapat menggunkan data insidensi, prevalensi maupun mortalitas. Rancangan ini tepat sekali digunkan pada peneyelidikan awal hubungan penyakit, sebab mudah dilakukan dan murah dengan memanfatkan informasi yang tersedia. Mislanya, Biro Pusat Statistik secara teratur mengumpulkan data demografi dan data konsumsi yang dapat dikorelasikan dengan morbiditas, mortalitas dan penggunaan sumber sumberdaya keehatan yang dikumpulkan Depatemen Kesehatan.

Kelemahan pada studi ini adalah studi ekologi tak dapat dipakai untuk menganalisis hubungan sebab akibat karena dua alasan. Alasan pertama adalah, ketidakmampuan menjembatani kesenjangan status paparan dan status penyakit pada tingkat populasi dan individu. Sedangkan alasan kedua adalah studi ekologi tak mampu untuk mengontrol faktor perancu potensial. 

3. Studi Potong Lintang (Cross Sectional)
Studi potong lintang adalah rancangan studi epidemiologi yang mempelajari hubungan penyakit dan paparan (faktor penelitian) dengan cara mengamati status paparan dan penyakit serentak pada individu-individu dari populasi tunggal pada satu saat atau satu periode. Tujuan studi potong-lintang adalah untuk memperoleh gambaran pola penyakit dan determinan-dterminannya pada populasi sasaran.

Kekuatan studi potong lintang ialah kemudahannya untuk dilakukan dan murah, sebab tidak memerlukan follow-up. Jika tujuan penelitian “sekadar” mendeskripsikan distribusi penyakit dihubungkan dengan faktor-faktor penelitian, maka studi potong lintang adalah rancangan studi yang cocok, efisien, dan cukup kuat di segi metodologik. Selain itu, studi potong-lintang tak “memaksa” subjek untuk mengalami faktor yang diperkirakan bersifat merugikan kesehatan “faktor resiko”.

Kelemahan studi potong-lintang adalah tidak tepat digunakan untuk menganalisis hubungan kausal paparan dan penyakit. Hal ini disebabkan karena validitas penilaian hubungan kausal yang menuntut sekuensi waktu yang jelas antara paparan dan penyakit (yaitu, paparan harus mendahului penyakit) sulit untuk dipenuhi pada studi ini.

4. Studi Kasus Kontrol (studi retrospektif)/ Case Reference/Case Control
Studi kasus control mengikuti paradigma yang menelusuri dari efek ke penyebab. Di dalam studi kasus control, individual dengan kondisi khusus atau berpenyakit (kasus) dipilih untuk dibandingkan dengan sejumlah indivual yang tak memiliki penyakit (kontrol). Kasus dan kontrol dibandingkan dalam hal sesuatu yang telah ada atau atribut masa lalu atau pajanan menjadi sesuatu yang relevan dengan perkembangan atau kondisi penyakit yang sedang dipelajari.

Studi kasus kontrol merupakan salah satu rancangan riset epidemiologi yang paling popular belakangan ini karena kekuatan yang dimilikinya. Kekuatan studi kasus kontrol anatara lain, relatif murah, relatif cepat, hanya membutuhkan perbandingan subjek yang sedikit, tak menciptakan subjek yang berisiko, cocok untuk studi dari penyakit yang aneh ataupun penyakit yang memiliki periode laten lama, dan sebagainya.

Studi kasus kontrol memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan pertama adalah studi kasus kontrol memiliki metodologi kausal yang bertentangan dengan logika eksperimen klasik. Logika “normal” penelitian hubungan kauasal paparan dan penyakit lazimnya diawali dengan identifikasi paparan (sebagai penyebab) kemudian diikuti selama periode tertentu untuk melihat perkembangan penyakit (sebagai akibat). Studi kasus kontrol melakukan hal yang sebalikanya : melihat akibatnya dulu, baru menyelidiki apa penyebabnya. Kelemahan-kelemahan yang lain adalah studi kasus kontrol tidak efisien untuk mempelajari paparan-paparan yang langka, peneliti tak dapat menghitung laju insidensi penyakit baik populasi yang terpapar maupun yang tak terpapar karena subjeknya dipilih berdasarkan status penyakit, tidak mudah untuk memastikan hubungan temporal antara paparan dan penyakit.

5. Studi Kohor
Studi kohor,juga biasa disebut follow up atau studi insidens, bermula dari sejumlah kelompok orang (kohor) yang bebas dari penyakit, yang diklasifikasikan ke dalam subgrup berdasarkan tingkat pajanan kepada kejadian potemsial penyakit atau outcome. Kelompok-kelompok studi dengan karakteristik tertentu yang sama (yaitu pada awalnya bebas dari penyakit) tetapi memiliki tingkat keterpaparan yang berbeda, dan kemudian dibandingkan insidensi penyakit yang dialaminya selama periode waktu, disebut kohor. Ciri-ciri lainnya dari studi kohor adalah dimungkinkannya penghitungan laju insidensi (ID) dari masing-masing kelompok studi.

Ada beberapa kekuatan dalam studi kohor. Pertama, studi kohor dilakukan sesuai dengan logika eksperimental dalam membuat inferensi kausal, yaitu penelitian dimulai dengan menentukan faktor penyebab (anteseden) diikuti dengan akibat (konsekuen). Kedua, peneliti dapat menghitung laju insidensi. Ketiga, studi kohor sesuai untuk meneliti paparan yang langka(misalnya faktor-faktor lingkungan). Keempat, studi kohor memungkinkan peneliti mempelajari sejumlah efek serentak dari sebuah paparan. Kelima, pada studi kohor prospektif, kemungkinan terjadi bias dalam menyeleksi subjek dan menentukan status paparan adalah kecil,sebab penyakit yang diteliti belum terjadi. Keenam, karena bersifat observasional, maka tidak ada subjek yang sengaja dirugikan karena tidak mendapatkan terapi yang bermanfaat.

Studi kohor juga memiliki berbagai kelemahan. Kelemahan utama, rancangan studi kohor prospektif lebih mahal dan membutuhkan waktu yang lebih lama daripada studi kasus kontrol atau studi kohor retrospektif. Kedua, tidak efisien dan tidak praktis untuk mempelajari penyakit yang langka, kecuali jika ukuran besar atau prevalensi penyakit pada kelompok terpapar cukup tinggi. Ketiga, subjek dapat saja hilang atau pergi selama penelitian. Keempat, karena faktor penelitian sudah ditentukan terlebih dahulu pada awal penelitian, maka studi kohor tidak cocok untuk merumuskan hipotesis tentang faktor-faktor etiologi lainnya untuk penyakit itu, tatkala penelitian terlanjur berlangsung.

2.4 Manfaat Pengamatan / Observasi
Menurut Guba dan Lincoln (dalam Basuki, 2006) alasan-alasan pengamatan (observasi) dimanfaatkan sebesar-besarnya dalam penelitian kualitatif, intinya karena:
  1. Pengamatan merupakan pengalaman langsung, dan pengalaman langsung dinilai merupakan alat yang ampuh untuk memperoleh kebenaran. Apabila informasi yang diperoleh kurang meyakinkan, maka peneliti dapat melakukan pengamatan sendiri secara langsung untuk mengecek kebenaran informasi tersebut. 
  2. Dengan pengamatan dimungkinkan melihat dan mengamati sendiri, kemudian mencatat perilaku dan kejadian sebagaimana yang sebenarnya. 
  3. Pengamatan memungkinkan peneliti mencatat peristiwa yang berkaitan dengan pengetahuan yang relevan maupun pengetahuan yang diperoleh dari data. 
  4. Sering terjadi keragu-raguan pada peneliti terhadap informasi yang diperoleh yang dikarenakan kekhawatiran adanya bias atau penyimpangan. Bias atau penyimpangan dimungkinkan karena responden kurang mengingat peristiwa yang terjadi atau adanya jarak psikologis antara peneliti dengan yang diwawancarai. Jalan yang terbaik untuk menghilangkan keragu-raguan tersebut, biasanya peneliti memanfaatkan pengamatan 
  5. Pengamatan memungkinkan peneliti mampu memahami situasi-situasi yang rumit. Situasi yang rumit mungkin terjadi jika peneliti ingin memperhatikan beberapa tingkah laku sekaligus. Jadi pengamatan dapat menjadi alat yang ampuh untuk situasi-situasi yang rumit dan untuk perilaku yang kompleks. 
  6. Dalam kasus-kasus tertentu dimana teknik komunikasi lainnya tidak dimungkinkan, pengamatan menjadi alat yang sangat bermanfaat. Misalkan seseorang mengamati perilaku bayi yang belum bisa berbicara atau mengamati orang-orang luar biasa, dan sebagainya. 

2.5 Contoh Jurnal Penelitian Studi Observasi
Penelitian I Made Kusuma Wijaya tentang “Pengetahuan, Sikap dan Motivasi Terhadap Keaktifan Kader dalam Pengendalian Tuberculosis” , Jurnal Kesehatan Masyarakat , Kemas 8 (2) (2013) 137-144. 

Abstrak penelitiannya dimana Masalah penelitian adalah bagaimana hubungan antara pengetahuan, sikap, dan motivasi kader kesehatan dalam pengendalian kasus tuberkulosis. Tujuan penelitian untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan, sikap, dan motivasi kader kesehatan dalam pengendalian kasus tuberkulosis di Kabupaten Buleleng. Metode penelitian menggunakan desain studi analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Randomisasi dilakukan untuk mendapatkan sampel penelitian. Instrumen menggunakan kuesioner dan analisis menggunakan multivariat dengan regresi logistic ganda. 

Dari Jurnal tersebut diketahui peneliti menggunakan Metode penelitian yaitu desain studi analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh kader kesehatan yang ada di Kabupaten Buleleng, Bali yang terdaftar sebagai kader tuberkulosis. Sedangkan Sampel dalam penelitian ini adalah kader kesehatan di Kabupaten Buleleng yang berdasarkan perhitungan terpilih sebanyak 60 sampel yang diambil secara random. 

Variabel penelitian terdiri dari variable independen yaitu (1) pengetahuan yang merupakan hasil tahu kader kesehatan tentang gejala, cara penularan, pencegahan, penemuan tersangka tuberkulosis, (2) sikap yang menyangkut perasaan,dukungan,dan suasana hati kader kesehatan, (3) motivasi yang menyangkut rasa tanggung jawab dan penghargaan yang didapatkan kader kesehatan dan variable dependen yaitu keaktifan kader kesehatan dalam pengendalian kasus tuberculosis.

Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara variabel pengetahuan dengan keaktifan kader (p=0,012; OR=18.44), antara sikap dengan keaktifan kader (p=0,011; OR=8.08), dan antara motivasi dengan keaktifan kader (p=0,018; OR=15.01). Kader kesehatan dengan pengetahuan tinggi memiliki kemungkinan untuk aktif 18 kali lebih besar daripada pengetahuan rendah. Kader kesehatan dengan sikap baik memiliki kemungkinan untuk aktif 8 kali lebih besar daripada sikap kurang. Kader kesehatan dengan motivasi tinggi memiliki kemungkinan untuk aktif 15 kali lebih besar daripada motivasi rendah. Simpulan penelitian terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan, sikap, dan motivasi dengan keaktifan kader kesehatan dalam pengendalian kasus tuberkulosis.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut :
  1. Observasi merupakan metode pengumpulan data esensial dalam penelitian, apalagi penelitian dengan pendekatan kualitatif. 
  2. Tahap –tahap metode observasi telah dijelaskan pada pembahasan 
  3. Macam-macam penelitian terdiri atas studi deskriptif, ekologikal, cross sectional, Studi Kasus Kontrol (studi retrospektif)/ Case Reference/Case Control dan studi kohort 
  4. Manfaat dari studi obesrvasional , agar memberikan data yang akurat dan bermanfaat, observasi sebagai metode ilmiah harus dilakukan oleh peneliti yang sudah melewati latihan-latihan yang memadai, serta telah mengadakan persiapan yang teliti dan lengkap. 

3.2 Saran
Demikian makalah ini kami buat, kami ucapkan banyak terima kasih kepada pihak yang telah membantu atas terselesainya makalah ini. Kami menyadari makalah yang kami buat ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu kami mohon kritik dan saran yang sifatnya membangun, agar kami dapat memperbaiki makalah kami selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA
Basuki, H., 2006, Penelitian Kualitatif untuk Ilmu – Ilmu Kemanusiaan dan Budaya, Jakarta, Gunadarma.

Wijaya, I.M. K., 2013, Pengetahuan, Sikap dan Motivasi Terhadap Keaktifan Kader dalam Pengendalian Tuberculosis , Jurnal Kesehatan Masyarakat , Vol. 8, No. 2.

Nazir, M., 2003, Metode Penelitian, Jakarta, Ghalia Indonesia.

MAKALAH DESAIN STUDI OBSERVASI

MAKALAH DESAIN STUDI OBSERVASI

MAKALAH FARMAKOEPIDEMIOLOGI
“DESAIN STUDI OBSERVASI“
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Secara umum dalam kegiatan penelitian merupakan suatu cara dalam memperoleh pengetahuan atau memecahkan permasalahan yang dihadapi, dilakukan secara ilmiah, sistematis dan logis, dalam menempuh langkah-langkah tertentu. Dalam penelitian melibatkan metode-metode penelitian untuk mendukung terlaksananya penelitian.

Metode observasi paling banyak digunakan dalam mengkaji perkembangan suatu permasalahan. Observasi langsung merupakan bagian penting dari proses penemuan, dalam pengajaran maupun penelitian.

Studi observasi merupakan metode pengumpulan data esensial dalam penelitian, apalagi penelitian dengan pendekatan kualitatif. Agar memberikan data yang akurat dan bermanfaat, observasi sebagai metode ilmiah harus dilakukan oleh peneliti yang sudah melewati latihan-latihan yang memadai, serta telah mengadakan persiapan yang teliti dan lengkap.

Studi observasi terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu studi deskriptif dan studi analitik. Studi deskriptif umumnya paling sering digunakan untuk menggambarkan pola penyakit dan untuk mengukur kejadian dari faktor risiko untuk penyakit (pajanan) pada satu populasi. Sedangkan jika kita ingin mengetahui asosiasi antara kejadian penyakit dan faktor risikonya, maka studi analitik dilakukan. Untuk itu dalam makalah ini akan menjelaskan lebih jelas apa saja yang termasuk dalam studi observasi.

1.2 RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah pada makalah ini adalah sebagai berikut :
  1. Apa yang dimaksud Studi Observasi !
  2. Jelaskan tahap-tahap studi observasi !
  3. Jelaskan macam-macam studi observasi!
  4. Jelaskan manfaat studi observasi!
  5. Jelaskan salah satu contoh jurnal tentang menggunakan studi observasi!

1.3 TUJUAN
Tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut :
  1. Untuk mengetahui Studi Observasi.
  2. Untuk mengetahui tahap-tahap studi observasi.
  3. Untuk mengetahui macam-macam studi observasi. 
  4. Untuk mengetahui manfaat studi observasi.
  5. Untuk mengetahui salah satu contoh jurnal tentang menggunakan studi observasi.

1.4 MANFAAT
Manfaat dari makalah ini adalah sebagai berikut :
  1. Kita dapat mengetahui Studi Observasi.
  2. Kita dapat mengetahui tahap-tahap studi observasi.
  3. Kita dapat mengetahui macam-macam studi observasi. 
  4. Kita dapat mengetahui manfaat studi observasi.
  5. Kita dapat mengetahui salah satu contoh jurnal tentang menggunakan studi observasi.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Studi Desain Observasi 
Pengertian observasi diberi batasan sebagai berikut: “studi yang disengaja dan sistematis tentang fenomena sosial dan gejala-gejala psikis dengan jalan pengamatan dan pencatatan”. Selanjutnya dikemukakan tujuan observasi adalah: “mengerti ciri-ciri dan luasnya signifikansi dari inter relasinya elemen-elemen tingkah laku manusia pada fenomena sosial serba kompleks dalam pola-pola kulturil tertentu”. tidak memberikan batasan tentang observasi tetapi memberikan penjelasan tentang observasi sebagai berikut: “Observasi barangkali menjadi metode yang paling dasar dan paling tua di bidang psikologi, karena dengan cara-cara tertentu kita selalu terlibat dalam proses mengamati. Semua bentuk penelitian psikologis, baik itu kualitatif maupun kuantitatif mengandung aspek observasi di dalamnya. Istilah observasi diturunkan dari bahasa Latin yang berarti “melihat” dan “memperhatikan”. Istilah observasi diarahkan pada kegiatan memperhatikan secara akurat, mencatat fenomena yang muncul, dan mempertimbangkan hubungan antar aspek dalam fenomena tersebut. Observasi selalu menjadi bagian dalam penelitian psikologis, dapat berlangsung dalam konteks laboratorium (eksperimental) maupun dalam konteks alamiah. 

Observasi merupakan metode pengumpulan data esensial dalam penelitian, apalagi penelitian dengan pendekatan kualitatif. Agar memberikan data yang akurat dan bermanfaat, observasi sebagai metode ilmiah harus dilakukan oleh peneliti yang sudah melewati latihan-latihan yang memadai, serta telah mengadakan persiapan yang teliti dan lengkap.

Pengamatan (observasi) maka dapat disimpulkan bahwa pengamatan (observasi) dalam konteks penelitian ilmiah adalah studi yang disengaja dan dilakukan secara sistematis, terencana, terarah pada suatu tujuan dengan mengamati dan mencatat fenomena atau perilaku satu atau sekelompok orang dalam konteks kehidupan sehari-hari, dan memperhatikan syarat-syarat penelitian ilmiah. Dengan demikian hasil pengamatan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Observasi merupakan salah satu teknik teknik pengumpulan data yang menggunakan pertolongan indra mata. Teknik ini bermanfaat untuk:
  1. Mengurangi jumlah pertanyaan, misalnya pertanyaan tentang kebersihan rumah tidak perlu ditanyakan, tetapi cukup dilakukan observasi oleh pewawancara. 
  2. Mengukur kbenaran jawaban pada wawancaa, misalnya pertanyaan tentang kualitas air minum yang digunakan oleh responden dapat dinilai dengan melakukan observasi langsung pada sumber air yang dimaksud; 
  3. Untuk memperoleh data yang tidak dapat diperoleh dengan cara wawancara atau angket, misalnya, pengamatan terhadap prosedur tetap dalam suatu pelayanan kesehatan. 

2.2 Tahap-Tahap Observasi
Mengenai tahap-tahap observasi, penulis seperti Adler dan Adler (dalam Basuki, 2006) menyatakan bahwa observasi memiliki 7 (tujuh) tahap, yaitu:
  1. Seleksi suatu latar (setting) yaitu dimana dan kapan proses-proses dan individu-individu yang menarik itu dapat diobservasi 
  2. Berikan definisi tentang apa yang dapat didokumentasikan dalam observasi itu dan dalam setiap kasus. 
  3. Latihan untuk pengamat supaya ada standarisasi misalnya apa yang dijadikan fokus-fokus penelitian. 
  4. Observasi deskriptif yang memberikan suatu pemaparan umum mengenai lapangan. 
  5. Observasi terfokus yang semakin terkonsentrasi pada aspek-aspek yang relevan dengan pertanyaan penelitian. 
  6. Observasi selektif yang dimaksudkan untuk secara sengaja menangkap hanya aspek-aspek pokok. 
  7. Akhir dari observasi apabila kepenuhan teori telah tercapai, yaitu apabila observasi lebih lanjut tidak memberikan pengetahuan lanjutan. 

2.3 Macam-Macam Studi Observasi
Adapun macam-macam dari desan studi observatif adalah :
1. Studi Deskriptif
Studi deskriptif adalah riset epidemiologi yang bertujuan menggambarkan pola distribusi penyakit dan determinan penyakit menurut populasi, letak geografik, dan waktu. Indikator yang digunakan mencakup faktor-faktor sosio demografik seperti umur, gender, ras, status perkawinan, pekerjaan; maupun variabel-variabel gaya hidup seperti jenis makanan, pemakaian obat-obatan, serta perilaku seksual.

Studi deskriptif memberikan beberapa manfaat. Pertama, memberikan masukan masukan tentang pengalokasian sumber daya dalam rangka perencanaan yang efisien, kepada para perencana kesehatan, administrator kesehatan, dan pemberi pelayanan kesehatan. Kedua, memberikan petunjuk awal untuk merumuskan hipotesis bahwa suatu variabel adalah faktor resiko penyakit. Hipotesis tersebut kelak diuji lebih lanjut pada studi analitik, 

2. Studi Ekologikal
Studi ekologikal atau studi korelasi populasi adalah studi epidemiologi dengan populasi sebagai unit analisis, yang bertujuan mendeskripsikan hubungan korelatif antara penyakit dan faktor-faktor yang diminati penelitian. Faktor-faktor tersebut misalnya, umur, bulan, obat-obatan, dll. Unit observasi dan unit analis pada studi ini adalah kelompok (agregat) individu, komunitas atau populasi yang lebih besar. Agregat tersebut biasanya dibatasi oleh scara geografik, misalnya penduduk provinsi, penduduk kotamaadya, penduduk negara, dan sebagainya.

Kekuatan pada studi ekologikal adalah dapat menggunkan data insidensi, prevalensi maupun mortalitas. Rancangan ini tepat sekali digunkan pada peneyelidikan awal hubungan penyakit, sebab mudah dilakukan dan murah dengan memanfatkan informasi yang tersedia. Mislanya, Biro Pusat Statistik secara teratur mengumpulkan data demografi dan data konsumsi yang dapat dikorelasikan dengan morbiditas, mortalitas dan penggunaan sumber sumberdaya keehatan yang dikumpulkan Depatemen Kesehatan.

Kelemahan pada studi ini adalah studi ekologi tak dapat dipakai untuk menganalisis hubungan sebab akibat karena dua alasan. Alasan pertama adalah, ketidakmampuan menjembatani kesenjangan status paparan dan status penyakit pada tingkat populasi dan individu. Sedangkan alasan kedua adalah studi ekologi tak mampu untuk mengontrol faktor perancu potensial. 

3. Studi Potong Lintang (Cross Sectional)
Studi potong lintang adalah rancangan studi epidemiologi yang mempelajari hubungan penyakit dan paparan (faktor penelitian) dengan cara mengamati status paparan dan penyakit serentak pada individu-individu dari populasi tunggal pada satu saat atau satu periode. Tujuan studi potong-lintang adalah untuk memperoleh gambaran pola penyakit dan determinan-dterminannya pada populasi sasaran.

Kekuatan studi potong lintang ialah kemudahannya untuk dilakukan dan murah, sebab tidak memerlukan follow-up. Jika tujuan penelitian “sekadar” mendeskripsikan distribusi penyakit dihubungkan dengan faktor-faktor penelitian, maka studi potong lintang adalah rancangan studi yang cocok, efisien, dan cukup kuat di segi metodologik. Selain itu, studi potong-lintang tak “memaksa” subjek untuk mengalami faktor yang diperkirakan bersifat merugikan kesehatan “faktor resiko”.

Kelemahan studi potong-lintang adalah tidak tepat digunakan untuk menganalisis hubungan kausal paparan dan penyakit. Hal ini disebabkan karena validitas penilaian hubungan kausal yang menuntut sekuensi waktu yang jelas antara paparan dan penyakit (yaitu, paparan harus mendahului penyakit) sulit untuk dipenuhi pada studi ini.

4. Studi Kasus Kontrol (studi retrospektif)/ Case Reference/Case Control
Studi kasus control mengikuti paradigma yang menelusuri dari efek ke penyebab. Di dalam studi kasus control, individual dengan kondisi khusus atau berpenyakit (kasus) dipilih untuk dibandingkan dengan sejumlah indivual yang tak memiliki penyakit (kontrol). Kasus dan kontrol dibandingkan dalam hal sesuatu yang telah ada atau atribut masa lalu atau pajanan menjadi sesuatu yang relevan dengan perkembangan atau kondisi penyakit yang sedang dipelajari.

Studi kasus kontrol merupakan salah satu rancangan riset epidemiologi yang paling popular belakangan ini karena kekuatan yang dimilikinya. Kekuatan studi kasus kontrol anatara lain, relatif murah, relatif cepat, hanya membutuhkan perbandingan subjek yang sedikit, tak menciptakan subjek yang berisiko, cocok untuk studi dari penyakit yang aneh ataupun penyakit yang memiliki periode laten lama, dan sebagainya.

Studi kasus kontrol memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan pertama adalah studi kasus kontrol memiliki metodologi kausal yang bertentangan dengan logika eksperimen klasik. Logika “normal” penelitian hubungan kauasal paparan dan penyakit lazimnya diawali dengan identifikasi paparan (sebagai penyebab) kemudian diikuti selama periode tertentu untuk melihat perkembangan penyakit (sebagai akibat). Studi kasus kontrol melakukan hal yang sebalikanya : melihat akibatnya dulu, baru menyelidiki apa penyebabnya. Kelemahan-kelemahan yang lain adalah studi kasus kontrol tidak efisien untuk mempelajari paparan-paparan yang langka, peneliti tak dapat menghitung laju insidensi penyakit baik populasi yang terpapar maupun yang tak terpapar karena subjeknya dipilih berdasarkan status penyakit, tidak mudah untuk memastikan hubungan temporal antara paparan dan penyakit.

5. Studi Kohor
Studi kohor,juga biasa disebut follow up atau studi insidens, bermula dari sejumlah kelompok orang (kohor) yang bebas dari penyakit, yang diklasifikasikan ke dalam subgrup berdasarkan tingkat pajanan kepada kejadian potemsial penyakit atau outcome. Kelompok-kelompok studi dengan karakteristik tertentu yang sama (yaitu pada awalnya bebas dari penyakit) tetapi memiliki tingkat keterpaparan yang berbeda, dan kemudian dibandingkan insidensi penyakit yang dialaminya selama periode waktu, disebut kohor. Ciri-ciri lainnya dari studi kohor adalah dimungkinkannya penghitungan laju insidensi (ID) dari masing-masing kelompok studi.

Ada beberapa kekuatan dalam studi kohor. Pertama, studi kohor dilakukan sesuai dengan logika eksperimental dalam membuat inferensi kausal, yaitu penelitian dimulai dengan menentukan faktor penyebab (anteseden) diikuti dengan akibat (konsekuen). Kedua, peneliti dapat menghitung laju insidensi. Ketiga, studi kohor sesuai untuk meneliti paparan yang langka(misalnya faktor-faktor lingkungan). Keempat, studi kohor memungkinkan peneliti mempelajari sejumlah efek serentak dari sebuah paparan. Kelima, pada studi kohor prospektif, kemungkinan terjadi bias dalam menyeleksi subjek dan menentukan status paparan adalah kecil,sebab penyakit yang diteliti belum terjadi. Keenam, karena bersifat observasional, maka tidak ada subjek yang sengaja dirugikan karena tidak mendapatkan terapi yang bermanfaat.

Studi kohor juga memiliki berbagai kelemahan. Kelemahan utama, rancangan studi kohor prospektif lebih mahal dan membutuhkan waktu yang lebih lama daripada studi kasus kontrol atau studi kohor retrospektif. Kedua, tidak efisien dan tidak praktis untuk mempelajari penyakit yang langka, kecuali jika ukuran besar atau prevalensi penyakit pada kelompok terpapar cukup tinggi. Ketiga, subjek dapat saja hilang atau pergi selama penelitian. Keempat, karena faktor penelitian sudah ditentukan terlebih dahulu pada awal penelitian, maka studi kohor tidak cocok untuk merumuskan hipotesis tentang faktor-faktor etiologi lainnya untuk penyakit itu, tatkala penelitian terlanjur berlangsung.

2.4 Manfaat Pengamatan / Observasi
Menurut Guba dan Lincoln (dalam Basuki, 2006) alasan-alasan pengamatan (observasi) dimanfaatkan sebesar-besarnya dalam penelitian kualitatif, intinya karena:
  1. Pengamatan merupakan pengalaman langsung, dan pengalaman langsung dinilai merupakan alat yang ampuh untuk memperoleh kebenaran. Apabila informasi yang diperoleh kurang meyakinkan, maka peneliti dapat melakukan pengamatan sendiri secara langsung untuk mengecek kebenaran informasi tersebut. 
  2. Dengan pengamatan dimungkinkan melihat dan mengamati sendiri, kemudian mencatat perilaku dan kejadian sebagaimana yang sebenarnya. 
  3. Pengamatan memungkinkan peneliti mencatat peristiwa yang berkaitan dengan pengetahuan yang relevan maupun pengetahuan yang diperoleh dari data. 
  4. Sering terjadi keragu-raguan pada peneliti terhadap informasi yang diperoleh yang dikarenakan kekhawatiran adanya bias atau penyimpangan. Bias atau penyimpangan dimungkinkan karena responden kurang mengingat peristiwa yang terjadi atau adanya jarak psikologis antara peneliti dengan yang diwawancarai. Jalan yang terbaik untuk menghilangkan keragu-raguan tersebut, biasanya peneliti memanfaatkan pengamatan 
  5. Pengamatan memungkinkan peneliti mampu memahami situasi-situasi yang rumit. Situasi yang rumit mungkin terjadi jika peneliti ingin memperhatikan beberapa tingkah laku sekaligus. Jadi pengamatan dapat menjadi alat yang ampuh untuk situasi-situasi yang rumit dan untuk perilaku yang kompleks. 
  6. Dalam kasus-kasus tertentu dimana teknik komunikasi lainnya tidak dimungkinkan, pengamatan menjadi alat yang sangat bermanfaat. Misalkan seseorang mengamati perilaku bayi yang belum bisa berbicara atau mengamati orang-orang luar biasa, dan sebagainya. 

2.5 Contoh Jurnal Penelitian Studi Observasi
Penelitian I Made Kusuma Wijaya tentang “Pengetahuan, Sikap dan Motivasi Terhadap Keaktifan Kader dalam Pengendalian Tuberculosis” , Jurnal Kesehatan Masyarakat , Kemas 8 (2) (2013) 137-144. 

Abstrak penelitiannya dimana Masalah penelitian adalah bagaimana hubungan antara pengetahuan, sikap, dan motivasi kader kesehatan dalam pengendalian kasus tuberkulosis. Tujuan penelitian untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan, sikap, dan motivasi kader kesehatan dalam pengendalian kasus tuberkulosis di Kabupaten Buleleng. Metode penelitian menggunakan desain studi analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Randomisasi dilakukan untuk mendapatkan sampel penelitian. Instrumen menggunakan kuesioner dan analisis menggunakan multivariat dengan regresi logistic ganda. 

Dari Jurnal tersebut diketahui peneliti menggunakan Metode penelitian yaitu desain studi analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh kader kesehatan yang ada di Kabupaten Buleleng, Bali yang terdaftar sebagai kader tuberkulosis. Sedangkan Sampel dalam penelitian ini adalah kader kesehatan di Kabupaten Buleleng yang berdasarkan perhitungan terpilih sebanyak 60 sampel yang diambil secara random. 

Variabel penelitian terdiri dari variable independen yaitu (1) pengetahuan yang merupakan hasil tahu kader kesehatan tentang gejala, cara penularan, pencegahan, penemuan tersangka tuberkulosis, (2) sikap yang menyangkut perasaan,dukungan,dan suasana hati kader kesehatan, (3) motivasi yang menyangkut rasa tanggung jawab dan penghargaan yang didapatkan kader kesehatan dan variable dependen yaitu keaktifan kader kesehatan dalam pengendalian kasus tuberculosis.

Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara variabel pengetahuan dengan keaktifan kader (p=0,012; OR=18.44), antara sikap dengan keaktifan kader (p=0,011; OR=8.08), dan antara motivasi dengan keaktifan kader (p=0,018; OR=15.01). Kader kesehatan dengan pengetahuan tinggi memiliki kemungkinan untuk aktif 18 kali lebih besar daripada pengetahuan rendah. Kader kesehatan dengan sikap baik memiliki kemungkinan untuk aktif 8 kali lebih besar daripada sikap kurang. Kader kesehatan dengan motivasi tinggi memiliki kemungkinan untuk aktif 15 kali lebih besar daripada motivasi rendah. Simpulan penelitian terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan, sikap, dan motivasi dengan keaktifan kader kesehatan dalam pengendalian kasus tuberkulosis.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut :
  1. Observasi merupakan metode pengumpulan data esensial dalam penelitian, apalagi penelitian dengan pendekatan kualitatif. 
  2. Tahap –tahap metode observasi telah dijelaskan pada pembahasan 
  3. Macam-macam penelitian terdiri atas studi deskriptif, ekologikal, cross sectional, Studi Kasus Kontrol (studi retrospektif)/ Case Reference/Case Control dan studi kohort 
  4. Manfaat dari studi obesrvasional , agar memberikan data yang akurat dan bermanfaat, observasi sebagai metode ilmiah harus dilakukan oleh peneliti yang sudah melewati latihan-latihan yang memadai, serta telah mengadakan persiapan yang teliti dan lengkap. 

3.2 Saran
Demikian makalah ini kami buat, kami ucapkan banyak terima kasih kepada pihak yang telah membantu atas terselesainya makalah ini. Kami menyadari makalah yang kami buat ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu kami mohon kritik dan saran yang sifatnya membangun, agar kami dapat memperbaiki makalah kami selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA
Basuki, H., 2006, Penelitian Kualitatif untuk Ilmu – Ilmu Kemanusiaan dan Budaya, Jakarta, Gunadarma.

Wijaya, I.M. K., 2013, Pengetahuan, Sikap dan Motivasi Terhadap Keaktifan Kader dalam Pengendalian Tuberculosis , Jurnal Kesehatan Masyarakat , Vol. 8, No. 2.

Nazir, M., 2003, Metode Penelitian, Jakarta, Ghalia Indonesia.