MAKALAH INTENTION TO TREAT(ITT) AND INTENTION ANALISIS - ElrinAlria
MAKALAH INTENTION TO TREAT(ITT) AND INTENTION ANALISIS

MAKALAH FARMAKOEPIDEMIOLOGI
INTENTION TO TREAT(ITT) AND INTENTION ANALISIS
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang 
Menurut Strom B.L. (1989) farmakoepidemiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang penggunaan obat dan efeknya pada sejumlah besar manusia. Sedangkan Porta dan Hartzema mendefinisikan farmakoepidemiologi sebagai aplikasi latar belakang, metoda dan pengetahuan epidemiologik untuk mempelajari penggunaan dan efek obat dalam populasi manusia.

Uji klinis ialah suatu penelitian eksperimental yang dilakukan di klinik, artinya si peneliti menentukan kelompok mana yang mendapat perlakuan yang diujikan dan kelompok mana yang mendapat plasebo atau perlakuan pembanding, dan kemudian si peneliti melakukan analisis terhadap hasil intervensi tersebut. Perlakuan atau intervensi dalam uji klinis dapat berupa obat, perasat bedah, nutrisi, perasat psikologi, penyuluhan kesehatan, dan sebagainya. Tiga syarat yang sebaiknya ada pada uji klinis yaitu ada kelompok kontrol, ada randomisasi, dan ketersamaran (blinding/masking).

Uji klinis ialah uji klinis prospektif, acak, buta ganda dengan plasebo (randomized, double blind, placebo-controlled clinical trial), yang mempunyai urutan tertinggi dalam hirarki pembuktian hubungan sebab akibat. Berdasarkan tujuan akhirnya, uji klinis dibagi menjadi 2, yaitu uji pragmatis (pragmatic trial) dan explanatory trial. Pada uji pragmatis peneliti hanya ingin membuktikan ada hubungan sebab-akibat, tanpa menjelaskan mengapa dan bagaimana sifat hubungan tersebut. 

Hasil uji pragmatik ini diasumsikan akan diterapkan dalam klinis sehari-hari. Uji ini menggunakan analisis yang disebut intention to treat analysis yang berarti semua subyek penelitian yang telah dirandomisasi diikutsertakan dalam analisis sesuai dengan alokasi awalnya, tanpa melihat apakah subyek tersebut memakai atau tidak obat/terapi yang diujikan atau plasebo, atau apakah subyek ini meninggal sebelum memakai obat yang diujikan. Subyek yang tidak minum obat, lost to follow up, dan yang pindah ke kelompok lain, dianggap sebagai kegagalan dari kelompok asalnya. Explanatory trial merupakan uji yang dilakukan di laboratorium, yang bertujuan menjelaskan hubungan sebab akibat. Uji eksplanatori ini mengunakan cara analisis on treatment analysis yang berarti hanya subyek yang menyelesaikan penelitian sampai akhir saja yang diikut sertakan dalam perhitungan selanjutnya.

Pada penelitian uji klinis dikenal uji klinis acak terkontrol atau randomized control trial= RCT, yang merupakan standar obtimal uji klinis. Percobaan terkontrol acak (RCT) sering mengalami dua komplikasi utama, yaitu, ketidakpatuhan dan hasil hilang. Salah satu solusi potensial untuk masalah ini adalah konsep statistik yang disebut intention-to-treat (ITT) konsep. Tujuan dari makalah ini adalah untuk memberikan pemahaman dasar konsep ITT dan analisi interim untuk para pemula di bidang penelitian klinis. Dengan tujuan ini dalam pikiran, makalah ini akan meninjau prinsip ITT dan analisis interim, dengan penekanan khusus pada kebutuhan dan penerapan konsep ini dan pro dan kontra.

1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini yaitu:
  1. Apa yang dimaksud dengan Intention to treat (ITT) ?
  2. Apa yang dimaksud dengan Analisis interim ?
  3. Apa tujuan Intention to treat (ITT) ?
1.3 Tujuan
Tujuan dalam makalah ini yaitu:
  1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan Intention to treat (ITT)
  2. Mengetahui apa yang dimaksud dengan Analisis interim
  3. Mengetahui apa tujuan Intention to treat (ITT)

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Intention to treat (ITT)
Pada penelitian uji klinis dikenal uji klinis acak terkontrol atau randomized control trial= RCT, yang merupakan standar obtimal uji klinis. Percobaan terkontrol acak (RCT) sering mengalami dua komplikasi utama, yaitu, ketidakpatuhan dan hasil hilang. Salah satu solusi potensial untuk masalah ini adalah konsep statistik yang disebut intention-to-treat (ITT) konsep.

Menurut Fisher et al. (1990), analisis ITT mencakup semua pasien secara acak dalam kelompok yang secara acak, terlepas dari kepatuhan mereka, terlepas dari pengobatan yang mereka benar-benar terima, dan terlepas dari penarikan berikutnya dari pengobatan atau penyimpangan dari protokol.

Dengan kata lain, analisis ITT mencakup setiap subjek yang acak menurut tugas pengobatan secara acak. Mengabaikan ketidakpatuhan, penyimpangan protokol, penarikan, dan apa pun yang terjadi setelah pengacakan. 

ITT adalah dianggap lebih baik sebagai strategi trial lengkap untuk desain, perilaku dan analisis bukan sebagai pendekatan untuk analisis sendiri. Pelaporan penuh setiap penyimpangan dari alokasi acak dan respon yang hilang adalah penting dalam penilaian kebutuhan dan kesesuaian pendekatan ITT, sebagaimana ditekankan dalam Standar Konsolidasi Pelaporan Trials (CONSORT) pedoman pelaporan RCT. Pernyataan CONSORT untuk meningkatkan kualitas laporan RCT menyatakan bahwa jumlah peserta di setiap kelompok harus dianalisis dengan prinsip "intention-to-treat".

Analisis ITT mencerminkan skenario klinis praktis karena mengakui pelanggaran dan penyimpangan protokol. Analisis ITT mempertahankan keseimbangan prognostik yang dihasilkan dari alokasi pengobatan asli random. Ini memberikan perkiraan berisi efek pengobatan. Jika subjek yang tidak patuh dan drop out dikeluarkan dari analisis akhir, mungkin membuat perbedaan prognostik penting di antara kelompok perlakuan. 

Analisis ITT mempertahankan ukuran sampel karena jika subjek yang tidak patuh dan drop out dikeluarkan dari analisis akhir, mungkin secara signifikan mengurangi ukuran sampel, menyebabkan berkurangnya kekuatan statistik.

2.2 Pengertian analisis interim
Dalam beberapa keadaan mungkin teori dan pengalaman tidak cukup untuk meyakinkan bahwa perbedaan yang akan ditemukan antara kelompok terapi dan kelompok control tidak terlalu besar. Dalam keadaan tersebut, yakni bila dengan subyek yang sedikit susah dapat diperoleh kesimpulan yang definitive, bila peneliti meneruskan uji klinis berarti ia membiarkan salah satu kelompok memperoleh pengobatan yang inferior, keadaan ini jelas tidak etis. Karenanya, bila terdapat kemungkinan beda efek yang sangat besar antara kelompok pengobatan dan kelompok control, maka diperlukan suatu prosedur untuk menilai hasil antara sebelum penelitian selesai dilakukan, prosedur ini disebut sebagai analisis interin.

Patokan untuk melakukan analisis interin, terdapat kriteria objektif untuk menghentikan uji klinis, yakni kriteria statistic. Untuk hal ini perlu diperhatikan 2 hal yakni:
  • a. Nilai kemaknaan yang semula dipilih
  • b. Berapa kali analisis interin diperlukan.
Dengan subyek yang lebih sedikit dari yang dihitung semula, nilai p<0,05 mungkin ditemukan meskipun sebenarnya kebenarannya tidak dapat perbedaan. Oleh karena itu pada analisis interim nilai kemaknaan yang semula dipilih tidak dapat dipakai sebagai batas untuk menghentikan uji klinis, melainkan harus dipilih nilai yang lebih rendah. Sebagai batasan umum,bila rencana analisis interim tidak lebih dari 5 kali, batas p <0,01 dapat dipakai sebagai batas untuk menghentikan uji klinis.

Analisis interim dapat pula dilakukan atas alasan praktis, misalnya masalah biaya, kendala waktu, keterbatasan jumlah subyek, dan sebagainya; akan tetapi karena prosedur ini mempunyai konsekuensi yang penting, uji klinis yang terencana dengan baik, tidak dipergunakan hal-hal tersebut untuk alasan melakukan analisis interim. Analisis interim juga hanya dibenarkan terhadap efek yang penting, misalnya hidup-mati, dan bukan terhadap efek yang tidak berbahaya, misalnya kadar kolesterol atau kenaikan berat badan.

2.3 Tujuan Intention to treat (ITT)
Hasil ITT mencerminkan hasil randomisasi dan menunjukkan efektivitas (effectiveness) intervensi ketika diterapkan pada populasi yang sesungguhnya. Pada realitas sehari-hari, karena suatu alasan tidak semua pasien minum obat dengan teratur dan tidak semua menyelesaikan waktu pengobatan sesuai dengan yang diinginkan. Jika analisis data pada keadaan seperti itu tetap menunjukkan efektivitas terapi, maka bisa dikatakan bahwa terapi tersebut benar-benar efektif ketika digunakan pada populasi pasien yang sesungguhnya.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah ini adalah
  1. Analisis ITT mencakup setiap subjek yang acak menurut tugas pengobatan secara acak. Mengabaikan ketidakpatuhan, penyimpangan protokol, penarikan, dan apa pun yang terjadi setelah pengacakan. 
  2. Analisi interim yaitu bila terdapat kemungkinan beda efek yang sangat besar antara kelompok pengobatan dan kelompok control, maka diperlukan suatu prosedur untuk menilai hasil antara sebelum penelitian selesai dilakukan. 
  3. Tujuan ITT mencerminkan hasil randomisasi dan menunjukkan efektivitas (effectiveness) intervensi ketika diterapkan pada populasi yang sesungguhnya 

DAFTAR PUSTAKA
Gupta, sandeep k., 2011, intention to treat concept, perspectives in clinical research, Vol.2(3).

Tribono, p.p., 2002, telaah kritis makalah uji klinis, sari pediatri, Vol.4(1).

Victor, montori, guyat, 2001, intention to treat principle, canadian medical association or its licensors, Vol.165(10)

MAKALAH INTENTION TO TREAT(ITT) AND INTENTION ANALISIS

MAKALAH INTENTION TO TREAT(ITT) AND INTENTION ANALISIS

MAKALAH FARMAKOEPIDEMIOLOGI
INTENTION TO TREAT(ITT) AND INTENTION ANALISIS
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang 
Menurut Strom B.L. (1989) farmakoepidemiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang penggunaan obat dan efeknya pada sejumlah besar manusia. Sedangkan Porta dan Hartzema mendefinisikan farmakoepidemiologi sebagai aplikasi latar belakang, metoda dan pengetahuan epidemiologik untuk mempelajari penggunaan dan efek obat dalam populasi manusia.

Uji klinis ialah suatu penelitian eksperimental yang dilakukan di klinik, artinya si peneliti menentukan kelompok mana yang mendapat perlakuan yang diujikan dan kelompok mana yang mendapat plasebo atau perlakuan pembanding, dan kemudian si peneliti melakukan analisis terhadap hasil intervensi tersebut. Perlakuan atau intervensi dalam uji klinis dapat berupa obat, perasat bedah, nutrisi, perasat psikologi, penyuluhan kesehatan, dan sebagainya. Tiga syarat yang sebaiknya ada pada uji klinis yaitu ada kelompok kontrol, ada randomisasi, dan ketersamaran (blinding/masking).

Uji klinis ialah uji klinis prospektif, acak, buta ganda dengan plasebo (randomized, double blind, placebo-controlled clinical trial), yang mempunyai urutan tertinggi dalam hirarki pembuktian hubungan sebab akibat. Berdasarkan tujuan akhirnya, uji klinis dibagi menjadi 2, yaitu uji pragmatis (pragmatic trial) dan explanatory trial. Pada uji pragmatis peneliti hanya ingin membuktikan ada hubungan sebab-akibat, tanpa menjelaskan mengapa dan bagaimana sifat hubungan tersebut. 

Hasil uji pragmatik ini diasumsikan akan diterapkan dalam klinis sehari-hari. Uji ini menggunakan analisis yang disebut intention to treat analysis yang berarti semua subyek penelitian yang telah dirandomisasi diikutsertakan dalam analisis sesuai dengan alokasi awalnya, tanpa melihat apakah subyek tersebut memakai atau tidak obat/terapi yang diujikan atau plasebo, atau apakah subyek ini meninggal sebelum memakai obat yang diujikan. Subyek yang tidak minum obat, lost to follow up, dan yang pindah ke kelompok lain, dianggap sebagai kegagalan dari kelompok asalnya. Explanatory trial merupakan uji yang dilakukan di laboratorium, yang bertujuan menjelaskan hubungan sebab akibat. Uji eksplanatori ini mengunakan cara analisis on treatment analysis yang berarti hanya subyek yang menyelesaikan penelitian sampai akhir saja yang diikut sertakan dalam perhitungan selanjutnya.

Pada penelitian uji klinis dikenal uji klinis acak terkontrol atau randomized control trial= RCT, yang merupakan standar obtimal uji klinis. Percobaan terkontrol acak (RCT) sering mengalami dua komplikasi utama, yaitu, ketidakpatuhan dan hasil hilang. Salah satu solusi potensial untuk masalah ini adalah konsep statistik yang disebut intention-to-treat (ITT) konsep. Tujuan dari makalah ini adalah untuk memberikan pemahaman dasar konsep ITT dan analisi interim untuk para pemula di bidang penelitian klinis. Dengan tujuan ini dalam pikiran, makalah ini akan meninjau prinsip ITT dan analisis interim, dengan penekanan khusus pada kebutuhan dan penerapan konsep ini dan pro dan kontra.

1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini yaitu:
  1. Apa yang dimaksud dengan Intention to treat (ITT) ?
  2. Apa yang dimaksud dengan Analisis interim ?
  3. Apa tujuan Intention to treat (ITT) ?
1.3 Tujuan
Tujuan dalam makalah ini yaitu:
  1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan Intention to treat (ITT)
  2. Mengetahui apa yang dimaksud dengan Analisis interim
  3. Mengetahui apa tujuan Intention to treat (ITT)

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Intention to treat (ITT)
Pada penelitian uji klinis dikenal uji klinis acak terkontrol atau randomized control trial= RCT, yang merupakan standar obtimal uji klinis. Percobaan terkontrol acak (RCT) sering mengalami dua komplikasi utama, yaitu, ketidakpatuhan dan hasil hilang. Salah satu solusi potensial untuk masalah ini adalah konsep statistik yang disebut intention-to-treat (ITT) konsep.

Menurut Fisher et al. (1990), analisis ITT mencakup semua pasien secara acak dalam kelompok yang secara acak, terlepas dari kepatuhan mereka, terlepas dari pengobatan yang mereka benar-benar terima, dan terlepas dari penarikan berikutnya dari pengobatan atau penyimpangan dari protokol.

Dengan kata lain, analisis ITT mencakup setiap subjek yang acak menurut tugas pengobatan secara acak. Mengabaikan ketidakpatuhan, penyimpangan protokol, penarikan, dan apa pun yang terjadi setelah pengacakan. 

ITT adalah dianggap lebih baik sebagai strategi trial lengkap untuk desain, perilaku dan analisis bukan sebagai pendekatan untuk analisis sendiri. Pelaporan penuh setiap penyimpangan dari alokasi acak dan respon yang hilang adalah penting dalam penilaian kebutuhan dan kesesuaian pendekatan ITT, sebagaimana ditekankan dalam Standar Konsolidasi Pelaporan Trials (CONSORT) pedoman pelaporan RCT. Pernyataan CONSORT untuk meningkatkan kualitas laporan RCT menyatakan bahwa jumlah peserta di setiap kelompok harus dianalisis dengan prinsip "intention-to-treat".

Analisis ITT mencerminkan skenario klinis praktis karena mengakui pelanggaran dan penyimpangan protokol. Analisis ITT mempertahankan keseimbangan prognostik yang dihasilkan dari alokasi pengobatan asli random. Ini memberikan perkiraan berisi efek pengobatan. Jika subjek yang tidak patuh dan drop out dikeluarkan dari analisis akhir, mungkin membuat perbedaan prognostik penting di antara kelompok perlakuan. 

Analisis ITT mempertahankan ukuran sampel karena jika subjek yang tidak patuh dan drop out dikeluarkan dari analisis akhir, mungkin secara signifikan mengurangi ukuran sampel, menyebabkan berkurangnya kekuatan statistik.

2.2 Pengertian analisis interim
Dalam beberapa keadaan mungkin teori dan pengalaman tidak cukup untuk meyakinkan bahwa perbedaan yang akan ditemukan antara kelompok terapi dan kelompok control tidak terlalu besar. Dalam keadaan tersebut, yakni bila dengan subyek yang sedikit susah dapat diperoleh kesimpulan yang definitive, bila peneliti meneruskan uji klinis berarti ia membiarkan salah satu kelompok memperoleh pengobatan yang inferior, keadaan ini jelas tidak etis. Karenanya, bila terdapat kemungkinan beda efek yang sangat besar antara kelompok pengobatan dan kelompok control, maka diperlukan suatu prosedur untuk menilai hasil antara sebelum penelitian selesai dilakukan, prosedur ini disebut sebagai analisis interin.

Patokan untuk melakukan analisis interin, terdapat kriteria objektif untuk menghentikan uji klinis, yakni kriteria statistic. Untuk hal ini perlu diperhatikan 2 hal yakni:
  • a. Nilai kemaknaan yang semula dipilih
  • b. Berapa kali analisis interin diperlukan.
Dengan subyek yang lebih sedikit dari yang dihitung semula, nilai p<0,05 mungkin ditemukan meskipun sebenarnya kebenarannya tidak dapat perbedaan. Oleh karena itu pada analisis interim nilai kemaknaan yang semula dipilih tidak dapat dipakai sebagai batas untuk menghentikan uji klinis, melainkan harus dipilih nilai yang lebih rendah. Sebagai batasan umum,bila rencana analisis interim tidak lebih dari 5 kali, batas p <0,01 dapat dipakai sebagai batas untuk menghentikan uji klinis.

Analisis interim dapat pula dilakukan atas alasan praktis, misalnya masalah biaya, kendala waktu, keterbatasan jumlah subyek, dan sebagainya; akan tetapi karena prosedur ini mempunyai konsekuensi yang penting, uji klinis yang terencana dengan baik, tidak dipergunakan hal-hal tersebut untuk alasan melakukan analisis interim. Analisis interim juga hanya dibenarkan terhadap efek yang penting, misalnya hidup-mati, dan bukan terhadap efek yang tidak berbahaya, misalnya kadar kolesterol atau kenaikan berat badan.

2.3 Tujuan Intention to treat (ITT)
Hasil ITT mencerminkan hasil randomisasi dan menunjukkan efektivitas (effectiveness) intervensi ketika diterapkan pada populasi yang sesungguhnya. Pada realitas sehari-hari, karena suatu alasan tidak semua pasien minum obat dengan teratur dan tidak semua menyelesaikan waktu pengobatan sesuai dengan yang diinginkan. Jika analisis data pada keadaan seperti itu tetap menunjukkan efektivitas terapi, maka bisa dikatakan bahwa terapi tersebut benar-benar efektif ketika digunakan pada populasi pasien yang sesungguhnya.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah ini adalah
  1. Analisis ITT mencakup setiap subjek yang acak menurut tugas pengobatan secara acak. Mengabaikan ketidakpatuhan, penyimpangan protokol, penarikan, dan apa pun yang terjadi setelah pengacakan. 
  2. Analisi interim yaitu bila terdapat kemungkinan beda efek yang sangat besar antara kelompok pengobatan dan kelompok control, maka diperlukan suatu prosedur untuk menilai hasil antara sebelum penelitian selesai dilakukan. 
  3. Tujuan ITT mencerminkan hasil randomisasi dan menunjukkan efektivitas (effectiveness) intervensi ketika diterapkan pada populasi yang sesungguhnya 

DAFTAR PUSTAKA
Gupta, sandeep k., 2011, intention to treat concept, perspectives in clinical research, Vol.2(3).

Tribono, p.p., 2002, telaah kritis makalah uji klinis, sari pediatri, Vol.4(1).

Victor, montori, guyat, 2001, intention to treat principle, canadian medical association or its licensors, Vol.165(10)