MAKALAH MENGANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA - ElrinAlria
MAKALAH MENGANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesehatan adalah hak asasi manusia. UUD 1945 menjamin bahwa setiap penduduk Indonesia berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal sesuai dengan kebutuhan, tanpa memandang kemampuan membayar. Sebagai anggota dari komunitas peradaban dunia, Indonesia juga memiliki tanggung jawab untuk mencapai target Millennium Development Goals (MDGs) 2000–2015.

Dengan pencapaian target MDGs, diharapkan terjadi peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Tetapi, sampai saat ini Indonesia masih terbelit berbagai masalah di bidang yang strategis tersebut. Jumlah penduduk miskin dengan status kesehatan yang rendah masih sangat besar dan tekanan beban ganda penyakit semakin berat dengan meningkatnya prevalensi penyakit degeneratif di tengah insidensi penyakit infeksi yang masih tinggi. Dengan masuknya berbagai teknologi baru yang umumnya lebih mahal, membuat biaya pelayanan kesehatan terus meningkat. Di sisi lain, anggaran kesehatan yang tersedia masih terbatas dan belum memadai.

Peningkatan biaya pelayanan kesehatan yang tidak dapat diimbangi dengan peningkatan anggaran tersebut membuat pencapaian target MDGs, bahkan upaya pembangunan kesehatan secara umum, menghadapi kendala. Untuk mengatasi hal ini, perlu dilakukan reformasi di bidang kesehatan, termasuk reformasi pembiayaan kesehatan.

Reformasi Kesehatan Masyarakat sebagai salah satu prioritas nasional dijabarkan dalam beberapa area perubahan yang antara lain meliputi pembiayaan untuk pemenuhan kebutuhan dasar pelayanan medis dan penyelenggaraan pelayanan kesehatan dasar promotif dan preventif; penyediaan obat esensial KIA/KB, malaria, tuberkulosis, HIV/AIDS, dan penyakit lainnya; serta penyediaan sumberdaya kesehatan untuk pelayanan kesehatan dasar. Titik tolak reformasi kesehatan yang dilakukan secara terpadu tersebut adalah untuk meniadakan, atau setidaknya mempersempit, disparitas derajat kesehatan di antara berbagai kelompok masyarakat.

Ruang lingkup Reformasi Kesehatan Masyarakat mencakup antara lain penyusunan kebijakan strategis dan perencanaan berbasis bukti yang dapat menjamin terlaksananya alokasi sumber daya yang efektif. Untuk itu, perlu dilakukan upaya peningkatan efisiensi guna mencapai efektivitas-biaya (cost-effectiveness) setinggi mungkin, yang ditunjukkan dengan perolehan hasil terbaik dengan biaya terendah.

Guna mencapai hasil terbaik dengan biaya terendah ini perlu digunakan kaidah farmakoekonomi sebagai alat bantu. Dalam penyusunan Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) atau Formularium Rumah Sakit, misalnya untuk pemilihan jenis obat yang akan dimasukkan ke dalamnya perlu dilakukan pembandingan efektivitas terapi, termasuk frekuensi manfaat dan efek samping yang tidak diinginkan dari dua atau lebih obat yang berbeda, sekaligus biaya (dalam unit moneter) yang diperlukan untuk satu periode terapi dari masing-masing obat tersebut. Dalam hal ini, biaya obat untuk satu periode terapi adalah banyaknya rupiah yang harus dikeluarkan untuk pembelian obat atau pembayaran perawatan kesehatan sampai seorang pasien mencapai kesembuhan. Dengan demikian, pemilihan obat tidak hanya didasarkan pada harga per satuan kemasan.

Dalam sistem jaminan kesehatan masyarakat yang berlaku di Indonesia saat ini, Jamkesmas dan/atau Jamkesda, proporsi biaya obat dialokasikan maksimal 30% dari biaya perawatan kesehatan. Kenyataannya, konsumsi obat nasional mencapai 40% dari belanja kesehatan secara keseluruhan dan merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.

Karena itu, peningkatan efektivitas-biaya obat, bahkan di tingkat pemerintah daerah atau tingkat lokal rumah sakit, pada ujungnya akan memberikan dampak yang berarti terhadap efisiensi biaya perawatan kesehatan nasional. Dan, dengan menerapkan peningkatan efektivitas biaya dan upaya lain berdasarkan kaidah farmakoekonomi pada penetapan kebijakan kesehatan secara menyeluruh, peningkatan efisiensi biaya perawatan kesehatan nasional yang dicapai akan maksimal.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
  1. Apa yang dimaksud dengan farmakoekonomi?
  2. Apa yang dimaksud dengan analisis efektivitas biaya?
  3. Bagaimana penerapan farmakoekonomi dalam menganalisis efektivitas biaya?
  4. Bagaimana contoh kasus farmakoekonomi dalam menganalisis efektivitas biaya?

C. Tujuan
Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah:
  1. Untuk mengetahui pengertian farmakoekonomi
  2. Untuk mengetahui pengertian analisis efektivitas biaya 
  3. Untuk mengetahui penerapan farmakoekonomi dalam menganalisis efektivitas biaya
  4. Untuk mengetahui contoh kasus farmakoekonomi dalam menganalisis efektivitas biaya

D. Manfaat 
Manfaat dalam makalah ini adalah:
  1. Agar dapat mengetahui pengertian farmakoekonomi
  2. Agar dapat mengetahui pengertian analisis efektivitas biaya
  3. Agar dapat mengetahui penerapan farmakoekonomi dalam menganalisis efektivitas biaya
  4. Agar dapat mengetahui contoh kasus farmakoekonomi dalam menganalisis efektivitas biaya

BAB II
PEMBAHASAN
A. Farmakoekonomi
Farmakoekonomi merupakan studi yang mengukur dan membandingkan antara biaya dan hasil/konsekuensi dari suatu pengobatan. Tujuan farmakoekonomi adalah untuk memberikan informasi yang dapat membantu para pembuat kebijakan dalam menentukan pilihan atas alternatif-alternatif pengobatan yang tersedia agar pelayanan kesehatan menjadi lebih efisien dan ekonomis. 

Jika kita dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti apakah obat yang akan digunakan itu efektif? Siapa yang akan menerima manfaat dari penggunaan obat tersebut? Berapa biaya yang diperlukan untuk penggunaan obat tersebut? Serta bagaimana efektivitasnya jika dibandingkan dengan obat yang telah digunakan?

Oleh karena itu, kajian farmakoekonomi akan mempertimbangkan faktor klinis (efektivitas) sekaligus faktor biaya (ekonomi) agar dapat membantu para pengambil kebijakan untuk mendapatkan jawaban yang obyektif terhadap pertanyaan tersebut. Dengan demikian, ilmu farmakoekonomi dapat membantu pemilihan obat yang rasional, yang nantinya akan memberikan tingkat kemanfaatan yang paling tinggi. 

Pada kajian farmakoekonomi dikenal empat metode analisis, yang dapat dilihat pada table 2.2. Empat metode analisis ini bukan hanya mempertimbangkan efektivitas, keamanan, dan kualitas obat yang dibandingkan, tetapi juga aspek ekonominya. Karena aspek ekonomi atau unit moneter menjadi prinsip dasar kajian farmakoekonomi, hasil kajian yang dilakukan diharapkan dapat memberikan masukan untuk menetapkan penggunaan yang paling efisien dari sumber daya kesehatan yang terbatas jumlahnya.

MAKALAH MENGANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA

B. Analisis Efektivitas Biaya (AEB/CEA)
Analisis efektivitas biaya atau cost effectiveness analysis (CEA) merupakan suatu metode evaluasi ekonomi yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan dalam memilih alternatif terbaik dari beberapa alternatif yang ada. Analisis efektivitas biaya biasanya dipergunakan untuk menilai beberapa alternatif yang tujuan atau luarannya sama, dan efektivitas diukur dalam satuan luaran seperti jumlah pasien yang sembuh, jumlah tindakan, kematian yang dapat dicegah atau satuan lainnya. 

Analisis efektivitas biaya (AEB) cukup sederhana. Dan banyak digunakan untuk kajian farmakoekonomi untuk membandingkan dua atau lebih intervensi kesehatan yang memberikan besaran efek berbeda. Dengan analisis yang mengukur biaya sekaligus hasilnya ini, pengguna dapat menetapkan bentuk intervensi kesehatan yang paling efisien membutuhkan biaya termurah untuk hasil pengobatan yang menjadi tujuan intervensi tersebut. Dengan kata lain, AEB dapat digunakan untuk memilih intervensi kesehatan yang memberikan nilai tertinggi dengan dana yang terbatas jumlahnya, misalnya:

Membandingkan dua atau lebih jenis obat dari kelas terapi yang sama tetapi memberikan besaran hasil pengobatan berbeda, misalnya dua obat antihipertensi yang memiliki kemampuan penurunan tekanan darah diastolik yang berbeda. 
Membandingkan dua atau lebih terapi yang hasil pengobatannya dapat diukur dengan unit alamiah yang sama, walau mekanisme kerjanya berbeda, misalnya obat golongan proton pump inhibitor dengan H2 antagonist untuk refluk oesophagitis parah. 

Pada CEA, biaya intervensi kesehatan diukur dalam unit moneter (rupiah) dan hasil dari intervensi tersebut dalam unit alamiah/indikator kesehatan baik klinis maupun non klinis (non-moneter). Tidak seperti unit moneter yang seragam atau mudah dikonversikan, indikator kesehatan sangat beragam mulai dari mmHg penurunan tekanan darah diastolik (oleh obat antihipertensi), banyaknya pasien katarak yang dapat dioperasi dengan sejumlah biaya tertentu (dengan prosedur yang berbeda), sampai jumlah kematian yang dapat dicegah, jumlah tahun hidup yang diperoleh (Life Years Gained, LYG), dan lain-lain. 

Sebab itu, AEB hanya dapat digunakan untuk membandingkan intervensi kesehatan yang memiliki tujuan sama, atau jika intervensi tersebut ditujukan untuk mencapai beberapa tujuan yang muaranya sama. Jika hasil intervensinya berbeda, misalnya penurunan kadar gula darah (oleh obat antidiabetes) dan penurunan kadar LDL atau kolesterol total (oleh obat antikolesterol), AEB tak dapat digunakan. Oleh pengambil kebijakan, metode Kajian Farmakoekonomi ini terutama digunakan untuk memilih alternatif terbaik di antara sejumlah intervensi kesehatan, termasuk obat yang digunakan, yaitu sistem yang memberikan hasil maksimal untuk sejumlah tertentu dana.

Pada penggunaan metode AEB perlu dilakukan penghitungan rasio biaya rerata dan rasio inkremental efektivitas-biaya (RIEB = incremental cost-effectiveness ratio/ICER). Dengan RIEB dapat diketahui besarnya biaya tambahan untuk setiap perubahan satu unit efektivitas biaya. Selain itu, untuk mempermudah pengambilan kesimpulan alternatif mana yang memberikan efektivitas-biaya terbaik, pada kajian dengan metode AEB dapat digunakan tabel efektivitas-biaya.

Dengan menggunakan tabel efektivitas-biaya, suatu intervensi kesehatan secara relatif terhadap intervensi kesehatan yang lain dapat dikelompokkan ke dalam satu dari empat posisi, yaitu:
1. Posisi Dominan=> Kolom G (juga Kolom D dan H)
Jika suatu intervensi kesehatan menawarkan efektivitas lebih tinggi dengan biaya sama (Kolom H) atau efektivitas yang sama dengan biaya lebih rendah (Kolom D), dan efektivitas lebih tinggi dengan biaya lebih rendah (Kolom G), pasti terpilih sehingga tak perlu dilakukan AEB.

2. Posisi Didominasi=> Kolom C (juga Kolom B dan F)
Sebaliknya, jika sebuah intervensi kesehatan menawarkan efektivitas lebih rendah dengan biaya sama (Kolom B) atau efektivitas sama dengan biaya lebih tinggi (Kolom F), apalagi efektivitas lebih rendah dengan biaya lebih tinggi (Kolom C), tidak perlu dipertimbangkan sebagai alternatif, sehingga tak perlu pula diikutsertakan dalam perhitungan AEB.

3. Posisi Seimbang=> Kolom E
Sebuah intervensi kesehatan yang menawarkan efektivitas dan biaya yang sama (Kolom E) masih mungkin untuk dipilih jika lebih mudah diperoleh dan/atau cara pemakaiannya lebih memungkinkan untuk ditaati oleh pasien, misalnya tablet lepas lambat yang hanya perlu diminum 1 x sehari versus tablet yang harus diminum 3 x sehari. Sehingga dalam kategori ini, ada faktor lain yang perlu dipertimbangkan di samping biaya dan hasil pengobatan, misalnya kebijakan, ketersediaan, aksesibilitas, dan lain-lain.

4. Posisi yang memerlukan pertimbangan efektivitas-biaya=> Kolom A dan I
Jika suatu intervensi kesehatan yang menawarkan efektivitas yang lebih rendah dengan biaya yang lebih rendah pula (Kolom A) atau, sebaliknya, menawarkan efektivitas yang lebih tinggi dengan biaya yang lebih tinggi, untuk melakukan pemilihan perlu memperhitungkan RIEB. 

MAKALAH MENGANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA


Alat bantu lain yang dapat digunakan dalam AEB adalah diagram efektivitas-biaya. Suatu alternatif intervensi kesehatan, termasuk obat, harus dibandingkan dengan intervensi (obat) standar. Menurut diagram ini, jika suatu intervensi kesehatan memiliki efektivitas lebih tinggi tetapi juga membutuhkan biaya lebih tinggi dibanding intervensi standar, intervensi alternatif ini masuk ke Kuadran I (Tukaran, Trade-off). Pemilihan intervensi Kuadran I memerlukan pertimbangan sumberdaya (terutama dana) yang dimiliki, dan semestinya dipilih jika sumberdaya yang tersedia mencukupi.

Suatu intervensi kesehatan yang menjanjikan efektivitas lebih rendah dengan biaya yang lebih rendah dibanding intervensi standar juga masuk kategori Tukaran, tetapi di Kuadran III. Pemilihan intervensi alternatif yang berada di Kuadran III memerlukan pertimbangan sumberdaya pula, yaitu jika dana yang tersedia lebih terbatas.

Jika suatu intervensi kesehatan memiliki efektivitas lebih tinggi dengan biaya yang lebih rendah dibanding intervensi standar, intervensi alternatif ini masuk ke Kuadran II (Dominan) dan menjadi pilihan utama. Sebaliknya, suatu intervensi kesehatan yang menawarkan efektivitas lebih rendah dengan biaya lebih tinggi dibanding intervensi standar, dengan sendirinya tak layak untuk dipilih.

MAKALAH MENGANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA


C. Contoh Penerapan Kajian Farmakoekonomi Dalam Menganalisis Efektivitas Biaya
Berikut dapat dilihat contoh perhitungan AEB yang diambil dari Pedoman Penerapan Kajian Farmakoekonomi kasus rawat jalan yang diadaptasi dari Rascati et al. Dibandingkan 3 (tiga) jenis intervensi dalam terapi asma, yaitu pemberian inhalasi kortikosteroid tunggal, pemberian kombinasi inhalasi kortikosteroid dengan obat A dan pemberian kombinasi inhalasi kortikosteroid dan obat B.
Contoh Perhitungan Analisis Efektivitas-Biaya (AEB)

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan dalam makalah ini yaitu:
  1. Farmakoekonomi merupakan studi yang mengukur dan membandingkan antara biaya dan hasil/konsekuensi dari suatu pengobatan. Tujuan farmakoekonomi adalah untuk memberikan informasi yang dapat membantu para pembuat kebijakan dalam menentukan pilihan atas alternatif-alternatif pengobatan yang tersedia agar pelayanan kesehatan menjadi lebih efisien dan ekonomis. 
  2. Analisis efektivitas biaya atau cost effectiveness analysis (CEA) merupakan suatu metode evaluasi ekonomi yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan dalam memilih alternatif terbaik dari beberapa alternatif yang ada. Analisis efektivitas biaya biasanya dipergunakan untuk menilai beberapa alternatif yang tujuan atau luarannya sama, dan efektivitas diukur dalam satuan luaran seperti jumlah pasien yang sembuh, jumlah tindakan, kematian yang dapat dicegah atau satuan lainnya. 
  3. Berdasarkan contoh penerapan kajian farmakoekonomi, langkah yang dilakukan untuk menganalisis efektivitas biaya antara lain menentukan tujuan, membuat daftar untuk mencapa tujuan tersebut, identifikasi tingkat efektivitas, identifikasi dan hitung biaya pengobatan, hitung dan lakukan interpretasi efektivitas biaya dari pilihan pengobatan, interpretasi, dan yang terakhir lakukan analisis sensitivitas dan ambil kesimpulan. 
  4. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap analisis efektivitas biaya antara pasien demam tifoid anak yang menggunakan antibiotika kloramfenikol dengan pasien demam tifoid anak yang menggunakan antibiotika seftriakson yang dirawat inap di Bagian Kesehatan Anak Rumah Sakit Fatmawati Jakarta pada periode waktu Januari 2001 – Desember 2002 dapat disimpulkan bahwa rata-rata lamanya hari rawat inap pada pasien demam tifoid anak yang menggunakan kloramfenikol adalah 6,598 hari, sedangkan rata-rata lamanya hari rawat inap pada pasien demam tifoid anak yang menggunakan seftriakson adalah 4,408 hari. Secara farmakoekonomi Seftriakson lebih efektif biaya dibandingkan dengan kloramfenikol pada pengobatan demam tifoid anak. Selain itu dapat terlihat jelas adanya perbedaan secara bermakna terhadap efektivitas dan efisiensi pengobatan demam tifoid anak antara kloramfenikol dan seftriakson. 

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2013, Pedoman Penerapan Kajian Farmakoekonomi, Kementrian Kesehatan Republik Indonrsia, Jakarta, ISBN.

Harjono H, 1980, Problem demam tifoid di Indonesia dan khususnya di Jakarta dalam Simposium demam tifoid, Jakarta, hal :1-10.

Indro H, 1995, Nilai diagnostik uji Elisa tak langsung pada penyakit demam tifoid, Lembaga Penelitian Universitas Airlangga, Surabaya.

Lolekha S, 1995, Salmonella carrier Its evolution and treatment Southeast Asian Journal of Tropical Medicine and Public Health 

Noer S. dkk., 1996, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Penerbit FKUI, Jakarta.

Sibuea WH, Pengobatan demam tifoid dengan kombinasi deksametason, kloramfenikol dan antibiotika sesuai uji resistensi guna mempercepat.

MAKALAH MENGANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA

MAKALAH MENGANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesehatan adalah hak asasi manusia. UUD 1945 menjamin bahwa setiap penduduk Indonesia berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal sesuai dengan kebutuhan, tanpa memandang kemampuan membayar. Sebagai anggota dari komunitas peradaban dunia, Indonesia juga memiliki tanggung jawab untuk mencapai target Millennium Development Goals (MDGs) 2000–2015.

Dengan pencapaian target MDGs, diharapkan terjadi peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Tetapi, sampai saat ini Indonesia masih terbelit berbagai masalah di bidang yang strategis tersebut. Jumlah penduduk miskin dengan status kesehatan yang rendah masih sangat besar dan tekanan beban ganda penyakit semakin berat dengan meningkatnya prevalensi penyakit degeneratif di tengah insidensi penyakit infeksi yang masih tinggi. Dengan masuknya berbagai teknologi baru yang umumnya lebih mahal, membuat biaya pelayanan kesehatan terus meningkat. Di sisi lain, anggaran kesehatan yang tersedia masih terbatas dan belum memadai.

Peningkatan biaya pelayanan kesehatan yang tidak dapat diimbangi dengan peningkatan anggaran tersebut membuat pencapaian target MDGs, bahkan upaya pembangunan kesehatan secara umum, menghadapi kendala. Untuk mengatasi hal ini, perlu dilakukan reformasi di bidang kesehatan, termasuk reformasi pembiayaan kesehatan.

Reformasi Kesehatan Masyarakat sebagai salah satu prioritas nasional dijabarkan dalam beberapa area perubahan yang antara lain meliputi pembiayaan untuk pemenuhan kebutuhan dasar pelayanan medis dan penyelenggaraan pelayanan kesehatan dasar promotif dan preventif; penyediaan obat esensial KIA/KB, malaria, tuberkulosis, HIV/AIDS, dan penyakit lainnya; serta penyediaan sumberdaya kesehatan untuk pelayanan kesehatan dasar. Titik tolak reformasi kesehatan yang dilakukan secara terpadu tersebut adalah untuk meniadakan, atau setidaknya mempersempit, disparitas derajat kesehatan di antara berbagai kelompok masyarakat.

Ruang lingkup Reformasi Kesehatan Masyarakat mencakup antara lain penyusunan kebijakan strategis dan perencanaan berbasis bukti yang dapat menjamin terlaksananya alokasi sumber daya yang efektif. Untuk itu, perlu dilakukan upaya peningkatan efisiensi guna mencapai efektivitas-biaya (cost-effectiveness) setinggi mungkin, yang ditunjukkan dengan perolehan hasil terbaik dengan biaya terendah.

Guna mencapai hasil terbaik dengan biaya terendah ini perlu digunakan kaidah farmakoekonomi sebagai alat bantu. Dalam penyusunan Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) atau Formularium Rumah Sakit, misalnya untuk pemilihan jenis obat yang akan dimasukkan ke dalamnya perlu dilakukan pembandingan efektivitas terapi, termasuk frekuensi manfaat dan efek samping yang tidak diinginkan dari dua atau lebih obat yang berbeda, sekaligus biaya (dalam unit moneter) yang diperlukan untuk satu periode terapi dari masing-masing obat tersebut. Dalam hal ini, biaya obat untuk satu periode terapi adalah banyaknya rupiah yang harus dikeluarkan untuk pembelian obat atau pembayaran perawatan kesehatan sampai seorang pasien mencapai kesembuhan. Dengan demikian, pemilihan obat tidak hanya didasarkan pada harga per satuan kemasan.

Dalam sistem jaminan kesehatan masyarakat yang berlaku di Indonesia saat ini, Jamkesmas dan/atau Jamkesda, proporsi biaya obat dialokasikan maksimal 30% dari biaya perawatan kesehatan. Kenyataannya, konsumsi obat nasional mencapai 40% dari belanja kesehatan secara keseluruhan dan merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.

Karena itu, peningkatan efektivitas-biaya obat, bahkan di tingkat pemerintah daerah atau tingkat lokal rumah sakit, pada ujungnya akan memberikan dampak yang berarti terhadap efisiensi biaya perawatan kesehatan nasional. Dan, dengan menerapkan peningkatan efektivitas biaya dan upaya lain berdasarkan kaidah farmakoekonomi pada penetapan kebijakan kesehatan secara menyeluruh, peningkatan efisiensi biaya perawatan kesehatan nasional yang dicapai akan maksimal.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
  1. Apa yang dimaksud dengan farmakoekonomi?
  2. Apa yang dimaksud dengan analisis efektivitas biaya?
  3. Bagaimana penerapan farmakoekonomi dalam menganalisis efektivitas biaya?
  4. Bagaimana contoh kasus farmakoekonomi dalam menganalisis efektivitas biaya?

C. Tujuan
Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah:
  1. Untuk mengetahui pengertian farmakoekonomi
  2. Untuk mengetahui pengertian analisis efektivitas biaya 
  3. Untuk mengetahui penerapan farmakoekonomi dalam menganalisis efektivitas biaya
  4. Untuk mengetahui contoh kasus farmakoekonomi dalam menganalisis efektivitas biaya

D. Manfaat 
Manfaat dalam makalah ini adalah:
  1. Agar dapat mengetahui pengertian farmakoekonomi
  2. Agar dapat mengetahui pengertian analisis efektivitas biaya
  3. Agar dapat mengetahui penerapan farmakoekonomi dalam menganalisis efektivitas biaya
  4. Agar dapat mengetahui contoh kasus farmakoekonomi dalam menganalisis efektivitas biaya

BAB II
PEMBAHASAN
A. Farmakoekonomi
Farmakoekonomi merupakan studi yang mengukur dan membandingkan antara biaya dan hasil/konsekuensi dari suatu pengobatan. Tujuan farmakoekonomi adalah untuk memberikan informasi yang dapat membantu para pembuat kebijakan dalam menentukan pilihan atas alternatif-alternatif pengobatan yang tersedia agar pelayanan kesehatan menjadi lebih efisien dan ekonomis. 

Jika kita dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti apakah obat yang akan digunakan itu efektif? Siapa yang akan menerima manfaat dari penggunaan obat tersebut? Berapa biaya yang diperlukan untuk penggunaan obat tersebut? Serta bagaimana efektivitasnya jika dibandingkan dengan obat yang telah digunakan?

Oleh karena itu, kajian farmakoekonomi akan mempertimbangkan faktor klinis (efektivitas) sekaligus faktor biaya (ekonomi) agar dapat membantu para pengambil kebijakan untuk mendapatkan jawaban yang obyektif terhadap pertanyaan tersebut. Dengan demikian, ilmu farmakoekonomi dapat membantu pemilihan obat yang rasional, yang nantinya akan memberikan tingkat kemanfaatan yang paling tinggi. 

Pada kajian farmakoekonomi dikenal empat metode analisis, yang dapat dilihat pada table 2.2. Empat metode analisis ini bukan hanya mempertimbangkan efektivitas, keamanan, dan kualitas obat yang dibandingkan, tetapi juga aspek ekonominya. Karena aspek ekonomi atau unit moneter menjadi prinsip dasar kajian farmakoekonomi, hasil kajian yang dilakukan diharapkan dapat memberikan masukan untuk menetapkan penggunaan yang paling efisien dari sumber daya kesehatan yang terbatas jumlahnya.

MAKALAH MENGANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA

B. Analisis Efektivitas Biaya (AEB/CEA)
Analisis efektivitas biaya atau cost effectiveness analysis (CEA) merupakan suatu metode evaluasi ekonomi yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan dalam memilih alternatif terbaik dari beberapa alternatif yang ada. Analisis efektivitas biaya biasanya dipergunakan untuk menilai beberapa alternatif yang tujuan atau luarannya sama, dan efektivitas diukur dalam satuan luaran seperti jumlah pasien yang sembuh, jumlah tindakan, kematian yang dapat dicegah atau satuan lainnya. 

Analisis efektivitas biaya (AEB) cukup sederhana. Dan banyak digunakan untuk kajian farmakoekonomi untuk membandingkan dua atau lebih intervensi kesehatan yang memberikan besaran efek berbeda. Dengan analisis yang mengukur biaya sekaligus hasilnya ini, pengguna dapat menetapkan bentuk intervensi kesehatan yang paling efisien membutuhkan biaya termurah untuk hasil pengobatan yang menjadi tujuan intervensi tersebut. Dengan kata lain, AEB dapat digunakan untuk memilih intervensi kesehatan yang memberikan nilai tertinggi dengan dana yang terbatas jumlahnya, misalnya:

Membandingkan dua atau lebih jenis obat dari kelas terapi yang sama tetapi memberikan besaran hasil pengobatan berbeda, misalnya dua obat antihipertensi yang memiliki kemampuan penurunan tekanan darah diastolik yang berbeda. 
Membandingkan dua atau lebih terapi yang hasil pengobatannya dapat diukur dengan unit alamiah yang sama, walau mekanisme kerjanya berbeda, misalnya obat golongan proton pump inhibitor dengan H2 antagonist untuk refluk oesophagitis parah. 

Pada CEA, biaya intervensi kesehatan diukur dalam unit moneter (rupiah) dan hasil dari intervensi tersebut dalam unit alamiah/indikator kesehatan baik klinis maupun non klinis (non-moneter). Tidak seperti unit moneter yang seragam atau mudah dikonversikan, indikator kesehatan sangat beragam mulai dari mmHg penurunan tekanan darah diastolik (oleh obat antihipertensi), banyaknya pasien katarak yang dapat dioperasi dengan sejumlah biaya tertentu (dengan prosedur yang berbeda), sampai jumlah kematian yang dapat dicegah, jumlah tahun hidup yang diperoleh (Life Years Gained, LYG), dan lain-lain. 

Sebab itu, AEB hanya dapat digunakan untuk membandingkan intervensi kesehatan yang memiliki tujuan sama, atau jika intervensi tersebut ditujukan untuk mencapai beberapa tujuan yang muaranya sama. Jika hasil intervensinya berbeda, misalnya penurunan kadar gula darah (oleh obat antidiabetes) dan penurunan kadar LDL atau kolesterol total (oleh obat antikolesterol), AEB tak dapat digunakan. Oleh pengambil kebijakan, metode Kajian Farmakoekonomi ini terutama digunakan untuk memilih alternatif terbaik di antara sejumlah intervensi kesehatan, termasuk obat yang digunakan, yaitu sistem yang memberikan hasil maksimal untuk sejumlah tertentu dana.

Pada penggunaan metode AEB perlu dilakukan penghitungan rasio biaya rerata dan rasio inkremental efektivitas-biaya (RIEB = incremental cost-effectiveness ratio/ICER). Dengan RIEB dapat diketahui besarnya biaya tambahan untuk setiap perubahan satu unit efektivitas biaya. Selain itu, untuk mempermudah pengambilan kesimpulan alternatif mana yang memberikan efektivitas-biaya terbaik, pada kajian dengan metode AEB dapat digunakan tabel efektivitas-biaya.

Dengan menggunakan tabel efektivitas-biaya, suatu intervensi kesehatan secara relatif terhadap intervensi kesehatan yang lain dapat dikelompokkan ke dalam satu dari empat posisi, yaitu:
1. Posisi Dominan=> Kolom G (juga Kolom D dan H)
Jika suatu intervensi kesehatan menawarkan efektivitas lebih tinggi dengan biaya sama (Kolom H) atau efektivitas yang sama dengan biaya lebih rendah (Kolom D), dan efektivitas lebih tinggi dengan biaya lebih rendah (Kolom G), pasti terpilih sehingga tak perlu dilakukan AEB.

2. Posisi Didominasi=> Kolom C (juga Kolom B dan F)
Sebaliknya, jika sebuah intervensi kesehatan menawarkan efektivitas lebih rendah dengan biaya sama (Kolom B) atau efektivitas sama dengan biaya lebih tinggi (Kolom F), apalagi efektivitas lebih rendah dengan biaya lebih tinggi (Kolom C), tidak perlu dipertimbangkan sebagai alternatif, sehingga tak perlu pula diikutsertakan dalam perhitungan AEB.

3. Posisi Seimbang=> Kolom E
Sebuah intervensi kesehatan yang menawarkan efektivitas dan biaya yang sama (Kolom E) masih mungkin untuk dipilih jika lebih mudah diperoleh dan/atau cara pemakaiannya lebih memungkinkan untuk ditaati oleh pasien, misalnya tablet lepas lambat yang hanya perlu diminum 1 x sehari versus tablet yang harus diminum 3 x sehari. Sehingga dalam kategori ini, ada faktor lain yang perlu dipertimbangkan di samping biaya dan hasil pengobatan, misalnya kebijakan, ketersediaan, aksesibilitas, dan lain-lain.

4. Posisi yang memerlukan pertimbangan efektivitas-biaya=> Kolom A dan I
Jika suatu intervensi kesehatan yang menawarkan efektivitas yang lebih rendah dengan biaya yang lebih rendah pula (Kolom A) atau, sebaliknya, menawarkan efektivitas yang lebih tinggi dengan biaya yang lebih tinggi, untuk melakukan pemilihan perlu memperhitungkan RIEB. 

MAKALAH MENGANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA


Alat bantu lain yang dapat digunakan dalam AEB adalah diagram efektivitas-biaya. Suatu alternatif intervensi kesehatan, termasuk obat, harus dibandingkan dengan intervensi (obat) standar. Menurut diagram ini, jika suatu intervensi kesehatan memiliki efektivitas lebih tinggi tetapi juga membutuhkan biaya lebih tinggi dibanding intervensi standar, intervensi alternatif ini masuk ke Kuadran I (Tukaran, Trade-off). Pemilihan intervensi Kuadran I memerlukan pertimbangan sumberdaya (terutama dana) yang dimiliki, dan semestinya dipilih jika sumberdaya yang tersedia mencukupi.

Suatu intervensi kesehatan yang menjanjikan efektivitas lebih rendah dengan biaya yang lebih rendah dibanding intervensi standar juga masuk kategori Tukaran, tetapi di Kuadran III. Pemilihan intervensi alternatif yang berada di Kuadran III memerlukan pertimbangan sumberdaya pula, yaitu jika dana yang tersedia lebih terbatas.

Jika suatu intervensi kesehatan memiliki efektivitas lebih tinggi dengan biaya yang lebih rendah dibanding intervensi standar, intervensi alternatif ini masuk ke Kuadran II (Dominan) dan menjadi pilihan utama. Sebaliknya, suatu intervensi kesehatan yang menawarkan efektivitas lebih rendah dengan biaya lebih tinggi dibanding intervensi standar, dengan sendirinya tak layak untuk dipilih.

MAKALAH MENGANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA


C. Contoh Penerapan Kajian Farmakoekonomi Dalam Menganalisis Efektivitas Biaya
Berikut dapat dilihat contoh perhitungan AEB yang diambil dari Pedoman Penerapan Kajian Farmakoekonomi kasus rawat jalan yang diadaptasi dari Rascati et al. Dibandingkan 3 (tiga) jenis intervensi dalam terapi asma, yaitu pemberian inhalasi kortikosteroid tunggal, pemberian kombinasi inhalasi kortikosteroid dengan obat A dan pemberian kombinasi inhalasi kortikosteroid dan obat B.
Contoh Perhitungan Analisis Efektivitas-Biaya (AEB)

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan dalam makalah ini yaitu:
  1. Farmakoekonomi merupakan studi yang mengukur dan membandingkan antara biaya dan hasil/konsekuensi dari suatu pengobatan. Tujuan farmakoekonomi adalah untuk memberikan informasi yang dapat membantu para pembuat kebijakan dalam menentukan pilihan atas alternatif-alternatif pengobatan yang tersedia agar pelayanan kesehatan menjadi lebih efisien dan ekonomis. 
  2. Analisis efektivitas biaya atau cost effectiveness analysis (CEA) merupakan suatu metode evaluasi ekonomi yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan dalam memilih alternatif terbaik dari beberapa alternatif yang ada. Analisis efektivitas biaya biasanya dipergunakan untuk menilai beberapa alternatif yang tujuan atau luarannya sama, dan efektivitas diukur dalam satuan luaran seperti jumlah pasien yang sembuh, jumlah tindakan, kematian yang dapat dicegah atau satuan lainnya. 
  3. Berdasarkan contoh penerapan kajian farmakoekonomi, langkah yang dilakukan untuk menganalisis efektivitas biaya antara lain menentukan tujuan, membuat daftar untuk mencapa tujuan tersebut, identifikasi tingkat efektivitas, identifikasi dan hitung biaya pengobatan, hitung dan lakukan interpretasi efektivitas biaya dari pilihan pengobatan, interpretasi, dan yang terakhir lakukan analisis sensitivitas dan ambil kesimpulan. 
  4. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap analisis efektivitas biaya antara pasien demam tifoid anak yang menggunakan antibiotika kloramfenikol dengan pasien demam tifoid anak yang menggunakan antibiotika seftriakson yang dirawat inap di Bagian Kesehatan Anak Rumah Sakit Fatmawati Jakarta pada periode waktu Januari 2001 – Desember 2002 dapat disimpulkan bahwa rata-rata lamanya hari rawat inap pada pasien demam tifoid anak yang menggunakan kloramfenikol adalah 6,598 hari, sedangkan rata-rata lamanya hari rawat inap pada pasien demam tifoid anak yang menggunakan seftriakson adalah 4,408 hari. Secara farmakoekonomi Seftriakson lebih efektif biaya dibandingkan dengan kloramfenikol pada pengobatan demam tifoid anak. Selain itu dapat terlihat jelas adanya perbedaan secara bermakna terhadap efektivitas dan efisiensi pengobatan demam tifoid anak antara kloramfenikol dan seftriakson. 

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2013, Pedoman Penerapan Kajian Farmakoekonomi, Kementrian Kesehatan Republik Indonrsia, Jakarta, ISBN.

Harjono H, 1980, Problem demam tifoid di Indonesia dan khususnya di Jakarta dalam Simposium demam tifoid, Jakarta, hal :1-10.

Indro H, 1995, Nilai diagnostik uji Elisa tak langsung pada penyakit demam tifoid, Lembaga Penelitian Universitas Airlangga, Surabaya.

Lolekha S, 1995, Salmonella carrier Its evolution and treatment Southeast Asian Journal of Tropical Medicine and Public Health 

Noer S. dkk., 1996, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Penerbit FKUI, Jakarta.

Sibuea WH, Pengobatan demam tifoid dengan kombinasi deksametason, kloramfenikol dan antibiotika sesuai uji resistensi guna mempercepat.