MAKALAH METODE OBSERVATIF - ElrinAlria
MAKALAH METODE OBSERVATIF

MAKALAH EPIDEMOLOGI METODE OBSERVATIF
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG OBSERVASI
Metode observasi dan wawancara merupakan metode assesment yang tertua dalam psikologi. Sebagai contoh, lama sebelum assesment dengan menggunakan alat-alat tes dikenal, pemerintah Cina pada abad pertengahan telah menggunakan ujian lisan dalam mengevaluasi pegawai pemerintahannya. Metode observasi telah digunakan untuk mengobservasi perilaku verbal maupun non - verbal para pegawai tersebut. Begitu pula halnya dengan ujian masuk perguruan tinggi seperti Oxford University (Aiken, 1996).

Wilhem Wundt, yang dikenal sebagai bapak psikologi eksperimen memanfaatkan metode observasi dalam penelitian-penelitian yang dilakukannya. Beliau mendirikan laboratorium psikologi pada tahun 1879 di Leipzig, Jerman. Bagi Wundt, subject matter dari psikologi adalah pengalaman. Wundt berupaya mencari struktur pengalaman yang disadari. Pengalaman yang disadari tersebut hanya dapat diobservasi oleh individu yang mengalaminya. Oleh karena itu, Wundt menggunakan metode self-observation atau introspeksi. Melalui introspeksi individu melihat ke dalam untuk menguji pengalaman dirinya seperti sensasi, persepsi, kesan, dan perasaan, kemudian melaporkan pengalaman tersebut. Selain itu, Wundt juga melakukan eksperimen berkaitan dengan waktu reaksi dan rentang perhatian (Wood & Wood, 1996 : 22). 

Dalam psikologi, metode observasi paling banyak digunakan dalam mengkaji perkembangan dan pendidikan anak. Observasi langsung merupakan bagian penting dari proses penemuan, dalam pengajaran maupun penelitian. Alasan-alasan yang melandasi pentingnya observasi dalam penelitian dan pengajaran, antara lain:

Pertama, observasi merupakan sarana untuk menggeneralisasi hipotesis atau ide (Irwin & Bushnell,1984). Melalui observasi terhadap anak yang sedang bermain bebas di area bermain (play ground), kita dapat mengetahui aktivitas-aktivitas apa yang menarik bagi anak dan bagaimana anak menikmati aktivitas yang dilakukannya. Pemahaman yang diperoleh dari observasi tersebut dapat dijadikan landasan untuk merancang aktivitas yang akan dilakukan dalam proses pembelajaran di sekolah. Dengan demikian kita dapat merancang proses pembelajaran yang menyenangkan bagi anak dengan melakukan generalisasi pengetahuan yang diperoleh dari observasi. Harapannya dengan cara tersebut anak dapat mengikuti proses pembelajaran dengan optimal.

Kedua, observasi dapat digunakan sebagai sarana untuk menjawab suatu pertanyaan khusus/spesifik (Irwin & Bushnell,1984). Sebagai contoh, bila seorang peneliti ingin mengetahui bagaimana respon pramusaji terhadap pengunjung restoran yang memberikan tips dan yang tidak memberikan tips, maka peneliti dapat merancang situasi yang dikehendaki dalam sebuah eksperimen. Metode observasi digunakan untuk mengamati perbedaan perilaku pramusaji dalam situasi tersebut. Contoh yang lain adalah penelitian yang dilakukan Mary Ainsworth tentang deprivasi maternal pada bayi dan penyesuaian anak selanjutnya. Ia menempatkan anak yang mengalami deprivasi maternal berupa perhatian dan afeksi sebagai bayi dan mengobservasi dengan cermat faktor-faktor seperti usia anak ketika mengalami pemisahan, lama pemisahan, dan alternatif perawatan yang diperlukan (Irwin & Bushnell,1984).

Ketiga, observasi dapat memberikan gambaran yang lebih realistik tentang suatu peristiwa atau perilaku, dibandingkan metode pengumpulan informasi lainnya (Irwin & Bushnell,1984). Seperti diungkapkan Goodwin & Driscoll (Bentzen, 1992), melalui observasi dimungkinkan untuk mengukur perilaku anak yang tidak dapat diukur dengan alat lain, misalnya pada anak yang memiliki kemampuan bahasa terbatas dan mengalami kesulitan untuk mengerjakan paper and pencil test . Keuntungan lain dari penggunaan metode observasi pada anak adalah anak tidak merasa cemas atau terancam seperti halnya yang terjadi pada anak yang lebih besar atau orang dewasa meskipun ia tahu dirinya sedang diobservasi. Bila orang dewasa tahu dirinya diobservasi, ia akan cenderung mengubah perilaku dan tidak berperilaku seperti biasanya, namun hal ini tidak terjadi pada anak-anak. Mereka tetap berperilaku sewajarnya dan tidak merasa terganggu dengan proses observasi yang dilakukan.

Keempat, melalui observasi dimungkinkan bagi peneliti atau praktisi untuk memahami perilaku anak dengan lebih baik (Irwin & Bushnell,1984). Sebagai contoh, bila seorang guru ingin mengetahui pemahaman anak TK tentang konsep angka. Seorang anak TK mugkin dapat melafalkan urutan angka dari satu sampai sepuluh. Akan tetapi, apakah anak benar-benar memahami konsep angka, dapat dilakukan dengan meminta anak untuk mengambil balok dalam jumlah tertentu. Selain itu guru juga bisa mendapatkan insight tentang perasaan dan tindakan anak ketika melakukan tugas yang diberikan.

Kelima, observasi dapat menjadi sarana dalam melakukan evaluasi, misalnya mengevaluasi kinerja guru di kelas, mengetahui respon siswa terhadap metode pembelajaran yang berbeda, mendeteksi perkembangan perilaku motorik pada bayi, mengetahui situasi yang menyebabkan anak berperilaku agresif dan sebagainya. (Astrini Tyas, 2013, http://astrintyas14.blogspot.com/2013/03/observasi.html, di akses Jum’at, 07 Juni 2013)

B. RUMUSAN MASALAH
  1. Apa definisi observasi ?
  2. Apa Tujuan observasi ?
  3. Apa manfaat observasi ?
  4. Apa Jenis observasi ?
  5. Bagaimana conoh observasi ?
  6. Bagaimana analisa observasi ?

C. TUJUAN
  1. Dapat mengetahui definisi observasi ?
  2. Dapat mengetahui Tujuan observasi ?
  3. Dapat mengetahui manfaat observasi ?
  4. Dapat mengetahui Jenis observasi ?
  5. Dapat mengetahui conoh observasi ?
  6. Dapat mengetahui analisa observasi ?

BAB II
PEMBAHASAN
A. DEFINISI OBSERVASI
Observasi merupakan suatu penelitian yang dijalankan secara sistematis dan disengaja diadakan dengan menggunakan alat indra (terutama mata) atas kejadian – kejadian yang langsung dapat ditangkap pada waktu kejadian berlangsung. (Bimbingan & Konseling, Studi & Karir oleh Prof. Dr. Bimo Walgito, 2010 : 61)

Observasi adalah pengujian dengan maksud atau tujuan tertentu mengenai sesuatu, khususnya dengan tujuan untuk mengumpulkan fakta, satu skor atau nilai, satu verbalisasi atau pengungkapan dengan kata – kata segala sesuatu yang telah diamati. ( Kamus Psikologi J.P. Chaplin oleh Drs. Kartini Kartono, 2011 : 335 – 336)

Observasi yaitu pengamatan yang dilakukan secara partisipan dan non – partisipan. Metode partisipan mengharuskan peneliti terlibat di dalam kegiatan anak – anak dan remaja. Sedangkan metode non – partisipan hanya mengamati dari luar, tidak perlu terlibat. (Psikologi Pendidikan oleh Prof. Dr. Sofyan S. Willis, 2012 : 36)

Observasi merupakan pengamatan dan pencatatan terhadap subjek ataupun kejadian yang dilakukan dengan cara sistematis. ( Nurul Hidayah, 2012)

B. TUJUAN OBSERVASI
Pada dasarnya observasi bertujuan untuk mendeskripsikan setting yang dipelajari, aktivitas – aktivitas yang berlangsung, orang – orang yang terlibat dalam aktivitas, dan makna kejadian yang dilihat dan perspektif mereka terlibat dalam kejadian yang diamati tersebut. Deskripsi harus kuat, fakta, sekaligus teliti tanpa harus dipenuhi berbagai hal yang tidak relevan.

Observasi perlu dilakukan karena beberapa alasan, yaitu :
  • Memungkinkan untuk mengukur banyaknya perilaku yang tidak dapat diukur dengan menggunakan alat ukur psikologis yang lain (alat tes). Hal ini banyak terjadi pada anak – anak. 
  • Prosedur testing formal seringkali tidak ditanggapi serius oleh anak – anak sebagaimana orang dewasa, sehingga sering observasi menjadi metode pengukur utama. 
  • Observasi dirasakan lebih mudah daripada cara pengumpulan data yang lain. Pada anak – anak, observasi menghasilkan informasi yang lebih akurat daripada orang dewasa. Sebab, orang dewasa akan memperlihatkan perilaku yang dibuat – buat bila merasa sedang diobsevasi. 

Tujuan observasi bagi seorang psikolog pada dasarnya adalah sebagai berikut :
  1. Untuk keperluan asessment awal dilakukan di luar ruang konseling, misalnya : ruang tunggu, halaman, kelas, ruang bermain. 
  2. Sebagai dasar atau titik awal dari kemajuan klien. Dari beberapa kali pertemuan psikolog akan mengetahui kemajuan yang dicapi klien. 
  3. Bagi anak – anak, untuk mengetahui perkembangan anak – anak pada tahap tertentu. 
  4. Digunakan dalam memberi laporan pada orang tua, guru, dokter dan lain – lain. 
  5. Sebagai informasi status anak atau remaja di sekolah untuk keperluan bimbingan dan konseling. 

C. MANFAAT OBSERVASI
  1. Hasil observasi yang dibuat dapat dikomfirmasikan dengan hasil penelitian 
  2. Deskripsi memberikan gambaran dunia nyata 
  3. Memungkinkan pembaca memiliki penafsiran sendiri terhadap temuan dan bagaimana akan diinterpretasikan 
  4. Dapat menjelaskan proses peristiwa berlangsung dan dapat menguji kuwalitas, memperkirakan mengapa sesuuatu terjadi dalam seting nyatanya 
  5. Dapat mencatat gejala yang kadang tidak jelas berlangsungnya 
  6. Mencatat situasi yang tidak dapat direplikasikan dalam eksperimen 
  7. Kronologi peristiwa dapat dicatat dengan berurutan 
  8. Peralatan dan teknologi dapat merekam secara permanen 
  9. Observasi dapat dikombinaskan dengn metode lain. 

D. JENIS OBSERVASI
Ada beberapa jenis observasi yang lazim dilakukan oleh konselor atau peneliti, yaitu :
1. Dilihat dari keterlibatan subyek terhadap obyek yang sedang diobservasi (observee), observasi bisa dibedakan menjadi tiga bentuk, yaitu :
  • a. Observasi partisipan, yaitu bila pihak yang melakukan observasi (observer) turut serta atau berpartisipasi dalam kegiatan yang sedang diobservasi (observee). Observasi partisipan juga sering digunakan dalam penelitian eksploratif.Observasi partisipan ini memiliki kelebihan, yaitu observee bisa jadi tidak mengetahui bahwa mereka sedang diobservasi, sehingga perilaku yang nampak diharapkan wajar atau tidak dibuat – buat. Disisi lain, observasi partisipan mengandung kelemahan, terutama berkaitan dengan kecermatan dalam melakukan pengamatan dan pencatatan, sebab ketika observer terlibat langsung dalam aktifitas yang sedang dilakukan observee, sangat mungkin observer tidak bisa melakukan pengamatan dan pencatatan secara detail.
  • b. Observasi non – partisipan, yaitu bila observer tidak secara langsung atau tidak berpartisipasi dalam aktifitas yang sedang dilakukan oleh observee.Observasi non – partisipan ini memiliki kelebihan, yaitu observer bisa melakukan pengamatan dan pencatatan secara detail dan cermat terhadap segala aktivitas yang dilakukan observee. Disisi lain, bentuk ini juga memiliki kelemahan yaitu bila observee mengetahui bahwa mereka sedang diobeservasi, maka perilakunya biasanya buat – buat atau tidak wajar. Akibatnya, observer tidak mendapatkan data yang asli.
  • c. Observasi kuasi – partisipan, yaitu bila observer terlibat pada sebagian kegiatan yang sedang dilakukan oleh observee, sementara pada sebagian kegiatan lain observer tidak melibatkan diri. Bentuk ini merupakan jalan tengah untuk mengatasi kelemahan kedua bentuk observasi di atas, dan sekaligus memanfaatkan kelebihan dari kedua bentuk tersebut. 

2. Dilihat dari segi situasi lingkungan dimana subjek diobservasi, Gall dkk (2003 : 254) membedakan observasi menjadi dua, yaitu :
  • a. Observasi naturalistik, jika observasi dilakukan secara alamiah atau dalam kondisi apa adanya. Contoh : melihat pertandingan sepak bola, guru mengamati murid ketika sedang bermain di halaman sekolah, seorang peneliti mengamati perilaku binatang di hutan atau kebun binatang.
  • b. Observasi eksperimental, jika observasi itu dilakukan terhadap subjek dalam suasana eksperimen atau kondisi yang diciptakan. Contoh : para ilmuwan mengamati perubahan hewan percobaannya yang diberi vaksin dengan hewan yang tidak diberi vaksin.

3. Khususnya bentuk observasi sistematis, Blocher (1987) mengelompokan ke dalam tiga bentuk dasar observasi, yaitu :
  • a. Observasi naturalistik, yaitu ketika sesorang ingin mengobservasi subjek (observee) dalam kondisi alami atau natural.
  • b. Metode survai, yaitu ketika seseorang mensurvai (mengobservasi) contoh – contoh tertentu dari perilaku individu yang ingin kita nilai.
  • c. Eksperimentasi, yaitu ketika sesorang tidak hanya mengobservasi tetapi memaksakan kondisi – kondisi spesifik terhadap subjek yang diobservasi.

4. Berdasarkan pada tujuan dan lapangannya, Hanna Djumhana (1983 : 205) mengelompokkan observasi menjadi, yaitu :
  • a. Finding observasi, yaitu kegiatan observasi untuk tujuan penjajagan. Dalam melakukan observasi ini observer belum mengetahui dengan jelas apa yang harus diobservasi, ia hanya mengetahui bahwa ia akan mengahadapi suatu situasi saja. Selama berhadapan dengan situasi itu, ia bersikap menjajagi saja, kemudian ia mengamati berbagai variabel yang mungkin dapat dijadikan bahan untuk menyusun observasi yang lebih terarah.
  • b. Direct observation, yaitu observasi yang menggunakan “daftar isi” sebagai pedomannya. Daftar ini bisa berupa checklist kategori tingkah laku yang diobservasi. Pada umumnya pembuatan daftar isian ini didasarkan pada data yang diperoleh dari finding observation dan atau penjabaran dari konsep dalam teori yang dipandang sudah mapan.

5. Berdasarkan pada tingkat kesempurnaannya dan pelatihan yang disyaratkan, Gibson & Mitchell (1995 : 261), mengklasifikasikan observasi sebagai berikut :
  • a. Level pertama, observasi informasi kasual (casual information observation ). Observasi jenis ini banyak dilakukan dalam kehidupan sehari – hari dengan tidak terstruktur, dan biasanya observasi – observasi yang tidak terencana yang memberikan kesan – kesan kasual yang terjadi sehari –hari oleh orang – orang di dekat kita. Tidak ada pelatihan atau instrumentasi yang diharapkan atau disyaratkan.
  • b. Level kedua, observasi terstruktur (guided observation). Terencana, diarahkan pada sebuah maksud atau tujuan. Observasi pada tingkat ini biasanya difasilitasi oleh instrumen yang sederhana seperti cheklist dan skala penilaian. Beberapa training juga diperlukan.
  • c. Level ketiga, level klinis. Observasi, selalu diperpanjang, dan sering dengan kondisi – kondisi yang terkontrol. Teknik – teknik dan instrumen – instrumen yang digunakan direncanakan dengan baik, dan digunakan melalui pelatihan secara khusus, biasanya diberikan pada level doktoral. (Pemahaman Individu oleh Drs. Anwar Sutoyo, M.Pd, 2012 : 86 – 91)

F. CONTOH OBSERVASI
1. Langkah-Langkah Menyusun Lembar Observasi Penelitian
Lembar observasi penelitian tentang aktivitas belajar siswa ini dibuat dengan langkah-langkah sebagai berikut:
  • a. Menentukan tujuan pembuatan lembar observasi, yaitu untuk merekam data berapa banyak siswa di suatu kelas aktif belajar, dan bagaimana kualitas aktivitas belajar siswa-siswa tersebut.
  • b. Mengumpulkan referensi tentang karakteristik atau ciri-ciri siswa yang sedang aktif belajar (jika anda telah menulis proposal penelitian, maka tentunya dengan mudah dapat dicuplik dari kajian teori atau kajian pustaka proposal penelitian anda).
  • c. Menyusun poin-poin kunci tentang karakteristik atau ciri-ciri siswa yang sedang aktif belajar. Misalnya, setelah diekstraksi, kajian pustaka atau kajian teori tentang aktivitas belajar siswa didapatkanlah karakteristik atau ciri-ciri siswa yang aktif belajar. 
  • d. Menentukan desain atau layout lembar observasi penelitian yang diinginkan, seperti daftar ceklis, skala rating (skala penilaian), daftar pertanyaan terbuka, laporan observasi (observation report). 
  • e. Merumuskan elemen-elemen lembar observasi penelitian, dalam hal ini judul, identitas, tujuan, petunjuk penggunaan (petunjuk pengisian), butir-butir pernyataan atau pertanyaan terkait karakteristik atau ciri-ciri siswa yang aktif belajar (ini merupakan bagian utama dari lembar observasi dan harus mengacu pada tujuan pembuatan lembar observasi yang identik dengan tujuan penelitian yang sedang dilakukan). 
  • f. Menulis draft lembar observasi penelitian.
  • g. Meminta bantuan rekan seprofesi atau ahli misalnya widyaiswara atau dosen untuk mengecek validitas instrumen (lembar observasi). 
  • h. Merevisi lembar observasi bila diperlukan

2. Contoh lembar observasi aktivitas belajar siswa
Maka setelah melewati langkah-langkah tersebut di atas, maka kita telah menyusun sebuah lembar observasi penelitian, yang bentuk akhirnya berupa skala rating seperti berikut ini:

G. ANALISA OBSERVASI
Gibson (1995 : 263) menyarankan agar dalam melakukan analisis selama atau setelah observasi memperhatikan hal – hal sebagai berikut :
  1. Mengamati satu klien dalam satu waktu. Observasi untuk analisis individu sebaiknya difokuskan pada individu tersebut. Utamanya terhadap perilaku klien secara detail yang mungkin berguna dalam konseling. 
  2. Ada kriteria spesifik untuk melakukan observasi. Konselor hendaknya selalu ingat bahwa observasi yang dilakukan adalah untuk mencapai tujuan tertentu. Oleh sebab itu, ketika melakukan analisis hendaknya difokuskan pada hal – hal yang berkaitan dengan tujuan observasi. 
  3. Observasi seharusnya dilakukan tanpa batas waktu. Utamanya dalam dunia pendidikan, observasi dalam rangka konseling sebaiknya tidak hanya dibatasi pada waktu tertentu saja, tetapi dilakukan secara berkesinambungan ini sekurang – kurangnya memiliki dua manfaat, yaitu untuk validasi dan evaluasi. 
  4. Konseli seharusnya diamati dalam situasi yang natural dan berbeda. Perilaku natural kebanyakan terjadi dalam situasi yang juga natural. Meskipun situasi naturalitu beragam antara satu orang dengan yang lain, tetapi ada situasi umum yang kurang lebih sama, misalnya : ketika di sekolah, di rumah, ketika berhubungan dengan teman, dengan guru, dengan karyawan, dan dengan orang dewasa lainnya. Sebab bisa jadi seseorang ketika di tengah – tengah keluarga menunjukkan perilaku sopan, tetapi ketika berhubungan dengan orang – orang di luar rumah terjadi sebaliknya. Mengamati perilaku dalam situasi yang berbeda itu sangat membantu dalam penyimpulan apakah karakteristik tingkah laku tersebut konsisten atau tidak. 
  5. Mengamati klien dalam konteks semua situasi atau situasi total. Dalam melakukan observasi terhadap tingkah laku manusia, sangatlah penting menghindari pendekatan “tunnel vision”, dimana kita hanya bermaksud mengamati klien secara visual atau sebatas yang tampak mata, tetapi observasi sebaiknya dilakukan dengan melihat faktor – faktor yang mendorong munculnya tingkah laku tersebut, sehingga kita bisa memberi makna yang lebih tepat terhadap tingkah laku yang kita amati. 
  6. Data dari observasi seharusnya digabungkan dengan data yang lain. Dalam analisis individu sangatlah penting untuk menggabungkan semua yang diketahui tentang konseli. Hal ini karena untuk melihat konseli sebagai seorang manusia yang utuh, semua kesan yang didapatkan dari observasi harus dipadukan dengan semua informasi yang mungkin didapatkan. Teknik studi kasus yang diguanakan oleh sebagian besar bantuan profesional memberikan ilustrasi terhadap integrasi dan hubungan antar data sebelum dilakukan interpretasi. 
  7. Observasi seharusnya dilakukan dalam kondisi yang menyenangkan. Dalam melakukan observasi sangat diharapkan observer berada pada posisi yang cukup jelas untuk melihat apa yang ingin dilaporkan. Idealnya, observer mampu melakukan observasi dalam waktu yang cukup tanpa halangan dan gangguan, serta kondisi yang menyenangkan untuk melakukan observasi. Observer seharusnya juga siap terhadap kemungkinan lain yang mungkin terjadi ketika seseorang diamati memodifikasi perilakunya karena dia sadar bahwa dirinya sedang diamati. (Pemahaman Individu oleh Drs. Anwar Sutoyo, M.Pd, 2012 : 124 -126) 

H. KELEMAHAN DAN KELEBIHAN OBSERVASI
1. Kelemahan
Gibson & Mitchell (1995 : 263), Mc. Millan & Schumacher (2001 : 276) menunjukan beberapa kelemahan observasi sebagai berikut :
  • a. Kemampuan manusia untuk menyimpan secara akurat terhadap kesan yang diperoleh dari hasil pengamatan sangat terbatas, baik dalam hal jumlah maupun lamanya kesan (informasi) itu bisa disimpan. Akibatnya ada sesuatu yang mungkin hilang atau tidak lengkap. Gibson & Mitchell (1995 : 23) mencatat bahwa tidak banyak orang yang mampu menyimpan kesan yang amat luas dan detail. Oleh sebab itu, para observer perlu alat bantu observasi. Seorang peneliti yang melakukan observasi terhadap sejumlah siswa dalam satu kelas tentu akan mengalami kesulitan jika harus menyimpan informasi berapa anak yang ada dalam kelas itu, berapa jumlah anak laki – laki dan berapa pula jumlah perempuan, siapa duduk dekat siapa, dan bajunya berwarna apa. Apalagi jika informasi itu harus disimpan dalam waktu lama. 
  • b. Cara pandang individu terhadap obyek yang sama juga belum tentu sama, sebab setiap oran memiliki frame yang unik yang mungkin berbeda dengan yang lain. Akibatnya, kesan yang diperoleh juga tidak sama dan penilaiannya pun tidak sama. Gibson & Mitchell (1995 : 263) menunjukan bahwa hasil pengamatan sangat dipengaruhi oleh daya adaptasi, kebiasaan, keinginan, prasangka, dan proyeksi. 
  • c. Kesan seseorang terhadap suatu obyek juga tidak selalu sama. Akibatnya penafsiran dan penilaian yang diberikan terhadap obyek yang sama menjadi tidak sama. Seseorang yang memegang teguh norma sosial , ketika melihat seorang remaja rambutnya disemir dengan warna – warni plus mengenakan anting, mungkin kita akan punya kesan remaja itu nakal. Tetapi bagi observer lain yang mudah menerima nilai – nilai baru akan mempunyai kesan berbeda, mungkin tampilan remaja tersebut dipandang sesuai perkembangan zaman, bahkan ia menilai positif. 
  • d. Ada kecenderungan pada manusia dalam menilai sesuatu menjadi terlalu tinggi atau terlalu rendah mendasrkan pada sifat yang menonjol. Seorang observer dalam memberikan penilaian terhadap seorang siswa kadang masih terpengaruh ia “anak siapa”, atau memberi penilaian dengan pertimbangan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan aspek yang sedang dinilai. Tidak jarang orang memberikan penilaian terhadap seseorang yang dengan melihat tampilannya, padahal tampilan kadang tidak menggambarkan realitas yang sesungguhnya. (Pemahaman Individu oleh Drs. Anwar Sutoyo, M.Pd, 2012 : 91 – 93) 

2. Kelebihan
  • a. Dapat meneliti beberapa gejala 
  • b. Teknik observasi tidak menuntun objek berada dalam objek-objek tertentu 
  • c. Memungkinkan pencatatan secara bersamaan dalam suatu peristiwa 
  • d. Tidak bergantung pada self report 
  • e. Banyak kejadian penting yang tidak dapat diperoleh bila tidak menggunakan metode observasi 

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Kemampuan untuk melakukan observasi secara benar dan baik sangat diperlukan bagi konselor, guru, peneliti sosial dan pihak – pihak yang bergerak dalam pelayanan kemanusiaan. Dengan kemampuan melakukan observasi secara baik, mereka dimungkinkan untuk memahami individu yang hendak dibimbing, dididik dan dilayaninya sebaik – sebaiknya, dan pada akhirnya diharapkan bisa memberikan pelayanan secara tepat.

Observasi adalah proses pengamatan yang disertai dengan pemusatan perhatian terhadap suatu obyek dan gejala – gejala yang perlu diamati. Observasi harus dilakukan secara sistematis dan bertujuan. 

Tujuan observasi bagi seorang psikolog pada dasarnya, yaitu 
  1. Untuk keperluan asessment awal dilakukan di luar ruang konseling, misalnya : ruang tunggu, halaman, kelas, ruang bermain 
  2. Sebagai dasar atau titik awal dari kemajuan klien. Dari beberapa kali pertemuan psikolog akan mengetahui kemajuan yang dicapi klien
  3. Bagi anak – anak, untuk mengetahui perkembangan anak – anak pada tahap tertentu 
  4. Digunakan dalam memberi laporan pada orang tua, guru, dokter dan lain – lain 
  5. Sebagai informasi status anak atau remaja di sekolah untuk keperluan bimbingan dan konseling. Hasil observasi yang dibuat dapat dikomfirmasikan dengan hasil penelitian. 

Manfaat observasi, yaitu : 
  1. Deskripsi memberikan gambaran dunia nyata
  2. Memungkinkan pembaca memiliki penafsiran sendiri terhadap temuan dan bagaimana akan diinterpretasikan
  3. Dapat menjelaskan proses peristiwa berlangsung dan dapat menguji kuwalitas, memperkirakan mengapa sesuuatu terjadi dalam seting nyatanya
  4. Dapat mencatat gejala yang kadang tidak jelas berlangsungnya
  5. Mencatat situasi yang tidak dapat direplikasikan dalam eksperimen
  6. Kronologi peristiwa dapat dicatat dengan berurutan
  7. Peralatan dan teknologi dapat merekam secara permanen
  8. Observasi dapat dikombinaskan dengn metode lain. 

Ada beberap bentuk observasi yaitu:
  • Dilihat dari keterlibatan observer terhadap kegiatan yang sedang dilakukan observee, observasi bisa dikelompokkan menjadi observasi partisipan, observasi nonpartisipan, dan observasi kuasi partisipan 
  • Dilihat dari kondisi lingkungannya diciptakan atau apa adanya, bisa dikelompokkan menjadi observasi naturalistik dan observasi eksperimen 
  • Dilihat dari tingkat kesempurnaan dan latihan yang diperlukan, bisa dikelompokkan menjadi tingkat pertama, observasi informasi kausal, tingkat kedua, observasi terstruktur, dan tingkat ketiga, observasi klinis 
  • Dilihat dari tujuan lapangan, observasi dibedakan menjadi finding observation, direct observational 
  • Khususnya observasi sistematis dibedakan menjadi observasi naturalistik, survey dan eksperimentasi.
Ada beberapa kelemahan observasi, yaitu:
  • Berkaitan dengan keterbatasan kemampuan manusia dalam menyimpan hasil pengamatan 
  • Cara pandang individu terhadap obyek yang sama, belum tentu sama antara individu satu dengan lainnya 
  • Kesan individu terhadap obyek yang sama juga belum tentu sama, akibatnya penafsiran juga tidak sama 
  • Kesan individu terhadap obyek sama juga belum tentu sama dengan individu lainnya 
  • Ada kecenderungan pada manusia dalam menilai sesuatu hanya berdasarkan ciri – ciri yang menonjol. 

Ada beberapa kelebihan observasi, yaitu 
  • Dapat meneliti beberapa gejala 
  • Teknik observasi tidak menuntun objek berada dalam objek-objek tertentu 
  • Memungkinkan pencatatan secara bersamaan dalam suatu peristiwa, tidak bergantung pada self report 
  • Banyak kejadian penting yang tidak dapat diperoleh bila tidak menggunakan metode observasi. 

DAFTAR PUSTAKA
Walgito, Bimo. 2010. Bimbingan dan Konseling (Studi dan Karier). Yogyakarta : Penerbit Andi.

Willis, Sofyan. 2012. Psikologi Pendidikan. Bandung : Penerbit Alfabeta

MAKALAH METODE OBSERVATIF

MAKALAH METODE OBSERVATIF

MAKALAH EPIDEMOLOGI METODE OBSERVATIF
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG OBSERVASI
Metode observasi dan wawancara merupakan metode assesment yang tertua dalam psikologi. Sebagai contoh, lama sebelum assesment dengan menggunakan alat-alat tes dikenal, pemerintah Cina pada abad pertengahan telah menggunakan ujian lisan dalam mengevaluasi pegawai pemerintahannya. Metode observasi telah digunakan untuk mengobservasi perilaku verbal maupun non - verbal para pegawai tersebut. Begitu pula halnya dengan ujian masuk perguruan tinggi seperti Oxford University (Aiken, 1996).

Wilhem Wundt, yang dikenal sebagai bapak psikologi eksperimen memanfaatkan metode observasi dalam penelitian-penelitian yang dilakukannya. Beliau mendirikan laboratorium psikologi pada tahun 1879 di Leipzig, Jerman. Bagi Wundt, subject matter dari psikologi adalah pengalaman. Wundt berupaya mencari struktur pengalaman yang disadari. Pengalaman yang disadari tersebut hanya dapat diobservasi oleh individu yang mengalaminya. Oleh karena itu, Wundt menggunakan metode self-observation atau introspeksi. Melalui introspeksi individu melihat ke dalam untuk menguji pengalaman dirinya seperti sensasi, persepsi, kesan, dan perasaan, kemudian melaporkan pengalaman tersebut. Selain itu, Wundt juga melakukan eksperimen berkaitan dengan waktu reaksi dan rentang perhatian (Wood & Wood, 1996 : 22). 

Dalam psikologi, metode observasi paling banyak digunakan dalam mengkaji perkembangan dan pendidikan anak. Observasi langsung merupakan bagian penting dari proses penemuan, dalam pengajaran maupun penelitian. Alasan-alasan yang melandasi pentingnya observasi dalam penelitian dan pengajaran, antara lain:

Pertama, observasi merupakan sarana untuk menggeneralisasi hipotesis atau ide (Irwin & Bushnell,1984). Melalui observasi terhadap anak yang sedang bermain bebas di area bermain (play ground), kita dapat mengetahui aktivitas-aktivitas apa yang menarik bagi anak dan bagaimana anak menikmati aktivitas yang dilakukannya. Pemahaman yang diperoleh dari observasi tersebut dapat dijadikan landasan untuk merancang aktivitas yang akan dilakukan dalam proses pembelajaran di sekolah. Dengan demikian kita dapat merancang proses pembelajaran yang menyenangkan bagi anak dengan melakukan generalisasi pengetahuan yang diperoleh dari observasi. Harapannya dengan cara tersebut anak dapat mengikuti proses pembelajaran dengan optimal.

Kedua, observasi dapat digunakan sebagai sarana untuk menjawab suatu pertanyaan khusus/spesifik (Irwin & Bushnell,1984). Sebagai contoh, bila seorang peneliti ingin mengetahui bagaimana respon pramusaji terhadap pengunjung restoran yang memberikan tips dan yang tidak memberikan tips, maka peneliti dapat merancang situasi yang dikehendaki dalam sebuah eksperimen. Metode observasi digunakan untuk mengamati perbedaan perilaku pramusaji dalam situasi tersebut. Contoh yang lain adalah penelitian yang dilakukan Mary Ainsworth tentang deprivasi maternal pada bayi dan penyesuaian anak selanjutnya. Ia menempatkan anak yang mengalami deprivasi maternal berupa perhatian dan afeksi sebagai bayi dan mengobservasi dengan cermat faktor-faktor seperti usia anak ketika mengalami pemisahan, lama pemisahan, dan alternatif perawatan yang diperlukan (Irwin & Bushnell,1984).

Ketiga, observasi dapat memberikan gambaran yang lebih realistik tentang suatu peristiwa atau perilaku, dibandingkan metode pengumpulan informasi lainnya (Irwin & Bushnell,1984). Seperti diungkapkan Goodwin & Driscoll (Bentzen, 1992), melalui observasi dimungkinkan untuk mengukur perilaku anak yang tidak dapat diukur dengan alat lain, misalnya pada anak yang memiliki kemampuan bahasa terbatas dan mengalami kesulitan untuk mengerjakan paper and pencil test . Keuntungan lain dari penggunaan metode observasi pada anak adalah anak tidak merasa cemas atau terancam seperti halnya yang terjadi pada anak yang lebih besar atau orang dewasa meskipun ia tahu dirinya sedang diobservasi. Bila orang dewasa tahu dirinya diobservasi, ia akan cenderung mengubah perilaku dan tidak berperilaku seperti biasanya, namun hal ini tidak terjadi pada anak-anak. Mereka tetap berperilaku sewajarnya dan tidak merasa terganggu dengan proses observasi yang dilakukan.

Keempat, melalui observasi dimungkinkan bagi peneliti atau praktisi untuk memahami perilaku anak dengan lebih baik (Irwin & Bushnell,1984). Sebagai contoh, bila seorang guru ingin mengetahui pemahaman anak TK tentang konsep angka. Seorang anak TK mugkin dapat melafalkan urutan angka dari satu sampai sepuluh. Akan tetapi, apakah anak benar-benar memahami konsep angka, dapat dilakukan dengan meminta anak untuk mengambil balok dalam jumlah tertentu. Selain itu guru juga bisa mendapatkan insight tentang perasaan dan tindakan anak ketika melakukan tugas yang diberikan.

Kelima, observasi dapat menjadi sarana dalam melakukan evaluasi, misalnya mengevaluasi kinerja guru di kelas, mengetahui respon siswa terhadap metode pembelajaran yang berbeda, mendeteksi perkembangan perilaku motorik pada bayi, mengetahui situasi yang menyebabkan anak berperilaku agresif dan sebagainya. (Astrini Tyas, 2013, http://astrintyas14.blogspot.com/2013/03/observasi.html, di akses Jum’at, 07 Juni 2013)

B. RUMUSAN MASALAH
  1. Apa definisi observasi ?
  2. Apa Tujuan observasi ?
  3. Apa manfaat observasi ?
  4. Apa Jenis observasi ?
  5. Bagaimana conoh observasi ?
  6. Bagaimana analisa observasi ?

C. TUJUAN
  1. Dapat mengetahui definisi observasi ?
  2. Dapat mengetahui Tujuan observasi ?
  3. Dapat mengetahui manfaat observasi ?
  4. Dapat mengetahui Jenis observasi ?
  5. Dapat mengetahui conoh observasi ?
  6. Dapat mengetahui analisa observasi ?

BAB II
PEMBAHASAN
A. DEFINISI OBSERVASI
Observasi merupakan suatu penelitian yang dijalankan secara sistematis dan disengaja diadakan dengan menggunakan alat indra (terutama mata) atas kejadian – kejadian yang langsung dapat ditangkap pada waktu kejadian berlangsung. (Bimbingan & Konseling, Studi & Karir oleh Prof. Dr. Bimo Walgito, 2010 : 61)

Observasi adalah pengujian dengan maksud atau tujuan tertentu mengenai sesuatu, khususnya dengan tujuan untuk mengumpulkan fakta, satu skor atau nilai, satu verbalisasi atau pengungkapan dengan kata – kata segala sesuatu yang telah diamati. ( Kamus Psikologi J.P. Chaplin oleh Drs. Kartini Kartono, 2011 : 335 – 336)

Observasi yaitu pengamatan yang dilakukan secara partisipan dan non – partisipan. Metode partisipan mengharuskan peneliti terlibat di dalam kegiatan anak – anak dan remaja. Sedangkan metode non – partisipan hanya mengamati dari luar, tidak perlu terlibat. (Psikologi Pendidikan oleh Prof. Dr. Sofyan S. Willis, 2012 : 36)

Observasi merupakan pengamatan dan pencatatan terhadap subjek ataupun kejadian yang dilakukan dengan cara sistematis. ( Nurul Hidayah, 2012)

B. TUJUAN OBSERVASI
Pada dasarnya observasi bertujuan untuk mendeskripsikan setting yang dipelajari, aktivitas – aktivitas yang berlangsung, orang – orang yang terlibat dalam aktivitas, dan makna kejadian yang dilihat dan perspektif mereka terlibat dalam kejadian yang diamati tersebut. Deskripsi harus kuat, fakta, sekaligus teliti tanpa harus dipenuhi berbagai hal yang tidak relevan.

Observasi perlu dilakukan karena beberapa alasan, yaitu :
  • Memungkinkan untuk mengukur banyaknya perilaku yang tidak dapat diukur dengan menggunakan alat ukur psikologis yang lain (alat tes). Hal ini banyak terjadi pada anak – anak. 
  • Prosedur testing formal seringkali tidak ditanggapi serius oleh anak – anak sebagaimana orang dewasa, sehingga sering observasi menjadi metode pengukur utama. 
  • Observasi dirasakan lebih mudah daripada cara pengumpulan data yang lain. Pada anak – anak, observasi menghasilkan informasi yang lebih akurat daripada orang dewasa. Sebab, orang dewasa akan memperlihatkan perilaku yang dibuat – buat bila merasa sedang diobsevasi. 

Tujuan observasi bagi seorang psikolog pada dasarnya adalah sebagai berikut :
  1. Untuk keperluan asessment awal dilakukan di luar ruang konseling, misalnya : ruang tunggu, halaman, kelas, ruang bermain. 
  2. Sebagai dasar atau titik awal dari kemajuan klien. Dari beberapa kali pertemuan psikolog akan mengetahui kemajuan yang dicapi klien. 
  3. Bagi anak – anak, untuk mengetahui perkembangan anak – anak pada tahap tertentu. 
  4. Digunakan dalam memberi laporan pada orang tua, guru, dokter dan lain – lain. 
  5. Sebagai informasi status anak atau remaja di sekolah untuk keperluan bimbingan dan konseling. 

C. MANFAAT OBSERVASI
  1. Hasil observasi yang dibuat dapat dikomfirmasikan dengan hasil penelitian 
  2. Deskripsi memberikan gambaran dunia nyata 
  3. Memungkinkan pembaca memiliki penafsiran sendiri terhadap temuan dan bagaimana akan diinterpretasikan 
  4. Dapat menjelaskan proses peristiwa berlangsung dan dapat menguji kuwalitas, memperkirakan mengapa sesuuatu terjadi dalam seting nyatanya 
  5. Dapat mencatat gejala yang kadang tidak jelas berlangsungnya 
  6. Mencatat situasi yang tidak dapat direplikasikan dalam eksperimen 
  7. Kronologi peristiwa dapat dicatat dengan berurutan 
  8. Peralatan dan teknologi dapat merekam secara permanen 
  9. Observasi dapat dikombinaskan dengn metode lain. 

D. JENIS OBSERVASI
Ada beberapa jenis observasi yang lazim dilakukan oleh konselor atau peneliti, yaitu :
1. Dilihat dari keterlibatan subyek terhadap obyek yang sedang diobservasi (observee), observasi bisa dibedakan menjadi tiga bentuk, yaitu :
  • a. Observasi partisipan, yaitu bila pihak yang melakukan observasi (observer) turut serta atau berpartisipasi dalam kegiatan yang sedang diobservasi (observee). Observasi partisipan juga sering digunakan dalam penelitian eksploratif.Observasi partisipan ini memiliki kelebihan, yaitu observee bisa jadi tidak mengetahui bahwa mereka sedang diobservasi, sehingga perilaku yang nampak diharapkan wajar atau tidak dibuat – buat. Disisi lain, observasi partisipan mengandung kelemahan, terutama berkaitan dengan kecermatan dalam melakukan pengamatan dan pencatatan, sebab ketika observer terlibat langsung dalam aktifitas yang sedang dilakukan observee, sangat mungkin observer tidak bisa melakukan pengamatan dan pencatatan secara detail.
  • b. Observasi non – partisipan, yaitu bila observer tidak secara langsung atau tidak berpartisipasi dalam aktifitas yang sedang dilakukan oleh observee.Observasi non – partisipan ini memiliki kelebihan, yaitu observer bisa melakukan pengamatan dan pencatatan secara detail dan cermat terhadap segala aktivitas yang dilakukan observee. Disisi lain, bentuk ini juga memiliki kelemahan yaitu bila observee mengetahui bahwa mereka sedang diobeservasi, maka perilakunya biasanya buat – buat atau tidak wajar. Akibatnya, observer tidak mendapatkan data yang asli.
  • c. Observasi kuasi – partisipan, yaitu bila observer terlibat pada sebagian kegiatan yang sedang dilakukan oleh observee, sementara pada sebagian kegiatan lain observer tidak melibatkan diri. Bentuk ini merupakan jalan tengah untuk mengatasi kelemahan kedua bentuk observasi di atas, dan sekaligus memanfaatkan kelebihan dari kedua bentuk tersebut. 

2. Dilihat dari segi situasi lingkungan dimana subjek diobservasi, Gall dkk (2003 : 254) membedakan observasi menjadi dua, yaitu :
  • a. Observasi naturalistik, jika observasi dilakukan secara alamiah atau dalam kondisi apa adanya. Contoh : melihat pertandingan sepak bola, guru mengamati murid ketika sedang bermain di halaman sekolah, seorang peneliti mengamati perilaku binatang di hutan atau kebun binatang.
  • b. Observasi eksperimental, jika observasi itu dilakukan terhadap subjek dalam suasana eksperimen atau kondisi yang diciptakan. Contoh : para ilmuwan mengamati perubahan hewan percobaannya yang diberi vaksin dengan hewan yang tidak diberi vaksin.

3. Khususnya bentuk observasi sistematis, Blocher (1987) mengelompokan ke dalam tiga bentuk dasar observasi, yaitu :
  • a. Observasi naturalistik, yaitu ketika sesorang ingin mengobservasi subjek (observee) dalam kondisi alami atau natural.
  • b. Metode survai, yaitu ketika seseorang mensurvai (mengobservasi) contoh – contoh tertentu dari perilaku individu yang ingin kita nilai.
  • c. Eksperimentasi, yaitu ketika sesorang tidak hanya mengobservasi tetapi memaksakan kondisi – kondisi spesifik terhadap subjek yang diobservasi.

4. Berdasarkan pada tujuan dan lapangannya, Hanna Djumhana (1983 : 205) mengelompokkan observasi menjadi, yaitu :
  • a. Finding observasi, yaitu kegiatan observasi untuk tujuan penjajagan. Dalam melakukan observasi ini observer belum mengetahui dengan jelas apa yang harus diobservasi, ia hanya mengetahui bahwa ia akan mengahadapi suatu situasi saja. Selama berhadapan dengan situasi itu, ia bersikap menjajagi saja, kemudian ia mengamati berbagai variabel yang mungkin dapat dijadikan bahan untuk menyusun observasi yang lebih terarah.
  • b. Direct observation, yaitu observasi yang menggunakan “daftar isi” sebagai pedomannya. Daftar ini bisa berupa checklist kategori tingkah laku yang diobservasi. Pada umumnya pembuatan daftar isian ini didasarkan pada data yang diperoleh dari finding observation dan atau penjabaran dari konsep dalam teori yang dipandang sudah mapan.

5. Berdasarkan pada tingkat kesempurnaannya dan pelatihan yang disyaratkan, Gibson & Mitchell (1995 : 261), mengklasifikasikan observasi sebagai berikut :
  • a. Level pertama, observasi informasi kasual (casual information observation ). Observasi jenis ini banyak dilakukan dalam kehidupan sehari – hari dengan tidak terstruktur, dan biasanya observasi – observasi yang tidak terencana yang memberikan kesan – kesan kasual yang terjadi sehari –hari oleh orang – orang di dekat kita. Tidak ada pelatihan atau instrumentasi yang diharapkan atau disyaratkan.
  • b. Level kedua, observasi terstruktur (guided observation). Terencana, diarahkan pada sebuah maksud atau tujuan. Observasi pada tingkat ini biasanya difasilitasi oleh instrumen yang sederhana seperti cheklist dan skala penilaian. Beberapa training juga diperlukan.
  • c. Level ketiga, level klinis. Observasi, selalu diperpanjang, dan sering dengan kondisi – kondisi yang terkontrol. Teknik – teknik dan instrumen – instrumen yang digunakan direncanakan dengan baik, dan digunakan melalui pelatihan secara khusus, biasanya diberikan pada level doktoral. (Pemahaman Individu oleh Drs. Anwar Sutoyo, M.Pd, 2012 : 86 – 91)

F. CONTOH OBSERVASI
1. Langkah-Langkah Menyusun Lembar Observasi Penelitian
Lembar observasi penelitian tentang aktivitas belajar siswa ini dibuat dengan langkah-langkah sebagai berikut:
  • a. Menentukan tujuan pembuatan lembar observasi, yaitu untuk merekam data berapa banyak siswa di suatu kelas aktif belajar, dan bagaimana kualitas aktivitas belajar siswa-siswa tersebut.
  • b. Mengumpulkan referensi tentang karakteristik atau ciri-ciri siswa yang sedang aktif belajar (jika anda telah menulis proposal penelitian, maka tentunya dengan mudah dapat dicuplik dari kajian teori atau kajian pustaka proposal penelitian anda).
  • c. Menyusun poin-poin kunci tentang karakteristik atau ciri-ciri siswa yang sedang aktif belajar. Misalnya, setelah diekstraksi, kajian pustaka atau kajian teori tentang aktivitas belajar siswa didapatkanlah karakteristik atau ciri-ciri siswa yang aktif belajar. 
  • d. Menentukan desain atau layout lembar observasi penelitian yang diinginkan, seperti daftar ceklis, skala rating (skala penilaian), daftar pertanyaan terbuka, laporan observasi (observation report). 
  • e. Merumuskan elemen-elemen lembar observasi penelitian, dalam hal ini judul, identitas, tujuan, petunjuk penggunaan (petunjuk pengisian), butir-butir pernyataan atau pertanyaan terkait karakteristik atau ciri-ciri siswa yang aktif belajar (ini merupakan bagian utama dari lembar observasi dan harus mengacu pada tujuan pembuatan lembar observasi yang identik dengan tujuan penelitian yang sedang dilakukan). 
  • f. Menulis draft lembar observasi penelitian.
  • g. Meminta bantuan rekan seprofesi atau ahli misalnya widyaiswara atau dosen untuk mengecek validitas instrumen (lembar observasi). 
  • h. Merevisi lembar observasi bila diperlukan

2. Contoh lembar observasi aktivitas belajar siswa
Maka setelah melewati langkah-langkah tersebut di atas, maka kita telah menyusun sebuah lembar observasi penelitian, yang bentuk akhirnya berupa skala rating seperti berikut ini:

G. ANALISA OBSERVASI
Gibson (1995 : 263) menyarankan agar dalam melakukan analisis selama atau setelah observasi memperhatikan hal – hal sebagai berikut :
  1. Mengamati satu klien dalam satu waktu. Observasi untuk analisis individu sebaiknya difokuskan pada individu tersebut. Utamanya terhadap perilaku klien secara detail yang mungkin berguna dalam konseling. 
  2. Ada kriteria spesifik untuk melakukan observasi. Konselor hendaknya selalu ingat bahwa observasi yang dilakukan adalah untuk mencapai tujuan tertentu. Oleh sebab itu, ketika melakukan analisis hendaknya difokuskan pada hal – hal yang berkaitan dengan tujuan observasi. 
  3. Observasi seharusnya dilakukan tanpa batas waktu. Utamanya dalam dunia pendidikan, observasi dalam rangka konseling sebaiknya tidak hanya dibatasi pada waktu tertentu saja, tetapi dilakukan secara berkesinambungan ini sekurang – kurangnya memiliki dua manfaat, yaitu untuk validasi dan evaluasi. 
  4. Konseli seharusnya diamati dalam situasi yang natural dan berbeda. Perilaku natural kebanyakan terjadi dalam situasi yang juga natural. Meskipun situasi naturalitu beragam antara satu orang dengan yang lain, tetapi ada situasi umum yang kurang lebih sama, misalnya : ketika di sekolah, di rumah, ketika berhubungan dengan teman, dengan guru, dengan karyawan, dan dengan orang dewasa lainnya. Sebab bisa jadi seseorang ketika di tengah – tengah keluarga menunjukkan perilaku sopan, tetapi ketika berhubungan dengan orang – orang di luar rumah terjadi sebaliknya. Mengamati perilaku dalam situasi yang berbeda itu sangat membantu dalam penyimpulan apakah karakteristik tingkah laku tersebut konsisten atau tidak. 
  5. Mengamati klien dalam konteks semua situasi atau situasi total. Dalam melakukan observasi terhadap tingkah laku manusia, sangatlah penting menghindari pendekatan “tunnel vision”, dimana kita hanya bermaksud mengamati klien secara visual atau sebatas yang tampak mata, tetapi observasi sebaiknya dilakukan dengan melihat faktor – faktor yang mendorong munculnya tingkah laku tersebut, sehingga kita bisa memberi makna yang lebih tepat terhadap tingkah laku yang kita amati. 
  6. Data dari observasi seharusnya digabungkan dengan data yang lain. Dalam analisis individu sangatlah penting untuk menggabungkan semua yang diketahui tentang konseli. Hal ini karena untuk melihat konseli sebagai seorang manusia yang utuh, semua kesan yang didapatkan dari observasi harus dipadukan dengan semua informasi yang mungkin didapatkan. Teknik studi kasus yang diguanakan oleh sebagian besar bantuan profesional memberikan ilustrasi terhadap integrasi dan hubungan antar data sebelum dilakukan interpretasi. 
  7. Observasi seharusnya dilakukan dalam kondisi yang menyenangkan. Dalam melakukan observasi sangat diharapkan observer berada pada posisi yang cukup jelas untuk melihat apa yang ingin dilaporkan. Idealnya, observer mampu melakukan observasi dalam waktu yang cukup tanpa halangan dan gangguan, serta kondisi yang menyenangkan untuk melakukan observasi. Observer seharusnya juga siap terhadap kemungkinan lain yang mungkin terjadi ketika seseorang diamati memodifikasi perilakunya karena dia sadar bahwa dirinya sedang diamati. (Pemahaman Individu oleh Drs. Anwar Sutoyo, M.Pd, 2012 : 124 -126) 

H. KELEMAHAN DAN KELEBIHAN OBSERVASI
1. Kelemahan
Gibson & Mitchell (1995 : 263), Mc. Millan & Schumacher (2001 : 276) menunjukan beberapa kelemahan observasi sebagai berikut :
  • a. Kemampuan manusia untuk menyimpan secara akurat terhadap kesan yang diperoleh dari hasil pengamatan sangat terbatas, baik dalam hal jumlah maupun lamanya kesan (informasi) itu bisa disimpan. Akibatnya ada sesuatu yang mungkin hilang atau tidak lengkap. Gibson & Mitchell (1995 : 23) mencatat bahwa tidak banyak orang yang mampu menyimpan kesan yang amat luas dan detail. Oleh sebab itu, para observer perlu alat bantu observasi. Seorang peneliti yang melakukan observasi terhadap sejumlah siswa dalam satu kelas tentu akan mengalami kesulitan jika harus menyimpan informasi berapa anak yang ada dalam kelas itu, berapa jumlah anak laki – laki dan berapa pula jumlah perempuan, siapa duduk dekat siapa, dan bajunya berwarna apa. Apalagi jika informasi itu harus disimpan dalam waktu lama. 
  • b. Cara pandang individu terhadap obyek yang sama juga belum tentu sama, sebab setiap oran memiliki frame yang unik yang mungkin berbeda dengan yang lain. Akibatnya, kesan yang diperoleh juga tidak sama dan penilaiannya pun tidak sama. Gibson & Mitchell (1995 : 263) menunjukan bahwa hasil pengamatan sangat dipengaruhi oleh daya adaptasi, kebiasaan, keinginan, prasangka, dan proyeksi. 
  • c. Kesan seseorang terhadap suatu obyek juga tidak selalu sama. Akibatnya penafsiran dan penilaian yang diberikan terhadap obyek yang sama menjadi tidak sama. Seseorang yang memegang teguh norma sosial , ketika melihat seorang remaja rambutnya disemir dengan warna – warni plus mengenakan anting, mungkin kita akan punya kesan remaja itu nakal. Tetapi bagi observer lain yang mudah menerima nilai – nilai baru akan mempunyai kesan berbeda, mungkin tampilan remaja tersebut dipandang sesuai perkembangan zaman, bahkan ia menilai positif. 
  • d. Ada kecenderungan pada manusia dalam menilai sesuatu menjadi terlalu tinggi atau terlalu rendah mendasrkan pada sifat yang menonjol. Seorang observer dalam memberikan penilaian terhadap seorang siswa kadang masih terpengaruh ia “anak siapa”, atau memberi penilaian dengan pertimbangan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan aspek yang sedang dinilai. Tidak jarang orang memberikan penilaian terhadap seseorang yang dengan melihat tampilannya, padahal tampilan kadang tidak menggambarkan realitas yang sesungguhnya. (Pemahaman Individu oleh Drs. Anwar Sutoyo, M.Pd, 2012 : 91 – 93) 

2. Kelebihan
  • a. Dapat meneliti beberapa gejala 
  • b. Teknik observasi tidak menuntun objek berada dalam objek-objek tertentu 
  • c. Memungkinkan pencatatan secara bersamaan dalam suatu peristiwa 
  • d. Tidak bergantung pada self report 
  • e. Banyak kejadian penting yang tidak dapat diperoleh bila tidak menggunakan metode observasi 

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Kemampuan untuk melakukan observasi secara benar dan baik sangat diperlukan bagi konselor, guru, peneliti sosial dan pihak – pihak yang bergerak dalam pelayanan kemanusiaan. Dengan kemampuan melakukan observasi secara baik, mereka dimungkinkan untuk memahami individu yang hendak dibimbing, dididik dan dilayaninya sebaik – sebaiknya, dan pada akhirnya diharapkan bisa memberikan pelayanan secara tepat.

Observasi adalah proses pengamatan yang disertai dengan pemusatan perhatian terhadap suatu obyek dan gejala – gejala yang perlu diamati. Observasi harus dilakukan secara sistematis dan bertujuan. 

Tujuan observasi bagi seorang psikolog pada dasarnya, yaitu 
  1. Untuk keperluan asessment awal dilakukan di luar ruang konseling, misalnya : ruang tunggu, halaman, kelas, ruang bermain 
  2. Sebagai dasar atau titik awal dari kemajuan klien. Dari beberapa kali pertemuan psikolog akan mengetahui kemajuan yang dicapi klien
  3. Bagi anak – anak, untuk mengetahui perkembangan anak – anak pada tahap tertentu 
  4. Digunakan dalam memberi laporan pada orang tua, guru, dokter dan lain – lain 
  5. Sebagai informasi status anak atau remaja di sekolah untuk keperluan bimbingan dan konseling. Hasil observasi yang dibuat dapat dikomfirmasikan dengan hasil penelitian. 

Manfaat observasi, yaitu : 
  1. Deskripsi memberikan gambaran dunia nyata
  2. Memungkinkan pembaca memiliki penafsiran sendiri terhadap temuan dan bagaimana akan diinterpretasikan
  3. Dapat menjelaskan proses peristiwa berlangsung dan dapat menguji kuwalitas, memperkirakan mengapa sesuuatu terjadi dalam seting nyatanya
  4. Dapat mencatat gejala yang kadang tidak jelas berlangsungnya
  5. Mencatat situasi yang tidak dapat direplikasikan dalam eksperimen
  6. Kronologi peristiwa dapat dicatat dengan berurutan
  7. Peralatan dan teknologi dapat merekam secara permanen
  8. Observasi dapat dikombinaskan dengn metode lain. 

Ada beberap bentuk observasi yaitu:
  • Dilihat dari keterlibatan observer terhadap kegiatan yang sedang dilakukan observee, observasi bisa dikelompokkan menjadi observasi partisipan, observasi nonpartisipan, dan observasi kuasi partisipan 
  • Dilihat dari kondisi lingkungannya diciptakan atau apa adanya, bisa dikelompokkan menjadi observasi naturalistik dan observasi eksperimen 
  • Dilihat dari tingkat kesempurnaan dan latihan yang diperlukan, bisa dikelompokkan menjadi tingkat pertama, observasi informasi kausal, tingkat kedua, observasi terstruktur, dan tingkat ketiga, observasi klinis 
  • Dilihat dari tujuan lapangan, observasi dibedakan menjadi finding observation, direct observational 
  • Khususnya observasi sistematis dibedakan menjadi observasi naturalistik, survey dan eksperimentasi.
Ada beberapa kelemahan observasi, yaitu:
  • Berkaitan dengan keterbatasan kemampuan manusia dalam menyimpan hasil pengamatan 
  • Cara pandang individu terhadap obyek yang sama, belum tentu sama antara individu satu dengan lainnya 
  • Kesan individu terhadap obyek yang sama juga belum tentu sama, akibatnya penafsiran juga tidak sama 
  • Kesan individu terhadap obyek sama juga belum tentu sama dengan individu lainnya 
  • Ada kecenderungan pada manusia dalam menilai sesuatu hanya berdasarkan ciri – ciri yang menonjol. 

Ada beberapa kelebihan observasi, yaitu 
  • Dapat meneliti beberapa gejala 
  • Teknik observasi tidak menuntun objek berada dalam objek-objek tertentu 
  • Memungkinkan pencatatan secara bersamaan dalam suatu peristiwa, tidak bergantung pada self report 
  • Banyak kejadian penting yang tidak dapat diperoleh bila tidak menggunakan metode observasi. 

DAFTAR PUSTAKA
Walgito, Bimo. 2010. Bimbingan dan Konseling (Studi dan Karier). Yogyakarta : Penerbit Andi.

Willis, Sofyan. 2012. Psikologi Pendidikan. Bandung : Penerbit Alfabeta