MAKALAH ORGANISME DI PERAIRAN MENGGENANG - ElrinAlria
MAKALAH ORGANISME DI PERAIRAN MENGGENANG
HIDROBIOLOGI
“ORGANISME DI PERAIRAN MENGGENANG”
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perairan permukaan diklasifikasikan menjadi dua kelompok utama yaitu badan air tergenang (standing water atau lentik) dan badan air mengalir (flowing water atau lotik). Perairan tergenang meliputi danau, kolam, waduk, rawa, dan sebagainya. Danau atau situ memiliki karakteristik: arus yang stagnan atau tenang, organisme yang hidup di dalamnya tidak membutukan adaptasi khusus, ada stratifikasi suhu, substrat umumnya berupa lumpur halus, dan residence time-nya lama. Untuk mengenal komponen penyusun ekosistem perairan menggenang baik unsur biotik maupun abiotiknya serta mengetahui interaksi yang terjadi di dalamnya.

Danau atau situ merupakan satu dari tipe perairan darat dengan ciri utama tergenangdalam waktu tinggal yang lama, sehingga memungkinkan biota untuk hidup lebih lama dan berkembang. Perbedaan proses pembentukan dan ciri fisiknya, memungkinkan perairan inimemiliki parameter kimia yang beragam. Zonase perairan tergenang terbagimenjadi dua, yaitu zona benthos dan zona kolom air. Berdasarkan tingkat kesuburannya, perairan tergenang dapat dibedakan menjadi oligotrofik (miskin hara), meso. trofik (haranya sedang), eutrofik (kaya unsur hara).

Danau merupakan kumpulan air yang seolah-olah berda dalam suatu baskom dan tidak mempunyai hubungan dengan laut atau merupakan suatu badan air yang menggenang dan luasnya mulai dari beberapa meter persegi hingga ratusan meter persegi. Di danau terdapat pembagian daerah berdasarkan penetrasi cahaya matahari. Daerah yang dapat ditembus cahaya matahari sehingga terjadi fotosintesis disebut daerah fotik. Daerah yang tidak tertembus cahaya matahari disebut daerah afotik. Di danau juga terdapat daerah perubahan temperatur yang drastis atau termoklin. Termoklin memisahkan daerah yang hangat di atas dengan daerah dingin di dasar. Komunitas tumbuhan dan hewan tersebar di danau sesuai dengan kedalaman dan jaraknya dari tepi. Setiap perairan memiliki karakteristik yang berbeda, baik secara fisik maupun kimiawi. Pada ekosistem perairan tergenang tidak terdapat arus atau bahkan cenderung stagnan. Residene time yang lama merupakan salah satu faktor pembeda antara perairan tergenag dan perairan mengalir.

1.2 Rumusan Masalah
Pada rumusan masalah penulisan difokuskan pada permasalahan yang adalah diantaranya adalah sebagai berikut :
  1. Bagaimana karakteristik perairan menggenang (Lentik) ?
  2. Apa saja organism yang hidup diperairan menggeang (Lentik) ?
  3. Apa faktor pembatas organism diperairan menggenang (Lentik) ?

1.3 Tujuan Penulisan
Sesuai rumusan masalah di atas maka tujuan utama dalam makala ini adalah untuk: 
  1. Mengetahui karakteristik perairan menggenang (Lentik)
  2. organism yang hidup diperairan menggeang (Lentik)
  3. Pembatas organism diperairan menggenang (Lentik)

1.4 Manfaat penelitian
Dengan ditemukannya gambaran mengenai permasalahan dan tujuan dalam karya tulis ilmiah ini maka manfaat yang diharapkan yaitu sebagai berikut;

1. Manfaat Ilmiah
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi salah satu referensi dan data empiris bagi khasanah ilmu pengetahuan. Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi salah satu sumber rujukan teoritis untuk penulisan-penulisan dengan tema yang relevan. 

2. Manfaat Teoritis
Penulisan karya tulis ini dapat digunakan sebagai sumber informasi dan bahan referensi bagi penulis ataupun khalayak umum lainnya yang ingin mengkaji lebih mendalam mengenai jalur Biogeokimia yang terjadi pada setiap organisme. 

3. Manfaat Praktis
Manfaat praktis dalam penulisan karya tulis ilmiah ini adlah sebagai berikut :

a. Manfaat bagi penulis
  1. Dapat mempelajari, memahami, dan mengkaji suatu permasalahan yang telah dihadapi.
  2. Salah satu tugas wajib dalam mata kuliah Hidrobiologi

b. Manfaat bagi pembaca
Dapat dijadikan sebagai reverensi untuk penulisan dengan tema yang relevan.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Karakteristik Perairan Menggenang (Lentik)
Perairan menggenang (lentik) adalah suatu bentuk ekosistem perairan yang di dalamnya aliran atau arus air tidak memegang peranan penting. Hal ini karena aliran air tidak begitu besar atau tidak mempengaruhi kehidupan organisme yang ada di dalamnya. Pada perairan ini faktor yang amat penting diperhatikan adalah pembagian wilayah air secara vertikal yang memiliki perbedaan sifat untuk tiap lapisannya. Contoh dan jenis perairan ini adalah danau, rawa, situ, kolam dan perairan menggenang lainnya. 

Berdasarkan ada tidaknya penetrasi cahaya matahari dan tumbuhan air, perairan menggenang di bagi dalam tiga lapisan utama yaitu :

1. Littoral 
Merupakan daerah pinggiran perairan yang masih bersentuhan dengan daratan. Pada daerah ini terjadi percampuran sempurna antara berbagai faktor fisiko kimiawi perairan. Organisme yang biasanya ditemukan antara lain: tumbuhan akuatik berakar atau mengapung, siput, kerang, crustacean, serangga, amfibi, ikan, perifiton dan lain-lain.

2. Limnetik
Merupakan daerah kolam air yang terbentang antara zona litoral di satu sisi dan zona litoral disisi lain. Zona ini memiliki berbagai variasi secara fisik, kimiawi maupun kehidupan di dalamnya. Organisme yang hidup dan banyak ditemukan di daerah ini antara lain: ikan, udang, dan plankton

3. Profundal
Merupakan daerah dasar perairan yang lebih dalam dan menerima sedikit cahaya matahari dibanding daerah litoral dan limnetik. Bagian ini dihuni oleh sedikit organisme terutama dari organisme bentik karnivor dan detrifor

Berdasarkan perbedaan temperatur perairannya, perairan menggenang dibagi menjadi 3 kelompok yaitu
1. Epilimnion
Epilimnion merupakan lapisan bagian atas dari perairan danau, lapisan ini merupakan bagian yang hangat dari kolom air dengan keadaan suhu yang relative konstan. Kedalaman daerah ini sampai 10 kaki, suhu 75o C. Seluruh massa air pada lapisan ini dapat bercampur dengan baik akibat dari pengaruh angin dan gelombang. 

2. Metalimnion
Metalimnion, berada di sebelah bawah lapisan epilimnion. Kedalaman lapisan ini 10-15 kaki dengan rentang suhu 50-75o C. Pada lapisan ini perubahan suhu secara vertikal relatif lebih besar. 

3. Hipolimnion
Hipolimnion adalah lapisan paling dalam, lapisan ini mempunyai suhu yang berkisar 50o C dengan kedalaman 15 kaki sampai substrat dasar. Lapisan ini juga memiliki kekentalan air (densitas) lebih besar.


2.2 Organisme Perairan Menggenang (Lentik)
Kelompok organisme yang ada di perairan menggenang berdasarkan cara hidupnya meliputi :

1. Benthos
Bentos adalah organisme air yang hidup pada substrat dasar perairan (Barus 2004). Bentos merupakan organisme yang melekat atau beristirahat pada dasar endapan. Bentos dapat dibagi berdasarkan makananya menjadi pemakan penyaring seperti (kerang) dan pemakan deposit seperti ( siput ) (E. P. Odum, 1998). Hewan bentos hidup relatif menetap, sehingga baik digunakan sebagai petunjuk kualitas lingkungan, karena selalu kontak dengan limbah yang masuk ke habitatnya. Kelompok hewan tersebut dapat lebih mencerminkan adanya perubahan faktor-faktor lingkungan dari waktu ke waktu. karena hewan bentos terus menerus terdedah oleh air yang kualitasnya berubah-ubah. Diantara hewan bentos yang relatif mudah diidentifikasi dan peka terhadap perubahan lingkungan perairan adalah jenis-jenis yang termasuk dalam kelompok invertebrata makro, kelompok ini lebih dikenal dengan makrozoobentos (Hutapea, 2007). Makrozoobentos mempunyai peranan yang sangat penting dalam siklus nutrien di dasar perairan. Dalam ekosistem perairan, makrozoobentos berperan sebagai salah satu mata rantai penghubung dalam aliran energi dan siklus dari alga planktonik sampai konsumen tingkat tinggi. Bentos meliputi segala macam avertebrata air yang hidup di permukaan dasar perairan atau di dalam sedimen dasar perairan. Dasar perairan dapat berupa lumpur, batu, kerikil, baik di laut, sungai, maupun danau (Hutepa, 2007).

2. Plankton
Menurut Odun (1998), dalam dunia perikanan yang disebut plankton ialah jasad-jasad renik yang melayang dalam air, tidak bergerak atau bergerak sedikit dan selalu mengikuti arus. Odum (1998) menyatakan bahwa plankton adalah organisme yang mengapung di perairan dan pergerakannya kurang lebih tergantung arus, secara keseluruhan plankton tidak dapat bergerak melawa arus. Plankton terdiri dari Fitoplankton dan Zooplankton. Fitoplankton hanya terdiri dari alga yang mikroskopis. Semua Fitoplankton selamanya hidup dalam air sebagai plankton dan diberi nama Holoplankton. Lain halnya dengan zooplankton, zooplankton terdiri dari Holoplankton dan Meroplankton atau termoairplankton. Holoplankton ialah organisme yang selamanya hidup sebagi plankton, seperti Rotatoria Cladocera, Copepoda, dsb, sedangkan Meroplankton ialah larva-larva dari segala macam udang atau larva dari hewan-hewan air lainnya yang nanti jika sudah besar menjadi dewasa. (kepiting, lobster, udang-udang besar, dsb) tidak lagi hudup sebagai plankton.

3. Perifiton
Perifiton merupakan tumbuhan atau hewan yang melekat/bergantung pada tumbuhan atau benda lain, misalnya keong. Dan bentos adalah hewan dan tumbuhan yang hidup pada endapan. Bentos dapat sessil (melekat) atau bergerak bebas, misalnya cacing dan remis. Perifiton merupakan hewan yang ukurannya sangat kecil (mikroskopis), oleh karena itu perifiton tidak dapat dilihat oleh mata tanpa bantuan mikroskop. Perifiton adalah tumbuhan atau hewan yang tumbuh dan menempel pada objek yang tenggelam (E. P. Odum, 1998). Dalam perairan mengalir perifiton melekat pada substrat yang kokoh yang ada di sungai seperti batu, batang kayu, atau masa daun.

4. Nekton
Nekton adalah organisme yang bisa berenang dan bisa melawan arus air (Setiadi et al 1989). Ekosistem air tawar dihuni oleh nekton. Nekton merupakan hewan yang bergerak aktif dengan menggunakan otot yang kuat. Hewan tingkat tinggi yang hidup di ekosistem air tawar, misalnya ikan, dalam mengatasi perbedaan tekanan osmosis melakukan osmoregulasi untuk memelihara keseimbangan air dalam tubuhnya melalui sistem ekskresi, insang dan pencernaan. Nekton merupakan organisme yang dapat bergerak dan nerenang dengan kemauan sendiri (dengan demikian dapat menghindari jaring plankton) contohnya seperti ikan, amfibi, serangga air besar dll (E. P. Odum, 1998). 

5. Neuston
Neuston adalah organisme yang istirahat atau berenang pada permukaan air (Setiadi et al 1989). Neuston merupakan organisme yang mengapung atau berenang di permukaan air atau bertempat pada permukaan air, misalnya serangga air. Organisme yang tinggal atau beristirahat di atas permukaan air, yang pergerakannya tidak di pengaruhi oleh pergerakan arus (E. P. Odum, 1998).

2.3 Faktor Pembatas Organisme Perairan Menggenang (Lentik)
Faktor-faktor pembatas pada ekosistem lentik terbagi atas faktor pembatas biotik dan abiotik. Faktor pembatas biotik adalah sebagai berikut :

1. Jumlah karnivora
Faktor biotik karnivora pada ekosistem lentik meliputi ikan-ikan besar yang makanan utamanya adalah ikan-ikan kecil. Apabila jumlah karnivora leih banyak dibandingkan dengan jumlah ikan-ikan kecil maka akan menyebabkan populasi ikan-ikan kecil semakin sedikit dan membuat ekosistem tidak stabil.

2. Jumlah produsen
Produsen di ekosistem perairan lentik sebagian besar berasal dari fitoplankton, ganggang dan algae. Tumbuhan air lain seperti teratai dan eceng gondok juga dapat memnjadi produsen pada ekosistem ini. Apabila jumlah produsen sedikit, maka proses rantai makanan akan terganggu. 

3. Jumlah herbivora
Pada ekosistem lentik yang berperan sebagai herbivora adalah ikan-ikan pemakan lumut, ganggang dan zooplankton. Keberadaan herbivora tersebut mempengaruhi jumlah dari karnivora, dengan adanya herbivora maka karnivora dapat terus hidup dengan memangsa karnivora. Jika jumlah herbivora lebih sedikit dari jumlah karnivora, akibatnya akan terjadi penurunan jumlah karnivora, karena ketidaktersediaan makanan yang cukup pada ekosistem tersebut. 

4. Jumlah parasit
Keberadaan parasit dapat mempengaruhi produktivitas dan jumlah organisme di ekosistem lentik. Parasit yang menyerang organisme akan menyebabkan tingkat kesehatan dan usianya menurun, sehingga jumlahnya pun dapat menurun.

Faktor-faktor pembatas abiotik pada ekosistem lentik adalah sebagai berikut :
1. Suhu
Organisme akuatik memiliki kisaran suhu tertentu yang disukai bagi pertumbuhannya. Peningkatan sushu perairan mengakibatkan peningkatan vikositas, reaksi kimia dan evaporasi. Selain itu peningkatan suhu juga mengakibatkan peningkatan kecepatan metabolisme dan respirasi organisme air, sehingga mengakibatkan peningkatan konsumsi oksigen. 

2. Kedalaman
Kedalaman berkolerasi dengan banyak faktor fisik dan kimiawi perairan seperti suhu, daya tembus cahaya matahari, tekanan hidrostatik dan lain-lain. 

3. Arus
Pada ekosistem lentik yang relatif dalam akan memungkinkan terjadinya arus vertical, yaitu pergerakan air dari dasar ke permukaan atau sebaliknya. Hal tersebut karena adanya stratifikasi suhu pada perairan tersebut. Kenaikan suhu perairan akan menyebabkan menurunnya kerapatan molekul air, sehingga air akan bergerak dari massa yang memiliki kerapatan molekul lebih tinggi ke yang lebih rendah. Arus vertikal ini berperan sangat penting terhadap distribusi gas terlarut, mineral, kekeruhan dan plankton. 

4. Intensitas cahaya
Intesitas cahaya matahari ke dalam perairan akan mempengaruhi produktivitas primer.bagi organisme perairan, intesitas cahaya yang masuk berfungsi sebagai alat orientasi yang akan mendukung kehidupan organisme pada habitatnya. 

5. Kekeruhan 
Kekeruhan air disebabkan oleh partikel-partikel suspense, seperti tanah liat, garam, bahan organik terurai, plankton dan organisme lainnya. Pengaruh ekologis kekeruhan adalah menurunnya daya penetrasi cahaya matahari kedalam perairan yang selanjutnya menurunkan produktivitas primer akibat penurunan fotosintesis fitoplankton.

6. pH
Air normal yang memenuhi syarat untuk suatu kehidupan mempunyai pH berkisar antara 6,5- 7,5. Air limbah dan bahan buangan dari kegiatan industri yang dibuang ke air akan mengubah pH air yang pada akhirnya dapat mengganggu kehidupan organisme di dalam air tersebut.

7. DO (Dissolve Oxygen)
DO/ oksigen terlarut merupakan jumlah oksigen yang terikat oleh molekul air. Berkurangnya DO dalam suatu perairan adalah karena terjadinya respirasi organisme perairan. DO sangat penting bagi pernapasan zoobenthos dan organisme-organisme akuatik lainnya.

8. BOD (Biochemycal Oxygen Demand)
BOD menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan oleh organisme untuk menguraikan bahan-bahan organik di dalam air. Rendahnya nilai BOD menunjukkan sedikitnya jumlah bahan organik yang dioksidasikan dan semakin bersihnya perairan dari pencemaran limbah organik. 

9. COD (Chemicl Oxygen Demand)
Nilai COD menunjukkan jumlah oksigen total yang dibutuhkan di dalam perairan untuk mengoksidasi senyawa kimia yang masuk ke dalam perairan seperti minyak, logam berat maupun bahan kimia lainnya. Besarnya nilai COD menunjukkan banyaknya senyawa kimia yang ada di dalam perairan dan sebaliknya rendahnya nilai COD menunjukkan rendahnya senyawa kimia yang ada di dalam perairan.  

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian pada pembahasan dapat disimpulkan bahwa :
  1. Perairan menggenang (lentik) adalah suatu bentuk ekosistem perairan yang di dalamnya aliran atau arus air tidak memegang peranan penting. 
  2. Bedasarkan cara hidupnya organisme di perairan menggenang (lentik) terdiri atas benthos, plankton, perifiton, nekton dan neuston. 
  3. Faktor-faktor pembatas pada ekosistem lentik terbagi atas faktor pembatas biotik dan abiotik. Faktor pembatas biotik adalah jumlah karnivora, jumlah produsen, jumlah herbivora dan jumlah parasit. Sedangkan faktor pembatas abiotik pada ekosistem lentik adalah suhu, kedalaman, arus, intensitas cahaya, kekeruhan, pH, DO (Dissolve Oxygen), BOD (Biochemycal Oxygen Demand) dan COD (Chemicl Oxygen Demand). 

B. Saran
Saran yang dapat disampaikan melalui makalah ini adalah penyusun menyadari bahwa di dalam makalah ini masih banyak kekurangan, baik dari segi penulisan maupun isi, oleh karena itu sebaiknya pembaca memberi kritikan dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan pembuatan makalah selanjutnya. 

DAFTAR PUSTAKA
Barus, TA. 2004. Pengantar Limnologi Studi Tentang Ekosistem Air Daratan. Medan: USU Press.

Hutapea, D. 2007. Struktur Komunitas makrozoobenthos dan parameter fisika dan kimia untuk menduga kualitas perairan di Sungai Cihideung, Kabupaten Bogor,Jawa Barat. [skripsi]. Bogor: Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Odum, E.P. 1998. Fundamental of Ecology. Third Edition. W.B. Saunders Company. Philadephia.

Setiadi et al. 1989. Penuntun Praktikum Ekologi. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat: Institut Pertanian Bogor. 

Wijaya, HK. 2009. Komunitas Perifiton dan Fitoplanton Serta Parameter Fisika-Kimia Perairan Sebagai Penentu Kualitas Air di Bagian Hulu Sungai Cisadane Jawa Barat. Skripsi. Departemen Manajemen Sumberaya Perairan: Institut Pertanian Bogor.

MAKALAH ORGANISME DI PERAIRAN MENGGENANG

MAKALAH ORGANISME DI PERAIRAN MENGGENANG
HIDROBIOLOGI
“ORGANISME DI PERAIRAN MENGGENANG”
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perairan permukaan diklasifikasikan menjadi dua kelompok utama yaitu badan air tergenang (standing water atau lentik) dan badan air mengalir (flowing water atau lotik). Perairan tergenang meliputi danau, kolam, waduk, rawa, dan sebagainya. Danau atau situ memiliki karakteristik: arus yang stagnan atau tenang, organisme yang hidup di dalamnya tidak membutukan adaptasi khusus, ada stratifikasi suhu, substrat umumnya berupa lumpur halus, dan residence time-nya lama. Untuk mengenal komponen penyusun ekosistem perairan menggenang baik unsur biotik maupun abiotiknya serta mengetahui interaksi yang terjadi di dalamnya.

Danau atau situ merupakan satu dari tipe perairan darat dengan ciri utama tergenangdalam waktu tinggal yang lama, sehingga memungkinkan biota untuk hidup lebih lama dan berkembang. Perbedaan proses pembentukan dan ciri fisiknya, memungkinkan perairan inimemiliki parameter kimia yang beragam. Zonase perairan tergenang terbagimenjadi dua, yaitu zona benthos dan zona kolom air. Berdasarkan tingkat kesuburannya, perairan tergenang dapat dibedakan menjadi oligotrofik (miskin hara), meso. trofik (haranya sedang), eutrofik (kaya unsur hara).

Danau merupakan kumpulan air yang seolah-olah berda dalam suatu baskom dan tidak mempunyai hubungan dengan laut atau merupakan suatu badan air yang menggenang dan luasnya mulai dari beberapa meter persegi hingga ratusan meter persegi. Di danau terdapat pembagian daerah berdasarkan penetrasi cahaya matahari. Daerah yang dapat ditembus cahaya matahari sehingga terjadi fotosintesis disebut daerah fotik. Daerah yang tidak tertembus cahaya matahari disebut daerah afotik. Di danau juga terdapat daerah perubahan temperatur yang drastis atau termoklin. Termoklin memisahkan daerah yang hangat di atas dengan daerah dingin di dasar. Komunitas tumbuhan dan hewan tersebar di danau sesuai dengan kedalaman dan jaraknya dari tepi. Setiap perairan memiliki karakteristik yang berbeda, baik secara fisik maupun kimiawi. Pada ekosistem perairan tergenang tidak terdapat arus atau bahkan cenderung stagnan. Residene time yang lama merupakan salah satu faktor pembeda antara perairan tergenag dan perairan mengalir.

1.2 Rumusan Masalah
Pada rumusan masalah penulisan difokuskan pada permasalahan yang adalah diantaranya adalah sebagai berikut :
  1. Bagaimana karakteristik perairan menggenang (Lentik) ?
  2. Apa saja organism yang hidup diperairan menggeang (Lentik) ?
  3. Apa faktor pembatas organism diperairan menggenang (Lentik) ?

1.3 Tujuan Penulisan
Sesuai rumusan masalah di atas maka tujuan utama dalam makala ini adalah untuk: 
  1. Mengetahui karakteristik perairan menggenang (Lentik)
  2. organism yang hidup diperairan menggeang (Lentik)
  3. Pembatas organism diperairan menggenang (Lentik)

1.4 Manfaat penelitian
Dengan ditemukannya gambaran mengenai permasalahan dan tujuan dalam karya tulis ilmiah ini maka manfaat yang diharapkan yaitu sebagai berikut;

1. Manfaat Ilmiah
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi salah satu referensi dan data empiris bagi khasanah ilmu pengetahuan. Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi salah satu sumber rujukan teoritis untuk penulisan-penulisan dengan tema yang relevan. 

2. Manfaat Teoritis
Penulisan karya tulis ini dapat digunakan sebagai sumber informasi dan bahan referensi bagi penulis ataupun khalayak umum lainnya yang ingin mengkaji lebih mendalam mengenai jalur Biogeokimia yang terjadi pada setiap organisme. 

3. Manfaat Praktis
Manfaat praktis dalam penulisan karya tulis ilmiah ini adlah sebagai berikut :

a. Manfaat bagi penulis
  1. Dapat mempelajari, memahami, dan mengkaji suatu permasalahan yang telah dihadapi.
  2. Salah satu tugas wajib dalam mata kuliah Hidrobiologi

b. Manfaat bagi pembaca
Dapat dijadikan sebagai reverensi untuk penulisan dengan tema yang relevan.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Karakteristik Perairan Menggenang (Lentik)
Perairan menggenang (lentik) adalah suatu bentuk ekosistem perairan yang di dalamnya aliran atau arus air tidak memegang peranan penting. Hal ini karena aliran air tidak begitu besar atau tidak mempengaruhi kehidupan organisme yang ada di dalamnya. Pada perairan ini faktor yang amat penting diperhatikan adalah pembagian wilayah air secara vertikal yang memiliki perbedaan sifat untuk tiap lapisannya. Contoh dan jenis perairan ini adalah danau, rawa, situ, kolam dan perairan menggenang lainnya. 

Berdasarkan ada tidaknya penetrasi cahaya matahari dan tumbuhan air, perairan menggenang di bagi dalam tiga lapisan utama yaitu :

1. Littoral 
Merupakan daerah pinggiran perairan yang masih bersentuhan dengan daratan. Pada daerah ini terjadi percampuran sempurna antara berbagai faktor fisiko kimiawi perairan. Organisme yang biasanya ditemukan antara lain: tumbuhan akuatik berakar atau mengapung, siput, kerang, crustacean, serangga, amfibi, ikan, perifiton dan lain-lain.

2. Limnetik
Merupakan daerah kolam air yang terbentang antara zona litoral di satu sisi dan zona litoral disisi lain. Zona ini memiliki berbagai variasi secara fisik, kimiawi maupun kehidupan di dalamnya. Organisme yang hidup dan banyak ditemukan di daerah ini antara lain: ikan, udang, dan plankton

3. Profundal
Merupakan daerah dasar perairan yang lebih dalam dan menerima sedikit cahaya matahari dibanding daerah litoral dan limnetik. Bagian ini dihuni oleh sedikit organisme terutama dari organisme bentik karnivor dan detrifor

Berdasarkan perbedaan temperatur perairannya, perairan menggenang dibagi menjadi 3 kelompok yaitu
1. Epilimnion
Epilimnion merupakan lapisan bagian atas dari perairan danau, lapisan ini merupakan bagian yang hangat dari kolom air dengan keadaan suhu yang relative konstan. Kedalaman daerah ini sampai 10 kaki, suhu 75o C. Seluruh massa air pada lapisan ini dapat bercampur dengan baik akibat dari pengaruh angin dan gelombang. 

2. Metalimnion
Metalimnion, berada di sebelah bawah lapisan epilimnion. Kedalaman lapisan ini 10-15 kaki dengan rentang suhu 50-75o C. Pada lapisan ini perubahan suhu secara vertikal relatif lebih besar. 

3. Hipolimnion
Hipolimnion adalah lapisan paling dalam, lapisan ini mempunyai suhu yang berkisar 50o C dengan kedalaman 15 kaki sampai substrat dasar. Lapisan ini juga memiliki kekentalan air (densitas) lebih besar.


2.2 Organisme Perairan Menggenang (Lentik)
Kelompok organisme yang ada di perairan menggenang berdasarkan cara hidupnya meliputi :

1. Benthos
Bentos adalah organisme air yang hidup pada substrat dasar perairan (Barus 2004). Bentos merupakan organisme yang melekat atau beristirahat pada dasar endapan. Bentos dapat dibagi berdasarkan makananya menjadi pemakan penyaring seperti (kerang) dan pemakan deposit seperti ( siput ) (E. P. Odum, 1998). Hewan bentos hidup relatif menetap, sehingga baik digunakan sebagai petunjuk kualitas lingkungan, karena selalu kontak dengan limbah yang masuk ke habitatnya. Kelompok hewan tersebut dapat lebih mencerminkan adanya perubahan faktor-faktor lingkungan dari waktu ke waktu. karena hewan bentos terus menerus terdedah oleh air yang kualitasnya berubah-ubah. Diantara hewan bentos yang relatif mudah diidentifikasi dan peka terhadap perubahan lingkungan perairan adalah jenis-jenis yang termasuk dalam kelompok invertebrata makro, kelompok ini lebih dikenal dengan makrozoobentos (Hutapea, 2007). Makrozoobentos mempunyai peranan yang sangat penting dalam siklus nutrien di dasar perairan. Dalam ekosistem perairan, makrozoobentos berperan sebagai salah satu mata rantai penghubung dalam aliran energi dan siklus dari alga planktonik sampai konsumen tingkat tinggi. Bentos meliputi segala macam avertebrata air yang hidup di permukaan dasar perairan atau di dalam sedimen dasar perairan. Dasar perairan dapat berupa lumpur, batu, kerikil, baik di laut, sungai, maupun danau (Hutepa, 2007).

2. Plankton
Menurut Odun (1998), dalam dunia perikanan yang disebut plankton ialah jasad-jasad renik yang melayang dalam air, tidak bergerak atau bergerak sedikit dan selalu mengikuti arus. Odum (1998) menyatakan bahwa plankton adalah organisme yang mengapung di perairan dan pergerakannya kurang lebih tergantung arus, secara keseluruhan plankton tidak dapat bergerak melawa arus. Plankton terdiri dari Fitoplankton dan Zooplankton. Fitoplankton hanya terdiri dari alga yang mikroskopis. Semua Fitoplankton selamanya hidup dalam air sebagai plankton dan diberi nama Holoplankton. Lain halnya dengan zooplankton, zooplankton terdiri dari Holoplankton dan Meroplankton atau termoairplankton. Holoplankton ialah organisme yang selamanya hidup sebagi plankton, seperti Rotatoria Cladocera, Copepoda, dsb, sedangkan Meroplankton ialah larva-larva dari segala macam udang atau larva dari hewan-hewan air lainnya yang nanti jika sudah besar menjadi dewasa. (kepiting, lobster, udang-udang besar, dsb) tidak lagi hudup sebagai plankton.

3. Perifiton
Perifiton merupakan tumbuhan atau hewan yang melekat/bergantung pada tumbuhan atau benda lain, misalnya keong. Dan bentos adalah hewan dan tumbuhan yang hidup pada endapan. Bentos dapat sessil (melekat) atau bergerak bebas, misalnya cacing dan remis. Perifiton merupakan hewan yang ukurannya sangat kecil (mikroskopis), oleh karena itu perifiton tidak dapat dilihat oleh mata tanpa bantuan mikroskop. Perifiton adalah tumbuhan atau hewan yang tumbuh dan menempel pada objek yang tenggelam (E. P. Odum, 1998). Dalam perairan mengalir perifiton melekat pada substrat yang kokoh yang ada di sungai seperti batu, batang kayu, atau masa daun.

4. Nekton
Nekton adalah organisme yang bisa berenang dan bisa melawan arus air (Setiadi et al 1989). Ekosistem air tawar dihuni oleh nekton. Nekton merupakan hewan yang bergerak aktif dengan menggunakan otot yang kuat. Hewan tingkat tinggi yang hidup di ekosistem air tawar, misalnya ikan, dalam mengatasi perbedaan tekanan osmosis melakukan osmoregulasi untuk memelihara keseimbangan air dalam tubuhnya melalui sistem ekskresi, insang dan pencernaan. Nekton merupakan organisme yang dapat bergerak dan nerenang dengan kemauan sendiri (dengan demikian dapat menghindari jaring plankton) contohnya seperti ikan, amfibi, serangga air besar dll (E. P. Odum, 1998). 

5. Neuston
Neuston adalah organisme yang istirahat atau berenang pada permukaan air (Setiadi et al 1989). Neuston merupakan organisme yang mengapung atau berenang di permukaan air atau bertempat pada permukaan air, misalnya serangga air. Organisme yang tinggal atau beristirahat di atas permukaan air, yang pergerakannya tidak di pengaruhi oleh pergerakan arus (E. P. Odum, 1998).

2.3 Faktor Pembatas Organisme Perairan Menggenang (Lentik)
Faktor-faktor pembatas pada ekosistem lentik terbagi atas faktor pembatas biotik dan abiotik. Faktor pembatas biotik adalah sebagai berikut :

1. Jumlah karnivora
Faktor biotik karnivora pada ekosistem lentik meliputi ikan-ikan besar yang makanan utamanya adalah ikan-ikan kecil. Apabila jumlah karnivora leih banyak dibandingkan dengan jumlah ikan-ikan kecil maka akan menyebabkan populasi ikan-ikan kecil semakin sedikit dan membuat ekosistem tidak stabil.

2. Jumlah produsen
Produsen di ekosistem perairan lentik sebagian besar berasal dari fitoplankton, ganggang dan algae. Tumbuhan air lain seperti teratai dan eceng gondok juga dapat memnjadi produsen pada ekosistem ini. Apabila jumlah produsen sedikit, maka proses rantai makanan akan terganggu. 

3. Jumlah herbivora
Pada ekosistem lentik yang berperan sebagai herbivora adalah ikan-ikan pemakan lumut, ganggang dan zooplankton. Keberadaan herbivora tersebut mempengaruhi jumlah dari karnivora, dengan adanya herbivora maka karnivora dapat terus hidup dengan memangsa karnivora. Jika jumlah herbivora lebih sedikit dari jumlah karnivora, akibatnya akan terjadi penurunan jumlah karnivora, karena ketidaktersediaan makanan yang cukup pada ekosistem tersebut. 

4. Jumlah parasit
Keberadaan parasit dapat mempengaruhi produktivitas dan jumlah organisme di ekosistem lentik. Parasit yang menyerang organisme akan menyebabkan tingkat kesehatan dan usianya menurun, sehingga jumlahnya pun dapat menurun.

Faktor-faktor pembatas abiotik pada ekosistem lentik adalah sebagai berikut :
1. Suhu
Organisme akuatik memiliki kisaran suhu tertentu yang disukai bagi pertumbuhannya. Peningkatan sushu perairan mengakibatkan peningkatan vikositas, reaksi kimia dan evaporasi. Selain itu peningkatan suhu juga mengakibatkan peningkatan kecepatan metabolisme dan respirasi organisme air, sehingga mengakibatkan peningkatan konsumsi oksigen. 

2. Kedalaman
Kedalaman berkolerasi dengan banyak faktor fisik dan kimiawi perairan seperti suhu, daya tembus cahaya matahari, tekanan hidrostatik dan lain-lain. 

3. Arus
Pada ekosistem lentik yang relatif dalam akan memungkinkan terjadinya arus vertical, yaitu pergerakan air dari dasar ke permukaan atau sebaliknya. Hal tersebut karena adanya stratifikasi suhu pada perairan tersebut. Kenaikan suhu perairan akan menyebabkan menurunnya kerapatan molekul air, sehingga air akan bergerak dari massa yang memiliki kerapatan molekul lebih tinggi ke yang lebih rendah. Arus vertikal ini berperan sangat penting terhadap distribusi gas terlarut, mineral, kekeruhan dan plankton. 

4. Intensitas cahaya
Intesitas cahaya matahari ke dalam perairan akan mempengaruhi produktivitas primer.bagi organisme perairan, intesitas cahaya yang masuk berfungsi sebagai alat orientasi yang akan mendukung kehidupan organisme pada habitatnya. 

5. Kekeruhan 
Kekeruhan air disebabkan oleh partikel-partikel suspense, seperti tanah liat, garam, bahan organik terurai, plankton dan organisme lainnya. Pengaruh ekologis kekeruhan adalah menurunnya daya penetrasi cahaya matahari kedalam perairan yang selanjutnya menurunkan produktivitas primer akibat penurunan fotosintesis fitoplankton.

6. pH
Air normal yang memenuhi syarat untuk suatu kehidupan mempunyai pH berkisar antara 6,5- 7,5. Air limbah dan bahan buangan dari kegiatan industri yang dibuang ke air akan mengubah pH air yang pada akhirnya dapat mengganggu kehidupan organisme di dalam air tersebut.

7. DO (Dissolve Oxygen)
DO/ oksigen terlarut merupakan jumlah oksigen yang terikat oleh molekul air. Berkurangnya DO dalam suatu perairan adalah karena terjadinya respirasi organisme perairan. DO sangat penting bagi pernapasan zoobenthos dan organisme-organisme akuatik lainnya.

8. BOD (Biochemycal Oxygen Demand)
BOD menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan oleh organisme untuk menguraikan bahan-bahan organik di dalam air. Rendahnya nilai BOD menunjukkan sedikitnya jumlah bahan organik yang dioksidasikan dan semakin bersihnya perairan dari pencemaran limbah organik. 

9. COD (Chemicl Oxygen Demand)
Nilai COD menunjukkan jumlah oksigen total yang dibutuhkan di dalam perairan untuk mengoksidasi senyawa kimia yang masuk ke dalam perairan seperti minyak, logam berat maupun bahan kimia lainnya. Besarnya nilai COD menunjukkan banyaknya senyawa kimia yang ada di dalam perairan dan sebaliknya rendahnya nilai COD menunjukkan rendahnya senyawa kimia yang ada di dalam perairan.  

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian pada pembahasan dapat disimpulkan bahwa :
  1. Perairan menggenang (lentik) adalah suatu bentuk ekosistem perairan yang di dalamnya aliran atau arus air tidak memegang peranan penting. 
  2. Bedasarkan cara hidupnya organisme di perairan menggenang (lentik) terdiri atas benthos, plankton, perifiton, nekton dan neuston. 
  3. Faktor-faktor pembatas pada ekosistem lentik terbagi atas faktor pembatas biotik dan abiotik. Faktor pembatas biotik adalah jumlah karnivora, jumlah produsen, jumlah herbivora dan jumlah parasit. Sedangkan faktor pembatas abiotik pada ekosistem lentik adalah suhu, kedalaman, arus, intensitas cahaya, kekeruhan, pH, DO (Dissolve Oxygen), BOD (Biochemycal Oxygen Demand) dan COD (Chemicl Oxygen Demand). 

B. Saran
Saran yang dapat disampaikan melalui makalah ini adalah penyusun menyadari bahwa di dalam makalah ini masih banyak kekurangan, baik dari segi penulisan maupun isi, oleh karena itu sebaiknya pembaca memberi kritikan dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan pembuatan makalah selanjutnya. 

DAFTAR PUSTAKA
Barus, TA. 2004. Pengantar Limnologi Studi Tentang Ekosistem Air Daratan. Medan: USU Press.

Hutapea, D. 2007. Struktur Komunitas makrozoobenthos dan parameter fisika dan kimia untuk menduga kualitas perairan di Sungai Cihideung, Kabupaten Bogor,Jawa Barat. [skripsi]. Bogor: Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Odum, E.P. 1998. Fundamental of Ecology. Third Edition. W.B. Saunders Company. Philadephia.

Setiadi et al. 1989. Penuntun Praktikum Ekologi. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat: Institut Pertanian Bogor. 

Wijaya, HK. 2009. Komunitas Perifiton dan Fitoplanton Serta Parameter Fisika-Kimia Perairan Sebagai Penentu Kualitas Air di Bagian Hulu Sungai Cisadane Jawa Barat. Skripsi. Departemen Manajemen Sumberaya Perairan: Institut Pertanian Bogor.