MAKALAH PENGARUH TEKNOLOGI FORMULASI TERHADAP BIOAVAILABILITAS OBAT - ElrinAlria
MAKALAH PENGARUH TEKNOLOGI FORMULASI TERHADAP BIOAVAILABILITAS OBAT

MAKALAH PENGARUH TEKNOLOGI FORMULASI TERHADAP BIOAVAILABILITAS OBAT
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Konsep bioavailabilitas pertama kali diperkenalkan oleh Osser pada tahun 1945, yaitu pada waktu Osser mempelajari absorpsi relatif sediaan vitamin. Istilah yang dipakai pertama kali adalah availabilitas fisiologik, yang kemudian diperluas pengertiannya dengan istilah bioavailabilitas. Dengan mengetahui jumlah relatif obat yang diabsorpsi dan kecepatan obat berada dalam sirkulasi sistemik, dapat diperkirakan tercapai tidaknya efek terapi yang dikehendaki menurut formulasinya. Dengan demikian, bioavailabilitas dapat digunakan untuk mengetahui faktor formulasi yang dapat mempengaruhi efektivitas obat.

Beberapa obat dibuat dan dipasarkan oleh lebih dari satu pabrik farmasi. Dari studi biofarmasetik memberi fakta yang kuat bahwa metode fabrikasi dan formulasi dengan nyata mempengaruhi bioavaibilitas obat tersebut. Karena kebanyakan produk-produk obat mengandung jumlah bahan aktif yang sama, maka dokter, farmasis dan orang lain yang menulis resep, menyalurkan atau membeli obat harus memilih produk yang memberikan efek terapeutik yang ekivalen. Karena pentingnya pegetahuan tentang bioavaibilitas dan bioekivalensi dalam ilmu farmasetika maka dalam makalah ini akan dibahas materi mengenai hal tersebut.

B. Rumusan Masalah
  1. Apa pengaruh biovailabilitas obat terhadap panambahan surfaktan?
  2. Apa pengaruh biovailabilitas obat terhadap panambahan peningkat viskositas?
  3. Apa pengaruh biovailabilitas obat terhadap pembentukan garam?
  4. Apa pengaruh biovailabilitas obat terhadap pembentukan komplesk
  5. Apa pengaruh biovailabilitas obat terhadap bentuk sediaan?
  6. Apa pengaruh biovailabilitas obat terhadap penambahan bahan pengisi pada tablet?
  7. Apa pengaruh biovailabilitas obat terhadap proses kempa sediaan tablet?
  8. Apa pengaruh biovailabilitas obat terhadap penggunaan bahan pelincir pada tablet?
  9. Apa pengaruh biovailabilitas obat terhadap pemilihan basis salep?

C. Tujuan
  1. Untuk mengetahui pengaruh biovailabilitas obat terhadap panambahan surfaktan?
  2. Untuk mengetahui pengaruh biovailabilitas obat terhadap panambahan peningkat viskositas
  3. Untuk mengetahui pengaruh biovailabilitas obat terhadap pembentukan garam
  4. Untuk mengetahui pengaruh biovailabilitas obat terhadap pembentukan komplesk
  5. Untuk mengetahui pengaruh biovailabilitas obat terhadap bentuk sediaan?
  6. Untuk mengetahui pengaruh biovailabilitas obat terhadap penambahan bahan pengisi pada tablet?
  7. Untuk mengetahui pengaruh biovailabilitas obat terhadap proses kempa sediaan tablet?
  8. Untuk mengetahui pengaruh biovailabilitas obat terhadap penggunaan bahan pelincir pada tablet?
  9. Untuk mengetahui pengaruh biovailabilitas obat terhadap pemilihan basis salep?

BAB II
PEMBAHASAN
Bioavailabilitas merupakan kecepatan dan jumlah obat yang mencapai sistem sirkulasi sistemik dan secara keseluruhan menunjukkan kinetik dan perbandingan zat aktif yang mencapai peredaran darah terhadap jumlah obat yang dberikan. Ketersediaan hayati merupakan bagian dari salah satu tujuan rancangan bentuk sediaan dan yang terpenting untuk keefektifan obat tersebut.

Bioavailabilitas suatu sediaan obat merupakan ukuran kecepatan absorpsi obat dan jumlah obat tersebut yang diabsorpsi secara utuh oleh tubuh, dan masuk ke dalam sirkulasi sistemik. Uji bioavailabilitas dapat digunakan untuk menentukan bahwa produk obatnya dengan formulasi dan proses produksi yang spesifik akan memberikan efek klinik yang sebanding dengan produk obat sejenis yang diproduksi industri obat lain (produk originator atau produk inovator), yang pada uji kliniknya memberikan hasil yang baik.

Berikut adalah vaktor yang mempengaruhi teknologi formulasi terhadap bioavailabilitas obat:
1. Penambahan Surfaktan
Molekul surfaktan mengandung gugus polar dan gugus non-polar sehingga cenderung menyerap pada antarmuka, di antara fasa polar dan non-polar yang dapat meningkatkan afinitas pada kedua fasa tersebut.Kelompok hidrofilik terletak di fasa air dan kelompok hidrofobik dalam minyak atau udara. Selain itu, surfaktan akan meningkatkan kelarutan zat yang hidrofobik dengan proses agregasi dikenal sebagai micellization.

Faktor penting pada proses bioremediasi cemaran minyak adalah penambahan surfaktan untuk meningkatkan bioavailabilitas pencemar terhadap mikroba pendegradasi. Biosurfaktan yang dihasilkan oleh mikroba diharapkan dapat menggantikan peran surfaktan sintetis, yang diharapkan lebih ramah lingkungan.

Surfaktan merupakan bahan aktif permukaan. Surfaktan ini memiliki gugus hidrofilik dan gugus hidrofobik sehingga dapat mempersatukan campuran yang terdiri dari air dan minyak. Aktifitas surfaktan diperoleh karena sifat ganda dari molekulnya. Molekul surfaktan memiliki bagian polar yang suka akan air (hidrofilik) dan bagian non polar yang suka akan minyak/lemak (hidrofobik). Bagian polar molekul surfaktan dapat bermuatan positif, negatif atau netral. Sifat rangkap ini yang menyebabkan surfaktan dapat diadsorbsi pada antar muka udara-air, minyak-air dan zat padat-air, membentuk lapisan tunggal dimana gugus hidrofilik berada pada fase air dan rantai hidrokarbon ke udara, dalam kontak dengan zat padat ataupun terendam dalam fase minyak. Umumnya bagian non polar (hidrofobik) adalah merupakan rantai alkil yang panjang ”ekor”, sementara bagian yang polar (hidrofilik) mengandung gugus hidroksil dan nampak sebagai “kepala” surfaktan. Representasi surfaktan ditunjukan paga Gambar 1 di bawah ini.
MAKALAH PENGARUH TEKNOLOGI FORMULASI TERHADAP BIOAVAILABILITAS OBAT

Gugus hidrofilik pada surfaktan bersifat polar dan mudah bersenyawa dengan air, sedangkan gugus hidrofobik bersifat non polar dan mudah bersenyawa dengan minyak. Pada suatu molekul surfaktan, salah satu gugus harus lebih dominan jumlahnya. Molekul-molekul surfaktan akan diadsorpsi lebih kuat oleh air dibandingkan dengan minyak apabila gugus polarnya yang lebih dominan. Hal ini menyebabkan tegangan permukaan air menjadi lebih rendah sehingga mudah menyebar dan menjadi fase kontinyu. Sebaliknya, apabila gugus non polarnya lebih dominan, maka molekul-molekul surfaktan tersebut akan diadsorpsi lebih kuat oleh minyak dibandingkan dengan air. Akibatnya tegangan permukaan minyak menjadi lebih rendah sehingga mudah menyebar dan menjadi fase kontinyu.

Penambahan surfaktan dalam larutan akan menyebabkan turunnya tegangan permukaan larutan. Setelah mencapai konsentrasi tertentu, tegangan permukaan akan konstan walaupun konsentrasi surfaktan ditingkatkan. Bila surfaktan ditambahkan melebihi konsentrasi ini maka surfaktan mengagregasi membentuk misel. Konsentrasi terbentuknya misel ini disebut critical micelle concentration (cmc). Tegangan permukaan akan menurun hingga cmc tercapai. Setelah cmc tercapai, tegangan permukaan akan konstan yang menunjukkan bahwa antar muka menjadi jenuh danterbentuk misel yang berada dalam keseimbangan dinamis dengan monomernya.

2. Penambahan Peningkat viskositas
Kecepatan pengosongam lambung dinyatakan dengan beberapa hal yaitu waktu pengosongan lambung, kecepatan pengosongan lambung, dan t1/2 pengosongan lambung. Kecepatan pengosongan lambung dipengaruhi oleh:viskositas massa lambung, suhu masa, energi yang tersimpan dalam masa lambung, dan faktor psikis. Semakin viskus masa lambung, semakin besar energi yang terkandung dalam masa lamnbungh, semakin tinggi susu, semakin lambat kecepatan pengosongan lambung. Beberapa obat berpengaruh (metoklopramid). Kecepatan pengosongan lambung berpengaruh pada stabilitas obat, kecepatan obat sampai ke usus dengan A yang besar, dan disolusi obat (pH).

Transit intestinal dipengaruhi oleh makanan, viskositas masa, dan motilitas usus. Transit iontestinal menentukan lama obat berkontak dengan membran yang luas. Beberapa obat berpengaruh pada motilitas usus (parasimpatolitikum: beladon, papaverin, dll).

Suplai darah ke gastrointestinam dipengaruhi oleh makanan dan obat-obatan yang bekerja pada pembuluh darah. Suplai darah ke gastrointestinam pada proses transport aktif menentukan penyediaan energi dan oksigen. Pada proses difusi pasif menentukan gradien kadar terutama untuk obat yang permeabilitasnya tinggi.

Ketebalan dan viscositas dinding gastrointestinal berpengaruh pada beberapa hal. Sifat ini bersifat induvidual, dan pablrik tidal bisa memfodimikasi. Karena membran adalah kristal cair, maka komponen-komponennya bisa bergerak terutama fosfolipid, maka dia punya viskositas.

3. Pembentukan Garam
Obat yang terionisasi lebih mudah dalam air dari[pada bentuk tidak terionisasi. Pembentukan garam ini pembentukan garam dari suatu oabat asam lemah atau basa lemah. Untuk obat asam lemah dilakukan dengan mengganti H+ pada obat asam dengan kation lain (counter ion), semakin kecil conterion disolusi semakin baik. Menjadi pertanyan apakah dengan pembentukan garam tidak menyebabkan besarnya fraksi obat dalam bentuk ion. Maka jawabannya adalah fraksi obat dalam bentuk ion dan molekul bukan oleh obatnya asam atau garam, karena obat dimasukkan dalam dapar bukan air, maka yang berpengaruh adalah pH dapar dan pKa obatnya. Beberapa obat yang terbukti bentuk garamnya memberikan bioavailabilitas yang baik adalah na diklofenak, tetrasiklin HCl, Salbutamol sulfat, dan lain –lain. Pembentukan garam akan mempermudah obat mengalami disolusi, sehingga berguna untuk obat yang rate limiting stepnya pada fase dissolusi dengan meningkatkan harga Cs.

4. Pembentukan Kompleks
Faktor formulasi berikutnya adalah pembentukan kompleks obat dengan senyawa mudah larut. Kompleksasi dengan senyawa sukar larut akan menurunan kelarutan (bisa susteain release), misalnya dengan resin. Ikatan kompleks obat dengan senywa mudah larut diharapkan bersifat reversibel. Kelarutan akan meningkat dengan pembentukan kompleks ini. Misalnya furosemid, piroksikan, dexametason, dan lain –lain, bisa dibuat kompleks dengan PEG,PVP, Siklodekstri, cafein, dan kompleksan – kompleksan lainnya. Kompleksasi yang reversibel tidak mengurangi absorbsi karena ikatan ini nantinya akan pecah pada proses pelarutan kemudian obat bebasnya diabsorbsi sesuai skema berikut
MAKALAH PENGARUH TEKNOLOGI FORMULASI TERHADAP BIOAVAILABILITAS OBAT

Pengurangan obat bebas karena terabsorbsi akan menyebabkan lepasnya ikatan obat dengan kompleksan yang baru sedemikian sehingga harga konstanta kompleksasi kembali ke semula. Peningkatan absorbsi dipengaruhi oleh:
  • Kelarutan zat pengompleks
  • Kekuatan ikatan antara obat dan zat pengompleks (ditunjukkan dengan harga konstanta kesetimbangan

Faktor formulasi berikutnya adalah pembentukan dispersi padat dengan senyawa mudah larut. Pembentukan bisa dikerjakan dengan beberapa metode
  • melting methode
  • solven methode
  • combination

Pada pembentukan dispersi padat beberapa kemungkinan bisa terjadi
  • pembentukan kompleks, sehingg Cs meningkat
  • terbentuk larutan padat, sehingga S nya meningkat
  • terbentuk dispersi padat, sehingga S nya meningkat
  • terbentuk polimorf yang berbeda, sehingg Cs meningkat
  • terbentuk amorf, sehingg Cs meningkat
Contoh obat yang diperbaiki bioavailabilitasnya adalah griseovulvin dengan pembawa PEG atau PVP.

4. Bentuk Sediaan
Faktor formulasi yang pertama jelas bentuk sediaan, padat, cair, larutan, emulsi, suspensi, puyer, dan lainnya. Ini terkait dengan masalah disolusi. Bentuk sedian cair lebih cepat terdisolusi, larutan tidak perlu proses disolusi. Puyer tidak perlu proses disintegrasi dan deagregasi sehingga dissolusinya lebih cepat dari pada tablet.

Pengisi menggunaan lubrikan hidrofobik menurtunkan kecepatan dissolusi, asam stearat pada jumlah lebih dari 5%, dissolusi turun secara signifikan. Penghancur pengaruhnya kecil jika zat bersifat sangat hidrofobik. Karena penentu kecepatan disolusi sediaan tersebut adalah larutnya obat bukan pecahnya tablet.

Dari faktor formulasi tampak bahwa modifikasi formulasi sangat berguna untuk obat yang rate limiting step-nya pada fase disolusi, yaitu obat yang kelarutannya kecil. Oleh karena itu penggantian obat yang kelarutannya kecil dengan merk yang lain (atau generik) bisa beresiko pada onset yang ditimbulkan. Obat-obat tersebut misalnya glibenclamid, asam mefenamat, furosemid, dan lainnya.

5. Penggunaan Bahan Pengisi pada Tablet
Faktor formulasi berikutnya adalah modifikasi eksipien misalnya pengisi, penghancur, lubrikan, pengikat, SR agent, dan lain – lain. Penggunaan lubrikan hidrofobik menurtunkan kecepatan dissolusi, asam stearat pada jumlah lebih dari 5%, dissolusi turun secara signifikan.

Penghancur pengaruhnya kecil jika zat bersifat sangat hidrofobik. Karena penentu kecepatan disolusi sediaan tersebut adalah larutnya obat bukan pecahnya tablet.

Dari faktor formulasi tampak bahwa modifikasi formulasi sangat berguna untuk obat yang rate limiting step-nya pada fase disolusi, yaitu obat yang kelarutannya kecil. Oleh karena itu penggantian obat yang kelarutannya kecil dengan merk yang lain (atau generik) bisa beresiko pada onset yang ditimbulkan. Obat-obat tersebut misalnya glibenclamid, asam mefenamat, furosemid, dan lainnya.

6. Proses Kempa Sediaan Tablet
Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Berdasarkan metode pembuatan dapat digolongkan sebagai tablet cetak dan tablet kempa.Tablet merupakan bentuk sediaan farmasi yang paling banyak tantangannya didalam mendesain dan membuatnya. Misalnya kesukaran untuk memperoleh bioavailabilitas penuh dan dapat dipercaya dari obat yang sukar dibasahi dan melarutkannya lambat, begitu juga kesukaran untuk mendapatkan kekompakan kahesi yang baik dari zat amorf atau gumpalan. Namun demikian, walaupun obat tersebut baik kempanya, melarutnya, dan tidak mempunyai masalah bioavailabilitas, mendesain dan memproduksi obat itu masih penuh tantangan, sebab masih banyak tujuan bersaing dari bentuk sediaan ini.

7. Penggunaan Bahan Pelincir pada Tablet
Peningkatan jumlah pelincir (lubricant) pada formula tablet akan mengurangi sifat hidrofilik tablet sehingga sulit terbasahi (wetted). Hal ini memperpanjang waktu disintegrasi dan disolusi.

Lubricant (pelincir) mempunyai sejumlah fungsi dalam pabrikasi tablet, yaitu mencegah adhesi dari bahan-bahan tablet pada permukaan punch dan dies, mengurangi pemecahan antar partikel, memfasilitasi ejeksi dari tablet dari cekungan die dan memperbaiki daya alir dari granulasi tablet. Lubrikan yang sering digunakan adalah talk, Mg-stearat, Ca-stearat, asam stearat, minyak sayur terhidrogenasi dan polietilenglikol.

Jenis-jenis lubrikan:
  • Lubrikan sejati : Mengurangi gesekan antara granul dan dinding die selama proses pengempaan dan penyemburan.
  • Antiadheren : Mencegah melekatnya bahan pada punch dan untuk mengurangi tingkat lekatnya pada dinding die.
  • Glidants : Meningkatkan daya alir dari granulasi.

8. Pemilihan Basis pada Salep
Basis salep merupakan salah satu komponen dan faktor yang sangat pentingdalam sediaan salep. Basis salep merupakan komponen yang terbesar dalam sediaan salep, yang sangat menentukan baik/buruknya sediaan salep tersebut. Salah satu hal penting yang harus diperhatikan dalam memformulasikan sediaan salep adalah seleksi basis salep yang cocok.

Basis berfungsi sebagai pembawa, pelindung, dan pelunak kulit, harus dapat melepaskan obat secara optimum (tidak boleh merusak atau menghambat aksi terapi), dan sedapat mungkin cocok untuk penyakit tertentu dan kondisi kulit tertentu. Basis salep yang baik harus memiliki sifat-sifat sebagai berikut (idealnya):
  1. Tidak iritasi
  2. Mudah dibersihkan
  3. Tidak meninggalkan bekas
  4. Stabil
  5. Tidak tergantung pH
  6. Dapat bercampur dengan banyak obat
  7. Secara terapi netral
  8. Memiliki daya sebar yang baik/mudah dioles1an
  9. Miskin mikrobakteri (< 102 /g), dan tidak ada Enterobakteri, Pseudomonas aeroginosa, dan S. aureus.

Basis salep mempakan faktor yang sangat menentukan kecepatanpelepasan/aksi dan obat, yang nantinya akan mempengaruhi khasiat atau keberhasilan terapi, sehingga salep harus diformulasikan dengan basis yang baik. Tidak semua basis cocok/dapat digunakan untuk semua obat/zat aktif, semua jenis kulit, dan pada semua tempat aplikasi serta pada semua penyakit, sehingga dibutuhkan pengkajian yang mendalam tentang sifat-sifat kimia fisika basis dan bahan obat serta penyakit/tujuan terapi.

BAB III
KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa :
  1. Bioavailabilitas adalah suatu istilah yang menyatakan jumlah atau proporsi obat yang diabsorpsi dan kecepatan absorpsi obat tersebut. Biasanya diukur dari perkembangan kadar obat (senyawa aktif) atau metabolit aktifnya dalam darah atau dari ekskresinya dalam urin terhadap waktu. Sedangkan bioekivalensi merupakan dua atau lebih obat yang apabila diberikan dalam dosis, rute pemberian, dan bentuk sediaan yang sama serta diteliti dengan kondisi eksperimental yang sama akan memberikan bioavailabilitas yang sama.
  2. Pengaruh teknologi farmasi sangat mempengaruhi terhadap biovailabilitas obat baik pada penambahan surfaktan, peningkat visokitas, bentuk kompleks, bentuk sediaan, pahan pengisi pada tablet maupun pada basis pada salep.

MAKALAH PENGARUH TEKNOLOGI FORMULASI TERHADAP BIOAVAILABILITAS OBAT

MAKALAH PENGARUH TEKNOLOGI FORMULASI TERHADAP BIOAVAILABILITAS OBAT

MAKALAH PENGARUH TEKNOLOGI FORMULASI TERHADAP BIOAVAILABILITAS OBAT
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Konsep bioavailabilitas pertama kali diperkenalkan oleh Osser pada tahun 1945, yaitu pada waktu Osser mempelajari absorpsi relatif sediaan vitamin. Istilah yang dipakai pertama kali adalah availabilitas fisiologik, yang kemudian diperluas pengertiannya dengan istilah bioavailabilitas. Dengan mengetahui jumlah relatif obat yang diabsorpsi dan kecepatan obat berada dalam sirkulasi sistemik, dapat diperkirakan tercapai tidaknya efek terapi yang dikehendaki menurut formulasinya. Dengan demikian, bioavailabilitas dapat digunakan untuk mengetahui faktor formulasi yang dapat mempengaruhi efektivitas obat.

Beberapa obat dibuat dan dipasarkan oleh lebih dari satu pabrik farmasi. Dari studi biofarmasetik memberi fakta yang kuat bahwa metode fabrikasi dan formulasi dengan nyata mempengaruhi bioavaibilitas obat tersebut. Karena kebanyakan produk-produk obat mengandung jumlah bahan aktif yang sama, maka dokter, farmasis dan orang lain yang menulis resep, menyalurkan atau membeli obat harus memilih produk yang memberikan efek terapeutik yang ekivalen. Karena pentingnya pegetahuan tentang bioavaibilitas dan bioekivalensi dalam ilmu farmasetika maka dalam makalah ini akan dibahas materi mengenai hal tersebut.

B. Rumusan Masalah
  1. Apa pengaruh biovailabilitas obat terhadap panambahan surfaktan?
  2. Apa pengaruh biovailabilitas obat terhadap panambahan peningkat viskositas?
  3. Apa pengaruh biovailabilitas obat terhadap pembentukan garam?
  4. Apa pengaruh biovailabilitas obat terhadap pembentukan komplesk
  5. Apa pengaruh biovailabilitas obat terhadap bentuk sediaan?
  6. Apa pengaruh biovailabilitas obat terhadap penambahan bahan pengisi pada tablet?
  7. Apa pengaruh biovailabilitas obat terhadap proses kempa sediaan tablet?
  8. Apa pengaruh biovailabilitas obat terhadap penggunaan bahan pelincir pada tablet?
  9. Apa pengaruh biovailabilitas obat terhadap pemilihan basis salep?

C. Tujuan
  1. Untuk mengetahui pengaruh biovailabilitas obat terhadap panambahan surfaktan?
  2. Untuk mengetahui pengaruh biovailabilitas obat terhadap panambahan peningkat viskositas
  3. Untuk mengetahui pengaruh biovailabilitas obat terhadap pembentukan garam
  4. Untuk mengetahui pengaruh biovailabilitas obat terhadap pembentukan komplesk
  5. Untuk mengetahui pengaruh biovailabilitas obat terhadap bentuk sediaan?
  6. Untuk mengetahui pengaruh biovailabilitas obat terhadap penambahan bahan pengisi pada tablet?
  7. Untuk mengetahui pengaruh biovailabilitas obat terhadap proses kempa sediaan tablet?
  8. Untuk mengetahui pengaruh biovailabilitas obat terhadap penggunaan bahan pelincir pada tablet?
  9. Untuk mengetahui pengaruh biovailabilitas obat terhadap pemilihan basis salep?

BAB II
PEMBAHASAN
Bioavailabilitas merupakan kecepatan dan jumlah obat yang mencapai sistem sirkulasi sistemik dan secara keseluruhan menunjukkan kinetik dan perbandingan zat aktif yang mencapai peredaran darah terhadap jumlah obat yang dberikan. Ketersediaan hayati merupakan bagian dari salah satu tujuan rancangan bentuk sediaan dan yang terpenting untuk keefektifan obat tersebut.

Bioavailabilitas suatu sediaan obat merupakan ukuran kecepatan absorpsi obat dan jumlah obat tersebut yang diabsorpsi secara utuh oleh tubuh, dan masuk ke dalam sirkulasi sistemik. Uji bioavailabilitas dapat digunakan untuk menentukan bahwa produk obatnya dengan formulasi dan proses produksi yang spesifik akan memberikan efek klinik yang sebanding dengan produk obat sejenis yang diproduksi industri obat lain (produk originator atau produk inovator), yang pada uji kliniknya memberikan hasil yang baik.

Berikut adalah vaktor yang mempengaruhi teknologi formulasi terhadap bioavailabilitas obat:
1. Penambahan Surfaktan
Molekul surfaktan mengandung gugus polar dan gugus non-polar sehingga cenderung menyerap pada antarmuka, di antara fasa polar dan non-polar yang dapat meningkatkan afinitas pada kedua fasa tersebut.Kelompok hidrofilik terletak di fasa air dan kelompok hidrofobik dalam minyak atau udara. Selain itu, surfaktan akan meningkatkan kelarutan zat yang hidrofobik dengan proses agregasi dikenal sebagai micellization.

Faktor penting pada proses bioremediasi cemaran minyak adalah penambahan surfaktan untuk meningkatkan bioavailabilitas pencemar terhadap mikroba pendegradasi. Biosurfaktan yang dihasilkan oleh mikroba diharapkan dapat menggantikan peran surfaktan sintetis, yang diharapkan lebih ramah lingkungan.

Surfaktan merupakan bahan aktif permukaan. Surfaktan ini memiliki gugus hidrofilik dan gugus hidrofobik sehingga dapat mempersatukan campuran yang terdiri dari air dan minyak. Aktifitas surfaktan diperoleh karena sifat ganda dari molekulnya. Molekul surfaktan memiliki bagian polar yang suka akan air (hidrofilik) dan bagian non polar yang suka akan minyak/lemak (hidrofobik). Bagian polar molekul surfaktan dapat bermuatan positif, negatif atau netral. Sifat rangkap ini yang menyebabkan surfaktan dapat diadsorbsi pada antar muka udara-air, minyak-air dan zat padat-air, membentuk lapisan tunggal dimana gugus hidrofilik berada pada fase air dan rantai hidrokarbon ke udara, dalam kontak dengan zat padat ataupun terendam dalam fase minyak. Umumnya bagian non polar (hidrofobik) adalah merupakan rantai alkil yang panjang ”ekor”, sementara bagian yang polar (hidrofilik) mengandung gugus hidroksil dan nampak sebagai “kepala” surfaktan. Representasi surfaktan ditunjukan paga Gambar 1 di bawah ini.
MAKALAH PENGARUH TEKNOLOGI FORMULASI TERHADAP BIOAVAILABILITAS OBAT

Gugus hidrofilik pada surfaktan bersifat polar dan mudah bersenyawa dengan air, sedangkan gugus hidrofobik bersifat non polar dan mudah bersenyawa dengan minyak. Pada suatu molekul surfaktan, salah satu gugus harus lebih dominan jumlahnya. Molekul-molekul surfaktan akan diadsorpsi lebih kuat oleh air dibandingkan dengan minyak apabila gugus polarnya yang lebih dominan. Hal ini menyebabkan tegangan permukaan air menjadi lebih rendah sehingga mudah menyebar dan menjadi fase kontinyu. Sebaliknya, apabila gugus non polarnya lebih dominan, maka molekul-molekul surfaktan tersebut akan diadsorpsi lebih kuat oleh minyak dibandingkan dengan air. Akibatnya tegangan permukaan minyak menjadi lebih rendah sehingga mudah menyebar dan menjadi fase kontinyu.

Penambahan surfaktan dalam larutan akan menyebabkan turunnya tegangan permukaan larutan. Setelah mencapai konsentrasi tertentu, tegangan permukaan akan konstan walaupun konsentrasi surfaktan ditingkatkan. Bila surfaktan ditambahkan melebihi konsentrasi ini maka surfaktan mengagregasi membentuk misel. Konsentrasi terbentuknya misel ini disebut critical micelle concentration (cmc). Tegangan permukaan akan menurun hingga cmc tercapai. Setelah cmc tercapai, tegangan permukaan akan konstan yang menunjukkan bahwa antar muka menjadi jenuh danterbentuk misel yang berada dalam keseimbangan dinamis dengan monomernya.

2. Penambahan Peningkat viskositas
Kecepatan pengosongam lambung dinyatakan dengan beberapa hal yaitu waktu pengosongan lambung, kecepatan pengosongan lambung, dan t1/2 pengosongan lambung. Kecepatan pengosongan lambung dipengaruhi oleh:viskositas massa lambung, suhu masa, energi yang tersimpan dalam masa lambung, dan faktor psikis. Semakin viskus masa lambung, semakin besar energi yang terkandung dalam masa lamnbungh, semakin tinggi susu, semakin lambat kecepatan pengosongan lambung. Beberapa obat berpengaruh (metoklopramid). Kecepatan pengosongan lambung berpengaruh pada stabilitas obat, kecepatan obat sampai ke usus dengan A yang besar, dan disolusi obat (pH).

Transit intestinal dipengaruhi oleh makanan, viskositas masa, dan motilitas usus. Transit iontestinal menentukan lama obat berkontak dengan membran yang luas. Beberapa obat berpengaruh pada motilitas usus (parasimpatolitikum: beladon, papaverin, dll).

Suplai darah ke gastrointestinam dipengaruhi oleh makanan dan obat-obatan yang bekerja pada pembuluh darah. Suplai darah ke gastrointestinam pada proses transport aktif menentukan penyediaan energi dan oksigen. Pada proses difusi pasif menentukan gradien kadar terutama untuk obat yang permeabilitasnya tinggi.

Ketebalan dan viscositas dinding gastrointestinal berpengaruh pada beberapa hal. Sifat ini bersifat induvidual, dan pablrik tidal bisa memfodimikasi. Karena membran adalah kristal cair, maka komponen-komponennya bisa bergerak terutama fosfolipid, maka dia punya viskositas.

3. Pembentukan Garam
Obat yang terionisasi lebih mudah dalam air dari[pada bentuk tidak terionisasi. Pembentukan garam ini pembentukan garam dari suatu oabat asam lemah atau basa lemah. Untuk obat asam lemah dilakukan dengan mengganti H+ pada obat asam dengan kation lain (counter ion), semakin kecil conterion disolusi semakin baik. Menjadi pertanyan apakah dengan pembentukan garam tidak menyebabkan besarnya fraksi obat dalam bentuk ion. Maka jawabannya adalah fraksi obat dalam bentuk ion dan molekul bukan oleh obatnya asam atau garam, karena obat dimasukkan dalam dapar bukan air, maka yang berpengaruh adalah pH dapar dan pKa obatnya. Beberapa obat yang terbukti bentuk garamnya memberikan bioavailabilitas yang baik adalah na diklofenak, tetrasiklin HCl, Salbutamol sulfat, dan lain –lain. Pembentukan garam akan mempermudah obat mengalami disolusi, sehingga berguna untuk obat yang rate limiting stepnya pada fase dissolusi dengan meningkatkan harga Cs.

4. Pembentukan Kompleks
Faktor formulasi berikutnya adalah pembentukan kompleks obat dengan senyawa mudah larut. Kompleksasi dengan senyawa sukar larut akan menurunan kelarutan (bisa susteain release), misalnya dengan resin. Ikatan kompleks obat dengan senywa mudah larut diharapkan bersifat reversibel. Kelarutan akan meningkat dengan pembentukan kompleks ini. Misalnya furosemid, piroksikan, dexametason, dan lain –lain, bisa dibuat kompleks dengan PEG,PVP, Siklodekstri, cafein, dan kompleksan – kompleksan lainnya. Kompleksasi yang reversibel tidak mengurangi absorbsi karena ikatan ini nantinya akan pecah pada proses pelarutan kemudian obat bebasnya diabsorbsi sesuai skema berikut
MAKALAH PENGARUH TEKNOLOGI FORMULASI TERHADAP BIOAVAILABILITAS OBAT

Pengurangan obat bebas karena terabsorbsi akan menyebabkan lepasnya ikatan obat dengan kompleksan yang baru sedemikian sehingga harga konstanta kompleksasi kembali ke semula. Peningkatan absorbsi dipengaruhi oleh:
  • Kelarutan zat pengompleks
  • Kekuatan ikatan antara obat dan zat pengompleks (ditunjukkan dengan harga konstanta kesetimbangan

Faktor formulasi berikutnya adalah pembentukan dispersi padat dengan senyawa mudah larut. Pembentukan bisa dikerjakan dengan beberapa metode
  • melting methode
  • solven methode
  • combination

Pada pembentukan dispersi padat beberapa kemungkinan bisa terjadi
  • pembentukan kompleks, sehingg Cs meningkat
  • terbentuk larutan padat, sehingga S nya meningkat
  • terbentuk dispersi padat, sehingga S nya meningkat
  • terbentuk polimorf yang berbeda, sehingg Cs meningkat
  • terbentuk amorf, sehingg Cs meningkat
Contoh obat yang diperbaiki bioavailabilitasnya adalah griseovulvin dengan pembawa PEG atau PVP.

4. Bentuk Sediaan
Faktor formulasi yang pertama jelas bentuk sediaan, padat, cair, larutan, emulsi, suspensi, puyer, dan lainnya. Ini terkait dengan masalah disolusi. Bentuk sedian cair lebih cepat terdisolusi, larutan tidak perlu proses disolusi. Puyer tidak perlu proses disintegrasi dan deagregasi sehingga dissolusinya lebih cepat dari pada tablet.

Pengisi menggunaan lubrikan hidrofobik menurtunkan kecepatan dissolusi, asam stearat pada jumlah lebih dari 5%, dissolusi turun secara signifikan. Penghancur pengaruhnya kecil jika zat bersifat sangat hidrofobik. Karena penentu kecepatan disolusi sediaan tersebut adalah larutnya obat bukan pecahnya tablet.

Dari faktor formulasi tampak bahwa modifikasi formulasi sangat berguna untuk obat yang rate limiting step-nya pada fase disolusi, yaitu obat yang kelarutannya kecil. Oleh karena itu penggantian obat yang kelarutannya kecil dengan merk yang lain (atau generik) bisa beresiko pada onset yang ditimbulkan. Obat-obat tersebut misalnya glibenclamid, asam mefenamat, furosemid, dan lainnya.

5. Penggunaan Bahan Pengisi pada Tablet
Faktor formulasi berikutnya adalah modifikasi eksipien misalnya pengisi, penghancur, lubrikan, pengikat, SR agent, dan lain – lain. Penggunaan lubrikan hidrofobik menurtunkan kecepatan dissolusi, asam stearat pada jumlah lebih dari 5%, dissolusi turun secara signifikan.

Penghancur pengaruhnya kecil jika zat bersifat sangat hidrofobik. Karena penentu kecepatan disolusi sediaan tersebut adalah larutnya obat bukan pecahnya tablet.

Dari faktor formulasi tampak bahwa modifikasi formulasi sangat berguna untuk obat yang rate limiting step-nya pada fase disolusi, yaitu obat yang kelarutannya kecil. Oleh karena itu penggantian obat yang kelarutannya kecil dengan merk yang lain (atau generik) bisa beresiko pada onset yang ditimbulkan. Obat-obat tersebut misalnya glibenclamid, asam mefenamat, furosemid, dan lainnya.

6. Proses Kempa Sediaan Tablet
Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Berdasarkan metode pembuatan dapat digolongkan sebagai tablet cetak dan tablet kempa.Tablet merupakan bentuk sediaan farmasi yang paling banyak tantangannya didalam mendesain dan membuatnya. Misalnya kesukaran untuk memperoleh bioavailabilitas penuh dan dapat dipercaya dari obat yang sukar dibasahi dan melarutkannya lambat, begitu juga kesukaran untuk mendapatkan kekompakan kahesi yang baik dari zat amorf atau gumpalan. Namun demikian, walaupun obat tersebut baik kempanya, melarutnya, dan tidak mempunyai masalah bioavailabilitas, mendesain dan memproduksi obat itu masih penuh tantangan, sebab masih banyak tujuan bersaing dari bentuk sediaan ini.

7. Penggunaan Bahan Pelincir pada Tablet
Peningkatan jumlah pelincir (lubricant) pada formula tablet akan mengurangi sifat hidrofilik tablet sehingga sulit terbasahi (wetted). Hal ini memperpanjang waktu disintegrasi dan disolusi.

Lubricant (pelincir) mempunyai sejumlah fungsi dalam pabrikasi tablet, yaitu mencegah adhesi dari bahan-bahan tablet pada permukaan punch dan dies, mengurangi pemecahan antar partikel, memfasilitasi ejeksi dari tablet dari cekungan die dan memperbaiki daya alir dari granulasi tablet. Lubrikan yang sering digunakan adalah talk, Mg-stearat, Ca-stearat, asam stearat, minyak sayur terhidrogenasi dan polietilenglikol.

Jenis-jenis lubrikan:
  • Lubrikan sejati : Mengurangi gesekan antara granul dan dinding die selama proses pengempaan dan penyemburan.
  • Antiadheren : Mencegah melekatnya bahan pada punch dan untuk mengurangi tingkat lekatnya pada dinding die.
  • Glidants : Meningkatkan daya alir dari granulasi.

8. Pemilihan Basis pada Salep
Basis salep merupakan salah satu komponen dan faktor yang sangat pentingdalam sediaan salep. Basis salep merupakan komponen yang terbesar dalam sediaan salep, yang sangat menentukan baik/buruknya sediaan salep tersebut. Salah satu hal penting yang harus diperhatikan dalam memformulasikan sediaan salep adalah seleksi basis salep yang cocok.

Basis berfungsi sebagai pembawa, pelindung, dan pelunak kulit, harus dapat melepaskan obat secara optimum (tidak boleh merusak atau menghambat aksi terapi), dan sedapat mungkin cocok untuk penyakit tertentu dan kondisi kulit tertentu. Basis salep yang baik harus memiliki sifat-sifat sebagai berikut (idealnya):
  1. Tidak iritasi
  2. Mudah dibersihkan
  3. Tidak meninggalkan bekas
  4. Stabil
  5. Tidak tergantung pH
  6. Dapat bercampur dengan banyak obat
  7. Secara terapi netral
  8. Memiliki daya sebar yang baik/mudah dioles1an
  9. Miskin mikrobakteri (< 102 /g), dan tidak ada Enterobakteri, Pseudomonas aeroginosa, dan S. aureus.

Basis salep mempakan faktor yang sangat menentukan kecepatanpelepasan/aksi dan obat, yang nantinya akan mempengaruhi khasiat atau keberhasilan terapi, sehingga salep harus diformulasikan dengan basis yang baik. Tidak semua basis cocok/dapat digunakan untuk semua obat/zat aktif, semua jenis kulit, dan pada semua tempat aplikasi serta pada semua penyakit, sehingga dibutuhkan pengkajian yang mendalam tentang sifat-sifat kimia fisika basis dan bahan obat serta penyakit/tujuan terapi.

BAB III
KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa :
  1. Bioavailabilitas adalah suatu istilah yang menyatakan jumlah atau proporsi obat yang diabsorpsi dan kecepatan absorpsi obat tersebut. Biasanya diukur dari perkembangan kadar obat (senyawa aktif) atau metabolit aktifnya dalam darah atau dari ekskresinya dalam urin terhadap waktu. Sedangkan bioekivalensi merupakan dua atau lebih obat yang apabila diberikan dalam dosis, rute pemberian, dan bentuk sediaan yang sama serta diteliti dengan kondisi eksperimental yang sama akan memberikan bioavailabilitas yang sama.
  2. Pengaruh teknologi farmasi sangat mempengaruhi terhadap biovailabilitas obat baik pada penambahan surfaktan, peningkat visokitas, bentuk kompleks, bentuk sediaan, pahan pengisi pada tablet maupun pada basis pada salep.