MAKALAH PENYIAPAN TOTAL PARENTERAL NUTRISI - ElrinAlria
MAKALAH PENYIAPAN TOTAL PARENTERAL NUTRISI

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Nurtisi parenteral adalah pemberian nutrient dalam bentuk formula parenteral kedalam pembuluh balik (vena) yang bisa berupa vena perifer atau vena sentral. Dengan demikian, pemberian nutrisi parenterl memintas saluran cerna. Pemberian nutrisi parenteral total dilakukan untuk pertama kalinya oleh Rhoads dan Dudrick dalam pertengahan tahun 1960-an. Nutrisi parenteral diperlukan bagi pasien-pasien yang menghadapi resiko malnutrisi namun tidak mampu dan atau tidak boleh mendapatkan kecukupan nutrient jika diberikan lewat mulut atau saluran cerna. Nutrisi parenteral perlu dibedakan dengan pemberian cairan infuse yang hanya terdiri atas cairan, elektrolit dan karbohidrat untuk mempertahankan hidrasi, keseimbangan elektrolit serta memberikan sedikit kalori.

Biasanya pemberian nutrisi parenteral total (total parenteral nutrition) atau pemberian seluruh nutrient lewat infuse dilakukan jika pemberian nutrisi oral atau enteral merupakan kontraindikasi. Pemberian nutrisi total parenteral umumnya dilaksanakan lewat vena sentral karena pemberian nutiren dalam jumlah besar membawa konsekuensi peningkatan osmolalitas yang dapat mengakibatkan flebitis (radang vena) jika larutan nutrient tersebut diberikan lewat vena perifer. Bila hanya sebagian kebutuhan saja diberikan lewat pembuluh darah, pemberian nutrisi ini dinamakan nutrisi parenteral parsial. Nutrisi parenteral parsial dilakukan bila pemberian nutrisi oral atau enteral tidak mencukupi selama lebih dari 5 atau 7 hari. Nutrisi parenteral bisa pula disebut sebagai terapi nutrisi primer atau sebagai terapi nutrisi supplemental atau suportif.

Indikasi nutrisi parenteral sebagai terapi nutrisi primer, nutrisi parenteral diberikan pada keadaan yaitu pertama adalah ketidakmampuan untuk mencerna atau menyerap makanan secara memadai. Keadaan ini dapat terjadi pada kasus-kasus seperti muntah-muntah yang persisten, diare yang berat, sindrom malabsorpsi berat, beberapa keadaan trauma perut, ileus yang lama dan reseksi usus yang luas. Lalu indikasi yang kedua adalah usus harus diistirahatkan. Kontraindikasi nutrisi parenteral yaitu tidak boleh diberikan pada krisi hermodinamik seperti keadaan syok atau dehidrasi yang belum terkoreksi (kontraindikasi absolute).

1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut.
  1. Apa pengertian Total Parenteral Nutrisi?
  2. Apa Indikasi Nutrisi Parenteral?
  3. Bagaimana Faktor-faktor yang harus diperhatikan?
  4. Bagaimana Metode Pembuatan Total Parenteral Nutrisi?
  5. Apa Sajakah Jenis-jenis cairan nutrisi parenteral?
  6. Bagaimana Pengelolaan nutrisi Parenteral?
  7. Bagaimana Komplikasi dan Monitoring/Pemantauan penderita?

1.3 Tujuan
Tujuan dalam makalah ini adalah sebagai berikut.
  1. Untuk mengetahui pengertian Total Parenteral Nutrisi.
  2. Untuk mengetahui Indikasi Nutrisi Parenteral.
  3. Untuk mengetahui Faktor-faktor yang harus diperhatikan. 
  4. Untuk mengetahui Metode Pembuatan Total Parenteral Nutrisi.
  5. Untuk mengetahui Jenis-jenis cairan nutrisi parenteral.
  6. Untuk mengetahui Pengelolaan nutrisi Parenteral.
  7. Untuk menegtahui Komplikasi dan Monitoring atau Pemantauan penderita.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Total Parenteral Nutrisi
Nutrisi Parenteral adalah suatu bentuk pemberian nutrisi yang diberikan langsung melalui pembuluh darah tanpa melalui saluran pencernaan. Para peneliti sebelumnya menggunakan istilah hiperalimentasi sebagai pengganti pemberian makanan melalui intravena, dan akhirnya diganti dengan istilah yang lebih tepat yaitu Nutrisi Parenteral Total, namun demikian secara umum dipakai istilah Nutrisi Parenteral untuk menggambarkan suatu pemberian makanan melalui pembuluh darah.

Nutrisi parenteral total atau yang lebih dikenal dengan istilah TPN (total parenteral nutrition) digunakan untuk memberikan dukungan nutrisi dalam jangka waktu lama bagi pasien-pasien yang tidak mampu mengkonsumsi makanan per oral dan tidak dapat menjalani pemberian nutrisi enteral. Pemberian nutrisi parenteral hanya efektif untuk pengobatan gangguan nutrisi bukan untuk penyebab penyakitnya. Status nutrisi basal dan berat ringannya penyakit memegang peranan penting dalam menentukan kapan dimulainya pemberian nutrisi parenteral. Sebagai contoh pada orang-orang dengan malnutrisi yang nyata lebih membutuhkan penanganan dini dibandingkan dengan orang-orang yang menderita kelaparan tanpa komplikasi.

Pasien-pasien dengan kehilangan zat nutrisi yang jelas seperti pada luka dan fistula juga sangat rentan terhadap defisit zat nutrisi sehingga membutuhkan nutrisi parenteral lebih awal dibandingkan dengan pasien-pasien yang kebutuhan nutrisinya normal. Secara umum, pasien-pasien dewasa yang stabil harus mendapatkan dukungan nutrisi 7 sampai dengan 14 hari setelah tidak mendapatkan nutrisi yang adekuat sedangkan pada pasien-pasien kritis, pemberian dukungan nutrisi harus dilakukan dalam kurun waktu 5 sampai dengan 10 hari. 

Nutrisi Parenteral pada pasien anak-anak diberikan lebih awal dibandingkan dengan pasien-pasien dewasa, biasanya 1 hari setelah lahir pada neonatus dan bayi dengan berat badan lahir yang rendah, dan antara 5 sampai 7 hari bagi anak-anak yang lebih dewasa yang tidak dapat mencukupi kebutuhan nutrisinya hanya melalui oral maupun enteral. Pemberian nutrisi parenteral secara rutin tidak direkomendasikan pada kondisi-kondisi klinis seperti Pasien-pasien kanker yang sedang menjalankan terapi radiasi dan kemoterapi, Pasien-pasien preoperatif yang bukan malnutrisi berat, Pankreatitis akuta ringan, Kolitis akuta, AIDS, Penyakit paru yang mengalami eksaserbasi, Luka bakar, Penyakit-penyakit berat stadium akhir (End-Stage Illness).

2.2 Indikasi Nutrisi Parenteral
  1. Beberapa indikasi dilakukannya pemberian nutrisi parenteral.
  2. Malnutrisi berat dengan penurunan berat badan sebesar 10% atau lebih. 
  3. Kelainan saluran cerna: obstruksi, peritonitis, ganguan pencernaan dan absorpsi, fistula enterokutaneus, muntah-muntah dan diare yang kronis, ileus paralitik yang lama, enteritis radiasi, reseksi usus halus yang luas serta pancreatitis akut yang berat. 
  4. Kebutuhan suplementasi jika asupan oral tidak mencukupi pada pasien-pasien kanker yang menjalani terapi yang agresif (terapi radiasi maupun kemoterapi). 
  5. Sesudah pembedahan atau cedera, khususnya luka bakar yang luas, fraktur multiple atau sepsis. 
  6. Gagal jantung, hati, ginjal yang akut dengan perubahan kebutuhan akan asam amino. 
  7. Pasien penyakit AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) 
  8. Transplantasi sumsum tulang. 
  9. Gangguan motilitas usus seperti pada ileus yang berkepanjangan, pseudo-obstruksi dan skleroderma. 

2.3 Faktor-Faktor yang Harus Diperhatikan
-Dari sisi pasien 
Dari sisi pasien yang perlu diperhatikan adalah penyakit dasar pasien, status hidrasi dan hemodinamik, pasien dengan komplikasi penyakit tertentu, dan kekuatan jantung. Kesemua faktor ini merupakan hal yang harus diketahui dokter.

-Dari sisi cairan 
1. Kandungan elektrolit cairan 
  • a. Elektrolit yang umum dikandung dalam larutan infus adalah Na+, K+, Cl-, Ca2+, laktat atau asetat. Jadi, dalam pemberian infus yang diperhitungkan bukan hanya air melainkan juga kandungan elektrolit ini apakah kurang, cukup, pas atau terlalu banyak. 
  • b. Pengetahuan dokter dan paramedis tentang isi dan komposisi larutan infus sangatlah penting agar bisa memilih produk sesuai dengan indikasi masing-masing.

2. Osmolaritas cairan 
  • a. Osmolaritas adalah jumlah total mmol elektrolit dalam kandungan infus. Untuk pemberian infus kedalam vena tepi maksimal osmolaritas yang dianjurkan adalah kurang dari 900 mOsmol/L untuk mencegah risiko flebitis (peradangan vena).
  • b. Jika osmolaritas cairan melebihi 900 mOsmol/L maka infus harus diberikan melalui vena sentral.

3. Kandungan lain cairan
  • a. Seperti disebutkan sebelumnya, selain elektrolit beberapa produk infus juga mengandung zat-zat gizi yang mudah diserap ke dalam sel, antara lain: glukosa, maltosa, fruktosa, silitol, sorbitol, asam amino, trigliserida.
  • b. Pasien yang dirawat lebih lama juga membutuhkan unsur-unsur lain seperti Mg2+, Zn2+ dan trace element lainnya.

2.4 Metode Pembuatan Total Parenteral Nutrisi
Cairan infus yang dihasilkan mempergunakan pendekatan metoda Bioburden melalui proses dan teknologi sebagai berikut. 

-Bahan baku (Material)
  1. Penyediaan air demineralisata (deionized water), dengan system Reverse Osmosis yang memenuhi syarat, dan penyediaan air untuk injeksi (water for injection) melalui unit distilasi bertahap (multi stage distillation unit) pada suhu 121-140°C yg bebas pirogen. 
  2. Bahan baku dengan beban mikroba dan endotoksin (pirogen) tidak melebihi batas yang dipersyaratkan. 

-Proses (Metode)
  1. Proses produksi dengan semua komponen produk dan peralatan yang berhubungan langsung dengan bahan dilakukan secara otomatis. 
  2. Design dan kebersihan ruang produksi memenuhi persyaratan yang ditetapkan dan dipantau secara berkala. 
  3. Pembersihan dan sanitasi peralatan serta fasilitas produksi yang tervalidasi dan terkendali. 
  4. Penggunaan filter khusus untuk menjamin larutan bebas pirogen dan filter berukuran 0.22 mikron untuk menghilangkan kontaminasi mikroba dan partikel pada tahap pengolahan larutan infus sebelum proses pengisian kedalam botol. (Catatan, pirogen tidak akan hilang hanya dengan pemanasan 121C, dengan demikian pemanasan dengan suhu 121C tidak memjamin bebas pirogen jika tidak difiltrasi. 
  5. Pembuatan botol, dengan sistem blow moulding pada suhu 185C dan pengisian larutan di bawah Laminar Air Flow. 
  6. Proses sterilisasi akhir dari kemasan dan isi di otoklaf pada suhu yang optimal sehingga tidak merusak zat-zat yang rentan seperti dekstrosa, asam amino, albumin dan lain-lain. 
  7. Pengendalian kualitas (quality control) yang ketat melalui pengujian secara kimia, fisika, mikrobiologi untuk memastikan kualitas larutan dan kemasan produk sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan. 

2.5 Jenis-Jenis Cairan Nutrisi Parenteral
-ASERING
Indikasi:
Dehidrasi (syok hipovolemik dan asidosis) pada kondisi: gastroenteritis akut, demam berdarah dengue (DHF), luka bakar, syok hemoragik, dehidrasi berat, trauma.

Komposisi:
Setiap liter asering mengandung: Na 130 mEq, K 4 mEq, Cl 109 mEq, Ca 3 mEq, Asetat (garam) 28 mEq.

Keunggulan:
  1. Asetat dimetabolisme di otot dan masih dapat ditolelir pada pasien yang mengalami gangguan hati 
  2. Pada pemberian sebelum operasi sesar, RA mengatasi asidosis laktat lebih baik dibanding RL pada neonatus 
  3. Pada kasus bedah, asetat dapat mempertahankan suhu tubuh sentral pada anestesi dengan isofluran 
  4. Mempunyai efek vasodilator 
  5. Pada kasus stroke akut, penambahan MgSO4 20 % sebanyak 10 ml pada 1000 ml RA, dapat meningkatkan tonisitas larutan infus sehingga memperkecil risiko memperburuk edema serebral. 

-KA-EN 1B
Indikasi: 
  1. Sebagai larutan awal bila status elektrolit pasien belum diketahui, misal pada kasus emergensi (dehidrasi karena asupan oral tidak memadai, demam) 
  2. < 24 jam pasca operasi 
  3. Dosis lazim 500-1000 ml untuk sekali pemberian secara IV. Kecepatan sebaiknya 300-500 ml/jam (dewasa) dan 50-100 ml/jam pada anak-anak 
  4. Bayi prematur atau bayi baru lahir, sebaiknya tidak diberikan lebih dari 100 ml/jam. 

Komposisi :
  • Tiap 1000 ml isi mengandung: Natrium klorida 2,25 g, Anhidrosa dekstros 37,5 g.
  • Elektrolit (meq/L) Na+ 38,5, Cl- 38,5, Glukosa 37,5 g/L, kcal/L : 150.

-KA-EN 3A & KA-EN 3B

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
  1. Nutrisi Parenteral adalah suatu bentuk pemberian nutrisi yang diberikan langsung melalui pembuluh darah tanpa melalui saluran pencernaan. Nutrisi parenteral tidak bertujuan menggantikan kedudukan nutrisi enteral lewat usus yang normal. Segera jika usus sudah berfungsi kembali, perlu segera dimulai nasogastric feeding dengan sediaan nutrisi enteral yang mudah dicerna.
  2. Nutrisi parenteral dapat diberikan dengan aman jika megikuti pedoman yang tepat. Karena tubuh penderita perlu waktu adapatasi terhadap perubahan mekanisme baru maka selama penyesuaian tersebut jangan memberi beban yang berlebihan.

3.2 Saran
Pada pemberian nutrisi parenteral, lakukan pemantauan yang tepat untuk menghindari komplikasi. Jika fungsi pencernaan pasien sudah normal lebih baik mencoba untuk memberikan nutrisi secara oral. Kritik dan saran yang mendukung dari para pembaca sangat diperlukan dalam mendukung makalah ini agar lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA
ASPEN, 2009, Parenteral Nutrition Handbook.

Lippincott Williams and Wilkins, 1999, Modern Nutrition in Health and Disease, 9th Edition.

Rozhl Chir, 1998, PerioperativeTotal Parental Nutrition All in One and Major Gastrointestinal Surgery.

Rahardjo. E., 1992, Pola Umum Pelaksanaan Nutrisi Parenteral, Simposium Terapi Cairan III, Nutrisi Parenteral, Surabaya. 

Saunders, 2004, Practical Aspects of Nutritional Supports: an Advanced Practice Guide. 

Wahyudin, 2009, Total Parenteral Nutrisi.

MAKALAH PENYIAPAN TOTAL PARENTERAL NUTRISI

MAKALAH PENYIAPAN TOTAL PARENTERAL NUTRISI

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Nurtisi parenteral adalah pemberian nutrient dalam bentuk formula parenteral kedalam pembuluh balik (vena) yang bisa berupa vena perifer atau vena sentral. Dengan demikian, pemberian nutrisi parenterl memintas saluran cerna. Pemberian nutrisi parenteral total dilakukan untuk pertama kalinya oleh Rhoads dan Dudrick dalam pertengahan tahun 1960-an. Nutrisi parenteral diperlukan bagi pasien-pasien yang menghadapi resiko malnutrisi namun tidak mampu dan atau tidak boleh mendapatkan kecukupan nutrient jika diberikan lewat mulut atau saluran cerna. Nutrisi parenteral perlu dibedakan dengan pemberian cairan infuse yang hanya terdiri atas cairan, elektrolit dan karbohidrat untuk mempertahankan hidrasi, keseimbangan elektrolit serta memberikan sedikit kalori.

Biasanya pemberian nutrisi parenteral total (total parenteral nutrition) atau pemberian seluruh nutrient lewat infuse dilakukan jika pemberian nutrisi oral atau enteral merupakan kontraindikasi. Pemberian nutrisi total parenteral umumnya dilaksanakan lewat vena sentral karena pemberian nutiren dalam jumlah besar membawa konsekuensi peningkatan osmolalitas yang dapat mengakibatkan flebitis (radang vena) jika larutan nutrient tersebut diberikan lewat vena perifer. Bila hanya sebagian kebutuhan saja diberikan lewat pembuluh darah, pemberian nutrisi ini dinamakan nutrisi parenteral parsial. Nutrisi parenteral parsial dilakukan bila pemberian nutrisi oral atau enteral tidak mencukupi selama lebih dari 5 atau 7 hari. Nutrisi parenteral bisa pula disebut sebagai terapi nutrisi primer atau sebagai terapi nutrisi supplemental atau suportif.

Indikasi nutrisi parenteral sebagai terapi nutrisi primer, nutrisi parenteral diberikan pada keadaan yaitu pertama adalah ketidakmampuan untuk mencerna atau menyerap makanan secara memadai. Keadaan ini dapat terjadi pada kasus-kasus seperti muntah-muntah yang persisten, diare yang berat, sindrom malabsorpsi berat, beberapa keadaan trauma perut, ileus yang lama dan reseksi usus yang luas. Lalu indikasi yang kedua adalah usus harus diistirahatkan. Kontraindikasi nutrisi parenteral yaitu tidak boleh diberikan pada krisi hermodinamik seperti keadaan syok atau dehidrasi yang belum terkoreksi (kontraindikasi absolute).

1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut.
  1. Apa pengertian Total Parenteral Nutrisi?
  2. Apa Indikasi Nutrisi Parenteral?
  3. Bagaimana Faktor-faktor yang harus diperhatikan?
  4. Bagaimana Metode Pembuatan Total Parenteral Nutrisi?
  5. Apa Sajakah Jenis-jenis cairan nutrisi parenteral?
  6. Bagaimana Pengelolaan nutrisi Parenteral?
  7. Bagaimana Komplikasi dan Monitoring/Pemantauan penderita?

1.3 Tujuan
Tujuan dalam makalah ini adalah sebagai berikut.
  1. Untuk mengetahui pengertian Total Parenteral Nutrisi.
  2. Untuk mengetahui Indikasi Nutrisi Parenteral.
  3. Untuk mengetahui Faktor-faktor yang harus diperhatikan. 
  4. Untuk mengetahui Metode Pembuatan Total Parenteral Nutrisi.
  5. Untuk mengetahui Jenis-jenis cairan nutrisi parenteral.
  6. Untuk mengetahui Pengelolaan nutrisi Parenteral.
  7. Untuk menegtahui Komplikasi dan Monitoring atau Pemantauan penderita.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Total Parenteral Nutrisi
Nutrisi Parenteral adalah suatu bentuk pemberian nutrisi yang diberikan langsung melalui pembuluh darah tanpa melalui saluran pencernaan. Para peneliti sebelumnya menggunakan istilah hiperalimentasi sebagai pengganti pemberian makanan melalui intravena, dan akhirnya diganti dengan istilah yang lebih tepat yaitu Nutrisi Parenteral Total, namun demikian secara umum dipakai istilah Nutrisi Parenteral untuk menggambarkan suatu pemberian makanan melalui pembuluh darah.

Nutrisi parenteral total atau yang lebih dikenal dengan istilah TPN (total parenteral nutrition) digunakan untuk memberikan dukungan nutrisi dalam jangka waktu lama bagi pasien-pasien yang tidak mampu mengkonsumsi makanan per oral dan tidak dapat menjalani pemberian nutrisi enteral. Pemberian nutrisi parenteral hanya efektif untuk pengobatan gangguan nutrisi bukan untuk penyebab penyakitnya. Status nutrisi basal dan berat ringannya penyakit memegang peranan penting dalam menentukan kapan dimulainya pemberian nutrisi parenteral. Sebagai contoh pada orang-orang dengan malnutrisi yang nyata lebih membutuhkan penanganan dini dibandingkan dengan orang-orang yang menderita kelaparan tanpa komplikasi.

Pasien-pasien dengan kehilangan zat nutrisi yang jelas seperti pada luka dan fistula juga sangat rentan terhadap defisit zat nutrisi sehingga membutuhkan nutrisi parenteral lebih awal dibandingkan dengan pasien-pasien yang kebutuhan nutrisinya normal. Secara umum, pasien-pasien dewasa yang stabil harus mendapatkan dukungan nutrisi 7 sampai dengan 14 hari setelah tidak mendapatkan nutrisi yang adekuat sedangkan pada pasien-pasien kritis, pemberian dukungan nutrisi harus dilakukan dalam kurun waktu 5 sampai dengan 10 hari. 

Nutrisi Parenteral pada pasien anak-anak diberikan lebih awal dibandingkan dengan pasien-pasien dewasa, biasanya 1 hari setelah lahir pada neonatus dan bayi dengan berat badan lahir yang rendah, dan antara 5 sampai 7 hari bagi anak-anak yang lebih dewasa yang tidak dapat mencukupi kebutuhan nutrisinya hanya melalui oral maupun enteral. Pemberian nutrisi parenteral secara rutin tidak direkomendasikan pada kondisi-kondisi klinis seperti Pasien-pasien kanker yang sedang menjalankan terapi radiasi dan kemoterapi, Pasien-pasien preoperatif yang bukan malnutrisi berat, Pankreatitis akuta ringan, Kolitis akuta, AIDS, Penyakit paru yang mengalami eksaserbasi, Luka bakar, Penyakit-penyakit berat stadium akhir (End-Stage Illness).

2.2 Indikasi Nutrisi Parenteral
  1. Beberapa indikasi dilakukannya pemberian nutrisi parenteral.
  2. Malnutrisi berat dengan penurunan berat badan sebesar 10% atau lebih. 
  3. Kelainan saluran cerna: obstruksi, peritonitis, ganguan pencernaan dan absorpsi, fistula enterokutaneus, muntah-muntah dan diare yang kronis, ileus paralitik yang lama, enteritis radiasi, reseksi usus halus yang luas serta pancreatitis akut yang berat. 
  4. Kebutuhan suplementasi jika asupan oral tidak mencukupi pada pasien-pasien kanker yang menjalani terapi yang agresif (terapi radiasi maupun kemoterapi). 
  5. Sesudah pembedahan atau cedera, khususnya luka bakar yang luas, fraktur multiple atau sepsis. 
  6. Gagal jantung, hati, ginjal yang akut dengan perubahan kebutuhan akan asam amino. 
  7. Pasien penyakit AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) 
  8. Transplantasi sumsum tulang. 
  9. Gangguan motilitas usus seperti pada ileus yang berkepanjangan, pseudo-obstruksi dan skleroderma. 

2.3 Faktor-Faktor yang Harus Diperhatikan
-Dari sisi pasien 
Dari sisi pasien yang perlu diperhatikan adalah penyakit dasar pasien, status hidrasi dan hemodinamik, pasien dengan komplikasi penyakit tertentu, dan kekuatan jantung. Kesemua faktor ini merupakan hal yang harus diketahui dokter.

-Dari sisi cairan 
1. Kandungan elektrolit cairan 
  • a. Elektrolit yang umum dikandung dalam larutan infus adalah Na+, K+, Cl-, Ca2+, laktat atau asetat. Jadi, dalam pemberian infus yang diperhitungkan bukan hanya air melainkan juga kandungan elektrolit ini apakah kurang, cukup, pas atau terlalu banyak. 
  • b. Pengetahuan dokter dan paramedis tentang isi dan komposisi larutan infus sangatlah penting agar bisa memilih produk sesuai dengan indikasi masing-masing.

2. Osmolaritas cairan 
  • a. Osmolaritas adalah jumlah total mmol elektrolit dalam kandungan infus. Untuk pemberian infus kedalam vena tepi maksimal osmolaritas yang dianjurkan adalah kurang dari 900 mOsmol/L untuk mencegah risiko flebitis (peradangan vena).
  • b. Jika osmolaritas cairan melebihi 900 mOsmol/L maka infus harus diberikan melalui vena sentral.

3. Kandungan lain cairan
  • a. Seperti disebutkan sebelumnya, selain elektrolit beberapa produk infus juga mengandung zat-zat gizi yang mudah diserap ke dalam sel, antara lain: glukosa, maltosa, fruktosa, silitol, sorbitol, asam amino, trigliserida.
  • b. Pasien yang dirawat lebih lama juga membutuhkan unsur-unsur lain seperti Mg2+, Zn2+ dan trace element lainnya.

2.4 Metode Pembuatan Total Parenteral Nutrisi
Cairan infus yang dihasilkan mempergunakan pendekatan metoda Bioburden melalui proses dan teknologi sebagai berikut. 

-Bahan baku (Material)
  1. Penyediaan air demineralisata (deionized water), dengan system Reverse Osmosis yang memenuhi syarat, dan penyediaan air untuk injeksi (water for injection) melalui unit distilasi bertahap (multi stage distillation unit) pada suhu 121-140°C yg bebas pirogen. 
  2. Bahan baku dengan beban mikroba dan endotoksin (pirogen) tidak melebihi batas yang dipersyaratkan. 

-Proses (Metode)
  1. Proses produksi dengan semua komponen produk dan peralatan yang berhubungan langsung dengan bahan dilakukan secara otomatis. 
  2. Design dan kebersihan ruang produksi memenuhi persyaratan yang ditetapkan dan dipantau secara berkala. 
  3. Pembersihan dan sanitasi peralatan serta fasilitas produksi yang tervalidasi dan terkendali. 
  4. Penggunaan filter khusus untuk menjamin larutan bebas pirogen dan filter berukuran 0.22 mikron untuk menghilangkan kontaminasi mikroba dan partikel pada tahap pengolahan larutan infus sebelum proses pengisian kedalam botol. (Catatan, pirogen tidak akan hilang hanya dengan pemanasan 121C, dengan demikian pemanasan dengan suhu 121C tidak memjamin bebas pirogen jika tidak difiltrasi. 
  5. Pembuatan botol, dengan sistem blow moulding pada suhu 185C dan pengisian larutan di bawah Laminar Air Flow. 
  6. Proses sterilisasi akhir dari kemasan dan isi di otoklaf pada suhu yang optimal sehingga tidak merusak zat-zat yang rentan seperti dekstrosa, asam amino, albumin dan lain-lain. 
  7. Pengendalian kualitas (quality control) yang ketat melalui pengujian secara kimia, fisika, mikrobiologi untuk memastikan kualitas larutan dan kemasan produk sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan. 

2.5 Jenis-Jenis Cairan Nutrisi Parenteral
-ASERING
Indikasi:
Dehidrasi (syok hipovolemik dan asidosis) pada kondisi: gastroenteritis akut, demam berdarah dengue (DHF), luka bakar, syok hemoragik, dehidrasi berat, trauma.

Komposisi:
Setiap liter asering mengandung: Na 130 mEq, K 4 mEq, Cl 109 mEq, Ca 3 mEq, Asetat (garam) 28 mEq.

Keunggulan:
  1. Asetat dimetabolisme di otot dan masih dapat ditolelir pada pasien yang mengalami gangguan hati 
  2. Pada pemberian sebelum operasi sesar, RA mengatasi asidosis laktat lebih baik dibanding RL pada neonatus 
  3. Pada kasus bedah, asetat dapat mempertahankan suhu tubuh sentral pada anestesi dengan isofluran 
  4. Mempunyai efek vasodilator 
  5. Pada kasus stroke akut, penambahan MgSO4 20 % sebanyak 10 ml pada 1000 ml RA, dapat meningkatkan tonisitas larutan infus sehingga memperkecil risiko memperburuk edema serebral. 

-KA-EN 1B
Indikasi: 
  1. Sebagai larutan awal bila status elektrolit pasien belum diketahui, misal pada kasus emergensi (dehidrasi karena asupan oral tidak memadai, demam) 
  2. < 24 jam pasca operasi 
  3. Dosis lazim 500-1000 ml untuk sekali pemberian secara IV. Kecepatan sebaiknya 300-500 ml/jam (dewasa) dan 50-100 ml/jam pada anak-anak 
  4. Bayi prematur atau bayi baru lahir, sebaiknya tidak diberikan lebih dari 100 ml/jam. 

Komposisi :
  • Tiap 1000 ml isi mengandung: Natrium klorida 2,25 g, Anhidrosa dekstros 37,5 g.
  • Elektrolit (meq/L) Na+ 38,5, Cl- 38,5, Glukosa 37,5 g/L, kcal/L : 150.

-KA-EN 3A & KA-EN 3B

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
  1. Nutrisi Parenteral adalah suatu bentuk pemberian nutrisi yang diberikan langsung melalui pembuluh darah tanpa melalui saluran pencernaan. Nutrisi parenteral tidak bertujuan menggantikan kedudukan nutrisi enteral lewat usus yang normal. Segera jika usus sudah berfungsi kembali, perlu segera dimulai nasogastric feeding dengan sediaan nutrisi enteral yang mudah dicerna.
  2. Nutrisi parenteral dapat diberikan dengan aman jika megikuti pedoman yang tepat. Karena tubuh penderita perlu waktu adapatasi terhadap perubahan mekanisme baru maka selama penyesuaian tersebut jangan memberi beban yang berlebihan.

3.2 Saran
Pada pemberian nutrisi parenteral, lakukan pemantauan yang tepat untuk menghindari komplikasi. Jika fungsi pencernaan pasien sudah normal lebih baik mencoba untuk memberikan nutrisi secara oral. Kritik dan saran yang mendukung dari para pembaca sangat diperlukan dalam mendukung makalah ini agar lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA
ASPEN, 2009, Parenteral Nutrition Handbook.

Lippincott Williams and Wilkins, 1999, Modern Nutrition in Health and Disease, 9th Edition.

Rozhl Chir, 1998, PerioperativeTotal Parental Nutrition All in One and Major Gastrointestinal Surgery.

Rahardjo. E., 1992, Pola Umum Pelaksanaan Nutrisi Parenteral, Simposium Terapi Cairan III, Nutrisi Parenteral, Surabaya. 

Saunders, 2004, Practical Aspects of Nutritional Supports: an Advanced Practice Guide. 

Wahyudin, 2009, Total Parenteral Nutrisi.