MAKALAH POLUSI - ElrinAlria
MAKALAH POLUSI
MAKALAH EKOLOGI TANAMAN
( Polusi )
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam proses pasti dihasilkan limbah. Limbah adalah bahan buangan yang dihasilkan dari suatu produksi, baik industry maupun domestic (rumah tangga), yang kehadirannya pada waktudan tempat tertentu tidak dikendaki lingkungan. Dalam konsentrasi dan jumlah tertentu, kehadiran limbah dapat berdampak negative terhadap lingkungan karena dapat menimbulkan pencemaran lingkungan.

Menurut Undang – Undang Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup NO. 4 Tahun 1982, Polusi atau pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat energy, dan /atau komponen lain kedalam lingkungan atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya.

Turunnya kualitas lingkungan tampak dari melemahnya fungsi atau menjadi kurang dan tidak sesuai lagi dengan kegunaannya, berkurangnya pertumbuhan, serta menurunnya kemampuan produksi. Pada akhirnya ada kemungkinan terjadinya kematian pada organism yang hidup dalam lingkungan tersebut.

Segala sesuatu yang dapat menimbulkan pencemaran dinamakan Bahan pencemar atau polutan. Syarat-syarat suatu zat atau bahan dapat disebut polutan adalah jika keberadaannya dapat merugikan makhluk hidup karena jumlahnya melebihi batas normal, berada pada waktu yang tidak tepat, atau berada pada tempat yang tidak tepat. 

B. Tujuan dan Kegunaam
Tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu untuk mengetahui pencemaran atau polusi yang terjadi di sekitar kita. Serta dampak kepada manusia. 

Manfaat dari pembuatan makalah ini yaitu sebagai bahan bacaan bagi saya sebagai mahasiswa. Dapat mengetahui berbagai pencemaran serta dampak yang ditimbulkan kepada manusia. 

C. Rumusan Masalah
  1. Apa itu pencemaran lingkungan? 
  2. Bahan – bahan apa sajakah yang dapat menyebabkan pencemaran air udara dan tanah? 
  3. Apa itu remediasi? 
  4. Apa yang menyebabkan perubahan lingkungan berubah? 

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pencemaran Lingkungan
1) Macam – Macam Bahan Pencemar
Berdasarkan sifatnya, bahan pencemar atau polutan dibedakan menjadi dua macam, yaitu bahan pencemar yang dapat terdegradasi atau diuraikan (Biodegradable) dan bahan pencemar yang tidak dapat terdegradasi (nonbiodegradable).

1. Bahan Pencemar yang terdegradasi (Biodegradable)
Bahan – bahan pencemar yang dapat terdegradasi memiliki struktur kimia yang sederhana sehingga dapat didegradasi, didekomposisi, dihilangkan, atau dirombak, baik melalui proses alam maupun melalui system rekayasa manusia sehingga bersifat tidak mencemari. Bahan pencemar yang terdegradasi terbagi menjadi dua kategori, yaitu yang terdegradasi secara cepat dan yang terdegradasi secara lambat.

a. Bahan pencemar yang terdegradasi secara cepat
Bahan –bahan pencemar yang termasuk kategori ini bersifat nonpersisten ( tidak terus- menerus) dan umunya dapat terdekomposisi lebih cepat, contohnya limbah manusia, limbah hewan, dan limbah perkebunan. Limbah adalah bahan sisa pada suatu kegiatan dan / atau proses produksi.

b. Bahan Pencemar yang terdegradasi secara lambat
Pencemar yang terdegradasi secara lambat bersifat persisten dan umumnya terdekomposisi secara lambat, tetapi pada akhirnya dapat terpecah secara sempurna dan menjadi tidak berbahaya. Bahan – bahan Radioaktif dan senyawa – senyawa sintesis, seperti DDT ( dikloro difenil trikloroetana) umumnya termasuk pencemar kategori ini karena proses alam tidak mampu memecahnya (secara cepat). Sebagai contoh, DDT memerlukan waktu empat tahun untuk dapat terpecah sebanyak 25%.

2. Bahan pencemar yang tidak terdegradasi (Nonbiodegradakle)
Pencemar yang tidak terdegradasi adalah senyawa yang tidak terpecah atau terdekomposisi melalui prose salami, contohnya merkuri, timbal serta senyawanya, aluminium dan plastic. Sama halnya dengan pencemar yang terdegradasi secara lambat, pencemar yang tidak terdegradasi harus dihindari keberadaannya dalam lingkungan, baik di udara, air, maupun ditanah, juga harus dijaga agar selalu berada pada tingkatyang tidak membahayakan.

Pada saat ini, pencemaran lingkungan berlangsung atau terjadi dimana-mana dengan laju yang sangat cepat. Beban pencemaran lingkungan makin berat dengan masuknya berbagai bahan kimia, termasuk logam berat. Dari limbah industry.

2) Macam – Macam Pencemaran Lingkungan
Berbagai bahan pencemar telah memasuki lingkungan hidup manusia sehingga menyebabkan perubahan kualitas lingkungan. Menurut tempat terjadinya, pencemaran dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu pencemaran air, udara, dan tanah. Adapun tingkat kebisingan yang mengganggu disebut pencemaran suara. Pencemaran atau polusi suara disebabkan, antara lain oleh suara bising kenderaan bermotor, pesawat terbang, kereta api, mesin pabrik dan radio yang berbunyi keras sehingga mengganggu pendengaran.

a. Pencemaraan air
Umumnya sungai – sungai yang terdapat di pengunungan atau peesaan masih alami sehingga airnya masih jernih. Sebaliknya sungai-sungai di perkotaan umumnya sudah keruh atau berwarna kehitaman karena sudah tercemar berbagai bahan buangan atau limbah sisa-sisa aktivitas manusia.

Pencemaran air merupakan peristiwa msuknya bahan – bahan berbahaya, merugikan, atau tidak disukai dalam air dengan konsentrasi atau jumlah yang( secara langsung atau kumulatif) cukup besar untuk dapat merugikan atau mempengaruhi kegunaan atau kualitas air. Ada banyak sekali bahan yang dapat menyebabkan pencemaran air, yang secara garis besar, menurut sifat dan bahannya, dapat dikelompokkan menjadi bahan anorganik dan bahan organic. Yang termasuk bahan – bahan anorganik, antara lain tumpahan minyak ( baik mentah maupun diproses) dari kapal tanker, limbah pabrik, limbah pertambangan, pupuk dan pestisida. Adapun yang termasuk bahan – bahan organic, antara lain limbah rumah tangga dan bahan – bahan buangan dari rumah pemotongan hewan.

Pencemaran air dapat terjadi secara langsung dan secara tidak langsung. Pencemaran air secara langsung terutama disebabkan oleh buangan dari kegiatan industry, pertanian dan rumah tangga. Sementara itu, pencemaran air secara tidak langsung terjadi karena adanya rembesan Zat – zat kimia beracun dan berbahaya dari timbunan limbah industry, pertanian, dan rumah tangga kedalam perairan terbuka (sungai, laut, saluran air, danau, waduk, dan sumur) serta air dalam tanah.

Buangan industry, pertanian, dan rumah tanggadapat mencemari air,ada beberapa factor yang menyebabkan hal itu terjadi , antara lain:
  1. Dalam komposisi kimianya terdapat zat – zat berbahaya, seperti logam berat dan bakteri yang dapat mengganggu kesehatan; 
  2. Suhu ataupun derajat keasamannya (pH) dapat mematikan organism – organism yang hidup di perairan; 
  3. Kemampuannya untuk menyerap oksigen dari air (BOD atau biochemical oxygen dwmand) sanga besar sehingga organism – organism yang hidup di perairan menjadi kekurangan oksigen dan akhirnya mati; 
  4. Dalam keadaan ekstrem, mengandung limbah nuklir dengan bahaya radioaktifnya. 

Sering kali, air yang kita gunakan untuk meminum terkontaminasi oleh bakteri yang berasal dari tanah maupun feses hewan, dan manusia kebanyakan bakteri yang mencemari air minum adalah bakteri – bakteri yang hidup di usus sehingga ( salmonella typhy) dan kolera (Vibrio cholera). Salah satu bakteri yang sering mencemari air minum adalah bakteri Escherichia coli. Air minum yang mengandung E. coli merupakan indicator bahwa air tersebut telah tercemar oleh feses hewan ataupun air limbah. Walaupun E. coli tidak terlalu berbahaya, kehadirannya dalam air minum mengindikasikan adanya bakteri – bakteri usus lainnya yang lebih berbahaya. 

Limbah yang berasal dari pertanian, contohnya sisa –sisa pupuk, umumnya banyak mengandung ion – ion anorganik, misalnya ion nitrat (NO3-). Adapun limbah rumah tangga dan industry yang berasal dari penggunaan deterjen banyak mengandung ion-ion fosfat (PO43-). Kedua ion tersebut jika terakumulasi di atas tingkat tertentu dalam perairan menyebabkan air dari perairan tersebut tidak layak dikonsumsi sebagai air minum. Apabila dikonsumsi, air yang mengandung ion-ion fosfat dan nitrat tersebut dapat menyebabkan kanker lambung dan mempengaruhi fungsi hemoglobin dalam mengikat oksigen. Di dalam tubuh, ion- ion nitrat dapat berikatan dengan hemoglobin membentuk metamoglobin. Metamoglobin dapat menyebabkan sisi aktif hemoglobin untuk mengikat oksigen menjadi tidak aktif.

Akibat lain kelebihan ion-ion nitrat dan fosfat dalam perairan tawar adalah peningkatan proses euotrofikasi, yaitu peningkatan nutrisi atau zat – zat makanan untuk pertumbuhan tanaman air. Sesungguhnya eutrofikasi merupakan proses alamiah yang terjadi di sungai, kolam atau danau, tetapi prose situ berlangsung dengan lambat. Namun, dengan adanya penumpukan ion-ion nitrat dan fosfat yang berasal dari limbah, proses eutrofikasi mengalami peningkatan. Artinya , terjadi penumpukan zat – zat makanan bagi tumbuhan. Hal tersebut menyebabkan terjadinya ledakan pertumbuhan tanaman air, seperti eceng gondok (Eichhornia crassipes) dan ganggang. Ledakan pertumbuhan ganggang itu dinamakan algae blooming. Ketika mati, tanaman- tanman air itu dibusukkan oleh bakteri saprotrof aerob. Karena jumlah tanaman air sangat banyak, proses pembusukan memerlukan banyak oksigen. Akibatnya, perairan mengalami deoksigenasi, yaitu penurunan kandungan oksigen. Selanjutnya, terjadi pembusukan anaerob dan terbentuk hydrogen sulfide (H2S). ketiadaan oksigen dan kehadiran hydrogen sulfide menyebabkan kematian organism – organism air lainnya, termasuk ikan. Eutrofikasi dipercepat oleh aktivitas manusia yang membuang terlalu banyak kotoran atau limbah kedalam perairan. Eutrofikasi dapat kita minimalkan dengan cara:
  1. Menggunakan deterjen dengan kandungan fosfat yang rendah untuk mencuci; 
  2. Menggunakan pupuk tanaman yang tidak mudah larut. 

Tingkat pencemaran air sering kali dinyatakan dalam biochemical oxygen demand (BOD). BOD merupakan jumlah oksigen yang digunakan mikroorganisme dalam air untuk mengoksidasi senyawa organic menjadi molekul anorganik sederhana pada waktu tertentu. Makin tinggi nilai BOD suatu perairan, makin tercemar perairan tersebut.

b. Pencemaran Udara
Udara merupakan sumber daya yang sangat penting bagi manusia dan mahluk hidup lainnnya. Jika tidak ada udara, pasti tidak ada kehidupan di muka bumi ini. Manusia dan organism lainnya mungkin mampu bertahan hidup tanpa makan selama beberapa hari, tetapi tidak akan tahan untuk tidak bernafas selama beberapa menit saja. Manusia memerlukan udara yang bersih untuk hidupnya, yaitu yang mengandung oksigen dan tidak tercemar. Jika tercemar oleh bahan bahaya dan beracun, udara yang kita hirup dapat menyebabkan masalah serius pada kesehatan kita, bahkan dapat menyebabkan kematian.

Udara dibutuhkan oleh semua makhluk hidup tersusun atas berbagai macam – macam gas. Bermacam – macam gas yang menyusun udara beserta volumenya tercantum sebagai berikut:
MAKALAH POLUSI

Udara dikatakan murni jika komposisinya seperti yang tercantum dalam tabel diatas. Sebaliknya, udara dikatakan tercemar jika tercampuri zat-zat pencemar atau polutan dalam konsentrasi tinggi sehingga menimbulkan gangguan bagi mahkluk hidup yang menghisapnya. Jadi, meskipun udara tercampuri gas asing yang tidak biasa terdapat di udara, jika tidak menimbulkan kerugian bagi lingkungan dan kehidupan, gas itu dikatakan tidak menimbulkan pencemaran (walaupun tetap disebut polutan). Kandungan karbondioksida di udara hanya 0,03%, tetapi apabila kadarnya mencapai 10%, akan menimbulkan pencemaran udara dan bersifat racun bagi banyak bentuk kehidupan.

Dibandingkan dengan pencemaran air, pencemaran udara lebih sulit dideteksi sehingga pencemaran udara lebih berbahaya. Karena tidak terlihat oleh mata, pencemaran udara dapat mengancam kehidupan manusia ataupun makhluk hidup lainnya. Masalah serius yang dapat diakibatkan oleh pencemaran udara, antara lain dapat menybabkan gangguan kesehatan serius, seperti sesak napas dan kanker, menyebabkan hujan asam , merusak lapisan ozon yang melindungi bumi dari radiasi ultra violet, serta dapat menyebabkan perubahan iklim dunia.

Pabrik – pabrik dan semua kenderaan bermotor mengeluarkan bahan – bahan beracun yang dapat mencemari udara. Pabri – pabrik menghasilkan asap dan sulfur dioksida, sedangkan kenderaan bermotor menghasilkan senyawa karbon monoksida (CO) dan oksida nitrogen (NO2 dan NO) yang membentuk kabut asap. Berikut adalah beberapa pencemar yang sering kali mencemari udara, antara lain asap, sulfur dioksida dan oksida nitrogen, kabut asap. Karbon monoksida dan klorofluorokarbon.

1) Asap
Asap terutama tersusun atas partikel – partikel kecil karbon (C) dan tar yang berasal dari pembakaran batu bara di pusat – pusat pembangkit tenaga listrik atau rumah- rumah. Di dalam tar mengandung bahan – bahan kimia penyebab kanker ( karsinogen). Partikel – partikel karbon yang tertinggal dapat menghitamkan bangunan dan daun – daun tumbuhan. Tumbuhan yang daun – daunnya tertutup jelaga hitam tidak dapat melakukan fotosintesis dengan baik. Asap di udara juga mengurangi jumlah sinar matahari yang mencapai bumi.

2) Partikulat
Gas – gas buangan kenderaan bermotor ( terutama yang bermesin diesl) mengandung partikel – partikel mikroskopis yang dilapisi hydrocarbon. Partikel – partikel tersebut berdiameter kurang dari 10 atau 2,5 mikrometer. Partikel – partikel itu diduga menyebabkan 10.000 kematian per tahun, khususnya orang – orang yang menderita penyakit paru – paru kronis seperti efisema dan bronchitis.

3) Sulfur Dioksida dan Oksida Nitrogen
Batu bara dan minyak bumi mengandung sulfur (belerang). Jika dibakar, bahan bakar tersebut melepaskan sulfur dioksida ke udara, ketika turun hujan, sulfur dioksida itu larut dalam air hujan dan membentuk asam sulfat (H2SO4). Cahaya matahari meningkatkan kecepatan reaksi tersebut. Asam dan air hujan itu jatuh ke bumi sebagai hujan asam. Jika jatuh mengenai bangunan atau patung, hujan asam dapat melarutkan kapur dan semen yang terdapat pada patung ataupun dinding bangunan. Jika mengenai tumbuhan, hujan asam dapat menghambat pertumbuhan dan merusak daun-daunnya. Hujan asam yang jatuh ke tanah merusak akar – akar tumbuhan dan melarutkan mineral – mineral penting, contohnya garam – garam aluminium. Garam – garam alminium yang larut terbawa air hujan ke badan – badan air, misalnya sungai dan danau. Di dalam sungai dan danau, garam – garam aluminium terakumulasi hingga mencapai tingkat beracun yang dapat membunuh ikan – ikan. Hujan asam telah terjadi selama bertahun-tahun dan makin parah. Hutan – hutan di Jerman, Amerika Utara, Skandinavia, dan Skotlandia mengalami kerusakan akibat hujan asam.

Oksigen nitrogen yang di hasilkan oleh stasiun – stasiun pembangkit listrik, penyulingan minyak, dan buangan gas- gas kenderaan bermotor juga menyebabkan polusi udara dan hujan asam. Oksigen nitrogen larut dalam air hujan membentuk asam nitrit (HNO2). Asam nitrit bereaksi dengan ozon (O3) membentuk asam nitrat (HNO3). Akibatnya, lapisan ozon di atmosper menjadi menipis. Pada lapisan ozon sangat diperlukan sebagai pelindung bumi dari radiasi gelombang pendek matahari. Reaksi antara ozon dan oksida nitrogen diduga yang paling bertanggung jawab sebagai penyebab kerusakan pohon di hutan.

Walaupun dalam keadaan udara tidak tercemar secara alami hujan bersifat asam lemah karena merupakan larutan asam karbonat (H2CO3) yang membentuk ketika air hujan memilki pH 5,4, sedangkan air huajn yang tercemar gas – gas memiliki pH 4 – 4,5 . makin rendah pH air hujan, makin berat dampaknya bagi mahluk hidup. 

4) Smog
Smog adalah asap dan partikulat mikroskopis yang melayang di atmosper sehingga menghalangi pancaran sinar matahari ke bumi. Fenomena ini biasa terjadi di daerah industry dan kota – kota besar. Smog mengiritasi mata dan paru – paru, serta merusak tumbuhan. Smog terbentuk ketika cahaya matahari dan ozon di udara bereaksi dengan oksida nitrogen serta hidrokarbon ( yang tidak terbakar) dari gas buangan kenderaan bermotor.

5) Karbon Monoksida
Gas ini juga di hasilkan oleh gas buangan mobil dan truk. Jika terhirup, karbon monoksida berikatan dengan hemoglobin dalam darah membentuk senyawa yang stabil , yaitu karboksihemoglobin (HbCO). Pembentukan karboksihemoglobin itu mengurangi kemampuan darah mengikat/membawa oksigen. Hal itu tentu saja berbahaya terutama bagi orang – orang yang berpenyakit jantung ataupun anemia. Seorang perokok menhirup karbondioksida dari rokok lebih banyak dibandingkan dengan di udara.

6) Klorofluorokarbon (CFC)
Klorofluorokarbon adalah gas-gas yang digunakan sebagai pending dalam lemari es, bahan pendorong dalam kaleng aerosol (aerosol propellant), dan sebagai pembentuk gelembung pada plastic busa. Klorofluorokarbon sangat stabil dan terakumulasi di udara dan untuk selanjutnya bereaksi dengan ozon.

Bersama dengan hidroklorofluorokarbon (HCFC), halon ,metal bromide, karbon tetraklorida, dan metilkloroform, kloroflorokarbon dikenal sebaga bahan – bahan perusak ozon

7) Karbon dioksida (CO2)
Sesungguhnya gas karbon dioksida bukanlah gas yang beracun, bahkan dibutuhkan oleh tumbuhan untuk proses fotosintesis. Namun kalau jumlahnya terlalu banyak, dapat mengganggu pernapasan dan menimbulkan pencemaran udara. 

Gas karbon dioksida yang ada di udara selain berasal dari beberapa proses alam, seperti respirasi mahluk hidup, dekomposisi bahan – bahan organic, fermentasi, pelapukan batuan, dan pengaruh magma di bawah permukaan tanah, juga berasal dari pembakaran – pembakaran yang dilakukan manusia, contohnya pembakaran bahan fosil ( batu bara dan minyak bumi). Konsentrasi carbon dioksida di udara hanya 0,03%. Namun, karena pada saat ini banyak terjadi pembakaran bahan bakar fosil untuk industry, kenderaan bermotor, dan untuk keperluan rumah tangga, konsentrasi karbondioksida ( umumnya di dalam kota) menjadi melebihi ambang batas normal. Peningkatan itu terutama terjadi sejak di mulainya Revolusi industry di Inggris pada tahun 1860. 

Selain mengganggu pernapasan, peningkatan konsentrasi karbon dioksida juga meningkatkan suhu dipermukaan bumi. Permukaan bumi menerima dan menyerap energy panas dari matahari. Selanjutnya bumi memantulkan kembali sebagian panas tersebut ke angkasa. Radiasi matahari, terutama dalam bentuk energy gelombang pendek, masuk ke atmosfir bumi dengan muudah. Energy panas matahari yang dipantulkan kembali dari bumi merupakan energy gelombang panjang (inframerah) yang sebagian besar di serap oleh atmospir bumi,yaitu oleh uap air (H2O) dan gas karbondioksida

3) Pencemaran Tanah
Tanah merupakan substansi yang ikut menyusun kerak bumi. Mineral – mineral yang terkandung dalam tanah menjadi sumber kehidupan bagi tumbuh – tumbuhan. Selanjutnya, organism – organism lain, termasuk manusia, kehidupannya bergantung pada tumbuhan. 

Seperti halnya air dan udara, tanah juga dapat mengalami pencemaran. Yang dimaksud dengan pencemaran tanah adalah suatu dampak limbah rumah tangga, industry, dan penggunaan pestisida yang berlebihan pada tanah. Bentuknya meliputi menurunnya estetika tanah dan kegunaannya bagi pertanian serta meningkatnya kandungan zat kimia beracun dan berbahaya di dalamnya. Pencemaran tanah dapat terjadi karena adanya sampah – sampah organic atau sampah – sampah anorganik, tertuangnya pestisida dalam dosis yang berlebihan, tumpahan minyak dan merembesnya zat – zat kimia berbahaya dari tempat penampungan limbah industry ataupun rumah tangga ke lapisan permukaan tanah.

Sampah – sampah organic, seperti kulit buah, daun – daun, jaringan hewan, dan kertas dapat dihancurkan oleh mikroorganisme tanah (decomposer) menjadi mineral, gas, dan air sehingga terbentuklah humus. Bahan – bahan buangan yang tidak mudah atau tidak dapat diuraikan oleh decomposer misalnya, besi, plastic, kaleng, kaca dan alminium digolongkan sebagai sampah norganik. Agar tidak mencemari tanah, sampah – sampah tersebut harus di daur ulang.

Pestisida adalah substansi yang digunakan untuk mengontrol organism yang mengganggu tanaman pertanian ataupun organism yang terlibat dalam penyebaran penyakit. Pestisida merupakan biosida ( bahan kimia yang di ciptakan untuk membunuh organisme). Ada sekitar 500 jenis pestisida yang diklasifikasi berdasarkan kelompok organisme yang dibunuh/ dikendalikannya, antara lain insektisida (serangga), herbisida ( tumbuhan), fungisida (fungi atau jamur), nematosida (nematoda), dan rodentisida (rodensia). Penggunaan pestisida tanpa perencanaan dan perhitungan yang baik dapat mencemari tanah dan akhirnya mematikan organisme tanah yang dapat menyuburkan tanah ( kelompok non target), misalnya cacing tanah. Hal sama juga akan terjadi jika zat – zat kimia yang berbagai dari limbah industry merembes ke tanah

Upaya untuk memulihkan atau membersihkan tanah dari bahan pencemar di kenal dengan istilah remediasi. Remediasi merupakan kegiatan yang tidak mudah sehingga untuk melakukannya perlu diketahui beberapa hal, di antaranya:
  1. Jenis pencemar (bahan organic atau organic, terdegradasi atau tidak dan berbahya atau tidak); 
  2. Jumlah zat pencemar yang telah mencemari tanah tersebut; 
  3. Perbandingan unsure karbon, nitrogen, dan fosfor di dalam tanah; 
  4. Jenis tanah; 
  5. Kondisi tanah (basah atau kering); 
  6. Telah berapa lama zat pencemar telah terendafkan di lokasi tersebut; 
  7. Kondisi pencemaran ( sangat penting untuk dibersihkan segera atau dapat ditunda) 

Proses remediasi tanah dapat dilakukan secara in-situ (di lokasi) atau ex-situ (diluar lokasi). Remediasi in-situ terdiri atas pembersihan, injeksi (venting), dan bioremediasi. Pembersihan di lokasi lebih muda dan lebih murah. Sementara itu remediasi ex-situ meliputi penggalian tanah yang tercemar untuk kemudian dibawa kedaerah yang aman guan dibersihkan dari zat pencemar,. Caranya, tanah yang tercemar disimpan di dalam tangki atau bak yang kedap. Kemudian zat pembersih dipompakan ke dalam tangki atau bak tersebut. Selanjutnya zat pencemar dipompakan keluar dari tangki atau bak untuk diolah dengan instlasi pengolah air limbah. Remediasi ex-itu ini jauh lebih mahal dan rumit.

Proses remediasi dapat menggunakan bantuan mikroorganisme hidup. Hal ini disebut bioremediasi bertujuan untuk memecah atau mendegradasi zat pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun (karbodioksida dan air). Organism yang sering digunakan untuk bioremeiasi umumnya dari kelompok mikroorganisme, seperti jamur dan bakteri. Tanaman juga dapat digunakan untuk menghilangkan atau mengubah zat-zat pencemar menjadi zat-zat yang tidak berbahaya. Penggunaan tanaman untuk proses remediasi dinamakan fitoremediasi.

B. Perubahan Lingkungan
Dapat dipastikan bahwa dari waktu ke waktu hampir semua lingkungan telah mengalami perubahan. Perubahan lingkungan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan. Perubahan yang terjadi pada lingkungan hidup manusia dapat menyababkan gangguan terhadap keseimbangan lingkungan. Gangguan itu timbul karena sebagian komponen lingkungan menjadi kurang fungsinya. Perubahan lingkungan dapat disebabkan oleh banyak hal yang secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu factor kesengajaan manusia dan factor alami. Baik perubahan karena factor manusia maupun karena factor alam sama – sama menimbulkan dampak yang harus di tanggung manusia.

1. Perubahan Lingkungan karena Faktor Manusia
Aktivitas manusia untuk selalu memenuhi kebutuhan hidup dan meningkatkan kesejathraannya telah memberikan kontribusi bagi terjadinya berbagai perubahan lingkungan. Banyak, sekali aktivitas atau kegiatan manusia yang dapat menyebabkan perubahan lingkungan, misalnya penebangan hutan, penambangan , pembangunan perumahan, dan penerapan intensifikasi pertanian. Sering kali, manusia tidak menyadari bahwa kegiatan – kegiatannya yang bermaksud baik dan tidak mengganggu lingkungan pada akhirnya dapat merusak lingkungan. Contohnya, penggunaan pupuk buatan dan penyemprotan pestisida untuk meningkatkan produksi pertanian pada akhirnya malah mencemari lingkungan.

a. Penebangan Hutan
Penebangan atau penggundulan hutan, apalagi yang dilakukan secara liar, akan merusak ekosistem hutan dan mengurangi fungsi hutan sebagai penahan dan penyimpan air serta pemelihara tanah. Akibatnya, daya dukung hutan menjadi berkurang. Pengundulan hutan dapat menyebabkan terjadinya erosi tanah dan banjir di musim hujan, sedangkan di musim kemarau akan menyebabkan kekurangan air. Penebangan hutan memunculkan akibat lain, yaitu semakin sempitnya habitat berbagai satwa hutan seperti gajah, harimau, babi hutan, dan ular sehingga mereka mencari makanan mereka di pemukiman manusia. Selain itu, musnahnya hutan juga menyebabkan hilangnya berbagai plasma nutfah yang berharga.

b. Penambangan Liar
Kegiatan penambangan, apalagi dilakukan secara liar, dapat menyebabkan rusaknya ekosistem asal, khususnya yang terletak di atas lokasi tambang. Penembangan biasanya menyisakan lubang-lubang bekas galian atau limbah. Perubahan topografi ini dapat menyebabkan banjir atau tanah longsor. Selain itu, lahan bekas tempat penambangan liar sering kali menjadi tandus dan tidak dapat ditanami karena lapisan humusnya terkikis serta kadang mengandung zat – zat kimia yang berbahaya.

c. Pembangunan Perumahan
Makin banyaknya jumlah populasi menuntut tersedianya tempat tinggal yang makin banyak pula. Itu berarti makin banyak lahan yang diguankan untuk membangun perumahan. Sekarang ini di mana-man di bangun perubahan baru. Tidak jarang, lahan yang di jadikan perumahan daerah – daerah subur yang seharusnya digunakan sebagai lahan pertanian untuk mencukupi kebutuha pangan. Dengan makin padatnaya populasi manusia, lahan yang semula produktif menjadi langka. Tanah terbuka makin jarang karena banyak yang ditutup oleh aspal, semen beton, ataupun rumah. Jumlah pohon pun berkurang. Aibatnya, ketika musim hujan sering terjadi banjir dan pada siang hari udara menjadi sangat panas.

d. Penerapan Intensifikasi Pertanian
Penerapan intensifikasi pertanian memang diakui dapat meningkatkan produksi pangan, tetapi juga memiliki dampak yang merugikan. Sebagai contoh, penggunaan pupuk pestisida yang tidak tepat dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. Pembukaan lahan pertanian pada dasarnya menghilangkan banyak tumbuhan liar dan menggantikannya dengan hanya suatu jenis tanaman, misalnya padi, gandum, atau jangung. Penanaman satu jenis tanaman unggul tertentu dalam suatu lahan, di kenal dengan nama pertanian monokultur, yang dapat mengurangi keanekaragaman mahluk hidup sehingga keseimbangan ekosistem menjadi sangat rentan atau tidak stabil. Hal itu dapat menyebabkan terjadinya ledakan hama. Tekanan yang berlebihan terhadap lahan akibat, misalnya intensifikasi pertanian, pengembalaan berlebihan (overgrassing), pengundulan hutan, dan penambangan, dapat menyebabkan meluasnya lahan kritis. Dalam jangka waktu yang panjang, lahan – lahan kritis dapat mengarah ke proses terbentuknya gurun (Penggurunan atau desertification).

2. Perubahan Lingkungan karena Faktor Alam 
Lingkungan di bumi yang kita tempati ini sebenarnya selalu berubah. Pada awal pembentukannya, lingkungan di bumi sangat panas sehingga tidak ada satu pun bentuk kehidupan yang mampu hidup. Namun, dalam jangka waktu yang sangat lama secara berangsur-angsur lingkungan berubah menjadi lingkungan yang memugkinkan adanya bentu-bentuk kehidupan. Perubahan lingkungan itu dapat terjadi karena adanya factor – factor alam. Beberapa factor alam yang diketahui dapat merubah lingkungan, antara lain bencana alam seperti, gunung meletus, gempa bumi, gelombang tsunami, tanah longsor, banjir, angin rebut, ataupun kebakaran hutan. Manusia tidak akan mampu mencegah factor-faktor alam tersebut. 

Bencana alam seperti kebakaran hutan, selain menyebabkan kerusakan hutan dan mengganggu fungsi hutan, juga menyebabkan matinya berbagai organism yang hidup pada lahan tersebut. Letusan gunung api menyebabkan kerusakan lingkungan atau bahkan memusnahkan ekosistem seperti yang terjadi pada waktu Krakatau meletus. Dampak perubahan lingkungan dapat dirasakan baik secara local maupun global

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun beberapa kesimpulan yang dapat di tarik antara lai sebagai berikut : 
  1. Pencemaran (polusi) lingkungan merupakan masuknya bahan – bahan pencemar (polutan) ke dalam lingkungan hidup manusia sehingga menyebabkan perubahan atau turunnya kualitas lingkungan. Pencemaran lingkungan meliputi. Pencemaran air, udara, dan tanah. 
  2. Pencemaran air merupakan masalah serius yang di hadapi umat manusia dewasa ini. Bahan – bahan pencemar yang masuk ke dalam air, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat berupa limabah rumah tangga maupun limbah pertanian. 
  3. Pencemaran udara dapat menyebabkan gangguan langsung pada kesehatan manusia disamping itu, pencemaran udara juga menyebabkan berbagai masalah serius, antara lain hujan asam, perusakan lapisan ozon, perubahan iklim, dan pemanasan global. 
  4. Pencemaran tanah adalah suatu dampak lingkkungan rumah tangga, industry, dan penggunaan pestisida yang berlebihan pada tanah. Bahan yang dapat mencemari tanah, antara lain sampah, khusunya yang tidak dapat terdegradasi, limbah industry, limbah runah tangga dan bahan kimia. 
  5. Remediasi merupakan upaya untuk memulihkan atau membersihkan tanah dari bahan – bahan pencemar. Remediasi dengan menggunakan mahluk hidup disebut bioremediasi. 
  6. Perubahan yang terjadi pada lingkungan manusia dapat menyebabkan gangguan terhadap keseimbangan lingkungan karena sebagian komponen lingkungan menjadi berkurang funsinya. Perubahan lingkungan dapat disebabkan oleh banyak hal yang secara garis besar dapat di bedakan menjadi dua, yaitu karena factor kesengajaan manusia dan factor alam. 

DAFTAR PUSTAKA
Amos, Janine. 2001. Seri Mengenal Ilmu: polusi. London : Groiler Internasional Inc

Lansford, Henry.1999. “ Pencemaran Lingkungan” dalam Ilmu Pengetahuan Populer: Jilid 4. Edisi Ketujuh. Jakarta: PT Widyadara.

Prawiro, R. H. 1988. Ekologi Lingkungan Pencemaran. Cetakan Keempat. Semarang : Satyawacana

Resosoedarmo, S. 1993. Pengantar Ekologi. Cetakan Kesembilan. Bandung: PT remaja Rosdakarya

Witoelar, Erna. 1990. “ Pencemaran” dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia: Jilid 12. Cetakan Pertama. Jakarta: PT Cipta Adi Pustaka

MAKALAH POLUSI

MAKALAH POLUSI
MAKALAH EKOLOGI TANAMAN
( Polusi )
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam proses pasti dihasilkan limbah. Limbah adalah bahan buangan yang dihasilkan dari suatu produksi, baik industry maupun domestic (rumah tangga), yang kehadirannya pada waktudan tempat tertentu tidak dikendaki lingkungan. Dalam konsentrasi dan jumlah tertentu, kehadiran limbah dapat berdampak negative terhadap lingkungan karena dapat menimbulkan pencemaran lingkungan.

Menurut Undang – Undang Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup NO. 4 Tahun 1982, Polusi atau pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat energy, dan /atau komponen lain kedalam lingkungan atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya.

Turunnya kualitas lingkungan tampak dari melemahnya fungsi atau menjadi kurang dan tidak sesuai lagi dengan kegunaannya, berkurangnya pertumbuhan, serta menurunnya kemampuan produksi. Pada akhirnya ada kemungkinan terjadinya kematian pada organism yang hidup dalam lingkungan tersebut.

Segala sesuatu yang dapat menimbulkan pencemaran dinamakan Bahan pencemar atau polutan. Syarat-syarat suatu zat atau bahan dapat disebut polutan adalah jika keberadaannya dapat merugikan makhluk hidup karena jumlahnya melebihi batas normal, berada pada waktu yang tidak tepat, atau berada pada tempat yang tidak tepat. 

B. Tujuan dan Kegunaam
Tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu untuk mengetahui pencemaran atau polusi yang terjadi di sekitar kita. Serta dampak kepada manusia. 

Manfaat dari pembuatan makalah ini yaitu sebagai bahan bacaan bagi saya sebagai mahasiswa. Dapat mengetahui berbagai pencemaran serta dampak yang ditimbulkan kepada manusia. 

C. Rumusan Masalah
  1. Apa itu pencemaran lingkungan? 
  2. Bahan – bahan apa sajakah yang dapat menyebabkan pencemaran air udara dan tanah? 
  3. Apa itu remediasi? 
  4. Apa yang menyebabkan perubahan lingkungan berubah? 

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pencemaran Lingkungan
1) Macam – Macam Bahan Pencemar
Berdasarkan sifatnya, bahan pencemar atau polutan dibedakan menjadi dua macam, yaitu bahan pencemar yang dapat terdegradasi atau diuraikan (Biodegradable) dan bahan pencemar yang tidak dapat terdegradasi (nonbiodegradable).

1. Bahan Pencemar yang terdegradasi (Biodegradable)
Bahan – bahan pencemar yang dapat terdegradasi memiliki struktur kimia yang sederhana sehingga dapat didegradasi, didekomposisi, dihilangkan, atau dirombak, baik melalui proses alam maupun melalui system rekayasa manusia sehingga bersifat tidak mencemari. Bahan pencemar yang terdegradasi terbagi menjadi dua kategori, yaitu yang terdegradasi secara cepat dan yang terdegradasi secara lambat.

a. Bahan pencemar yang terdegradasi secara cepat
Bahan –bahan pencemar yang termasuk kategori ini bersifat nonpersisten ( tidak terus- menerus) dan umunya dapat terdekomposisi lebih cepat, contohnya limbah manusia, limbah hewan, dan limbah perkebunan. Limbah adalah bahan sisa pada suatu kegiatan dan / atau proses produksi.

b. Bahan Pencemar yang terdegradasi secara lambat
Pencemar yang terdegradasi secara lambat bersifat persisten dan umumnya terdekomposisi secara lambat, tetapi pada akhirnya dapat terpecah secara sempurna dan menjadi tidak berbahaya. Bahan – bahan Radioaktif dan senyawa – senyawa sintesis, seperti DDT ( dikloro difenil trikloroetana) umumnya termasuk pencemar kategori ini karena proses alam tidak mampu memecahnya (secara cepat). Sebagai contoh, DDT memerlukan waktu empat tahun untuk dapat terpecah sebanyak 25%.

2. Bahan pencemar yang tidak terdegradasi (Nonbiodegradakle)
Pencemar yang tidak terdegradasi adalah senyawa yang tidak terpecah atau terdekomposisi melalui prose salami, contohnya merkuri, timbal serta senyawanya, aluminium dan plastic. Sama halnya dengan pencemar yang terdegradasi secara lambat, pencemar yang tidak terdegradasi harus dihindari keberadaannya dalam lingkungan, baik di udara, air, maupun ditanah, juga harus dijaga agar selalu berada pada tingkatyang tidak membahayakan.

Pada saat ini, pencemaran lingkungan berlangsung atau terjadi dimana-mana dengan laju yang sangat cepat. Beban pencemaran lingkungan makin berat dengan masuknya berbagai bahan kimia, termasuk logam berat. Dari limbah industry.

2) Macam – Macam Pencemaran Lingkungan
Berbagai bahan pencemar telah memasuki lingkungan hidup manusia sehingga menyebabkan perubahan kualitas lingkungan. Menurut tempat terjadinya, pencemaran dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu pencemaran air, udara, dan tanah. Adapun tingkat kebisingan yang mengganggu disebut pencemaran suara. Pencemaran atau polusi suara disebabkan, antara lain oleh suara bising kenderaan bermotor, pesawat terbang, kereta api, mesin pabrik dan radio yang berbunyi keras sehingga mengganggu pendengaran.

a. Pencemaraan air
Umumnya sungai – sungai yang terdapat di pengunungan atau peesaan masih alami sehingga airnya masih jernih. Sebaliknya sungai-sungai di perkotaan umumnya sudah keruh atau berwarna kehitaman karena sudah tercemar berbagai bahan buangan atau limbah sisa-sisa aktivitas manusia.

Pencemaran air merupakan peristiwa msuknya bahan – bahan berbahaya, merugikan, atau tidak disukai dalam air dengan konsentrasi atau jumlah yang( secara langsung atau kumulatif) cukup besar untuk dapat merugikan atau mempengaruhi kegunaan atau kualitas air. Ada banyak sekali bahan yang dapat menyebabkan pencemaran air, yang secara garis besar, menurut sifat dan bahannya, dapat dikelompokkan menjadi bahan anorganik dan bahan organic. Yang termasuk bahan – bahan anorganik, antara lain tumpahan minyak ( baik mentah maupun diproses) dari kapal tanker, limbah pabrik, limbah pertambangan, pupuk dan pestisida. Adapun yang termasuk bahan – bahan organic, antara lain limbah rumah tangga dan bahan – bahan buangan dari rumah pemotongan hewan.

Pencemaran air dapat terjadi secara langsung dan secara tidak langsung. Pencemaran air secara langsung terutama disebabkan oleh buangan dari kegiatan industry, pertanian dan rumah tangga. Sementara itu, pencemaran air secara tidak langsung terjadi karena adanya rembesan Zat – zat kimia beracun dan berbahaya dari timbunan limbah industry, pertanian, dan rumah tangga kedalam perairan terbuka (sungai, laut, saluran air, danau, waduk, dan sumur) serta air dalam tanah.

Buangan industry, pertanian, dan rumah tanggadapat mencemari air,ada beberapa factor yang menyebabkan hal itu terjadi , antara lain:
  1. Dalam komposisi kimianya terdapat zat – zat berbahaya, seperti logam berat dan bakteri yang dapat mengganggu kesehatan; 
  2. Suhu ataupun derajat keasamannya (pH) dapat mematikan organism – organism yang hidup di perairan; 
  3. Kemampuannya untuk menyerap oksigen dari air (BOD atau biochemical oxygen dwmand) sanga besar sehingga organism – organism yang hidup di perairan menjadi kekurangan oksigen dan akhirnya mati; 
  4. Dalam keadaan ekstrem, mengandung limbah nuklir dengan bahaya radioaktifnya. 

Sering kali, air yang kita gunakan untuk meminum terkontaminasi oleh bakteri yang berasal dari tanah maupun feses hewan, dan manusia kebanyakan bakteri yang mencemari air minum adalah bakteri – bakteri yang hidup di usus sehingga ( salmonella typhy) dan kolera (Vibrio cholera). Salah satu bakteri yang sering mencemari air minum adalah bakteri Escherichia coli. Air minum yang mengandung E. coli merupakan indicator bahwa air tersebut telah tercemar oleh feses hewan ataupun air limbah. Walaupun E. coli tidak terlalu berbahaya, kehadirannya dalam air minum mengindikasikan adanya bakteri – bakteri usus lainnya yang lebih berbahaya. 

Limbah yang berasal dari pertanian, contohnya sisa –sisa pupuk, umumnya banyak mengandung ion – ion anorganik, misalnya ion nitrat (NO3-). Adapun limbah rumah tangga dan industry yang berasal dari penggunaan deterjen banyak mengandung ion-ion fosfat (PO43-). Kedua ion tersebut jika terakumulasi di atas tingkat tertentu dalam perairan menyebabkan air dari perairan tersebut tidak layak dikonsumsi sebagai air minum. Apabila dikonsumsi, air yang mengandung ion-ion fosfat dan nitrat tersebut dapat menyebabkan kanker lambung dan mempengaruhi fungsi hemoglobin dalam mengikat oksigen. Di dalam tubuh, ion- ion nitrat dapat berikatan dengan hemoglobin membentuk metamoglobin. Metamoglobin dapat menyebabkan sisi aktif hemoglobin untuk mengikat oksigen menjadi tidak aktif.

Akibat lain kelebihan ion-ion nitrat dan fosfat dalam perairan tawar adalah peningkatan proses euotrofikasi, yaitu peningkatan nutrisi atau zat – zat makanan untuk pertumbuhan tanaman air. Sesungguhnya eutrofikasi merupakan proses alamiah yang terjadi di sungai, kolam atau danau, tetapi prose situ berlangsung dengan lambat. Namun, dengan adanya penumpukan ion-ion nitrat dan fosfat yang berasal dari limbah, proses eutrofikasi mengalami peningkatan. Artinya , terjadi penumpukan zat – zat makanan bagi tumbuhan. Hal tersebut menyebabkan terjadinya ledakan pertumbuhan tanaman air, seperti eceng gondok (Eichhornia crassipes) dan ganggang. Ledakan pertumbuhan ganggang itu dinamakan algae blooming. Ketika mati, tanaman- tanman air itu dibusukkan oleh bakteri saprotrof aerob. Karena jumlah tanaman air sangat banyak, proses pembusukan memerlukan banyak oksigen. Akibatnya, perairan mengalami deoksigenasi, yaitu penurunan kandungan oksigen. Selanjutnya, terjadi pembusukan anaerob dan terbentuk hydrogen sulfide (H2S). ketiadaan oksigen dan kehadiran hydrogen sulfide menyebabkan kematian organism – organism air lainnya, termasuk ikan. Eutrofikasi dipercepat oleh aktivitas manusia yang membuang terlalu banyak kotoran atau limbah kedalam perairan. Eutrofikasi dapat kita minimalkan dengan cara:
  1. Menggunakan deterjen dengan kandungan fosfat yang rendah untuk mencuci; 
  2. Menggunakan pupuk tanaman yang tidak mudah larut. 

Tingkat pencemaran air sering kali dinyatakan dalam biochemical oxygen demand (BOD). BOD merupakan jumlah oksigen yang digunakan mikroorganisme dalam air untuk mengoksidasi senyawa organic menjadi molekul anorganik sederhana pada waktu tertentu. Makin tinggi nilai BOD suatu perairan, makin tercemar perairan tersebut.

b. Pencemaran Udara
Udara merupakan sumber daya yang sangat penting bagi manusia dan mahluk hidup lainnnya. Jika tidak ada udara, pasti tidak ada kehidupan di muka bumi ini. Manusia dan organism lainnya mungkin mampu bertahan hidup tanpa makan selama beberapa hari, tetapi tidak akan tahan untuk tidak bernafas selama beberapa menit saja. Manusia memerlukan udara yang bersih untuk hidupnya, yaitu yang mengandung oksigen dan tidak tercemar. Jika tercemar oleh bahan bahaya dan beracun, udara yang kita hirup dapat menyebabkan masalah serius pada kesehatan kita, bahkan dapat menyebabkan kematian.

Udara dibutuhkan oleh semua makhluk hidup tersusun atas berbagai macam – macam gas. Bermacam – macam gas yang menyusun udara beserta volumenya tercantum sebagai berikut:
MAKALAH POLUSI

Udara dikatakan murni jika komposisinya seperti yang tercantum dalam tabel diatas. Sebaliknya, udara dikatakan tercemar jika tercampuri zat-zat pencemar atau polutan dalam konsentrasi tinggi sehingga menimbulkan gangguan bagi mahkluk hidup yang menghisapnya. Jadi, meskipun udara tercampuri gas asing yang tidak biasa terdapat di udara, jika tidak menimbulkan kerugian bagi lingkungan dan kehidupan, gas itu dikatakan tidak menimbulkan pencemaran (walaupun tetap disebut polutan). Kandungan karbondioksida di udara hanya 0,03%, tetapi apabila kadarnya mencapai 10%, akan menimbulkan pencemaran udara dan bersifat racun bagi banyak bentuk kehidupan.

Dibandingkan dengan pencemaran air, pencemaran udara lebih sulit dideteksi sehingga pencemaran udara lebih berbahaya. Karena tidak terlihat oleh mata, pencemaran udara dapat mengancam kehidupan manusia ataupun makhluk hidup lainnya. Masalah serius yang dapat diakibatkan oleh pencemaran udara, antara lain dapat menybabkan gangguan kesehatan serius, seperti sesak napas dan kanker, menyebabkan hujan asam , merusak lapisan ozon yang melindungi bumi dari radiasi ultra violet, serta dapat menyebabkan perubahan iklim dunia.

Pabrik – pabrik dan semua kenderaan bermotor mengeluarkan bahan – bahan beracun yang dapat mencemari udara. Pabri – pabrik menghasilkan asap dan sulfur dioksida, sedangkan kenderaan bermotor menghasilkan senyawa karbon monoksida (CO) dan oksida nitrogen (NO2 dan NO) yang membentuk kabut asap. Berikut adalah beberapa pencemar yang sering kali mencemari udara, antara lain asap, sulfur dioksida dan oksida nitrogen, kabut asap. Karbon monoksida dan klorofluorokarbon.

1) Asap
Asap terutama tersusun atas partikel – partikel kecil karbon (C) dan tar yang berasal dari pembakaran batu bara di pusat – pusat pembangkit tenaga listrik atau rumah- rumah. Di dalam tar mengandung bahan – bahan kimia penyebab kanker ( karsinogen). Partikel – partikel karbon yang tertinggal dapat menghitamkan bangunan dan daun – daun tumbuhan. Tumbuhan yang daun – daunnya tertutup jelaga hitam tidak dapat melakukan fotosintesis dengan baik. Asap di udara juga mengurangi jumlah sinar matahari yang mencapai bumi.

2) Partikulat
Gas – gas buangan kenderaan bermotor ( terutama yang bermesin diesl) mengandung partikel – partikel mikroskopis yang dilapisi hydrocarbon. Partikel – partikel tersebut berdiameter kurang dari 10 atau 2,5 mikrometer. Partikel – partikel itu diduga menyebabkan 10.000 kematian per tahun, khususnya orang – orang yang menderita penyakit paru – paru kronis seperti efisema dan bronchitis.

3) Sulfur Dioksida dan Oksida Nitrogen
Batu bara dan minyak bumi mengandung sulfur (belerang). Jika dibakar, bahan bakar tersebut melepaskan sulfur dioksida ke udara, ketika turun hujan, sulfur dioksida itu larut dalam air hujan dan membentuk asam sulfat (H2SO4). Cahaya matahari meningkatkan kecepatan reaksi tersebut. Asam dan air hujan itu jatuh ke bumi sebagai hujan asam. Jika jatuh mengenai bangunan atau patung, hujan asam dapat melarutkan kapur dan semen yang terdapat pada patung ataupun dinding bangunan. Jika mengenai tumbuhan, hujan asam dapat menghambat pertumbuhan dan merusak daun-daunnya. Hujan asam yang jatuh ke tanah merusak akar – akar tumbuhan dan melarutkan mineral – mineral penting, contohnya garam – garam aluminium. Garam – garam alminium yang larut terbawa air hujan ke badan – badan air, misalnya sungai dan danau. Di dalam sungai dan danau, garam – garam aluminium terakumulasi hingga mencapai tingkat beracun yang dapat membunuh ikan – ikan. Hujan asam telah terjadi selama bertahun-tahun dan makin parah. Hutan – hutan di Jerman, Amerika Utara, Skandinavia, dan Skotlandia mengalami kerusakan akibat hujan asam.

Oksigen nitrogen yang di hasilkan oleh stasiun – stasiun pembangkit listrik, penyulingan minyak, dan buangan gas- gas kenderaan bermotor juga menyebabkan polusi udara dan hujan asam. Oksigen nitrogen larut dalam air hujan membentuk asam nitrit (HNO2). Asam nitrit bereaksi dengan ozon (O3) membentuk asam nitrat (HNO3). Akibatnya, lapisan ozon di atmosper menjadi menipis. Pada lapisan ozon sangat diperlukan sebagai pelindung bumi dari radiasi gelombang pendek matahari. Reaksi antara ozon dan oksida nitrogen diduga yang paling bertanggung jawab sebagai penyebab kerusakan pohon di hutan.

Walaupun dalam keadaan udara tidak tercemar secara alami hujan bersifat asam lemah karena merupakan larutan asam karbonat (H2CO3) yang membentuk ketika air hujan memilki pH 5,4, sedangkan air huajn yang tercemar gas – gas memiliki pH 4 – 4,5 . makin rendah pH air hujan, makin berat dampaknya bagi mahluk hidup. 

4) Smog
Smog adalah asap dan partikulat mikroskopis yang melayang di atmosper sehingga menghalangi pancaran sinar matahari ke bumi. Fenomena ini biasa terjadi di daerah industry dan kota – kota besar. Smog mengiritasi mata dan paru – paru, serta merusak tumbuhan. Smog terbentuk ketika cahaya matahari dan ozon di udara bereaksi dengan oksida nitrogen serta hidrokarbon ( yang tidak terbakar) dari gas buangan kenderaan bermotor.

5) Karbon Monoksida
Gas ini juga di hasilkan oleh gas buangan mobil dan truk. Jika terhirup, karbon monoksida berikatan dengan hemoglobin dalam darah membentuk senyawa yang stabil , yaitu karboksihemoglobin (HbCO). Pembentukan karboksihemoglobin itu mengurangi kemampuan darah mengikat/membawa oksigen. Hal itu tentu saja berbahaya terutama bagi orang – orang yang berpenyakit jantung ataupun anemia. Seorang perokok menhirup karbondioksida dari rokok lebih banyak dibandingkan dengan di udara.

6) Klorofluorokarbon (CFC)
Klorofluorokarbon adalah gas-gas yang digunakan sebagai pending dalam lemari es, bahan pendorong dalam kaleng aerosol (aerosol propellant), dan sebagai pembentuk gelembung pada plastic busa. Klorofluorokarbon sangat stabil dan terakumulasi di udara dan untuk selanjutnya bereaksi dengan ozon.

Bersama dengan hidroklorofluorokarbon (HCFC), halon ,metal bromide, karbon tetraklorida, dan metilkloroform, kloroflorokarbon dikenal sebaga bahan – bahan perusak ozon

7) Karbon dioksida (CO2)
Sesungguhnya gas karbon dioksida bukanlah gas yang beracun, bahkan dibutuhkan oleh tumbuhan untuk proses fotosintesis. Namun kalau jumlahnya terlalu banyak, dapat mengganggu pernapasan dan menimbulkan pencemaran udara. 

Gas karbon dioksida yang ada di udara selain berasal dari beberapa proses alam, seperti respirasi mahluk hidup, dekomposisi bahan – bahan organic, fermentasi, pelapukan batuan, dan pengaruh magma di bawah permukaan tanah, juga berasal dari pembakaran – pembakaran yang dilakukan manusia, contohnya pembakaran bahan fosil ( batu bara dan minyak bumi). Konsentrasi carbon dioksida di udara hanya 0,03%. Namun, karena pada saat ini banyak terjadi pembakaran bahan bakar fosil untuk industry, kenderaan bermotor, dan untuk keperluan rumah tangga, konsentrasi karbondioksida ( umumnya di dalam kota) menjadi melebihi ambang batas normal. Peningkatan itu terutama terjadi sejak di mulainya Revolusi industry di Inggris pada tahun 1860. 

Selain mengganggu pernapasan, peningkatan konsentrasi karbon dioksida juga meningkatkan suhu dipermukaan bumi. Permukaan bumi menerima dan menyerap energy panas dari matahari. Selanjutnya bumi memantulkan kembali sebagian panas tersebut ke angkasa. Radiasi matahari, terutama dalam bentuk energy gelombang pendek, masuk ke atmosfir bumi dengan muudah. Energy panas matahari yang dipantulkan kembali dari bumi merupakan energy gelombang panjang (inframerah) yang sebagian besar di serap oleh atmospir bumi,yaitu oleh uap air (H2O) dan gas karbondioksida

3) Pencemaran Tanah
Tanah merupakan substansi yang ikut menyusun kerak bumi. Mineral – mineral yang terkandung dalam tanah menjadi sumber kehidupan bagi tumbuh – tumbuhan. Selanjutnya, organism – organism lain, termasuk manusia, kehidupannya bergantung pada tumbuhan. 

Seperti halnya air dan udara, tanah juga dapat mengalami pencemaran. Yang dimaksud dengan pencemaran tanah adalah suatu dampak limbah rumah tangga, industry, dan penggunaan pestisida yang berlebihan pada tanah. Bentuknya meliputi menurunnya estetika tanah dan kegunaannya bagi pertanian serta meningkatnya kandungan zat kimia beracun dan berbahaya di dalamnya. Pencemaran tanah dapat terjadi karena adanya sampah – sampah organic atau sampah – sampah anorganik, tertuangnya pestisida dalam dosis yang berlebihan, tumpahan minyak dan merembesnya zat – zat kimia berbahaya dari tempat penampungan limbah industry ataupun rumah tangga ke lapisan permukaan tanah.

Sampah – sampah organic, seperti kulit buah, daun – daun, jaringan hewan, dan kertas dapat dihancurkan oleh mikroorganisme tanah (decomposer) menjadi mineral, gas, dan air sehingga terbentuklah humus. Bahan – bahan buangan yang tidak mudah atau tidak dapat diuraikan oleh decomposer misalnya, besi, plastic, kaleng, kaca dan alminium digolongkan sebagai sampah norganik. Agar tidak mencemari tanah, sampah – sampah tersebut harus di daur ulang.

Pestisida adalah substansi yang digunakan untuk mengontrol organism yang mengganggu tanaman pertanian ataupun organism yang terlibat dalam penyebaran penyakit. Pestisida merupakan biosida ( bahan kimia yang di ciptakan untuk membunuh organisme). Ada sekitar 500 jenis pestisida yang diklasifikasi berdasarkan kelompok organisme yang dibunuh/ dikendalikannya, antara lain insektisida (serangga), herbisida ( tumbuhan), fungisida (fungi atau jamur), nematosida (nematoda), dan rodentisida (rodensia). Penggunaan pestisida tanpa perencanaan dan perhitungan yang baik dapat mencemari tanah dan akhirnya mematikan organisme tanah yang dapat menyuburkan tanah ( kelompok non target), misalnya cacing tanah. Hal sama juga akan terjadi jika zat – zat kimia yang berbagai dari limbah industry merembes ke tanah

Upaya untuk memulihkan atau membersihkan tanah dari bahan pencemar di kenal dengan istilah remediasi. Remediasi merupakan kegiatan yang tidak mudah sehingga untuk melakukannya perlu diketahui beberapa hal, di antaranya:
  1. Jenis pencemar (bahan organic atau organic, terdegradasi atau tidak dan berbahya atau tidak); 
  2. Jumlah zat pencemar yang telah mencemari tanah tersebut; 
  3. Perbandingan unsure karbon, nitrogen, dan fosfor di dalam tanah; 
  4. Jenis tanah; 
  5. Kondisi tanah (basah atau kering); 
  6. Telah berapa lama zat pencemar telah terendafkan di lokasi tersebut; 
  7. Kondisi pencemaran ( sangat penting untuk dibersihkan segera atau dapat ditunda) 

Proses remediasi tanah dapat dilakukan secara in-situ (di lokasi) atau ex-situ (diluar lokasi). Remediasi in-situ terdiri atas pembersihan, injeksi (venting), dan bioremediasi. Pembersihan di lokasi lebih muda dan lebih murah. Sementara itu remediasi ex-situ meliputi penggalian tanah yang tercemar untuk kemudian dibawa kedaerah yang aman guan dibersihkan dari zat pencemar,. Caranya, tanah yang tercemar disimpan di dalam tangki atau bak yang kedap. Kemudian zat pembersih dipompakan ke dalam tangki atau bak tersebut. Selanjutnya zat pencemar dipompakan keluar dari tangki atau bak untuk diolah dengan instlasi pengolah air limbah. Remediasi ex-itu ini jauh lebih mahal dan rumit.

Proses remediasi dapat menggunakan bantuan mikroorganisme hidup. Hal ini disebut bioremediasi bertujuan untuk memecah atau mendegradasi zat pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun (karbodioksida dan air). Organism yang sering digunakan untuk bioremeiasi umumnya dari kelompok mikroorganisme, seperti jamur dan bakteri. Tanaman juga dapat digunakan untuk menghilangkan atau mengubah zat-zat pencemar menjadi zat-zat yang tidak berbahaya. Penggunaan tanaman untuk proses remediasi dinamakan fitoremediasi.

B. Perubahan Lingkungan
Dapat dipastikan bahwa dari waktu ke waktu hampir semua lingkungan telah mengalami perubahan. Perubahan lingkungan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan. Perubahan yang terjadi pada lingkungan hidup manusia dapat menyababkan gangguan terhadap keseimbangan lingkungan. Gangguan itu timbul karena sebagian komponen lingkungan menjadi kurang fungsinya. Perubahan lingkungan dapat disebabkan oleh banyak hal yang secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu factor kesengajaan manusia dan factor alami. Baik perubahan karena factor manusia maupun karena factor alam sama – sama menimbulkan dampak yang harus di tanggung manusia.

1. Perubahan Lingkungan karena Faktor Manusia
Aktivitas manusia untuk selalu memenuhi kebutuhan hidup dan meningkatkan kesejathraannya telah memberikan kontribusi bagi terjadinya berbagai perubahan lingkungan. Banyak, sekali aktivitas atau kegiatan manusia yang dapat menyebabkan perubahan lingkungan, misalnya penebangan hutan, penambangan , pembangunan perumahan, dan penerapan intensifikasi pertanian. Sering kali, manusia tidak menyadari bahwa kegiatan – kegiatannya yang bermaksud baik dan tidak mengganggu lingkungan pada akhirnya dapat merusak lingkungan. Contohnya, penggunaan pupuk buatan dan penyemprotan pestisida untuk meningkatkan produksi pertanian pada akhirnya malah mencemari lingkungan.

a. Penebangan Hutan
Penebangan atau penggundulan hutan, apalagi yang dilakukan secara liar, akan merusak ekosistem hutan dan mengurangi fungsi hutan sebagai penahan dan penyimpan air serta pemelihara tanah. Akibatnya, daya dukung hutan menjadi berkurang. Pengundulan hutan dapat menyebabkan terjadinya erosi tanah dan banjir di musim hujan, sedangkan di musim kemarau akan menyebabkan kekurangan air. Penebangan hutan memunculkan akibat lain, yaitu semakin sempitnya habitat berbagai satwa hutan seperti gajah, harimau, babi hutan, dan ular sehingga mereka mencari makanan mereka di pemukiman manusia. Selain itu, musnahnya hutan juga menyebabkan hilangnya berbagai plasma nutfah yang berharga.

b. Penambangan Liar
Kegiatan penambangan, apalagi dilakukan secara liar, dapat menyebabkan rusaknya ekosistem asal, khususnya yang terletak di atas lokasi tambang. Penembangan biasanya menyisakan lubang-lubang bekas galian atau limbah. Perubahan topografi ini dapat menyebabkan banjir atau tanah longsor. Selain itu, lahan bekas tempat penambangan liar sering kali menjadi tandus dan tidak dapat ditanami karena lapisan humusnya terkikis serta kadang mengandung zat – zat kimia yang berbahaya.

c. Pembangunan Perumahan
Makin banyaknya jumlah populasi menuntut tersedianya tempat tinggal yang makin banyak pula. Itu berarti makin banyak lahan yang diguankan untuk membangun perumahan. Sekarang ini di mana-man di bangun perubahan baru. Tidak jarang, lahan yang di jadikan perumahan daerah – daerah subur yang seharusnya digunakan sebagai lahan pertanian untuk mencukupi kebutuha pangan. Dengan makin padatnaya populasi manusia, lahan yang semula produktif menjadi langka. Tanah terbuka makin jarang karena banyak yang ditutup oleh aspal, semen beton, ataupun rumah. Jumlah pohon pun berkurang. Aibatnya, ketika musim hujan sering terjadi banjir dan pada siang hari udara menjadi sangat panas.

d. Penerapan Intensifikasi Pertanian
Penerapan intensifikasi pertanian memang diakui dapat meningkatkan produksi pangan, tetapi juga memiliki dampak yang merugikan. Sebagai contoh, penggunaan pupuk pestisida yang tidak tepat dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. Pembukaan lahan pertanian pada dasarnya menghilangkan banyak tumbuhan liar dan menggantikannya dengan hanya suatu jenis tanaman, misalnya padi, gandum, atau jangung. Penanaman satu jenis tanaman unggul tertentu dalam suatu lahan, di kenal dengan nama pertanian monokultur, yang dapat mengurangi keanekaragaman mahluk hidup sehingga keseimbangan ekosistem menjadi sangat rentan atau tidak stabil. Hal itu dapat menyebabkan terjadinya ledakan hama. Tekanan yang berlebihan terhadap lahan akibat, misalnya intensifikasi pertanian, pengembalaan berlebihan (overgrassing), pengundulan hutan, dan penambangan, dapat menyebabkan meluasnya lahan kritis. Dalam jangka waktu yang panjang, lahan – lahan kritis dapat mengarah ke proses terbentuknya gurun (Penggurunan atau desertification).

2. Perubahan Lingkungan karena Faktor Alam 
Lingkungan di bumi yang kita tempati ini sebenarnya selalu berubah. Pada awal pembentukannya, lingkungan di bumi sangat panas sehingga tidak ada satu pun bentuk kehidupan yang mampu hidup. Namun, dalam jangka waktu yang sangat lama secara berangsur-angsur lingkungan berubah menjadi lingkungan yang memugkinkan adanya bentu-bentuk kehidupan. Perubahan lingkungan itu dapat terjadi karena adanya factor – factor alam. Beberapa factor alam yang diketahui dapat merubah lingkungan, antara lain bencana alam seperti, gunung meletus, gempa bumi, gelombang tsunami, tanah longsor, banjir, angin rebut, ataupun kebakaran hutan. Manusia tidak akan mampu mencegah factor-faktor alam tersebut. 

Bencana alam seperti kebakaran hutan, selain menyebabkan kerusakan hutan dan mengganggu fungsi hutan, juga menyebabkan matinya berbagai organism yang hidup pada lahan tersebut. Letusan gunung api menyebabkan kerusakan lingkungan atau bahkan memusnahkan ekosistem seperti yang terjadi pada waktu Krakatau meletus. Dampak perubahan lingkungan dapat dirasakan baik secara local maupun global

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun beberapa kesimpulan yang dapat di tarik antara lai sebagai berikut : 
  1. Pencemaran (polusi) lingkungan merupakan masuknya bahan – bahan pencemar (polutan) ke dalam lingkungan hidup manusia sehingga menyebabkan perubahan atau turunnya kualitas lingkungan. Pencemaran lingkungan meliputi. Pencemaran air, udara, dan tanah. 
  2. Pencemaran air merupakan masalah serius yang di hadapi umat manusia dewasa ini. Bahan – bahan pencemar yang masuk ke dalam air, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat berupa limabah rumah tangga maupun limbah pertanian. 
  3. Pencemaran udara dapat menyebabkan gangguan langsung pada kesehatan manusia disamping itu, pencemaran udara juga menyebabkan berbagai masalah serius, antara lain hujan asam, perusakan lapisan ozon, perubahan iklim, dan pemanasan global. 
  4. Pencemaran tanah adalah suatu dampak lingkkungan rumah tangga, industry, dan penggunaan pestisida yang berlebihan pada tanah. Bahan yang dapat mencemari tanah, antara lain sampah, khusunya yang tidak dapat terdegradasi, limbah industry, limbah runah tangga dan bahan kimia. 
  5. Remediasi merupakan upaya untuk memulihkan atau membersihkan tanah dari bahan – bahan pencemar. Remediasi dengan menggunakan mahluk hidup disebut bioremediasi. 
  6. Perubahan yang terjadi pada lingkungan manusia dapat menyebabkan gangguan terhadap keseimbangan lingkungan karena sebagian komponen lingkungan menjadi berkurang funsinya. Perubahan lingkungan dapat disebabkan oleh banyak hal yang secara garis besar dapat di bedakan menjadi dua, yaitu karena factor kesengajaan manusia dan factor alam. 

DAFTAR PUSTAKA
Amos, Janine. 2001. Seri Mengenal Ilmu: polusi. London : Groiler Internasional Inc

Lansford, Henry.1999. “ Pencemaran Lingkungan” dalam Ilmu Pengetahuan Populer: Jilid 4. Edisi Ketujuh. Jakarta: PT Widyadara.

Prawiro, R. H. 1988. Ekologi Lingkungan Pencemaran. Cetakan Keempat. Semarang : Satyawacana

Resosoedarmo, S. 1993. Pengantar Ekologi. Cetakan Kesembilan. Bandung: PT remaja Rosdakarya

Witoelar, Erna. 1990. “ Pencemaran” dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia: Jilid 12. Cetakan Pertama. Jakarta: PT Cipta Adi Pustaka