MAKALAH SEDIAAN TABLET - ElrinAlria
MAKALAH SEDIAAN TABLET
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Istilah farmakope (PHARMACOPEIA) berasal dari bahasa yunani yaitu pharmacon yang berarti obat dan poein yang berarti buat. Kombinasi kedua kata tersebut bermakna resep atau formula serta standar lain yang dikehendaki untuk membuat atau mempersiapkan, mengelola dan meracik suatu obat. Kata ini pertama kali digunakan pada tahun 1580 dalam suatu buku local yang merupakan standar obat di Bergamo satu daerah di Itali.
MAKALAH SEDIAAN TABLET

Tablet adalah bahan obat dalam bentuk sediaan padat yang biasanya dibuat dengan penambahan bahan tambahan farmasetika yang sesuai. Tablet dapat berbeda dalam ukuran, bentuk, berat, kekerasan, ketebalan, daya hancur, dan dalam aspek lainnya tergantung pada cara pemakaian tablet dan metode pembuatannya. Kebanyakan tablet digunakan pada pemberian obat secara oral atau melalui mulut .

Sediaan tablet merupakan sediaan yang paling banyak diproduksi dan juga banyak mengalami perkembangan dalam formulasinya. Beberapa keuntungan sediaan tablet adalah sediaan lebih kompak, dosisnya tepat, mudah pengemasannya dan penggunaannya lebih praktis dibanding sediaan yang lain .

B. Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk memberikan informasi tentang :
  • a. Pengertian tablet
  • b. Zat dalam pembuatan tablet
  • c. Kriteria yang harus dimiliki tablet
  • d. Keuntungan dari tablet dan kerugiannya

C. Manfaat
Manfaat yang dapat diambil dari penulisan makalah ini yaitu dapat menjadi referensi tambahan bagi kita untuk mengerjakan tugas lain

BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN TABLET
Tablet adalah sedian padat, dibuat secara kempa-cetak berbentuk rata atau cembung rangkap, umumnya bulat, mengandung satu jenis obat, atau lebih dangan atau tanpa zat tambahan yang digunakan dapat berfungsi sebagai zat pengisi, zat pengembang, dan zat pembasah.

Tablet digunakan baik untuk tujuan pengobatan lokal atau sistemik. Pengobatan lokal misalnya : 
  1. tablet untuk vagina, berbentyuk seperti amandel, oval, dan digunakan sebagai anti infeksi, anti fungi, penggunaan hormon secara lokal. 
  2. lozenges, trochisci, digunakan untuk efek lokal dimulut dan tenggorokan, umumnya digunakan sebagai anti infeksi. 
MAKALAH SEDIAAN TABLET
Pengobatan untuk mendapatkan efek sistemik, selain tablet biasa yang ditelan masuk perut terdapat pula yang lain seperti : 
  1. tablet bucal adalah tablet yang digunakan dengan cara dimasukan pipi dan gusi dalam rongga mulut, biasanya berisi hormon steroid, adsorpsi terjadi melalui mukosa mulut masuk peredaran darah.
  2. tablet sublingual adalah tablet digunakan dengan jalan dimasukan dibawah lidah, biasanya berisi hormon steroid, adsorpsi terjadi melalui mukosa masuk peredaran darah.
  3. tablet implantasi adalah tablet berupa pellet, bulat atau oval pipih, steril dimasukan secara implantasi dalam kulit badan. 
tablet sublingual

Tablet hipodermik dilarutkan dalam air steril untuk injeksi dan disuntikan dibawah lidah : 
  1. Nama zat berkhasiat atau nama tabletnya.
  2. Jumlah zat atau zat-zat yang berkhasiat dalam tiap tablet.

B. PEMBUATAN TABLET
Untuk pembuatan tablet diperlukan zat tambahan berupa :
  1. zat pengisi dimasukan untuk memperbesar volume tablet. Biasanya digunakan saccharum lactis, amylum manihot, calcii phoshas, calcii carbonas, dan zat lain yang cocok.
  2. zat pengikat dimaksudkan agar tablet tidak pecah atau retak, dapat merekat. Biasanya yang digunakan adalah mucilago gummi arabici 10-20 % (panas), solutio methylcellulosum 5%
  3. zat penghancur dimaksudkan agar tablet dapat hancur dalam perut. Biasanya yang digunakan adalah amylum manihot kering, glatinum, agar-agar dan natrium alginat.
  4. zat pelicin, dimaksudkan agar tablet tidak lekat pada cetakan. Biasanya digunakan talcum 5%, magnesii ttearas, acidum stearinicum.

Dalam pembuatan tablet, zat bekhasiat, zat-zat lain kecuali pelicin dibuat granul (butiran kasar), karena serbuk yang halus tidak mengisi cetakan tablet dengan baik maka dibuat granul agar mudah mengalir mengisi cetakan serta menjaga agar tablet tidak retak. 

CARA MEMBUAT GRANUL ADA 2 MACAM :
  1. Cara basah
  2. Cara kering atau disebut slugging atau prekompression.

Pembuatan granul dengan cara basah
Zat berkhasiat, zat pengisi dan zat penghancur dicampur baik-baik, lalu dibasahi dengan larutan bahan pengikat, bila perlu ditambah bahan pewarna. Setelah itu diayak menjadi granul, dan dikeringkan dalam almari pengering pada suhu 40-500. Setelah kering diayak lagi untuk memperoleh granul dengan ukuran yang diperlukan dan ditambakhan bahan pelicin dan dicetak menjadi tablet dengan mesin tablet.

Pembuatan granul dengan cara kering dikerjakan sebagai berikut :
Zat bekhasiat, zat pengisi, zat penghancur, bila perlu zat pengikat dan zat pelicin dicampur dan dibuat dengan cara kempacetak menjadi tablet yang besar (slugging), setelah itu tablet yang terjadi dipecah menjadi granul lalu diayak, akhirnya dikempacetak tablet yang dikehendaki dengan mesin tablet.

Untuk maksud dan tujuan tertentu tablet disalut dengan zat penyalut yang cocok biasanya berwarna atau tidak 
  • a. Tablet bersalut gula
  • b. Tablet bersalut kempa
  • c. Tablet bersalut selaput
  • d. Tablet berlalut enterik

a. Tablet bersalut gula 
Tablet ini sering disebut dragee penyaluran dilakukan dengan larutan gula dalam panci untuk penyalutan dan pancai untuk mengkilapkan tablet diputar dengan motor penggerak yang dilengkapi dengan alat penghisap dal sistem penghembus udara panas.

b. Tablet bersalut kempa
Tablet inti yang sudah jadi mengalami proses seperi berikut : yaitu, granul halus dan kering diukempa disekitar tablet ini. Sering disebit tablet dalam tablet.

Tablet salut kempa adalah lebih cepat pembuatannya dan lebih ekonomis tetapi proses pembuatannya harus bebas lembab serta tidak terjadi inkompatibilitas tablet karena lembab.

c. Tablet bersalut selaput 
Ialah tablet yang dilapisi lapisan selaput tipis dengan zat penyalut yang dikenakan atau disemprotkan pada tablet. Sebagai zat penyalut digunakan CMC Na, Cellulose Acetatphthalat, Hydoxyaethylcellulosum dengan bermacam-macam perbandingan dalam campuran polyathylenglycolum dan polyvinypyrolidonum dalam pelarut alkohol atau terdispersi dalam isopropanolu dengan tambahan span dan tween. 

d. Tablet bersalut anterik
Sebagai bahan salut enterik adalah campuran serbuk lilin karena uba atau asam stearat dan serabut tumbuh-tumbuhan dari agar-agar atau kulit pohon ELM. Bila tablet ditelan, serabut tersebut akan mengisap air, mengembang dan terjadi proses penghancuran.

Dengan mengatur rasio serabut tumbuh-tumbuhan dan mengubah tebalnya salut, waktu hancur yang diperlukan dikontrol. Penyalutan enterik yang memuaskan ialah dengan cellulose acetetis phthalatum.

C. Kriteria Tablet
  1. Harus mengandung zat aktif dan non aktif yang memenuhi persyaratan; 
  2. Harus mengandung zat aktif yang homogen dan stabil; 
  3. Keadaan fisik harus cukup kuat terhadap gangguan fisik/mekanik; 
  4. Keseragaman bobot dan penampilan harus memenuhi persyaratan; 
  5. Waktu hancur dan laju disolusi harus memenuhi persyaratan; 
  6. Harus stabil terhadap udara dan suhu lingkungan; 
  7. Bebas dari kerusakan fisik; 
  8. Stabilitas kimiawi dan fisik cukup lama selama penyimpanan; 
  9. Zat aktif harus dapat dilepaskan secara homogen dalam waktu tertentu; 
  10. Tablet memenuhi persayaratan Farmakope yang berlaku. 

D. Keuntungan Sediaan Tablet
  1. Tablet dipasaran mudah diberikan dalam dosis yang tepat jika diinginkan dosis dapat dibagi rata dan akan memberikan efek yang akurat. 
  2. Tablet dapat dibuat dalam berbagai dosis. 
  3. Sifat alamiah dari tablet yaitu tidak dapat dipisahkan, kualitas bagus dan dapat dibawa kemana-mana, bentuknya kompak, fleksibel dan mudah pemberiannya. 
  4. Secara umum, bentuk pengobatan dangan menggunakan tablet lebih disukai karena bersih, praktis dan efisien. 
  5. Tablet merupakan bentuk sediaan yang utuh dan menawarkan kemampuan yang terbaik dari semua bentuk sediaan oral untuk ketepatan ukuran serta variabilitas kandungan yang paling lemah. 
  6. Tablet merupakan bentuk sediaan yang ongkos pembuatannya paling rendah 
  7. Tablet paling mudah ditelan serta paling kecil kemungkinan tertinggal ditenggorokan, terutama bila tersalut yang memungkinkan pecah/hancurnya tablet tidak segera terjadi. 
  8. Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang paling mudah untuk diproduksi secara besar-besaran. 
  9. Dapat dibuat tablet kunyah dengan bahan mentol dan gliserin yang dapat larut dan rasa yang enak, dimana dapat diminum, atau memisah dimulut.
tablet kunyah

E. Kerugian Sediaan Tablet
  1. Orang yang sukar menelan atau meminum obat. 
  2. Keinginan konsumen beda dengan yang kita buat/produk. 
  3. Beberapa obat tidak dapat dikepek menjadi padat dan kompak. 
  4. Tablet dan semua obat harus disimpan diluar jangkauan anak-anak untuk menjaga kesalahan karena menurut mereka tablet tersebut adalah permen. 

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Tablet adalah sedian padat, dibuat secara kempa-cetak berbentuk rata atau cembung rangkap, umumnya bulat, mengandung satu jenis obat, atau lebih dangan atau tanpa zat tambahan yang digunakan dapat berfungsi sebagai zat pengisi, zat pengembang, dan zat pembasah.

2. Untuk pembuatan tablet diperlukan zat tambahan berupa :
  • zat pengisi dimasukan untuk memperbesar volume tablet. Biasanya digunakan saccharum lactis, amylum manihot, calcii phoshas, calcii carbonas, dan zat lain yang cocok. 
  • zat pengikat dimaksudkan agar tablet tidak pecah atau retak, dapat merekat. Biasanya yang digunakan adalah mucilago gummi arabici 10-20 % (panas), solutio methylcellulosum 5%. 
  • zat penghancur dimaksudkan agar tablet dapat hancur dalam perut. Biasanya yang digunakan adalah amylum manihot kering, glatinum, agar-agar dan natrium alginat. 
  • zat pelicin, dimaksudkan agar tablet tidak lekat pada cetakan. Biasanya digunakan talcum 5%, magnesii ttearas, acidum stearinicum. 

3. Kriteria tablet
  • Harus mengandung zat aktif dan non aktif yang memenuhi persyaratan; 
  • Harus mengandung zat aktif yang homogen dan stabil; 
  • Keadaan fisik harus cukup kuat terhadap gangguan fisik/mekanik; 
  • Keseragaman bobot dan penampilan harus memenuhi persyaratan; 
  • Waktu hancur dan laju disolusi harus memenuhi persyaratan; 
  • Harus stabil terhadap udara dan suhu lingkungan; 
  • Bebas dari kerusakan fisik; 
  • Stabilitas kimiawi dan fisik cukup lama selama penyimpanan; 
  • Zat aktif harus dapat dilepaskan secara homogen dalam waktu tertentu; 
  • Tablet memenuhi persayaratan Farmakope yang berlaku. 

4. Keuntungan tablet
  • Tablet dipasaran mudah diberikan dalam dosis yang tepat jika diinginkan dosis dapat dibagi rata dan akan memberikan efek yang akurat. 
  • Tablet dapat dibuat dalam berbagai dosis. 
  • Sifat alamiah dari tablet yaitu tidak dapat dipisahkan, kualitas bagus dan dapat dibawa kemana-mana, bentuknya kompak, fleksibel dan mudah pemberiannya. 
  • Secara umum, bentuk pengobatan dangan menggunakan tablet lebih disukai karena bersih, praktis dan efisien. 
  • Tablet merupakan bentuk sediaan yang utuh dan menawarkan kemampuan yang terbaik dari semua bentuk sediaan oral untuk ketepatan ukuran serta variabilitas kandungan yang paling lemah. 
  • Tablet merupakan bentuk sediaan yang ongkos pembuatannya paling rendah 
  • Tablet paling mudah ditelan serta paling kecil kemungkinan tertinggal ditenggorokan, terutama bila tersalut yang memungkinkan pecah/hancurnya tablet tidak segera terjadi. 
  • Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang paling mudah untuk diproduksi secara besar-besaran. 
  • Dapat dibuat tablet kunyah dengan bahan mentol dan gliserin yang dapat larut dan rasa yang enak, dimana dapat diminum, atau memisah dimulut. 

5. Kerugian
  • Orang yang sukar menelan atau meminum obat. 
  • Keinginan konsumen beda dengan yang kita buat/produk. 
  • Beberapa obat tidak dapat dikepek menjadi padat dan kompak. 
  • Tablet dan semua obat harus disimpan diluar jangkauan anak-anak untuk menjaga kesalahan karena menurut mereka tablet tersebut adalah permen. 

B. Saran
  1. Mudah-mudahan isi dari makalah kami ini dapat bermanfaat bagi banyak orang tanpa terkecuali. Baik untuk kebutuhan sendiri ataupun bersama-sama. 
  2. Kami berharap kedepannya akan lebih banyak lagi referensi-referensi yang dapat mendukung kelancaran dalam membuat makala apapun itu. 

Daftar Pustaka
Anonim.1979.Farmakope Indonesia Edisi III.Jakarta:Departemen Kesehatan Republik Indonesia

Anonim.2010. Farmakope Indonesia Edisi IV.Jakarta:Departemen Kesehatan Republik Indonesia

Anief. Moh., 2007. Farmasetika. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

MAKALAH SEDIAAN TABLET

MAKALAH SEDIAAN TABLET
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Istilah farmakope (PHARMACOPEIA) berasal dari bahasa yunani yaitu pharmacon yang berarti obat dan poein yang berarti buat. Kombinasi kedua kata tersebut bermakna resep atau formula serta standar lain yang dikehendaki untuk membuat atau mempersiapkan, mengelola dan meracik suatu obat. Kata ini pertama kali digunakan pada tahun 1580 dalam suatu buku local yang merupakan standar obat di Bergamo satu daerah di Itali.
MAKALAH SEDIAAN TABLET

Tablet adalah bahan obat dalam bentuk sediaan padat yang biasanya dibuat dengan penambahan bahan tambahan farmasetika yang sesuai. Tablet dapat berbeda dalam ukuran, bentuk, berat, kekerasan, ketebalan, daya hancur, dan dalam aspek lainnya tergantung pada cara pemakaian tablet dan metode pembuatannya. Kebanyakan tablet digunakan pada pemberian obat secara oral atau melalui mulut .

Sediaan tablet merupakan sediaan yang paling banyak diproduksi dan juga banyak mengalami perkembangan dalam formulasinya. Beberapa keuntungan sediaan tablet adalah sediaan lebih kompak, dosisnya tepat, mudah pengemasannya dan penggunaannya lebih praktis dibanding sediaan yang lain .

B. Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk memberikan informasi tentang :
  • a. Pengertian tablet
  • b. Zat dalam pembuatan tablet
  • c. Kriteria yang harus dimiliki tablet
  • d. Keuntungan dari tablet dan kerugiannya

C. Manfaat
Manfaat yang dapat diambil dari penulisan makalah ini yaitu dapat menjadi referensi tambahan bagi kita untuk mengerjakan tugas lain

BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN TABLET
Tablet adalah sedian padat, dibuat secara kempa-cetak berbentuk rata atau cembung rangkap, umumnya bulat, mengandung satu jenis obat, atau lebih dangan atau tanpa zat tambahan yang digunakan dapat berfungsi sebagai zat pengisi, zat pengembang, dan zat pembasah.

Tablet digunakan baik untuk tujuan pengobatan lokal atau sistemik. Pengobatan lokal misalnya : 
  1. tablet untuk vagina, berbentyuk seperti amandel, oval, dan digunakan sebagai anti infeksi, anti fungi, penggunaan hormon secara lokal. 
  2. lozenges, trochisci, digunakan untuk efek lokal dimulut dan tenggorokan, umumnya digunakan sebagai anti infeksi. 
MAKALAH SEDIAAN TABLET
Pengobatan untuk mendapatkan efek sistemik, selain tablet biasa yang ditelan masuk perut terdapat pula yang lain seperti : 
  1. tablet bucal adalah tablet yang digunakan dengan cara dimasukan pipi dan gusi dalam rongga mulut, biasanya berisi hormon steroid, adsorpsi terjadi melalui mukosa mulut masuk peredaran darah.
  2. tablet sublingual adalah tablet digunakan dengan jalan dimasukan dibawah lidah, biasanya berisi hormon steroid, adsorpsi terjadi melalui mukosa masuk peredaran darah.
  3. tablet implantasi adalah tablet berupa pellet, bulat atau oval pipih, steril dimasukan secara implantasi dalam kulit badan. 
tablet sublingual

Tablet hipodermik dilarutkan dalam air steril untuk injeksi dan disuntikan dibawah lidah : 
  1. Nama zat berkhasiat atau nama tabletnya.
  2. Jumlah zat atau zat-zat yang berkhasiat dalam tiap tablet.

B. PEMBUATAN TABLET
Untuk pembuatan tablet diperlukan zat tambahan berupa :
  1. zat pengisi dimasukan untuk memperbesar volume tablet. Biasanya digunakan saccharum lactis, amylum manihot, calcii phoshas, calcii carbonas, dan zat lain yang cocok.
  2. zat pengikat dimaksudkan agar tablet tidak pecah atau retak, dapat merekat. Biasanya yang digunakan adalah mucilago gummi arabici 10-20 % (panas), solutio methylcellulosum 5%
  3. zat penghancur dimaksudkan agar tablet dapat hancur dalam perut. Biasanya yang digunakan adalah amylum manihot kering, glatinum, agar-agar dan natrium alginat.
  4. zat pelicin, dimaksudkan agar tablet tidak lekat pada cetakan. Biasanya digunakan talcum 5%, magnesii ttearas, acidum stearinicum.

Dalam pembuatan tablet, zat bekhasiat, zat-zat lain kecuali pelicin dibuat granul (butiran kasar), karena serbuk yang halus tidak mengisi cetakan tablet dengan baik maka dibuat granul agar mudah mengalir mengisi cetakan serta menjaga agar tablet tidak retak. 

CARA MEMBUAT GRANUL ADA 2 MACAM :
  1. Cara basah
  2. Cara kering atau disebut slugging atau prekompression.

Pembuatan granul dengan cara basah
Zat berkhasiat, zat pengisi dan zat penghancur dicampur baik-baik, lalu dibasahi dengan larutan bahan pengikat, bila perlu ditambah bahan pewarna. Setelah itu diayak menjadi granul, dan dikeringkan dalam almari pengering pada suhu 40-500. Setelah kering diayak lagi untuk memperoleh granul dengan ukuran yang diperlukan dan ditambakhan bahan pelicin dan dicetak menjadi tablet dengan mesin tablet.

Pembuatan granul dengan cara kering dikerjakan sebagai berikut :
Zat bekhasiat, zat pengisi, zat penghancur, bila perlu zat pengikat dan zat pelicin dicampur dan dibuat dengan cara kempacetak menjadi tablet yang besar (slugging), setelah itu tablet yang terjadi dipecah menjadi granul lalu diayak, akhirnya dikempacetak tablet yang dikehendaki dengan mesin tablet.

Untuk maksud dan tujuan tertentu tablet disalut dengan zat penyalut yang cocok biasanya berwarna atau tidak 
  • a. Tablet bersalut gula
  • b. Tablet bersalut kempa
  • c. Tablet bersalut selaput
  • d. Tablet berlalut enterik

a. Tablet bersalut gula 
Tablet ini sering disebut dragee penyaluran dilakukan dengan larutan gula dalam panci untuk penyalutan dan pancai untuk mengkilapkan tablet diputar dengan motor penggerak yang dilengkapi dengan alat penghisap dal sistem penghembus udara panas.

b. Tablet bersalut kempa
Tablet inti yang sudah jadi mengalami proses seperi berikut : yaitu, granul halus dan kering diukempa disekitar tablet ini. Sering disebit tablet dalam tablet.

Tablet salut kempa adalah lebih cepat pembuatannya dan lebih ekonomis tetapi proses pembuatannya harus bebas lembab serta tidak terjadi inkompatibilitas tablet karena lembab.

c. Tablet bersalut selaput 
Ialah tablet yang dilapisi lapisan selaput tipis dengan zat penyalut yang dikenakan atau disemprotkan pada tablet. Sebagai zat penyalut digunakan CMC Na, Cellulose Acetatphthalat, Hydoxyaethylcellulosum dengan bermacam-macam perbandingan dalam campuran polyathylenglycolum dan polyvinypyrolidonum dalam pelarut alkohol atau terdispersi dalam isopropanolu dengan tambahan span dan tween. 

d. Tablet bersalut anterik
Sebagai bahan salut enterik adalah campuran serbuk lilin karena uba atau asam stearat dan serabut tumbuh-tumbuhan dari agar-agar atau kulit pohon ELM. Bila tablet ditelan, serabut tersebut akan mengisap air, mengembang dan terjadi proses penghancuran.

Dengan mengatur rasio serabut tumbuh-tumbuhan dan mengubah tebalnya salut, waktu hancur yang diperlukan dikontrol. Penyalutan enterik yang memuaskan ialah dengan cellulose acetetis phthalatum.

C. Kriteria Tablet
  1. Harus mengandung zat aktif dan non aktif yang memenuhi persyaratan; 
  2. Harus mengandung zat aktif yang homogen dan stabil; 
  3. Keadaan fisik harus cukup kuat terhadap gangguan fisik/mekanik; 
  4. Keseragaman bobot dan penampilan harus memenuhi persyaratan; 
  5. Waktu hancur dan laju disolusi harus memenuhi persyaratan; 
  6. Harus stabil terhadap udara dan suhu lingkungan; 
  7. Bebas dari kerusakan fisik; 
  8. Stabilitas kimiawi dan fisik cukup lama selama penyimpanan; 
  9. Zat aktif harus dapat dilepaskan secara homogen dalam waktu tertentu; 
  10. Tablet memenuhi persayaratan Farmakope yang berlaku. 

D. Keuntungan Sediaan Tablet
  1. Tablet dipasaran mudah diberikan dalam dosis yang tepat jika diinginkan dosis dapat dibagi rata dan akan memberikan efek yang akurat. 
  2. Tablet dapat dibuat dalam berbagai dosis. 
  3. Sifat alamiah dari tablet yaitu tidak dapat dipisahkan, kualitas bagus dan dapat dibawa kemana-mana, bentuknya kompak, fleksibel dan mudah pemberiannya. 
  4. Secara umum, bentuk pengobatan dangan menggunakan tablet lebih disukai karena bersih, praktis dan efisien. 
  5. Tablet merupakan bentuk sediaan yang utuh dan menawarkan kemampuan yang terbaik dari semua bentuk sediaan oral untuk ketepatan ukuran serta variabilitas kandungan yang paling lemah. 
  6. Tablet merupakan bentuk sediaan yang ongkos pembuatannya paling rendah 
  7. Tablet paling mudah ditelan serta paling kecil kemungkinan tertinggal ditenggorokan, terutama bila tersalut yang memungkinkan pecah/hancurnya tablet tidak segera terjadi. 
  8. Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang paling mudah untuk diproduksi secara besar-besaran. 
  9. Dapat dibuat tablet kunyah dengan bahan mentol dan gliserin yang dapat larut dan rasa yang enak, dimana dapat diminum, atau memisah dimulut.
tablet kunyah

E. Kerugian Sediaan Tablet
  1. Orang yang sukar menelan atau meminum obat. 
  2. Keinginan konsumen beda dengan yang kita buat/produk. 
  3. Beberapa obat tidak dapat dikepek menjadi padat dan kompak. 
  4. Tablet dan semua obat harus disimpan diluar jangkauan anak-anak untuk menjaga kesalahan karena menurut mereka tablet tersebut adalah permen. 

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Tablet adalah sedian padat, dibuat secara kempa-cetak berbentuk rata atau cembung rangkap, umumnya bulat, mengandung satu jenis obat, atau lebih dangan atau tanpa zat tambahan yang digunakan dapat berfungsi sebagai zat pengisi, zat pengembang, dan zat pembasah.

2. Untuk pembuatan tablet diperlukan zat tambahan berupa :
  • zat pengisi dimasukan untuk memperbesar volume tablet. Biasanya digunakan saccharum lactis, amylum manihot, calcii phoshas, calcii carbonas, dan zat lain yang cocok. 
  • zat pengikat dimaksudkan agar tablet tidak pecah atau retak, dapat merekat. Biasanya yang digunakan adalah mucilago gummi arabici 10-20 % (panas), solutio methylcellulosum 5%. 
  • zat penghancur dimaksudkan agar tablet dapat hancur dalam perut. Biasanya yang digunakan adalah amylum manihot kering, glatinum, agar-agar dan natrium alginat. 
  • zat pelicin, dimaksudkan agar tablet tidak lekat pada cetakan. Biasanya digunakan talcum 5%, magnesii ttearas, acidum stearinicum. 

3. Kriteria tablet
  • Harus mengandung zat aktif dan non aktif yang memenuhi persyaratan; 
  • Harus mengandung zat aktif yang homogen dan stabil; 
  • Keadaan fisik harus cukup kuat terhadap gangguan fisik/mekanik; 
  • Keseragaman bobot dan penampilan harus memenuhi persyaratan; 
  • Waktu hancur dan laju disolusi harus memenuhi persyaratan; 
  • Harus stabil terhadap udara dan suhu lingkungan; 
  • Bebas dari kerusakan fisik; 
  • Stabilitas kimiawi dan fisik cukup lama selama penyimpanan; 
  • Zat aktif harus dapat dilepaskan secara homogen dalam waktu tertentu; 
  • Tablet memenuhi persayaratan Farmakope yang berlaku. 

4. Keuntungan tablet
  • Tablet dipasaran mudah diberikan dalam dosis yang tepat jika diinginkan dosis dapat dibagi rata dan akan memberikan efek yang akurat. 
  • Tablet dapat dibuat dalam berbagai dosis. 
  • Sifat alamiah dari tablet yaitu tidak dapat dipisahkan, kualitas bagus dan dapat dibawa kemana-mana, bentuknya kompak, fleksibel dan mudah pemberiannya. 
  • Secara umum, bentuk pengobatan dangan menggunakan tablet lebih disukai karena bersih, praktis dan efisien. 
  • Tablet merupakan bentuk sediaan yang utuh dan menawarkan kemampuan yang terbaik dari semua bentuk sediaan oral untuk ketepatan ukuran serta variabilitas kandungan yang paling lemah. 
  • Tablet merupakan bentuk sediaan yang ongkos pembuatannya paling rendah 
  • Tablet paling mudah ditelan serta paling kecil kemungkinan tertinggal ditenggorokan, terutama bila tersalut yang memungkinkan pecah/hancurnya tablet tidak segera terjadi. 
  • Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang paling mudah untuk diproduksi secara besar-besaran. 
  • Dapat dibuat tablet kunyah dengan bahan mentol dan gliserin yang dapat larut dan rasa yang enak, dimana dapat diminum, atau memisah dimulut. 

5. Kerugian
  • Orang yang sukar menelan atau meminum obat. 
  • Keinginan konsumen beda dengan yang kita buat/produk. 
  • Beberapa obat tidak dapat dikepek menjadi padat dan kompak. 
  • Tablet dan semua obat harus disimpan diluar jangkauan anak-anak untuk menjaga kesalahan karena menurut mereka tablet tersebut adalah permen. 

B. Saran
  1. Mudah-mudahan isi dari makalah kami ini dapat bermanfaat bagi banyak orang tanpa terkecuali. Baik untuk kebutuhan sendiri ataupun bersama-sama. 
  2. Kami berharap kedepannya akan lebih banyak lagi referensi-referensi yang dapat mendukung kelancaran dalam membuat makala apapun itu. 

Daftar Pustaka
Anonim.1979.Farmakope Indonesia Edisi III.Jakarta:Departemen Kesehatan Republik Indonesia

Anonim.2010. Farmakope Indonesia Edisi IV.Jakarta:Departemen Kesehatan Republik Indonesia

Anief. Moh., 2007. Farmasetika. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press