MAKALAH TINJAUAN SOSIOLOGIS PENDIDIKAN - ElrinAlria
MAKALAH TINJAUAN SOSIOLOGIS PENDIDIKAN
PENGANTAR PENDIDIKAN
“Tinjauan Sosiologis Pendidikan”

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam era globalisasi, seluruh aspek kehidupan bangsa terguncang dahsyat hingga daya adaptif kita sebagai suatu bangsa dalam suatu sistem sangat terpengaruh oleh perubahan, perubahan yang sangat cepat. Dalam dunia pendidikan, proses akulturasi dan perubahan perilaku bangsa mau tidak mau kita terdorong menjadi masyarakat yang memasuki complex adaptive system. Dalam keadaan seperti sekarang ini sering tampak perilaku masyarakat menjadi lebih korup bagi yang punya kesempatan, bagi rakyat awam dan rapuh tampak beringas dan mendemostrasikan sikap antisosial, antikemapanan, dan kontraproduktif serta goyah dalam keseimbangan rasio dan emosinya. Bagi kita bangsa yang masih sadar, sabar dan tawakal perlu melaksanakan diagnosis terhadap sikap dan perilaku yang menyimpang dari norma dan moral yang kurang terkendali ini. Perlu dipola terapi yang tepat melalui senyum karakter bangsa dan pendekatan keakraban nasional, mengikuti ungkapan seorang negarawan Amerika Serikat (Edward Kennedy) “ We are one nation in a sorrow”. Mari dalam rasa keprihatinan nasional sekarang ini kita bersatu padu agar derita dari segala bencana yang menimpa bangsa Indonesia baik fisik mau pun mental terutama dalam kesulitan himpitan ekonomi (Sumantri, 2008).

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menekankan pentingnya peran serta masyarakat dalam pendidikan (Bab XV pasal 54 ayat 1, dan 2), serta pentingnya evaluasi dalam pengendalian mutu pendidikan secara nasional (Bab XVI, pasal 57, ayat 1). Pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah dan sekolah, tetapi pendidikan adalah tanggungjawab bersama antara pemerintah, orang tua, dan masyarakat. Tanggung jawab masyarakat dalam meningkatkan mutu pendidikan tidak boleh diabaikan. Tanpa dukungan masyarakat, pendidikan tidak akan berhasil secara maksimal (Daud, 2012: 2).
Berdasarkan uraian di atas, maka dipandang perlu untuk mengkaji tinjauan sosiologi pendidikan lebih dalam. 

B. Rumusan Masalah 
Berdasarkan latar belakang di atas yang menjadi permasalahan dalam makalah ini, yakni :
  1. Bagaimana hubungan pendidikan dan masyarakat ? 
  2. Bagaimana peran pendidikan dalam pembangunan masyarakat ? 
  3. Bagaimanakah peran pendidikan dalam membentuk kesadaran akan kebangsaan Indonesia? 
  4. Bagaimanakah pengaruh pendidikan dalam melestarikan Pancasila ? 
  5. Bagaimana peranan pendidikan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat ? 

C. Tujuan Penulisan
Tujuan yang hendak dicapai dari pembuatan makalah ini, yaitu :
  1. Mengetahui hubungan pendidikan dan masyarakat. 
  2. Mengetahui peran pendidikan dan pembangunan masyarakat. 
  3. Memahami peran pendidikan dalam membentuk kesadaran akan kebangsaan Indonesia 
  4. Mengetahui pengaruh pendidikan dalam melestarikan Pancasila. 
  5. Memahami peranan pendidikan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. 

D. Manfaat Penulisan
Manfaat yang dapat diperoleh dari penulisan makalah ini yakni :
  1. Meningkatkan pengetahuan pembaca mengenai “Tinjauan Sosiologis Pendidikan”. 
  2. Sebagai bahan masukan dan pembanding bagi penulis selanjutnya dengan makalah yang relevan. 

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pendidikan dan Masyarakat
Menurut John Dewey, pendidikan merupakan proses pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik menyangkut daya pikir atau daya intelektual, maupun daya emosional atau perasaan yang diarahkan kepada tabiat manusia dan kepada sesamanya. Pengertian Pendidikan berarti tahapan kegiatan yang bersifat kelembagaan (sekolah) yang dipergunakan untuk menyempurnakan perkembangan individu dalam menguasai pengetahuan, kebiasaaan, sikap dan sebagainya (Dictionary Of Psychology, 1972). Sedangkan UUD Siksdiknas No.20 tahun 2003 menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara (Runtuwene, 2013: 2).

Pendidikan sendiri menurut Lengeveld adalah membimbing anak didik dari tingkat belum dewasa menuju ke kedewasaan. Berarti kriteria keberhasilan pendidikan adalah kedewasaan. Ki Hajar Dewantara, seorang Bapak Taman Siswa, menganggap pendidikan sebagai “daya upaya untuk mewujudkan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter, pikiran (intelek)) dan tubuh anak untuk memajukan kehidupan anak didik selaras dengan dunianya” (Sumantri, 2008).

Masyarakat selalu mencakup sekelompok orang yang berinteraksi antar sesamanya, saling tergantung dan terikat oleh nilai dan norma yang dipatuhi bersama, pada umumnya bertempat tinggal di wilayah tertentu, dan adakalanya mereka memiliki hubungan darah atau memiliki kepentingan bersama. Masyarakat dapat merupakan suatu kesatuan hidup dalam arti luas ataupun dalam arti sempit. Masyarakat dalam arti luas pada umumnya lebih abstrak misalnya masyarakat bangsa, sedang dalam arti sempit lebih konkrit misalnya marga atau suku. Masyarakat sebagai kesatuan hidup memiliki ciri utama, antara lain:
  1. Ada interaksi antara warga-warganya 
  2. Pola tingkah laku warganya diatur oleh adapt istiadat, norma-norma, hukum, dan aturan-aturan khas 
  3. Ada rasa identitas kuat yang mengikat para warganya. Kesatuan wilayah, kesatuan adat- istiadat, rasa identitas, dan rasa loyalitas terhadap kelompoknya merupakan pangkal dari perasaan bangga sebagai patriotisme, nasionalisme, jiwa korps, dan kesetiakawanan sosial (Umar Tirtarahardja dan La Sulo, 1994: 100 dalam Armanto, 2012).

Secara singkat pendidikan merupakan produk dari masyarakat, karena jika kita tinjau arti pendidikan sebagai proses transmisi pengetahuan, sikap, kepercayaan, keterampilan dan aspek-aspek kelakuan lainnya kepada generasi muda maka seluruh upaya tersebut sudah dilakukan sepenuhnya oleh kekuatan-kekuatan masyarakat. Hampir segala sesuatu yang kita pelajari merupakan hasil hubungan kita dengan orang lain baik di rumah, sekolah, tempat permainan, pekerjaan, dan sebagainya. Wajar pula apabila segala sesuatu yang kita ketahui adalah hasil hubungan timbal balik yang ternyata sudah sedemikian rupa dibentuk oleh masyarakat kita (Suprapto, 2003: 112).

Bagi masyarakat sendiri hakikat pendidikan sangat bermanfaat bagi kelangsungan dan proses kemajuan hidupnya. Agar masyarakat itu dapat melanjutkan eksistensinya, maka kepada anggota mudanya harus diteruskan nilai-nilai, pengetahuan, keterampilan dan bentuk tat perilaku lainnya yang diharapkan akan dimiliki oleh setiap anggoat. Setiap masyarakat berupaya meneruskan kebudayaannya denagn proses adaptasi tertentu sesuai corak masing-masing periode jaman kepada generasi muda melalui pendidikan, secara khusus melalui pendidikan, secara khusus melalui interaksi sosial. Dengan demikian pendidikan dapat diartikan sebagai proses sosialisasi (Hasan, 2010).

B. Pendidikan dan Pembangunan Masyarakat
Cepat atau lambat masyarakat pasti akan berubah, bukan ke arah kemunduran atau keterbelakangan tetapi ke arah kemajuan. Gerak kemajuan ini sebagian berlangsung secara sadar dan sebagian lagi berlangsung secara tidak sadar. Gerak maju yang secara sadar adalah gerak kemajuan masyarakat karena pembangunan. (Fattah, 2010).

Jadi, pembangunan pada hakekatnya adalah suatu usaha untuk bergerak majunya masyarakat. Namun siapa yang menjadi agen dalam pembangunan itu yang masih menjadi pertanyaan. Yaitu tidak lain adalah orang-orang yang hidup di dalam masyarakat itu sendiri. Jika anggota suatu masyarakat itu sendiri tidak mau menjadi agen dari pembangunan masyarakat, masyarakat pasti akan statis, tidak mau mengalami perkambangan. Jika ada kemajuan pasti juga berjalam dengan lambat.

Anggota masyarakat itu bisa digolongkan menjadi 2 bagian masyarakat berdasar ciri-cirinya terhadap pembangunan yaitu masyarakat yang statis dan dinamis.
  • a. Masyarakat yang bersifat statis yaitu orang yang selalu ingin mempertahankan yang lama saja. Orang semacam ini tidak mau melakukan adanya perubahan yang terjadi di dalam masyarakatnya. Jika ada sesuatu yang baru maka dengan segera orang tersebut menolaknya dengan seribu alasan. Contoh dari orang ini terletak pada suku Samin dan Badui.
  • b. Masyarakat yang bersifat dinamis yaitu orang yang selalu ingin mengalami perubahan ke arah kemajuan, yang menghendaki adanya hal-hal baru dan yang maju. Mereka yang demikian adalah mereka yang berfikir kreatif dinamis. Mereka yang ingin adanya pembaharuan di dalam masyarakat. Mereka ingin memajukan cara hidup, ingin kemajuan, kemakmuran dan kesejahteraan. Mereka inilah yang menjadi agen pembangunan dalam masyarakat, yang menjadi pendorong dan penghela masyarakatnya untuk mengalami kemajuan (Soerya, 2010).

Adanya opini masyarakat bahwa tanggung jawab utama pembangunan (dalam bidang pendidikan) hanya terletak di tangan pemerintah, menyebabkan masyarakat merasa hanya ditempatkan sebagai “bukan pemain utama” dan berakibat melemahkan kemauan berpartisipasi warga dan kelompok-kelompok masyarakat dalam pengembangan pendidikan. Kondisi ini telah merugikan pengembangan pendidikan itu sendiri dan semakin memberatkan pemerintah sebagai penyelenggara Negara (Suprapto, 2003: 116).

Tugas pendidikan untuk mencetak individu anggota masyarakat golongan itu. Jadi, pendidikan harus mempersiapkan anak didik untuk kelak dapat menjadi agen pembangunan bagi masyarakat bangsanya. Kelak anak-anak harus dapat melaksanakan pembaharuan masyarakat bangsanya tanpa menimbulkan kerawanan (Walgi, 2013).

Pembangunan merupakan proses yang berkesinambungan yang mencakup seluruh aspek kehidupan masyarakat, termasuk aspek sosial, ekonomi, politik dan kultural, dengan tujuan utama meningkatkan kesejahteraan warga bangsa secara keseluruhan. Dalam proses pembangunan tersebut peranan pendidikan amatlah strategis (Prawiro, 2013).

Menurut John C. Bock, dalam Education and Development, A Conflict Meaning (1992), mengidentifikasi peran pendidikan tersebut sebagai: memasyarakatkan ideologi dan nilai-nilai sosio-kultural bangsa, mempersiapkan tenaga kerja untuk memerangi kemiskinan, kebodohan, dan mendorong perubahan social, dan untuk meratakan kesempatan dan pendapatan. Peran yang pertama merupakan fungsi politik pendidikan dan dua peran yang lain merupakan fungsi ekonomi.

C. Pendidikan dan Kelestarian Pancasila
Pancasila adalah dasar Negara Indonesia. Pancasila merupakan pandangan hidup yang asli dari bumi Indonesia yang diwariskan oleh nenek moyang. Demikianlah maka Pancasila merupakan jiwa, pribadi dan pandangan hidup bangsa Indonesia. Oleh karena Pancasila sebagai pandangan hidup, maka pancasila harus ditanamkan kepada generasi muda. Sebagai jiwa dan pribadi, Pancasila harus dikembangkan pada diri anak didik, generasi muda Indonesia. Pendek kata pancasila harus dijaga kelestariannya. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Pancasila harus terus-menerus menjadi pandangan hidup bangsa, jiwa dan pribadinya bangsa Indonesia. Pelestarian Pancasila dapat dilakukan melalui 3 jalur yaitu melalui jalur pendidikan, jalur media massa, jalur organisasi politik. 

Pendidikan dalam keluarga memiliki peranan penting dalam pelestarian pancasila. Sebab, apabila tidak, maka Pancasila itu hanya tinggal kenang-kenangan saja bagi generasi yang akan dating. Benar bahwa pancasila adalah pribadi bangsa Indonesia. Tetapi pribadi yang demikian tidak akan berkembang bila tidak mendapat siraman air pendidikan. Benar bahwa Pancasila adalah jiwa bangsa Indonesia, jiwa masyarakat Indonesia. Tetapi apabila tidak terpelihara, maka pasti akan terkena erosi, dan jika tidak diusahakan pelestariannya lewat pendidikan, maka pancasila akan tenggelam dilupakan oleh bangsa Indonesia(Walgi, 2013).

D. Pendidikan dan Kesadaran Kebangsaan
Pendidikan merupakan pondasi utama untuk membangun peradaban pada sebuah bangsa. Kesadaran akan arti penting pendidikan akan menentukan kualitas kesejahteraan lahir batin dan masa depan warganya. Oleh karena itu materi pengajaran dan manajemen pendidikan sudah seharusnya menjadi perhatian bagi para penyelenggara negara. Terbukti bahwa semua bangsa yang berhasil mencapai tingkat kemajuan kebudayaan dan teknologi tinggi mesti disangga oleh kualitas pendidikan yang sangat kokoh.

Kesadaran di atas dibangun dan diperkuat pada setiap warga masyarakat, pada anak-anak, pada pemuda, pada orang tua, di semua daerah, di semua sektor kehidupan. Membangun kesadaran baru ini adalah langkah utama dalam upaya bangsa ini untuk mendidik dirinya sendiri. Ini menjadi tugas setiap orang, apapun peran dia : orang tua, guru, jurnalis, pejabat negara, politisi, pegawai pemerintah, aktivis LSM, pengusaha, pekerja swasta, rohaniwan (Raka, 2005: 12).

E. Pendidikan dan Kesejahteraan Masyarakat
Dalam kaitan ini, pendidikan merupakan unsur penting yang harus mendapat prioritas utama. Dalam kerangka itulah, pendidikan diharapkan dapat memberi sumbangan bagi perkembangan seutuhnya setiap orang, baik jiwa, raga, intelijensi, kepekaan, estetika, tangung jawab, dan nilai-nilai spiritual. Melalui pendidikan, setiap orang hendaknya dapat diberdayakan untuk berpikir mandiri dan kritis. Dalam dunia yang terus berubah dan diwarnai oleh inovasi sosial dan ekonomi, pendidikan tampak sebagai salah satu kekuatan pendorong untuk meningkatkan kualitas imajinasi dan kreativitas sebagai ungkapan dari kebebasan manusia dan standarisasi tingkah laku perorangan. Kesempatan atau peluang perlu diberikan kepada generasi muda untuk melakukan percobaan dan menemukan sesuatu yang baru (UNESCO, 1996:94 dalam Karwati, 2010: 8).

Tujuan pendidikan memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan. Karena itu tujuan pendidikan mempunyai dua fungsi yaitu memberikan arah kepada segenap kegiatan pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan. Tujuan pendidikan menduduki posisi penting diantara komponen-komponen pendidikan lainya.

Tujuan pendidikan bersifat normatif yaitu mengandung unsur-unsur norma bersifat memaksa, tetapi tidak bertentangan dengan hakikat perkembangan peserta didik serta dapat diterima oleh masyarakat sebagai nilai hidup yang baik. Sehubungan dengan fungsi tujuan yang demikian penting itu, maka menjadi keharusan bagi pendidik untuk memahaminya. Kekurangpahaman pendidik terhadap tujuan pendidikan dapat mengakibatkan kesalahan di dalam melaksanakan pendidikan. Gejala yang demikian oleh Langeveld disebut salah teoritis (Langeveld, 1955).

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia no. 20 tahun 2003 yang terdapat dalam pasal 3 disebutkan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Tujuan pendidikan dan pengajaran dapat dibedakan dan disusun menurut hierarki sebagai berikut: tujuan umum, tujuan institusional, tujuan kurikuler, dan tujuan intruksional.
  • a. Tujuan umum pendidikan nasional Indonesia adalah manusia yang berjiwa pancasila.
  • b. Tujuan Institusional ialah tujuan pendidikan yang akan dicapai menurut jenis dan tingkatan sekolah atau lembaga pendidikan masing-masing, biasanya tercantum dalam kurikulum sekolah atau lembaga pendidikan yang harus dicapai setelah selesai belajar, Tujuan Institusional ini berbentuk Standar Kompetensi Lulusan. Standar Kompetensi Lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik.
  • c. Tujuan kurikuler adalah tujuan kurikulum sekolah yang telah diperinci menurut bidang studi atau mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran.
  • d. Tujuan intruksional adalah tujuan pokok bahasan atau tujuan sub pokok bahasan yang diajarkan oleh guru. Tujuan intruksional dibedakan menjadi dua macam yaitu tujuan intruksional umum (TIU) dan tujuan intruksional khusus (TIK).

Jika diperhatikan secara jelas bahwa rumusan tujuan pendidikan terdiri atas dua bagian yaitu:
  1. Tujuan individual yaitu untuk membentuk manusia susila yang cakap. 
  2. Tujuan kemasyarakatan yaitu untuk membentuk warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan dan tanah air. 

Bagian pertama menyatakan bahwa tujuan pendidikan untuk membentuk manusia atau individu susila yang cakap. Itulah manusia yang cakap, memang berlainan dengan istilah manusia yang cakap dan susila. Dengan istilah manusia yang cakap dan susila dimaksudkan, behwa setiap manusia Indonesia harus mendapatkan pendidikan dan pengajaran, sehingga manusia Indonesia menjadi manusia yang susila, tetapi juga cakap. Jadi sifat susila dan cakap harus dimiliki setiap individu.

Manusia susila diutamakan karena individu susila yang tidak dapat memajukan kesejahteraan dan kemakmuran bangsanya. Individu yang cakap tetapi tidak susila dapat membahayakan bagi bangsa dan masyarakatnya. Sebab kecakapanyang dimiliki seseorang dapat digunakan untuk menjalankan kejahatan terhadap masyarakat dan bangsanya seperti memeras, menggelapkan uang, membantai, membohongi masyarakat, dan sebagainya. Manusia yang tidak cakap namun susila itu lebih baik daripada manusia yang cakap namun tidak susila. Ini karena manusia yang susila tetapi tidak cakap tidak akan membahayakan bagi masyarakat ataupun bangsanya serta tidak mengganggu kesejahteraan.

Pada bagian kedua rumusan tujuan pendidikan adalah membentuk warga Negara yang demokratis. Jadi yang dikehendaki rumusan itu adalah warga Negara yang berjiwa demokratis dan sekaligus bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat serta tanah air. Setiap warga Negara harus bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakatnya. Jadi, setiap warga Negara harus susila, cakap, demokratis, bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air. Dengan demikian, pendidikan Indonesia berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat(Walgi, 2013).

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan dapat ditarik beberapa simpulan, sebagai berikut :
  1. Pendidikan merupakan produk dari masyarakat, karena jika kita tinjau arti pendidikan sebagai proses transmisi pengetahuan, sikap, kepercayaan, keterampilan dan aspek-aspek kelakuan lainnya kepada generasi muda maka seluruh upaya tersebut sudah dilakukan sepenuhnya oleh kekuatan-kekuatan masyarakat. 
  2. Tugas pendidikan untuk mencetak individu anggota masyarakat golongan masyarakat yang bersifat statis maupun dinamis. Pendidikan harus mempersiapkan anak didik untuk kelak dapat menjadi agen pembangunan bagi masyarakat bangsanya. 
  3. Pancasila adalah pandangan hidup bangsa Indonesia yang harus dijaga kelestariannya sehingga harus ditanamkan kepada generasi muda agar nilai-nilai didalamnya terpelihara di dalam jiwa pribadi bangsa Indonesia. 
  4. Kesadaran akan arti penting pendidikan akan menentukan kualitas kesejahteraan lahir batin dan masa depan warganya. Kesadaran di atas dibangun dan diperkuat pada setiap warga masyarakat, pada anak-anak, pada pemuda, pada orang tua, di semua daerah. 
  5. Rumusan tujuan pendidikan terdiri atas dua bagian yaitu tujuan individual yaitu untuk membentuk manusia susila yang cakap dan tujuan kemasyarakatan yaitu untuk membentuk warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan dan tanah air. Setiap warga Negara harus susila, cakap, demokratis, bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air. 

B. Saran
Hendaknya untuk mengkaji materi terpaut tinjauan sosiologis pendidikan ini alangkah baiknya jika diperdalam dengan mengkaji ilmu sosiologi pendidikan untuk memperluas khasanah pengetahuan pembaca. 

MAKALAH TINJAUAN SOSIOLOGIS PENDIDIKAN

MAKALAH TINJAUAN SOSIOLOGIS PENDIDIKAN
PENGANTAR PENDIDIKAN
“Tinjauan Sosiologis Pendidikan”

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam era globalisasi, seluruh aspek kehidupan bangsa terguncang dahsyat hingga daya adaptif kita sebagai suatu bangsa dalam suatu sistem sangat terpengaruh oleh perubahan, perubahan yang sangat cepat. Dalam dunia pendidikan, proses akulturasi dan perubahan perilaku bangsa mau tidak mau kita terdorong menjadi masyarakat yang memasuki complex adaptive system. Dalam keadaan seperti sekarang ini sering tampak perilaku masyarakat menjadi lebih korup bagi yang punya kesempatan, bagi rakyat awam dan rapuh tampak beringas dan mendemostrasikan sikap antisosial, antikemapanan, dan kontraproduktif serta goyah dalam keseimbangan rasio dan emosinya. Bagi kita bangsa yang masih sadar, sabar dan tawakal perlu melaksanakan diagnosis terhadap sikap dan perilaku yang menyimpang dari norma dan moral yang kurang terkendali ini. Perlu dipola terapi yang tepat melalui senyum karakter bangsa dan pendekatan keakraban nasional, mengikuti ungkapan seorang negarawan Amerika Serikat (Edward Kennedy) “ We are one nation in a sorrow”. Mari dalam rasa keprihatinan nasional sekarang ini kita bersatu padu agar derita dari segala bencana yang menimpa bangsa Indonesia baik fisik mau pun mental terutama dalam kesulitan himpitan ekonomi (Sumantri, 2008).

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menekankan pentingnya peran serta masyarakat dalam pendidikan (Bab XV pasal 54 ayat 1, dan 2), serta pentingnya evaluasi dalam pengendalian mutu pendidikan secara nasional (Bab XVI, pasal 57, ayat 1). Pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah dan sekolah, tetapi pendidikan adalah tanggungjawab bersama antara pemerintah, orang tua, dan masyarakat. Tanggung jawab masyarakat dalam meningkatkan mutu pendidikan tidak boleh diabaikan. Tanpa dukungan masyarakat, pendidikan tidak akan berhasil secara maksimal (Daud, 2012: 2).
Berdasarkan uraian di atas, maka dipandang perlu untuk mengkaji tinjauan sosiologi pendidikan lebih dalam. 

B. Rumusan Masalah 
Berdasarkan latar belakang di atas yang menjadi permasalahan dalam makalah ini, yakni :
  1. Bagaimana hubungan pendidikan dan masyarakat ? 
  2. Bagaimana peran pendidikan dalam pembangunan masyarakat ? 
  3. Bagaimanakah peran pendidikan dalam membentuk kesadaran akan kebangsaan Indonesia? 
  4. Bagaimanakah pengaruh pendidikan dalam melestarikan Pancasila ? 
  5. Bagaimana peranan pendidikan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat ? 

C. Tujuan Penulisan
Tujuan yang hendak dicapai dari pembuatan makalah ini, yaitu :
  1. Mengetahui hubungan pendidikan dan masyarakat. 
  2. Mengetahui peran pendidikan dan pembangunan masyarakat. 
  3. Memahami peran pendidikan dalam membentuk kesadaran akan kebangsaan Indonesia 
  4. Mengetahui pengaruh pendidikan dalam melestarikan Pancasila. 
  5. Memahami peranan pendidikan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. 

D. Manfaat Penulisan
Manfaat yang dapat diperoleh dari penulisan makalah ini yakni :
  1. Meningkatkan pengetahuan pembaca mengenai “Tinjauan Sosiologis Pendidikan”. 
  2. Sebagai bahan masukan dan pembanding bagi penulis selanjutnya dengan makalah yang relevan. 

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pendidikan dan Masyarakat
Menurut John Dewey, pendidikan merupakan proses pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik menyangkut daya pikir atau daya intelektual, maupun daya emosional atau perasaan yang diarahkan kepada tabiat manusia dan kepada sesamanya. Pengertian Pendidikan berarti tahapan kegiatan yang bersifat kelembagaan (sekolah) yang dipergunakan untuk menyempurnakan perkembangan individu dalam menguasai pengetahuan, kebiasaaan, sikap dan sebagainya (Dictionary Of Psychology, 1972). Sedangkan UUD Siksdiknas No.20 tahun 2003 menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara (Runtuwene, 2013: 2).

Pendidikan sendiri menurut Lengeveld adalah membimbing anak didik dari tingkat belum dewasa menuju ke kedewasaan. Berarti kriteria keberhasilan pendidikan adalah kedewasaan. Ki Hajar Dewantara, seorang Bapak Taman Siswa, menganggap pendidikan sebagai “daya upaya untuk mewujudkan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter, pikiran (intelek)) dan tubuh anak untuk memajukan kehidupan anak didik selaras dengan dunianya” (Sumantri, 2008).

Masyarakat selalu mencakup sekelompok orang yang berinteraksi antar sesamanya, saling tergantung dan terikat oleh nilai dan norma yang dipatuhi bersama, pada umumnya bertempat tinggal di wilayah tertentu, dan adakalanya mereka memiliki hubungan darah atau memiliki kepentingan bersama. Masyarakat dapat merupakan suatu kesatuan hidup dalam arti luas ataupun dalam arti sempit. Masyarakat dalam arti luas pada umumnya lebih abstrak misalnya masyarakat bangsa, sedang dalam arti sempit lebih konkrit misalnya marga atau suku. Masyarakat sebagai kesatuan hidup memiliki ciri utama, antara lain:
  1. Ada interaksi antara warga-warganya 
  2. Pola tingkah laku warganya diatur oleh adapt istiadat, norma-norma, hukum, dan aturan-aturan khas 
  3. Ada rasa identitas kuat yang mengikat para warganya. Kesatuan wilayah, kesatuan adat- istiadat, rasa identitas, dan rasa loyalitas terhadap kelompoknya merupakan pangkal dari perasaan bangga sebagai patriotisme, nasionalisme, jiwa korps, dan kesetiakawanan sosial (Umar Tirtarahardja dan La Sulo, 1994: 100 dalam Armanto, 2012).

Secara singkat pendidikan merupakan produk dari masyarakat, karena jika kita tinjau arti pendidikan sebagai proses transmisi pengetahuan, sikap, kepercayaan, keterampilan dan aspek-aspek kelakuan lainnya kepada generasi muda maka seluruh upaya tersebut sudah dilakukan sepenuhnya oleh kekuatan-kekuatan masyarakat. Hampir segala sesuatu yang kita pelajari merupakan hasil hubungan kita dengan orang lain baik di rumah, sekolah, tempat permainan, pekerjaan, dan sebagainya. Wajar pula apabila segala sesuatu yang kita ketahui adalah hasil hubungan timbal balik yang ternyata sudah sedemikian rupa dibentuk oleh masyarakat kita (Suprapto, 2003: 112).

Bagi masyarakat sendiri hakikat pendidikan sangat bermanfaat bagi kelangsungan dan proses kemajuan hidupnya. Agar masyarakat itu dapat melanjutkan eksistensinya, maka kepada anggota mudanya harus diteruskan nilai-nilai, pengetahuan, keterampilan dan bentuk tat perilaku lainnya yang diharapkan akan dimiliki oleh setiap anggoat. Setiap masyarakat berupaya meneruskan kebudayaannya denagn proses adaptasi tertentu sesuai corak masing-masing periode jaman kepada generasi muda melalui pendidikan, secara khusus melalui pendidikan, secara khusus melalui interaksi sosial. Dengan demikian pendidikan dapat diartikan sebagai proses sosialisasi (Hasan, 2010).

B. Pendidikan dan Pembangunan Masyarakat
Cepat atau lambat masyarakat pasti akan berubah, bukan ke arah kemunduran atau keterbelakangan tetapi ke arah kemajuan. Gerak kemajuan ini sebagian berlangsung secara sadar dan sebagian lagi berlangsung secara tidak sadar. Gerak maju yang secara sadar adalah gerak kemajuan masyarakat karena pembangunan. (Fattah, 2010).

Jadi, pembangunan pada hakekatnya adalah suatu usaha untuk bergerak majunya masyarakat. Namun siapa yang menjadi agen dalam pembangunan itu yang masih menjadi pertanyaan. Yaitu tidak lain adalah orang-orang yang hidup di dalam masyarakat itu sendiri. Jika anggota suatu masyarakat itu sendiri tidak mau menjadi agen dari pembangunan masyarakat, masyarakat pasti akan statis, tidak mau mengalami perkambangan. Jika ada kemajuan pasti juga berjalam dengan lambat.

Anggota masyarakat itu bisa digolongkan menjadi 2 bagian masyarakat berdasar ciri-cirinya terhadap pembangunan yaitu masyarakat yang statis dan dinamis.
  • a. Masyarakat yang bersifat statis yaitu orang yang selalu ingin mempertahankan yang lama saja. Orang semacam ini tidak mau melakukan adanya perubahan yang terjadi di dalam masyarakatnya. Jika ada sesuatu yang baru maka dengan segera orang tersebut menolaknya dengan seribu alasan. Contoh dari orang ini terletak pada suku Samin dan Badui.
  • b. Masyarakat yang bersifat dinamis yaitu orang yang selalu ingin mengalami perubahan ke arah kemajuan, yang menghendaki adanya hal-hal baru dan yang maju. Mereka yang demikian adalah mereka yang berfikir kreatif dinamis. Mereka yang ingin adanya pembaharuan di dalam masyarakat. Mereka ingin memajukan cara hidup, ingin kemajuan, kemakmuran dan kesejahteraan. Mereka inilah yang menjadi agen pembangunan dalam masyarakat, yang menjadi pendorong dan penghela masyarakatnya untuk mengalami kemajuan (Soerya, 2010).

Adanya opini masyarakat bahwa tanggung jawab utama pembangunan (dalam bidang pendidikan) hanya terletak di tangan pemerintah, menyebabkan masyarakat merasa hanya ditempatkan sebagai “bukan pemain utama” dan berakibat melemahkan kemauan berpartisipasi warga dan kelompok-kelompok masyarakat dalam pengembangan pendidikan. Kondisi ini telah merugikan pengembangan pendidikan itu sendiri dan semakin memberatkan pemerintah sebagai penyelenggara Negara (Suprapto, 2003: 116).

Tugas pendidikan untuk mencetak individu anggota masyarakat golongan itu. Jadi, pendidikan harus mempersiapkan anak didik untuk kelak dapat menjadi agen pembangunan bagi masyarakat bangsanya. Kelak anak-anak harus dapat melaksanakan pembaharuan masyarakat bangsanya tanpa menimbulkan kerawanan (Walgi, 2013).

Pembangunan merupakan proses yang berkesinambungan yang mencakup seluruh aspek kehidupan masyarakat, termasuk aspek sosial, ekonomi, politik dan kultural, dengan tujuan utama meningkatkan kesejahteraan warga bangsa secara keseluruhan. Dalam proses pembangunan tersebut peranan pendidikan amatlah strategis (Prawiro, 2013).

Menurut John C. Bock, dalam Education and Development, A Conflict Meaning (1992), mengidentifikasi peran pendidikan tersebut sebagai: memasyarakatkan ideologi dan nilai-nilai sosio-kultural bangsa, mempersiapkan tenaga kerja untuk memerangi kemiskinan, kebodohan, dan mendorong perubahan social, dan untuk meratakan kesempatan dan pendapatan. Peran yang pertama merupakan fungsi politik pendidikan dan dua peran yang lain merupakan fungsi ekonomi.

C. Pendidikan dan Kelestarian Pancasila
Pancasila adalah dasar Negara Indonesia. Pancasila merupakan pandangan hidup yang asli dari bumi Indonesia yang diwariskan oleh nenek moyang. Demikianlah maka Pancasila merupakan jiwa, pribadi dan pandangan hidup bangsa Indonesia. Oleh karena Pancasila sebagai pandangan hidup, maka pancasila harus ditanamkan kepada generasi muda. Sebagai jiwa dan pribadi, Pancasila harus dikembangkan pada diri anak didik, generasi muda Indonesia. Pendek kata pancasila harus dijaga kelestariannya. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Pancasila harus terus-menerus menjadi pandangan hidup bangsa, jiwa dan pribadinya bangsa Indonesia. Pelestarian Pancasila dapat dilakukan melalui 3 jalur yaitu melalui jalur pendidikan, jalur media massa, jalur organisasi politik. 

Pendidikan dalam keluarga memiliki peranan penting dalam pelestarian pancasila. Sebab, apabila tidak, maka Pancasila itu hanya tinggal kenang-kenangan saja bagi generasi yang akan dating. Benar bahwa pancasila adalah pribadi bangsa Indonesia. Tetapi pribadi yang demikian tidak akan berkembang bila tidak mendapat siraman air pendidikan. Benar bahwa Pancasila adalah jiwa bangsa Indonesia, jiwa masyarakat Indonesia. Tetapi apabila tidak terpelihara, maka pasti akan terkena erosi, dan jika tidak diusahakan pelestariannya lewat pendidikan, maka pancasila akan tenggelam dilupakan oleh bangsa Indonesia(Walgi, 2013).

D. Pendidikan dan Kesadaran Kebangsaan
Pendidikan merupakan pondasi utama untuk membangun peradaban pada sebuah bangsa. Kesadaran akan arti penting pendidikan akan menentukan kualitas kesejahteraan lahir batin dan masa depan warganya. Oleh karena itu materi pengajaran dan manajemen pendidikan sudah seharusnya menjadi perhatian bagi para penyelenggara negara. Terbukti bahwa semua bangsa yang berhasil mencapai tingkat kemajuan kebudayaan dan teknologi tinggi mesti disangga oleh kualitas pendidikan yang sangat kokoh.

Kesadaran di atas dibangun dan diperkuat pada setiap warga masyarakat, pada anak-anak, pada pemuda, pada orang tua, di semua daerah, di semua sektor kehidupan. Membangun kesadaran baru ini adalah langkah utama dalam upaya bangsa ini untuk mendidik dirinya sendiri. Ini menjadi tugas setiap orang, apapun peran dia : orang tua, guru, jurnalis, pejabat negara, politisi, pegawai pemerintah, aktivis LSM, pengusaha, pekerja swasta, rohaniwan (Raka, 2005: 12).

E. Pendidikan dan Kesejahteraan Masyarakat
Dalam kaitan ini, pendidikan merupakan unsur penting yang harus mendapat prioritas utama. Dalam kerangka itulah, pendidikan diharapkan dapat memberi sumbangan bagi perkembangan seutuhnya setiap orang, baik jiwa, raga, intelijensi, kepekaan, estetika, tangung jawab, dan nilai-nilai spiritual. Melalui pendidikan, setiap orang hendaknya dapat diberdayakan untuk berpikir mandiri dan kritis. Dalam dunia yang terus berubah dan diwarnai oleh inovasi sosial dan ekonomi, pendidikan tampak sebagai salah satu kekuatan pendorong untuk meningkatkan kualitas imajinasi dan kreativitas sebagai ungkapan dari kebebasan manusia dan standarisasi tingkah laku perorangan. Kesempatan atau peluang perlu diberikan kepada generasi muda untuk melakukan percobaan dan menemukan sesuatu yang baru (UNESCO, 1996:94 dalam Karwati, 2010: 8).

Tujuan pendidikan memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan. Karena itu tujuan pendidikan mempunyai dua fungsi yaitu memberikan arah kepada segenap kegiatan pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan. Tujuan pendidikan menduduki posisi penting diantara komponen-komponen pendidikan lainya.

Tujuan pendidikan bersifat normatif yaitu mengandung unsur-unsur norma bersifat memaksa, tetapi tidak bertentangan dengan hakikat perkembangan peserta didik serta dapat diterima oleh masyarakat sebagai nilai hidup yang baik. Sehubungan dengan fungsi tujuan yang demikian penting itu, maka menjadi keharusan bagi pendidik untuk memahaminya. Kekurangpahaman pendidik terhadap tujuan pendidikan dapat mengakibatkan kesalahan di dalam melaksanakan pendidikan. Gejala yang demikian oleh Langeveld disebut salah teoritis (Langeveld, 1955).

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia no. 20 tahun 2003 yang terdapat dalam pasal 3 disebutkan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Tujuan pendidikan dan pengajaran dapat dibedakan dan disusun menurut hierarki sebagai berikut: tujuan umum, tujuan institusional, tujuan kurikuler, dan tujuan intruksional.
  • a. Tujuan umum pendidikan nasional Indonesia adalah manusia yang berjiwa pancasila.
  • b. Tujuan Institusional ialah tujuan pendidikan yang akan dicapai menurut jenis dan tingkatan sekolah atau lembaga pendidikan masing-masing, biasanya tercantum dalam kurikulum sekolah atau lembaga pendidikan yang harus dicapai setelah selesai belajar, Tujuan Institusional ini berbentuk Standar Kompetensi Lulusan. Standar Kompetensi Lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik.
  • c. Tujuan kurikuler adalah tujuan kurikulum sekolah yang telah diperinci menurut bidang studi atau mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran.
  • d. Tujuan intruksional adalah tujuan pokok bahasan atau tujuan sub pokok bahasan yang diajarkan oleh guru. Tujuan intruksional dibedakan menjadi dua macam yaitu tujuan intruksional umum (TIU) dan tujuan intruksional khusus (TIK).

Jika diperhatikan secara jelas bahwa rumusan tujuan pendidikan terdiri atas dua bagian yaitu:
  1. Tujuan individual yaitu untuk membentuk manusia susila yang cakap. 
  2. Tujuan kemasyarakatan yaitu untuk membentuk warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan dan tanah air. 

Bagian pertama menyatakan bahwa tujuan pendidikan untuk membentuk manusia atau individu susila yang cakap. Itulah manusia yang cakap, memang berlainan dengan istilah manusia yang cakap dan susila. Dengan istilah manusia yang cakap dan susila dimaksudkan, behwa setiap manusia Indonesia harus mendapatkan pendidikan dan pengajaran, sehingga manusia Indonesia menjadi manusia yang susila, tetapi juga cakap. Jadi sifat susila dan cakap harus dimiliki setiap individu.

Manusia susila diutamakan karena individu susila yang tidak dapat memajukan kesejahteraan dan kemakmuran bangsanya. Individu yang cakap tetapi tidak susila dapat membahayakan bagi bangsa dan masyarakatnya. Sebab kecakapanyang dimiliki seseorang dapat digunakan untuk menjalankan kejahatan terhadap masyarakat dan bangsanya seperti memeras, menggelapkan uang, membantai, membohongi masyarakat, dan sebagainya. Manusia yang tidak cakap namun susila itu lebih baik daripada manusia yang cakap namun tidak susila. Ini karena manusia yang susila tetapi tidak cakap tidak akan membahayakan bagi masyarakat ataupun bangsanya serta tidak mengganggu kesejahteraan.

Pada bagian kedua rumusan tujuan pendidikan adalah membentuk warga Negara yang demokratis. Jadi yang dikehendaki rumusan itu adalah warga Negara yang berjiwa demokratis dan sekaligus bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat serta tanah air. Setiap warga Negara harus bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakatnya. Jadi, setiap warga Negara harus susila, cakap, demokratis, bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air. Dengan demikian, pendidikan Indonesia berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat(Walgi, 2013).

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan dapat ditarik beberapa simpulan, sebagai berikut :
  1. Pendidikan merupakan produk dari masyarakat, karena jika kita tinjau arti pendidikan sebagai proses transmisi pengetahuan, sikap, kepercayaan, keterampilan dan aspek-aspek kelakuan lainnya kepada generasi muda maka seluruh upaya tersebut sudah dilakukan sepenuhnya oleh kekuatan-kekuatan masyarakat. 
  2. Tugas pendidikan untuk mencetak individu anggota masyarakat golongan masyarakat yang bersifat statis maupun dinamis. Pendidikan harus mempersiapkan anak didik untuk kelak dapat menjadi agen pembangunan bagi masyarakat bangsanya. 
  3. Pancasila adalah pandangan hidup bangsa Indonesia yang harus dijaga kelestariannya sehingga harus ditanamkan kepada generasi muda agar nilai-nilai didalamnya terpelihara di dalam jiwa pribadi bangsa Indonesia. 
  4. Kesadaran akan arti penting pendidikan akan menentukan kualitas kesejahteraan lahir batin dan masa depan warganya. Kesadaran di atas dibangun dan diperkuat pada setiap warga masyarakat, pada anak-anak, pada pemuda, pada orang tua, di semua daerah. 
  5. Rumusan tujuan pendidikan terdiri atas dua bagian yaitu tujuan individual yaitu untuk membentuk manusia susila yang cakap dan tujuan kemasyarakatan yaitu untuk membentuk warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan dan tanah air. Setiap warga Negara harus susila, cakap, demokratis, bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air. 

B. Saran
Hendaknya untuk mengkaji materi terpaut tinjauan sosiologis pendidikan ini alangkah baiknya jika diperdalam dengan mengkaji ilmu sosiologi pendidikan untuk memperluas khasanah pengetahuan pembaca.