MAKALAH TRANSPORT KONVEKTIF - ElrinAlria
MAKALAH TRANSPORT KONVEKTIF
MAKALAH TRANSPORT KONVEKTIF
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Obat merupakan senyawa yang digunakan untuk mencegah, mengobati, mendiagnosis penyakit atau gangguan, atau menimbulkan suatu kondisi tertentu, misalnya membuat seseorang infertil, atau melumpuhkan otot rangka selama pembedahan. Di dalam darah, obat akan diikat oleh protein plasma darah dan reaksi ini bersifat reversibel. Hanya molekul obat bebas yang dapat menembus membran sel untuk masuk kedalam sel-sel hati tempat terjadinya biotransformasi atau metabolisme, sedangkan molekul bebas lainnya memasuki jaringan berbagai organ dan memengaruhi fungsi faal atau fungsi biokimia sehingga terjadi efek obat. Sebagian lagi memasuki ginjal dan kadang-kadang langsung di ekskresi. Namun, obat umumnya baru di ekskresi setelah mengalami biotransformasi.

Absorpsi dari obat merupakan faktor yang sangat penting dalam memilih cara pemberian obat yang tepat, dalam merancang bentuk sediaan yang paling manjur dan karena itu juga dalam kerja terapi obat atau penentuan dosis obat. Pada umumnya absorbsi dan disribusi obat terjadi secara difusi. Proses difusi ini diawali dengan obat harus berada dalam larutan air yang berada pada permukaan membran sel, kemudian molekul obat akan melewati membran dengan melarut dalam lemak membran.

Peristiwa terpenting dalam proses farmakokinetik adalah transport lintas membran dan berdasarkan mekanisme terjadinya, transport lintas membrane dibagi menjadi 7 macam. Sebagai seorang farmasis yang menerapkan proses farmakokinetika dalam tugas keprofesiannya sebagai penemu, perancang dan pembuat obat maka dibutuhkan pengetahuan mendalam mengenai ketujuh jenis transport lintas membran. Pengetahuan mengenai hal ini dapat membantu para farmasis tuntuk meramalkan proses absorpsi dari setiap obat yang dikonsumsi oleh pasien sehingga onset dapat diperkirakan dan hal ini mempengaruhi hasil dari formulasi sediaan yang dikerjakan oleh seorang apoteker.

B. RUMUSAN MASALAH
Adapun yang menjadi rumusan masalah dari penulisan makalah ini yaitu sebagai berikut :
  1. Apa yang dimaksud dengan transport konvektif? 
  2. Bagaimana mekanisme transport konvektif? 
  3. Apa saja contoh obat yang mengikuti sistem transport konvektif? 

C. TUJUAN PENULISAN
Adapun yang menjadi tujuan dari penulisan makalah ini yaitu sebagai berikut:
  1. Untuk mengetahui pengertian transport konvektif 
  2. Untuk mengetahui mekanisme transport konvektif 
  3. Untuk mengetahui obat-obat yang mengikuti mekanisme sistem transport konvektif. 

BAB II
PEMBAHASAN
A. TRANSPORT LINTAS MEMBRAN SECARA KONVEKTIF
Obat yang masuk dalam tubuh melalui berbagai cara pemberian umumnya mengalami beberapa tahap yaitu absorbsi, distribusi metabolisme, dan ekskresi. Absorbsi merupakan tahap pertama yang harus dilalui obat sebelum mencapai sistemik dan memberikan efek setelah berikatan dengan reseptor. Dalam proses absorpsi ini, obat harus dapat melewati membran yang umumnya bersifat semi permeabel. Sifat semi permeabel membran memungkinkan hanya molekul berukuran kecil dan air yang dapat masuk menembus membran selain itu molekul zat kimia dapat melintasi membran semi permiabel berdasarkan adanya perbedaan konsentrasi, pada proses ini beberapa mekanisme transport memegang peranan penting yaitu secara pasif atau aktif. 

a. Transport pasif adalah bentuk transport lintas membran yang proses perpindahan zatnya dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah (tidak melawan gradien konsentrasi), oleh sebab itu proses transport pasif tidak menggunakan energi pada proses pelaluannya. Proses transpor pasif dapat terjadi dengan 2 cara yaitu :
  1. Filtrasi atau transport konvektif 
  2. Difusi 
- Filtrasi :

membran sel


Bentuk transpor pasif melalui pori-pori kecil pada membran, contoh pori-pori pada dinding kapiler. Filtrasi adalah nama lain untuk transpor konvektif. Transpor konvektif berlaku untuk : 
  1. Berukuran kecil (4-7 Å) dan hanya dapat dilalui oleh molekul dengan bobot molekul yang kecil yaitu lebih kecil dari 150 untuk senyawa yang bulat, atau lebih kecil dari 400 jika molekulnya terdiri atas rantai panjang. untuk itu, transpor konvektif khusus untuk senyawa-senyawa yang berukuran cukup kecil. Contoh : molekul alkohol, urea, air dan gula. 
  2. Terjadi untuk partikel kecil yang bersifat hidrofobik/ senyawa yang menyukai air 

Proses transpor konvektif terjadi pada seluruh organ dan jaringan absorpsi : 
  1. Dalam rongga mulut (difusi pasif – transport konvektif.) 
  2. Dalam lambung (difusi pasif– transport konvektif & mungkin transport aktif.) 
  3. Dalam usus kecil (difusi pasif – transport konvektif & mungkin transport aktif – transport fasilitatif – ion pair – pinositosis) 
  4. Dalam usus besar& rectum (difusi pasif – transport konvektif & pinositosis) 
  5. Pada kulit (difusi pasif – transport konvektif) 

Berbeda dengan difusi pasif, pada transport konvektif pelaluan dilakukan oleh zat kimia yang berukuran kecil dan bersifat hidrofilik, sedangkan pada difusi pasif hanya dapat dilalui oleh molekul kecil dan bersifat hidrofobik, hal ini disebabkan mekanisme obat secara difusi akan bereaksi dengan lipid membran sehingga untuk dapat melarut sempurna, zat kimia harus berupa hidrobobik atau lipofilik. 

B. MEKANISME TRANSPOR KONVEKTIF 
Transport konvektif merupakan jenis dari trasnport difusi yang mekanisme terjadinya tidak melibatkan proses melawan gradien konsentrasi sehingga tidak memerlukan energi. Proses transport terjadi hingga terjadi kesetimbangan atau telah mencapai taraf mantap (steady state) atau dicapai kadar obat bentuk non-ion kedua sisi membran akan sama atau telah dicapai kesetimbangan. 
MEKANISME TRANSPOR KONVEKTIF

Mekanisme terjadinya transport konvektif :
  • Mula- mula obat berada dalam larutan air pada permukaan membran sel 
  • Karena adanya kandungan obat diluar sel menyebabkan pada kompartemen luar atau luar sel mengalami kenaikan konsentrasi 
  • Untuk menyeimbangkan perbedaan konsentrasi, obat yang bersifat hidrofobik bersama air masuk ke membran melalui bantuan protein transpor atau protein integral. Protein integral disebut pula sebagai kanal ion atau saluran aqua atau aquaporins. Protein integral disebut sebagai saluran aqua karena kemampuannya untuk dilewati oleh molekul air. 
  • Setelah melalui protein integral pada membran, obat masuk ke sistemik yang terdapat pada lapisan terdalam membran. 
  • Pada proses ini obat bergerak dari sisi yang kadarnya lebih tinggi kesisi lain. Setelah taraf mantap (steady state) dicapai kadar obat bentuk non-ion kedua sisi membran akan sama 
  • Kesetimbangan terbentuk, proses transport pasif berakhir. 

Proses pelaluan molekul pada membran organ absorpsi terjadi hanya untuk molekul hidrofilik atau polar dan merupakan basa lemah. Obat yang bersifat asam/basa kuat tidaklah stabil hal ini ditandai dengan kemampuan obat untuk menjadi ion-ion bermuatan ketika bereaksi dengan air sehingga dibutuhkan obat dalam bentuk asam/basa lemah agar tidak terbentuk ion-ion bermuatan, namun obat asam/basa lemah dapat membnetuk ion bermuatan apabila lingkungan absorpsinya berada pada sifat keaasam/basaannya berbeda dan merupakan asam/basa kuat. Sehingga obat yang asam lemah yang tidak akan membentuk ion bermuatan pada lingkungan asam kuat baik untuk diabsorpsi di lambung, sedangkan obat basa lemah yang tidak membentuk ion bermuatan pada lingkungan basa kuat baik untuk diabsorpsi di usus. 

C. CONTOH OBAT YANG MENGIKUTI SiSTEM TRANSPORT KONVEKTIF
Contoh obat yang mekanisme transportnya menggunakan transport konvektif adalah obat yang larut dalam air seperti vitamin B dan C, sulfonamida terionisasi. 

1. Vitamin B1 
Berat molekul vitamin B1 adalah 337,27 gram/mol. Absorbsi per oral maksimum 8-15 mg/hari yang dicapai dengan pemberian oral sebanyak 40 mg. Dalam satu hari sebanyak 1 mg tiamin mengalami degradasi di jaringan tubuh. 

2. Vitamin C 
Vitamin C


Berat molekul vitamin C adalah 176,13 gram/mol. Vitamin C mudah diabsorbsi melalui saluran cerna. Ekskresi melalui urine dalam bentuk utuh dan bentuk garam sulfatnya terjadi jika kadar dalam darah melewati ambang rangsang ginjal 1,4 mg%. 

3. Sulfonamida terionisasi 
Sulfonamida merupakan golongan zat antibakteri yang banyak digunakan untuk penanganan infeksi saluran kemih. Sulfonamida bersifat amfoter artinya dapat membentuk garam dengan asam atau pun basa. Daya larutnya sangat kecil dalam air namun bentuk terionya mudah larut dalam air walaupun sifatnya tidak stabil karena mudah terurai. Jadi, mekanisme transport untuk sulfonamida terionisasi adalah transport konvektif. 

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Simpulan yang dapat diambil dari makalah ini adalah sebagai berikut :
  1. Transport konvektif adalah salah satu jenis transport pasif yang proses melewatkan zat kimianya tidak menggunakan energi dan proses ini berlaku untuk zat kimia yang bersifat hidrofilik yang berukuran kecil. 
  2. Mekanisme pelaluan yaitu partikel kecil masuk melewati membran menuju sistemik melalui protein transport/ pori-pori. 
  3. Macam-macam obat yang menerapkan proses transport konvektif adalah vitamin B dan C, sulfonamida terionisasi.

MAKALAH TRANSPORT KONVEKTIF

MAKALAH TRANSPORT KONVEKTIF
MAKALAH TRANSPORT KONVEKTIF
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Obat merupakan senyawa yang digunakan untuk mencegah, mengobati, mendiagnosis penyakit atau gangguan, atau menimbulkan suatu kondisi tertentu, misalnya membuat seseorang infertil, atau melumpuhkan otot rangka selama pembedahan. Di dalam darah, obat akan diikat oleh protein plasma darah dan reaksi ini bersifat reversibel. Hanya molekul obat bebas yang dapat menembus membran sel untuk masuk kedalam sel-sel hati tempat terjadinya biotransformasi atau metabolisme, sedangkan molekul bebas lainnya memasuki jaringan berbagai organ dan memengaruhi fungsi faal atau fungsi biokimia sehingga terjadi efek obat. Sebagian lagi memasuki ginjal dan kadang-kadang langsung di ekskresi. Namun, obat umumnya baru di ekskresi setelah mengalami biotransformasi.

Absorpsi dari obat merupakan faktor yang sangat penting dalam memilih cara pemberian obat yang tepat, dalam merancang bentuk sediaan yang paling manjur dan karena itu juga dalam kerja terapi obat atau penentuan dosis obat. Pada umumnya absorbsi dan disribusi obat terjadi secara difusi. Proses difusi ini diawali dengan obat harus berada dalam larutan air yang berada pada permukaan membran sel, kemudian molekul obat akan melewati membran dengan melarut dalam lemak membran.

Peristiwa terpenting dalam proses farmakokinetik adalah transport lintas membran dan berdasarkan mekanisme terjadinya, transport lintas membrane dibagi menjadi 7 macam. Sebagai seorang farmasis yang menerapkan proses farmakokinetika dalam tugas keprofesiannya sebagai penemu, perancang dan pembuat obat maka dibutuhkan pengetahuan mendalam mengenai ketujuh jenis transport lintas membran. Pengetahuan mengenai hal ini dapat membantu para farmasis tuntuk meramalkan proses absorpsi dari setiap obat yang dikonsumsi oleh pasien sehingga onset dapat diperkirakan dan hal ini mempengaruhi hasil dari formulasi sediaan yang dikerjakan oleh seorang apoteker.

B. RUMUSAN MASALAH
Adapun yang menjadi rumusan masalah dari penulisan makalah ini yaitu sebagai berikut :
  1. Apa yang dimaksud dengan transport konvektif? 
  2. Bagaimana mekanisme transport konvektif? 
  3. Apa saja contoh obat yang mengikuti sistem transport konvektif? 

C. TUJUAN PENULISAN
Adapun yang menjadi tujuan dari penulisan makalah ini yaitu sebagai berikut:
  1. Untuk mengetahui pengertian transport konvektif 
  2. Untuk mengetahui mekanisme transport konvektif 
  3. Untuk mengetahui obat-obat yang mengikuti mekanisme sistem transport konvektif. 

BAB II
PEMBAHASAN
A. TRANSPORT LINTAS MEMBRAN SECARA KONVEKTIF
Obat yang masuk dalam tubuh melalui berbagai cara pemberian umumnya mengalami beberapa tahap yaitu absorbsi, distribusi metabolisme, dan ekskresi. Absorbsi merupakan tahap pertama yang harus dilalui obat sebelum mencapai sistemik dan memberikan efek setelah berikatan dengan reseptor. Dalam proses absorpsi ini, obat harus dapat melewati membran yang umumnya bersifat semi permeabel. Sifat semi permeabel membran memungkinkan hanya molekul berukuran kecil dan air yang dapat masuk menembus membran selain itu molekul zat kimia dapat melintasi membran semi permiabel berdasarkan adanya perbedaan konsentrasi, pada proses ini beberapa mekanisme transport memegang peranan penting yaitu secara pasif atau aktif. 

a. Transport pasif adalah bentuk transport lintas membran yang proses perpindahan zatnya dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah (tidak melawan gradien konsentrasi), oleh sebab itu proses transport pasif tidak menggunakan energi pada proses pelaluannya. Proses transpor pasif dapat terjadi dengan 2 cara yaitu :
  1. Filtrasi atau transport konvektif 
  2. Difusi 
- Filtrasi :

membran sel


Bentuk transpor pasif melalui pori-pori kecil pada membran, contoh pori-pori pada dinding kapiler. Filtrasi adalah nama lain untuk transpor konvektif. Transpor konvektif berlaku untuk : 
  1. Berukuran kecil (4-7 Å) dan hanya dapat dilalui oleh molekul dengan bobot molekul yang kecil yaitu lebih kecil dari 150 untuk senyawa yang bulat, atau lebih kecil dari 400 jika molekulnya terdiri atas rantai panjang. untuk itu, transpor konvektif khusus untuk senyawa-senyawa yang berukuran cukup kecil. Contoh : molekul alkohol, urea, air dan gula. 
  2. Terjadi untuk partikel kecil yang bersifat hidrofobik/ senyawa yang menyukai air 

Proses transpor konvektif terjadi pada seluruh organ dan jaringan absorpsi : 
  1. Dalam rongga mulut (difusi pasif – transport konvektif.) 
  2. Dalam lambung (difusi pasif– transport konvektif & mungkin transport aktif.) 
  3. Dalam usus kecil (difusi pasif – transport konvektif & mungkin transport aktif – transport fasilitatif – ion pair – pinositosis) 
  4. Dalam usus besar& rectum (difusi pasif – transport konvektif & pinositosis) 
  5. Pada kulit (difusi pasif – transport konvektif) 

Berbeda dengan difusi pasif, pada transport konvektif pelaluan dilakukan oleh zat kimia yang berukuran kecil dan bersifat hidrofilik, sedangkan pada difusi pasif hanya dapat dilalui oleh molekul kecil dan bersifat hidrofobik, hal ini disebabkan mekanisme obat secara difusi akan bereaksi dengan lipid membran sehingga untuk dapat melarut sempurna, zat kimia harus berupa hidrobobik atau lipofilik. 

B. MEKANISME TRANSPOR KONVEKTIF 
Transport konvektif merupakan jenis dari trasnport difusi yang mekanisme terjadinya tidak melibatkan proses melawan gradien konsentrasi sehingga tidak memerlukan energi. Proses transport terjadi hingga terjadi kesetimbangan atau telah mencapai taraf mantap (steady state) atau dicapai kadar obat bentuk non-ion kedua sisi membran akan sama atau telah dicapai kesetimbangan. 
MEKANISME TRANSPOR KONVEKTIF

Mekanisme terjadinya transport konvektif :
  • Mula- mula obat berada dalam larutan air pada permukaan membran sel 
  • Karena adanya kandungan obat diluar sel menyebabkan pada kompartemen luar atau luar sel mengalami kenaikan konsentrasi 
  • Untuk menyeimbangkan perbedaan konsentrasi, obat yang bersifat hidrofobik bersama air masuk ke membran melalui bantuan protein transpor atau protein integral. Protein integral disebut pula sebagai kanal ion atau saluran aqua atau aquaporins. Protein integral disebut sebagai saluran aqua karena kemampuannya untuk dilewati oleh molekul air. 
  • Setelah melalui protein integral pada membran, obat masuk ke sistemik yang terdapat pada lapisan terdalam membran. 
  • Pada proses ini obat bergerak dari sisi yang kadarnya lebih tinggi kesisi lain. Setelah taraf mantap (steady state) dicapai kadar obat bentuk non-ion kedua sisi membran akan sama 
  • Kesetimbangan terbentuk, proses transport pasif berakhir. 

Proses pelaluan molekul pada membran organ absorpsi terjadi hanya untuk molekul hidrofilik atau polar dan merupakan basa lemah. Obat yang bersifat asam/basa kuat tidaklah stabil hal ini ditandai dengan kemampuan obat untuk menjadi ion-ion bermuatan ketika bereaksi dengan air sehingga dibutuhkan obat dalam bentuk asam/basa lemah agar tidak terbentuk ion-ion bermuatan, namun obat asam/basa lemah dapat membnetuk ion bermuatan apabila lingkungan absorpsinya berada pada sifat keaasam/basaannya berbeda dan merupakan asam/basa kuat. Sehingga obat yang asam lemah yang tidak akan membentuk ion bermuatan pada lingkungan asam kuat baik untuk diabsorpsi di lambung, sedangkan obat basa lemah yang tidak membentuk ion bermuatan pada lingkungan basa kuat baik untuk diabsorpsi di usus. 

C. CONTOH OBAT YANG MENGIKUTI SiSTEM TRANSPORT KONVEKTIF
Contoh obat yang mekanisme transportnya menggunakan transport konvektif adalah obat yang larut dalam air seperti vitamin B dan C, sulfonamida terionisasi. 

1. Vitamin B1 
Berat molekul vitamin B1 adalah 337,27 gram/mol. Absorbsi per oral maksimum 8-15 mg/hari yang dicapai dengan pemberian oral sebanyak 40 mg. Dalam satu hari sebanyak 1 mg tiamin mengalami degradasi di jaringan tubuh. 

2. Vitamin C 
Vitamin C


Berat molekul vitamin C adalah 176,13 gram/mol. Vitamin C mudah diabsorbsi melalui saluran cerna. Ekskresi melalui urine dalam bentuk utuh dan bentuk garam sulfatnya terjadi jika kadar dalam darah melewati ambang rangsang ginjal 1,4 mg%. 

3. Sulfonamida terionisasi 
Sulfonamida merupakan golongan zat antibakteri yang banyak digunakan untuk penanganan infeksi saluran kemih. Sulfonamida bersifat amfoter artinya dapat membentuk garam dengan asam atau pun basa. Daya larutnya sangat kecil dalam air namun bentuk terionya mudah larut dalam air walaupun sifatnya tidak stabil karena mudah terurai. Jadi, mekanisme transport untuk sulfonamida terionisasi adalah transport konvektif. 

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Simpulan yang dapat diambil dari makalah ini adalah sebagai berikut :
  1. Transport konvektif adalah salah satu jenis transport pasif yang proses melewatkan zat kimianya tidak menggunakan energi dan proses ini berlaku untuk zat kimia yang bersifat hidrofilik yang berukuran kecil. 
  2. Mekanisme pelaluan yaitu partikel kecil masuk melewati membran menuju sistemik melalui protein transport/ pori-pori. 
  3. Macam-macam obat yang menerapkan proses transport konvektif adalah vitamin B dan C, sulfonamida terionisasi.