MALAKALAH ANALISIS KANDUNGAN SEDIAAN JAMU SESAK NAPAS - ElrinAlria
MALAKALAH ANALISIS KANDUNGAN SEDIAAN JAMU SESAK NAPAS

ANALISIS KANDUNGAN SEDIAAN JAMU SESAK NAPAS
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 
Obat tradisional Indonesia telah berabad-abad lamanya dipergunakan secara luas oleh masyarakat Indonesia, meskipun masih banayak bahan baku standar yang belum memiliki persyaratan resmi. Obat tradisional pada umumnya menggunakan bahan-bahan alam yang lebih dikenal sebagai simplisia. Simplisia ialah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga, kecuali dinyatakan lain, berupa bahan yang telah dikeringkan.

Semakin maraknya penggunaan obat tradisional berdasarkan khasiat yang turun temurun semakin memperluas kesempatan terjadinya pemalsuan simplisia bahkan ada beberapa jamu yang mengandung bahan kimia obat (BKO) yang telah jelas dilarang penambahannya baik sengaja maupun tidak disengaja kedalam produk obat tradisional.

Oleh karena itu, maka diperlukan adanya analisis terhadap sediaan jamu yang beredar dipasaran yang meliputi analisis makroskopik dan mikroskopik serta analisis kimia untuk melindungi masyarakat luas dari peredaran obat tradisional yang mengandung simplisia palsu maupun bahan kimia obat.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini yaitu:
  1. Apa yang dimasud dengan jamu?
  2. Bagaimana cara menganalisis sediaan jamu?
  3. Apa yang dimaksud dengan asma?
  4. Bagaimana menganalisis sediaan jemu sesak napas?

C. Tujuan
Tujuan dalam penulisan makalah ini yaitu:
  1. Untuk mengetahui pengertian jamu
  2. Untuk mengetahui cara menganalisis sediaan jamu
  3. Untuk mengetahui pengertian asma
  4. Untuk mengetahui analisis serbuk jamu sesak napas

D. Manfaat
Manfaat dalam penulisan makalah ini yaitu:
  1. Agar dapat mengetahui pengertian jamu
  2. Agar dapat mengetahui cara menganalisis sediaan jamu
  3. Agar dapat mengetahui pengertian asma
  4. Agar dapat mengetahui analisis serbuk jamu sesak napas

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Jamu
Jamu adalah sebutan untuk obat tradisional dari indonesia. Belakangan populer dengan sebutan herba atau herbal. Jamu dibuat dari bahan-bahan alami, berupa bagian dari tumbuhan seperti rimpang (akar-akaran), daun-daunan dan kulit batang, buah. Ada juga menggunakan bahan dari tubuh hewan, seperti empedu kambing atau tangkur buaya.

Jamu biasanya terasa pahit sehingga perlu ditambah madu sebagai pemanis agar rasanya lebih dapat ditoleransi peminumnya. Jamu sudah dikenal sudah berabad-abad di indonesia yang mana pertama kali jamu dikenal dalam lingkungan istana atau keraton yaitu kesultanan di djogjakarta dan kasunanan di surakarta. Jaman dahulu resep jamu hanya dikenal dikalangan keraton dan tidak diperbolehkan keluar dari keraton. Tetapi seiring dengan perkembangan jaman, orang-orang lingkungan keraton sendiri yang sudah modern, mereka mulai mengajarkan meracik jamu kepada masyarakat diluar keraton sehingga jamu berkembang sampai saat ini tidak saja hanya di indonesia tetapi sampai ke luar negeri.

Sejak dahulu kala, indonesia telah dikenal akan kekayaannya, tanah yang subur dengan hamparan bermacam-macam tumbuhan yang luas. Tanah yang subur dengan kekayaan tanaman sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat indonesia karena mereka bergantung dari alam dalam usahanya untuk memenuhi bermacam-macam kebutuhan. Pengolahan tanah, pemungutan hasil panen, proses alam tidak hanya menghasilkan makanan, tetapi juga berbagai produk yang berguna untuk perawatan kesehatan dan kecantikan.

B. Cara Menganalisa Sediaan Jamu
Berdasarkan undang-undang kesehatan bidang farmasi dan kesehatan, yang dimaksud dengan Obat bahan Alam Indonesia adalah Obat bahan Alam yang diproduksi di Indonesia. Berdasarkan cara pembuatan serta jenis klaim penggunaan dan tingkat pembuktian khasiat, Obat bahan Alam Indonesia dikelompokkan menjadi : jamu, Obat Herbal Terstandar, dan Fitofarmaka.

Jamu harus memenuhi kriteria aman sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan, klaim khasiat dibuktikan berdasarkan data empiris dan memenuhi persyaratan mutu yang berlaku.

Berbeda dengan obat-obatan modern, standar mutu untuk jamu didasarkan pada bahan baku dan produk akhir yang pada umumnya belum memiliki baku standar yang sesuai dengan persyaratan. Simplisia nabati, hewani dan pelican yang dipergunakan sebagai bahan untuk memperoleh minyak atsiri, alkaloid, glikosida atau zat berkhasiat lainnya, tidak perlu memenuhi persyaratan yang tertera pada monografi yang bersangkutan. Identifikasi simplisia dapat dilakukan berdasarkan uraian mikroskopik serta identifikasi kimia berdasarkan kandungan senyawa yang terdapat didalamnya.

Secara umum analisis obat tradisional jamu dikelompokkan menjadi 2 macam analisis, yaitu analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis kuantitatif berfungsi untuk mengidentifikasi jenis dari suatu zat atau simplisia yang terdapat pada bahan bakunya, sedangkan analisis kuantitatif yaitu penetapan kadar atau kemurnian dari zat atau simplisia yang akan dianalisis.

Pengujian secara kualitatif obat tradisional jamu biasanya digunakan untuk mengidentifikasi atau menganalisis jenis bahan baku dari suatu simplisia baik dari jenis tumbuhan maupun jenis hewan. Didalam pemeriksaan kualitatif ini, meliputi analisis sebagai berikut:
  • a. Pengujian organoleptis, yaitu pengujian untuk mengetahui kekhususan bau dan rasa dari simplisia yang diuji.
  • b. Pengujian makroskopis, yaitu pengujian yang dilakukan dengan menggunakan kaca pembesar atau dengan indera. Fungsinya untuk mencari kekhususan morfologi ukuran dan warna dari simplisia yang diuji.
Pengujian mikroskopis, yaitu pengujian yang dilakukan dengan menggunakan mikroskop dengan pembesaran tertentu yang disesuaikan dengan keperluan simplisia yang diuji dapat berupa sayatan melintang, membujur atau berupa serbuk. Fungsinya untuk mengetahui unsur-unsur anatomi jaringan yang khas dari simplisia.

Selain itu, dapat pula dilakukan pengujian histokimia, identifikasi kimia terhadap senyawa yang tersari, pengujian mikroskopis dan makroskopis dilakukan untuk menentukan jenis simplisia, dan pengujian histokimia dan identifikasi kimia dilakukan untuk mengetahui kelompok utama zat aktifnya. Dari pengujian tersebut diatas dapat diketahui jenis simplisia berdasarkan fragmen pengenal yang spesifik untuk masing-masing simplisia. Pengujian secara organoleptis dan makroskopis. Cara ini dilakukan untuk mecari morfologi ukuran dan warna simplisia.

Uji mikroskopis. Uji mikroskopis dilakukan dengan menggunakan mikroskop yang derajad pembesarannya disesuaikan dengan keperluan. Simplisia yang diuji dapat berupa sayatan melintang, membujua atau berupa serbuk. Pada uji mikroskopis dicari unsur-unsur anatomi yang khas. Dari pengujian ini akan diketahui jenis simplisia berdasarkan fragmen pengenal yang spesifik dari masing-masing simplisia. Untuk menyiapkan sayatan simplisia direbus atau direndam dalam air agar dapat membengkak kembali seperti pada saat masih segar. Untuk daun dan bunga direndam dalam air, bila perlu direndam dalam air hangat. Untuk akar, kulit batang, batang simplisia keras yang lain direndam dalam air panas, bila perlu dididihkan. Untuk simplisia nabati yang mengandung getah, setelah direndam dalam air, lalu direndam lagi dalam etanol sehingga cukup keras ntuk disayat. Simplisia disayat dengan pisau silet. Sayatan dapat berbentuk sayatan melintang atau mebujur sesuai dengan keperluan. Hasil sayatan dimasukkan kedalam kaca arloji yang berisi air. Untuk membersihkan sayatan, maka sayatan tersebut direndam dalam larutan kloral hidrat 70% selama kurang lebih 20 menit, setelah jernih, sayatan dicuci dengan air dan diberi warna. Pewarnaan dilakukan sesudah sayatan dicuci sayatan dimasukan kedalam larutan hijau iodium LP selama 1 menit, irisan kemudian dicuci dengan air beberapa kali sesudah itu dimasukkan kedalam larutan tawas karmen selama 5 m3nit sampai 10 menit dan dicuci dengan air. Irisan yang telah siap kemudian ditetesi air dan diperiksa dibawah mikroskop. Dinding sel yang berlignin berwarna biru atau biru kehijauan, sedangkan dinding sel yang terdiri dari selulosa berwarna merah. Pada irisan yang telah dijernihkan dengan kloral hidrat dapat pula ditambahkan beberapa tetes larutan Ploroglucin HCl, jaringan yang berlignin berwarna merah. Untuk uji simplisia yang berupa serbuk, simplisia serbuk tersebut diletakkan sedikit diatas kaca objek serbuk tersebut ditetesi dengan kloral hidrat, kemudian di fixasi dan dijaga jangan sampai kering. Kemudian diamati dibawah mikroskop.

Uji Histokimia. Uji ini dilakukan untuk mengetahui berbagai macam zat kandungan yang terdapat dalam jaringan tanaman. Dengan pereaksi yang spesifik zat-zat dalam kandungan itu akan memberikan warna yang spesifik pula. Langkah uji histokimia adalah sebagai berikut ini : simplisia dididihkan didalam larutan natrium klorida P atau natrium sulfat LP sampai simplisia cukup keras untuk disyat. Sayatan yang diperoleh diletakan diatas kaca onjek atau kaca arloji kemudian ditetesi dengan pereaksi yang cocok dan dilihat dibawah mikroskop. Jaringan atau sel yang mengandung zat-zat yang terdeteksi terlihat jelas dan dapat dibedakan dengan jaringan atau sel yang lain. Data tersebut digunakan untuk melengkapi data uji mikroskpis. Untuk uji histokimia serbuk adalah sebagai berikut : serbuk yang diperiksa diletakkan diatas kaca objek, kemudian ditetesi dengan pereaksi yang cocok. Sediaan kemudian dicuci seperti halnya pada sayatan simplisia. Beberapa kelompok zat yang kandungan yang penting dapat ditetesi dengan bantuan pereaksi yang menghasilkan warna.

Identifikasi kandungan kimia. Kandungan kimia zat nabati pada umumnya dapat dikelompokan sebagai berikut : minyak atsiri, karotenoid, steroid, triterpenoid, alkaloida, asam lemak, senyawa fenolik yang meliputi fenol-fenol, asam fenolat, fenil propanoid, flavonoid, antrakinon, antosian serta xanton, asam organik, glikosida, saponin, tannin, karbohidrat, dan lain sebagainya. Simplisia nabati yang diuji adalah simplisia tunggal yang berupa rajangan, serbuk, ekstrak, atau dalam bentuk sediaan. Mula-mula serbuk simplisia disari secara berturut-turut dengan larutan penyari yang berbeda-beda polaritasnya. Masing-masing pelarut secara selektif akan memisahkan kelompok kandungan kimia tersebut. Terhadap hasil penyarian tersebut kemudian dilakukan identifikasi dengan cara yang cocok. Simplisia nabati yang dijadikan serbuk dengan derajad halus 22 dan kadar air kurang dari atau sama dengan 10% atau seperti yang disebutkan dalam masing-masing monografi simplisia. Mula-mula disari dengan pelarut yang bersifat nonpolar, kemudian disari dengan pelarut yang kurang polar dan terakhir dengan pelarut polar. Penyarian dilakukan dengan penggojokan berkali-kali sehingga hasil penggojokan terakhir bila diuapkan tidak meninggalkan sisa, atau dengan alat soklet. Untuk cara penggojokan dianjurkan untuk melakukan perendaman awal dengan cairan penyari selama satu malam. Penggunaan alat soklet hanya dianjurkan untuk penyarian kandungan kimia yang telah diketahui stabil. Penggunaan eter sebagai cairan penyari tidak dianjurkan mengingat sifatnya yang mudah terbakar.

Analisis kuantitatif dilakukan untuk menetapkan kemurnian dan mutu simplisia nabati. Penetapan secara kuantitatif meliputi :
  • a) Penentuan kadar kandungan, yaitu untuk mengetahui jumlah kandungan yang terdapat pada simplisia yang diuji atau pada produk jamu setengah jadi. Misalnya penentuan kadar tannin, alkaloida, minyak atsiri, glukosida, flavonoida.
  • b) Penentuan kadar air, yaitu untuk mengetahui besarnya kandungan air yang terdapat pada simplisia yang diuji.
  • c) Penentuan kadar abu.
  • d) Penentuan bahan organik asing.

C. Pengertian Asma
Asma merupakan penyakit inflamasi kronik pada saluran napas. Inflamasi kronik ini disebabkan oleh hiperresponsif saluran napas terhadap berbagai rangsangan dengan gejala eksaserbasi yang berulang dan penyempitan saluran napas yang reversibel.

Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang dapat terkena asma antara lain:
1. Alergi
Benda asing yang disebut alergen seperti debu rumah, bulu binatang, tepung sari kapuk, makanan dan obat merupakan penyebab timbulnya alergi. Selain masuk melalui saluran napas, alergen dapat pula masuk melalui pencernaan atau kontak langsung dengan kulit. Pada penderita asma, kontak langsung dengan kulit ini dapat menyebabkan asma, sedangkan pada orang yang bukan penderita asma tidak berpengaruh.

2. Infeksi
Infeksi saluran napas merupakan faktor pemicu yang sering terjadi terutama pada anak-anak. Bakteri dan virus yang menginfeksi ini dapat dengan mudah berpindah dari satu orang ke orang lain sehingga asma yang disebabkan oleh infeksi ini mudah sekali menular seperti halnya influenza.

3. Gas
Asap (termasuk asap rokok), minyak wangi, obat nyamuk, deodorant, perubahan cuaca, dan uap perangsang lainnya merupakan faktor pencetus yang sangat potensial untuk menimbulkan serangan asma.

4. Kelelahan
Sering dijumpai pada anak-anak dan dewasa. Setelah melakukan kegiatan fisik yang membutuhkan banyak energi, umumnya para penderita asma akan mengalami kesusahan dalam bernapas, sehingga muncullah asma.

Patogenesis asma bronkial dapat terjadi berdasarkan proses imun. Kelainan yang dimulai dengan masuknya alergen ke dalam saluran napas. Pada penderita asma alergen tadi akan merangsang sistem imun untuk membentuk antibodi jenis IgE. Ig ini kemudian menempel pada permukaan sel mast yang terdapat di sepanjang saluran napas dan kulit. Ikatan ini akan mencetuskan serangkaian reaksi dan menyebabkan pelepasan mediator kimia seperti histamin, leukotrien, prostaglandin, Eosinophil Chemotactic Factor of Anaphylaxis (ECF-A), Neutrophil Chemotactic Faktor (NCF), dan lain-lain. Mediator kimia inilah yang menyebabkan bronkokontriksi, edema, hipereaksi kelenjar-kelenjar submukosa dan infiltrasi sel radang di saluran napas. Gejala yang timbul dapat berupa asma akut fase cepat atau lambat atau bahkan asma kronik.

Tidak semua asma dapat diterangkan berdasar proses imun, misalnya asma yang ditimbulkan oleh stimulasi non antigenik seperti hawa dingin, emosi, inhalasi metakolin, latihan fisik, dan sebagainya. Faktor-faktor ini akan menyebabkan bronkokonstrikisi secara reflek. Dalam proses ini reseptor akan bereaksi lebih kuat terhadap rangsang yang disebut diatas dan menyebabkan rangsangan vagus yaitu menyebabkan pelepasan asetilkolin yang menstimulasi otot polos bronkus. Pada saat yang sama kemungkinan terjadi juga degranulasi mastosit. Karena itu mekanisme lain yang diajukan adalah adanya disfungsi atau ketidakseimbangan sistem saraf otonom oleh karena adanya peningkatan sensitifitas sistem kolinergik α atau karena adanya blokade respon adrenergik β

Pengobatan asma dibagi dalam dua kategori yaitu pengobatan jangka panjang (menahun) dan pengobatan jangka pendek. Dalam pengobatan jangka panjang harus diusahakan supaya sejauh mungkin penderita dihindarkan dari zat-zat alergen terhadap mana ia memiliki suatu kepekaan yang berlebihan dengan jalan desensibilitasi. Karena adanya banyak faktor yang menyebabkan penyakit asma bronkial, maka jelaslah bahwa pengobatannya sangat individu. Pengobatan asma jangka pendek dibagi dalam beberapa golongan yaitu bronkodilator, anti alergi, korikosteroid, ekspektoransia.

D. Analisis Sediaan Jamu Sesak Napas
1. Efek farmakologi
a. Komposisi jamu sesak napas
  • Cardamami fructus 6%
  • Messuae flos 8%
  • Cubebas fructus 20%
  • Curcumae rhizoma 45%
  • Bahan-bahan lain 21%

b. Khasiat dan kegunaan jamu sesak napas
Untuk asma, batuk sesak atau bengek. Batuk karena badan lemah, tidak tahan angin malam, banyak pikiran, sering marah atau badan terlalu berat bekerja.

c. Cara pemakaian
Orang dewasa minum tiap hari 2-3 bungkus. Sekali minum disedu sebungkus disedu dengan air panas (matang) setengah gelas (100 cc), beri sedikit air jeruk nipis dan gula, minum bersama ampasnya. Anak-anak: minum setengah bungkus hingga sembuh.

2. Uraian Tanaman
a. Buah kemuskus (Cubebae fructus)
1) Deskripsi tanaman
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Piperales
Famili : Piperaceae
Genus : Piper
Spesies : Piper cuceba L.f

Morfologi tanaman kemuskus
Tanaman kemukus atau P. cubeba adalah tanaman yang berasal dari Indonesia, paling banyak dipanen di pulau jawa dan pulau lainnya, namun yang dibudidayakan di afrika dan di daerah Kongo. Kemukus yang biasanya keriput berwarna coklat-kelabu, bergaris tengah kira-kira 5 mm, dan mempunyai dasar seperti tangkai.

Tumbuh-tumbuhan memanjat. Batang panjang 3-15 m. Daun berseling atau tersebar, bertangkai, dengan daun penumpu yang cepat rontok, dan meninggalkan bekas yang berbentuk cincin. Helaian daun bulat telur atau bulat telur memanjang, dengan ujung meruncing dan menyempit, 8-15 kali 2,5-9 cm, dibagian bawah dengan kelenjar kecil yang tenggelam. Daun pelindung memanjang sampai bulat telur terbalik. Bulir betina kerap kali bengkok. Kepala putik 3-5. bagian yang berbentuk tangkai pada buah buni 3-15 mm panjangnya, di atasnya bentuk bola, diameter 6-8 mm. Biji bentuk bulat.

2) Kandungan
Buah kemukus mengandung minyak atsiri 10-20 %, asam kubebat lebih kurang 1%, damar 2,5-3,5 %, kubebin 0,3-3%, piperin 0,1-0,4%, gom, pati dan minyak lemak, di samping saponin dan flavonoid.

Kubebin
Kubebin adalah senyawa lignan yang terkandung dalam Piper cubeba. Kubebin, C20H20O6 adalah senyawa yang tidak berbau berbentuk kristal jarum kecil, yang melebur pada suhu 132 C.

Pelarut yang dapat melarutkan kubebin adalah kloroform dan eter. Pada proses oksidasi, dia akan terurai menjadi cubebinolide, yang identik dengan hinokinin, yaitu suatu senyawa resin fenolik alami. Sedangkan cubebic acid adalah senyawa amorf berwarna putih dan memiliki nilai terapi 1-3 % dari seluruh biji kemukus, tergantung kadarnya.

3) Efek farmakologis
Buah P. cubeba terbukti dapat berkhasiat sebagai stimulan membran mukosa bronki dan dapat merelaksasi otot polos bronkus yang mengalami kontraksi. Kegunaan buah kemukus lain dapat digunakan sebagai desinfektan saluran kencing, karminatif, ekspektoran pada bronkhitis, selain itu digunakan juga sebagai obat sesak nafas, penghangat badan dan penghilang bau mulut, serta mempunyai akivitas antiseptik yang cukup kuat terhadap penyakit disentri dan gonorrhoe. Telah dilaporkan juga bahwa kemukus juga berguna sebagai peluruh air seni, peluruh air liur, pencegah mual dan peluruh angin perut. Dari penelitian yang dilakukan diketahui bahwa kubebin mempunyai aktivitas sebagai trakeospasmolitik yang dapat bermanfaat dalam pengobatan asma.

b. Buah Kapulaga (Cardamomi fructus)
1) Deskripsi tanaman
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaeae
Genus : Amomum
Spesies : Amomum cardamomum Willd.

Deskripsi tanaman
Tumbuhan berupa herba tahunan, tingginya dapat mencapai 1 – 5 meter. Tumbuh bergerombol, membentuk banyak anakan. Batang semu yang tersusun oleh pelepah- pelepah daun, berbentuk silindris, berwarna hijau. Umbi batang agak besar dan gemuk. Daun tunggal, tersebar, berwarna hijau.tua. Helai daun licin atau agak berbulu, berbentuk lanset atau tombak, dengan pangkal dan ujung runcing, dan tepi daun rata. Panjang daun sekitar 30- 60 cm, dan lebarnya 10-12 cm. Pertulangan menyirip. Tangkai daun sangat pendek. Panjang pelepah dan tangkai daun sekitar 1-1,5 meter. Antara palepah dan helai daun terdapat lidah yang ujungnya tumpul, panjang sekitar 0,5 cm. Perbungaan berupa bulir (bongkol) yang kecil terletak di ujung batang, berwarna putih atau putih kekuningan. Tangkai bunga muncul dari umbi batang, menjuntai, ramping. Kelopak panjang, lebih kurang 1-1,5 cm, berbulu, berwarna hijau. Bunga berwarna putih.bergaris-garis lembayung, dengan warna kemerah-merahan di bagian tengahnya.

Mahkota berbentuk tabung, panjang 1-1,5 cm, berwarna putih atau putih kekuningan. Taju biasanya lebih panjang dari tabungnya. Bibir bunga berwarna biru berlajur putih, tepinya kuning. Benang sari panjangnya 1-1,5 cm, kepala sari bentuk elips, panjang sekitar 2 mm. Tangkai putik tidak berbulu, kepala putik berbulu, berbentuk mangkok. Buahnya berupa buah kotak, terdapat, dalam tandan kecil-kecil dan pendek. Buah bulat memanjang berlekuk, bersegi tiga, agak pipih, kadang-kadang berbulu, berwarna putih kekuningan atau kuning kelabu. Buah beruang 3, setiap ruang dipisahkan oleh selaput tipis setebal kertas. Tiap ruang berisi 5-7 biji kecil-kecil, berwarna coklat atau hitam, beraroma harum yang khas. 

Dalam ruang biji-biji ini tersusun memanjang 2 baris, melekat satu sama lain. Akar serabut, berwarna putih kotor. Rimpang bulat panjang, bercabang simpodial, berwarna putih kekuningan. Pada awalnya cabang-cabang rimpang ini dibungkus oleh sisik-sisik yang pendek. Semua bagian dari tumbuhan ini berbau harum.

2) Kandungan
Buahnya mengandung minyak atsiri yang terutama mengandung sineol, terpineol, dan borneol. Kadar sineol dalam buah lebih kurang 12 %. Disamping itu buah kapulaga banyak mengandung saponin, flavnoida, senyawa- senyawa polifenol, mangan, pati, gula, lemak, protein dan silikat. Biji mengandung 3 - 7 % minyak atsiri yang terdiri atas terpineol, terpinil asetat, sineol, alfa borneol, dan beta.kamfer. Di samping itu biji juga mengandung minyak lemak, protein, kaisium oksalat dan asam kersik. Dengan penyulingan dari biji diperoleh minyak atsiri yang disebut Oleum Cardamomi, yang digunakan sebagai stimulans dan pemberi aroma. Rimpangnya mengandung saponin, flavonoida dan polifenol, disamping juga minyak atsiri.

3) Efek farmakologis
Buahnya dipergunakan untuk bahan penyedap dan penyegar makanan dan minuman. Buah juga berkhasiat menghilangkan rasa gatal pada tenggorokan, sebagai obat batuk, dan obat sakit perut.

Sifat khas Pahit, menghangatkan, dan membersihkan darah. Khasiat Ekspektoran dan karminatif. 
Dalam dunia obat-obatan biji yang telah dikeringkan dinamakan semen cardamomi. Selain bijinya, yang digunakan untuk obat adalah bagian akar, buah, dan batangnya. Kapulaga mengandung minyak atsiri, sineol, terpineol, borneol, protein, gula, lemak, silikat, betakamfer, sebinena, mirkena, mirtenal, karvona, terpinil asetat, dan kersik. Dari kandungan tersebut kapulaga memiliki khasiat sebagai obat batuk. Kapulaga juga memiliki khasiat untuk mencegah keropos tulang.


c. Bunga nagasari (Messuae flos)
1) Deskripsi tanaman
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Parietales
Falimi : Guttiferae
Genus : Messua
Spesies : Messua ferrea L.

2) Kandungan
Biji, kulit batang dan daun Messua ferrea mengandung saponin, biji dan kulit batangnya juga mengandung flavonoida dan tanin, kulit batang serta daunya juga mengandung polifenol. Biji, kulit batang dan daun Messua ferrea mengandung saponin, biji dan kulit batangnya juga mengandung flavonoida dan tanin, kulit batang serta daunya juga mengandung polifenol.

3) Efek farmakologis
Mesua ferrea atau nagasari memiliki khasiat antara lain sebagai analgetik. Selain itu, juga berfungsi sebagai antimicrobial.

d. Rimpang Temulawak (Curcumae rhizoma)
1) Klasifikasi tanaman
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Curcuma
Spesies : Curcuma xanthorrhiza ROXB.

Deskripsi tanaman
Tanaman terna berbatang semu dengan tinggi hingga lebih dari 1 m tetapi kurang dari 2 m, berwarna hijau atau coklat gelap. Akar rimpang terbentuk dengan sempurna dan bercabang kuat, berwarna hijau gelap. Tiap batang mempunyai daun 2 – 9 helai dengan bentuk bundar memanjang sampai bangun lanset, warna daun hijau atau coklat keunguan terang sampai gelap, panjang daun 31 – 84cm dan lebar 10 – 18 cm, panjang tangkai daun termasuk helaian 43 – 80 cm. Perbungaan lateral, tangkai ramping dan sisik berbentuk garis, panjang tangkai 9 – 23cm dan lebar 4 – 6 cm, berdaun pelindung banyak yang panjangnya melebihi atau sebanding dengan mahkota bunga. Kelopak bunga berwarna putih berbulu, panjang 8 – 13 mm, mahkota bunga berbentuk tabung dengan panjang keseluruhan 4.5 cm, helaian bunga berbentuk bundar memanjang berwarna putih dengan ujung yang berwarna merah dadu atau merah, panjang 1.25 – 2 cm dan lebar 1 cm.

2) Kandungan
Temulawak mengandungi komponen berkhasiat, seperti kurkuminoid & minyak atsiri (3-12%). Pati temulawak terdiri dari abu, protein, lemak, karbohidrat, serat kasar, kurkuminoid, kalium, natrium, kalsium, magnesium, besi, mangan & kadmium.

3) Efek farmakologis
• Efek analgesik
Ekstrak metanol temulawak yang diberikan secara oral pada tikus percobaan, dinyatakan dapat menekan rasa sakit yang diakibatkan oleh pemberian asam asetat. Selanjutnya, zat aktif dalam temulawak yang berfungsi menekan rasa sakit tersebut.

• Efek antihelmintik
Pemberian infus temulawak, temu hitam dan kombinasi dari keduanya dalam urea molasses block dapat menurunkan jumlah telur per gram tinja pada domba yang diinfeksi cacing Haemonchus contortus

• Efek antibakteri/antijamur
Dilaporkan bahwa ekstrak eter temulawak secara in vitro dapat menghambat pertumbuhan jamur Microsporum gypseum, Microsporum canis, dan Trichophytol violaceum. Minyak atsiri Curcuma xanthorrhiza juga menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans, sementara kurkuminoid Curcuma xanthorrhiza mempunyai daya hambat yang lemah

• Efek antidiabetik
Temulawak dapat memperbaiki gejala diabetes pada tikus, seperti : growth retardation, hyperphagia, polydipsia, tingginya glukose dan trigliserida dalam serum, dan mengurangi terbentuknya linoleat dari arakhidonat dalam fosfolipid hati. Temulawak khusus-nya merubah jumlah dan komposisi fecal bile acids.

• Efek antihepatotoksik
Pemberian seduhan rimpang temulawak sebesar 400, 800 mg/kg selama 6 hari serta 200, 400 dan 800 mg/kg pada mencit selama 14 hari, mampu menurunkan aktivitas GPT-serum dosis hepatotoksik parasetamol maupun mempersempit luas daerah nekrosis parasetamol secara nyata. Daya antihepatotoksik tergantung pada besarnya dosis maupun jangka waktu pemberiannya.

• Efek antiinflamasi
Minyak atsiri dari Curcuma xanthorrhiza secara in vitro memiliki daya antiinflamasi yang lemah, efek antiinflamasi tersebut disebabkan oleh adanya germakron. Tiga jenis senyawa non fenolik diarylheptanoid dari ekstrak rimpang temulawak, yaitu : trans-trans-1,7-difenil-1,3,-heptadien-4-on (alnuston); trans1,7-difenil-1-hepten-5-ol, dan trans,trans-1,7-difenil-1,3,-heptadien-5-ol. Ketiga senyawa tersebut dinyatakan mempunyai efek antiinflamasi yang nyata terhadap tikus percobaan.

• Efek antioksidan
Aktivitas antioksidan ekstrak temulawak ternyata lebih besar dibandingkan dengan aktivitas tiga jenis kurkuminoid yang diperkirakan terdapat dalam temulawak. Jadi, diduga ada zat lain selain ketiga kurkuminoid tersebut yang mempunyai efek antioksidan. Analog kurkumin baru dari rimpang temulawak, yaitu: 1-(4-hidroksi-3,5-dimetoksifenil)-7-(4 hidroksi-3-metoksifenil)-(1E. 6E.)-1,6-heptadien-3,4-dion. Senyawa tersebut ternyata menun-jukkan efek antioksidan melawan oto-oksidasi asam linoleat dalam sistem air-alkohol.

• Efek antitumor
Empat senyawa sesquiterpenoid bisabolan dari rimpang temulawak, yaitu kurkumen, ar-turmeron, atlanton dan xanthorrizol. Sebagian besar dari zat tersebut merupakan senyawa antitumor melawan sarcoma 180 ascites pada tikus percobaan. Efektivitas antitumor dari senyawa tersebut adalah: (+++) untuk kurkumen, (++) untuk ar-turmeron, dan (++) untuk xanthorrizol. Sementara itu, Ypemberian temulawak dapat mengaktifkan sel T dan sel B yang berfungsi sebagai media dalam sistem kekebalan pada tikus percobaan.

Ar-turmeron yang terkandung dalam temulawak dapat mem perpanjang hidup tikus yang terinfeksi dengan sel kanker S-180. Komponen tersebut menunjukkan aktifitas sitotoksik yang sinergis dengan sesquifelandren yang diisolasi dari tanaman yang sama sebesar 10 kali lipat terhadap sel L1210. Disamping itu, kurkumin bersifat memperkuat obat-obat sitotoksik lainnya seperti siklofosfamida, MeCCNU, aurapten, adriamisin, dan vinkristin.

• Efek penekan syaraf pusat
Ekstrak rimpang temulawak ternyata mempunyai efek memperpanjang masa tidur yang diakibatkan oleh pento barbital. Selanjutnya dibuktikan bahwa (R )-(-)-xantorizol adalah zat aktif yang menyebab-kan efek tersebut dengan cara menghambat aktifitas sitokrom P 450. Selain xantorizol, ternyata germakron yang terkandung dalam ekstrak temulawak juga mempunyai efek memperpanjang masa tidur. Pemberian germakron 200 mg/kg secara oral pada tikus percobaan dinyatakan dapat menekan hiperaktifitas yang disebabkan oleh metamfe-tamin (3 mg /kg i.p). Lebih lanjut dinyatakan bahwa pemberian 750 mg/kg germakron secara oral pada tikus percobaan tidak menunjukkan adanya toksisitas letal.

• Efek diuretik
Rebusan temulawak pada dosis ekuivalen 1x dan 10x dosis lazim orang pada tikus putih mempunyai efek diuretik kurang lebih setengah dari potensi HCT (Hidroklorotiazid) 1,6 mg/kg.

• Efek hipolipidemik
Penggunaan temulawak sebagai minuman pada ternak kelinci betina menunjukkan bahwa tidak terdapat lemak tubuh pada karkas dan jaringan lemak di sekitar organ reproduksi. Temulawak menurunkan konsentrasi triglise rida dan fosfolipid serum, kolesterol hati, dan meningkatkan kolesterol HDL serum dan apolipoprotein A-1, pada tikus yang diberi diet bebas koles-terol. Adapun pada tikus dengan diet tinggi kolesterol, temulawak tidak menekan tingginya kolesterol serum walaupun menurunkan kolesterol hati. Dalam penelitian tersebut dilaporkan bahwa kurkuminoid yang berasal dari temulawak ternyata tidak mempunyai efek yang nyata terhadap lemak serum dan lemak hati, maka disimpulkan bahwa temulawak mengandung zat aktif selain kurkuminoid yang dapat merubah metabolisme lemak dan lipoprotein. Kurkumen adalah salah satu zat aktif yang mempunyai efek menurunkan trigliserida pada tikus percobaan dengan cara menekan sintesis asam lemak.

Dua senyawa fenolik diarilheptanoid yang diisolasi dari rimpang temulawak, yaitu : 5-hidroksi-7-(4-hidroksifenil)-1-fenil-(1E)-1-hepten dan 7-(3, 4-dihidroksifenil)-5-hidroksi-1-fenil-(1E)-1-hepten, secara nyata menunjukkan efek hipolipidemik dengan cara menghambat sekresi trigliserida hati pada tikus percobaan.

• Efek hipotermik
Ekstrak metanol rimpang temulawak mempunyai efek penurunan suhu pada rektal tikus percobaan. Selanjutnya dibuktikan bahwa germakron diidentifikasi sebagai zat aktif dalam rimpang temulawak yang menyebabkan efek hipotermik tersebut.

• Efek insektisida
Efek insektisida empat jenis rimpang dari spesies Zingiberaceae yaitu: Curcuma xanthorrhiza, C. zedoaria, Kaempferia galanga dan K. pandurata. Tujuh belas komponen terbesar termasuk flavonoid, sesquiterpenoid, dan derivat asam sinamat berhasil diisolasi dan didentifikasi menggunakan NMR dan Mass spektra. Semua komponen diuji toksisitasnya terhadap larva Spodoptera littoralis. Secara contact residue bioassay, nampak bahwa xantorizol dan furanodienon merupakan senyawa sesquiterpenoid yang paling aktif menunjukkan toksisitas melawan larva yang baru lahir, tetapi efek toksisitas tersebut tidak nyata jika diberikan bersama makanan. Selanjutnya dilaporkan bahwa ekstrak Curcuma xanthorrhiza mempunyai efek larvasida terhadap larva nyamuk Aedes aegypti instar III.

3. Hasil 
a. Cardamomi fructus 6 %
Penggunaan Cardamomi fructus dalam sediaan serbuk jamu ini karena diambil dari efek menghangatkan badan, ekspektoran, dan mengurangi gatal pada tenggorokan.

Cardamomi fructus mengandung sineol yang berfungsi menghangatkan badan sehingga memberikan rasa nyaman kepada penderita asma. Selain itu, Cardamomi fructus juga memiliki sifat sebagai ekspektoran yang akan membantu untuk menghilangkan dahak pada saluran nafas sehingga peredaran udara akan lancar. 

b. Messuae flos 8 %
Messuae flos dipakai dalam sediaan jamu sesak napas buatan PT. Nyonya Meneer karena diambil efek antimikroba dan analgetika. Antimikroba akan membantu mengurangi adanya infeksi mikrobial yang akan merangsang respon imun yang menyebabkan terjadinya asma.

c. Cubebae fructus 20 %
Piper cubeba dipakai dalam sediaan jamu ini karena sifat trakeospasmolitik yang akan sangat berkhasiat bagi pengobatan asma. Piper cubeba juga dapat dipakai karena khasiat melegakan dari dahak. Selain itu rasa pedas dari cubebae fructus juga akan memberika rasa nyaman pada penderita asma.

d. Curcumae rhizoma 45 %
Penggunaan Curcumae rhizoma pada sediaan jamu asma PT. Nyonya Meneer karena sifat antiiinflamasi, analgetik, antibakteri, dan efek penekan syaraf pusat yang akan mengurangi batuk.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah ini adalah:
  1. Jamu adalah sebutan untuk obat tradisional dari indonesia. Belakangan populer dengan sebutan herba atau herbal. Jamu dibuat dari bahan-bahan alami, berupa bagian dari tumbuhan seperti rimpang (akar-akaran), daun-daunan dan kulit batang, buah. Ada juga menggunakan bahan dari tubuh hewan, seperti empedu kambing atau tangkur buaya.
  2. Cara menganalisis sediaan jamu menggunakan analisis kualitatif dan analisis kuantitatif 
  3. Asma merupakan penyakit inflamasi kronik pada saluran napas. Inflamasi kronik ini disebabkan oleh hiperresponsif saluran napas terhadap berbagai rangsangan dengan gejala eksaserbasi yang berulang dan penyempitan saluran napas yang reversibel. 
  4. Analisis serbuk jamu sesak napas dilakukan dengan menentukan efek farmakologi dan uraian tanaman dari komponen penyusun serbuk jamu sesak napas. 

B. Saran
Saran saya dalam pembuatan makalah ini yaitu perlu adanya sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya bahan kimia yang terdapat didalam sediaan jamu.

MALAKALAH ANALISIS KANDUNGAN SEDIAAN JAMU SESAK NAPAS

MALAKALAH ANALISIS KANDUNGAN SEDIAAN JAMU SESAK NAPAS

ANALISIS KANDUNGAN SEDIAAN JAMU SESAK NAPAS
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 
Obat tradisional Indonesia telah berabad-abad lamanya dipergunakan secara luas oleh masyarakat Indonesia, meskipun masih banayak bahan baku standar yang belum memiliki persyaratan resmi. Obat tradisional pada umumnya menggunakan bahan-bahan alam yang lebih dikenal sebagai simplisia. Simplisia ialah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga, kecuali dinyatakan lain, berupa bahan yang telah dikeringkan.

Semakin maraknya penggunaan obat tradisional berdasarkan khasiat yang turun temurun semakin memperluas kesempatan terjadinya pemalsuan simplisia bahkan ada beberapa jamu yang mengandung bahan kimia obat (BKO) yang telah jelas dilarang penambahannya baik sengaja maupun tidak disengaja kedalam produk obat tradisional.

Oleh karena itu, maka diperlukan adanya analisis terhadap sediaan jamu yang beredar dipasaran yang meliputi analisis makroskopik dan mikroskopik serta analisis kimia untuk melindungi masyarakat luas dari peredaran obat tradisional yang mengandung simplisia palsu maupun bahan kimia obat.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini yaitu:
  1. Apa yang dimasud dengan jamu?
  2. Bagaimana cara menganalisis sediaan jamu?
  3. Apa yang dimaksud dengan asma?
  4. Bagaimana menganalisis sediaan jemu sesak napas?

C. Tujuan
Tujuan dalam penulisan makalah ini yaitu:
  1. Untuk mengetahui pengertian jamu
  2. Untuk mengetahui cara menganalisis sediaan jamu
  3. Untuk mengetahui pengertian asma
  4. Untuk mengetahui analisis serbuk jamu sesak napas

D. Manfaat
Manfaat dalam penulisan makalah ini yaitu:
  1. Agar dapat mengetahui pengertian jamu
  2. Agar dapat mengetahui cara menganalisis sediaan jamu
  3. Agar dapat mengetahui pengertian asma
  4. Agar dapat mengetahui analisis serbuk jamu sesak napas

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Jamu
Jamu adalah sebutan untuk obat tradisional dari indonesia. Belakangan populer dengan sebutan herba atau herbal. Jamu dibuat dari bahan-bahan alami, berupa bagian dari tumbuhan seperti rimpang (akar-akaran), daun-daunan dan kulit batang, buah. Ada juga menggunakan bahan dari tubuh hewan, seperti empedu kambing atau tangkur buaya.

Jamu biasanya terasa pahit sehingga perlu ditambah madu sebagai pemanis agar rasanya lebih dapat ditoleransi peminumnya. Jamu sudah dikenal sudah berabad-abad di indonesia yang mana pertama kali jamu dikenal dalam lingkungan istana atau keraton yaitu kesultanan di djogjakarta dan kasunanan di surakarta. Jaman dahulu resep jamu hanya dikenal dikalangan keraton dan tidak diperbolehkan keluar dari keraton. Tetapi seiring dengan perkembangan jaman, orang-orang lingkungan keraton sendiri yang sudah modern, mereka mulai mengajarkan meracik jamu kepada masyarakat diluar keraton sehingga jamu berkembang sampai saat ini tidak saja hanya di indonesia tetapi sampai ke luar negeri.

Sejak dahulu kala, indonesia telah dikenal akan kekayaannya, tanah yang subur dengan hamparan bermacam-macam tumbuhan yang luas. Tanah yang subur dengan kekayaan tanaman sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat indonesia karena mereka bergantung dari alam dalam usahanya untuk memenuhi bermacam-macam kebutuhan. Pengolahan tanah, pemungutan hasil panen, proses alam tidak hanya menghasilkan makanan, tetapi juga berbagai produk yang berguna untuk perawatan kesehatan dan kecantikan.

B. Cara Menganalisa Sediaan Jamu
Berdasarkan undang-undang kesehatan bidang farmasi dan kesehatan, yang dimaksud dengan Obat bahan Alam Indonesia adalah Obat bahan Alam yang diproduksi di Indonesia. Berdasarkan cara pembuatan serta jenis klaim penggunaan dan tingkat pembuktian khasiat, Obat bahan Alam Indonesia dikelompokkan menjadi : jamu, Obat Herbal Terstandar, dan Fitofarmaka.

Jamu harus memenuhi kriteria aman sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan, klaim khasiat dibuktikan berdasarkan data empiris dan memenuhi persyaratan mutu yang berlaku.

Berbeda dengan obat-obatan modern, standar mutu untuk jamu didasarkan pada bahan baku dan produk akhir yang pada umumnya belum memiliki baku standar yang sesuai dengan persyaratan. Simplisia nabati, hewani dan pelican yang dipergunakan sebagai bahan untuk memperoleh minyak atsiri, alkaloid, glikosida atau zat berkhasiat lainnya, tidak perlu memenuhi persyaratan yang tertera pada monografi yang bersangkutan. Identifikasi simplisia dapat dilakukan berdasarkan uraian mikroskopik serta identifikasi kimia berdasarkan kandungan senyawa yang terdapat didalamnya.

Secara umum analisis obat tradisional jamu dikelompokkan menjadi 2 macam analisis, yaitu analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis kuantitatif berfungsi untuk mengidentifikasi jenis dari suatu zat atau simplisia yang terdapat pada bahan bakunya, sedangkan analisis kuantitatif yaitu penetapan kadar atau kemurnian dari zat atau simplisia yang akan dianalisis.

Pengujian secara kualitatif obat tradisional jamu biasanya digunakan untuk mengidentifikasi atau menganalisis jenis bahan baku dari suatu simplisia baik dari jenis tumbuhan maupun jenis hewan. Didalam pemeriksaan kualitatif ini, meliputi analisis sebagai berikut:
  • a. Pengujian organoleptis, yaitu pengujian untuk mengetahui kekhususan bau dan rasa dari simplisia yang diuji.
  • b. Pengujian makroskopis, yaitu pengujian yang dilakukan dengan menggunakan kaca pembesar atau dengan indera. Fungsinya untuk mencari kekhususan morfologi ukuran dan warna dari simplisia yang diuji.
Pengujian mikroskopis, yaitu pengujian yang dilakukan dengan menggunakan mikroskop dengan pembesaran tertentu yang disesuaikan dengan keperluan simplisia yang diuji dapat berupa sayatan melintang, membujur atau berupa serbuk. Fungsinya untuk mengetahui unsur-unsur anatomi jaringan yang khas dari simplisia.

Selain itu, dapat pula dilakukan pengujian histokimia, identifikasi kimia terhadap senyawa yang tersari, pengujian mikroskopis dan makroskopis dilakukan untuk menentukan jenis simplisia, dan pengujian histokimia dan identifikasi kimia dilakukan untuk mengetahui kelompok utama zat aktifnya. Dari pengujian tersebut diatas dapat diketahui jenis simplisia berdasarkan fragmen pengenal yang spesifik untuk masing-masing simplisia. Pengujian secara organoleptis dan makroskopis. Cara ini dilakukan untuk mecari morfologi ukuran dan warna simplisia.

Uji mikroskopis. Uji mikroskopis dilakukan dengan menggunakan mikroskop yang derajad pembesarannya disesuaikan dengan keperluan. Simplisia yang diuji dapat berupa sayatan melintang, membujua atau berupa serbuk. Pada uji mikroskopis dicari unsur-unsur anatomi yang khas. Dari pengujian ini akan diketahui jenis simplisia berdasarkan fragmen pengenal yang spesifik dari masing-masing simplisia. Untuk menyiapkan sayatan simplisia direbus atau direndam dalam air agar dapat membengkak kembali seperti pada saat masih segar. Untuk daun dan bunga direndam dalam air, bila perlu direndam dalam air hangat. Untuk akar, kulit batang, batang simplisia keras yang lain direndam dalam air panas, bila perlu dididihkan. Untuk simplisia nabati yang mengandung getah, setelah direndam dalam air, lalu direndam lagi dalam etanol sehingga cukup keras ntuk disayat. Simplisia disayat dengan pisau silet. Sayatan dapat berbentuk sayatan melintang atau mebujur sesuai dengan keperluan. Hasil sayatan dimasukkan kedalam kaca arloji yang berisi air. Untuk membersihkan sayatan, maka sayatan tersebut direndam dalam larutan kloral hidrat 70% selama kurang lebih 20 menit, setelah jernih, sayatan dicuci dengan air dan diberi warna. Pewarnaan dilakukan sesudah sayatan dicuci sayatan dimasukan kedalam larutan hijau iodium LP selama 1 menit, irisan kemudian dicuci dengan air beberapa kali sesudah itu dimasukkan kedalam larutan tawas karmen selama 5 m3nit sampai 10 menit dan dicuci dengan air. Irisan yang telah siap kemudian ditetesi air dan diperiksa dibawah mikroskop. Dinding sel yang berlignin berwarna biru atau biru kehijauan, sedangkan dinding sel yang terdiri dari selulosa berwarna merah. Pada irisan yang telah dijernihkan dengan kloral hidrat dapat pula ditambahkan beberapa tetes larutan Ploroglucin HCl, jaringan yang berlignin berwarna merah. Untuk uji simplisia yang berupa serbuk, simplisia serbuk tersebut diletakkan sedikit diatas kaca objek serbuk tersebut ditetesi dengan kloral hidrat, kemudian di fixasi dan dijaga jangan sampai kering. Kemudian diamati dibawah mikroskop.

Uji Histokimia. Uji ini dilakukan untuk mengetahui berbagai macam zat kandungan yang terdapat dalam jaringan tanaman. Dengan pereaksi yang spesifik zat-zat dalam kandungan itu akan memberikan warna yang spesifik pula. Langkah uji histokimia adalah sebagai berikut ini : simplisia dididihkan didalam larutan natrium klorida P atau natrium sulfat LP sampai simplisia cukup keras untuk disyat. Sayatan yang diperoleh diletakan diatas kaca onjek atau kaca arloji kemudian ditetesi dengan pereaksi yang cocok dan dilihat dibawah mikroskop. Jaringan atau sel yang mengandung zat-zat yang terdeteksi terlihat jelas dan dapat dibedakan dengan jaringan atau sel yang lain. Data tersebut digunakan untuk melengkapi data uji mikroskpis. Untuk uji histokimia serbuk adalah sebagai berikut : serbuk yang diperiksa diletakkan diatas kaca objek, kemudian ditetesi dengan pereaksi yang cocok. Sediaan kemudian dicuci seperti halnya pada sayatan simplisia. Beberapa kelompok zat yang kandungan yang penting dapat ditetesi dengan bantuan pereaksi yang menghasilkan warna.

Identifikasi kandungan kimia. Kandungan kimia zat nabati pada umumnya dapat dikelompokan sebagai berikut : minyak atsiri, karotenoid, steroid, triterpenoid, alkaloida, asam lemak, senyawa fenolik yang meliputi fenol-fenol, asam fenolat, fenil propanoid, flavonoid, antrakinon, antosian serta xanton, asam organik, glikosida, saponin, tannin, karbohidrat, dan lain sebagainya. Simplisia nabati yang diuji adalah simplisia tunggal yang berupa rajangan, serbuk, ekstrak, atau dalam bentuk sediaan. Mula-mula serbuk simplisia disari secara berturut-turut dengan larutan penyari yang berbeda-beda polaritasnya. Masing-masing pelarut secara selektif akan memisahkan kelompok kandungan kimia tersebut. Terhadap hasil penyarian tersebut kemudian dilakukan identifikasi dengan cara yang cocok. Simplisia nabati yang dijadikan serbuk dengan derajad halus 22 dan kadar air kurang dari atau sama dengan 10% atau seperti yang disebutkan dalam masing-masing monografi simplisia. Mula-mula disari dengan pelarut yang bersifat nonpolar, kemudian disari dengan pelarut yang kurang polar dan terakhir dengan pelarut polar. Penyarian dilakukan dengan penggojokan berkali-kali sehingga hasil penggojokan terakhir bila diuapkan tidak meninggalkan sisa, atau dengan alat soklet. Untuk cara penggojokan dianjurkan untuk melakukan perendaman awal dengan cairan penyari selama satu malam. Penggunaan alat soklet hanya dianjurkan untuk penyarian kandungan kimia yang telah diketahui stabil. Penggunaan eter sebagai cairan penyari tidak dianjurkan mengingat sifatnya yang mudah terbakar.

Analisis kuantitatif dilakukan untuk menetapkan kemurnian dan mutu simplisia nabati. Penetapan secara kuantitatif meliputi :
  • a) Penentuan kadar kandungan, yaitu untuk mengetahui jumlah kandungan yang terdapat pada simplisia yang diuji atau pada produk jamu setengah jadi. Misalnya penentuan kadar tannin, alkaloida, minyak atsiri, glukosida, flavonoida.
  • b) Penentuan kadar air, yaitu untuk mengetahui besarnya kandungan air yang terdapat pada simplisia yang diuji.
  • c) Penentuan kadar abu.
  • d) Penentuan bahan organik asing.

C. Pengertian Asma
Asma merupakan penyakit inflamasi kronik pada saluran napas. Inflamasi kronik ini disebabkan oleh hiperresponsif saluran napas terhadap berbagai rangsangan dengan gejala eksaserbasi yang berulang dan penyempitan saluran napas yang reversibel.

Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang dapat terkena asma antara lain:
1. Alergi
Benda asing yang disebut alergen seperti debu rumah, bulu binatang, tepung sari kapuk, makanan dan obat merupakan penyebab timbulnya alergi. Selain masuk melalui saluran napas, alergen dapat pula masuk melalui pencernaan atau kontak langsung dengan kulit. Pada penderita asma, kontak langsung dengan kulit ini dapat menyebabkan asma, sedangkan pada orang yang bukan penderita asma tidak berpengaruh.

2. Infeksi
Infeksi saluran napas merupakan faktor pemicu yang sering terjadi terutama pada anak-anak. Bakteri dan virus yang menginfeksi ini dapat dengan mudah berpindah dari satu orang ke orang lain sehingga asma yang disebabkan oleh infeksi ini mudah sekali menular seperti halnya influenza.

3. Gas
Asap (termasuk asap rokok), minyak wangi, obat nyamuk, deodorant, perubahan cuaca, dan uap perangsang lainnya merupakan faktor pencetus yang sangat potensial untuk menimbulkan serangan asma.

4. Kelelahan
Sering dijumpai pada anak-anak dan dewasa. Setelah melakukan kegiatan fisik yang membutuhkan banyak energi, umumnya para penderita asma akan mengalami kesusahan dalam bernapas, sehingga muncullah asma.

Patogenesis asma bronkial dapat terjadi berdasarkan proses imun. Kelainan yang dimulai dengan masuknya alergen ke dalam saluran napas. Pada penderita asma alergen tadi akan merangsang sistem imun untuk membentuk antibodi jenis IgE. Ig ini kemudian menempel pada permukaan sel mast yang terdapat di sepanjang saluran napas dan kulit. Ikatan ini akan mencetuskan serangkaian reaksi dan menyebabkan pelepasan mediator kimia seperti histamin, leukotrien, prostaglandin, Eosinophil Chemotactic Factor of Anaphylaxis (ECF-A), Neutrophil Chemotactic Faktor (NCF), dan lain-lain. Mediator kimia inilah yang menyebabkan bronkokontriksi, edema, hipereaksi kelenjar-kelenjar submukosa dan infiltrasi sel radang di saluran napas. Gejala yang timbul dapat berupa asma akut fase cepat atau lambat atau bahkan asma kronik.

Tidak semua asma dapat diterangkan berdasar proses imun, misalnya asma yang ditimbulkan oleh stimulasi non antigenik seperti hawa dingin, emosi, inhalasi metakolin, latihan fisik, dan sebagainya. Faktor-faktor ini akan menyebabkan bronkokonstrikisi secara reflek. Dalam proses ini reseptor akan bereaksi lebih kuat terhadap rangsang yang disebut diatas dan menyebabkan rangsangan vagus yaitu menyebabkan pelepasan asetilkolin yang menstimulasi otot polos bronkus. Pada saat yang sama kemungkinan terjadi juga degranulasi mastosit. Karena itu mekanisme lain yang diajukan adalah adanya disfungsi atau ketidakseimbangan sistem saraf otonom oleh karena adanya peningkatan sensitifitas sistem kolinergik α atau karena adanya blokade respon adrenergik β

Pengobatan asma dibagi dalam dua kategori yaitu pengobatan jangka panjang (menahun) dan pengobatan jangka pendek. Dalam pengobatan jangka panjang harus diusahakan supaya sejauh mungkin penderita dihindarkan dari zat-zat alergen terhadap mana ia memiliki suatu kepekaan yang berlebihan dengan jalan desensibilitasi. Karena adanya banyak faktor yang menyebabkan penyakit asma bronkial, maka jelaslah bahwa pengobatannya sangat individu. Pengobatan asma jangka pendek dibagi dalam beberapa golongan yaitu bronkodilator, anti alergi, korikosteroid, ekspektoransia.

D. Analisis Sediaan Jamu Sesak Napas
1. Efek farmakologi
a. Komposisi jamu sesak napas
  • Cardamami fructus 6%
  • Messuae flos 8%
  • Cubebas fructus 20%
  • Curcumae rhizoma 45%
  • Bahan-bahan lain 21%

b. Khasiat dan kegunaan jamu sesak napas
Untuk asma, batuk sesak atau bengek. Batuk karena badan lemah, tidak tahan angin malam, banyak pikiran, sering marah atau badan terlalu berat bekerja.

c. Cara pemakaian
Orang dewasa minum tiap hari 2-3 bungkus. Sekali minum disedu sebungkus disedu dengan air panas (matang) setengah gelas (100 cc), beri sedikit air jeruk nipis dan gula, minum bersama ampasnya. Anak-anak: minum setengah bungkus hingga sembuh.

2. Uraian Tanaman
a. Buah kemuskus (Cubebae fructus)
1) Deskripsi tanaman
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Piperales
Famili : Piperaceae
Genus : Piper
Spesies : Piper cuceba L.f

Morfologi tanaman kemuskus
Tanaman kemukus atau P. cubeba adalah tanaman yang berasal dari Indonesia, paling banyak dipanen di pulau jawa dan pulau lainnya, namun yang dibudidayakan di afrika dan di daerah Kongo. Kemukus yang biasanya keriput berwarna coklat-kelabu, bergaris tengah kira-kira 5 mm, dan mempunyai dasar seperti tangkai.

Tumbuh-tumbuhan memanjat. Batang panjang 3-15 m. Daun berseling atau tersebar, bertangkai, dengan daun penumpu yang cepat rontok, dan meninggalkan bekas yang berbentuk cincin. Helaian daun bulat telur atau bulat telur memanjang, dengan ujung meruncing dan menyempit, 8-15 kali 2,5-9 cm, dibagian bawah dengan kelenjar kecil yang tenggelam. Daun pelindung memanjang sampai bulat telur terbalik. Bulir betina kerap kali bengkok. Kepala putik 3-5. bagian yang berbentuk tangkai pada buah buni 3-15 mm panjangnya, di atasnya bentuk bola, diameter 6-8 mm. Biji bentuk bulat.

2) Kandungan
Buah kemukus mengandung minyak atsiri 10-20 %, asam kubebat lebih kurang 1%, damar 2,5-3,5 %, kubebin 0,3-3%, piperin 0,1-0,4%, gom, pati dan minyak lemak, di samping saponin dan flavonoid.

Kubebin
Kubebin adalah senyawa lignan yang terkandung dalam Piper cubeba. Kubebin, C20H20O6 adalah senyawa yang tidak berbau berbentuk kristal jarum kecil, yang melebur pada suhu 132 C.

Pelarut yang dapat melarutkan kubebin adalah kloroform dan eter. Pada proses oksidasi, dia akan terurai menjadi cubebinolide, yang identik dengan hinokinin, yaitu suatu senyawa resin fenolik alami. Sedangkan cubebic acid adalah senyawa amorf berwarna putih dan memiliki nilai terapi 1-3 % dari seluruh biji kemukus, tergantung kadarnya.

3) Efek farmakologis
Buah P. cubeba terbukti dapat berkhasiat sebagai stimulan membran mukosa bronki dan dapat merelaksasi otot polos bronkus yang mengalami kontraksi. Kegunaan buah kemukus lain dapat digunakan sebagai desinfektan saluran kencing, karminatif, ekspektoran pada bronkhitis, selain itu digunakan juga sebagai obat sesak nafas, penghangat badan dan penghilang bau mulut, serta mempunyai akivitas antiseptik yang cukup kuat terhadap penyakit disentri dan gonorrhoe. Telah dilaporkan juga bahwa kemukus juga berguna sebagai peluruh air seni, peluruh air liur, pencegah mual dan peluruh angin perut. Dari penelitian yang dilakukan diketahui bahwa kubebin mempunyai aktivitas sebagai trakeospasmolitik yang dapat bermanfaat dalam pengobatan asma.

b. Buah Kapulaga (Cardamomi fructus)
1) Deskripsi tanaman
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaeae
Genus : Amomum
Spesies : Amomum cardamomum Willd.

Deskripsi tanaman
Tumbuhan berupa herba tahunan, tingginya dapat mencapai 1 – 5 meter. Tumbuh bergerombol, membentuk banyak anakan. Batang semu yang tersusun oleh pelepah- pelepah daun, berbentuk silindris, berwarna hijau. Umbi batang agak besar dan gemuk. Daun tunggal, tersebar, berwarna hijau.tua. Helai daun licin atau agak berbulu, berbentuk lanset atau tombak, dengan pangkal dan ujung runcing, dan tepi daun rata. Panjang daun sekitar 30- 60 cm, dan lebarnya 10-12 cm. Pertulangan menyirip. Tangkai daun sangat pendek. Panjang pelepah dan tangkai daun sekitar 1-1,5 meter. Antara palepah dan helai daun terdapat lidah yang ujungnya tumpul, panjang sekitar 0,5 cm. Perbungaan berupa bulir (bongkol) yang kecil terletak di ujung batang, berwarna putih atau putih kekuningan. Tangkai bunga muncul dari umbi batang, menjuntai, ramping. Kelopak panjang, lebih kurang 1-1,5 cm, berbulu, berwarna hijau. Bunga berwarna putih.bergaris-garis lembayung, dengan warna kemerah-merahan di bagian tengahnya.

Mahkota berbentuk tabung, panjang 1-1,5 cm, berwarna putih atau putih kekuningan. Taju biasanya lebih panjang dari tabungnya. Bibir bunga berwarna biru berlajur putih, tepinya kuning. Benang sari panjangnya 1-1,5 cm, kepala sari bentuk elips, panjang sekitar 2 mm. Tangkai putik tidak berbulu, kepala putik berbulu, berbentuk mangkok. Buahnya berupa buah kotak, terdapat, dalam tandan kecil-kecil dan pendek. Buah bulat memanjang berlekuk, bersegi tiga, agak pipih, kadang-kadang berbulu, berwarna putih kekuningan atau kuning kelabu. Buah beruang 3, setiap ruang dipisahkan oleh selaput tipis setebal kertas. Tiap ruang berisi 5-7 biji kecil-kecil, berwarna coklat atau hitam, beraroma harum yang khas. 

Dalam ruang biji-biji ini tersusun memanjang 2 baris, melekat satu sama lain. Akar serabut, berwarna putih kotor. Rimpang bulat panjang, bercabang simpodial, berwarna putih kekuningan. Pada awalnya cabang-cabang rimpang ini dibungkus oleh sisik-sisik yang pendek. Semua bagian dari tumbuhan ini berbau harum.

2) Kandungan
Buahnya mengandung minyak atsiri yang terutama mengandung sineol, terpineol, dan borneol. Kadar sineol dalam buah lebih kurang 12 %. Disamping itu buah kapulaga banyak mengandung saponin, flavnoida, senyawa- senyawa polifenol, mangan, pati, gula, lemak, protein dan silikat. Biji mengandung 3 - 7 % minyak atsiri yang terdiri atas terpineol, terpinil asetat, sineol, alfa borneol, dan beta.kamfer. Di samping itu biji juga mengandung minyak lemak, protein, kaisium oksalat dan asam kersik. Dengan penyulingan dari biji diperoleh minyak atsiri yang disebut Oleum Cardamomi, yang digunakan sebagai stimulans dan pemberi aroma. Rimpangnya mengandung saponin, flavonoida dan polifenol, disamping juga minyak atsiri.

3) Efek farmakologis
Buahnya dipergunakan untuk bahan penyedap dan penyegar makanan dan minuman. Buah juga berkhasiat menghilangkan rasa gatal pada tenggorokan, sebagai obat batuk, dan obat sakit perut.

Sifat khas Pahit, menghangatkan, dan membersihkan darah. Khasiat Ekspektoran dan karminatif. 
Dalam dunia obat-obatan biji yang telah dikeringkan dinamakan semen cardamomi. Selain bijinya, yang digunakan untuk obat adalah bagian akar, buah, dan batangnya. Kapulaga mengandung minyak atsiri, sineol, terpineol, borneol, protein, gula, lemak, silikat, betakamfer, sebinena, mirkena, mirtenal, karvona, terpinil asetat, dan kersik. Dari kandungan tersebut kapulaga memiliki khasiat sebagai obat batuk. Kapulaga juga memiliki khasiat untuk mencegah keropos tulang.


c. Bunga nagasari (Messuae flos)
1) Deskripsi tanaman
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Parietales
Falimi : Guttiferae
Genus : Messua
Spesies : Messua ferrea L.

2) Kandungan
Biji, kulit batang dan daun Messua ferrea mengandung saponin, biji dan kulit batangnya juga mengandung flavonoida dan tanin, kulit batang serta daunya juga mengandung polifenol. Biji, kulit batang dan daun Messua ferrea mengandung saponin, biji dan kulit batangnya juga mengandung flavonoida dan tanin, kulit batang serta daunya juga mengandung polifenol.

3) Efek farmakologis
Mesua ferrea atau nagasari memiliki khasiat antara lain sebagai analgetik. Selain itu, juga berfungsi sebagai antimicrobial.

d. Rimpang Temulawak (Curcumae rhizoma)
1) Klasifikasi tanaman
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Curcuma
Spesies : Curcuma xanthorrhiza ROXB.

Deskripsi tanaman
Tanaman terna berbatang semu dengan tinggi hingga lebih dari 1 m tetapi kurang dari 2 m, berwarna hijau atau coklat gelap. Akar rimpang terbentuk dengan sempurna dan bercabang kuat, berwarna hijau gelap. Tiap batang mempunyai daun 2 – 9 helai dengan bentuk bundar memanjang sampai bangun lanset, warna daun hijau atau coklat keunguan terang sampai gelap, panjang daun 31 – 84cm dan lebar 10 – 18 cm, panjang tangkai daun termasuk helaian 43 – 80 cm. Perbungaan lateral, tangkai ramping dan sisik berbentuk garis, panjang tangkai 9 – 23cm dan lebar 4 – 6 cm, berdaun pelindung banyak yang panjangnya melebihi atau sebanding dengan mahkota bunga. Kelopak bunga berwarna putih berbulu, panjang 8 – 13 mm, mahkota bunga berbentuk tabung dengan panjang keseluruhan 4.5 cm, helaian bunga berbentuk bundar memanjang berwarna putih dengan ujung yang berwarna merah dadu atau merah, panjang 1.25 – 2 cm dan lebar 1 cm.

2) Kandungan
Temulawak mengandungi komponen berkhasiat, seperti kurkuminoid & minyak atsiri (3-12%). Pati temulawak terdiri dari abu, protein, lemak, karbohidrat, serat kasar, kurkuminoid, kalium, natrium, kalsium, magnesium, besi, mangan & kadmium.

3) Efek farmakologis
• Efek analgesik
Ekstrak metanol temulawak yang diberikan secara oral pada tikus percobaan, dinyatakan dapat menekan rasa sakit yang diakibatkan oleh pemberian asam asetat. Selanjutnya, zat aktif dalam temulawak yang berfungsi menekan rasa sakit tersebut.

• Efek antihelmintik
Pemberian infus temulawak, temu hitam dan kombinasi dari keduanya dalam urea molasses block dapat menurunkan jumlah telur per gram tinja pada domba yang diinfeksi cacing Haemonchus contortus

• Efek antibakteri/antijamur
Dilaporkan bahwa ekstrak eter temulawak secara in vitro dapat menghambat pertumbuhan jamur Microsporum gypseum, Microsporum canis, dan Trichophytol violaceum. Minyak atsiri Curcuma xanthorrhiza juga menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans, sementara kurkuminoid Curcuma xanthorrhiza mempunyai daya hambat yang lemah

• Efek antidiabetik
Temulawak dapat memperbaiki gejala diabetes pada tikus, seperti : growth retardation, hyperphagia, polydipsia, tingginya glukose dan trigliserida dalam serum, dan mengurangi terbentuknya linoleat dari arakhidonat dalam fosfolipid hati. Temulawak khusus-nya merubah jumlah dan komposisi fecal bile acids.

• Efek antihepatotoksik
Pemberian seduhan rimpang temulawak sebesar 400, 800 mg/kg selama 6 hari serta 200, 400 dan 800 mg/kg pada mencit selama 14 hari, mampu menurunkan aktivitas GPT-serum dosis hepatotoksik parasetamol maupun mempersempit luas daerah nekrosis parasetamol secara nyata. Daya antihepatotoksik tergantung pada besarnya dosis maupun jangka waktu pemberiannya.

• Efek antiinflamasi
Minyak atsiri dari Curcuma xanthorrhiza secara in vitro memiliki daya antiinflamasi yang lemah, efek antiinflamasi tersebut disebabkan oleh adanya germakron. Tiga jenis senyawa non fenolik diarylheptanoid dari ekstrak rimpang temulawak, yaitu : trans-trans-1,7-difenil-1,3,-heptadien-4-on (alnuston); trans1,7-difenil-1-hepten-5-ol, dan trans,trans-1,7-difenil-1,3,-heptadien-5-ol. Ketiga senyawa tersebut dinyatakan mempunyai efek antiinflamasi yang nyata terhadap tikus percobaan.

• Efek antioksidan
Aktivitas antioksidan ekstrak temulawak ternyata lebih besar dibandingkan dengan aktivitas tiga jenis kurkuminoid yang diperkirakan terdapat dalam temulawak. Jadi, diduga ada zat lain selain ketiga kurkuminoid tersebut yang mempunyai efek antioksidan. Analog kurkumin baru dari rimpang temulawak, yaitu: 1-(4-hidroksi-3,5-dimetoksifenil)-7-(4 hidroksi-3-metoksifenil)-(1E. 6E.)-1,6-heptadien-3,4-dion. Senyawa tersebut ternyata menun-jukkan efek antioksidan melawan oto-oksidasi asam linoleat dalam sistem air-alkohol.

• Efek antitumor
Empat senyawa sesquiterpenoid bisabolan dari rimpang temulawak, yaitu kurkumen, ar-turmeron, atlanton dan xanthorrizol. Sebagian besar dari zat tersebut merupakan senyawa antitumor melawan sarcoma 180 ascites pada tikus percobaan. Efektivitas antitumor dari senyawa tersebut adalah: (+++) untuk kurkumen, (++) untuk ar-turmeron, dan (++) untuk xanthorrizol. Sementara itu, Ypemberian temulawak dapat mengaktifkan sel T dan sel B yang berfungsi sebagai media dalam sistem kekebalan pada tikus percobaan.

Ar-turmeron yang terkandung dalam temulawak dapat mem perpanjang hidup tikus yang terinfeksi dengan sel kanker S-180. Komponen tersebut menunjukkan aktifitas sitotoksik yang sinergis dengan sesquifelandren yang diisolasi dari tanaman yang sama sebesar 10 kali lipat terhadap sel L1210. Disamping itu, kurkumin bersifat memperkuat obat-obat sitotoksik lainnya seperti siklofosfamida, MeCCNU, aurapten, adriamisin, dan vinkristin.

• Efek penekan syaraf pusat
Ekstrak rimpang temulawak ternyata mempunyai efek memperpanjang masa tidur yang diakibatkan oleh pento barbital. Selanjutnya dibuktikan bahwa (R )-(-)-xantorizol adalah zat aktif yang menyebab-kan efek tersebut dengan cara menghambat aktifitas sitokrom P 450. Selain xantorizol, ternyata germakron yang terkandung dalam ekstrak temulawak juga mempunyai efek memperpanjang masa tidur. Pemberian germakron 200 mg/kg secara oral pada tikus percobaan dinyatakan dapat menekan hiperaktifitas yang disebabkan oleh metamfe-tamin (3 mg /kg i.p). Lebih lanjut dinyatakan bahwa pemberian 750 mg/kg germakron secara oral pada tikus percobaan tidak menunjukkan adanya toksisitas letal.

• Efek diuretik
Rebusan temulawak pada dosis ekuivalen 1x dan 10x dosis lazim orang pada tikus putih mempunyai efek diuretik kurang lebih setengah dari potensi HCT (Hidroklorotiazid) 1,6 mg/kg.

• Efek hipolipidemik
Penggunaan temulawak sebagai minuman pada ternak kelinci betina menunjukkan bahwa tidak terdapat lemak tubuh pada karkas dan jaringan lemak di sekitar organ reproduksi. Temulawak menurunkan konsentrasi triglise rida dan fosfolipid serum, kolesterol hati, dan meningkatkan kolesterol HDL serum dan apolipoprotein A-1, pada tikus yang diberi diet bebas koles-terol. Adapun pada tikus dengan diet tinggi kolesterol, temulawak tidak menekan tingginya kolesterol serum walaupun menurunkan kolesterol hati. Dalam penelitian tersebut dilaporkan bahwa kurkuminoid yang berasal dari temulawak ternyata tidak mempunyai efek yang nyata terhadap lemak serum dan lemak hati, maka disimpulkan bahwa temulawak mengandung zat aktif selain kurkuminoid yang dapat merubah metabolisme lemak dan lipoprotein. Kurkumen adalah salah satu zat aktif yang mempunyai efek menurunkan trigliserida pada tikus percobaan dengan cara menekan sintesis asam lemak.

Dua senyawa fenolik diarilheptanoid yang diisolasi dari rimpang temulawak, yaitu : 5-hidroksi-7-(4-hidroksifenil)-1-fenil-(1E)-1-hepten dan 7-(3, 4-dihidroksifenil)-5-hidroksi-1-fenil-(1E)-1-hepten, secara nyata menunjukkan efek hipolipidemik dengan cara menghambat sekresi trigliserida hati pada tikus percobaan.

• Efek hipotermik
Ekstrak metanol rimpang temulawak mempunyai efek penurunan suhu pada rektal tikus percobaan. Selanjutnya dibuktikan bahwa germakron diidentifikasi sebagai zat aktif dalam rimpang temulawak yang menyebabkan efek hipotermik tersebut.

• Efek insektisida
Efek insektisida empat jenis rimpang dari spesies Zingiberaceae yaitu: Curcuma xanthorrhiza, C. zedoaria, Kaempferia galanga dan K. pandurata. Tujuh belas komponen terbesar termasuk flavonoid, sesquiterpenoid, dan derivat asam sinamat berhasil diisolasi dan didentifikasi menggunakan NMR dan Mass spektra. Semua komponen diuji toksisitasnya terhadap larva Spodoptera littoralis. Secara contact residue bioassay, nampak bahwa xantorizol dan furanodienon merupakan senyawa sesquiterpenoid yang paling aktif menunjukkan toksisitas melawan larva yang baru lahir, tetapi efek toksisitas tersebut tidak nyata jika diberikan bersama makanan. Selanjutnya dilaporkan bahwa ekstrak Curcuma xanthorrhiza mempunyai efek larvasida terhadap larva nyamuk Aedes aegypti instar III.

3. Hasil 
a. Cardamomi fructus 6 %
Penggunaan Cardamomi fructus dalam sediaan serbuk jamu ini karena diambil dari efek menghangatkan badan, ekspektoran, dan mengurangi gatal pada tenggorokan.

Cardamomi fructus mengandung sineol yang berfungsi menghangatkan badan sehingga memberikan rasa nyaman kepada penderita asma. Selain itu, Cardamomi fructus juga memiliki sifat sebagai ekspektoran yang akan membantu untuk menghilangkan dahak pada saluran nafas sehingga peredaran udara akan lancar. 

b. Messuae flos 8 %
Messuae flos dipakai dalam sediaan jamu sesak napas buatan PT. Nyonya Meneer karena diambil efek antimikroba dan analgetika. Antimikroba akan membantu mengurangi adanya infeksi mikrobial yang akan merangsang respon imun yang menyebabkan terjadinya asma.

c. Cubebae fructus 20 %
Piper cubeba dipakai dalam sediaan jamu ini karena sifat trakeospasmolitik yang akan sangat berkhasiat bagi pengobatan asma. Piper cubeba juga dapat dipakai karena khasiat melegakan dari dahak. Selain itu rasa pedas dari cubebae fructus juga akan memberika rasa nyaman pada penderita asma.

d. Curcumae rhizoma 45 %
Penggunaan Curcumae rhizoma pada sediaan jamu asma PT. Nyonya Meneer karena sifat antiiinflamasi, analgetik, antibakteri, dan efek penekan syaraf pusat yang akan mengurangi batuk.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah ini adalah:
  1. Jamu adalah sebutan untuk obat tradisional dari indonesia. Belakangan populer dengan sebutan herba atau herbal. Jamu dibuat dari bahan-bahan alami, berupa bagian dari tumbuhan seperti rimpang (akar-akaran), daun-daunan dan kulit batang, buah. Ada juga menggunakan bahan dari tubuh hewan, seperti empedu kambing atau tangkur buaya.
  2. Cara menganalisis sediaan jamu menggunakan analisis kualitatif dan analisis kuantitatif 
  3. Asma merupakan penyakit inflamasi kronik pada saluran napas. Inflamasi kronik ini disebabkan oleh hiperresponsif saluran napas terhadap berbagai rangsangan dengan gejala eksaserbasi yang berulang dan penyempitan saluran napas yang reversibel. 
  4. Analisis serbuk jamu sesak napas dilakukan dengan menentukan efek farmakologi dan uraian tanaman dari komponen penyusun serbuk jamu sesak napas. 

B. Saran
Saran saya dalam pembuatan makalah ini yaitu perlu adanya sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya bahan kimia yang terdapat didalam sediaan jamu.