NARASI KONSELING PENYAKIT TBC - ElrinAlria
NARASI KONSELING PENYAKIT TBC

Narasi konseling
Seorang Bapak bernama Ahmad pergi ke Rumah Sakit untuk memeriksa kembali keadaanya setelah 2 bulan menjalani pengobatan intensif untuk penyakitnya (TBC). Ternyata setelah menjalani pemeriksaan sputum bapak Ahmad, BTA masih positif. Kemudian dokter meminta bapak ahmad ke ruangan konseling untuk menjalankan konseling terhadap obat yang diterima.

  • Pasien : (sambil mengetuk pintu). Assalamualaikum! 
  • Apoteker : Waalaikum salam. Selamat pagi pak, Silahkan masuk pak 
  • Pasien : Iya, terima kasih bu 
  • Apoteker : (Memperkenalkan diri). Perkenalkan nama saya Isna Wahyuni, saya adalah apoteker penanggung jawab di Rumah Sakit ini. Disini saya akan menyampaikan informasi mengenai obat yang bapak terima dari dokter. Kalau boleh tahu, apa keluhan yang Bapak Ahmad rasakan? 
  • Pasien : Begini bu, saya telah menjalani terapi TBC menggunakan paket intensif Obat Antituberkolosis Komposisi Dosis Tetap selama 2 bulan. Akan tetapi, setelah dilakukan pemeriksaan, hasil sputum saya masih menunjukkan BTA positif. 
  • Apoteker : Oh iya. Sebelumnya saya ingin bertanya. Apakah dokter telah menjelaskan kepada bapak apa yang akan dihasilkan setelah bapak mengonsumsi obat tersebut? 
  • Pasien : Belum bu 
  • Apoteker : Baiklah saya kan memberi penjelasan kepada bapak. Pengobatan penyakit TBC membutuhkan waktu yang cukup lama (sekitar 6-12 bulan), bila bapak patuh untuk mengonsumsi obat 2-4 minggu. Setelah mengonsumsi obat tersebut, bapak Ahmad akan merasa nyaman. Akan tetapi, obat tersebut masih harus bapak konsumsi sebelum dokter menghentikan pengobatan tersebut. Berdasarkan penjelasan bapak sebelumnya mengenai terapi TBC menggunakan terapi intensif, saya menyarankan bapak untuk tetap melakukan terapi tersebut dan untuk mencegah terjadinya resistensi terhadap obat, saya akan menyarankan kepada dokter agar menjalankan tahap sisipan untuk terapi TBC yang bapak derita. 
  • Pasien : Kenapa ibu menyarankan tahap sisipan? Apakah tahap lanjutan tersebut penting? Dan obat-obat apa saja yang nantinya akan saya terima di tahap lanjutan tersebut bu? 
  • Apoteker : Saya menyerankan tahap sisipan ini karena bertujuan untuk membunuh kuman sehingga akan mencegah terjadinya kekambuhan. Pada tahap sisipan ini, bapak akan menerima 4 obat yaitu isoniazid, rifampisin, pirazinamid dan etambutol yang bapak konsumsi setiap hari selama 1 bulan. Dimana isoniazid dan rifampisin bapak gunakan 1x sehari, sedangkan pirazinamid dan etambutol bapak gunakan 3x sehari. 
  • Pasien : Apakah ada efek yang akan saya rasakan setelah mengonsumsi obat tersebut bu? 
  • Apoteker : Ada pak. Akan tetapi, bapak tidak usah khawatir, efek yang akan bapak rasakan menunjukkan bahwa obat telah bereaksi 
  • Pasien : Bagaimana jika saya lupa mengonsumsi obat tersebut? 
  • Apoteker : Jika bapak lupa mengonsumsi untuk obat tersebut, bapak tetap melanjutkan mengonsumsinya pada waktu berikutnya. Saya sarankan, agar bapak tidak lupa dalam mengonsumsi obat tersebut, agar terapi yang bapak lakukan menghasilkan efek yang diinginkan. Setelah bapak mengonsumsi obat ini, bapak dapat kembali ke rumah sakit ini untuk memeriksakan kembali sputum yang bapak miliki. Apakah bapak mengerti dengan apa yang saya jelaskan? 
  • Pasien : Iya bu 
  • Apoteker : Apakah ada lagi yang ingin bapak tanyakan atau yang bapak kurang mengerti? 
  • Pasien : Tidak bu. Saya sudah mengerti dengan apa yang ibu jelaskan. 
  • Apoteker : Apakah saya dapat meminta nomor hp bapak, agar dapat memastikan bapak mengonsumsi obat dengan teratur? 
  • Pasien : Iya bu, ini nomor hp saya (sambil memperlihatkan nomor hp) 
  • Apoteker : Iya pak, kira-kira pada waktu kapan saya sapat menguhubungi bapak? 
  • Pasien : Sekitar jam 5 sore saja bu, karena biasanya saya sibuk kalau pagi hari. 
  • Apoteker : Baiklah pak, saya akan menguhubungi bapak sekitar jam 5 sore yah pak. 
  • Pasien : Iya bu. 
  • Apoteker : Kalau begitu, saya akhiri konseling hari ini. Semoga bapak lekas sembuh (sambil mengulurkan tangan) 
  • Pasien : Iya bu, terima kasih. 

Saran terapi kepada dokter
Bapak ahmad selanjutnya akan melakukan terapi tahap sisipan. Hal ini dikarenakan hasil pemeriksaan sputum masih menunjukkan BTA positif. Hal ini sesuai dengan Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Tuberkolosis, 2005) bahwa Bila pada akhir tahap intensif pengobatan penderita baru BTA positif dengan kategori 1 atau penderita BTA positif pengobatan ulang dengan kategori 2, hasil pemeriksaan dahak masih BTA positif, diberikan obat sisipan (HRZE) setiap hari selama 1 bulan.

NARASI KONSELING PENYAKIT TBC

NARASI KONSELING PENYAKIT TBC

Narasi konseling
Seorang Bapak bernama Ahmad pergi ke Rumah Sakit untuk memeriksa kembali keadaanya setelah 2 bulan menjalani pengobatan intensif untuk penyakitnya (TBC). Ternyata setelah menjalani pemeriksaan sputum bapak Ahmad, BTA masih positif. Kemudian dokter meminta bapak ahmad ke ruangan konseling untuk menjalankan konseling terhadap obat yang diterima.

  • Pasien : (sambil mengetuk pintu). Assalamualaikum! 
  • Apoteker : Waalaikum salam. Selamat pagi pak, Silahkan masuk pak 
  • Pasien : Iya, terima kasih bu 
  • Apoteker : (Memperkenalkan diri). Perkenalkan nama saya Isna Wahyuni, saya adalah apoteker penanggung jawab di Rumah Sakit ini. Disini saya akan menyampaikan informasi mengenai obat yang bapak terima dari dokter. Kalau boleh tahu, apa keluhan yang Bapak Ahmad rasakan? 
  • Pasien : Begini bu, saya telah menjalani terapi TBC menggunakan paket intensif Obat Antituberkolosis Komposisi Dosis Tetap selama 2 bulan. Akan tetapi, setelah dilakukan pemeriksaan, hasil sputum saya masih menunjukkan BTA positif. 
  • Apoteker : Oh iya. Sebelumnya saya ingin bertanya. Apakah dokter telah menjelaskan kepada bapak apa yang akan dihasilkan setelah bapak mengonsumsi obat tersebut? 
  • Pasien : Belum bu 
  • Apoteker : Baiklah saya kan memberi penjelasan kepada bapak. Pengobatan penyakit TBC membutuhkan waktu yang cukup lama (sekitar 6-12 bulan), bila bapak patuh untuk mengonsumsi obat 2-4 minggu. Setelah mengonsumsi obat tersebut, bapak Ahmad akan merasa nyaman. Akan tetapi, obat tersebut masih harus bapak konsumsi sebelum dokter menghentikan pengobatan tersebut. Berdasarkan penjelasan bapak sebelumnya mengenai terapi TBC menggunakan terapi intensif, saya menyarankan bapak untuk tetap melakukan terapi tersebut dan untuk mencegah terjadinya resistensi terhadap obat, saya akan menyarankan kepada dokter agar menjalankan tahap sisipan untuk terapi TBC yang bapak derita. 
  • Pasien : Kenapa ibu menyarankan tahap sisipan? Apakah tahap lanjutan tersebut penting? Dan obat-obat apa saja yang nantinya akan saya terima di tahap lanjutan tersebut bu? 
  • Apoteker : Saya menyerankan tahap sisipan ini karena bertujuan untuk membunuh kuman sehingga akan mencegah terjadinya kekambuhan. Pada tahap sisipan ini, bapak akan menerima 4 obat yaitu isoniazid, rifampisin, pirazinamid dan etambutol yang bapak konsumsi setiap hari selama 1 bulan. Dimana isoniazid dan rifampisin bapak gunakan 1x sehari, sedangkan pirazinamid dan etambutol bapak gunakan 3x sehari. 
  • Pasien : Apakah ada efek yang akan saya rasakan setelah mengonsumsi obat tersebut bu? 
  • Apoteker : Ada pak. Akan tetapi, bapak tidak usah khawatir, efek yang akan bapak rasakan menunjukkan bahwa obat telah bereaksi 
  • Pasien : Bagaimana jika saya lupa mengonsumsi obat tersebut? 
  • Apoteker : Jika bapak lupa mengonsumsi untuk obat tersebut, bapak tetap melanjutkan mengonsumsinya pada waktu berikutnya. Saya sarankan, agar bapak tidak lupa dalam mengonsumsi obat tersebut, agar terapi yang bapak lakukan menghasilkan efek yang diinginkan. Setelah bapak mengonsumsi obat ini, bapak dapat kembali ke rumah sakit ini untuk memeriksakan kembali sputum yang bapak miliki. Apakah bapak mengerti dengan apa yang saya jelaskan? 
  • Pasien : Iya bu 
  • Apoteker : Apakah ada lagi yang ingin bapak tanyakan atau yang bapak kurang mengerti? 
  • Pasien : Tidak bu. Saya sudah mengerti dengan apa yang ibu jelaskan. 
  • Apoteker : Apakah saya dapat meminta nomor hp bapak, agar dapat memastikan bapak mengonsumsi obat dengan teratur? 
  • Pasien : Iya bu, ini nomor hp saya (sambil memperlihatkan nomor hp) 
  • Apoteker : Iya pak, kira-kira pada waktu kapan saya sapat menguhubungi bapak? 
  • Pasien : Sekitar jam 5 sore saja bu, karena biasanya saya sibuk kalau pagi hari. 
  • Apoteker : Baiklah pak, saya akan menguhubungi bapak sekitar jam 5 sore yah pak. 
  • Pasien : Iya bu. 
  • Apoteker : Kalau begitu, saya akhiri konseling hari ini. Semoga bapak lekas sembuh (sambil mengulurkan tangan) 
  • Pasien : Iya bu, terima kasih. 

Saran terapi kepada dokter
Bapak ahmad selanjutnya akan melakukan terapi tahap sisipan. Hal ini dikarenakan hasil pemeriksaan sputum masih menunjukkan BTA positif. Hal ini sesuai dengan Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Tuberkolosis, 2005) bahwa Bila pada akhir tahap intensif pengobatan penderita baru BTA positif dengan kategori 1 atau penderita BTA positif pengobatan ulang dengan kategori 2, hasil pemeriksaan dahak masih BTA positif, diberikan obat sisipan (HRZE) setiap hari selama 1 bulan.