MAKALAH PENGARUH ASAP ROKOK TERHADAP AKTIVITAS SELULER DI DALAM TUBUH - ElrinAlria
MAKALAH PENGARUH ASAP ROKOK TERHADAP AKTIVITAS SELULER DI DALAM TUBUH

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesehatan merupakan salah satu kunci penting bagi kehidupan mahluk hidup khususnya manusia. Namun, seiring perkembangan zaman serta gaya hidup yang diikuti kaum pria bahkan wanita dapat mengakibatkan kesehatan menjadi terganggu akibat kebiasaan buruk yang ditimbulkan. Hal ini sebenarnya, telah diketahui oleh para pengguna tersebut. Namun penyakit ini sangat diacuhkan oleh sebagian kalangan pemuda baik remaja dan dewasa bahkan anak-anak. Aktivitas ini dapat merusak tatanan kehidupan manusia yang disebut dengan merokok.

Merokok merupakan penyebab utama terbesar kematian yang sulit dicegah dalam masyarakat. Pada tahun 1950, setiap tahun hanya ada sekitar 300.000 kematian akibat kebiasaan merokok. Angka ini melonjak menjadi 1 juta kematian pada tahun 1965; 1,5 juta pada tahun 1975, dan menjadi 3 juta pada tahun 1990-an. Dari 3 juta kematian tersebut, 2 juta diantaranya terjadi di negara-negara maju dan sisanya (33,3%) terjadi di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Merokok merupakan masalah yang terus berkembang dan belum dapat ditemukan solusinya di Indonesia sampai saat ini. Menurut data WHO tahun 2011 sampai pada tahun 2017 Indonesia menempati posisi ke-5 dengan jumlah perokok terbanyak di dunia. Jenis rokok yang banyak digemari di Indonesia adalah rokok kretek yaitu jenis rokok tersebut dibuat dari daun tembakau dan mempunyai campuran aroma dan rasa cengkeh. Rokok kretek mempunyai kadar nikotin dan tar 2-3 kali lebih besar dari rokok putih (Latuhamina, 2011: 2) Merokok dapat mengganggu kesehatan yang disebabkan oleh nikotin yang berasal dari asap arus utama yaitu asap tembakau yang dihirup langsung oleh perokok tersebut maupun asap sampingan yaitu asap yang disebarkan ke udara bebas dan dihirup oleh orang lain. Bahaya rokok bukan saja menghantui mereka yang menjadi perokok aktif, namun merambah kepada para perokok pasif. Kemungkinan perokok pasif untuk mengalami gangguan kesehatan akibat asap rokok yang dihirup mencapai 30% (Barber, 2008 dalam Fitria dkk, 2013: 121).

Rokok merupakan salah satu penyebab kerusakan sel karena dalam rokok mengandung bahan yang dapat membentuk radikal bebas. Radikal bebas adalah produk antara yang terbentuk dalam berbagai proses reaksi kimia dalam tubuh (misalnya metabolisme sel, pernapasan, olah raga yang berlebihan) dan juga dari lingkungan yang terpolusi oleh asap rokok, asap kendaraan, bahan pencemar dan juga radiasi (Sari, 2014: 2). Berdasarkan penelitian yang dilakukan Santoso (2012: 1) menyatakan bahwa asap rokok dapat memicu terbentuknya senyawa radikal yang dapat menyebabkan terjadinya kerusakan dari membran sel dengan ditandai meningkatnya kadar MDA. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Muliartha (2010: 23) memaparkan asap rokok mengandung filter dari bahan-bahan toksik yang dapat masuk ke dalam tubuh yang merusak membran sel. Radikal bebas masuk ke dalam sel, komponen-komponen membran sel yang mengalami kerusakan diantaranya sitosekleton, organella, protein non membran, molekul ades, enzim-enzim dan DNA.

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut maka penulis tertarik mengangkat makalah ini dengan judul “Pengaruh Asap Rokok Terhadap Aktivitas Seluler dalam Tubuh”.

1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini bagaimana pengaruh asap rokok terhadap aktivitas seluler dalam tubuh? 

1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan yang hendak dicapai yaitu untuk mengetahui pengaruh asap rokok terhadap aktivitas seluler dalam tubuh.

1.4 Manfaat Penulisan
  1. Melatih diri penulis dalam mengembangkan ide, gagasan yang dituangkan dalam karya tulis ilmiah.
  2. Sebagai sumber informasi kepada pembaca mengenai pengaruh atau dampak yang dihasilkan oleh asap rokok terhadap aktivitas seluler dalam tubuh. 
  3. Sebagai bahan pembanding bagi penulis selanjutnya dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan baik dimasa sekarang maupun dimasa akan datang. 
  4. Sebagai data ilmiah bagi penulis yang akan melakukan karya tulis terkait dengan judul yang kami angkat. 

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kandungan Asap Rokok
Merokok adalah bahaya kesehatan utama yang memberi efek fisiologis dan biokimia pada komponen di dalam tubuh. Asap rokok adalah salah satu sumber radikal bebas yang dapat menyebabkan kerusakan berbagai organ tubuh seperti paru-paru, hati, dan jantung. Radikal bebas ini dapat menyebabkan perubahan struktur dan fungsi organ tubuh. Dalam asap rokok terkandung tiga zat kimia yang paling berbahaya, yaitu tar, nikotin, dan karbon monoksida. Semua zat tersebut bersifat mengganggu membran berlendir yang terdapat pada mulut dan saluran pernapasan (Nururrahmah, 2014:79).

Kandungan senyawa penyusun rokok yang dapat mempengaruhi pemakai adalah golongan alkaloid yang bersifat perangsang (stimulant). Alkaloid yang terdapat dalam daun tembakau antara lain: nikotin, nikotirin, anabasin, myosmin, dan lain-lain. Nikotin adalah senyawa yang paling banyak ditemukan dalam rokok sehingga alkaloid dianggap sebagai bagian dari nikotin (Nururrahmah, 2014: 78). Asap rokok terbagi menjadi dua fase: yaitu fase tar dan fase gas. Fase tar atau partikulat didefinisikan sebagai bahan yang terjebak saat arus asap dilewati. Melalui filter serat kaca yang mempertahankan 99,9% dari semua materi partikulat dengan ukuran ~0.1 m. Sedangkan Fase gas Adalah bahan yang melewati filter (Vani, 2015: 2).

Nikotin yang terdapat dalam asap rokok dapat masuk ke paru-paru, kemudian masuk ke dalam aliran darah dan selanjutnya dibawa ke otak. Otak manusia memiliki reseptor penerima nikotin yang disebut Nicotinic Cholinergic Receptors (nicotinic acetylcholine receptors atau nAChRs). Bentuk reseptor penerima ini seperti struktur membran sel yang akan membuka bila ada invasi dari molekul tertentu. Ikatan nikotin pada permukaan di antara dua subunit reseptor ini membuka jalur, yang memungkinkan masuknya ion sodium atau kalsium. Masuknya dua kation ini dalam sel langsung mengaktifkan tegangan saluran kalsium yang mengijinkan masuknya kalsium lebih banyak. Salah satu efek dari masuknya kalsium di dalam sel saraf adalah dilepasnya neurotransmiter (Benowitz, 2010).

Salah satu neurotransmitter yang dilepas adalah dopamin. Senyawa kimia ini bekerja menstimulasi perasaan bahagia pada seseorang dan efek yang lebih kuat sama seperti rangsangan memicu rasa lapar. Sebelum dopamin dikeluarkan, nikotin terlebih dahulu telah mengaktivasi glutamin, yakni neurotansmitter yang memfasilitasi pelepasan dopamin dan pelepasan asam γ-aminobutirik (GABA) yang menghambat aktivasi dari dopamin. Eksperimen yang pernah dilakukan pada seekor tikus menunjukkan pemberian nikotin akan memberi pengaruh terhadap pengeluaran dopamin di daerah-daerah tertentu otak, seperti area mesolimbic dan cortex frontal (Benowitz, 2010). Waktu yang dibutuhkan nikotin untuk mencapai otak sekitar sepuluh menit setelah seseorang merokok (NIH, 2011 dalam Fitria, 2013: 122). 

Kadar nikotin akan mulai menurun bila tidak ada asupan dari luar lagi selama kurang lebih tiga puluh hari. Saat nikotin masih berada dalam otak, peningkatan aktivitas pada prefrontal cortex, thalamus, dan sistem penglihatan terjadi. Neurotransmitter lain yang dapat meningkatkan kecanduan nikotin adalah hypocretin, produk dari neuropeptida dalam hipotalamus lateral yang meregulasi efek stimulasi dari nikotin dan menyebabkan permintaan nikotin secara berulang ke otak (Benowitz 2010).

Seseorang yang baru pertama kali merokok, tubuh akan bereaksi menunjukkan gejala seperti batuk dan pusing, sebagai reaksi melawan zat asing, namun gejala ini sering diabaikan. Nikotin akan meningkatkan kadar dopamin dalam otak dan bila kadar nikotin menurun di otak para perokok, maka akan muncul perasaan gelisah dan stress (Benowitz, 2010). Untuk itulah kecenderungan seseorang untuk terus menikmati rokok sangat besar. Dengan paparan nikotin yang berulang pada seorang perokok, kemampuan adaptasi otak terhadap nikotin mulai meningkat. Saat kemampuan adaptasi meningkat, jumlah unit-unit reseptor nAChR juga meningkat. Selanjutnya aktivasi VTA dan neuron-neuron di nucleus accumbens akan meningkat (Benowitz, 2010). Karena perasaan senang terjadi, manusia cenderung ingin mengulangi kejadian (merokok) itu terus menerus.

Molekul utama di dalam tubuh yang dirusak oleh radikal bebas adalah DNA, lemak dan Protein (Suryohudro, 2000). Dengan bertambahnya usia maka akumulasi kerusakan sel akibat radikal bebas semakin mengambil peranan, sehingga mengganggu metabolisme sel, juga merangsang mutasi sel, yang berakibat pada kanker bahkan kematian (Goldman dan Klatz, 2007 dalam Fitria dkk, 2013: 123).

Radikal bebas dapat bersifat positif dan negatif. Bellevil et al. (1996) melaporkan efek positif keberadaan radikal bebas antara lain, senyawa oksigen reaktif berperan dalam proses bakterisidal dan bakteriolisis normal. Seperti diketahui, senyawa oksigen reaktif juga disintesis sel fagosit melalui jalur NADP oksidasi, seperti radikal O2 dan H2O2 yang berperan sebagai pembunuh bakteri (bakterisidal). Oleh sebab itu seseorang yang kekurangan NADP oksidase akan mudah mengalami inflamasi berulang. Radikal O2 memiliki sifat vasokonstriktor pada otot halus atau dalam fibroblas. Kemudian senyawa oksigen reaktif berperan dalam sintesis DNA karena aktivitas ribonukleotida reduktase (yang mengubah ribosa menjadi dioksiribosa) sangat bergantung pada senyawa oksigen reaktif. Senyawa oksigen reaktif juga berperan dalam kapasitasi spermatozoid sehingga keberadaannya sangat berfungsi dalam fertilisasi. Secara in vitro senyawa oksigen reaktif juga bersifat mitogenik pada berbagai sel. Tentunya radikal bebas menjadi berbahaya jika jumlahnya berlebihan dan lebih banyak dari antioksidan yang berada di dalam tubuh.

Sifat negatif radikal bebas adalah dapat menyebabkan stres oksidatif. Hal ini terjadi karena ketidakseimbangan antara radikal bebas dengan antioksidan. Radikal bebas dalam jumlah berlebihan sementara jumlah antioksidan seluler lebih sedikit sehingga dapat menyebabkan kerusakan sel (Costa et al., 2005 dalam Fitria dkk, 2013: 123).

Peran radikal pada asap rokok dalam meningkatkan kerusakan sistem biologis adalah sama dengan peran radikal bebas yang dihasilkan dalam tubuh. Radikal bebas merupakan molekul yang mengandung elektron tidak berpasangan pada orbit terluarnya. Elektron tidak berpasangan ini membuatnya sangat reaktif. Oleh karena radikal bebas dapat menyerang molekul penting seperti DNA, protein dan lipid, dan oleh karena mereka juga cenderung dapat memperbanyak diri, mereka dapat menciptakan kerusakan yang signifikan. Radikal bebas dapat dibentuk dalam berbagai macam reaksi seperti misalnya fragmentasi, substitusi, oksidasi, addisi, dan reduksi.

Oleh karena sifat reaksinya yang acak (random), beberapa produk kimiawi radikal bebas benar-benar asing bagi sel untuk dapat diperbaiki atau digunakan kembali oleh sel melalui proses daur ulang. Contoh dari peristiwa ini adalah ketika 2 protein menjadi berikatan silang (cross-link), mereka dapat menjadi resisten oleh enzim proteolitik dan molekul seperti ini dapat terakumulasi secara progresif dalam sel seperti pigmen penuaan yang dapat meningkat jumlahnya ketika sel dalam tubuh organisme mengalami penuaan. Pigmen penuaan ini jika terakumulasi sampai mencapai kadar yang signifikan akan dapat mengganggu fungsi sel secara umum.

Bukti oksidasi DNA lainnya antara lain kematian sel, mutasi DNA, kesalahan replikasi, dan ketidakstabilan genomik dapat terjadi jika kerusakan DNA oksidatif tidak diperbaiki sebelum replikasi DNA. Kerusakan DNA dapat menghasilkan satu atau untai ganda kerusakan, modifikasi dasar, modifikasi deoksiribosa, dan DNA cross-linking. (Marnett, 2000; JP Cooke, 2003; Klaunig dan Kamendulis, 2004; Valko et al., 2006 dalam Fitria dkk, 2013: 124).

Contoh lain kerusakan akibat stress oksidatif adalah oksidasi basa nitrogen guanosin menjadi 8-oxoguanosine, yang tidak lagi membentuk ikatan hidrogen dengan cytosine namun membentuk ikatan hidrogen dengan adenosine, dengan demikian terjadi mutasi dalam DNA. Sama halnya dengan produksi radikal bebas, mutasi DNA hampir terjadi sepanjang waktu, dan mengingat sebagian besar mutasi adalah merugikan sebab ia merusak fungsi gen, akumulasi kerusakan akibat oksidasi seperti ini akan mengarah pada menurunnya fungsi seluler atau bahkan munculnya sel kanker (Hyde, 2009 dalam dalam Fitria dkk, 2013: 124).

Radikal bebas juga dapat mengoksidasi berbagai macam protein dalam sel dan mengganggu fungsinya, misalnya ia dapat mengoksidasi apolipoprotein dalam LDL sehingga LDL yang tertimbun dalam dinding sel akan memulai rantai proses pembentukan plak atheroma. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa asap rokok mempercepat proses atherosclerosis yang umumnya terjadi sepanjang proses penuaan. Selain radikal bebas, metabolit nikotin dapat membentuk ikatan pada basa nitrogen DNA dan menyebabkan mutasi (Hyde, 2009). Kondisi ini memperburuk proses mutasi akibat oksidasi yang sudah terjadi.

Kerusakan DNA merupakan konsekuensi tak terelakkan dari metabolisme seluler, dengan kecenderungan untuk meningkat. Metabolisme sel normal sebagai sumber endogen spesies oksigen reaktif dan inilah (non patogen) proses seluler yang menjelaskan latar belakang tingkat kerusakan DNA oksidatif terdeteksi dalam jaringan normal. Seluruh kelompok transpor elektron memiliki potensi “kebocoran” elektron ke oksigen sehingga terbentuk superoksida. Kerusakan oksidatif basa DNA terjadi karena reaksinya dengan spesies oksigen reaktif.

Spesies oksigen reaktif juga dapat dihasilkan oleh radiasi pengion atau ultraviolet. Bahan kimia eksogen tertentu dalam siklus redoks mengikuti metabolisme oleh sel, dengan produksi berikutnya elektron, yang dapat ditransfer ke molekul oksigen menghasilkan superoksida. Terlepas dari peristiwa tersebut, spesies oksigen reaktif dapat berinteraksi dengan biomolekuler seluler, seperti DNA, yang mengarah ke modifikasi dan konsekuensi yang berpotensi serius bagi sel (Christopher, 2002). Radikal oksigen dapat menyerang DNA jika terbentuk di sekitar DNA seperti pada radiasi biologis.

Banyak faktor penyebab terjadinya kanker, baik internal maupun eksternal. Faktor internal terutama keberadaan gen-gen yang berperan pada siklus sel telah menjadi pusat perhatian dalam hubungannya dengan proses terjadinya pertumbuhan tumor. Dalam hubungannya dengan pertumbuhan tumor, terdapat dua golongan gen: Pertama adalah kelompok pemicu terjadinya tumor yang lazim disebut tumor oncogenes, seperti: gen c-myc dan gen ras; Kedua adalah kelompok penekan terjadinya tumor yang lazim disebut tumor suppressor gene, seperti: gen p53 dan gen Rb. Hingga saat ini banyak peneliti sementara menyimpulkan bahwa penyebab terjadinya kanker (50%) adalah adanya mutasi pada gen-gen tersebut (Putsztai et al., 1996; Cotrans et al., 1997 dalam Fitria dkk, 2013: 125).

Kandungan kimia berbahaya pada rokok menyebabkan terjadinya mutasi gen berkali-kali. Kombinasi mutasi gen dan kerusakan DNA dapat menyebabkan ketidakstabilan genetik dan berakibat penyakit kanker. Efek negatif merokok yang paling sering dijumpai adalah kanker. Merokok menyebabkan kanker paru-paru, kanker esofagus, kanker laring, dan kanker pankreas. Menurut data dari negara Amerika, merokok merupakan faktor utama (90% pada pria dan 79% pada wanita) penyebab kanker paru pada tahun 1989. Menurut penelitian Garfinkel dan Bofetta (1990), kegiatan merokok jelas meningkatkan resiko kanker pada ginjal, hati, anus, penis, dan juga leukemia akut.

Kandungan senyawa kimia dalam asap rokok akan mengakibatkan mutasi pada deoxyribonucleic acid (DNA). pada tahun 1982, Gairola telah melakukan suatu penelitian eksperimental dan membuktikan transformasi malignansi pada sel yang disebabkan induksi oleh asap rokok. pada tahun yang sama, Departemen Kesehatan Amerika juga melaporkan penyataan yang sama. Penelitian selanjutnya oleh Hoffmann dan Hecht (1990) membuktikan bahwa inhalasi asap rokok dalam waktu yang panjang akan menginduksi pertumbuhan tumor.

Selain dari kanker, penyakit sistemik yang bersifat non-kanker terutama penyakit paru obstuktif kronis dan penyakit kardiovaskular terasosiasi dengan kebiasaan merokok. Asap rokok menginduksi sel inflamatori untuk melepaskan enzim elastase yang akan memecah elastin pada dinding alveoli. Oksidan dalam asap rokok akan menginaktivasi enzim alfa-antitripsin yang berperan untuk menginhibisi kerja enzim elastase. Hal ini menyebabkan kerusakan pada dinding alveoli yang bersifat kronik. Hubungan antara kebiasaan merokok dengan peningkatan resiko terhadap penyakit kardiovaskular aterosklerosis jelas terbukti dengan penelitian-penelitian. Studi yang dilakukan atas hubungan ini menyatakan bahwa merokok akan menyebabkan disfungsi pada vaskular endotelia, gangguan pada hemostatik dan koagulasi, serta abnormalitas pada sel-sel lipid (dalam Fitria dkk, 2013: 125).

2.2 Proses Kerusakan Sel Akibat Asap Rokok
Radikal bebas yang masuk ke dalam sel akan merusak komponen-komponen aktivitas intraseluler seperti sitoskeleton, organela, protein non membran, enzim-enzim dan DNA. Radikal bebas akan menyerang enzim terutama ATP ase yang tersusun dari asam amino yang mengandung yang tersusun dari rangkaian asam amino yang mengandung gugus sulfhidril, sehingga ATP ase menjadi inaktif, maka fungsinya sebagai pengendalian Ca2+ sitosol akan terganggu. Dengan terganggunya peran regulasi Ca2+ maka akan terjadi peningkatan Ca2+ di dalam sitosol. Radikal bebas juga menyerang membran mitokondria dan RE. Karena Ca2+ di dalam mitokondria dan RE lebih tinggi, ditambah tidak berfungsinya ATP ase dan 1, 4, 5 inositosol tri phopat ( IP3) dalam mengendalian Ca2+ di dalam mitokondria dan RE maka akan terjadi efluks Ca2+ ke dalam sitosol. Terlepasnya Ca dan RE mengakibatkan perubahan konformasi dari reseptor IP yang dapat memicu pembukaan kanal ion pada membran plasma, maka terjadilah influks Ca2+ dari ekstra seluler ke dalam sitosol yang makin meningkatkan Ca2+ sitosol (Muliartha, 2010: 6).

Mitokondria adalah situs oksidasi selular dan memberikan ATP untuk berbagai proses metabolisme dan karenanya rentan terhadap serangan radikal bebas. Kerusakan mitokondria lazim di kedua jantung dan otak. Paparan asap rokok dapat menyebabkan disfungsi mitokondria sebagai demonstrasi oleh peningkatan kadar kolesterol, lipid peroksida, dan peningkatan kolesterol/rasio fosfolipid, dalam hubungannya dengan penurunan enzim mitokondria pada tikus yang terkena rokok asap kronis dicegah dan diinduksi pada peningkatan di fungsi mitokondria otak dan neurotransmisi. Paparan asap rokok mengganggu mitokondria dan jalur aerobik. Efek BA dalam mengatur kunci produksi ATP aerobik, mungkin dengan mencegah perubahan peroxidative di mitokondria, bisa menjadi sangat penting dalam mitokondria dimediasi jalur neurotransmission (Vani dkk, 2015: 8). 

Ditingkat lebih tinggi yaitu pada karsinoma dan penyakit paru obstruktif kronik juga ada hubungan yang signifikan antara merokok dan perkembangan penyakit paru-paru seperti bronchiolitis pernafasan dan granuloma eosinofilik, meskipun mekanisme interaksinya masih belum jelas. Sel epitel alveolar diketahui memiliki fungsi yang bervariasi. Salah satunya memproduksi surfaktan protein untuk mengurangi tegangan permukaan dan melindungi konstituen paru dari stimulan eksternal; melepaskan sitokin untuk mengatur peradangan dan pertumbuhan sel; dan melepaskan protein matriks, proteinase, dan proteinase inhibitor untuk mengatur perputaran struktur alveolar sehingga kerusakan sel alveolar bisa terjadi. Meningkatkan permeabilitas dan penurunan epitel, sintesis surfaktan, akhirnya mengarah ke paru-paru yang mengakibatkan Edema dan alveoli runtuh. Terutama kerusakan struktur alveolar yang ditimbulkan yaitu produksi sitokin dan pertumbuhan yang tidak tepat. 

Asap rokok diketahui memiliki berbagai efek yang dapat merusak sel epitel alveolar. Misalnya menekan proliferasi, melemahkan keterikatan, dan penambahan detasemen sel, selain itu juga dapat menyebabkan DNA beruntai tunggal pecah dalam sel dan menekan sekresi surfaktan dan berpengaruh juga pada produksi kolagen. Dengan demikian, cedera sel epitel alveolar dapat mengakibatkan penyakit paru yang diinduksi dengan merokok. Banyak faktor nonvolatile dan fase menguap dari asap rokok diketahui misalnya karsinogenik dapat menyebabkan cedera paru. Oksidan dan aldehida, merupakan konstituen utama dalam fase volatil Asap rokok, yang dapat menyebabkan kematian sel paru-paru (Hoshino dkk, 2010: 2).

2.3 Dampak Asap Rokok bagi Kesehatan
Rokok mengandung kurang Iebih 4000 elemen-elemen, dan setidaknya 200 diantaranya dinyatakan berbahaya bagi kesehatan. Asap rokok merupakan salah satu sumber radikal bebas. Dalam satu kali hisap, perokok memasukkan kurang lebih 1016 molekul radikal bebas dan berbagai bahan kimia tar, asbestos, H202, dan lain-lain ke dalam tubuh. Selain datang dari luar tubuh, radikal bebas juga dihasilkan dari proses metabolisme di dalam tubuh kita. Radikal bebas merupakan molekul yang tidak stabil yang dapat menyebabkan kerusakan berbagai organ tubuh, seperti paru-paru, hepar, dan jantung.

Hepar merupakan salah satu organ utama tubuh kita yang amat rentan karena merupakan filter dari bahan-bahan toksik yang masuk ke dalam tubuh, selain itu hepar memiliki sistem sirkulasi ganda sehingga akumulasi bahan-bahan toksik di hepar lebih besar Pada hepar, radikal bebas dapat menyebabkan perubahan struktur dan fungsi. Mekanisme kerja yang mendasarinya adalah lipid peroksidasi yang selanjutnya menyebabkan kerusakan membran sel. Hal ini menyebabkan perubahan biokimia yang bersifat kompleks dan akhirnya dapat mangakibatkan kerusakan sel hepar. Kerusakan sel hepar yang mekanismenya didasari oleh kerusakan membran sel adalah nekrosis.

Asap rokok juga dapat menyebabkan penurunan jumlah spermatosit pakiten dan spermatid karena dalam asap rokok masih banyak zat-zat kimia yang menghambat spermatogenesis, sehingga mengakibatkan konsentrasi spermatozoa yang dihasilkan menjadi sedikit atau terjadi penurunan. Selain merusak struktur spermatozoa, radikal bebas juga dapat menyebabkan menurunnya produksi hormon LH dan FSH yang merangsang terbentuknya hormon testosteron. Hal ini mengakibatkan jumlah testosteron menurun dan akhirnya spermatogenesis pun ikut terhambat (Desty, 2014: 5). 

Paparan terhadap asap rokok memiliki relasi yang kuat dengan kerusakan DNA yang dipicu oleh cekaman oksidatif (oxidative stress) dan karsinogenesis. Merokok diketahui dapat meningkatkan level radikal bebas yang memicu perusakan DNA dan berbagai basa teroksidasi (contohnya, 8-oxoguanosine). Beberapa studi mengindikasikan peranan utama merokok dalam pertumbuhan kanker pada manusia, seperti kanker paru-paru, mulut, faring, laring, esofagus, kandung kemih, lambung, pankreas, ginjal, uterus, serviks, dan leukimia myeloid (Fitria, 2013: 120).

Asap rokok mengandung 10-14 mg nikotin, 5 mg diserap secara sistemik di paru-paru melalui inhalasi. Nikotin dengan cepat memasuki sirkulasi vena pulmonal kemudian mencapai otak dalam waktu 10-20 detik, dan mudah berdifusi jaringan otak dan mengikat reseptor asetilkolin nikotin (nAChRs). Secara akut, merokok menyebabkan efek penguat positive, termasuk euforia ringan, meningkatnya gairah, berkurangnya nafsu makan, dan berkurangnya stres, kecemasan, dan sakit. 

Nikotin dalam asap rokok basa dan mudah melintasi sawar darah otak. Ini memediasi rangsangan sistem dopamin mesolimbik. Hal ini juga terlibat dalam memodulasi neurotransmiter klasik lainnya di otak termasuk katekolamin, serotonin, GABA, dan glutamat. Ini menginduksi kecanduan karena banyak berbagi obat psikostimulan seperti kokain dan amfetamin. Dengan paparan nikotin secara berulang, toksisitas memberi jalan toleransi dan kecanduan. Toleransi disertai dengan meningkatnya asupan nikotin untuk mendapatkan efek yang sama yang awalnya mengarah ketergantungan fisik. Hal ini menyebabkan mekanisme penguatan, akhirnya mengarah ke kecanduan. Zat selain nikotin yang ada di asap rokok juga terlibat dalam mediasi yang berbahaya pada sistem saraf. Konstituen asap rokok lainnya mempengaruhi integritas struktural dan penghalang fungsional otak darah (Vani dkk, 2015:4).

BAB III
PENUTUP 
3.1 Simpulan
Simpulan yang dapat ditarik berdasarkan pembahasan di atas yaitu: 
  1. Merokok adalah bahaya kesehatan utama yang memberi efek fisiologis dan biokimia pada komponen di dalam tubuh. 
  2. Radikal bebas yang masuk ke dalam sel akan merusak komponen-komponen aktivitas intraseluler seperti sitoskeleton, organela, protein non membran, enzim-enzim dan DNA. Radikal bebas akan menyerang enzim terutama ATP ase yang tersusun dari asam amino. 
  3. Rokok mengandung kurang Iebih 4000 elemen-elemen, dan setidaknya 200 diantaranya dinyatakan berbahaya bagi kesehatan, asap rokok dapat menyebabkan kerusakan pada hepar, penurunan jumlah spermatosit pakiten, kerusakan DNA, pankreas, ginjal, uterus, serviks, sistem saraf, dan leukimia myeloid. 

3.2 Saran
Saran yang dapat kami sampaikan yaitu bahwa dampak asap rokok sangat luas dampaknya dalam kehidupan kita, pada karya tulis ini hanya membahas mengenai sebagian kecil bagaimana dampak asap rokok yang terjadi pada aktivitas sel dan menyebar sampai ke organ-organ dalam tubuh kita, karya tulis ini dapat dikembangkan lebih rinci lagi mengenai bagaimana perbandingan kerusakan sel dan DNA pada perokok aktif dan perokok pasif yang saat ini korban perokok pasif juga semakin banyak.

DAFTAR PUSTAKA
Benowitz, N. L. 2010. Nicotine Addiction. The New England Journal of Medicine, Vol 362 (24).

Desty, S.P. 2014. Effect Of Cigarette Smoke In Quality And Quantity Spermatozoa. J. Majority. Vol (3). 102-105. 

Fitria, Triandhini , Jubhar C. Mangimbulude, Ferry F. 2013. Merokok dan Oksidasi DNA. Sains Medika. Vol (5). 120-127. 

G. Vani, K. Anbarasi, and C. S. Shyamaladevi. 2015. Bacoside A: Role in Cigarette Smoking Induced Changes in Brain. Hindawi Publishing Corporation. Vol (10). 1-17.

Latumahina, J.G, Kakisina, P, Michavel, M. 2011. Peran Madu Sebagai Antioksidan dalam Mencegah Kerusakan Pankreas Mencit (Mus musculus) Terpapar Asap Rokok Kretek. Molluca Medica. ISSN. 1979-6358.

Muliartha, et al. 2010. Pemberian Kombinasi Vitamin C dan E Peroral Memperbaiki Kerusakan Hepar Akibat Paparan Rokok Kretek Sub Kronik. Jurnal Kedokteran Brawijaya. Vol. (25). 23-32. 

Nururrahmah. 2014. Pengaruh Rokok Terhadap Kesehatan dan Pembentukan Karakter Manusia. Prosiding Seminar Nasional. Vol (1). 1-8.

Seifter, J. 2015. Hidden Formaldehyde In Ecigarette Aerosol. The New England Journal Of Medicine. Vol (10) 392-394.

MAKALAH PENGARUH ASAP ROKOK TERHADAP AKTIVITAS SELULER DI DALAM TUBUH

MAKALAH PENGARUH ASAP ROKOK TERHADAP AKTIVITAS SELULER DI DALAM TUBUH

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesehatan merupakan salah satu kunci penting bagi kehidupan mahluk hidup khususnya manusia. Namun, seiring perkembangan zaman serta gaya hidup yang diikuti kaum pria bahkan wanita dapat mengakibatkan kesehatan menjadi terganggu akibat kebiasaan buruk yang ditimbulkan. Hal ini sebenarnya, telah diketahui oleh para pengguna tersebut. Namun penyakit ini sangat diacuhkan oleh sebagian kalangan pemuda baik remaja dan dewasa bahkan anak-anak. Aktivitas ini dapat merusak tatanan kehidupan manusia yang disebut dengan merokok.

Merokok merupakan penyebab utama terbesar kematian yang sulit dicegah dalam masyarakat. Pada tahun 1950, setiap tahun hanya ada sekitar 300.000 kematian akibat kebiasaan merokok. Angka ini melonjak menjadi 1 juta kematian pada tahun 1965; 1,5 juta pada tahun 1975, dan menjadi 3 juta pada tahun 1990-an. Dari 3 juta kematian tersebut, 2 juta diantaranya terjadi di negara-negara maju dan sisanya (33,3%) terjadi di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Merokok merupakan masalah yang terus berkembang dan belum dapat ditemukan solusinya di Indonesia sampai saat ini. Menurut data WHO tahun 2011 sampai pada tahun 2017 Indonesia menempati posisi ke-5 dengan jumlah perokok terbanyak di dunia. Jenis rokok yang banyak digemari di Indonesia adalah rokok kretek yaitu jenis rokok tersebut dibuat dari daun tembakau dan mempunyai campuran aroma dan rasa cengkeh. Rokok kretek mempunyai kadar nikotin dan tar 2-3 kali lebih besar dari rokok putih (Latuhamina, 2011: 2) Merokok dapat mengganggu kesehatan yang disebabkan oleh nikotin yang berasal dari asap arus utama yaitu asap tembakau yang dihirup langsung oleh perokok tersebut maupun asap sampingan yaitu asap yang disebarkan ke udara bebas dan dihirup oleh orang lain. Bahaya rokok bukan saja menghantui mereka yang menjadi perokok aktif, namun merambah kepada para perokok pasif. Kemungkinan perokok pasif untuk mengalami gangguan kesehatan akibat asap rokok yang dihirup mencapai 30% (Barber, 2008 dalam Fitria dkk, 2013: 121).

Rokok merupakan salah satu penyebab kerusakan sel karena dalam rokok mengandung bahan yang dapat membentuk radikal bebas. Radikal bebas adalah produk antara yang terbentuk dalam berbagai proses reaksi kimia dalam tubuh (misalnya metabolisme sel, pernapasan, olah raga yang berlebihan) dan juga dari lingkungan yang terpolusi oleh asap rokok, asap kendaraan, bahan pencemar dan juga radiasi (Sari, 2014: 2). Berdasarkan penelitian yang dilakukan Santoso (2012: 1) menyatakan bahwa asap rokok dapat memicu terbentuknya senyawa radikal yang dapat menyebabkan terjadinya kerusakan dari membran sel dengan ditandai meningkatnya kadar MDA. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Muliartha (2010: 23) memaparkan asap rokok mengandung filter dari bahan-bahan toksik yang dapat masuk ke dalam tubuh yang merusak membran sel. Radikal bebas masuk ke dalam sel, komponen-komponen membran sel yang mengalami kerusakan diantaranya sitosekleton, organella, protein non membran, molekul ades, enzim-enzim dan DNA.

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut maka penulis tertarik mengangkat makalah ini dengan judul “Pengaruh Asap Rokok Terhadap Aktivitas Seluler dalam Tubuh”.

1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini bagaimana pengaruh asap rokok terhadap aktivitas seluler dalam tubuh? 

1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan yang hendak dicapai yaitu untuk mengetahui pengaruh asap rokok terhadap aktivitas seluler dalam tubuh.

1.4 Manfaat Penulisan
  1. Melatih diri penulis dalam mengembangkan ide, gagasan yang dituangkan dalam karya tulis ilmiah.
  2. Sebagai sumber informasi kepada pembaca mengenai pengaruh atau dampak yang dihasilkan oleh asap rokok terhadap aktivitas seluler dalam tubuh. 
  3. Sebagai bahan pembanding bagi penulis selanjutnya dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan baik dimasa sekarang maupun dimasa akan datang. 
  4. Sebagai data ilmiah bagi penulis yang akan melakukan karya tulis terkait dengan judul yang kami angkat. 

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kandungan Asap Rokok
Merokok adalah bahaya kesehatan utama yang memberi efek fisiologis dan biokimia pada komponen di dalam tubuh. Asap rokok adalah salah satu sumber radikal bebas yang dapat menyebabkan kerusakan berbagai organ tubuh seperti paru-paru, hati, dan jantung. Radikal bebas ini dapat menyebabkan perubahan struktur dan fungsi organ tubuh. Dalam asap rokok terkandung tiga zat kimia yang paling berbahaya, yaitu tar, nikotin, dan karbon monoksida. Semua zat tersebut bersifat mengganggu membran berlendir yang terdapat pada mulut dan saluran pernapasan (Nururrahmah, 2014:79).

Kandungan senyawa penyusun rokok yang dapat mempengaruhi pemakai adalah golongan alkaloid yang bersifat perangsang (stimulant). Alkaloid yang terdapat dalam daun tembakau antara lain: nikotin, nikotirin, anabasin, myosmin, dan lain-lain. Nikotin adalah senyawa yang paling banyak ditemukan dalam rokok sehingga alkaloid dianggap sebagai bagian dari nikotin (Nururrahmah, 2014: 78). Asap rokok terbagi menjadi dua fase: yaitu fase tar dan fase gas. Fase tar atau partikulat didefinisikan sebagai bahan yang terjebak saat arus asap dilewati. Melalui filter serat kaca yang mempertahankan 99,9% dari semua materi partikulat dengan ukuran ~0.1 m. Sedangkan Fase gas Adalah bahan yang melewati filter (Vani, 2015: 2).

Nikotin yang terdapat dalam asap rokok dapat masuk ke paru-paru, kemudian masuk ke dalam aliran darah dan selanjutnya dibawa ke otak. Otak manusia memiliki reseptor penerima nikotin yang disebut Nicotinic Cholinergic Receptors (nicotinic acetylcholine receptors atau nAChRs). Bentuk reseptor penerima ini seperti struktur membran sel yang akan membuka bila ada invasi dari molekul tertentu. Ikatan nikotin pada permukaan di antara dua subunit reseptor ini membuka jalur, yang memungkinkan masuknya ion sodium atau kalsium. Masuknya dua kation ini dalam sel langsung mengaktifkan tegangan saluran kalsium yang mengijinkan masuknya kalsium lebih banyak. Salah satu efek dari masuknya kalsium di dalam sel saraf adalah dilepasnya neurotransmiter (Benowitz, 2010).

Salah satu neurotransmitter yang dilepas adalah dopamin. Senyawa kimia ini bekerja menstimulasi perasaan bahagia pada seseorang dan efek yang lebih kuat sama seperti rangsangan memicu rasa lapar. Sebelum dopamin dikeluarkan, nikotin terlebih dahulu telah mengaktivasi glutamin, yakni neurotansmitter yang memfasilitasi pelepasan dopamin dan pelepasan asam γ-aminobutirik (GABA) yang menghambat aktivasi dari dopamin. Eksperimen yang pernah dilakukan pada seekor tikus menunjukkan pemberian nikotin akan memberi pengaruh terhadap pengeluaran dopamin di daerah-daerah tertentu otak, seperti area mesolimbic dan cortex frontal (Benowitz, 2010). Waktu yang dibutuhkan nikotin untuk mencapai otak sekitar sepuluh menit setelah seseorang merokok (NIH, 2011 dalam Fitria, 2013: 122). 

Kadar nikotin akan mulai menurun bila tidak ada asupan dari luar lagi selama kurang lebih tiga puluh hari. Saat nikotin masih berada dalam otak, peningkatan aktivitas pada prefrontal cortex, thalamus, dan sistem penglihatan terjadi. Neurotransmitter lain yang dapat meningkatkan kecanduan nikotin adalah hypocretin, produk dari neuropeptida dalam hipotalamus lateral yang meregulasi efek stimulasi dari nikotin dan menyebabkan permintaan nikotin secara berulang ke otak (Benowitz 2010).

Seseorang yang baru pertama kali merokok, tubuh akan bereaksi menunjukkan gejala seperti batuk dan pusing, sebagai reaksi melawan zat asing, namun gejala ini sering diabaikan. Nikotin akan meningkatkan kadar dopamin dalam otak dan bila kadar nikotin menurun di otak para perokok, maka akan muncul perasaan gelisah dan stress (Benowitz, 2010). Untuk itulah kecenderungan seseorang untuk terus menikmati rokok sangat besar. Dengan paparan nikotin yang berulang pada seorang perokok, kemampuan adaptasi otak terhadap nikotin mulai meningkat. Saat kemampuan adaptasi meningkat, jumlah unit-unit reseptor nAChR juga meningkat. Selanjutnya aktivasi VTA dan neuron-neuron di nucleus accumbens akan meningkat (Benowitz, 2010). Karena perasaan senang terjadi, manusia cenderung ingin mengulangi kejadian (merokok) itu terus menerus.

Molekul utama di dalam tubuh yang dirusak oleh radikal bebas adalah DNA, lemak dan Protein (Suryohudro, 2000). Dengan bertambahnya usia maka akumulasi kerusakan sel akibat radikal bebas semakin mengambil peranan, sehingga mengganggu metabolisme sel, juga merangsang mutasi sel, yang berakibat pada kanker bahkan kematian (Goldman dan Klatz, 2007 dalam Fitria dkk, 2013: 123).

Radikal bebas dapat bersifat positif dan negatif. Bellevil et al. (1996) melaporkan efek positif keberadaan radikal bebas antara lain, senyawa oksigen reaktif berperan dalam proses bakterisidal dan bakteriolisis normal. Seperti diketahui, senyawa oksigen reaktif juga disintesis sel fagosit melalui jalur NADP oksidasi, seperti radikal O2 dan H2O2 yang berperan sebagai pembunuh bakteri (bakterisidal). Oleh sebab itu seseorang yang kekurangan NADP oksidase akan mudah mengalami inflamasi berulang. Radikal O2 memiliki sifat vasokonstriktor pada otot halus atau dalam fibroblas. Kemudian senyawa oksigen reaktif berperan dalam sintesis DNA karena aktivitas ribonukleotida reduktase (yang mengubah ribosa menjadi dioksiribosa) sangat bergantung pada senyawa oksigen reaktif. Senyawa oksigen reaktif juga berperan dalam kapasitasi spermatozoid sehingga keberadaannya sangat berfungsi dalam fertilisasi. Secara in vitro senyawa oksigen reaktif juga bersifat mitogenik pada berbagai sel. Tentunya radikal bebas menjadi berbahaya jika jumlahnya berlebihan dan lebih banyak dari antioksidan yang berada di dalam tubuh.

Sifat negatif radikal bebas adalah dapat menyebabkan stres oksidatif. Hal ini terjadi karena ketidakseimbangan antara radikal bebas dengan antioksidan. Radikal bebas dalam jumlah berlebihan sementara jumlah antioksidan seluler lebih sedikit sehingga dapat menyebabkan kerusakan sel (Costa et al., 2005 dalam Fitria dkk, 2013: 123).

Peran radikal pada asap rokok dalam meningkatkan kerusakan sistem biologis adalah sama dengan peran radikal bebas yang dihasilkan dalam tubuh. Radikal bebas merupakan molekul yang mengandung elektron tidak berpasangan pada orbit terluarnya. Elektron tidak berpasangan ini membuatnya sangat reaktif. Oleh karena radikal bebas dapat menyerang molekul penting seperti DNA, protein dan lipid, dan oleh karena mereka juga cenderung dapat memperbanyak diri, mereka dapat menciptakan kerusakan yang signifikan. Radikal bebas dapat dibentuk dalam berbagai macam reaksi seperti misalnya fragmentasi, substitusi, oksidasi, addisi, dan reduksi.

Oleh karena sifat reaksinya yang acak (random), beberapa produk kimiawi radikal bebas benar-benar asing bagi sel untuk dapat diperbaiki atau digunakan kembali oleh sel melalui proses daur ulang. Contoh dari peristiwa ini adalah ketika 2 protein menjadi berikatan silang (cross-link), mereka dapat menjadi resisten oleh enzim proteolitik dan molekul seperti ini dapat terakumulasi secara progresif dalam sel seperti pigmen penuaan yang dapat meningkat jumlahnya ketika sel dalam tubuh organisme mengalami penuaan. Pigmen penuaan ini jika terakumulasi sampai mencapai kadar yang signifikan akan dapat mengganggu fungsi sel secara umum.

Bukti oksidasi DNA lainnya antara lain kematian sel, mutasi DNA, kesalahan replikasi, dan ketidakstabilan genomik dapat terjadi jika kerusakan DNA oksidatif tidak diperbaiki sebelum replikasi DNA. Kerusakan DNA dapat menghasilkan satu atau untai ganda kerusakan, modifikasi dasar, modifikasi deoksiribosa, dan DNA cross-linking. (Marnett, 2000; JP Cooke, 2003; Klaunig dan Kamendulis, 2004; Valko et al., 2006 dalam Fitria dkk, 2013: 124).

Contoh lain kerusakan akibat stress oksidatif adalah oksidasi basa nitrogen guanosin menjadi 8-oxoguanosine, yang tidak lagi membentuk ikatan hidrogen dengan cytosine namun membentuk ikatan hidrogen dengan adenosine, dengan demikian terjadi mutasi dalam DNA. Sama halnya dengan produksi radikal bebas, mutasi DNA hampir terjadi sepanjang waktu, dan mengingat sebagian besar mutasi adalah merugikan sebab ia merusak fungsi gen, akumulasi kerusakan akibat oksidasi seperti ini akan mengarah pada menurunnya fungsi seluler atau bahkan munculnya sel kanker (Hyde, 2009 dalam dalam Fitria dkk, 2013: 124).

Radikal bebas juga dapat mengoksidasi berbagai macam protein dalam sel dan mengganggu fungsinya, misalnya ia dapat mengoksidasi apolipoprotein dalam LDL sehingga LDL yang tertimbun dalam dinding sel akan memulai rantai proses pembentukan plak atheroma. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa asap rokok mempercepat proses atherosclerosis yang umumnya terjadi sepanjang proses penuaan. Selain radikal bebas, metabolit nikotin dapat membentuk ikatan pada basa nitrogen DNA dan menyebabkan mutasi (Hyde, 2009). Kondisi ini memperburuk proses mutasi akibat oksidasi yang sudah terjadi.

Kerusakan DNA merupakan konsekuensi tak terelakkan dari metabolisme seluler, dengan kecenderungan untuk meningkat. Metabolisme sel normal sebagai sumber endogen spesies oksigen reaktif dan inilah (non patogen) proses seluler yang menjelaskan latar belakang tingkat kerusakan DNA oksidatif terdeteksi dalam jaringan normal. Seluruh kelompok transpor elektron memiliki potensi “kebocoran” elektron ke oksigen sehingga terbentuk superoksida. Kerusakan oksidatif basa DNA terjadi karena reaksinya dengan spesies oksigen reaktif.

Spesies oksigen reaktif juga dapat dihasilkan oleh radiasi pengion atau ultraviolet. Bahan kimia eksogen tertentu dalam siklus redoks mengikuti metabolisme oleh sel, dengan produksi berikutnya elektron, yang dapat ditransfer ke molekul oksigen menghasilkan superoksida. Terlepas dari peristiwa tersebut, spesies oksigen reaktif dapat berinteraksi dengan biomolekuler seluler, seperti DNA, yang mengarah ke modifikasi dan konsekuensi yang berpotensi serius bagi sel (Christopher, 2002). Radikal oksigen dapat menyerang DNA jika terbentuk di sekitar DNA seperti pada radiasi biologis.

Banyak faktor penyebab terjadinya kanker, baik internal maupun eksternal. Faktor internal terutama keberadaan gen-gen yang berperan pada siklus sel telah menjadi pusat perhatian dalam hubungannya dengan proses terjadinya pertumbuhan tumor. Dalam hubungannya dengan pertumbuhan tumor, terdapat dua golongan gen: Pertama adalah kelompok pemicu terjadinya tumor yang lazim disebut tumor oncogenes, seperti: gen c-myc dan gen ras; Kedua adalah kelompok penekan terjadinya tumor yang lazim disebut tumor suppressor gene, seperti: gen p53 dan gen Rb. Hingga saat ini banyak peneliti sementara menyimpulkan bahwa penyebab terjadinya kanker (50%) adalah adanya mutasi pada gen-gen tersebut (Putsztai et al., 1996; Cotrans et al., 1997 dalam Fitria dkk, 2013: 125).

Kandungan kimia berbahaya pada rokok menyebabkan terjadinya mutasi gen berkali-kali. Kombinasi mutasi gen dan kerusakan DNA dapat menyebabkan ketidakstabilan genetik dan berakibat penyakit kanker. Efek negatif merokok yang paling sering dijumpai adalah kanker. Merokok menyebabkan kanker paru-paru, kanker esofagus, kanker laring, dan kanker pankreas. Menurut data dari negara Amerika, merokok merupakan faktor utama (90% pada pria dan 79% pada wanita) penyebab kanker paru pada tahun 1989. Menurut penelitian Garfinkel dan Bofetta (1990), kegiatan merokok jelas meningkatkan resiko kanker pada ginjal, hati, anus, penis, dan juga leukemia akut.

Kandungan senyawa kimia dalam asap rokok akan mengakibatkan mutasi pada deoxyribonucleic acid (DNA). pada tahun 1982, Gairola telah melakukan suatu penelitian eksperimental dan membuktikan transformasi malignansi pada sel yang disebabkan induksi oleh asap rokok. pada tahun yang sama, Departemen Kesehatan Amerika juga melaporkan penyataan yang sama. Penelitian selanjutnya oleh Hoffmann dan Hecht (1990) membuktikan bahwa inhalasi asap rokok dalam waktu yang panjang akan menginduksi pertumbuhan tumor.

Selain dari kanker, penyakit sistemik yang bersifat non-kanker terutama penyakit paru obstuktif kronis dan penyakit kardiovaskular terasosiasi dengan kebiasaan merokok. Asap rokok menginduksi sel inflamatori untuk melepaskan enzim elastase yang akan memecah elastin pada dinding alveoli. Oksidan dalam asap rokok akan menginaktivasi enzim alfa-antitripsin yang berperan untuk menginhibisi kerja enzim elastase. Hal ini menyebabkan kerusakan pada dinding alveoli yang bersifat kronik. Hubungan antara kebiasaan merokok dengan peningkatan resiko terhadap penyakit kardiovaskular aterosklerosis jelas terbukti dengan penelitian-penelitian. Studi yang dilakukan atas hubungan ini menyatakan bahwa merokok akan menyebabkan disfungsi pada vaskular endotelia, gangguan pada hemostatik dan koagulasi, serta abnormalitas pada sel-sel lipid (dalam Fitria dkk, 2013: 125).

2.2 Proses Kerusakan Sel Akibat Asap Rokok
Radikal bebas yang masuk ke dalam sel akan merusak komponen-komponen aktivitas intraseluler seperti sitoskeleton, organela, protein non membran, enzim-enzim dan DNA. Radikal bebas akan menyerang enzim terutama ATP ase yang tersusun dari asam amino yang mengandung yang tersusun dari rangkaian asam amino yang mengandung gugus sulfhidril, sehingga ATP ase menjadi inaktif, maka fungsinya sebagai pengendalian Ca2+ sitosol akan terganggu. Dengan terganggunya peran regulasi Ca2+ maka akan terjadi peningkatan Ca2+ di dalam sitosol. Radikal bebas juga menyerang membran mitokondria dan RE. Karena Ca2+ di dalam mitokondria dan RE lebih tinggi, ditambah tidak berfungsinya ATP ase dan 1, 4, 5 inositosol tri phopat ( IP3) dalam mengendalian Ca2+ di dalam mitokondria dan RE maka akan terjadi efluks Ca2+ ke dalam sitosol. Terlepasnya Ca dan RE mengakibatkan perubahan konformasi dari reseptor IP yang dapat memicu pembukaan kanal ion pada membran plasma, maka terjadilah influks Ca2+ dari ekstra seluler ke dalam sitosol yang makin meningkatkan Ca2+ sitosol (Muliartha, 2010: 6).

Mitokondria adalah situs oksidasi selular dan memberikan ATP untuk berbagai proses metabolisme dan karenanya rentan terhadap serangan radikal bebas. Kerusakan mitokondria lazim di kedua jantung dan otak. Paparan asap rokok dapat menyebabkan disfungsi mitokondria sebagai demonstrasi oleh peningkatan kadar kolesterol, lipid peroksida, dan peningkatan kolesterol/rasio fosfolipid, dalam hubungannya dengan penurunan enzim mitokondria pada tikus yang terkena rokok asap kronis dicegah dan diinduksi pada peningkatan di fungsi mitokondria otak dan neurotransmisi. Paparan asap rokok mengganggu mitokondria dan jalur aerobik. Efek BA dalam mengatur kunci produksi ATP aerobik, mungkin dengan mencegah perubahan peroxidative di mitokondria, bisa menjadi sangat penting dalam mitokondria dimediasi jalur neurotransmission (Vani dkk, 2015: 8). 

Ditingkat lebih tinggi yaitu pada karsinoma dan penyakit paru obstruktif kronik juga ada hubungan yang signifikan antara merokok dan perkembangan penyakit paru-paru seperti bronchiolitis pernafasan dan granuloma eosinofilik, meskipun mekanisme interaksinya masih belum jelas. Sel epitel alveolar diketahui memiliki fungsi yang bervariasi. Salah satunya memproduksi surfaktan protein untuk mengurangi tegangan permukaan dan melindungi konstituen paru dari stimulan eksternal; melepaskan sitokin untuk mengatur peradangan dan pertumbuhan sel; dan melepaskan protein matriks, proteinase, dan proteinase inhibitor untuk mengatur perputaran struktur alveolar sehingga kerusakan sel alveolar bisa terjadi. Meningkatkan permeabilitas dan penurunan epitel, sintesis surfaktan, akhirnya mengarah ke paru-paru yang mengakibatkan Edema dan alveoli runtuh. Terutama kerusakan struktur alveolar yang ditimbulkan yaitu produksi sitokin dan pertumbuhan yang tidak tepat. 

Asap rokok diketahui memiliki berbagai efek yang dapat merusak sel epitel alveolar. Misalnya menekan proliferasi, melemahkan keterikatan, dan penambahan detasemen sel, selain itu juga dapat menyebabkan DNA beruntai tunggal pecah dalam sel dan menekan sekresi surfaktan dan berpengaruh juga pada produksi kolagen. Dengan demikian, cedera sel epitel alveolar dapat mengakibatkan penyakit paru yang diinduksi dengan merokok. Banyak faktor nonvolatile dan fase menguap dari asap rokok diketahui misalnya karsinogenik dapat menyebabkan cedera paru. Oksidan dan aldehida, merupakan konstituen utama dalam fase volatil Asap rokok, yang dapat menyebabkan kematian sel paru-paru (Hoshino dkk, 2010: 2).

2.3 Dampak Asap Rokok bagi Kesehatan
Rokok mengandung kurang Iebih 4000 elemen-elemen, dan setidaknya 200 diantaranya dinyatakan berbahaya bagi kesehatan. Asap rokok merupakan salah satu sumber radikal bebas. Dalam satu kali hisap, perokok memasukkan kurang lebih 1016 molekul radikal bebas dan berbagai bahan kimia tar, asbestos, H202, dan lain-lain ke dalam tubuh. Selain datang dari luar tubuh, radikal bebas juga dihasilkan dari proses metabolisme di dalam tubuh kita. Radikal bebas merupakan molekul yang tidak stabil yang dapat menyebabkan kerusakan berbagai organ tubuh, seperti paru-paru, hepar, dan jantung.

Hepar merupakan salah satu organ utama tubuh kita yang amat rentan karena merupakan filter dari bahan-bahan toksik yang masuk ke dalam tubuh, selain itu hepar memiliki sistem sirkulasi ganda sehingga akumulasi bahan-bahan toksik di hepar lebih besar Pada hepar, radikal bebas dapat menyebabkan perubahan struktur dan fungsi. Mekanisme kerja yang mendasarinya adalah lipid peroksidasi yang selanjutnya menyebabkan kerusakan membran sel. Hal ini menyebabkan perubahan biokimia yang bersifat kompleks dan akhirnya dapat mangakibatkan kerusakan sel hepar. Kerusakan sel hepar yang mekanismenya didasari oleh kerusakan membran sel adalah nekrosis.

Asap rokok juga dapat menyebabkan penurunan jumlah spermatosit pakiten dan spermatid karena dalam asap rokok masih banyak zat-zat kimia yang menghambat spermatogenesis, sehingga mengakibatkan konsentrasi spermatozoa yang dihasilkan menjadi sedikit atau terjadi penurunan. Selain merusak struktur spermatozoa, radikal bebas juga dapat menyebabkan menurunnya produksi hormon LH dan FSH yang merangsang terbentuknya hormon testosteron. Hal ini mengakibatkan jumlah testosteron menurun dan akhirnya spermatogenesis pun ikut terhambat (Desty, 2014: 5). 

Paparan terhadap asap rokok memiliki relasi yang kuat dengan kerusakan DNA yang dipicu oleh cekaman oksidatif (oxidative stress) dan karsinogenesis. Merokok diketahui dapat meningkatkan level radikal bebas yang memicu perusakan DNA dan berbagai basa teroksidasi (contohnya, 8-oxoguanosine). Beberapa studi mengindikasikan peranan utama merokok dalam pertumbuhan kanker pada manusia, seperti kanker paru-paru, mulut, faring, laring, esofagus, kandung kemih, lambung, pankreas, ginjal, uterus, serviks, dan leukimia myeloid (Fitria, 2013: 120).

Asap rokok mengandung 10-14 mg nikotin, 5 mg diserap secara sistemik di paru-paru melalui inhalasi. Nikotin dengan cepat memasuki sirkulasi vena pulmonal kemudian mencapai otak dalam waktu 10-20 detik, dan mudah berdifusi jaringan otak dan mengikat reseptor asetilkolin nikotin (nAChRs). Secara akut, merokok menyebabkan efek penguat positive, termasuk euforia ringan, meningkatnya gairah, berkurangnya nafsu makan, dan berkurangnya stres, kecemasan, dan sakit. 

Nikotin dalam asap rokok basa dan mudah melintasi sawar darah otak. Ini memediasi rangsangan sistem dopamin mesolimbik. Hal ini juga terlibat dalam memodulasi neurotransmiter klasik lainnya di otak termasuk katekolamin, serotonin, GABA, dan glutamat. Ini menginduksi kecanduan karena banyak berbagi obat psikostimulan seperti kokain dan amfetamin. Dengan paparan nikotin secara berulang, toksisitas memberi jalan toleransi dan kecanduan. Toleransi disertai dengan meningkatnya asupan nikotin untuk mendapatkan efek yang sama yang awalnya mengarah ketergantungan fisik. Hal ini menyebabkan mekanisme penguatan, akhirnya mengarah ke kecanduan. Zat selain nikotin yang ada di asap rokok juga terlibat dalam mediasi yang berbahaya pada sistem saraf. Konstituen asap rokok lainnya mempengaruhi integritas struktural dan penghalang fungsional otak darah (Vani dkk, 2015:4).

BAB III
PENUTUP 
3.1 Simpulan
Simpulan yang dapat ditarik berdasarkan pembahasan di atas yaitu: 
  1. Merokok adalah bahaya kesehatan utama yang memberi efek fisiologis dan biokimia pada komponen di dalam tubuh. 
  2. Radikal bebas yang masuk ke dalam sel akan merusak komponen-komponen aktivitas intraseluler seperti sitoskeleton, organela, protein non membran, enzim-enzim dan DNA. Radikal bebas akan menyerang enzim terutama ATP ase yang tersusun dari asam amino. 
  3. Rokok mengandung kurang Iebih 4000 elemen-elemen, dan setidaknya 200 diantaranya dinyatakan berbahaya bagi kesehatan, asap rokok dapat menyebabkan kerusakan pada hepar, penurunan jumlah spermatosit pakiten, kerusakan DNA, pankreas, ginjal, uterus, serviks, sistem saraf, dan leukimia myeloid. 

3.2 Saran
Saran yang dapat kami sampaikan yaitu bahwa dampak asap rokok sangat luas dampaknya dalam kehidupan kita, pada karya tulis ini hanya membahas mengenai sebagian kecil bagaimana dampak asap rokok yang terjadi pada aktivitas sel dan menyebar sampai ke organ-organ dalam tubuh kita, karya tulis ini dapat dikembangkan lebih rinci lagi mengenai bagaimana perbandingan kerusakan sel dan DNA pada perokok aktif dan perokok pasif yang saat ini korban perokok pasif juga semakin banyak.

DAFTAR PUSTAKA
Benowitz, N. L. 2010. Nicotine Addiction. The New England Journal of Medicine, Vol 362 (24).

Desty, S.P. 2014. Effect Of Cigarette Smoke In Quality And Quantity Spermatozoa. J. Majority. Vol (3). 102-105. 

Fitria, Triandhini , Jubhar C. Mangimbulude, Ferry F. 2013. Merokok dan Oksidasi DNA. Sains Medika. Vol (5). 120-127. 

G. Vani, K. Anbarasi, and C. S. Shyamaladevi. 2015. Bacoside A: Role in Cigarette Smoking Induced Changes in Brain. Hindawi Publishing Corporation. Vol (10). 1-17.

Latumahina, J.G, Kakisina, P, Michavel, M. 2011. Peran Madu Sebagai Antioksidan dalam Mencegah Kerusakan Pankreas Mencit (Mus musculus) Terpapar Asap Rokok Kretek. Molluca Medica. ISSN. 1979-6358.

Muliartha, et al. 2010. Pemberian Kombinasi Vitamin C dan E Peroral Memperbaiki Kerusakan Hepar Akibat Paparan Rokok Kretek Sub Kronik. Jurnal Kedokteran Brawijaya. Vol. (25). 23-32. 

Nururrahmah. 2014. Pengaruh Rokok Terhadap Kesehatan dan Pembentukan Karakter Manusia. Prosiding Seminar Nasional. Vol (1). 1-8.

Seifter, J. 2015. Hidden Formaldehyde In Ecigarette Aerosol. The New England Journal Of Medicine. Vol (10) 392-394.