LAPORAN KADAR SENYAWA TIDAK BERWARNA (TETAPI MEMILIKI KROMOFOR) SECARA SPEKTROFOTOMETRI VISIBLE - ElrinAlria
LAPORAN KADAR SENYAWA TIDAK BERWARNA (TETAPI MEMILIKI KROMOFOR) SECARA SPEKTROFOTOMETRI VISIBLE
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS II 
PERCOBAAN IV
KADAR SENYAWA TIDAK BERWARNA (TETAPI MEMILIKI KROMOFOR) SECARA SPEKTROFOTOMETRI VISIBLE 


A. TUJUAN
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui cara penetapan kadar senyawa yang tidak berwarna (tetapi memiliki kromofor) secara spektrofotometri visible.

B. LANDASAN TEORI
Teknik analisis adalah peristiwa ilmiah dasar yang dibuktikan untuk mendapatkan informasi komposisi suatu unsur. Metode analisis merupakan aplikasi spesifik teknik analisis untuk memecahkan masalah analisis. Prosedur analisis adalah instruksi tertulis untuk menyelesaikan suatu metode, sedangkan deskripsi spesifik suatu metode dikenal dengan protokol analisis. Suatu metode analisis terdiri atas serangkaian langkah yang harus diikuti untuk tujuan analisis kualitatif, kuantitatif, dan informasi struktur dengan menggunakan teknik tertentu. Analisis kuantitatif adalah analisis untuk menentukan jumlah kadar absolute atau relatif dari suatu elemen atau spesies yang ada dalam sampel (Kartasasmita, 2009).

Metoda spektrofotometri uv-vis adalah salah satu metoda analisis kimia untuk menentukan unsur logam, baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif. Analisis secara kualitatif berdasarkan pada panjang gelombang yang ditunjukkan oleh puncak spektrum (190 nm s/d 900 nm), sedangkan analisis secara kuantitatif berdasarkan pada penurunan intensitas cahaya yang diserap oleh suatu media. Intensitas ini sangat tergantung pada tebal tipisnya media dan konsentrasi warna spesies yang ada pada media tersebut. Pembentukan warna dilakukan dengan cara menambahkan bahan pengompleks yang selektif terhadap unsur yang ditentukan (Fatimah, dkk., 2009).

Spektrofotometer UV-Visible adalah alat yang umum digunakan dilaboratorium kimia. Alat ini biasanya digunakan untuk analisa kimia kuantitatif, namun dapat juga digunakan untuk analisa kimia semi kualitatif. Prinsip kerja spektrofotometer UV-Vis didasarkan pada fenomena penyerapan sinar oleh spesi kimia tertentu didaerah ultra lembayung ( ultra violet ) dan sinar tampak ( visible). Meskipun tidak sepeka analisa dengan menggunakan teknologi nuklir, analisa dengan spektrofotometri sinar tampak ( colourimetry ) memiliki kepekaan yang cukup tinggi dan relatif mudah dilakukan. Analisa dengan cara ini digunakan secara meluas untuk menganalisa sampel dalam berbagai spesi, baik ion maupun senyawaan ( Huda,2001 ).

Larutan senyawa berwarna mampu menyerap sinar tampak yang melalui larutan tersebut. Jumlah intensitas sinar yang diserap tergantung pada macam yang ada di dalam larutan, konsentrasi panjang jalan dan intensitas sinar yang diserap dinyatakan dalam Hukum Lambert yang sudah dijelaskan di atas. Warna zat yang menyerap menentukan panjang gelombang sinar yang akan diserap, warna yang diserap merupakan warna komplemen dari warna yang terlihat oleh mata ( Khopkar, 1990 ). 

Identifikasi kualitatif dari suatu senyawa serapan kromofor adalah berupaspectra yang ditunjukkan dari panjang gelombang versus absorbansi. Setiap kromofor akan memberikan suatu titik spesifik yang disebut dengan panjang gelombang maksimum .Selanjutnya, untuk analisis sampel murni, identifikasi pada panjang gelombang maksimum dapat digunakan untuk analisis kuantitatif, karenaabsorbansi sampel akan berbanding lurus dengan konsentrasi sampel,sesuai dengan hukum Lambert-Beer. A= Ɛ b.c ; dengan A adalah absorbansi,b adalah tebal sampel dan c adalah konsentrasi sampel ( Fatimah,2003 ).

Spektrometer menghasilkan sinar dari spectrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau diabsorbsi. Kelebihan spektrometer dibandingkan fotometer adalah panjang gelombang dari sinar putih dapat lebih terseleksi dan ini diperoleh dengan alat pengurai seperti prisma, grating, atau celah optis. Pada fotometer filter dari berbagai warna yang mempunyai spesifikasi melewatkan trayek panjang gelombang tertentu. Pada fotometer filter tidak mungkin diperoleh panjang gelombang yang benar-benar monokromatis, melainkan suatu trayek panjang gelombang 30-40 nm. Sedangkan pada spektrofotometer, panjang gelombang yang benar-benar terseleksi dapatdiperoleh dengan bantuan alat pengurai cahaya seperti prisma. Suatu spektrofotometer tersusun dari sumber spektrum tampak yang kontinyu, monokromator, sel pengabsorbsi untuk larutan sampel atau blanko dan suatu alat untuk mengukur perbedaan absorbsi antara sampel dan blanko ataupun pembanding (Khopkar, 2002).

Secara eksperimental,sangat mudah untuk mengukur banyaknya radiasi yang diserap oleh suatu molekul sebagai fungsi frekuensi radiasi. Suatu grafik yang menghubungkan antara banyaknya sinar yang diserap dengan frekuensi ( atau panjang gelombang ) sinar merupakan spektrum absorbsi. Transisi yang dibolehkan untuk suatu mlekul dengan stuktur kimia yang berbeda adalah tidak sama sehingga spectra absorbsinya juga berbeda. Dengan demikian spectra dapat digunakan sebagai bahan informasi yang bermanfaat untuk analisis kualitatif. Banyaknya sinar yang diabsorbsi pada panjang gelombang tertentu sebanding dengan banyaknya molekul yang menyerap radiasi, sehingga spectra absorbs juga dapat digunakan untuk analisis kuantitatif ( Sudjadi,2007 ).

C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat 
Alat yang digunakan pada percobaan ini, yaitu:
  • Batang pengaduk
  • Erlenmeyer 250 ml
  • Filler 
  • Gelas ukur 10 ml
  • Kuvet
  • Labu takar 50 ml
  • Labu takar 50 ml
  • Pipet tetes
  • Spektrofotometer UV-Vis

2. Bahan 
Bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu :
  • Alkohol 70%
  • Sulfadiazine murni
  • Sulfadiazine sampel

D. URAIAN BAHAN
1. Alkohol (Dirjen POM, 1979: hal. 65 )
Nama Resmi : AETHANOLUM
Nama Lain : Etanol, alkohol
Rumus Kimia : C2H2O
Pemerian : Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap dan mudah bergerak, bau khas, rasa panas, mudah terbakar dengan memberikan nyala biru yang tidak berasap.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform p dan dalam eter p
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat terlindung dari cahaya
K/p : Zat tambahan

2. Sulfadiazine (Dirjen POM, 1995: hal.)
Nama kimia : N-2-piridinil sulfanilamide
Nama lazim : Sulfadiazinum/sulfadiazine
Rumus kimia : C10H10N4O2S
BM : 250,27
Pamerian :Putih, putih kekuningan atau putih agak merah jambu; hampir tidak berbau; tidak berasa.
Kelarutan :Praktis tidak larut dalam air; agak sukar larut dalam etanol (95%) P dan dalam aseton P; mudah larut dalam asam mineral encer dan dalam larutan alkali hidroksida.
Kegunaaan : Antibakteri
Dosis maksimum : Sekali 2 g, sehari 8 g.

3. Akuades (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : AQUA DESTILLATA
Nama lain : Air suling
BM : 18,02
Rumus molekul : H2O
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwrna, tidak berasa, dan tidak berbau
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
K/P : Zat tambahan/pelarut

E. CARA KERJA
1. Pembuatan Larutan induk sulfadiazine sampel
LAPORAN KADAR SENYAWA TIDAK BERWARNA (TETAPI MEMILIKI KROMOFOR) SECARA SPEKTROFOTOMETRI VISIBLE

G. PEMBAHASAN
Salah satu analisis untuk menentukan kadar suatu senyawa pada suatu sampel adalah dengan cara spektrofotometri. Spektrofotometri merupakan metode analisis yang didasarkan pada besarnya nilai absorbsi suatu zat terhadap radiasi sinar elektromagnetik. Prinsip kerja spektrofotometri adalah dengan menggunakan spektrofotometer yang pada umumnya terdiri dari unsur-unsur seperti sumber cahaya, monokromator, sel, fotosel, dan detektor. Sumber radiasi spektrofotometer dapat digunakan lampu deuterium untuk radiasi di daerah sinar ultraviolet sampai 350 nm, atau lampu filamen untuk sinar tampak sampai inframerah. Sinar yang dikeluarkan sumber radiasi merupakan sinar polikromatis, sehingga harus dibuat menjadi sinar monokromatis oleh monokromator. Radiasi yang melewati monokromator diteruskan ke zat yang akan diukur dan sebagian radiasinya akan diserap oleh zat tersebut. Zat yang akan diukur nilai absorbannya diletakkan pada sel dengan wadah kuvet. Sinar yang diteruskan akan mencapai fotosel dan energi sinar diubah menjadi energi listrik.

Spektrofotometer yang dipakai dalam praktikum ini adalah spektrofotometri UV. Spektrofotometri UV merupakan suatu metoda analisa yang didasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombamg spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dengan detektor fototube. Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitan atau absorban suatu sampel sebagai fungsi panjang gelombang. Alat ini digunakan guna mengukur serapan sinar ultraviolet atau sinar tampak oleh suatu materi dalam bentuk larutan. Konsentrasi larutan yang dianalisis sebanding dengan jumlah sinar yang diserap oleh zat yang terdapat dalam larutan tersebut. Dalam hal ini. Hukum Lambert-Beer dapat menyatakan hubungan antara serapan cahaya dengan konsentrasi zat dalam larutan. Spektorofotometri ini mengukur dan membaca melalui gugus kromofor. Spektrum absorpsi yang diperoleh dari hasil analisis dapat memberikan informasi panjang gelombang dengan absorban maksimum dari senyawa atau unsur. Panjang gelombang dan absorban yang dihasilkan selama proses analisis digunakan untuk membuat kurva standar. Konsentrasi suatu senyawa atau unsure dapat dihitung dari kurva standar yang diukur pada panjang gelombang dengan absorban maksimum. 

Pada praktikum ini, senyawa yang digunakan memiliki kromofor. Analisis dalam percobaan ini menggunakan obat trisulfa untuk menentukan kadar sulfadiazine dalam obat tersebut. Kromofor adalah suatu gugus fungsi, tidak terhubung dengan gugus lain, yang menampakkan spektrum absorpsi karakteristik pada daerah sinar UV-sinar tampak. Gugus kromofor pada sulfadiazine yaitu gugus benzene yang merupakan kromofor tunggal. 

Tidak adanya warna dari larutan sulfadiazin meskipun senyawa tersebut memiliki kromofor dalam dua cincin benzennya dikarenakan oleh cahaya yang tidak diserap kromofornya (cahaya kompartemen, diterima oleh mata) memiliki panjang gelombang dalam rentang daerah sinar UV dalam spektrum gelombang. Daerah UV berada di- luar spektrum cahaya tampak dengan panjang gelombang lebih kecil (200-400 nm) sehingga tidak dapat terdeteksi oleh mata manusia. Bagian molekul yang mengabsorpsi dalam daerah UV dan daerah sinar tampak dinyatakan sebagai kromofor, yakni suatu gugus fungsi, tidak terhubung dengan gugus lain, yang menampakkan spektrum absorpsi karakteristik pada daerah sinar UV-sinar tampak (l>200 nm). Adapun larutan baku yang digunakan dalam percobaan ini adalah sulfadiazin. 

Sulfadiazin merupakan antibiotik yang bisa digunakan sebagai obat karena spektrumnya cukup luas dan juga reaksi alergi pada pasien jarang ditemukan. Sulfadiazin menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur termasuk spesies yang telah resisten terhadap sulfonamide dan juga untuk mengurang jumlah koloni mikroba dan mencegah infeksi luka bakar akan tetapi tidak dianjurkan untuk pengobatan luka yang besar dan dalam. 

Cara kerja spektrofotometer dimulai dengan dihasilkannya cahaya monokromatik dari sumber sinar. Cahaya tersebut kemudian menuju ke kuvet (tempat sampel/sel). Banyaknya cahaya yang diteruskan maupun yang diserap oleh larutan akan dibaca oleh detektor yang kemudian menyampaikan ke layar pembaca.

Hukum Lambert-beer yakni intensitas cahaya yang diabsorpsi oleh medium berbanding eksponensial dengan konsentrasi larutan. Adapun penyimpangan dari hukum Lambert-beer antara lain : Larutan pekat, pada konsentrasi larutan yang terlalu pekat, Absorbansi yang terbaca terlalu tinggi, sehingga grafik tidak linear. Jadi, agar tidak terjadi hal tersebut sebaiknya larutan yang diukur harus encer. Kedua faktor instrumentasi, yakni sinar yang diserap tidak monokromatis sehingga menyebabkan 2 panjang gelombang maksimum. Ketiga Faktor kimia karena terjadinya reaksi disosiasi, asosiasi, polimerisasi, solvolisis. Jika terjadi reaksi maka konsentrasi zat yang akan diukur berkurang  Spektofotometri UV (ultraviolet) berbeda dengan spektrofotometri visible. Pada spektrofotometri UV berdasarkan interaksi sampel dengan sinar UV. Sinar UV memiliki panjang gelombang 190-380 nm. Sinar UV tudak dapat dideteksi dengan mata kita, sehingga senyawa yang dapat menyerap sinar ini terkadang merupakan senyawa yang tidak memiliki warna, bening dan transparan. Oleh karena itu, sampel tidak berwarna tidak perlu dibuat berwarna dengan penambahan reagen tertentu. Bahkan sample dapat langsung dianalisa meskipun tanpa preparasi. Prinsip dasar pada spektrofotometri adalah sampel harus jernih dan larut sempurna, tidak ada partikel koloid (suspensi). 
H. PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
Dirjen POM, 1979, Farmakope Indonesia, edisi III, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.

Dirjen POM, 1995, Farmakope Indonesia, edisi IV, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.

Fatimah, I., 2003, ‘Analisis Fenol Dalam Sampel Air Menggunakan Spektrofotometri Derivatif’. Logika, Vol. 9, No. 10 .ISSN: 1410-2315. Jakarta. 

Fatimah, S., Haryati, I., dan Jamaluddin, A. 2009. ‘Pengaruh Uranium Terhadap Analisis Thorium Menggunakan Spektrofotomer UV-Vis’. Jurnal. ISSN: 1978-0176. Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir: Yogyakarta.

Harjadi, W. 1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar. PT Gramedia: Jakarta.

Kartasasmita, E., Tuslinah, L., dan Fawaz, M. 2009. ’Penentuan Kadar Besi(II) dalam Sediaan Tablet Besi(II) Sulfat Menggunakan Metode Ortofenantrolin’. Jurnal Kesehatan BTH. Jurusan Farmasi STIKES Institut Teknologi Bandung.

Khopkar, S.M., 1990, Konsep Dasar Kimia Analitik, Universitas Indonesia Press : Jakarta. 

Khopkar, S.M., 2003, Konsep Dasar Kimia Analitik, UI Press: Jakarta.

Sudjadi, Prof, Dr, 2007, Kimia Farmasi Analisis, Yogya : Pustaka Belajar.

LAPORAN KADAR SENYAWA TIDAK BERWARNA (TETAPI MEMILIKI KROMOFOR) SECARA SPEKTROFOTOMETRI VISIBLE

LAPORAN KADAR SENYAWA TIDAK BERWARNA (TETAPI MEMILIKI KROMOFOR) SECARA SPEKTROFOTOMETRI VISIBLE
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS II 
PERCOBAAN IV
KADAR SENYAWA TIDAK BERWARNA (TETAPI MEMILIKI KROMOFOR) SECARA SPEKTROFOTOMETRI VISIBLE 


A. TUJUAN
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui cara penetapan kadar senyawa yang tidak berwarna (tetapi memiliki kromofor) secara spektrofotometri visible.

B. LANDASAN TEORI
Teknik analisis adalah peristiwa ilmiah dasar yang dibuktikan untuk mendapatkan informasi komposisi suatu unsur. Metode analisis merupakan aplikasi spesifik teknik analisis untuk memecahkan masalah analisis. Prosedur analisis adalah instruksi tertulis untuk menyelesaikan suatu metode, sedangkan deskripsi spesifik suatu metode dikenal dengan protokol analisis. Suatu metode analisis terdiri atas serangkaian langkah yang harus diikuti untuk tujuan analisis kualitatif, kuantitatif, dan informasi struktur dengan menggunakan teknik tertentu. Analisis kuantitatif adalah analisis untuk menentukan jumlah kadar absolute atau relatif dari suatu elemen atau spesies yang ada dalam sampel (Kartasasmita, 2009).

Metoda spektrofotometri uv-vis adalah salah satu metoda analisis kimia untuk menentukan unsur logam, baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif. Analisis secara kualitatif berdasarkan pada panjang gelombang yang ditunjukkan oleh puncak spektrum (190 nm s/d 900 nm), sedangkan analisis secara kuantitatif berdasarkan pada penurunan intensitas cahaya yang diserap oleh suatu media. Intensitas ini sangat tergantung pada tebal tipisnya media dan konsentrasi warna spesies yang ada pada media tersebut. Pembentukan warna dilakukan dengan cara menambahkan bahan pengompleks yang selektif terhadap unsur yang ditentukan (Fatimah, dkk., 2009).

Spektrofotometer UV-Visible adalah alat yang umum digunakan dilaboratorium kimia. Alat ini biasanya digunakan untuk analisa kimia kuantitatif, namun dapat juga digunakan untuk analisa kimia semi kualitatif. Prinsip kerja spektrofotometer UV-Vis didasarkan pada fenomena penyerapan sinar oleh spesi kimia tertentu didaerah ultra lembayung ( ultra violet ) dan sinar tampak ( visible). Meskipun tidak sepeka analisa dengan menggunakan teknologi nuklir, analisa dengan spektrofotometri sinar tampak ( colourimetry ) memiliki kepekaan yang cukup tinggi dan relatif mudah dilakukan. Analisa dengan cara ini digunakan secara meluas untuk menganalisa sampel dalam berbagai spesi, baik ion maupun senyawaan ( Huda,2001 ).

Larutan senyawa berwarna mampu menyerap sinar tampak yang melalui larutan tersebut. Jumlah intensitas sinar yang diserap tergantung pada macam yang ada di dalam larutan, konsentrasi panjang jalan dan intensitas sinar yang diserap dinyatakan dalam Hukum Lambert yang sudah dijelaskan di atas. Warna zat yang menyerap menentukan panjang gelombang sinar yang akan diserap, warna yang diserap merupakan warna komplemen dari warna yang terlihat oleh mata ( Khopkar, 1990 ). 

Identifikasi kualitatif dari suatu senyawa serapan kromofor adalah berupaspectra yang ditunjukkan dari panjang gelombang versus absorbansi. Setiap kromofor akan memberikan suatu titik spesifik yang disebut dengan panjang gelombang maksimum .Selanjutnya, untuk analisis sampel murni, identifikasi pada panjang gelombang maksimum dapat digunakan untuk analisis kuantitatif, karenaabsorbansi sampel akan berbanding lurus dengan konsentrasi sampel,sesuai dengan hukum Lambert-Beer. A= Ɛ b.c ; dengan A adalah absorbansi,b adalah tebal sampel dan c adalah konsentrasi sampel ( Fatimah,2003 ).

Spektrometer menghasilkan sinar dari spectrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau diabsorbsi. Kelebihan spektrometer dibandingkan fotometer adalah panjang gelombang dari sinar putih dapat lebih terseleksi dan ini diperoleh dengan alat pengurai seperti prisma, grating, atau celah optis. Pada fotometer filter dari berbagai warna yang mempunyai spesifikasi melewatkan trayek panjang gelombang tertentu. Pada fotometer filter tidak mungkin diperoleh panjang gelombang yang benar-benar monokromatis, melainkan suatu trayek panjang gelombang 30-40 nm. Sedangkan pada spektrofotometer, panjang gelombang yang benar-benar terseleksi dapatdiperoleh dengan bantuan alat pengurai cahaya seperti prisma. Suatu spektrofotometer tersusun dari sumber spektrum tampak yang kontinyu, monokromator, sel pengabsorbsi untuk larutan sampel atau blanko dan suatu alat untuk mengukur perbedaan absorbsi antara sampel dan blanko ataupun pembanding (Khopkar, 2002).

Secara eksperimental,sangat mudah untuk mengukur banyaknya radiasi yang diserap oleh suatu molekul sebagai fungsi frekuensi radiasi. Suatu grafik yang menghubungkan antara banyaknya sinar yang diserap dengan frekuensi ( atau panjang gelombang ) sinar merupakan spektrum absorbsi. Transisi yang dibolehkan untuk suatu mlekul dengan stuktur kimia yang berbeda adalah tidak sama sehingga spectra absorbsinya juga berbeda. Dengan demikian spectra dapat digunakan sebagai bahan informasi yang bermanfaat untuk analisis kualitatif. Banyaknya sinar yang diabsorbsi pada panjang gelombang tertentu sebanding dengan banyaknya molekul yang menyerap radiasi, sehingga spectra absorbs juga dapat digunakan untuk analisis kuantitatif ( Sudjadi,2007 ).

C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat 
Alat yang digunakan pada percobaan ini, yaitu:
  • Batang pengaduk
  • Erlenmeyer 250 ml
  • Filler 
  • Gelas ukur 10 ml
  • Kuvet
  • Labu takar 50 ml
  • Labu takar 50 ml
  • Pipet tetes
  • Spektrofotometer UV-Vis

2. Bahan 
Bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu :
  • Alkohol 70%
  • Sulfadiazine murni
  • Sulfadiazine sampel

D. URAIAN BAHAN
1. Alkohol (Dirjen POM, 1979: hal. 65 )
Nama Resmi : AETHANOLUM
Nama Lain : Etanol, alkohol
Rumus Kimia : C2H2O
Pemerian : Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap dan mudah bergerak, bau khas, rasa panas, mudah terbakar dengan memberikan nyala biru yang tidak berasap.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform p dan dalam eter p
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat terlindung dari cahaya
K/p : Zat tambahan

2. Sulfadiazine (Dirjen POM, 1995: hal.)
Nama kimia : N-2-piridinil sulfanilamide
Nama lazim : Sulfadiazinum/sulfadiazine
Rumus kimia : C10H10N4O2S
BM : 250,27
Pamerian :Putih, putih kekuningan atau putih agak merah jambu; hampir tidak berbau; tidak berasa.
Kelarutan :Praktis tidak larut dalam air; agak sukar larut dalam etanol (95%) P dan dalam aseton P; mudah larut dalam asam mineral encer dan dalam larutan alkali hidroksida.
Kegunaaan : Antibakteri
Dosis maksimum : Sekali 2 g, sehari 8 g.

3. Akuades (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : AQUA DESTILLATA
Nama lain : Air suling
BM : 18,02
Rumus molekul : H2O
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwrna, tidak berasa, dan tidak berbau
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
K/P : Zat tambahan/pelarut

E. CARA KERJA
1. Pembuatan Larutan induk sulfadiazine sampel
LAPORAN KADAR SENYAWA TIDAK BERWARNA (TETAPI MEMILIKI KROMOFOR) SECARA SPEKTROFOTOMETRI VISIBLE

G. PEMBAHASAN
Salah satu analisis untuk menentukan kadar suatu senyawa pada suatu sampel adalah dengan cara spektrofotometri. Spektrofotometri merupakan metode analisis yang didasarkan pada besarnya nilai absorbsi suatu zat terhadap radiasi sinar elektromagnetik. Prinsip kerja spektrofotometri adalah dengan menggunakan spektrofotometer yang pada umumnya terdiri dari unsur-unsur seperti sumber cahaya, monokromator, sel, fotosel, dan detektor. Sumber radiasi spektrofotometer dapat digunakan lampu deuterium untuk radiasi di daerah sinar ultraviolet sampai 350 nm, atau lampu filamen untuk sinar tampak sampai inframerah. Sinar yang dikeluarkan sumber radiasi merupakan sinar polikromatis, sehingga harus dibuat menjadi sinar monokromatis oleh monokromator. Radiasi yang melewati monokromator diteruskan ke zat yang akan diukur dan sebagian radiasinya akan diserap oleh zat tersebut. Zat yang akan diukur nilai absorbannya diletakkan pada sel dengan wadah kuvet. Sinar yang diteruskan akan mencapai fotosel dan energi sinar diubah menjadi energi listrik.

Spektrofotometer yang dipakai dalam praktikum ini adalah spektrofotometri UV. Spektrofotometri UV merupakan suatu metoda analisa yang didasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombamg spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dengan detektor fototube. Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitan atau absorban suatu sampel sebagai fungsi panjang gelombang. Alat ini digunakan guna mengukur serapan sinar ultraviolet atau sinar tampak oleh suatu materi dalam bentuk larutan. Konsentrasi larutan yang dianalisis sebanding dengan jumlah sinar yang diserap oleh zat yang terdapat dalam larutan tersebut. Dalam hal ini. Hukum Lambert-Beer dapat menyatakan hubungan antara serapan cahaya dengan konsentrasi zat dalam larutan. Spektorofotometri ini mengukur dan membaca melalui gugus kromofor. Spektrum absorpsi yang diperoleh dari hasil analisis dapat memberikan informasi panjang gelombang dengan absorban maksimum dari senyawa atau unsur. Panjang gelombang dan absorban yang dihasilkan selama proses analisis digunakan untuk membuat kurva standar. Konsentrasi suatu senyawa atau unsure dapat dihitung dari kurva standar yang diukur pada panjang gelombang dengan absorban maksimum. 

Pada praktikum ini, senyawa yang digunakan memiliki kromofor. Analisis dalam percobaan ini menggunakan obat trisulfa untuk menentukan kadar sulfadiazine dalam obat tersebut. Kromofor adalah suatu gugus fungsi, tidak terhubung dengan gugus lain, yang menampakkan spektrum absorpsi karakteristik pada daerah sinar UV-sinar tampak. Gugus kromofor pada sulfadiazine yaitu gugus benzene yang merupakan kromofor tunggal. 

Tidak adanya warna dari larutan sulfadiazin meskipun senyawa tersebut memiliki kromofor dalam dua cincin benzennya dikarenakan oleh cahaya yang tidak diserap kromofornya (cahaya kompartemen, diterima oleh mata) memiliki panjang gelombang dalam rentang daerah sinar UV dalam spektrum gelombang. Daerah UV berada di- luar spektrum cahaya tampak dengan panjang gelombang lebih kecil (200-400 nm) sehingga tidak dapat terdeteksi oleh mata manusia. Bagian molekul yang mengabsorpsi dalam daerah UV dan daerah sinar tampak dinyatakan sebagai kromofor, yakni suatu gugus fungsi, tidak terhubung dengan gugus lain, yang menampakkan spektrum absorpsi karakteristik pada daerah sinar UV-sinar tampak (l>200 nm). Adapun larutan baku yang digunakan dalam percobaan ini adalah sulfadiazin. 

Sulfadiazin merupakan antibiotik yang bisa digunakan sebagai obat karena spektrumnya cukup luas dan juga reaksi alergi pada pasien jarang ditemukan. Sulfadiazin menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur termasuk spesies yang telah resisten terhadap sulfonamide dan juga untuk mengurang jumlah koloni mikroba dan mencegah infeksi luka bakar akan tetapi tidak dianjurkan untuk pengobatan luka yang besar dan dalam. 

Cara kerja spektrofotometer dimulai dengan dihasilkannya cahaya monokromatik dari sumber sinar. Cahaya tersebut kemudian menuju ke kuvet (tempat sampel/sel). Banyaknya cahaya yang diteruskan maupun yang diserap oleh larutan akan dibaca oleh detektor yang kemudian menyampaikan ke layar pembaca.

Hukum Lambert-beer yakni intensitas cahaya yang diabsorpsi oleh medium berbanding eksponensial dengan konsentrasi larutan. Adapun penyimpangan dari hukum Lambert-beer antara lain : Larutan pekat, pada konsentrasi larutan yang terlalu pekat, Absorbansi yang terbaca terlalu tinggi, sehingga grafik tidak linear. Jadi, agar tidak terjadi hal tersebut sebaiknya larutan yang diukur harus encer. Kedua faktor instrumentasi, yakni sinar yang diserap tidak monokromatis sehingga menyebabkan 2 panjang gelombang maksimum. Ketiga Faktor kimia karena terjadinya reaksi disosiasi, asosiasi, polimerisasi, solvolisis. Jika terjadi reaksi maka konsentrasi zat yang akan diukur berkurang  Spektofotometri UV (ultraviolet) berbeda dengan spektrofotometri visible. Pada spektrofotometri UV berdasarkan interaksi sampel dengan sinar UV. Sinar UV memiliki panjang gelombang 190-380 nm. Sinar UV tudak dapat dideteksi dengan mata kita, sehingga senyawa yang dapat menyerap sinar ini terkadang merupakan senyawa yang tidak memiliki warna, bening dan transparan. Oleh karena itu, sampel tidak berwarna tidak perlu dibuat berwarna dengan penambahan reagen tertentu. Bahkan sample dapat langsung dianalisa meskipun tanpa preparasi. Prinsip dasar pada spektrofotometri adalah sampel harus jernih dan larut sempurna, tidak ada partikel koloid (suspensi). 
H. PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
Dirjen POM, 1979, Farmakope Indonesia, edisi III, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.

Dirjen POM, 1995, Farmakope Indonesia, edisi IV, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.

Fatimah, I., 2003, ‘Analisis Fenol Dalam Sampel Air Menggunakan Spektrofotometri Derivatif’. Logika, Vol. 9, No. 10 .ISSN: 1410-2315. Jakarta. 

Fatimah, S., Haryati, I., dan Jamaluddin, A. 2009. ‘Pengaruh Uranium Terhadap Analisis Thorium Menggunakan Spektrofotomer UV-Vis’. Jurnal. ISSN: 1978-0176. Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir: Yogyakarta.

Harjadi, W. 1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar. PT Gramedia: Jakarta.

Kartasasmita, E., Tuslinah, L., dan Fawaz, M. 2009. ’Penentuan Kadar Besi(II) dalam Sediaan Tablet Besi(II) Sulfat Menggunakan Metode Ortofenantrolin’. Jurnal Kesehatan BTH. Jurusan Farmasi STIKES Institut Teknologi Bandung.

Khopkar, S.M., 1990, Konsep Dasar Kimia Analitik, Universitas Indonesia Press : Jakarta. 

Khopkar, S.M., 2003, Konsep Dasar Kimia Analitik, UI Press: Jakarta.

Sudjadi, Prof, Dr, 2007, Kimia Farmasi Analisis, Yogya : Pustaka Belajar.