LAPORAN METODE UJI TAPIS (SCREENING TEST) RESIDU ANTIBIOTIKA PADA DAGING DAN TELUR SECARA BIOASSAY - ElrinAlria
LAPORAN METODE UJI TAPIS (SCREENING TEST) RESIDU ANTIBIOTIKA PADA DAGING DAN TELUR SECARA BIOASSAY

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Produk ternak merupakan sumber gizi utama untuk pertumbuhan dan kehidupan manusia. Namun, produk ternak akan menjadi tidak berguna dan membahayakan kesehatan apabila tidak aman. Oleh karena itu, keamanan pangan asal ternak bagi manusia merupakan persyaratan mutlak yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Di Indonesia, data keberadaan berbagai residu obat hewan, terutama golongan antibiotik, sulfa, pestisida, mikotoksin, dan hormon pada susu, daging, dan telur telah banyak dilaporkan.

Antibiotik adalah substansi yang dihasilkan oleh suatu mikroorganisme yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme lain dalam konsentrasi yang sangat rendah. Sinaga (2004) mengungkapkan, penambahan obat-obatan antibakteri (antibiotik) ke dalam ransum pakan ternak bertujuan untuk meningkatkan laju pertumbuhan berat badan atau memperbaiki laju efisiensi pakan. Penggunaan obat-obatan tersebut meningkat tajam. Khususnya pada sapi potong dan ayam pedaging untuk mempercepat laju pertumbuhan bobot badan.

Penggunaan antibiotik harus sesuai dengan aturan karena bila menyalahi aturan, akan menimbulkan residu pada produk ternak. Residu antibiotik dapat menimbulkan alergi, keracunan, gagalnya pengobatan akibat resistensi, dan gangguan jumlah mikroflora dalam saluran pencernaan.

Pemeriksaan residu secara kualitatif pada 6 provinsi di Indonesia menunjukkan 4,1% sampel paha ayam dan 2,7% sampel hati dinyatakan positif golongan tetrasiklin. Sampel daging ayam yang berasal dari Kabupaten Bogor terdeteksi positif mengandung residu antibiotika golongan aminoglikosida dan tetrasiklin. Kontaminasi residu juga sering terjadi di luar negeri diantaranya hasil survei di Nigeria ditemukan residu obat hewan dalam jaringan ayam yaitu 59 dari 178 broiler (33,1%) dan oksitetrasiklin merupakan obat yang paling banyak digunakan. Studi di Kroasia, rata-rata kadar streptomycin dalam daging 44,14 µg/kg dan dalam susu 15,57 µg/kg, kadar tetrasiklin dalam daging 1,62 µg/kg dan dalam susu 1,5 µg/kg. Oleh karena itu, percobaan uji residu antibiotik perlu dilakukan untuk mengetahui adanya residu antibiotik yang terdapat pada produk ternak.

B. RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah yang terdapat dalam praktikum ini yaitu bagaimana cara mengetahui kadar residu antibiotika yang terdapat pada sampel daging ayam, daging kambing, daging sapi, telur ayam ras, telua ayam kampong, dan telur bebek?

C. TUJUAN PRAKTIKUM
Tujuan praktikum ini yaitu untuk mengetahui kadar residu antibiotika yang terdapat pada sampel daging ayam, daging kambing, daging sapi, telur ayam ras, telua ayam kampong, dan telur bebek

D. MANFAAT PRAKTIKUM
Kita dapat mengetahui kadar residu antibiotika yang terdapat pada sampel daging ayam, daging kambing, daging sapi, telur ayam ras, telua ayam kampong, dan telur bebek  

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Bahan pangan merupakan kebutuhan pokok manusia untuk hidup, di samping pangan nabati manusia juga memerlukan pangan hewani sebagai sumber protein, seperti daging, susu, telur, ikan. Telur m.erupakan salah satu produk hewani yang digunakan sebagai sum.ber protein, lemak dan vitamin yang dibutuhkan· untuk pertumbuhan. Te1ur mengandung stru.ktur yang mengandung zat gizi, telur terdiri dari kulit telur, putih telur, dan lkuning telur (Rahmah dkk., 2010).

Antibiotik telah secara luas digunakan dalam bidang peternakan termasuk peternakan ayam, baik dengan dosis terapeutik untuk tujuan pengobatan penyakit maupun dengan dosis sub-terapeutik untuk memacu pertumbuhan dan efisiensi penggunaan pakan, yang akhirnya dapat meningkatkan produktivitas ternak.(Hintono dkk., 2007).

Pengobatan dengan antibiotik pada temak diharapkan dapat mengurangi resiko kematian, menghambat penyebaran penyakit ke temak lainnya ataupun ke manusia. Pemberian antibiotik diharapkan terjadinya penyembuhan yang cepat, sehingga temak dapat segera kembali berproduksi secara optimal, akibatnya kerugian ekonomi yang lebih besar dapat dihindari. Pemberian antibiotik dalam imbuhan juga diharapkan akan mengurangi biaya produksi, sehingga diharapkan dapat meningkatkan keuntungan. Antibiotik yang sering digunakan pada temak antara lain golongan Penisilin (Penisilin G, Kalium Penisilin G), golongan tetrasildin (tetrasiklin, Klortetrasiklin), golongan Aminoglikosida (Gentamisin Sulfat, Noomisin) dan golongan Makrolida (Ecitromisina), Kloramfenikol. Apabila antibiotik ini digunakan me1ebihi hatas akan menyebabkan residu antibiotik.(Widiastuti dkk., 2010).

Residu dapat ditemukan akibat penggunaan obat-obatan, termasuk antibiotika, Pemberian feed additive ataupun hormon pemacu pertumbuhan hewan. Senyawa obat yang masuk kedalam tubuh ternak tidak dapat seluruhnya diekskresi dari jaringan dan akan tertahan dalam jaringan tubuh sebagai residu. Hasil pengamatan Palupi dan Unang (2009) menunjukkan bahwa pemakaian obat dengan dosis berlebihan, pemberian dalam jangka waktu lama dan waktu henti obat yang tidak tepat menyebabkan adanya residu obat dalam karkas maupun organ visera (Marlina dkk., 2013).

Konsumsi pangan asal hewan seperti daging ayam yang mengandung residu antibiotika akan menimbulkan gangguan kesehatan. Bahaya residu obat hewan dapat berupa bahaya langsung dalam jangka pendek seperti alergi, gangguan pencernaan, gangguan kulit, anafilaksis dan hipersensitifitas, serta bahaya tidak langsung yang bersifat jangka panjang seperti resistensi mikrobiologi, karsinogenik, mutagenik, teratogenik dan gangguan reproduksi (Marlina dkk., 2013).

Kanamycin merupakan antibiotik yang termasuk dalam golongan aminoglikosida yang bekerja menghambat proses sintesis protein mikroorganisme, dan termasuk golongan antibiotika berspektrum luas, sehingga dapat berinteraksi dengan bakteri Gram negatif maupun Gram positif. Kanamycin ditemukan pertama kali di Jepang pada tahun 1957 oleh Umezawa dkk, diperoleh dari filtrat kultur Streptomyces kanamyceticus. Kanamycin digunakan untuk pengobatan infeksi jika penisilin ataupun obat lain yang kurang kuat aktivitas antibakterinya tidak dapat digunakan. Adapun infeksi yang biasanya diobati menggunakan kanamycin adalah infeksi pada saluran pernafasan, kulit, jaringan lunak, perut, dan infeksi pada saluran kemih (Widyasari dkk., 2013).

BAB III
METODE PENELITIAN
A. TEMPAT DAN WAKTU PRAKTIKUM
Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal , bertempat di laboratorium biokimia, Jurusan Farmasi, Fakultas Farmasi Universtas Halu Oleo.

B. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
  • Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah:
  • Autoclave
  • Batang pengaduk
  • Botol Selai
  • Bunsen
  • Cawan Petri
  • Erlenmeyer 100 ml, 250 ml, 500 ml
  • Gelas Kimia 100 ml, 500 ml
  • Gelas Ukur 10 ml, 25 ml, 50 ml
  • Hot Plate
  • Inkubator
  • Labu Takar 25 ml, 100 ml, 1000 ml
  • LAF (Laminar Air Flow)
  • Lumpang dan Alu
  • Ose Bulat
  • Ose Lurus
  • pH meter
  • Pipet Mikro
  • Pipet Tetes
  • Pinset
  • Rak Tabung
  • Sentrifuge
  • Spatula
  • Spoit 3 ml, 5 ml, 10 ml
  • Tabung Reaksi
  • Tabung sentrifuge
  • Timbangan analitik
  • Vial
  • Vortex
  • Waterbath

2. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah:
  • Agar
  • Alkohol 70%
  • Aluminium foil
  • Aquades
  • Aqua Pro Injection (API)
  • Daging Ayam
  • Daging Kambing
  • Daging Sapi
  • Ekstrak Beef
  • Injeksi Kanamisin
  • Kapas
  • Kassa
  • KH2PO4
  • NaCl
  • NaCl fisiologis
  • Na2HPO4
  • Paper Disk
  • Pepton
  • Spiritus
  • Telur Ayam Kampung
  • Telur Ayam Ras
  • Telur Bebek
  • Tissue

C. URAIAN BAHAN
1. Agar (Ditjen POM, 1979 : 74)
Nama Resmi : Agar
Nama Lain : Agar-agar
Pemerian : Tidak berbau atau bau lemah, berasa musilago pada lidah
Kelarutan : Tidak larut dalam air dingin, dan larut dalam air mendidih
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Bahan pemadat medium

2. Aquades (Ditjen POM, 1979 : 96)
Nama Resmi : Aqua Destillata
Nama Lain : Aquades, Air Suling
Rumus Molekul : H2O
Berat Molekul : 18,02
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup
Kegunaan : Pelarut

3. Ekstrak Beef (Ditjen POM, 1995 : 1152)
Nama Resmi : Beef Extract
Nama Lain : Kaldu nabati, kaldu hewani, ekstrak beef
Pemerian : Berbau dan berasa pada lidah. Kaldu daging sapi konsentrat diperoleh dengan mengekstraksi daging sapi segar tanpa lemak, dengan cara merebus dalam air dan menguapkan kaldu pada suhu rendah dalam hampa udara sampai terbentuk residu kental berbentuk pasta. Massa berbentuk pasta, berwarna coklat kekuningan sampai coklat tua, bau dan rasa seperti daging, sedikit asam.
Kelarutan : Larut dalam air dingin
Penyimpanan : Simpan dalam wadah tertutup rapat, tidak tembus cahaya
Kegunaan : Sumber protein untuk pertumbuhan mikroorganisme

4. Etanol (Ditjen POM, 1979 : 65)
Nama Resmi : Aethanolum
Nama Lain : Alkohol, etanol
Rumus Molekul : C2H5OH
Berat Molekul : 46,07
Pemerian : Cairan tidak berwarna, jernih, mudah menguap dan mudah bergerak, bau khas, rasa panas. Mudah terbakar dengan memberikan nyala biru yang tidak berasap.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P, dan dalam eter P
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya, ditempat sejuk, jauh dari nyala api
Kegunaan : Antiseptik

5. Pepton (Ditjen POM, 1995 : 1191)
Nama Resmi : Pepton
Pemerian : Serbuk, kuning kemerahan sampai coklat, bau khas tidak busuk
Kelarutan : Larut dalam air, memberikan larutan berwarna coklat kekuningan yang bereaksi asam.

6. Natrium Klorida (Ditjen POM, 1979 : 257)
Nama resmi : Natrii Chloridum
Nama lain : Natrium klorida
RM/BM : NaCl / 58,44
Pemerian : Hablur putih, berbentuk kubus atau berbentuk prisma, tidak berbau, rasa asin, mantap di udara.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
Kegunaan : Sebagai pelarut

7. Kalium Dihidrogen Fosfat (Ditjen POM, 1979 : 687)
Nama Lain : Kalium Bisolfat, Kalium Fosfat Monobasa
RM/BM : KH2PO4/136,086 g/mol
Pemerian : Serbuk hablur putih
Kelarutan : Mudah larut dalam air
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai bahan pembuat pepton

8. Dinatrium Hidrogen Fosfat (Ditjen POM, 1979 : 227)
Nama Resmi : Dinatrii Hydrogenphosphas 
Nama Lain : Dinatrium Hidrogen Fosfat, Natrium Fosfat
RM/BM : Na2HPO4 . 12H2O / 358,14 
Pemerian : Hablur, tidak berwarna, tidak berbau, rasa asin
Kelarutan : Larut dalam 5 bagian air, sukar larut dalam etanol (95%)P
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Sebagai bahan pembuat medium pepton

9. Natrium Hidroksida (Ditjen POM, 1979 : 412)
Nama Resmi : Natrii Hydroxydum
Nama Lain : Natrium Hidroksida
RM/BM : NaOH/40,00 g/mol
Pemerian : Bentuk batang, butiran, massa hablur atau keeping, kering, keras, rapuh dan menunjukkan susunan hablur; putih, mudah meleleh basah. Sangat alkalis dan korosif. Segera menyerap karbondioksida.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air dan etanol (95%) P.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

10. Asam Klorida (Ditjen POM, 1979 : 53)
Nama Resmi : Acidum Hydrochloridum
Nama Lain : Asam Klorida
RM/BM : HCl/36,46 g/mol
Pemerian : Cairan tidak berwarna, berasap, bau merangsang, jika diencerkan dengan 2 bagian air, asap dan bau hilang.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Zat tambahan

11. Kanamisin Sulfat Injeksi (Ditjen POM, 1979 : 334-335)
Kandungan : Injeksi kanamisin sulfat mengandung C18H36N4O11.H2SO4 tidak kurang dari 90.0 % dan tidak lebih dari jumlah yang tertera pada etiket
Struktur kimia :
Pemerian : Larutan jernih; tidak berwarna hingga kuning pucat
Indikasi : Menurut Identifikasi A yang tertera pada Kanamysini sulfat, menggunakan sejumlah larutan (l) yang dibuat sebagai berikut : Encerkan sejumlah volume injeksi dengan air secukupnya hingga kadar 2 % b/v.
pH : 4,5 sampai 6,0
Penyimpanan : Dalam wadah dosis tunggal, terlindung dari cahaya.

D. URAIAN MIKROBA UJI
Klasifikasi bakteri Bacillus subtulis (Wikipedia, 2016):
Domain : Bacteria
Divisi : Firmicutes
Kelas : Bacilli
Ordo : Bacillales
Famili : Bacillaceae
Genus : Bacillus
Spesies : Bacillus subtilis

E. PROSEDUR KERJA
1. Pembuatan Media Pertumbuhan
LAPORAN METODE UJI TAPIS (SCREENING TEST) RESIDU ANTIBIOTIKA PADA DAGING DAN TELUR SECARA BIOASSAY

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. HASIL PENGAMATAN
LAPORAN METODE UJI TAPIS (SCREENING TEST) RESIDU ANTIBIOTIKA PADA DAGING DAN TELUR SECARA BIOASSAY

B. PEMBAHASAN
Produk ternak merupakan sumber gizi utama untuk pertumbuhan dan kehidupan manusia. Namun, produk ternak akan menjadi tidak berguna dan membahayakan kesehatan apabila tidak aman. Oleh karena itu, keamanan pangan asal ternak bagi manusia merupakan persyaratan mutlak yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Di Indonesia, data keberadaan berbagai residu obat hewan, terutama golongan antibiotik, sulfa, pestisida, mikotoksin, dan hormon pada susu, daging, dan telur telah banyak dilaporkan

Penggunaan antibiotik harus sesuai dengan aturan karena bila menyalahi aturan, akan menimbulkan residu pada produk ternak. Residu antibiotik dapat menimbulkan alergi, keracunan, gagalnya pengobatan akibat resistensi, dan gangguan jumlah mikroflora dalam saluran pencernaan. 
Praktikum ini dilakukan bertujuan untuk dapat mengetahui kadar residu antibiotika yang terdapat pada sampel daging ayam, daging kambing, daging sapi, telur ayam ras, telua ayam kampong, dan telur bebek. Untuk mengetahui adanya residu antibiotik dalam sampel dilakukan pengujian daya hambat sampel uji pada bakteri Bacillus subtilis. Bakteri Bacillus subtilis merupakan bakteri gram negatifB. subtilis memiliki ciri-ciri yaitu bakteri dengan bentuk sel basil (batang) kadang monobasil, mempunyai ukuran diameter 0,7 – 0,8µm dan panjang 2,0 –3,0 µm, suhu untuk pertumbuhan yaitu 5oC-55oC, gram positif, membentuk endospora, respirasi anaerobik, mampu menghidrolisis amilum, protein dan lemak. Koloni putih agak kuning dengan diameter 1-2 mm

Penumbuhan spora Bacillus subtilis menggunakan media NA (Nutrient agar) yang mengandung bahan-bahan seperti beef extrak yang digunakan sebagai sumber makanan. Pepton sebagai sumber protein yang dibutuhkan spora bakteri untuk tumbuh. NaCl untuk menghambat pertumbuhan bakteri lainnya sehingga dapat diperoleh biakan tunggal Bacillus subtilis. Agar sebagai bahan untuk membuat media menjadi padat. 

Pertumbuhan spora diamati selama 7 hari dan diperoleh hasil yaitu dimanaterdapat tiga media spora yang ditumbuhi mikroorganisme lain. Hal ini dapat dikarenakan selama proses pengerjaan kurang aseptis. Sedangkan enam media lainnyaditumbuhi spora tunggal. Spora yang telah diperoleh kemuadian dicuci dengan NaCl fisiologis dan disentrifuge untuk memisahkan protein yang terkandung dalam spora. Spora yang telah diperoleh kemudian dicampur ke dalam media uji sebanyak 5 mL.

Media uji kemudia dibagi menjdi tiga bagian yaitu bagian control positif, control negative dan bagian larutan uji. Antibiotik yang digunakan yaitu kanamisin sebagai control positif dalam uji, sedangkan control negative yang digunakan yaitu larutan dapar no dua yang digunakan untuk melarutkan sampel uji. Kontrol positif digunakan untuk memastikan bahwa dalam media terdapat bakteri yang masih hidup yang ditandai dengan adanya zona hambat. Kontrol negative digunakan untuk mengetahui bahwa zona hambat yang dihasilkan larutan uji tidak berasal dai pelarut yang digunakan. 

Hasil yang diperoleh pada daging ayam terjadi penghambatan pertumbuhan bakteri, hal dapat dikarenakan adanya buffer, dimana pada control negative sebagian sampel terjadi hambatan pada daerah control negatif. Pada sampel daging dan telur yang digunakan tidak terjadi penghambatan pada media yang mengandung bakteri Bacillus subtilis , sehingga disimpulkan bahwa pada sampel daging dan telur tidak terdapat residu antibiotik.
BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Kesimpulan pada percobaan ini yaitu sampel daging dan sampel telur tidak mengandung residu antibiotik.

B. SARAN
Saran yang dapat saya sampaikan yaitu agar alat dan bahan yang digunakan dapat dijaga baik, agar dapat digunakan untuk praktikum selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ditjen POM, 1995, Farmakope Indonesia IV, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Ditjen POM, 1979, Farmakope Indonesia III, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Hintono, A., M. Astuti, H. Wuryastuti, dan E. S. Rahayu, 2007, Residu Oksitetrasiklin Dan Aktivitas Antibakterinya Dalam Telur Dari Ayam Yang Diberi Oksitetrasiklin Dengan Dosis Terapeutik Lewat Air Minum, J.Indon.Trop.Anim.Agric. 32 (1).

Marlina A. N., Elok Zubaidah, Aji Sutrisno, 2013, Pengaruh Pemberian Antibiotika Saat Budidaya Terhadap Keberadaan Residu Pada Daging Dan Hati Ayam Pedaging Dari Peternakan Rakyat, Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan 25 (2): 10 – 19.

Rahma, M. N., Rahayu Fitri dan Nur Rahmadhani, 2010, Pemeriksaan Residuwntibiotik Pada Hati Kerbau Dan Ikan Nila Dengan L\Iietoda Difusi Agar, Jumal Peternakan, 7(1): (29 - 34).

Widiastuti, R., T.B. Murdiati Dan Y. Anastasia, 2010, Residu Tetrasiklin Pada Daging Ayam Pedaging Dari Wilayah Jakarta, Depok Dan Bekasi Yang Dideteksi Secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi, Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor
.
Widyasari, E. M., Nurlaila Zainuddin dan Witri Nuraeni, 2013, Penandaan Kanamycin dengan Radionuklida Teknesium99m Sebagai Sediaan Untuk Deteksi Dini Penyakit Infeksi, Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi, 9 (2). 

LAPORAN METODE UJI TAPIS (SCREENING TEST) RESIDU ANTIBIOTIKA PADA DAGING DAN TELUR SECARA BIOASSAY

LAPORAN METODE UJI TAPIS (SCREENING TEST) RESIDU ANTIBIOTIKA PADA DAGING DAN TELUR SECARA BIOASSAY

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Produk ternak merupakan sumber gizi utama untuk pertumbuhan dan kehidupan manusia. Namun, produk ternak akan menjadi tidak berguna dan membahayakan kesehatan apabila tidak aman. Oleh karena itu, keamanan pangan asal ternak bagi manusia merupakan persyaratan mutlak yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Di Indonesia, data keberadaan berbagai residu obat hewan, terutama golongan antibiotik, sulfa, pestisida, mikotoksin, dan hormon pada susu, daging, dan telur telah banyak dilaporkan.

Antibiotik adalah substansi yang dihasilkan oleh suatu mikroorganisme yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme lain dalam konsentrasi yang sangat rendah. Sinaga (2004) mengungkapkan, penambahan obat-obatan antibakteri (antibiotik) ke dalam ransum pakan ternak bertujuan untuk meningkatkan laju pertumbuhan berat badan atau memperbaiki laju efisiensi pakan. Penggunaan obat-obatan tersebut meningkat tajam. Khususnya pada sapi potong dan ayam pedaging untuk mempercepat laju pertumbuhan bobot badan.

Penggunaan antibiotik harus sesuai dengan aturan karena bila menyalahi aturan, akan menimbulkan residu pada produk ternak. Residu antibiotik dapat menimbulkan alergi, keracunan, gagalnya pengobatan akibat resistensi, dan gangguan jumlah mikroflora dalam saluran pencernaan.

Pemeriksaan residu secara kualitatif pada 6 provinsi di Indonesia menunjukkan 4,1% sampel paha ayam dan 2,7% sampel hati dinyatakan positif golongan tetrasiklin. Sampel daging ayam yang berasal dari Kabupaten Bogor terdeteksi positif mengandung residu antibiotika golongan aminoglikosida dan tetrasiklin. Kontaminasi residu juga sering terjadi di luar negeri diantaranya hasil survei di Nigeria ditemukan residu obat hewan dalam jaringan ayam yaitu 59 dari 178 broiler (33,1%) dan oksitetrasiklin merupakan obat yang paling banyak digunakan. Studi di Kroasia, rata-rata kadar streptomycin dalam daging 44,14 µg/kg dan dalam susu 15,57 µg/kg, kadar tetrasiklin dalam daging 1,62 µg/kg dan dalam susu 1,5 µg/kg. Oleh karena itu, percobaan uji residu antibiotik perlu dilakukan untuk mengetahui adanya residu antibiotik yang terdapat pada produk ternak.

B. RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah yang terdapat dalam praktikum ini yaitu bagaimana cara mengetahui kadar residu antibiotika yang terdapat pada sampel daging ayam, daging kambing, daging sapi, telur ayam ras, telua ayam kampong, dan telur bebek?

C. TUJUAN PRAKTIKUM
Tujuan praktikum ini yaitu untuk mengetahui kadar residu antibiotika yang terdapat pada sampel daging ayam, daging kambing, daging sapi, telur ayam ras, telua ayam kampong, dan telur bebek

D. MANFAAT PRAKTIKUM
Kita dapat mengetahui kadar residu antibiotika yang terdapat pada sampel daging ayam, daging kambing, daging sapi, telur ayam ras, telua ayam kampong, dan telur bebek  

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Bahan pangan merupakan kebutuhan pokok manusia untuk hidup, di samping pangan nabati manusia juga memerlukan pangan hewani sebagai sumber protein, seperti daging, susu, telur, ikan. Telur m.erupakan salah satu produk hewani yang digunakan sebagai sum.ber protein, lemak dan vitamin yang dibutuhkan· untuk pertumbuhan. Te1ur mengandung stru.ktur yang mengandung zat gizi, telur terdiri dari kulit telur, putih telur, dan lkuning telur (Rahmah dkk., 2010).

Antibiotik telah secara luas digunakan dalam bidang peternakan termasuk peternakan ayam, baik dengan dosis terapeutik untuk tujuan pengobatan penyakit maupun dengan dosis sub-terapeutik untuk memacu pertumbuhan dan efisiensi penggunaan pakan, yang akhirnya dapat meningkatkan produktivitas ternak.(Hintono dkk., 2007).

Pengobatan dengan antibiotik pada temak diharapkan dapat mengurangi resiko kematian, menghambat penyebaran penyakit ke temak lainnya ataupun ke manusia. Pemberian antibiotik diharapkan terjadinya penyembuhan yang cepat, sehingga temak dapat segera kembali berproduksi secara optimal, akibatnya kerugian ekonomi yang lebih besar dapat dihindari. Pemberian antibiotik dalam imbuhan juga diharapkan akan mengurangi biaya produksi, sehingga diharapkan dapat meningkatkan keuntungan. Antibiotik yang sering digunakan pada temak antara lain golongan Penisilin (Penisilin G, Kalium Penisilin G), golongan tetrasildin (tetrasiklin, Klortetrasiklin), golongan Aminoglikosida (Gentamisin Sulfat, Noomisin) dan golongan Makrolida (Ecitromisina), Kloramfenikol. Apabila antibiotik ini digunakan me1ebihi hatas akan menyebabkan residu antibiotik.(Widiastuti dkk., 2010).

Residu dapat ditemukan akibat penggunaan obat-obatan, termasuk antibiotika, Pemberian feed additive ataupun hormon pemacu pertumbuhan hewan. Senyawa obat yang masuk kedalam tubuh ternak tidak dapat seluruhnya diekskresi dari jaringan dan akan tertahan dalam jaringan tubuh sebagai residu. Hasil pengamatan Palupi dan Unang (2009) menunjukkan bahwa pemakaian obat dengan dosis berlebihan, pemberian dalam jangka waktu lama dan waktu henti obat yang tidak tepat menyebabkan adanya residu obat dalam karkas maupun organ visera (Marlina dkk., 2013).

Konsumsi pangan asal hewan seperti daging ayam yang mengandung residu antibiotika akan menimbulkan gangguan kesehatan. Bahaya residu obat hewan dapat berupa bahaya langsung dalam jangka pendek seperti alergi, gangguan pencernaan, gangguan kulit, anafilaksis dan hipersensitifitas, serta bahaya tidak langsung yang bersifat jangka panjang seperti resistensi mikrobiologi, karsinogenik, mutagenik, teratogenik dan gangguan reproduksi (Marlina dkk., 2013).

Kanamycin merupakan antibiotik yang termasuk dalam golongan aminoglikosida yang bekerja menghambat proses sintesis protein mikroorganisme, dan termasuk golongan antibiotika berspektrum luas, sehingga dapat berinteraksi dengan bakteri Gram negatif maupun Gram positif. Kanamycin ditemukan pertama kali di Jepang pada tahun 1957 oleh Umezawa dkk, diperoleh dari filtrat kultur Streptomyces kanamyceticus. Kanamycin digunakan untuk pengobatan infeksi jika penisilin ataupun obat lain yang kurang kuat aktivitas antibakterinya tidak dapat digunakan. Adapun infeksi yang biasanya diobati menggunakan kanamycin adalah infeksi pada saluran pernafasan, kulit, jaringan lunak, perut, dan infeksi pada saluran kemih (Widyasari dkk., 2013).

BAB III
METODE PENELITIAN
A. TEMPAT DAN WAKTU PRAKTIKUM
Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal , bertempat di laboratorium biokimia, Jurusan Farmasi, Fakultas Farmasi Universtas Halu Oleo.

B. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
  • Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah:
  • Autoclave
  • Batang pengaduk
  • Botol Selai
  • Bunsen
  • Cawan Petri
  • Erlenmeyer 100 ml, 250 ml, 500 ml
  • Gelas Kimia 100 ml, 500 ml
  • Gelas Ukur 10 ml, 25 ml, 50 ml
  • Hot Plate
  • Inkubator
  • Labu Takar 25 ml, 100 ml, 1000 ml
  • LAF (Laminar Air Flow)
  • Lumpang dan Alu
  • Ose Bulat
  • Ose Lurus
  • pH meter
  • Pipet Mikro
  • Pipet Tetes
  • Pinset
  • Rak Tabung
  • Sentrifuge
  • Spatula
  • Spoit 3 ml, 5 ml, 10 ml
  • Tabung Reaksi
  • Tabung sentrifuge
  • Timbangan analitik
  • Vial
  • Vortex
  • Waterbath

2. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah:
  • Agar
  • Alkohol 70%
  • Aluminium foil
  • Aquades
  • Aqua Pro Injection (API)
  • Daging Ayam
  • Daging Kambing
  • Daging Sapi
  • Ekstrak Beef
  • Injeksi Kanamisin
  • Kapas
  • Kassa
  • KH2PO4
  • NaCl
  • NaCl fisiologis
  • Na2HPO4
  • Paper Disk
  • Pepton
  • Spiritus
  • Telur Ayam Kampung
  • Telur Ayam Ras
  • Telur Bebek
  • Tissue

C. URAIAN BAHAN
1. Agar (Ditjen POM, 1979 : 74)
Nama Resmi : Agar
Nama Lain : Agar-agar
Pemerian : Tidak berbau atau bau lemah, berasa musilago pada lidah
Kelarutan : Tidak larut dalam air dingin, dan larut dalam air mendidih
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Bahan pemadat medium

2. Aquades (Ditjen POM, 1979 : 96)
Nama Resmi : Aqua Destillata
Nama Lain : Aquades, Air Suling
Rumus Molekul : H2O
Berat Molekul : 18,02
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup
Kegunaan : Pelarut

3. Ekstrak Beef (Ditjen POM, 1995 : 1152)
Nama Resmi : Beef Extract
Nama Lain : Kaldu nabati, kaldu hewani, ekstrak beef
Pemerian : Berbau dan berasa pada lidah. Kaldu daging sapi konsentrat diperoleh dengan mengekstraksi daging sapi segar tanpa lemak, dengan cara merebus dalam air dan menguapkan kaldu pada suhu rendah dalam hampa udara sampai terbentuk residu kental berbentuk pasta. Massa berbentuk pasta, berwarna coklat kekuningan sampai coklat tua, bau dan rasa seperti daging, sedikit asam.
Kelarutan : Larut dalam air dingin
Penyimpanan : Simpan dalam wadah tertutup rapat, tidak tembus cahaya
Kegunaan : Sumber protein untuk pertumbuhan mikroorganisme

4. Etanol (Ditjen POM, 1979 : 65)
Nama Resmi : Aethanolum
Nama Lain : Alkohol, etanol
Rumus Molekul : C2H5OH
Berat Molekul : 46,07
Pemerian : Cairan tidak berwarna, jernih, mudah menguap dan mudah bergerak, bau khas, rasa panas. Mudah terbakar dengan memberikan nyala biru yang tidak berasap.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P, dan dalam eter P
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya, ditempat sejuk, jauh dari nyala api
Kegunaan : Antiseptik

5. Pepton (Ditjen POM, 1995 : 1191)
Nama Resmi : Pepton
Pemerian : Serbuk, kuning kemerahan sampai coklat, bau khas tidak busuk
Kelarutan : Larut dalam air, memberikan larutan berwarna coklat kekuningan yang bereaksi asam.

6. Natrium Klorida (Ditjen POM, 1979 : 257)
Nama resmi : Natrii Chloridum
Nama lain : Natrium klorida
RM/BM : NaCl / 58,44
Pemerian : Hablur putih, berbentuk kubus atau berbentuk prisma, tidak berbau, rasa asin, mantap di udara.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
Kegunaan : Sebagai pelarut

7. Kalium Dihidrogen Fosfat (Ditjen POM, 1979 : 687)
Nama Lain : Kalium Bisolfat, Kalium Fosfat Monobasa
RM/BM : KH2PO4/136,086 g/mol
Pemerian : Serbuk hablur putih
Kelarutan : Mudah larut dalam air
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai bahan pembuat pepton

8. Dinatrium Hidrogen Fosfat (Ditjen POM, 1979 : 227)
Nama Resmi : Dinatrii Hydrogenphosphas 
Nama Lain : Dinatrium Hidrogen Fosfat, Natrium Fosfat
RM/BM : Na2HPO4 . 12H2O / 358,14 
Pemerian : Hablur, tidak berwarna, tidak berbau, rasa asin
Kelarutan : Larut dalam 5 bagian air, sukar larut dalam etanol (95%)P
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Sebagai bahan pembuat medium pepton

9. Natrium Hidroksida (Ditjen POM, 1979 : 412)
Nama Resmi : Natrii Hydroxydum
Nama Lain : Natrium Hidroksida
RM/BM : NaOH/40,00 g/mol
Pemerian : Bentuk batang, butiran, massa hablur atau keeping, kering, keras, rapuh dan menunjukkan susunan hablur; putih, mudah meleleh basah. Sangat alkalis dan korosif. Segera menyerap karbondioksida.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air dan etanol (95%) P.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

10. Asam Klorida (Ditjen POM, 1979 : 53)
Nama Resmi : Acidum Hydrochloridum
Nama Lain : Asam Klorida
RM/BM : HCl/36,46 g/mol
Pemerian : Cairan tidak berwarna, berasap, bau merangsang, jika diencerkan dengan 2 bagian air, asap dan bau hilang.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Zat tambahan

11. Kanamisin Sulfat Injeksi (Ditjen POM, 1979 : 334-335)
Kandungan : Injeksi kanamisin sulfat mengandung C18H36N4O11.H2SO4 tidak kurang dari 90.0 % dan tidak lebih dari jumlah yang tertera pada etiket
Struktur kimia :
Pemerian : Larutan jernih; tidak berwarna hingga kuning pucat
Indikasi : Menurut Identifikasi A yang tertera pada Kanamysini sulfat, menggunakan sejumlah larutan (l) yang dibuat sebagai berikut : Encerkan sejumlah volume injeksi dengan air secukupnya hingga kadar 2 % b/v.
pH : 4,5 sampai 6,0
Penyimpanan : Dalam wadah dosis tunggal, terlindung dari cahaya.

D. URAIAN MIKROBA UJI
Klasifikasi bakteri Bacillus subtulis (Wikipedia, 2016):
Domain : Bacteria
Divisi : Firmicutes
Kelas : Bacilli
Ordo : Bacillales
Famili : Bacillaceae
Genus : Bacillus
Spesies : Bacillus subtilis

E. PROSEDUR KERJA
1. Pembuatan Media Pertumbuhan
LAPORAN METODE UJI TAPIS (SCREENING TEST) RESIDU ANTIBIOTIKA PADA DAGING DAN TELUR SECARA BIOASSAY

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. HASIL PENGAMATAN
LAPORAN METODE UJI TAPIS (SCREENING TEST) RESIDU ANTIBIOTIKA PADA DAGING DAN TELUR SECARA BIOASSAY

B. PEMBAHASAN
Produk ternak merupakan sumber gizi utama untuk pertumbuhan dan kehidupan manusia. Namun, produk ternak akan menjadi tidak berguna dan membahayakan kesehatan apabila tidak aman. Oleh karena itu, keamanan pangan asal ternak bagi manusia merupakan persyaratan mutlak yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Di Indonesia, data keberadaan berbagai residu obat hewan, terutama golongan antibiotik, sulfa, pestisida, mikotoksin, dan hormon pada susu, daging, dan telur telah banyak dilaporkan

Penggunaan antibiotik harus sesuai dengan aturan karena bila menyalahi aturan, akan menimbulkan residu pada produk ternak. Residu antibiotik dapat menimbulkan alergi, keracunan, gagalnya pengobatan akibat resistensi, dan gangguan jumlah mikroflora dalam saluran pencernaan. 
Praktikum ini dilakukan bertujuan untuk dapat mengetahui kadar residu antibiotika yang terdapat pada sampel daging ayam, daging kambing, daging sapi, telur ayam ras, telua ayam kampong, dan telur bebek. Untuk mengetahui adanya residu antibiotik dalam sampel dilakukan pengujian daya hambat sampel uji pada bakteri Bacillus subtilis. Bakteri Bacillus subtilis merupakan bakteri gram negatifB. subtilis memiliki ciri-ciri yaitu bakteri dengan bentuk sel basil (batang) kadang monobasil, mempunyai ukuran diameter 0,7 – 0,8µm dan panjang 2,0 –3,0 µm, suhu untuk pertumbuhan yaitu 5oC-55oC, gram positif, membentuk endospora, respirasi anaerobik, mampu menghidrolisis amilum, protein dan lemak. Koloni putih agak kuning dengan diameter 1-2 mm

Penumbuhan spora Bacillus subtilis menggunakan media NA (Nutrient agar) yang mengandung bahan-bahan seperti beef extrak yang digunakan sebagai sumber makanan. Pepton sebagai sumber protein yang dibutuhkan spora bakteri untuk tumbuh. NaCl untuk menghambat pertumbuhan bakteri lainnya sehingga dapat diperoleh biakan tunggal Bacillus subtilis. Agar sebagai bahan untuk membuat media menjadi padat. 

Pertumbuhan spora diamati selama 7 hari dan diperoleh hasil yaitu dimanaterdapat tiga media spora yang ditumbuhi mikroorganisme lain. Hal ini dapat dikarenakan selama proses pengerjaan kurang aseptis. Sedangkan enam media lainnyaditumbuhi spora tunggal. Spora yang telah diperoleh kemuadian dicuci dengan NaCl fisiologis dan disentrifuge untuk memisahkan protein yang terkandung dalam spora. Spora yang telah diperoleh kemudian dicampur ke dalam media uji sebanyak 5 mL.

Media uji kemudia dibagi menjdi tiga bagian yaitu bagian control positif, control negative dan bagian larutan uji. Antibiotik yang digunakan yaitu kanamisin sebagai control positif dalam uji, sedangkan control negative yang digunakan yaitu larutan dapar no dua yang digunakan untuk melarutkan sampel uji. Kontrol positif digunakan untuk memastikan bahwa dalam media terdapat bakteri yang masih hidup yang ditandai dengan adanya zona hambat. Kontrol negative digunakan untuk mengetahui bahwa zona hambat yang dihasilkan larutan uji tidak berasal dai pelarut yang digunakan. 

Hasil yang diperoleh pada daging ayam terjadi penghambatan pertumbuhan bakteri, hal dapat dikarenakan adanya buffer, dimana pada control negative sebagian sampel terjadi hambatan pada daerah control negatif. Pada sampel daging dan telur yang digunakan tidak terjadi penghambatan pada media yang mengandung bakteri Bacillus subtilis , sehingga disimpulkan bahwa pada sampel daging dan telur tidak terdapat residu antibiotik.
BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Kesimpulan pada percobaan ini yaitu sampel daging dan sampel telur tidak mengandung residu antibiotik.

B. SARAN
Saran yang dapat saya sampaikan yaitu agar alat dan bahan yang digunakan dapat dijaga baik, agar dapat digunakan untuk praktikum selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ditjen POM, 1995, Farmakope Indonesia IV, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Ditjen POM, 1979, Farmakope Indonesia III, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Hintono, A., M. Astuti, H. Wuryastuti, dan E. S. Rahayu, 2007, Residu Oksitetrasiklin Dan Aktivitas Antibakterinya Dalam Telur Dari Ayam Yang Diberi Oksitetrasiklin Dengan Dosis Terapeutik Lewat Air Minum, J.Indon.Trop.Anim.Agric. 32 (1).

Marlina A. N., Elok Zubaidah, Aji Sutrisno, 2013, Pengaruh Pemberian Antibiotika Saat Budidaya Terhadap Keberadaan Residu Pada Daging Dan Hati Ayam Pedaging Dari Peternakan Rakyat, Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan 25 (2): 10 – 19.

Rahma, M. N., Rahayu Fitri dan Nur Rahmadhani, 2010, Pemeriksaan Residuwntibiotik Pada Hati Kerbau Dan Ikan Nila Dengan L\Iietoda Difusi Agar, Jumal Peternakan, 7(1): (29 - 34).

Widiastuti, R., T.B. Murdiati Dan Y. Anastasia, 2010, Residu Tetrasiklin Pada Daging Ayam Pedaging Dari Wilayah Jakarta, Depok Dan Bekasi Yang Dideteksi Secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi, Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor
.
Widyasari, E. M., Nurlaila Zainuddin dan Witri Nuraeni, 2013, Penandaan Kanamycin dengan Radionuklida Teknesium99m Sebagai Sediaan Untuk Deteksi Dini Penyakit Infeksi, Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi, 9 (2).