LAPORAN PENETAPAN KADAR ANTALGIN SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET - ElrinAlria
LAPORAN PENETAPAN KADAR ANTALGIN SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET

PENETAPAN KADAR ANTALGIN SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET

A. TUJUAN
Tujuan dari percobaan ini adalah menetapkan kadar antalgin secara spektrofotometri UV. 

B. LANDASAN TEORI
Metoda spektrofotometri uv-vis adalah salah satu metoda analisis kimia untuk menentukan unsur logam, baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif. Analisis secara kualitatif berdasarkan pada panjang gelombang yang ditunjukkan oleh puncak spektrum (190 nm s/d 900 nm), sedangkan analisis secara kuantitatif berdasarkan pada penurunan intensitas cahaya yang diserap oleh suatu media. Intensitas ini sangat tergantung pada tebal tipisnya media dan konsentrasi warna spesies yang ada pada media tersebut. Pembentukan warna dilakukan dengan cara menambahkan bahan pengompleks yang selektif terhadap unsur yang ditentukan (Fatimah, dkk., 2009).

Cahaya yang diserap oleh suatu zat berbeda dengan cahaya yang ditangkap oleh mata manusia. Cahaya yang tampak atau cahaya yang dilihat dalam kehidupan sehari-hari disebut warna komplementer. Misalnya suatu zat akan berwarna orange bila menyerap warna biru dari spektrum sinar tampak dan suatu zat akan berwarna hitam bila menyerap semua warna yang terdapat pada spektrum sinar tampak. Panjang gelombang maksimum ini berada pada kisaran panjang gelombang antosianin yaitu antara 465 sampai 550 nm (Subodro dan Sunaryo, 2013).

Auksokrom adalah gugus jenuh yang bila terikat pada gugus kromofor mengubah panjang gelombang dan intensitas serapan maksimum. Ciri auksokrom adalah yang langsung terikat pada kromofor, misal: -OCH3, -CL, -OH, NH2. Senyawa yang memiliki gugus kromofor dan auksokrom yang mampu menyerap energi sehingga dapat ditetapkan dengan metode Spektrofotometri UV-Vis (Retnani, et al, 2010).

Metampiron adalah turunan pirazolon yang berkhasiat sebagai obat antipiretik-analgesik atau biasa disebut sebagai senyawa analgetika non narkotik yang berkerja sebagai analgetika dan antiinflamasi. Merupakan natrium sulfonat dari aminopirin (Hasibuan, 2009). Metampiron (C13H16N3NaO4S.H2O) memiliki bobot molekul 351,4. Titik lebur metampiron 1720C. Larut dalam 1,5 bagian air, 30 bagian etanol, praktis tidak larut dalam eter, aseton, benzen dan kloroform. Metampiron memiliki panjang gelombang serapan maksimum yang berbeda pada pelarut yang berlainan. Metampiron dan fenilbutason memiliki kemiripan pada struktur molekulnya dan merupakan kombinasi obat analgetik, antipiretik yang masih ditemukan dipasaran. Telah diketahui bahwa campuran metampiron dan fenilbutason, mampu membentuk interaksi molecular berupa senyawa molekular yang melebur in-kongruen (peritektik) jika diberi perlakuan berupa energy termik. Titik peritektiknya terletak pada suhu 149,80C (Soewandhi, 2007).

C. ALAT DAN BAHAN
1. ALAT
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah :
a) Batang pengaduk
b) Filler
c) Gelas kimia
d) Kuvet
e) Labu takar 100 ml, dan 100 ml
f) Lumpang dan alu
g) Mikropipet 25 µL
h) Pipet tetes
i) Pipet ukur
j) Sendok tanduk
k) Spektrofotometer UV-Vis
l) Tabung reaksi
m) Timbangan analitik

2. BAHAN
Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah :
a) Antalgin 
b) Aquades
c) Kloroform
d) Sampel obat yang mengandung antalgin
e) Tissue

D. URAIAN BAHAN
1. Akuades (Ditjen POM, 1979 : 96)
Nama Resmi : Aqua Destillata
Nama Lain : Air Suling
RM/BM : H2O/18,00
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa. 
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Sebagai pelarut

2. Kloroform (Ditjen POM, 1979 : 151)
Nama Resmi : Chloroformum
Nama Lain : Kloroform
RM/BM : CHCl3/119,38
erian : Cairan mudah menguap; tidak berwarna, bau 
khas; rasa manis dan membakar. 
Kelarutan : Larut dalam lebih kurang 200 bagian air, mudah larut dalam etanol mutlak, dalam eter, dalam kloroform, dalam sebagian besar pelarut organik, dalam minyak atsiri dan dalam minyak lemak. 
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik bersumbat kaca, 
terlindung dari cahaya.
Kegunaan : Sebagai pereaksi

3. Antalgin (Ditjen POM, 1979)
Nama resmi : MHETAMPYRONUM
Sinonim : Antalgin
Berat Molekul : 351,57
Rumus Molekul : C13H16N3NaO4S.H2O
Pemerian : Serbuk hablur; putih atau putih kekuningan.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Khasiat : Analgetikum, antiperetikum

E. PROSEDUR KERJA
1. Pembuatan Larutan Induk
LAPORAN PENETAPAN KADAR ANTALGIN SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET


F. HASIL PENGAMATAN
LAPORAN PENETAPAN KADAR ANTALGIN SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET

G. PEMBAHASAN
Antalgin adalah derivat metansulfonat dari Amidopirina yang bekerja terhadap susunan saraf pusat yaitu mengurangi sensitivitas reseptor rasa nyeri dan mempengaruhi pusat pengatur suhu tubuh. Tiga efek utama adalah sebagai analgesik, antipiretik dan anti-inflamasi. Antalgin mudah larut dalam air dan mudah diabsorpsi ke dalam jaringan tubuh.

Analisis kualitatif merupakan analisis untuk melakukan identifikasi elemen, spesies, dan/atau senyawa-senyawa yang ada di dalam sampel. Dengan kata lain, analisis kualitatif berkaitan dengan cara untuk mengetahui ada atau tidaknya suatu analit yang dituju dalam suatu sampel. Sedangkan analisis kuantitatif adalah analisis untuk menentukan jumlah (kadar) absolute atau relative dari suatu elemen atau spesies yang ada di dalam sampel.

Spektrofotometri adalah suatu metode analisis yang berdasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombang yang spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dan detector vacuum phototube atau tabung foton hampa. Spektrometer menghasilkan sinar dari spectrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau diabsorbsi.

Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah spektrofotometer UV, yaitu alat yang digunakan untuk mengukur absorbansi dengan cara melewatkan cahaya dengan panjang gelombang tertentu pada suatu obyek kaca atau kuarsa yang disebut kuvet. Prinsip kerja dari spektrofotometer yaitu apabila suatu sinar monokromatis melewati sebuah sampel atau larutan maka sebagian sinar akan diteruskan, dipantulkan dan dibiaskan.

Spektrofotometer ultra violet menggunakan radiasi dengan panjang gelombang 200-400 nm. Molekul yang dapat memberikan absorbsi yang bermakna pada panjang gelombang 200-780 nm adalah molekul-molekul yang mempunyai gugus kromofor dan gugus auksokrom. Nilai absorbansi dari cahaya yang dilewatkan akan sebanding dengan konsentrasi larutan di dalam kuvet. 

Pengukuran absorbansi larutan induk, larutan standar dan larutan sampel menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Akan tetapi, terlebih dahulu ditentukan panjang gelombang yang akan digunakan. Berdasarkan pengukuran, diperoleh panjang gelombang maksimum dari asam salisilat yaitu 295 nm. Setelah diperoleh panjang gelombang maksium yang dimilik oleh asam salisilat, selanjutnya dapat ditentukan absorbansi yang dimiliki oleh sampel yang mengandung asam salisilat. Berdasarkan pengukuran yang dilakukan, kadar metampiron pada sediaan antalgin adalah 0,0025 mg/ml.

H. KESIMPULAN
Kesimpulan dari perobaan ini adalah kadar antalgin adalah 0,0025 mg/ml. mg/ml.

DAFTAR PUSTAKA
Retnani, N.I.D., Pri, I.U., dan Didik S., 2010, Analisis Kuantitatif Tablet Levofloksasin Merk Dan Generik Dalam Plasma Manusia Secara In Vitro Dengan Metode Spektrofotometri Ultravioletvisibel, Pharmacy, Volume 7 Nomor 1.

Subodro R., dan Sunaryo, 2013, Ekstraksi Pewarna Bahan Antosianin Kulit Terong Ungu Sebagai Pewarna Alami Pada Sel Surya Dye Dye-Sensitized Solar Cell (Dssc), Politeknosains, Volume XI Nomor 2.

Fatimah, S., Haryati, I., dan Jamaluddin, A. 2009. ‘Pengaruh Uranium Terhadap Analisis Thorium Menggunakan Spektrofotomer UV-Vis’. Jurnal. ISSN: 1978-0176. Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir: Yogyakarta.

LAPORAN PENETAPAN KADAR ANTALGIN SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET

LAPORAN PENETAPAN KADAR ANTALGIN SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET

PENETAPAN KADAR ANTALGIN SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET

A. TUJUAN
Tujuan dari percobaan ini adalah menetapkan kadar antalgin secara spektrofotometri UV. 

B. LANDASAN TEORI
Metoda spektrofotometri uv-vis adalah salah satu metoda analisis kimia untuk menentukan unsur logam, baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif. Analisis secara kualitatif berdasarkan pada panjang gelombang yang ditunjukkan oleh puncak spektrum (190 nm s/d 900 nm), sedangkan analisis secara kuantitatif berdasarkan pada penurunan intensitas cahaya yang diserap oleh suatu media. Intensitas ini sangat tergantung pada tebal tipisnya media dan konsentrasi warna spesies yang ada pada media tersebut. Pembentukan warna dilakukan dengan cara menambahkan bahan pengompleks yang selektif terhadap unsur yang ditentukan (Fatimah, dkk., 2009).

Cahaya yang diserap oleh suatu zat berbeda dengan cahaya yang ditangkap oleh mata manusia. Cahaya yang tampak atau cahaya yang dilihat dalam kehidupan sehari-hari disebut warna komplementer. Misalnya suatu zat akan berwarna orange bila menyerap warna biru dari spektrum sinar tampak dan suatu zat akan berwarna hitam bila menyerap semua warna yang terdapat pada spektrum sinar tampak. Panjang gelombang maksimum ini berada pada kisaran panjang gelombang antosianin yaitu antara 465 sampai 550 nm (Subodro dan Sunaryo, 2013).

Auksokrom adalah gugus jenuh yang bila terikat pada gugus kromofor mengubah panjang gelombang dan intensitas serapan maksimum. Ciri auksokrom adalah yang langsung terikat pada kromofor, misal: -OCH3, -CL, -OH, NH2. Senyawa yang memiliki gugus kromofor dan auksokrom yang mampu menyerap energi sehingga dapat ditetapkan dengan metode Spektrofotometri UV-Vis (Retnani, et al, 2010).

Metampiron adalah turunan pirazolon yang berkhasiat sebagai obat antipiretik-analgesik atau biasa disebut sebagai senyawa analgetika non narkotik yang berkerja sebagai analgetika dan antiinflamasi. Merupakan natrium sulfonat dari aminopirin (Hasibuan, 2009). Metampiron (C13H16N3NaO4S.H2O) memiliki bobot molekul 351,4. Titik lebur metampiron 1720C. Larut dalam 1,5 bagian air, 30 bagian etanol, praktis tidak larut dalam eter, aseton, benzen dan kloroform. Metampiron memiliki panjang gelombang serapan maksimum yang berbeda pada pelarut yang berlainan. Metampiron dan fenilbutason memiliki kemiripan pada struktur molekulnya dan merupakan kombinasi obat analgetik, antipiretik yang masih ditemukan dipasaran. Telah diketahui bahwa campuran metampiron dan fenilbutason, mampu membentuk interaksi molecular berupa senyawa molekular yang melebur in-kongruen (peritektik) jika diberi perlakuan berupa energy termik. Titik peritektiknya terletak pada suhu 149,80C (Soewandhi, 2007).

C. ALAT DAN BAHAN
1. ALAT
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah :
a) Batang pengaduk
b) Filler
c) Gelas kimia
d) Kuvet
e) Labu takar 100 ml, dan 100 ml
f) Lumpang dan alu
g) Mikropipet 25 µL
h) Pipet tetes
i) Pipet ukur
j) Sendok tanduk
k) Spektrofotometer UV-Vis
l) Tabung reaksi
m) Timbangan analitik

2. BAHAN
Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah :
a) Antalgin 
b) Aquades
c) Kloroform
d) Sampel obat yang mengandung antalgin
e) Tissue

D. URAIAN BAHAN
1. Akuades (Ditjen POM, 1979 : 96)
Nama Resmi : Aqua Destillata
Nama Lain : Air Suling
RM/BM : H2O/18,00
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa. 
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Sebagai pelarut

2. Kloroform (Ditjen POM, 1979 : 151)
Nama Resmi : Chloroformum
Nama Lain : Kloroform
RM/BM : CHCl3/119,38
erian : Cairan mudah menguap; tidak berwarna, bau 
khas; rasa manis dan membakar. 
Kelarutan : Larut dalam lebih kurang 200 bagian air, mudah larut dalam etanol mutlak, dalam eter, dalam kloroform, dalam sebagian besar pelarut organik, dalam minyak atsiri dan dalam minyak lemak. 
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik bersumbat kaca, 
terlindung dari cahaya.
Kegunaan : Sebagai pereaksi

3. Antalgin (Ditjen POM, 1979)
Nama resmi : MHETAMPYRONUM
Sinonim : Antalgin
Berat Molekul : 351,57
Rumus Molekul : C13H16N3NaO4S.H2O
Pemerian : Serbuk hablur; putih atau putih kekuningan.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Khasiat : Analgetikum, antiperetikum

E. PROSEDUR KERJA
1. Pembuatan Larutan Induk
LAPORAN PENETAPAN KADAR ANTALGIN SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET


F. HASIL PENGAMATAN
LAPORAN PENETAPAN KADAR ANTALGIN SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET

G. PEMBAHASAN
Antalgin adalah derivat metansulfonat dari Amidopirina yang bekerja terhadap susunan saraf pusat yaitu mengurangi sensitivitas reseptor rasa nyeri dan mempengaruhi pusat pengatur suhu tubuh. Tiga efek utama adalah sebagai analgesik, antipiretik dan anti-inflamasi. Antalgin mudah larut dalam air dan mudah diabsorpsi ke dalam jaringan tubuh.

Analisis kualitatif merupakan analisis untuk melakukan identifikasi elemen, spesies, dan/atau senyawa-senyawa yang ada di dalam sampel. Dengan kata lain, analisis kualitatif berkaitan dengan cara untuk mengetahui ada atau tidaknya suatu analit yang dituju dalam suatu sampel. Sedangkan analisis kuantitatif adalah analisis untuk menentukan jumlah (kadar) absolute atau relative dari suatu elemen atau spesies yang ada di dalam sampel.

Spektrofotometri adalah suatu metode analisis yang berdasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombang yang spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dan detector vacuum phototube atau tabung foton hampa. Spektrometer menghasilkan sinar dari spectrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau diabsorbsi.

Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah spektrofotometer UV, yaitu alat yang digunakan untuk mengukur absorbansi dengan cara melewatkan cahaya dengan panjang gelombang tertentu pada suatu obyek kaca atau kuarsa yang disebut kuvet. Prinsip kerja dari spektrofotometer yaitu apabila suatu sinar monokromatis melewati sebuah sampel atau larutan maka sebagian sinar akan diteruskan, dipantulkan dan dibiaskan.

Spektrofotometer ultra violet menggunakan radiasi dengan panjang gelombang 200-400 nm. Molekul yang dapat memberikan absorbsi yang bermakna pada panjang gelombang 200-780 nm adalah molekul-molekul yang mempunyai gugus kromofor dan gugus auksokrom. Nilai absorbansi dari cahaya yang dilewatkan akan sebanding dengan konsentrasi larutan di dalam kuvet. 

Pengukuran absorbansi larutan induk, larutan standar dan larutan sampel menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Akan tetapi, terlebih dahulu ditentukan panjang gelombang yang akan digunakan. Berdasarkan pengukuran, diperoleh panjang gelombang maksimum dari asam salisilat yaitu 295 nm. Setelah diperoleh panjang gelombang maksium yang dimilik oleh asam salisilat, selanjutnya dapat ditentukan absorbansi yang dimiliki oleh sampel yang mengandung asam salisilat. Berdasarkan pengukuran yang dilakukan, kadar metampiron pada sediaan antalgin adalah 0,0025 mg/ml.

H. KESIMPULAN
Kesimpulan dari perobaan ini adalah kadar antalgin adalah 0,0025 mg/ml. mg/ml.

DAFTAR PUSTAKA
Retnani, N.I.D., Pri, I.U., dan Didik S., 2010, Analisis Kuantitatif Tablet Levofloksasin Merk Dan Generik Dalam Plasma Manusia Secara In Vitro Dengan Metode Spektrofotometri Ultravioletvisibel, Pharmacy, Volume 7 Nomor 1.

Subodro R., dan Sunaryo, 2013, Ekstraksi Pewarna Bahan Antosianin Kulit Terong Ungu Sebagai Pewarna Alami Pada Sel Surya Dye Dye-Sensitized Solar Cell (Dssc), Politeknosains, Volume XI Nomor 2.

Fatimah, S., Haryati, I., dan Jamaluddin, A. 2009. ‘Pengaruh Uranium Terhadap Analisis Thorium Menggunakan Spektrofotomer UV-Vis’. Jurnal. ISSN: 1978-0176. Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir: Yogyakarta.