LAPORAN PENETAPAN KADAR FLAVONOID SECARA SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL - ElrinAlria
LAPORAN PENETAPAN KADAR FLAVONOID SECARA SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS II
PERCOBAAN V
PENETAPAN KADAR FLAVONOID SECARA SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL

A. TUJUAN
Tujuan dari percobaan adalah untuk menetapkan kadar flavonoid dengan menggunakan spektrofotometri visibel.

B. LANDASAN TEORI
Metode spektroskopi merupakan suatu cara untuk menentukan komposisi kimiawi dari suatu senyawa organik. Terdapat beberapa metode spektroskopi mulai dari Spektroskopi Serapan Atom (AAS), Spektroskopi Ultra Ungu/Sinar Tampak (UV/Vis Spectrophotometer), Spektroskopi Infra Merah (Infra Red Spectrophotometer) maupun Spektroskopi Massa (Mass Spectrophotometer). Semua metode tersebut mempunyai tujuan sama tetapi menggunakan cara yang berbeda-beda. Penentuan komposisi kimiawi senyawa bergantung pada bentuk spektrum yang dihasilkan oleh peralatan spektroskopi tersebut. Metode-metode tersebut memiliki bagian utama berupa perangkat optik seperti spektrometer atau monokromator (Wibowo, 2008).

Spektrofotometri merupakan salah satu metode dalam kimia analisis yang digunakan untuk menentukan komposisi suatu sampel baik secara kuantitatif dan kualitatif yang didasarkan pada interaksi antara materi dengan cahaya. Peralatan yang digunakan dalam spektrofotometri disebut Spektrofotometer. Cahaya yang dimaksud dapat berupa cahaya visibel, UV dan inframerah, sedangkan materi dapat berupa atom dan molekul namun yang lebih berperan adalah elektron valensi. Spektrofotometri visible disebut juga spektrofotometri sinar tampak. Yang dimaksud sinar tampak adalah sinar yang dapat dilihat oleh mata manusia. Cahaya yang dapat dilihat oleh mata manusia adalah cahaya dengan panjang gelombang 400-800 nm dan memiliki energi sebesar 299–149 kJ/mol (Subodro dan Sunaryo, 2013).

Cahaya yang diserap oleh suatu zat berbeda dengan cahaya yang ditangkap oleh mata manusia. Cahaya yang tampak atau cahaya yang dilihat dalam kehidupan sehari-hari disebut warna komplementer. Misalnya suatu zat akan berwarna orange bila menyerap warna biru dari spektrum sinar tampak dan suatu zat akan berwarna hitam bila menyerap semua warna yang terdapat pada spektrum sinar tampak. Panjang gelombang maksimum ini berada pada kisaran panjang gelombang antosianin yaitu antara 465 sampai 550 nm (Subodro dan Sunaryo, 2013).

Auksokrom adalah gugus jenuh yang bila terikat pada gugus kromofor mengubah panjang gelombang dan intensitas serapan maksimum. Ciri auksokrom adalah yang langsung terikat pada kromofor, misal: -OCH3, -CL, -OH, NH2. Senyawa yang memiliki gugus kromofor dan auksokrom yang mampu menyerap energi sehingga dapat ditetapkan dengan metode Spektrofotometri UV-Vis (Retnani, et al, 2010).

Geseran λmaks menuju panjang gelombang yang lebih panjang dikenal sebagai geseran batokromik atau geseran merah, karena merah adalah bagian ujung pada panjang gelombang yang panjang, spectrum tampak. Geseran batokromik biasanya terjadi karena kerja auksokrom. Geseran λmaks menuju panjang gelombang yang lebih pendek disebut dengan efek hipsokromik atau geseran biru dan biasanya terjadi jika senyawa dengan auksokrom basa terion, dan pasangan electron menyendirinya tidak lagi berinteraksi dengan electron-elektron kromofor. Efek hipsokromik juga dapat terlihat jika spectrum digunakan pada pelarut-pelarut berbeda atau pada suhu elevasi. Jenis geseran spectrum ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi obat-obatan yang mengandung gugus fungsi amin aromatic, misalnya anesterik benzokain local (Cairns, 2004).

Flavonoid merupakan senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada tanaman hijau, kecuali alga. Flavonoid yang lazim ditemukan pada tumbuhan tingkat tinggi (Angiospermae) adalah flavon dan flavonol dengan C- dan O-glikosida, isoflavon C- dan Oglikosida, flavanon C- dan O-glikosida, khalkon dengan C- dan O-glikosida, dan dihidrokhalkon, proantosianidin dan antosianin, auron O-glikosida, dan dihidroflavonol O-glikosida. Golongan flavon, flavonol, flavanon, isoflavon, dan khalkon juga sering ditemukan dalam bentuk aglikonnya. Flavonoid tersusun dari dua cincin aromatis yang dapat atau tidak dapat membentuk cincin ketiga dengan susunan C6-C3-C6. Struktur flavonoid:

Flavonoid merupakan termasuk senyawa fenolik alam yang potensial sebagai antioksidan dan mempunyai bioaktifitas sebagai obat (Rohyami, 2008).

C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah :
  • Batang pengaduk
  • Erlenmeyer 250 ml
  • Filler
  • Gelas ukur 10 ml
  • Kuvet
  • Labu takar 50 ml
  • Lumpang dan alu
  • Pipet tetes
  • Sendok tanduk
  • Spektrofotometer UV-Vis

2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah :
  • Akuades
  • Alkohol
  • Larutan Besi III klorida (Fecl3) 
  • Larutan NaNO3
  • Larutan NaOH 25%
  • Obat Supravit
  • Tissue 

D. URAIAN BAHAN
a. Aquadest (Ditjen POM, 1979 : Hal 96) 
Nama resmi : AQUA DESTILLATA
Nama lain : Air suling
BM/RM : 18,02 /H2O
Rumus struktur : 
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwrna, tidak berasa, dan tidak berbau
Kelarutan : -
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai pelarut

b. Etanol (Ditjen POM, 1979 : Hal. 65)
Nama resmi : AETHANOLUM
Nama lain : Etanol, alkohol
Rumus kimia : C2H6O
Rumus struktur : 
Pemerian : Cairan tak berwarna, jernih,mudah menguap dan mudah bergerak, bau khas, rasa panas. Mudah terbakar dengan memberikan nyala biru yang tidak berasap.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P dan dalam eter P
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya ditempat sejuk, jauh dari nyala
Kegunaan : Antiseptikum / sebagai pelarut

c. Larutan NaOH (Ditjen POM, 1979 : Hal. 412).
Nama resmi : NATRIUM HYDROXYDUM
Nama lain : Natrium Hidroksida
RM/BM : NaOH/40,00
Rumus struktur : 
Pemerian : Bentuk batang , putiran, masa hablur atau keping, kering, keras, rapuh dan menunjukkan susunan hablur, putih, mudah meleleh basah, sangat alkalis dan korosif, segera menyerap karbon dioksida.
Kelarutan : Mudah larut dalam air, dalam etanol.
Warna : Padatan putih, tidak berbau berentuk pelet/flakes.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Sebagai pemberi suasana basa pada pembuatan iodoform dan dapat melembutkan kulit.

d. Natrium nitrit (Ditjen POM, 1979 : Hal. 714)
Nama resmi : NATRII NITRIT
Nama lain : Natrium nitrit
RM/BM : NaNO2/69,00
Pemerian : Hablur atau granul, tidak berwarna atau putih kekuningan, rapuh.
Kelarutan : Larut dalam 1,5 bagian air, agak sukar larut dalam etanol 95% P.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
Kegunaan : Sebagai penitran.

e. FeCl3 (Ditjen POM, 1979 : Hal 659)
Nama resmi : FERRI (III) KLORIDA
Nama lain : Besi (III) klorida
Rumus kimia : FeCl3
Rumus struktur :
Pemerian : hablur atau serbuk hablur; hitam kehijauan; bebas warna jingga dari aram hidrat yang telah terpengaruh oleh kelembaban.
Kelarutan : larut dalam air, larutan beropalesensi berwarna jingga.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Sebagai pengompleks

f. Rutin (Farmakope Konvensional US, 2009)
Nama resmi : Rutin
Nama lain : Rutoside, Rutoside Trihydrate, Rutin Trihydrate
RM/BM : C27H30O16 . 3H2O/664,56
Pemerian : berwarna kuning atau kuning kehijauan, bubuk kristal; tidak berbau
Kelarutan : praktis tidak larut dalam air, larut dalam disulfida, dalam metil alkohol, dalam piridin, dalam formamida, dalam larutan basa, dan amonia; sedikit larut dalam alkohol, dalam aseton, dan etil asetat, praktis tidak larut dalam kloroform, benzene, karbon bisulfide, dan dalam eter.
Kegunaan : sebagai sampel.

E. PROSEDUR KERJA
1. Pembuatan Larutan Induk
LAPORAN PENETAPAN KADAR FLAVONOID SECARA SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL
F. HASIL PENGAMATAN
1. Tabel Pengamatan
LAPORAN PENETAPAN KADAR FLAVONOID SECARA SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL

G. PEMBAHASAN
Analisis data kuantitatif adalah pengolahan data dengan kaidah-kaidah matematik terhadap data angka atau numeric. Angka dapat merupakan representasi dari suatu kuantita maupun angka sebagai hasil konversi dari suatu kualita, yakni data kualitatif yang dikuantifikasikan. Jika yang dianalisis adalah data kuantitatif murni (tinggi, berat, luas, umur, jumlah penduduk, dan sejenisnya) maka analisis menjadi lebih mungkin dilakukan dengan tepat, karena data sudah merupakan substansinya sendiri. Namun jika data kuantitatif yang berasal dari konversi data kualitatif (sikap yang diskalakan, motivasi, opini orang, dan sejenisnya), maka analisisnya menjadi rumit karena kita harus memperhitungkan validitas konversinya. Analisis data dimaksudkan untuk memahami apa yang terdapat di balik semua data tersebut, mengelompokannya, meringkasnya menjadi suatu yang kompak dan mudah dimengerti, serta menemukan pola umum yang timbul dari data tersebut. 

Metode yang digunakan adalah spektrofotometri. Spektrofotometri merupakan suatu metoda analisa yang didasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombamg spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dengan detektor fototube. Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitan atau absorban suatu sampel sebagai fungsi panjang gelombang. 

Spektrofotometer yang dipakai dalam praktikum ini adalah spektrofotometer UV Vis, yang merupakan alat dengan teknik spektrofotometer pada daerah ultraviolet dan sinar tampak. Alat ini digunakan guna mengukur serapan sinar ultraviolet atau sinar tampak oleh suatu materi dalam bentuk larutan. Konsentrasi larutan yang dianalisis sebanding dengan jumlah sinar yang diserap oleh zat yang terdapat dalam larutan tersebut. Dalam hal ini. Hukum Lambert-Beer dapat menyatakan hubungan antara serapan cahaya dengan konsentrasi zat dalam larutan. Spektorofotometri ini mengukur dan membaca melalui gugus kromofor. Spektrum absorpsi yang diperoleh dari hasil analisis dapat memberikan informasi panjang gelombang dengan absorban maksimum dari senyawa atau unsur. Panjang gelombang dan absorban yang dihasilkan selama proses analisis digunakan untuk membuat kurva standar. Konsentrasi suatu senyawa atau unsure dapat dihitung dari kurva standar yang diukur pada panjang gelombang dengan absorban maksimum. 

Sampel yang digunakan pada praktikum ini adalah Supravit yang mengandung rutin. Rutin ini merupakan senyawa yang mengandung flavonoid. Senyawa flavonoid adalah suatu kelompok senyawa fenol yang terbesar yang ditemukan di alam. Senyawa-senyawa ini merupakan zat warna merah, ungu, biru, dan sebagai zat warna kuning yang ditemukan dalam tumbuhan. 

Sampel senyawa rutin ini ditimbang 100 mg lalu dilarutkan dengan menggunakan etanol hingga tanda tera. Apabila larutan telah homogen, dimasukkan masing-masing 10 ml kedalam labu takar, ditambahkan akuades dan NaNO3. Larutan tersebut kemudian didiamkan selama 6 menit. Larutan sampel tersebut kemudian ditambah dengan FeCl3 dan didiamkan lagi selama 5 menit. Larutan sampel kemudian dtambahkan NaOH dan akuades kemudian didiamkan 15 menit.

Larutan sampel tersebut diukur absorbansinya menggunakan panjang gelombang 545 nm. Namun pada saat pengukuran, tidak didapatkan absorbansi yang sesuai, hal ini disebabkan bahan yang digunakan telah rusak. 

H. KESIMPULAN
Kesimpulan dari percobaan ini adalah kadar rutin dalam supravit adalah 1,65 ppm.

DAFTAR PUSTAKA
Ditjen POM, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Depkes RI, Jakarta.

Ditjen POM, 1979, Farmakope Indonesia Edisi IV, Depkes RI, Jakarta.

Retnani, N.I.D., Pri, I.U., dan Didik S., 2010, Analisis Kuantitatif Tablet Levofloksasin Merk Dan Generik Dalam Plasma Manusia Secara In Vitro Dengan Metode Spektrofotometri Ultravioletvisibel, Pharmacy, Volume 7 Nomor 1.

Rohyami, Yuli, 2008, Penentuan Kandungan Flavonoid dari Ekstrak Metanol Daging Buah Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa Scheff Boerl), Logika, Volume 5 Nomor 1.

Subodro R., dan Sunaryo, 2013, Ekstraksi Pewarna Bahan Antosianin Kulit Terong Ungu Sebagai Pewarna Alami Pada Sel Surya Dye Dye-Sensitized Solar Cell (Dssc), Politeknosains, Volume XI Nomor 2.

Wibowo, W.A., Catur, E.W., Much. Azam, Sofjan F., 2008, Rancang Bangun Pengatur Cermin Sebagai Komponen Gerak Interferometer Pada Spektroskopi FTIR, Berkala Fisika, Volume 11 Nomor 3.

LAPORAN PENETAPAN KADAR FLAVONOID SECARA SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL

LAPORAN PENETAPAN KADAR FLAVONOID SECARA SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS II
PERCOBAAN V
PENETAPAN KADAR FLAVONOID SECARA SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL

A. TUJUAN
Tujuan dari percobaan adalah untuk menetapkan kadar flavonoid dengan menggunakan spektrofotometri visibel.

B. LANDASAN TEORI
Metode spektroskopi merupakan suatu cara untuk menentukan komposisi kimiawi dari suatu senyawa organik. Terdapat beberapa metode spektroskopi mulai dari Spektroskopi Serapan Atom (AAS), Spektroskopi Ultra Ungu/Sinar Tampak (UV/Vis Spectrophotometer), Spektroskopi Infra Merah (Infra Red Spectrophotometer) maupun Spektroskopi Massa (Mass Spectrophotometer). Semua metode tersebut mempunyai tujuan sama tetapi menggunakan cara yang berbeda-beda. Penentuan komposisi kimiawi senyawa bergantung pada bentuk spektrum yang dihasilkan oleh peralatan spektroskopi tersebut. Metode-metode tersebut memiliki bagian utama berupa perangkat optik seperti spektrometer atau monokromator (Wibowo, 2008).

Spektrofotometri merupakan salah satu metode dalam kimia analisis yang digunakan untuk menentukan komposisi suatu sampel baik secara kuantitatif dan kualitatif yang didasarkan pada interaksi antara materi dengan cahaya. Peralatan yang digunakan dalam spektrofotometri disebut Spektrofotometer. Cahaya yang dimaksud dapat berupa cahaya visibel, UV dan inframerah, sedangkan materi dapat berupa atom dan molekul namun yang lebih berperan adalah elektron valensi. Spektrofotometri visible disebut juga spektrofotometri sinar tampak. Yang dimaksud sinar tampak adalah sinar yang dapat dilihat oleh mata manusia. Cahaya yang dapat dilihat oleh mata manusia adalah cahaya dengan panjang gelombang 400-800 nm dan memiliki energi sebesar 299–149 kJ/mol (Subodro dan Sunaryo, 2013).

Cahaya yang diserap oleh suatu zat berbeda dengan cahaya yang ditangkap oleh mata manusia. Cahaya yang tampak atau cahaya yang dilihat dalam kehidupan sehari-hari disebut warna komplementer. Misalnya suatu zat akan berwarna orange bila menyerap warna biru dari spektrum sinar tampak dan suatu zat akan berwarna hitam bila menyerap semua warna yang terdapat pada spektrum sinar tampak. Panjang gelombang maksimum ini berada pada kisaran panjang gelombang antosianin yaitu antara 465 sampai 550 nm (Subodro dan Sunaryo, 2013).

Auksokrom adalah gugus jenuh yang bila terikat pada gugus kromofor mengubah panjang gelombang dan intensitas serapan maksimum. Ciri auksokrom adalah yang langsung terikat pada kromofor, misal: -OCH3, -CL, -OH, NH2. Senyawa yang memiliki gugus kromofor dan auksokrom yang mampu menyerap energi sehingga dapat ditetapkan dengan metode Spektrofotometri UV-Vis (Retnani, et al, 2010).

Geseran λmaks menuju panjang gelombang yang lebih panjang dikenal sebagai geseran batokromik atau geseran merah, karena merah adalah bagian ujung pada panjang gelombang yang panjang, spectrum tampak. Geseran batokromik biasanya terjadi karena kerja auksokrom. Geseran λmaks menuju panjang gelombang yang lebih pendek disebut dengan efek hipsokromik atau geseran biru dan biasanya terjadi jika senyawa dengan auksokrom basa terion, dan pasangan electron menyendirinya tidak lagi berinteraksi dengan electron-elektron kromofor. Efek hipsokromik juga dapat terlihat jika spectrum digunakan pada pelarut-pelarut berbeda atau pada suhu elevasi. Jenis geseran spectrum ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi obat-obatan yang mengandung gugus fungsi amin aromatic, misalnya anesterik benzokain local (Cairns, 2004).

Flavonoid merupakan senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada tanaman hijau, kecuali alga. Flavonoid yang lazim ditemukan pada tumbuhan tingkat tinggi (Angiospermae) adalah flavon dan flavonol dengan C- dan O-glikosida, isoflavon C- dan Oglikosida, flavanon C- dan O-glikosida, khalkon dengan C- dan O-glikosida, dan dihidrokhalkon, proantosianidin dan antosianin, auron O-glikosida, dan dihidroflavonol O-glikosida. Golongan flavon, flavonol, flavanon, isoflavon, dan khalkon juga sering ditemukan dalam bentuk aglikonnya. Flavonoid tersusun dari dua cincin aromatis yang dapat atau tidak dapat membentuk cincin ketiga dengan susunan C6-C3-C6. Struktur flavonoid:

Flavonoid merupakan termasuk senyawa fenolik alam yang potensial sebagai antioksidan dan mempunyai bioaktifitas sebagai obat (Rohyami, 2008).

C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah :
  • Batang pengaduk
  • Erlenmeyer 250 ml
  • Filler
  • Gelas ukur 10 ml
  • Kuvet
  • Labu takar 50 ml
  • Lumpang dan alu
  • Pipet tetes
  • Sendok tanduk
  • Spektrofotometer UV-Vis

2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah :
  • Akuades
  • Alkohol
  • Larutan Besi III klorida (Fecl3) 
  • Larutan NaNO3
  • Larutan NaOH 25%
  • Obat Supravit
  • Tissue 

D. URAIAN BAHAN
a. Aquadest (Ditjen POM, 1979 : Hal 96) 
Nama resmi : AQUA DESTILLATA
Nama lain : Air suling
BM/RM : 18,02 /H2O
Rumus struktur : 
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwrna, tidak berasa, dan tidak berbau
Kelarutan : -
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai pelarut

b. Etanol (Ditjen POM, 1979 : Hal. 65)
Nama resmi : AETHANOLUM
Nama lain : Etanol, alkohol
Rumus kimia : C2H6O
Rumus struktur : 
Pemerian : Cairan tak berwarna, jernih,mudah menguap dan mudah bergerak, bau khas, rasa panas. Mudah terbakar dengan memberikan nyala biru yang tidak berasap.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P dan dalam eter P
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya ditempat sejuk, jauh dari nyala
Kegunaan : Antiseptikum / sebagai pelarut

c. Larutan NaOH (Ditjen POM, 1979 : Hal. 412).
Nama resmi : NATRIUM HYDROXYDUM
Nama lain : Natrium Hidroksida
RM/BM : NaOH/40,00
Rumus struktur : 
Pemerian : Bentuk batang , putiran, masa hablur atau keping, kering, keras, rapuh dan menunjukkan susunan hablur, putih, mudah meleleh basah, sangat alkalis dan korosif, segera menyerap karbon dioksida.
Kelarutan : Mudah larut dalam air, dalam etanol.
Warna : Padatan putih, tidak berbau berentuk pelet/flakes.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Sebagai pemberi suasana basa pada pembuatan iodoform dan dapat melembutkan kulit.

d. Natrium nitrit (Ditjen POM, 1979 : Hal. 714)
Nama resmi : NATRII NITRIT
Nama lain : Natrium nitrit
RM/BM : NaNO2/69,00
Pemerian : Hablur atau granul, tidak berwarna atau putih kekuningan, rapuh.
Kelarutan : Larut dalam 1,5 bagian air, agak sukar larut dalam etanol 95% P.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
Kegunaan : Sebagai penitran.

e. FeCl3 (Ditjen POM, 1979 : Hal 659)
Nama resmi : FERRI (III) KLORIDA
Nama lain : Besi (III) klorida
Rumus kimia : FeCl3
Rumus struktur :
Pemerian : hablur atau serbuk hablur; hitam kehijauan; bebas warna jingga dari aram hidrat yang telah terpengaruh oleh kelembaban.
Kelarutan : larut dalam air, larutan beropalesensi berwarna jingga.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Sebagai pengompleks

f. Rutin (Farmakope Konvensional US, 2009)
Nama resmi : Rutin
Nama lain : Rutoside, Rutoside Trihydrate, Rutin Trihydrate
RM/BM : C27H30O16 . 3H2O/664,56
Pemerian : berwarna kuning atau kuning kehijauan, bubuk kristal; tidak berbau
Kelarutan : praktis tidak larut dalam air, larut dalam disulfida, dalam metil alkohol, dalam piridin, dalam formamida, dalam larutan basa, dan amonia; sedikit larut dalam alkohol, dalam aseton, dan etil asetat, praktis tidak larut dalam kloroform, benzene, karbon bisulfide, dan dalam eter.
Kegunaan : sebagai sampel.

E. PROSEDUR KERJA
1. Pembuatan Larutan Induk
LAPORAN PENETAPAN KADAR FLAVONOID SECARA SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL
F. HASIL PENGAMATAN
1. Tabel Pengamatan
LAPORAN PENETAPAN KADAR FLAVONOID SECARA SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL

G. PEMBAHASAN
Analisis data kuantitatif adalah pengolahan data dengan kaidah-kaidah matematik terhadap data angka atau numeric. Angka dapat merupakan representasi dari suatu kuantita maupun angka sebagai hasil konversi dari suatu kualita, yakni data kualitatif yang dikuantifikasikan. Jika yang dianalisis adalah data kuantitatif murni (tinggi, berat, luas, umur, jumlah penduduk, dan sejenisnya) maka analisis menjadi lebih mungkin dilakukan dengan tepat, karena data sudah merupakan substansinya sendiri. Namun jika data kuantitatif yang berasal dari konversi data kualitatif (sikap yang diskalakan, motivasi, opini orang, dan sejenisnya), maka analisisnya menjadi rumit karena kita harus memperhitungkan validitas konversinya. Analisis data dimaksudkan untuk memahami apa yang terdapat di balik semua data tersebut, mengelompokannya, meringkasnya menjadi suatu yang kompak dan mudah dimengerti, serta menemukan pola umum yang timbul dari data tersebut. 

Metode yang digunakan adalah spektrofotometri. Spektrofotometri merupakan suatu metoda analisa yang didasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombamg spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dengan detektor fototube. Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitan atau absorban suatu sampel sebagai fungsi panjang gelombang. 

Spektrofotometer yang dipakai dalam praktikum ini adalah spektrofotometer UV Vis, yang merupakan alat dengan teknik spektrofotometer pada daerah ultraviolet dan sinar tampak. Alat ini digunakan guna mengukur serapan sinar ultraviolet atau sinar tampak oleh suatu materi dalam bentuk larutan. Konsentrasi larutan yang dianalisis sebanding dengan jumlah sinar yang diserap oleh zat yang terdapat dalam larutan tersebut. Dalam hal ini. Hukum Lambert-Beer dapat menyatakan hubungan antara serapan cahaya dengan konsentrasi zat dalam larutan. Spektorofotometri ini mengukur dan membaca melalui gugus kromofor. Spektrum absorpsi yang diperoleh dari hasil analisis dapat memberikan informasi panjang gelombang dengan absorban maksimum dari senyawa atau unsur. Panjang gelombang dan absorban yang dihasilkan selama proses analisis digunakan untuk membuat kurva standar. Konsentrasi suatu senyawa atau unsure dapat dihitung dari kurva standar yang diukur pada panjang gelombang dengan absorban maksimum. 

Sampel yang digunakan pada praktikum ini adalah Supravit yang mengandung rutin. Rutin ini merupakan senyawa yang mengandung flavonoid. Senyawa flavonoid adalah suatu kelompok senyawa fenol yang terbesar yang ditemukan di alam. Senyawa-senyawa ini merupakan zat warna merah, ungu, biru, dan sebagai zat warna kuning yang ditemukan dalam tumbuhan. 

Sampel senyawa rutin ini ditimbang 100 mg lalu dilarutkan dengan menggunakan etanol hingga tanda tera. Apabila larutan telah homogen, dimasukkan masing-masing 10 ml kedalam labu takar, ditambahkan akuades dan NaNO3. Larutan tersebut kemudian didiamkan selama 6 menit. Larutan sampel tersebut kemudian ditambah dengan FeCl3 dan didiamkan lagi selama 5 menit. Larutan sampel kemudian dtambahkan NaOH dan akuades kemudian didiamkan 15 menit.

Larutan sampel tersebut diukur absorbansinya menggunakan panjang gelombang 545 nm. Namun pada saat pengukuran, tidak didapatkan absorbansi yang sesuai, hal ini disebabkan bahan yang digunakan telah rusak. 

H. KESIMPULAN
Kesimpulan dari percobaan ini adalah kadar rutin dalam supravit adalah 1,65 ppm.

DAFTAR PUSTAKA
Ditjen POM, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Depkes RI, Jakarta.

Ditjen POM, 1979, Farmakope Indonesia Edisi IV, Depkes RI, Jakarta.

Retnani, N.I.D., Pri, I.U., dan Didik S., 2010, Analisis Kuantitatif Tablet Levofloksasin Merk Dan Generik Dalam Plasma Manusia Secara In Vitro Dengan Metode Spektrofotometri Ultravioletvisibel, Pharmacy, Volume 7 Nomor 1.

Rohyami, Yuli, 2008, Penentuan Kandungan Flavonoid dari Ekstrak Metanol Daging Buah Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa Scheff Boerl), Logika, Volume 5 Nomor 1.

Subodro R., dan Sunaryo, 2013, Ekstraksi Pewarna Bahan Antosianin Kulit Terong Ungu Sebagai Pewarna Alami Pada Sel Surya Dye Dye-Sensitized Solar Cell (Dssc), Politeknosains, Volume XI Nomor 2.

Wibowo, W.A., Catur, E.W., Much. Azam, Sofjan F., 2008, Rancang Bangun Pengatur Cermin Sebagai Komponen Gerak Interferometer Pada Spektroskopi FTIR, Berkala Fisika, Volume 11 Nomor 3.