LAPORAN PENETAPAN KADAR PARASETAMOL SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET - ElrinAlria
LAPORAN PENETAPAN KADAR PARASETAMOL SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET

LAPORAN PENETAPAN KADAR PARASETAMOL SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET

A. TUJUAN
Tujuan dari percobaan ini adalah menetapkan kadar parasetamol secara spektrofotometri UV. 

B. LANDASAN TEORI
Metoda spektrofotometri uv-vis merupakan salah satu metoda analisis kimia untuk menentukan unsur logam, baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif. Analisis secara kualitatif berdasarkan pada panjang gelombang yang ditunjukkan oleh puncak spektrum (190 nm s/d 900 nm), sedangkan analisis secara kuantitatif berdasarkan pada penurunan intensitas cahaya yang diserap oleh suatu media (Fatimah, 2009).

Spektrometer menghasilkan sinar dari spectrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau diabsorbsi. Kelebihan spectrometer dibandingkan fotometer adalah panjang gelombang dari sinar putih dapat lebih terseleksi dan ini diperoleh dengan alat pengurai seperti prisma, grating, atau celah optis. Pada fotometer filter dari berbagai warna yang mempunyai spesifikasi melewatkan trayek panjang gelombang tertentu. Pada fotometer filter tidak mungkin diperoleh panjang gelombang yang benar-benar monokromatis, melainkan suatu trayek panjang gelombang 30-40 nm. Sedangkan pada spektrofotometer, panjang gelombang yang benar-benar terseleksi dapatdiperoleh dengan bantuan alat pengurai cahaya seperti prisma. Suatu spektrofotometer tersusun dari sumber spektrum tampak yang kontinyu, monokromator, sel pengabsorbsi untuk larutan sampel atau blanko dan suatu alat untuk mengukur perbedaan absorbsi antara sampel dan blanko ataupun pembanding (Khopkar, 2002).

Panjang gelombang cahaya UV atau tampak tergantung pada mudahnya eksitasi electron. Molekul-molekul yang memerlukan lebih banyak energi untuk bertransisi, akan menyerap pada panjang gelombang yang lebioh pendek. Molekul yang memerlukan energi yang lebih kecil akan menyerap panjang gelombang yang lebih besar. Sehingga senyawa yang menyerap cahaya dalam daerah tampak (senyawa berwarna) memiliki electron yang lebih mudah bertransisi daripada senyawa yang menyerap pada panjang gelombang UV yang lebih pendek (Fatimah, 2003).

Parasetamol di kenal dengan nama lain asetaminofen merupakan turunan para aminofenol yang memiliki efek analgesik serupa dengan salisilat yaitumenghilangkan atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang. Parasetamolmenurunkan suhu tubuh dengan mekanisme yang diduga juga berdasarkanefek sentral seperti salisilat. Parasetamol merupakan penghambat biosintesis prostaglandin yang lemah. Penggunaan parasetamol mempunyai beberapakeuntungan dibandingkan dengan derivat asam salisilat yaitu tidak ada efekiritasi lambung, gangguan pernafasan, gangguan keseimbangan asam basa. DiIndonesia penggunaan parasetamol sebagai analgesik dan antipiretik, telahmenggantikan penggunaan asam salisilat. Namun penggunaan dosis tinggi dalam waktu lama dapat menimbulkan efek sampingmethemoglobin dan hepatotoksik (Siswandono & Soekardjo, 1995).

C. ALAT DAN BAHAN
1. ALAT
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah :
a) Batang pengaduk
b) Filler
c) Gelas kimia
d) Kuvet
e) Labu takar 100 ml, dan 100 ml
f) Lumpang dan alu
g) Mikropipet 25 µL
h) Pipet tetes
i) Pipet ukur
j) Sendok tanduk
k) Spektrofotometer UV-Vis
l) Tabung reaksi
m) Timbangan analitik

2. BAHAN
Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah :
a) Parasetamol
b) Aquades
c) Kloroform
d) Sampel obat yang mengandung parasetamol
e) Tissue

D. URAIAN BAHAN
1. Akuades (Ditjen POM, 1979 : 96)
Nama Resmi : Aqua Destillata
Nama Lain : Air Suling
RM/BM : H2O/18,00
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa. 
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Sebagai pelarut

2. Kloroform (Ditjen POM, 1979 : 151)
Nama Resmi : Chloroformum
Nama Lain : Kloroform
RM/BM : CHCl3/119,38
Pemerian : Cairan mudah menguap; tidak berwarna, bau khas; rasa manis dan membakar. 
Kelarutan : Larut dalam lebih kurang 200 bagian air, mudah larut dalam etanol mutlak, dalam eter, dalam kloroform, dalam sebagian besar pelarut organik, dalam minyak atsiri dan dalam minyak lemak. 
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik bersumbat kaca, terlindung dari cahaya.
Kegunaan : Sebagai pereaksi

3. Parasetamol (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : Acetaminophen
Sinonim : Paracetamol
Rumus molekul : C8H9NO2
Berat molekul : 151,16
Pemerian : Berupa hablur atau serbuk hablur putih, rasa pahit,berbau, serbuk kristal dengan sedikit rasa pahit.
Kelarutan : Larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol (95 %)P, dalam 13 bagian aseton P, dalam 40 bagian gliserol P dan dalam 9 bagian propilenglikol P; larut dalam larutan alkalihidroksida.
Farmakodinamik : Efek analgesik parasetamol yaitu menghilangkan atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang. Parasetamol menurunkan suhu tubuh dengan mekanisme yang diduga berdasarkan efek sentral. Efek anti inflamasinya sangat lemah.
Farmakokinetik : Parasetamol diabsorbsi cepat dan sempurna melalui saluran cerna.  

E. PROSEDUR KERJA
1. Pembuatan Larutan Induk

LAPORAN PENETAPAN KADAR PARASETAMOL SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET


F. HASIL PENGAMATAN
1. Grafik Panjang Gelombang
LAPORAN PENETAPAN KADAR PARASETAMOL SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET
G. PEMBAHASAN
Parasetamol merupakan metabolit henasen dengan efek antipiuretik yang ditimbulkan oleh gugus aminobenzena dengan efek anlagetik parasetamol menghilangkan atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang. Efek antiinflamasi sangat lemah. Parasetamol diabsorbsi cepat dan sempurna melalui sluran cerna. Konsentrasi tertinggi dalam plasma dicapai dalam waktu ½ jam dan masa penuh plasma antara 1-3 jam. Dalam plasma 25 %. Parasetamol terikat plasma. Obat ini dimetabolisme oleh enzim mikrosom di hati.

Pada percobaan ini dilakukan penentuan kadar campuran multikomponen parasetamol dengan menggunakan spektrofotometri ultraviolet. Prinsip dasar Spektrofotometri UV-Vis adalah serapan cahaya. Bila cahaya jatuh pada senyawa, maka sebagian dari cahaya diserap oleh molekul-molekul sesuai dengan struktur dari molekul senyawa tersebut. Serapan cahaya oleh molekul dalam daerah spektrum UV-Vis tergantung pada struktur elektronik dari molekul. Spektra UV-Vis dari senyawa-senyawa organik berkaitan erat dengan transisi-transisi diantara tingkatan-tingkatan tenaga elektronik. Radiasi ultraviolet dan sinar tampak diabsorpsi oleh molekul organik aromatik, molekul yang mengandung elektron-π terkonjugasi dan atau atom yang mengandung elektron-n, menyebabkan transisi elektron di orbital terluarnya dari tingkat energi elektron tereksitasi lebih tinggi. Besarnya serapan radiasi tersebut sebanding dengan banyaknya molekul analit yang mengabsorpsi sehingga dapat digunakan untuk analisis kuantitatif.

Pemilihan spektrofotometer UV-Vis adalah karena spektrofotometer merupakan instrument analisis yang tidak rumit, selektif, serta kepekaan dan ketelitiannya tinggi. Selain itu, senyawa asetosal, parasetamol dan kofein yang akan dianalisis memiliki kromofor pada strukturnya berupa ikatan rangkap terkonjugasi dan juga merupakan senyawa aromatik karena memiliki gugus aromatik sehingga memenuhi syarat senyawa yang dapat dianalisis menggunakan spektrofotometri UV-Vis.

Dalam percobaan ini, metode analisis yang digunakan adalah metode kurva kalibrasi. Dalam metode ini dibuat suatu larutan standar dari asetosal, parasetamol dan kofein dengan berbagai konsentrasi dan absorbansi dari larutan tersebut diukur spektrofotometer UV-Vis. Langkah selanjutnya adalah membuat grafik antara konsentrasi(C) dengan absorbansi (A) yang merupakan garis lurus yang melewati titik nol dengan slobe = atau = a.b. konsentrasi larutan sampel dapat dicari setelah absorbansi larutan sampel diukur dan diintrapolasi ke dalam kurva kalibrasi atau dimasukkan ke dalam persamaan garis lurus yang diperoleh dengan menggunakan program regresi linear pada kurva kalibrasi.

Setelah persamaan garis diperoleh maka kadar parasetamol. Pengukuran konsentrasi obat dalam sampel berdasarkan hokum lambert-beer. Hukum Lambert-Beer menyatakan hubungan linieritas antara absorban dengan konsentrasi larutan analit dan berbanding terbalik dengan transmitan. Dalam hukum Lambert-Beer tersebut ada beberapa pembatasan, yaitu : Sinar yang digunakan dianggap monokromatis; penyerapan terjadi dalam suatu volume yang mempunyai penampang yang sama; senyawa yang menyerap dalam larutan tersebut tidak tergantung terhadap yang lain dalam larutan tersebut; tidak terjadi fluorensensi atau fosforisensi ; serta indeks bias tidak tergantung pada konsentrasi larutan. Hasil perhitungan yaitu kadar parasetamol pada sediaan adalah 18,89 mg/ml. 

H. KESIMPULAN
Kesimpulan dari perobaan ini adalah kadar parasetamol adalah 18,89 mg/ml.
DAFTAR PUSTAKA
Fatimah Syamsul , Iis Haryati, dan Agus Jamaludin, 2009, “Pengaruh Uranium Terhadap analisis Thorium Menggunakan Spektrofotometer UV-Vis”, Seminar Nasional V, ISSN 1978-0176.

Huda Nurul, 2001, “Pemeriksaan Kinerja Spektrofotometer UV-Vis GBC 911 A Mengunakan Pewarna Tartrazine CL 19140”, Sigma Epsilon, ISSN 0853-9013.

Khopkar, S.M., 1990, Konsep Dasar Kimia Analitik, Universitas Indonesia Press : Jakarta. 

LAPORAN PENETAPAN KADAR PARASETAMOL SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET

LAPORAN PENETAPAN KADAR PARASETAMOL SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET

LAPORAN PENETAPAN KADAR PARASETAMOL SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET

A. TUJUAN
Tujuan dari percobaan ini adalah menetapkan kadar parasetamol secara spektrofotometri UV. 

B. LANDASAN TEORI
Metoda spektrofotometri uv-vis merupakan salah satu metoda analisis kimia untuk menentukan unsur logam, baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif. Analisis secara kualitatif berdasarkan pada panjang gelombang yang ditunjukkan oleh puncak spektrum (190 nm s/d 900 nm), sedangkan analisis secara kuantitatif berdasarkan pada penurunan intensitas cahaya yang diserap oleh suatu media (Fatimah, 2009).

Spektrometer menghasilkan sinar dari spectrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau diabsorbsi. Kelebihan spectrometer dibandingkan fotometer adalah panjang gelombang dari sinar putih dapat lebih terseleksi dan ini diperoleh dengan alat pengurai seperti prisma, grating, atau celah optis. Pada fotometer filter dari berbagai warna yang mempunyai spesifikasi melewatkan trayek panjang gelombang tertentu. Pada fotometer filter tidak mungkin diperoleh panjang gelombang yang benar-benar monokromatis, melainkan suatu trayek panjang gelombang 30-40 nm. Sedangkan pada spektrofotometer, panjang gelombang yang benar-benar terseleksi dapatdiperoleh dengan bantuan alat pengurai cahaya seperti prisma. Suatu spektrofotometer tersusun dari sumber spektrum tampak yang kontinyu, monokromator, sel pengabsorbsi untuk larutan sampel atau blanko dan suatu alat untuk mengukur perbedaan absorbsi antara sampel dan blanko ataupun pembanding (Khopkar, 2002).

Panjang gelombang cahaya UV atau tampak tergantung pada mudahnya eksitasi electron. Molekul-molekul yang memerlukan lebih banyak energi untuk bertransisi, akan menyerap pada panjang gelombang yang lebioh pendek. Molekul yang memerlukan energi yang lebih kecil akan menyerap panjang gelombang yang lebih besar. Sehingga senyawa yang menyerap cahaya dalam daerah tampak (senyawa berwarna) memiliki electron yang lebih mudah bertransisi daripada senyawa yang menyerap pada panjang gelombang UV yang lebih pendek (Fatimah, 2003).

Parasetamol di kenal dengan nama lain asetaminofen merupakan turunan para aminofenol yang memiliki efek analgesik serupa dengan salisilat yaitumenghilangkan atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang. Parasetamolmenurunkan suhu tubuh dengan mekanisme yang diduga juga berdasarkanefek sentral seperti salisilat. Parasetamol merupakan penghambat biosintesis prostaglandin yang lemah. Penggunaan parasetamol mempunyai beberapakeuntungan dibandingkan dengan derivat asam salisilat yaitu tidak ada efekiritasi lambung, gangguan pernafasan, gangguan keseimbangan asam basa. DiIndonesia penggunaan parasetamol sebagai analgesik dan antipiretik, telahmenggantikan penggunaan asam salisilat. Namun penggunaan dosis tinggi dalam waktu lama dapat menimbulkan efek sampingmethemoglobin dan hepatotoksik (Siswandono & Soekardjo, 1995).

C. ALAT DAN BAHAN
1. ALAT
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah :
a) Batang pengaduk
b) Filler
c) Gelas kimia
d) Kuvet
e) Labu takar 100 ml, dan 100 ml
f) Lumpang dan alu
g) Mikropipet 25 µL
h) Pipet tetes
i) Pipet ukur
j) Sendok tanduk
k) Spektrofotometer UV-Vis
l) Tabung reaksi
m) Timbangan analitik

2. BAHAN
Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah :
a) Parasetamol
b) Aquades
c) Kloroform
d) Sampel obat yang mengandung parasetamol
e) Tissue

D. URAIAN BAHAN
1. Akuades (Ditjen POM, 1979 : 96)
Nama Resmi : Aqua Destillata
Nama Lain : Air Suling
RM/BM : H2O/18,00
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa. 
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Sebagai pelarut

2. Kloroform (Ditjen POM, 1979 : 151)
Nama Resmi : Chloroformum
Nama Lain : Kloroform
RM/BM : CHCl3/119,38
Pemerian : Cairan mudah menguap; tidak berwarna, bau khas; rasa manis dan membakar. 
Kelarutan : Larut dalam lebih kurang 200 bagian air, mudah larut dalam etanol mutlak, dalam eter, dalam kloroform, dalam sebagian besar pelarut organik, dalam minyak atsiri dan dalam minyak lemak. 
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik bersumbat kaca, terlindung dari cahaya.
Kegunaan : Sebagai pereaksi

3. Parasetamol (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : Acetaminophen
Sinonim : Paracetamol
Rumus molekul : C8H9NO2
Berat molekul : 151,16
Pemerian : Berupa hablur atau serbuk hablur putih, rasa pahit,berbau, serbuk kristal dengan sedikit rasa pahit.
Kelarutan : Larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol (95 %)P, dalam 13 bagian aseton P, dalam 40 bagian gliserol P dan dalam 9 bagian propilenglikol P; larut dalam larutan alkalihidroksida.
Farmakodinamik : Efek analgesik parasetamol yaitu menghilangkan atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang. Parasetamol menurunkan suhu tubuh dengan mekanisme yang diduga berdasarkan efek sentral. Efek anti inflamasinya sangat lemah.
Farmakokinetik : Parasetamol diabsorbsi cepat dan sempurna melalui saluran cerna.  

E. PROSEDUR KERJA
1. Pembuatan Larutan Induk

LAPORAN PENETAPAN KADAR PARASETAMOL SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET


F. HASIL PENGAMATAN
1. Grafik Panjang Gelombang
LAPORAN PENETAPAN KADAR PARASETAMOL SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET
G. PEMBAHASAN
Parasetamol merupakan metabolit henasen dengan efek antipiuretik yang ditimbulkan oleh gugus aminobenzena dengan efek anlagetik parasetamol menghilangkan atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang. Efek antiinflamasi sangat lemah. Parasetamol diabsorbsi cepat dan sempurna melalui sluran cerna. Konsentrasi tertinggi dalam plasma dicapai dalam waktu ½ jam dan masa penuh plasma antara 1-3 jam. Dalam plasma 25 %. Parasetamol terikat plasma. Obat ini dimetabolisme oleh enzim mikrosom di hati.

Pada percobaan ini dilakukan penentuan kadar campuran multikomponen parasetamol dengan menggunakan spektrofotometri ultraviolet. Prinsip dasar Spektrofotometri UV-Vis adalah serapan cahaya. Bila cahaya jatuh pada senyawa, maka sebagian dari cahaya diserap oleh molekul-molekul sesuai dengan struktur dari molekul senyawa tersebut. Serapan cahaya oleh molekul dalam daerah spektrum UV-Vis tergantung pada struktur elektronik dari molekul. Spektra UV-Vis dari senyawa-senyawa organik berkaitan erat dengan transisi-transisi diantara tingkatan-tingkatan tenaga elektronik. Radiasi ultraviolet dan sinar tampak diabsorpsi oleh molekul organik aromatik, molekul yang mengandung elektron-π terkonjugasi dan atau atom yang mengandung elektron-n, menyebabkan transisi elektron di orbital terluarnya dari tingkat energi elektron tereksitasi lebih tinggi. Besarnya serapan radiasi tersebut sebanding dengan banyaknya molekul analit yang mengabsorpsi sehingga dapat digunakan untuk analisis kuantitatif.

Pemilihan spektrofotometer UV-Vis adalah karena spektrofotometer merupakan instrument analisis yang tidak rumit, selektif, serta kepekaan dan ketelitiannya tinggi. Selain itu, senyawa asetosal, parasetamol dan kofein yang akan dianalisis memiliki kromofor pada strukturnya berupa ikatan rangkap terkonjugasi dan juga merupakan senyawa aromatik karena memiliki gugus aromatik sehingga memenuhi syarat senyawa yang dapat dianalisis menggunakan spektrofotometri UV-Vis.

Dalam percobaan ini, metode analisis yang digunakan adalah metode kurva kalibrasi. Dalam metode ini dibuat suatu larutan standar dari asetosal, parasetamol dan kofein dengan berbagai konsentrasi dan absorbansi dari larutan tersebut diukur spektrofotometer UV-Vis. Langkah selanjutnya adalah membuat grafik antara konsentrasi(C) dengan absorbansi (A) yang merupakan garis lurus yang melewati titik nol dengan slobe = atau = a.b. konsentrasi larutan sampel dapat dicari setelah absorbansi larutan sampel diukur dan diintrapolasi ke dalam kurva kalibrasi atau dimasukkan ke dalam persamaan garis lurus yang diperoleh dengan menggunakan program regresi linear pada kurva kalibrasi.

Setelah persamaan garis diperoleh maka kadar parasetamol. Pengukuran konsentrasi obat dalam sampel berdasarkan hokum lambert-beer. Hukum Lambert-Beer menyatakan hubungan linieritas antara absorban dengan konsentrasi larutan analit dan berbanding terbalik dengan transmitan. Dalam hukum Lambert-Beer tersebut ada beberapa pembatasan, yaitu : Sinar yang digunakan dianggap monokromatis; penyerapan terjadi dalam suatu volume yang mempunyai penampang yang sama; senyawa yang menyerap dalam larutan tersebut tidak tergantung terhadap yang lain dalam larutan tersebut; tidak terjadi fluorensensi atau fosforisensi ; serta indeks bias tidak tergantung pada konsentrasi larutan. Hasil perhitungan yaitu kadar parasetamol pada sediaan adalah 18,89 mg/ml. 

H. KESIMPULAN
Kesimpulan dari perobaan ini adalah kadar parasetamol adalah 18,89 mg/ml.
DAFTAR PUSTAKA
Fatimah Syamsul , Iis Haryati, dan Agus Jamaludin, 2009, “Pengaruh Uranium Terhadap analisis Thorium Menggunakan Spektrofotometer UV-Vis”, Seminar Nasional V, ISSN 1978-0176.

Huda Nurul, 2001, “Pemeriksaan Kinerja Spektrofotometer UV-Vis GBC 911 A Mengunakan Pewarna Tartrazine CL 19140”, Sigma Epsilon, ISSN 0853-9013.

Khopkar, S.M., 1990, Konsep Dasar Kimia Analitik, Universitas Indonesia Press : Jakarta.