LAPORAN PENETAPAN KADAR VITAMIN C SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET - ElrinAlria
LAPORAN PENETAPAN KADAR VITAMIN C SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET

PENETAPAN KADAR VITAMIN C SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET

A. TUJUAN
Tujuan dari percobaan ini adalah menetapkan kadar vitamin C secara spektrofotometri UV. 

B. LANDASAN TEORI
Metode spektroskopi merupakan suatu cara untuk menentukan komposisi kimiawi dari suatu senyawa organik. Terdapat beberapa metode spektroskopi mulai dari Spektroskopi Serapan Atom (AAS), Spektroskopi Ultra Ungu/Sinar Tampak (UV/Vis Spectrophotometer), Spektroskopi Infra Merah (Infra Red Spectrophotometer) maupun Spektroskopi Massa (Mass Spectrophotometer). Semua metode tersebut mempunyai tujuan sama tetapi menggunakan cara yang berbeda-beda. Penentuan komposisi kimiawi senyawa bergantung pada bentuk spektrum yang dihasilkan oleh peralatan spektroskopi tersebut. Metode-metode tersebut memiliki bagian utama berupa perangkat optik seperti spektrometer atau monokromator (Wibowo, 2008).

Panjang gelombang cahaya UV atau tampak tergantung pada mudahnya eksitasi electron. Molekul-molekul yang memerlukan lebih banyak energi untuk bertransisi, akan menyerap pada panjang gelombang yang lebioh pendek. Molekul yang memerlukan energi yang lebih kecil akan menyerap panjang gelombang yang lebih besar. Sehingga senyawa yang menyerap cahaya dalam daerah tampak (senyawa berwarna) memiliki electron yang lebih mudah bertransisi daripada senyawa yang menyerap pada panjang gelombang UV yang lebih pendek (Fatimah, 2003).

Larutan senyawa berwarna mampu menyerap sinar tampak yang melalui larutan tersebut. Jumlah intensitas sinar yang diserap tergantung pada macam yang ada di dalam larutan, konsentrasi panjang jalan dan intensitas sinar yang diserap dinyatakan dalam Hukum Lambert yang sudah dijelaskan di atas. Warna zat yang menyerap menentukan panjang gelombang sinar yang akan diserap, warna yang diserap merupakan warna komplemen dari warna yang terlihat oleh mata ( Khopkar, 1990 ).

Vitamin C merupakan senyawa kristal putih yang sangat larut dalam air. Vitamin C berperan dalam mengendalikan infeksi dan respon tubuh terhadap stress. Di dalam vitamin C juga ditemukan zat aktif antioksidan yang dapat menetralisir radikal bebas yang berbahaya, membantu membuat kolagen, diperlukan untuk kesehatan tulang, gigi, gusi dan pembuluh darah (Izuagie, 2007). Menurut Taylor 1993, Vitamin C adalah salah satu zat gizi yang berperan sebagai antioksidan dan efektif mengatasi radikal bebas yang dapat merusak sel atau jaringan, termasuk melindungi lensa dari kerusakan oksidatif yang ditimbulkan oleh radiasi. Status vitamin C seseorang sangat tergantung dari usia, jenis kelamin, asupan vitamin C harian, kemampuan absorpsi dan ekskresi, serta adanya penyakit tertentu. Rendahnya asupan serat dapat mempengaruhi asupan vitamin C karena bahan makanan sumber serat dan buah-buahan juga merupakan sumber vitamin C (Karinda. 2013). Suplemen vitamin C diantaranya adalah kombinasi vitamin C dan bioflavonoid, dipasaran diantaranya adalah Ester C. Bioflavonoid berfungsi meningkatkan efektivitas kerja vitamin C sehingga dapat mengurangi konversi asam askorbat menjadi dehidroaskorbat. Pemberian kombinasi vitamin C dengan bioflavonoid dapat menghalangi dan menghentikan pembentukkan superoksida dan hydrogen peroksida, sehingga dapat mencegah terjadinya kerusakan jaringan akibat oksidan (Wahyuni, 2008).

C. ALAT DAN BAHAN
1. ALAT
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah :
a) Batang pengaduk
b) Filler
c) Gelas kimia
d) Kuvet
e) Labu takar 100 ml, dan 100 ml
f) Lumpang dan alu
g) Mikropipet 25 µL
h) Pipet tetes
i) Pipet ukur
j) Sendok tanduk
k) Spektrofotometer UV-Vis
l) Tabung reaksi
m) Timbangan analitik

2. BAHAN
Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah :
a) Vitamin C
b) Aquades
c) Kloroform
d) Sampel obat yang mengandung vitamin C
e) Tissue

D. URAIAN BAHAN
1. Akuades (Ditjen POM, 1979 : 96)
Nama Resmi : Aqua Destillata
Nama Lain : Air Suling
RM/BM : H2O/18,00
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa. 
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Sebagai pelarut

2. Kloroform (Ditjen POM, 1979 : 151)
Nama Resmi : Chloroformum
Nama Lain : Kloroform
RM/BM : CHCl3/119,38
Pemerian : Cairan mudah menguap; tidak berwarna, bau khas; rasa manis dan membakar. 
Kelarutan : Larut dalam lebih kurang 200 bagian air, mudah larut dalam etanol mutlak, dalam eter, dalam kloroform, dalam sebagian besar pelarut organik, dalam minyak atsiri dan dalam minyak lemak. 
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik bersumbat kaca, terlindung dari cahaya.
Kegunaan : Sebagai pereaksi

3. Vitamin C (Ditjen POM, 1979)
Nama resmi : Acidum ascorbicum
Sinonim : Asam askorbat, Vitamin C
RM/BM : C6H8O6 / 176,13
Pemerian : Serbuk atau hablur, putih atau agak kuning, tidak berbau rasa asam. Oleh pengaruh cahaya lambat laun menjadi gelap. Dalam keadaan kering, mantap di udara,dalam larutan cepat teroksidasi.
Kelarutan : Mudah larut dalam air, agak sukar laut dalam etanol 95 % P, praktis tidak larut dalam kloroform P dan eter P dan dalam benzen P.
Khasiat : Antiskorbut
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya

E. PROSEDUR KERJA
1. Pembuatan Larutan Induk
LAPORAN PENETAPAN KADAR VITAMIN C SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET

F. HASIL PENGAMATAN
1. Grafik Panjang Gelombang Maksimum
LAPORAN PENETAPAN KADAR VITAMIN C SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET

G. PEMBAHASAN
Vitamin C atau asam askorbat, merupakan vitamin yang dapat ditemukan dalam berbagai buah-buahan dan sayuran. Vitamin C dapat disintesis dari glukosa atau diekstrak dari sumber-sumber alam tertentu seperti jus jeruk. Vitamin pertama kali diisolasi dari air jeruk nipis oleh Gyorgy Szent tahun 1928. Vitamin C bertindak ampuh mengurangi oksigen, nitrogen, dan sulfur yang bersifat radikal. Vitamin C bekerja sinergis dengan tokoferol yang tidak dapat mengikat radikal lipofilik dalam area lipid membrane dan protein. Pengobatan dengan vitamin C dapat memulihkan kadar zat besi dalam tubuh. Ada beberapa metode yang dikembangkan untuk penentuan kadar vitamin C diantaranya adalah metode spektrofotometri UV-Vis (panjang gelombang 265 nm) dan metode iodimetri. Metode Spektrofotometri dapat digunakan untuk penetapan kadar campuran dengan spektrum yang tumpang tindih tanpa pemisahan terlebih dahulu. Karena perangkat lunaknya mudah digunakan untuk instrumentasi analisis dan mikrokomputer, spektrofotometri banyak digunakan di bidang analisis kimia sedangkan iodimetri merupakan metode yang sederhana dan mudah diterapkan dalam suatu penelitian.

Dalam percobaan ini karena sampel yang digunakan adalah larutan tidak berwarna maka spektrofotometer yang digunakan adalah jenis spektrofotometer UV. Berbeda dengan spektrofotometri visible, pada spektrofotometri UV berdasarkan interaksi sample dengan sinar UV. Sinar UV memiliki panjang gelombang 190-380 nm. Sebagai sumber sinar dapat digunakan lampu deuterium.

Pada spektrofotometer, sinar yang masuk ke sampel dipakai untuk mengeksitasi, artinya ketika cahaya yang berupa energi itu masuk ke kuvet yang berisi sampel dan terdapat elektron yang tidak terikat kuat (berasal dari kromofor atau ausokrom) maka cahaya (energi) tersebut akan digunakan untuk mengeksitasi elektron tersebut. Jumlah cahaya yang dipakai untuk mengeksitasi tentunya tergantung dari banyaknya jumlah elektron yang bisa dieksitasi, makin sedikit elektron (panjang gelombang besar) maka energi yang dipakai juga sedikit, yang paling sedikit tentunya hanya warna merah yang terpakai. Sisa dari cahaya yang tidak terpakai kemudian diteruskan dan dibaca jumlahnya oleh detektor.

Pengukuran zat dengan spektofotometri selalu melibatkan analat blanko dan standar. Blanko adalah larutan yang mempunyai perlakuan yang sama dengan analat tetapi tidak mengandung komponen analat. Dalam percobaan ini blanko yang digunakan yakni aquadest. Tujuan pembuatan larutan blanko ini adalah untuk mengetahui besarnya serapan oleh zat yang bukan analat. Larutan analat adalah larutan yang dianalisis. Larutan standar adalah larutan yang mendapat perlakuan yang sama dengan analat dan mengandung kkomponen analat dengan konsentrasi yang sudah diketahui. 
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan diperoleh kadar vitamin c yaitu 0,0039 mg/ml.

H. KESIMPULAN
Kesimpulan dari perobaan ini adalah kadar vitamin C adalah 0,0039 mg/ml. mg/ml.

DAFTAR PUSTAKA
Fatimah Is, 2003, “Analisis Fenol dalam Sampel Air Menggunakan Spektrofotometri Derivatif”, LOGIKA Vol.9 (10).

Khopkar, S.M., 1990, Konsep Dasar Kimia Analitik, Universitas Indonesia Press : Jakarta. 

Wibowo, W.A., Catur, E.W., Much. Azam, Sofjan F., 2008, Rancang Bangun Pengatur Cermin Sebagai Komponen Gerak Interferometer Pada Spektroskopi FTIR, Berkala Fisika, Volume 11 Nomor 3.

LAPORAN PENETAPAN KADAR VITAMIN C SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET

LAPORAN PENETAPAN KADAR VITAMIN C SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET

PENETAPAN KADAR VITAMIN C SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET

A. TUJUAN
Tujuan dari percobaan ini adalah menetapkan kadar vitamin C secara spektrofotometri UV. 

B. LANDASAN TEORI
Metode spektroskopi merupakan suatu cara untuk menentukan komposisi kimiawi dari suatu senyawa organik. Terdapat beberapa metode spektroskopi mulai dari Spektroskopi Serapan Atom (AAS), Spektroskopi Ultra Ungu/Sinar Tampak (UV/Vis Spectrophotometer), Spektroskopi Infra Merah (Infra Red Spectrophotometer) maupun Spektroskopi Massa (Mass Spectrophotometer). Semua metode tersebut mempunyai tujuan sama tetapi menggunakan cara yang berbeda-beda. Penentuan komposisi kimiawi senyawa bergantung pada bentuk spektrum yang dihasilkan oleh peralatan spektroskopi tersebut. Metode-metode tersebut memiliki bagian utama berupa perangkat optik seperti spektrometer atau monokromator (Wibowo, 2008).

Panjang gelombang cahaya UV atau tampak tergantung pada mudahnya eksitasi electron. Molekul-molekul yang memerlukan lebih banyak energi untuk bertransisi, akan menyerap pada panjang gelombang yang lebioh pendek. Molekul yang memerlukan energi yang lebih kecil akan menyerap panjang gelombang yang lebih besar. Sehingga senyawa yang menyerap cahaya dalam daerah tampak (senyawa berwarna) memiliki electron yang lebih mudah bertransisi daripada senyawa yang menyerap pada panjang gelombang UV yang lebih pendek (Fatimah, 2003).

Larutan senyawa berwarna mampu menyerap sinar tampak yang melalui larutan tersebut. Jumlah intensitas sinar yang diserap tergantung pada macam yang ada di dalam larutan, konsentrasi panjang jalan dan intensitas sinar yang diserap dinyatakan dalam Hukum Lambert yang sudah dijelaskan di atas. Warna zat yang menyerap menentukan panjang gelombang sinar yang akan diserap, warna yang diserap merupakan warna komplemen dari warna yang terlihat oleh mata ( Khopkar, 1990 ).

Vitamin C merupakan senyawa kristal putih yang sangat larut dalam air. Vitamin C berperan dalam mengendalikan infeksi dan respon tubuh terhadap stress. Di dalam vitamin C juga ditemukan zat aktif antioksidan yang dapat menetralisir radikal bebas yang berbahaya, membantu membuat kolagen, diperlukan untuk kesehatan tulang, gigi, gusi dan pembuluh darah (Izuagie, 2007). Menurut Taylor 1993, Vitamin C adalah salah satu zat gizi yang berperan sebagai antioksidan dan efektif mengatasi radikal bebas yang dapat merusak sel atau jaringan, termasuk melindungi lensa dari kerusakan oksidatif yang ditimbulkan oleh radiasi. Status vitamin C seseorang sangat tergantung dari usia, jenis kelamin, asupan vitamin C harian, kemampuan absorpsi dan ekskresi, serta adanya penyakit tertentu. Rendahnya asupan serat dapat mempengaruhi asupan vitamin C karena bahan makanan sumber serat dan buah-buahan juga merupakan sumber vitamin C (Karinda. 2013). Suplemen vitamin C diantaranya adalah kombinasi vitamin C dan bioflavonoid, dipasaran diantaranya adalah Ester C. Bioflavonoid berfungsi meningkatkan efektivitas kerja vitamin C sehingga dapat mengurangi konversi asam askorbat menjadi dehidroaskorbat. Pemberian kombinasi vitamin C dengan bioflavonoid dapat menghalangi dan menghentikan pembentukkan superoksida dan hydrogen peroksida, sehingga dapat mencegah terjadinya kerusakan jaringan akibat oksidan (Wahyuni, 2008).

C. ALAT DAN BAHAN
1. ALAT
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah :
a) Batang pengaduk
b) Filler
c) Gelas kimia
d) Kuvet
e) Labu takar 100 ml, dan 100 ml
f) Lumpang dan alu
g) Mikropipet 25 µL
h) Pipet tetes
i) Pipet ukur
j) Sendok tanduk
k) Spektrofotometer UV-Vis
l) Tabung reaksi
m) Timbangan analitik

2. BAHAN
Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah :
a) Vitamin C
b) Aquades
c) Kloroform
d) Sampel obat yang mengandung vitamin C
e) Tissue

D. URAIAN BAHAN
1. Akuades (Ditjen POM, 1979 : 96)
Nama Resmi : Aqua Destillata
Nama Lain : Air Suling
RM/BM : H2O/18,00
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa. 
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Sebagai pelarut

2. Kloroform (Ditjen POM, 1979 : 151)
Nama Resmi : Chloroformum
Nama Lain : Kloroform
RM/BM : CHCl3/119,38
Pemerian : Cairan mudah menguap; tidak berwarna, bau khas; rasa manis dan membakar. 
Kelarutan : Larut dalam lebih kurang 200 bagian air, mudah larut dalam etanol mutlak, dalam eter, dalam kloroform, dalam sebagian besar pelarut organik, dalam minyak atsiri dan dalam minyak lemak. 
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik bersumbat kaca, terlindung dari cahaya.
Kegunaan : Sebagai pereaksi

3. Vitamin C (Ditjen POM, 1979)
Nama resmi : Acidum ascorbicum
Sinonim : Asam askorbat, Vitamin C
RM/BM : C6H8O6 / 176,13
Pemerian : Serbuk atau hablur, putih atau agak kuning, tidak berbau rasa asam. Oleh pengaruh cahaya lambat laun menjadi gelap. Dalam keadaan kering, mantap di udara,dalam larutan cepat teroksidasi.
Kelarutan : Mudah larut dalam air, agak sukar laut dalam etanol 95 % P, praktis tidak larut dalam kloroform P dan eter P dan dalam benzen P.
Khasiat : Antiskorbut
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya

E. PROSEDUR KERJA
1. Pembuatan Larutan Induk
LAPORAN PENETAPAN KADAR VITAMIN C SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET

F. HASIL PENGAMATAN
1. Grafik Panjang Gelombang Maksimum
LAPORAN PENETAPAN KADAR VITAMIN C SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET

G. PEMBAHASAN
Vitamin C atau asam askorbat, merupakan vitamin yang dapat ditemukan dalam berbagai buah-buahan dan sayuran. Vitamin C dapat disintesis dari glukosa atau diekstrak dari sumber-sumber alam tertentu seperti jus jeruk. Vitamin pertama kali diisolasi dari air jeruk nipis oleh Gyorgy Szent tahun 1928. Vitamin C bertindak ampuh mengurangi oksigen, nitrogen, dan sulfur yang bersifat radikal. Vitamin C bekerja sinergis dengan tokoferol yang tidak dapat mengikat radikal lipofilik dalam area lipid membrane dan protein. Pengobatan dengan vitamin C dapat memulihkan kadar zat besi dalam tubuh. Ada beberapa metode yang dikembangkan untuk penentuan kadar vitamin C diantaranya adalah metode spektrofotometri UV-Vis (panjang gelombang 265 nm) dan metode iodimetri. Metode Spektrofotometri dapat digunakan untuk penetapan kadar campuran dengan spektrum yang tumpang tindih tanpa pemisahan terlebih dahulu. Karena perangkat lunaknya mudah digunakan untuk instrumentasi analisis dan mikrokomputer, spektrofotometri banyak digunakan di bidang analisis kimia sedangkan iodimetri merupakan metode yang sederhana dan mudah diterapkan dalam suatu penelitian.

Dalam percobaan ini karena sampel yang digunakan adalah larutan tidak berwarna maka spektrofotometer yang digunakan adalah jenis spektrofotometer UV. Berbeda dengan spektrofotometri visible, pada spektrofotometri UV berdasarkan interaksi sample dengan sinar UV. Sinar UV memiliki panjang gelombang 190-380 nm. Sebagai sumber sinar dapat digunakan lampu deuterium.

Pada spektrofotometer, sinar yang masuk ke sampel dipakai untuk mengeksitasi, artinya ketika cahaya yang berupa energi itu masuk ke kuvet yang berisi sampel dan terdapat elektron yang tidak terikat kuat (berasal dari kromofor atau ausokrom) maka cahaya (energi) tersebut akan digunakan untuk mengeksitasi elektron tersebut. Jumlah cahaya yang dipakai untuk mengeksitasi tentunya tergantung dari banyaknya jumlah elektron yang bisa dieksitasi, makin sedikit elektron (panjang gelombang besar) maka energi yang dipakai juga sedikit, yang paling sedikit tentunya hanya warna merah yang terpakai. Sisa dari cahaya yang tidak terpakai kemudian diteruskan dan dibaca jumlahnya oleh detektor.

Pengukuran zat dengan spektofotometri selalu melibatkan analat blanko dan standar. Blanko adalah larutan yang mempunyai perlakuan yang sama dengan analat tetapi tidak mengandung komponen analat. Dalam percobaan ini blanko yang digunakan yakni aquadest. Tujuan pembuatan larutan blanko ini adalah untuk mengetahui besarnya serapan oleh zat yang bukan analat. Larutan analat adalah larutan yang dianalisis. Larutan standar adalah larutan yang mendapat perlakuan yang sama dengan analat dan mengandung kkomponen analat dengan konsentrasi yang sudah diketahui. 
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan diperoleh kadar vitamin c yaitu 0,0039 mg/ml.

H. KESIMPULAN
Kesimpulan dari perobaan ini adalah kadar vitamin C adalah 0,0039 mg/ml. mg/ml.

DAFTAR PUSTAKA
Fatimah Is, 2003, “Analisis Fenol dalam Sampel Air Menggunakan Spektrofotometri Derivatif”, LOGIKA Vol.9 (10).

Khopkar, S.M., 1990, Konsep Dasar Kimia Analitik, Universitas Indonesia Press : Jakarta. 

Wibowo, W.A., Catur, E.W., Much. Azam, Sofjan F., 2008, Rancang Bangun Pengatur Cermin Sebagai Komponen Gerak Interferometer Pada Spektroskopi FTIR, Berkala Fisika, Volume 11 Nomor 3.