MAKALAH KANDUNGAN SENYAWA FITOKIMIA TANAMAN LIDAH BUAYA - ElrinAlria
MAKALAH KANDUNGAN SENYAWA FITOKIMIA TANAMAN LIDAH BUAYA
MAKALAH
KANDUNGAN SENYAWA FITOKIMIA TANAMAN
“LIDAH BUAYA (Aloe vera)”

BAB I
PENDAHULUAN
A. RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini, yaitu :
  1. Apa yang di maksud dengan fitokimia?
  2. Bagaimana potensi tanaman lidah buaya di Indonesia?
  3. Apa saja kandungan yang terkandung dalam tanaman lidah buaya?

B. TUJUAN
Adapun tujuan dari makalah ini, yaitu :
  1. dapat mengetahui tentang fitokimia
  2. dapat mengetahui potensi dari lidah buaya di Indonesia
  3. dapat mengetahui kandungan yang tekandung dalam tanaman lidah buaya

BAB II
PEMBAHASAN
Fitokimia atau kadang disebut fitonutrien, dalam arti luas adalah segala jenis zat kimia atau nutrien yang diturunkan dari sumber tumbuhan, termasuk sayuran dan buah-buahan. Dalam penggunaan umum, fitokimia memiliki definisi yang lebih sempit. Fitokimia biasanya digunakan untuk merujuk pada senyawa yang ditemukan pada tumbuhan yang tidak dibutuhkan untuk fungsi normal tubuh, tapi memiliki efek yang menguntungkan bagi kesehatan atau memiliki peran aktif bagi pencegahan penyakit

Sinonim : Aloe barbadensis Mill. 
Klasifikasi
  • Divisi : Spermatophyta
  • Sub divisi : Angiospermae
  • Kelas : Monocotyledoneae
  • Bangsa : Liliales
  • Suku : Liliaceae
  • Marga : Aloe
  • Jenis : Aloe vera (L.) Burm. f.
  • Nama umum : Lidah Buaya
  • Nama daerah : Lidah buaya (Melayu); Lidah
  • buaya (Jawa)

Deskripsi
Habitus semak, tahunan, tinggi 30-50 cm. Batang bulat, tidak berkayu, putih. Daun Tunggal, ujung runcing, pangkal tumpul, tepi bergerigi, panjang 30-50 cm, lebar 3-5 cm, berdaging tebal, bergetah kuning, hijau. Bunga majemuk, bentuk malai, di ujung batang, daun pelindung panjang 8-15 mm, benang sari enam, putik menyembul keluar atau melekat pada pangkal kepala sari, tangkai putik bentuk benang, kepala putik kecil, hiasan bunga panjang 2,5-3,5 cm, tabung pendek, ujung tajuk melebar, jingga atau merah. Buah kotak, panjang 14-22 cm, berkatup, hijau keputih-putihan. Biji kecil, hitam. Akar serabut, kuning (BPOM RI, 2008).

Lidah buaya (Aloe vera L.) merupakan tanaman yang fungsional karena semua bagian dari tanaman dapat dimanfaatkan. Lendir lidah buaya kaya akan nutrisi serta zat pelembab dan mengandung kurang lebih 96% air, aloektin B yang menstimulasi sistem imun dan memberikan lapisan perlindungan pada bagian kulit yang rusak serta mempercepat tingkat penyembuhan(Nur Ida dan Sitti Fauziah Noer, 2012)

Tumbuhan liar di tempat yang berhawa panas atau di tanam orang di pot dan pekarangan rumah sebagai tanaman hias. Daunnya agak rincing berbentuk taji, tebal, getas, tepinya bergerigi atau berduri kecil, permukaannya berbintik-bintik, panjang 12 – 36 cm, lebar 2 – 6 cm, bunga bertangkai yang panjangnya 60 – 90 cm, bunga berwarna kuning kemerahan (jingga), banyak terdapat di Afrika bagian Utara dan Hindia Barat. 

Daun tanaman lidah buaya berbentuk pita dengan helaian yang memanjang. Daunnya berdaging tebal, tidak bertulang, berwarna hijau keabu-abuan, bersifat sukulen (banyak mengandung air) dan banyak mengandung getah atau lendir (gel) sebagai bahan baku obat. Tanaman lidah buaya tahan terhadap kekeringan, karena di dalam daun banyak tersimpan cadangan air yang dapat dimanfaatkan pada waktu kekurangan air. Bentuk daunnya menyerupai pedang dengan ujung meruncing, permukaan daun dilapisi lilin, dengan duri lemas dipinggirnya. Panjang daun dapat mencapai 50 – 75 cm, dengan berat 0,5 – 1 kg, daun melingkar rapat di sekeliling batang sersaf-saf.

Tanaman lidah buaya telah dikembangkan oleh negara-negara maju seperti Amerika, Australia dan negara di benua Eropa sebagai bahan baku industri farmasi dan pangan. Begitu pentingnya lidah buaya sebagai bahan baku industri pada saat ini dan masa mendatang adalah didasarkan pada keunggulan komparatif. Penggunaan tanaman lidah buaya yang cukup besar di dalam industri dikarenakan komponen-komponen yang dimilikinya cukup lengkap dan bermanfaat.

Pengembangan agroindustri lidah buaya di Indonesia terpusat di Pontianak provinsi Kalimantan Barat. Tanaman lidah buaya yang berasal dari Pontianak (Aloevera chinensis) merupakan varietas terunggul di Indonesia bahkan diakui keunggulannya di dunia. Tanaman jenis ini setiap pelepahnya memiliki berat sekitar 0,8 – 1,2 kg dan dapat di panen setiap bulan sejak bulan ke 10-12 setelah penanaman hingga tahun ke 5.

Mutu panen setiap pelepah sebagian besar tergolong mutu A yaitu tanpa cacat atau serangan hama penyakit daun. Berbeda dengan tanaman lidah buaya yang di budidayakan di luar Pontianak, seperti Amerika dan Cina, setiap pelepahnya memiliki berat hanya 0,5-0,6 kg dan di panen hanya 1 kali setahun karena kendala musim dingin.

Hingga kini luas areal lahan yang telah ditanami lidah buaya di Kalimantan Barat mencapai 75 Ha, dimana sebagian besar di tanam oleh petani di Kotamadya Pontianak, sedangkan luas potensi wilayah pengembangan adalah 20 ribu hektar. Dalam satu hektar lahan dapat ditanami sekitar 7500 tanaman lidah buaya. Produksinya dapat mencapai rata-rata 6-7 ton per hektar tiap kali panen atau 24-30 ton/ ha per tahun dengan harga daun lidah buaya segar ditingkat petani mencapai Rp. 800-1500 per kg.

Tanaman lidah buaya yang mudah tumbuh dengan baik dilahan gambut sekitar Khatulistiwa dapat dijadikan sebagai komoditi unggulan mengingat manfaat dan nilai ekonomis yang cukup tinggi. Sayangnya salah satu komoditi yang mempunyai keunggulan komparatif tersebut belum di usahakan secara optimal.
MAKALAH KANDUNGAN SENYAWA FITOKIMIA TANAMAN

Hingga saat ini sebagian besar tanaman lidah buaya diolah menjadi makanan dan minuman atau diekspor dalam bentuk pelepah segar ke negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia dan Brunai Darussalam. Hasil olahan yang terbatas dan ekspor dalam bentuk bahan baku hanya memberikan sedikit nilai tambah. Nilai tambah akan diperoleh jika tanaman lidah buaya diolah menjadi produk yang dibutuhkan industri makanan, kosmetik farmasi dan lainlain. Bila kita cermati hal ini merupakan potensi yang cukup besar untuk mengembangkan industri pengolahan hasil pertanian berbasis komoditas tanaman lidah buaya di Pontiana (ADHA PANCA WARDHANU, 2009).

Lidah buaya mengandung “anthraquinonees” yang dapat berfungsi sebagai anti bakteri (ANONYMOUS, 1983). Penggunaan anti bakteri (antibiotik) sudah umum digunakan sebagai zat suplemen dalam ransum unggas untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pakan(MH.TOGATOROP,2001), 

Pemanfaatan daun lidah buaya dapat berfungsi sebagai anti inflamansi, antijamur, antibakteri dan regenerasi sel, untuk mengontrol tekanan darah, menstimuli kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit kanker, serta dapat digunakan sebagai nutrisi pendukung bagi penderita HIV. Penggunaannya dapat berupa gel dalam bentuk segar atau dalam bentuk bahan jadi seperti kapsul, jus, makanan dan minuman kesehatan (widodo, 2006)

Zat bioaktif yang terkandung dalam tanaman lidah buaya ini umumnya terdiri dari satu atau lebih senyawa, antara lain alkaloid, flavonoids, glycosides, saponin, dan tannin (MH.TOGATOROP,2001),

Alkaloid adalah senyawa organik siklik yang mengadung nitrogen dengan bilangan oksidasi negatif, yang penyebarannya terbatas pada makhluk hidup. Alkaloid juga merupakan golongan zat metabolit sekunder yang terbesar, yang pada saat ini telah diketahui sekitar 5500 buah. Alkaloid pada umumnya mempunyai keaktifan fisiologi yang menonjol, sehingga oleh manusia alkaloid sering dimanfaatkan untuk pengobatan.

Struktur dari alkaloid beranekaragam, dari mulai alkaloid berstruktur sederhana sampai yang rumit. Salah satu alkaloid yang mempunyai struktur tersederhana adalah nikotina, tetapi nikotina ini dampak fisiologinya cukup besar.

Dalam dosis tinggi, nikotina bersifat racun (toksik) dan pernah juga digunakan sebagai insektisida, sedangkan dalam dosis rendah nikotina berfungsi sebagai stimulan terhadap sistem syaraf otonom. Jika dosis ini dilanjutkan maka nikotina dapat menekan sistem syaraf sehingga aktifitasnya dibawah normal (Rustaman, 2006).

Saponin adalah glikosida triterpen dan sterol yang telah terdeteksi dalam lebih dari 90 suku tumbuhan. Saponin merupakan senyawa aktif permukaan dan bersifat seperti sabun, serta dapat dideteksi berdasarkan kemampuannya membentuk busa dan menghemolisis sel darah. Pencarian saponin dalam tumbuhan telah dirangsang oleh kebutuhan akan sumber sapogenin yang mudah diperoleh dan dapat diubah di laboratorium menjadi sterol hewan yang kerkhasiat penting (misalnya kortison, estrogen, kontraseptik dan lain-lain)

Dari segi ekonomi sapogenin penting juga karena kadang-kadang menimbulkan keracunan pada ternak (misalnya Sapini alfalfa, Medicago sativa) atau karena rasanya yang manis (misalnya glirizin dari akar manis, glycyrhiza glabra). Pola glikosida saponin yang mempunyai satuan gula sampai lima dan komponen yang umum ialah asam glukuronat (Rustaman, 2006).

Tanin tersebar luas dalam tumbuhan berpembuluh, dalam angiospermae terdapat khusus dalam jaringan kayu. Dalam industri, tanin adalah senyawa yang berasal dari tumbuhan, yang mampu mengubah kulit hewan yang mentah menjadi kulit siap pakai karena kemampuannya menyambung silang protein (Rustaman, 2006).

Saponin pada lidah buaya mempunyai efek yang dapat membunuh kuman. Antrakuinon dan kuinon berperan sebagai antibiotik dan penghilang rasa sakit. Aloin dapat berperan sebagai obat pencahar. Lignin pada gel lidah buaya mampu menembus ke dalam kulit sehingga membantu mencegah hilangnya cairan tubuh dari permukaan kulit

lidah buaya memiliki khasiat penyembuhan beberapa penyakit, antara lain :

1. Menghambat Infeksi HIV
Sebuah penelitian in vitro dalam bidang bioterapi molekuler di Amerika Serikat yang dilakukan pada tahun 1991, menemukan mannose yang merupakan salah satu jenis gula yang terkandung di dalam gel lidah buaya. Mannose ini mampu menghambat pertumbuhan virus HIV 1 – 30 % dan meningkatkan viabilitas sel terinfeksi.

2. Nutrisi tambahan bagi pengidap HIV
Para peneliti menemukan bahwa lidah buaya mampu menstimulasi sistem kekebalan tubuh terutama sel T4 helper, yaitu sel darah putih yang mengaktifkan sistem kekebalan tubuh terhadap suatu infeksi.

3. Menurunkan kadar gula darah penderita diabetes
Pemberian ekstrak lidah buaya terhadap penderita diabetes setiap hari selama 14 minggu, mampu menurunkan kadar gula pasien yang tidak tergantung dari insulin (DM tipe II) hingga 45 % tanpa perubahan berat badan.

4. Mencegah Radang Sendi
Kandungan asam salisilat merupakan zat pengurang rasa sakit yang sifatnya sama dengan aspirin pada gel lidah buaya dapat mengurangi rasa sakit pada penderita. Kandungan Magnesium membantu mencegah efek samping yang merusak dari penggunaan aspirin.

5. Menghambat sel kanker
Lidah buaya meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan mengaktifkan makropage yang berperan melepas substansi pengaktif kekebalan dan antikanker, seperti interferon, interleukins dan factor nekrosis tumor.

6. Membantu penyembuhan luka.

7. Adanya Gibberelin sebagai zat anti radang (infeksi) dan polisakarida yang berkhasiat menyembuhkan luka, serta lignin yang mampu menembus kulit dan membawa efek penyembuhan ke jaringan kulit. Kandungan asam salisilat merupakan zat pengurang rasa sakit (analgetik) yang sifatnya sama dengan aspirin.

8. Antibakteri dan anti jamur serta untuk membersihkan luka

9. Lidah buaya mengandung saponin yang berkhasiat antiseptik.

10. Mengatasi gangguan pencernaan (radang usus, sembelit)

11. Kandungan Gibberelin sebagai zat anti inflamasi dan polisakarida dapat menyembuhkan radang usus. Zat aloin yang terkandung di dalam lidah buaya berfungsi sebagai pencahar.

12. Mencegah penuaan (Anti Aging)

13. Zat – zat yang terkandung di dalam gel lidah buaya ada yang bertindak sebagai pemakan oksigen yang mengandung radikal bebas yang diproduksi oleh di dalam gel lidah buaya ada yang bertindak sebagai pemakan oksigen yang mengandung radikal bebas yang diproduksi oleh polymorphonuclear lukocytes. Polisakarida yang bersinergis dengan asam amino meregenerasi sel-sel yang rusak.

14. Adanya kandungan thiamine, riboflavin, aloin dan mineral akan mencegah dari penyakit cacingan. Akarnya berkhasiat sebagai obat cacing dan susah buang air besar (sembelit).

15. Radiasi akibat sinar X

16. Adanya gibberelin sebagai zat anti radang (infeksi) dan polisakarida yang berkhasiat menyembuhkan luka, serta lignin yang mampu menembus kulit dan membawa efek penyembuhan ke jaringan kulit. Kandungan asam salisilat merupakan zat pengurang rasa sakit (analgetik) yang sifatnya sama dengan aspirin.

17. Mencegah virus flu burung

18. Informasi terbaru diperoleh bahwa kandungan emodin pada gel lidah buaya dapat mencegah virus flu burung.

Dalam industri kosmetika, gel lidah buaya memberikan manfaat sebagai :
1. Penyegar (astringent) .
Zat aktif lidah buaya yang bersifat penyegar adalah polisakarida dan tannin.

2. Mencegah kerontokan rambut 
Zat aktifnya adalah inositol, vitamin C, asam amino, enzim dan mineral yang sinergis dan vitamin A.

3. Kondisioner rambut, shampoo, pelembab, ketombe Senyawa aktifnya adalah polisakarida, vitamin, asam amino. (ADHA PANCA WARDHANU, 2009).

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Fitokimia adalah ilmu yang mempelajari berbagai senyawa organic yang dibentuk dan disimpan oleh tumbuhan, yaitu tentang struktur kimia, biosintetis, perubahan dan metabolism, penyebaran secara alami dan fungsi biologis dari senyawa organic.Fitokimia atau kadang disebut fitonutrien, dalam arti luas adalah segala jenis zat kimia atau nutrien yang diturunkan dari sumber tumbuhan, termasuk sayuran dan buah-buahan. Dalam penggunaan umum, fitokimia memiliki definisi yang lebih sempit.

Fitokimia biasanya digunakan untuk merujuk pada senyawa yang ditemukan pada tumbuhan yang tidak dibutuhkan untuk fungsi normal tubuh, tapi memiliki efek yang menguntungkan bagi kesehatan atau memiliki peran aktif bagi pencegahan penyakit. Karenanya, zat-zat ini berbeda dengan apa yang diistilahkan sebagai nutrien dalam pengertian tradisional, yaitu bahwa mereka bukanlah suatu kebutuhan bagi metabolisme normal, dan ketiadaan zat-zat ini tidak akan mengakibatkan penyakit defisiensi, paling tidak, tidak dalam jangka waktu yang normal untuk defisiensi tersebut.

Tanaman Lidah Buaya dikenal sebagai bahan obat tradisional dan kosmetika termasuk dalam bidang farmasi. Khasiat yang tersimpan dari lidah buaya untuk pembersih darah, penurun panas, obat wasir, batuk rejan dan mempercepat penyembuhan luka. Sejumlah nutrisi yang bermanfaat terkandung di dalam lidah buaya, berupa bahan organik dan anorganik, di antaranya vitamin, mineral, beberapa asam amino, serta enzim yang diperlukan tubuh.

Pemanfaatan daun lidah buaya dapat berfungsi sebagai anti inflamansi, antijamur, antibakteri dan regenerasi sel, untuk mengontrol tekanan darah, menstimuli kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit kanker, serta dapat digunakan sebagai nutrisi pendukung bagi penderita HIV. Penggunaannya dapat berupa gel dalam bentuk segar atau dalam bentuk bahan jadi seperti kapsul, jus, makanan dan minuman kesehatan.

Selama ini produk lidah buaya sebagian besar masih dijual dalam bentuk pelepah segar dengan harga Rp. 800 – 1.000/kg dan dalam bentuk olahan yang sangat sederhana dengan volume yang masih sangat rendah. Produksi lidah buaya segar tidak sebanding keperluan pasar, sehingga banyak lidah buaya yang tidak termanfaatkan. Hingga tahun 2003 baru sekitar 0,8% untuk ekspor dan 7% pasar lokal. Dengan perbandingan yang cukup besar antara pelepah lidah buaya dengan tepung yang dihasilkan (±200:1) maka diperkirakan akan dapat menampung lidah buaya di petani. Oleh karenanya untuk meningkatkan pendapatan petani, produk-produk yang dipasarkan dapat dimungkinkan dalam bentuk olahan. Pasar merupakan komponen terpenting dalam pengembangan suatu komoditas. Tidak sedikit produk turunan yang dapat diolah dari lidah buaya, dari yang sederhana seperti juice, gel, koktail sampai yang memerlukan teknologi/alsin dan investasi yang tinggi, seperti tepung.

Pola hidup dengan trend pada makanan kesehatan menyebabkan banyak orang mengkonsumsi makanan kesehatan dalam berbagai macam bentuk produk yang meliputi makanan, minuman instan, juice dan kapsul. Ketergantungan pada suplemen untuk meningkatkan ketahan tubuh, mencegah terhadap penyakit dan mengurangi penderitaan penyakit tertentu menjadi kebiasaan masyarakat sekarang dengan mengkonsumsi makanan kesehatan. Salah satu tanaman yang dapat dijadikan sebagai obat, suplemen, kesehatan tubuh adalah lidah buaya.

DAFTAR PUSTAKA
Adha panca wardhanu, 2009, Potensi Lidah Buaya Pontianak (aloevera chinensis,linn) sebagai Bahan Baku Industri Berbasis Sumber Daya Lokal, Pascasarjana Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang.

Badan POM RI, Direktorat Obat Asli Indonesia, 2008.

Nur Ida dan Sitti Fauziah Noer, 2012, Uji Stabilitas Fisik Gel Ekstrak Lidah Buaya (Aloe vera L.), Program Studi Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Islam, Makassar

Rustaman,DKK, 2006, Skrining Fitokimia Tumbuhan Di Kawasan Gunung Kuda Kabupaten Bandung Sebagai Penelaahan Keanekaragaman Hayati, Universitas Padjadjaran. Bandung. 

Togatorop, MH, ap.sinurat, t.purwadaria, j.rosida, saulina, dan h.hamid., 2001, Pemanfaatan Tanaman Lidah Buaya secara Tradisional dan Studi Kandungan Bioaktifnya, study on traditional utilization of aloe vera and its bioactive contents, Bogor.

Widodo P dan Uning Budiharti, Berjuta Manfaat Lidah Buaya, Tabloid Sinar Tani.

MAKALAH KANDUNGAN SENYAWA FITOKIMIA TANAMAN LIDAH BUAYA

MAKALAH KANDUNGAN SENYAWA FITOKIMIA TANAMAN LIDAH BUAYA
MAKALAH
KANDUNGAN SENYAWA FITOKIMIA TANAMAN
“LIDAH BUAYA (Aloe vera)”

BAB I
PENDAHULUAN
A. RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini, yaitu :
  1. Apa yang di maksud dengan fitokimia?
  2. Bagaimana potensi tanaman lidah buaya di Indonesia?
  3. Apa saja kandungan yang terkandung dalam tanaman lidah buaya?

B. TUJUAN
Adapun tujuan dari makalah ini, yaitu :
  1. dapat mengetahui tentang fitokimia
  2. dapat mengetahui potensi dari lidah buaya di Indonesia
  3. dapat mengetahui kandungan yang tekandung dalam tanaman lidah buaya

BAB II
PEMBAHASAN
Fitokimia atau kadang disebut fitonutrien, dalam arti luas adalah segala jenis zat kimia atau nutrien yang diturunkan dari sumber tumbuhan, termasuk sayuran dan buah-buahan. Dalam penggunaan umum, fitokimia memiliki definisi yang lebih sempit. Fitokimia biasanya digunakan untuk merujuk pada senyawa yang ditemukan pada tumbuhan yang tidak dibutuhkan untuk fungsi normal tubuh, tapi memiliki efek yang menguntungkan bagi kesehatan atau memiliki peran aktif bagi pencegahan penyakit

Sinonim : Aloe barbadensis Mill. 
Klasifikasi
  • Divisi : Spermatophyta
  • Sub divisi : Angiospermae
  • Kelas : Monocotyledoneae
  • Bangsa : Liliales
  • Suku : Liliaceae
  • Marga : Aloe
  • Jenis : Aloe vera (L.) Burm. f.
  • Nama umum : Lidah Buaya
  • Nama daerah : Lidah buaya (Melayu); Lidah
  • buaya (Jawa)

Deskripsi
Habitus semak, tahunan, tinggi 30-50 cm. Batang bulat, tidak berkayu, putih. Daun Tunggal, ujung runcing, pangkal tumpul, tepi bergerigi, panjang 30-50 cm, lebar 3-5 cm, berdaging tebal, bergetah kuning, hijau. Bunga majemuk, bentuk malai, di ujung batang, daun pelindung panjang 8-15 mm, benang sari enam, putik menyembul keluar atau melekat pada pangkal kepala sari, tangkai putik bentuk benang, kepala putik kecil, hiasan bunga panjang 2,5-3,5 cm, tabung pendek, ujung tajuk melebar, jingga atau merah. Buah kotak, panjang 14-22 cm, berkatup, hijau keputih-putihan. Biji kecil, hitam. Akar serabut, kuning (BPOM RI, 2008).

Lidah buaya (Aloe vera L.) merupakan tanaman yang fungsional karena semua bagian dari tanaman dapat dimanfaatkan. Lendir lidah buaya kaya akan nutrisi serta zat pelembab dan mengandung kurang lebih 96% air, aloektin B yang menstimulasi sistem imun dan memberikan lapisan perlindungan pada bagian kulit yang rusak serta mempercepat tingkat penyembuhan(Nur Ida dan Sitti Fauziah Noer, 2012)

Tumbuhan liar di tempat yang berhawa panas atau di tanam orang di pot dan pekarangan rumah sebagai tanaman hias. Daunnya agak rincing berbentuk taji, tebal, getas, tepinya bergerigi atau berduri kecil, permukaannya berbintik-bintik, panjang 12 – 36 cm, lebar 2 – 6 cm, bunga bertangkai yang panjangnya 60 – 90 cm, bunga berwarna kuning kemerahan (jingga), banyak terdapat di Afrika bagian Utara dan Hindia Barat. 

Daun tanaman lidah buaya berbentuk pita dengan helaian yang memanjang. Daunnya berdaging tebal, tidak bertulang, berwarna hijau keabu-abuan, bersifat sukulen (banyak mengandung air) dan banyak mengandung getah atau lendir (gel) sebagai bahan baku obat. Tanaman lidah buaya tahan terhadap kekeringan, karena di dalam daun banyak tersimpan cadangan air yang dapat dimanfaatkan pada waktu kekurangan air. Bentuk daunnya menyerupai pedang dengan ujung meruncing, permukaan daun dilapisi lilin, dengan duri lemas dipinggirnya. Panjang daun dapat mencapai 50 – 75 cm, dengan berat 0,5 – 1 kg, daun melingkar rapat di sekeliling batang sersaf-saf.

Tanaman lidah buaya telah dikembangkan oleh negara-negara maju seperti Amerika, Australia dan negara di benua Eropa sebagai bahan baku industri farmasi dan pangan. Begitu pentingnya lidah buaya sebagai bahan baku industri pada saat ini dan masa mendatang adalah didasarkan pada keunggulan komparatif. Penggunaan tanaman lidah buaya yang cukup besar di dalam industri dikarenakan komponen-komponen yang dimilikinya cukup lengkap dan bermanfaat.

Pengembangan agroindustri lidah buaya di Indonesia terpusat di Pontianak provinsi Kalimantan Barat. Tanaman lidah buaya yang berasal dari Pontianak (Aloevera chinensis) merupakan varietas terunggul di Indonesia bahkan diakui keunggulannya di dunia. Tanaman jenis ini setiap pelepahnya memiliki berat sekitar 0,8 – 1,2 kg dan dapat di panen setiap bulan sejak bulan ke 10-12 setelah penanaman hingga tahun ke 5.

Mutu panen setiap pelepah sebagian besar tergolong mutu A yaitu tanpa cacat atau serangan hama penyakit daun. Berbeda dengan tanaman lidah buaya yang di budidayakan di luar Pontianak, seperti Amerika dan Cina, setiap pelepahnya memiliki berat hanya 0,5-0,6 kg dan di panen hanya 1 kali setahun karena kendala musim dingin.

Hingga kini luas areal lahan yang telah ditanami lidah buaya di Kalimantan Barat mencapai 75 Ha, dimana sebagian besar di tanam oleh petani di Kotamadya Pontianak, sedangkan luas potensi wilayah pengembangan adalah 20 ribu hektar. Dalam satu hektar lahan dapat ditanami sekitar 7500 tanaman lidah buaya. Produksinya dapat mencapai rata-rata 6-7 ton per hektar tiap kali panen atau 24-30 ton/ ha per tahun dengan harga daun lidah buaya segar ditingkat petani mencapai Rp. 800-1500 per kg.

Tanaman lidah buaya yang mudah tumbuh dengan baik dilahan gambut sekitar Khatulistiwa dapat dijadikan sebagai komoditi unggulan mengingat manfaat dan nilai ekonomis yang cukup tinggi. Sayangnya salah satu komoditi yang mempunyai keunggulan komparatif tersebut belum di usahakan secara optimal.
MAKALAH KANDUNGAN SENYAWA FITOKIMIA TANAMAN

Hingga saat ini sebagian besar tanaman lidah buaya diolah menjadi makanan dan minuman atau diekspor dalam bentuk pelepah segar ke negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia dan Brunai Darussalam. Hasil olahan yang terbatas dan ekspor dalam bentuk bahan baku hanya memberikan sedikit nilai tambah. Nilai tambah akan diperoleh jika tanaman lidah buaya diolah menjadi produk yang dibutuhkan industri makanan, kosmetik farmasi dan lainlain. Bila kita cermati hal ini merupakan potensi yang cukup besar untuk mengembangkan industri pengolahan hasil pertanian berbasis komoditas tanaman lidah buaya di Pontiana (ADHA PANCA WARDHANU, 2009).

Lidah buaya mengandung “anthraquinonees” yang dapat berfungsi sebagai anti bakteri (ANONYMOUS, 1983). Penggunaan anti bakteri (antibiotik) sudah umum digunakan sebagai zat suplemen dalam ransum unggas untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pakan(MH.TOGATOROP,2001), 

Pemanfaatan daun lidah buaya dapat berfungsi sebagai anti inflamansi, antijamur, antibakteri dan regenerasi sel, untuk mengontrol tekanan darah, menstimuli kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit kanker, serta dapat digunakan sebagai nutrisi pendukung bagi penderita HIV. Penggunaannya dapat berupa gel dalam bentuk segar atau dalam bentuk bahan jadi seperti kapsul, jus, makanan dan minuman kesehatan (widodo, 2006)

Zat bioaktif yang terkandung dalam tanaman lidah buaya ini umumnya terdiri dari satu atau lebih senyawa, antara lain alkaloid, flavonoids, glycosides, saponin, dan tannin (MH.TOGATOROP,2001),

Alkaloid adalah senyawa organik siklik yang mengadung nitrogen dengan bilangan oksidasi negatif, yang penyebarannya terbatas pada makhluk hidup. Alkaloid juga merupakan golongan zat metabolit sekunder yang terbesar, yang pada saat ini telah diketahui sekitar 5500 buah. Alkaloid pada umumnya mempunyai keaktifan fisiologi yang menonjol, sehingga oleh manusia alkaloid sering dimanfaatkan untuk pengobatan.

Struktur dari alkaloid beranekaragam, dari mulai alkaloid berstruktur sederhana sampai yang rumit. Salah satu alkaloid yang mempunyai struktur tersederhana adalah nikotina, tetapi nikotina ini dampak fisiologinya cukup besar.

Dalam dosis tinggi, nikotina bersifat racun (toksik) dan pernah juga digunakan sebagai insektisida, sedangkan dalam dosis rendah nikotina berfungsi sebagai stimulan terhadap sistem syaraf otonom. Jika dosis ini dilanjutkan maka nikotina dapat menekan sistem syaraf sehingga aktifitasnya dibawah normal (Rustaman, 2006).

Saponin adalah glikosida triterpen dan sterol yang telah terdeteksi dalam lebih dari 90 suku tumbuhan. Saponin merupakan senyawa aktif permukaan dan bersifat seperti sabun, serta dapat dideteksi berdasarkan kemampuannya membentuk busa dan menghemolisis sel darah. Pencarian saponin dalam tumbuhan telah dirangsang oleh kebutuhan akan sumber sapogenin yang mudah diperoleh dan dapat diubah di laboratorium menjadi sterol hewan yang kerkhasiat penting (misalnya kortison, estrogen, kontraseptik dan lain-lain)

Dari segi ekonomi sapogenin penting juga karena kadang-kadang menimbulkan keracunan pada ternak (misalnya Sapini alfalfa, Medicago sativa) atau karena rasanya yang manis (misalnya glirizin dari akar manis, glycyrhiza glabra). Pola glikosida saponin yang mempunyai satuan gula sampai lima dan komponen yang umum ialah asam glukuronat (Rustaman, 2006).

Tanin tersebar luas dalam tumbuhan berpembuluh, dalam angiospermae terdapat khusus dalam jaringan kayu. Dalam industri, tanin adalah senyawa yang berasal dari tumbuhan, yang mampu mengubah kulit hewan yang mentah menjadi kulit siap pakai karena kemampuannya menyambung silang protein (Rustaman, 2006).

Saponin pada lidah buaya mempunyai efek yang dapat membunuh kuman. Antrakuinon dan kuinon berperan sebagai antibiotik dan penghilang rasa sakit. Aloin dapat berperan sebagai obat pencahar. Lignin pada gel lidah buaya mampu menembus ke dalam kulit sehingga membantu mencegah hilangnya cairan tubuh dari permukaan kulit

lidah buaya memiliki khasiat penyembuhan beberapa penyakit, antara lain :

1. Menghambat Infeksi HIV
Sebuah penelitian in vitro dalam bidang bioterapi molekuler di Amerika Serikat yang dilakukan pada tahun 1991, menemukan mannose yang merupakan salah satu jenis gula yang terkandung di dalam gel lidah buaya. Mannose ini mampu menghambat pertumbuhan virus HIV 1 – 30 % dan meningkatkan viabilitas sel terinfeksi.

2. Nutrisi tambahan bagi pengidap HIV
Para peneliti menemukan bahwa lidah buaya mampu menstimulasi sistem kekebalan tubuh terutama sel T4 helper, yaitu sel darah putih yang mengaktifkan sistem kekebalan tubuh terhadap suatu infeksi.

3. Menurunkan kadar gula darah penderita diabetes
Pemberian ekstrak lidah buaya terhadap penderita diabetes setiap hari selama 14 minggu, mampu menurunkan kadar gula pasien yang tidak tergantung dari insulin (DM tipe II) hingga 45 % tanpa perubahan berat badan.

4. Mencegah Radang Sendi
Kandungan asam salisilat merupakan zat pengurang rasa sakit yang sifatnya sama dengan aspirin pada gel lidah buaya dapat mengurangi rasa sakit pada penderita. Kandungan Magnesium membantu mencegah efek samping yang merusak dari penggunaan aspirin.

5. Menghambat sel kanker
Lidah buaya meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan mengaktifkan makropage yang berperan melepas substansi pengaktif kekebalan dan antikanker, seperti interferon, interleukins dan factor nekrosis tumor.

6. Membantu penyembuhan luka.

7. Adanya Gibberelin sebagai zat anti radang (infeksi) dan polisakarida yang berkhasiat menyembuhkan luka, serta lignin yang mampu menembus kulit dan membawa efek penyembuhan ke jaringan kulit. Kandungan asam salisilat merupakan zat pengurang rasa sakit (analgetik) yang sifatnya sama dengan aspirin.

8. Antibakteri dan anti jamur serta untuk membersihkan luka

9. Lidah buaya mengandung saponin yang berkhasiat antiseptik.

10. Mengatasi gangguan pencernaan (radang usus, sembelit)

11. Kandungan Gibberelin sebagai zat anti inflamasi dan polisakarida dapat menyembuhkan radang usus. Zat aloin yang terkandung di dalam lidah buaya berfungsi sebagai pencahar.

12. Mencegah penuaan (Anti Aging)

13. Zat – zat yang terkandung di dalam gel lidah buaya ada yang bertindak sebagai pemakan oksigen yang mengandung radikal bebas yang diproduksi oleh di dalam gel lidah buaya ada yang bertindak sebagai pemakan oksigen yang mengandung radikal bebas yang diproduksi oleh polymorphonuclear lukocytes. Polisakarida yang bersinergis dengan asam amino meregenerasi sel-sel yang rusak.

14. Adanya kandungan thiamine, riboflavin, aloin dan mineral akan mencegah dari penyakit cacingan. Akarnya berkhasiat sebagai obat cacing dan susah buang air besar (sembelit).

15. Radiasi akibat sinar X

16. Adanya gibberelin sebagai zat anti radang (infeksi) dan polisakarida yang berkhasiat menyembuhkan luka, serta lignin yang mampu menembus kulit dan membawa efek penyembuhan ke jaringan kulit. Kandungan asam salisilat merupakan zat pengurang rasa sakit (analgetik) yang sifatnya sama dengan aspirin.

17. Mencegah virus flu burung

18. Informasi terbaru diperoleh bahwa kandungan emodin pada gel lidah buaya dapat mencegah virus flu burung.

Dalam industri kosmetika, gel lidah buaya memberikan manfaat sebagai :
1. Penyegar (astringent) .
Zat aktif lidah buaya yang bersifat penyegar adalah polisakarida dan tannin.

2. Mencegah kerontokan rambut 
Zat aktifnya adalah inositol, vitamin C, asam amino, enzim dan mineral yang sinergis dan vitamin A.

3. Kondisioner rambut, shampoo, pelembab, ketombe Senyawa aktifnya adalah polisakarida, vitamin, asam amino. (ADHA PANCA WARDHANU, 2009).

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Fitokimia adalah ilmu yang mempelajari berbagai senyawa organic yang dibentuk dan disimpan oleh tumbuhan, yaitu tentang struktur kimia, biosintetis, perubahan dan metabolism, penyebaran secara alami dan fungsi biologis dari senyawa organic.Fitokimia atau kadang disebut fitonutrien, dalam arti luas adalah segala jenis zat kimia atau nutrien yang diturunkan dari sumber tumbuhan, termasuk sayuran dan buah-buahan. Dalam penggunaan umum, fitokimia memiliki definisi yang lebih sempit.

Fitokimia biasanya digunakan untuk merujuk pada senyawa yang ditemukan pada tumbuhan yang tidak dibutuhkan untuk fungsi normal tubuh, tapi memiliki efek yang menguntungkan bagi kesehatan atau memiliki peran aktif bagi pencegahan penyakit. Karenanya, zat-zat ini berbeda dengan apa yang diistilahkan sebagai nutrien dalam pengertian tradisional, yaitu bahwa mereka bukanlah suatu kebutuhan bagi metabolisme normal, dan ketiadaan zat-zat ini tidak akan mengakibatkan penyakit defisiensi, paling tidak, tidak dalam jangka waktu yang normal untuk defisiensi tersebut.

Tanaman Lidah Buaya dikenal sebagai bahan obat tradisional dan kosmetika termasuk dalam bidang farmasi. Khasiat yang tersimpan dari lidah buaya untuk pembersih darah, penurun panas, obat wasir, batuk rejan dan mempercepat penyembuhan luka. Sejumlah nutrisi yang bermanfaat terkandung di dalam lidah buaya, berupa bahan organik dan anorganik, di antaranya vitamin, mineral, beberapa asam amino, serta enzim yang diperlukan tubuh.

Pemanfaatan daun lidah buaya dapat berfungsi sebagai anti inflamansi, antijamur, antibakteri dan regenerasi sel, untuk mengontrol tekanan darah, menstimuli kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit kanker, serta dapat digunakan sebagai nutrisi pendukung bagi penderita HIV. Penggunaannya dapat berupa gel dalam bentuk segar atau dalam bentuk bahan jadi seperti kapsul, jus, makanan dan minuman kesehatan.

Selama ini produk lidah buaya sebagian besar masih dijual dalam bentuk pelepah segar dengan harga Rp. 800 – 1.000/kg dan dalam bentuk olahan yang sangat sederhana dengan volume yang masih sangat rendah. Produksi lidah buaya segar tidak sebanding keperluan pasar, sehingga banyak lidah buaya yang tidak termanfaatkan. Hingga tahun 2003 baru sekitar 0,8% untuk ekspor dan 7% pasar lokal. Dengan perbandingan yang cukup besar antara pelepah lidah buaya dengan tepung yang dihasilkan (±200:1) maka diperkirakan akan dapat menampung lidah buaya di petani. Oleh karenanya untuk meningkatkan pendapatan petani, produk-produk yang dipasarkan dapat dimungkinkan dalam bentuk olahan. Pasar merupakan komponen terpenting dalam pengembangan suatu komoditas. Tidak sedikit produk turunan yang dapat diolah dari lidah buaya, dari yang sederhana seperti juice, gel, koktail sampai yang memerlukan teknologi/alsin dan investasi yang tinggi, seperti tepung.

Pola hidup dengan trend pada makanan kesehatan menyebabkan banyak orang mengkonsumsi makanan kesehatan dalam berbagai macam bentuk produk yang meliputi makanan, minuman instan, juice dan kapsul. Ketergantungan pada suplemen untuk meningkatkan ketahan tubuh, mencegah terhadap penyakit dan mengurangi penderitaan penyakit tertentu menjadi kebiasaan masyarakat sekarang dengan mengkonsumsi makanan kesehatan. Salah satu tanaman yang dapat dijadikan sebagai obat, suplemen, kesehatan tubuh adalah lidah buaya.

DAFTAR PUSTAKA
Adha panca wardhanu, 2009, Potensi Lidah Buaya Pontianak (aloevera chinensis,linn) sebagai Bahan Baku Industri Berbasis Sumber Daya Lokal, Pascasarjana Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang.

Badan POM RI, Direktorat Obat Asli Indonesia, 2008.

Nur Ida dan Sitti Fauziah Noer, 2012, Uji Stabilitas Fisik Gel Ekstrak Lidah Buaya (Aloe vera L.), Program Studi Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Islam, Makassar

Rustaman,DKK, 2006, Skrining Fitokimia Tumbuhan Di Kawasan Gunung Kuda Kabupaten Bandung Sebagai Penelaahan Keanekaragaman Hayati, Universitas Padjadjaran. Bandung. 

Togatorop, MH, ap.sinurat, t.purwadaria, j.rosida, saulina, dan h.hamid., 2001, Pemanfaatan Tanaman Lidah Buaya secara Tradisional dan Studi Kandungan Bioaktifnya, study on traditional utilization of aloe vera and its bioactive contents, Bogor.

Widodo P dan Uning Budiharti, Berjuta Manfaat Lidah Buaya, Tabloid Sinar Tani.